JILID #4



Bulan purnama bersinar bulat memancarkan cahayanya yang gilang gemilang. Sinarnya yang keemasan menyusup diantara sela-sela lebatnya pepohonan di gunung Ciremai. Di sebuah lereng bagian selatan, terlihat sebuah pondok kayu yang cukup kuat. Disekelilingnya terdapat sebuah tanah lapang yang cukup luas dan resik. Suara gemercik air terdengar dari bagian belakang pondok dan sebuah taman kecil dengan bunga mawar dan melati yang mulai mekar. Hal itu menunjukkan bahwa siapapun penghuni pondok tersebut adalah seseorang yang sangat mencintai kebersihan dan keindahan.

Wangi bunga melati dan bunga mawar bercampur dengan wangi dupa yang mengepul dari dalam pondok. Di dalam pondok duduk bagaikan arca seorang laki-laki berusia hampir tujuhpuluh tahun. Rambutnya yang putih digulung sederhana ke atas dan diikat sebuah kain berwarna hitam. Pakaiannya pun hanya terbuat dari kain sederhana yang juga berwarna hitam. Kedua kakinya bersilang di atas paha, kedua lengannya diletakkan di atas paha dan kedua matanyapun terpejam. Posisi duduknya menunjukkan bahwa laki-laki tua tersebut sedang bersemedi. Di depannya mengepul asap dupa dari sebuah parupuyan (alat tempat membakar dupa atau kemenyan).

Laki-laki itu adalah Senapati Wiradarma Saksena. Dia adalah bekas seorang senapati Kerajaan Tarumanagara di masa pemerintahan Prabu Maharaja Linggawarman. Dirinya memutuskan mengundurkan diri saat Prabu Tarusbawa naik tahta menggantikan Prabu Maharaja Linggawarman. Hal ini dipicu karena kekecewaanya melihat keputusan Prabu Tarusbawa yang merubah nama kerajaan menjadi Kerajaan Sunda dan ditambah lagi dengan dilepaskannya Kerajaan Galuh. Dimasa mudanya Senapati Wiradarma Saksena adalah seorang prajurit yang sakti madraguna dan ahli perang yang luar biasa. Selalu menjadi andalan Prabu Maharaja Linggawarman untuk memimpin pasukan untuk memadamkan dan menumpas pemberontakan-pemberontakan di wilayah Kerajaan Tarumanagara.

Sudah hampir sepuluh tahun Senapati Wiradarma Saksena menyepi dan melakukan tapa brata di lereng gunung Ciremai tersebut. Penduduk kampung yang tinggal di kaki gunung Ciremai mengenalnya dengan sebutan Bagawan Wiradarma. Seringkali penduduk naik ke lereng gunung tersebut untuk meminta pertologan kepada Bagawan Wiradarma, baik untuk mengobati orang yang sakit ataupun minta petunjuk ataupun nasihat.

Tiba-tiba Bagawan Wiradharma seperti tergugah dari semedinya lalu mengusap wajah dengan telapak tangan kanannya.

"Terima kasih Dewata Agung...akhirnya yang ditunggu datang juga" gumamnya dengan wajah yang sumringah.

Sejenak Bagawan Wiradharma memiringkan kepalanya seperti sedang mencoba mendengarkan suara yang datang dari kejauhan.

"Hmmm...sepertinya dusun di kaki gunung..." batin Bagawan Wiradharma lalu mengencangkan pakaian yang melilit ditubuhnya.

Bagawan Wiradharma membuka pintu pondok lalu melompat dan berlari menuruni lereng gunung. Larinya cepat sekali walaupun bertelanjang kaki dan cahaya yang temaram dari sinar bulan yang terhalang oleh rapatnya dedaunan. Tubuhnya seolah tidak menyentuh tanah dan hanya dalam waktu singkat telah tiba di dusun.

Bagawan Wiradharma menghentikan larinya lalu mengedarkan pandangannya. Tiba-tiba dari arah dusun berkelebat sebuah bayangan orang yang memanggul tubuh yang meronta-ronta. Baru saja Bagawan Wiradharma akan menghalangi langkah  bayangan tersebut, dari sebuah atas sebuah pohon besar melayang bayangan merah mencegat bayangan tersebut. Bagawan Wiradharma mengurungkan niatnya dan memilih berlindung di balik sebuah pohon yang cukup besar.

Ternyata yang memondong tubuh tersebut adalah seorang laki-laki tua yang cukup gagah. Laki-laki itu berusia sekitar empatpuluh lima tahun, bertubuh tinggi kekar, wajahnya penuh cambang dan kumis sedangkan rambutnya dibiarkan melambai sebatas bahu hanya diikat sebuah kain berwarna hitam. Diatas pundaknya meronta-ronta seorang gadis yang usianya belum genap tujuhbelas tahun.

Sementara bayangan merah yang mencegatnya adalah seorang remaja laki-laki yang juga usianya masih sangat muda. Tubuhnya tinggi tegap dengan kulit berwarna kuning yang seolah berkilauan terkena sinar rembulan. Wajahnya tampan dengan sorot mata yang tajam namun teduh. Pakaiannya terbuat dari kain mahal berwarna merah tua, rambutnya yang panjang diikat oleh kain berwarna merah pula. Sebatang pedang menyembul dari balik punggungnya. Remaja tanggung ini tidak lain adalah Yuchi Saksena yang sedang mengadakan perjalanan dari Palabuhan Kalapa menuju gunung Ciremai untuk menemui kakeknya. Malam itu Yuchi Saksena berniat bemalam di dusun itu sekalian bertanya mengenai pertapa yang ada di lereng gunung Ciremai.

"Keparat...bocah ingusan minggir kau atau kupecahkan kepalamu!" hardik laki-laki berangasan sambil tetap memanggul gadis yang sekarang sudah tidak meronta-ronta lagi, mungkin pingsan saking takutnya.

"Jagad Dewa Batara...rupanya Resi Rudrapati dari Rajatapura. Rupanya di daerah Indraprahasta dia menyembunyikan diri.." desis Bagawan Wiradharma sambil dengan tajam mengawasi.

Yuchi Saksena melangkah mendekati Resi Rudrapati.

"Kakek sesat...lebih baik kau lepaskan gadis itu...atau aku yang muda ini terpaksa akan berbuat kurang ajar kepadamu!" suara Yuchi Saksena terdengar halus namun mengandung wibawa yang besar.

"Bocah bau ingus...lebih baik kau minggat jauh-jauh...atau aku...Resi Rudrapati akan memotek kepalamu!!!" bentak Resi Rudrapati sambil mendorongkan telapak tangannya ke arah Yuchi Saksena.

Terdengar suara cuitan angin dan getaran yang sangat kuat menderu ke arah Yuchi Saksena. Namun pemuda itu tidak menjadi gentar, kedua tangannya membentang seolah menyambut datangnya serangan tersebut.

"Syyyuuuuutttt.......bleeessss!" angin serangan Resi Rudrapati seolah tenggelam dalam kekuatan yang membentengi tubuh Yuchi Saksena.

Resi Rudrapati kaget bukan kepalang lalu menarik serangannya sambil membuang tubuhnya kesamping menghindari tenaga pukulannya yang berbalik. Resi Rudrapati melemparkan tubuh yang berada dalam panggulannya lalu berguling dan segera bangkit kembali.

"Keparat...rupanya kau mempunyai sedikit kepandaian. Sebutkan namamu dan juga gurumu...Resi Rudrapati tidak pernah membunuh orang tanpa nama!" bentaknya sambil memasang kuda-kuda bersiap menerjang.

"Aku tidak mengerti apa yang terjadi di tempat ini...bagaimana mungkin seorang resi bisa berbuat hal yang menjijikkan dengan menculik seorang gadis" ejek Yuchi Saksena sambil menjebikan mulutnya.

"Tapi...baiklah kalau ingin tahu nama orang yang akan menghalangimu untuk berbuat keji....namaku Yuchi Saksena sedangkan guruku...ah sudahlah orang jahat seperti kau tidak layak mengetahui nama guruku" sambungnya sambil tersenyum dingin.

Mendengar nama Yuchi Saksena...Resi Rudrapati terlihat kaget.

"Apa hubunganmu dengan Jaka Saksena dan Wiradarma Saksena?" tanya Resi Rudrapati sambil melotot.

"Hmmm...agaknya kau mengenal keluargaku resi sesat...baiklah supaya kau tidak penasaran...mereka adalah ayah dan kakekku! Setelah kau tahu siapa aku...lebih baik kau segera minggat!" ujar Yuchi Saksena.

"Bocah sombong...sekalipun ayah dan kakekmu maju bersama-sama tidak akan mampu mengalahkan aku...terimalah ini" bentak Resi Rudrapati sambil melompat menerjang ke arah Yuchi Saksena.

Entah kapan mencabut cemeti yang melingkari pinggangnya.

"Tar...tar...." terdengar suara keras dari ujung cemeti yang meledak-ledak dan mengeluarkan asap hitam. Inilah cemeti andalan Resi Rudrapati yang sangat ampuh dan sakti. Cemeti ini adalah senjata pusaka salah satu kuil di purasaba Rajatapura, ibukota Kerajaan Salaknagara di Teluk Lada. Resi Rudrapati menjadi murtad dan mencuri cemeti tersebut lalu kabur dan banyak berbuat kejahatan di wilayah Kerajaan Indraprahasta dan Kerajaan Galuh. Kesukaannya adalah mencuri gadis-gadis muda untuk dijadikan pelampiasan nafsu birahinya. Hingga akhirnya bertemu dan di halangi oleh Yuchi Saksena.

Namun dengan tenang Yuchi Saksena mencabut pedang dari bali punggungnya. Seketika wangi kayu cendana menyebar di tempat tersebut. Mata pedang yang tertimpa sinar bulan terlihat berwarna hijau redup.

"Tar...tarrrr....!" kembali pecut di tangan Resi Rudrapati meledak-ledak menyambar-nyambar kepala Yuchi Saksena.

Dengan tenang Yuchi Saksena menyambut serangan tersebut dengan pedang ditangannya. Kedua orang yang berbeda usia sangat jauh tersebut akhirnya bertanding dengan serunya. Bagawan Wiradharma yang sebelumnya bersembunyi di balik sebuah pohon besar diam-diam melangkah mendekati area pertarungan.

Bagawan Wiradharma terkagum-kagum melihat gerakan Yuchi Saksena yang luar biasa cepat dan bertenaga. Untunglah bagi Resi Rudrapati bahwa dia menang pengalaman sehingga bisa mengimbangi kecepatan Yuchi Saksena. Hampir tigapuluh jurus berlalu namun belum kelihatan siapa yang unggul, hanya saja Resi Rudrapati terlihat mulai kelelahan.

Resi Rudrapati yang ingin secepatnya mengakhiri perlawanan Yuchi Saksena, setelah serangannya kembali gagal melompat ke belakang lalu mengikatkan cemeti dipinggangnya. Mulutnya berkemak-kemik membaca mantera, mengerahkan seluruh tenaga gaibnya, kemudian berjongkok mengambil segenggam tanah lalu melemparkannya ke arah Yuchi Saksena sambil berteriak lantang,

"Bramara Sewu (Seribu lebah hutan)!!!"

Tanah yang dilontarkan oleh Resi Rudrapati aneh bin jaib berubah menjadi ribuan tawon yang menyerbu ke arah Yuchi Saksena yang terbengong-bengong tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Yuchi Saksena adalah pendekar muda yang sedari kecil hanya belajar ilmu silat dan tenaga dalam dari kongkongnya saja, sama sekali tidak mengenal segala mcam ilmu hitam yang banyak digunakan di Jawadwipa ini.

Sesaat lagi ribuan tawon itu akan mengerubuti tubuh Yuchi Saksena yang masih tertegun, tiba-tiba terdengar suara Bagawan Wiradarma.

"Dari tanah kembali ke tanah..." suaranya nyaring sambil melemparkan segenggam tanah ke arah ribuan tawon tersebut.

"Wuuutttt....blaaarrrr!!!"

Terdengar ledakan ketika tanah yang dilempar Bagawan Wiradarma mengenai kumpulan tawon tersebut. Asap putih mengepul dan ribuan tawon itupun lenyap.

"Mundurlah utun...biar aku yang menghadapi tukang tenung ini" ujar Bagawan Wiradharma kepada Yuchi Saksena yang masih terkesima melihat kejadian tersebut.

"Ba...baik eyang...terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku" ujar Yuchi Saksena dengan muka pucat sambil mundur lalu menyarungkan kembali pedangnya.

"Jahanam...siapa kau berani ikut campur dalam urusanku" Resi Rudrapati muntab sambil memandang tajam ke arah Bagawan Wiradharma.

"Resi Rudrapati...sudah lupa kah kau kepadaku?" suara Bagawan Wiradharma terdengar lembut namun mengandung wibawa yang luar biasa. Wajah Resi Rudrapati mendadak pucat begitu mengenali wajah dan suara Bagawan Wiradharma.

"Kau...Wiradharma...selalu saja kau mengganggu hidupku. Hari ini aku mengalah kepadamu...namun aku bersumpah untuk membalas ini" suara Rudrapati terdengar bergetar lalu berbalik dan secepat kilat melompat dan berlari ke arah hutan.

"Ah...Rudrapati...masih saja kau melajur nafsu angkaramu..." keluh Bagawan Wiradharma lalu berbalik kepada Yuchi Saksena.

"Utun...kau antarkan gadis itu kepada orangtuanya di dusun...lalu besok pagi kau ikutilah jalan setapak ini dan naik ke lereng itu" ujar Bagawan Wiradharma lembut lalu bagaikan hilang tubuhnya sudah berkelebat meninggalkan Yuchi Saksena yang masih terkesima.

"Wiradharma...Wiradharma...jangan-jangan..." gumam Yuchi Saksena seolah baru tersadar.

===

Pagi-pagi sekali Yuchi Saksena sudah terlihat mendaki lereng gunung Ciremai. Semalam setelah mengantarkan gadis yang diculik oleh Resi Rudrapati, Yuchi Saksena bermalam di rumah salah satu penduduk dusun dan baru pagi ini mendaki lereng gunung Ciremai sesuai pesan Bagawan Wiradharma. Dari peduduk dusun, Yuchi Saksena mendapat kabar dan cerita tentang seorang pertapa di lereng gunung yang suka menolong penduduk dusun. Tidak ada yang tahu pasti nama pertapa tersebut hanya saja penduduk sering memanggilnya Bagawan Wiradharma.

"Apakah pertapa yang semalam menolongku itu adalah Eyang Wiradharma? kakekku?" batin Yuchi Saksena sambil berjalan santai menikmati pemandangan.

Menjelang siang Yuchi Saksena tiba di depan pondok Bagawan Wiradharma. Sejenak dia terpaku di depan pondok yang resik dikelilingi tamandan pepohonan yang terurus dengan rapi.

"Sampurasun..." Yuchi Saksena mengucapkan salam sambil tetap berdiri tidak berani mendekati pondok.

"Rampes.....masuklah utun" terdengar suara Bagawan Wiradharma menjawab salam dari dalam pondok.

Yuchi Saksena melangkah mendekati pondok lalu naik ke atas babancik lalu mendorong pintu.

"Masuklah utun...aku sudah menunggumu" ujar Bagawan Wiradarma yang duduk bersila di atas bale-bale menghadap ke arah pintu.

Yuchi Saksena menjatuhkan diri berlutut sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada.

"He...he...tidak perlu segala peradatan...utun...duduklah di sini" Bagawan Wiradharma terkekeh sambil menunjuk tempat di bale-bale.

"Eyang...hamba menghaturkan sembah bakti..." ujar Yuchi Saksena sambil tetap berlutut.

"Sembah baktimu aku terima...sekarang kemarilah" Bagawan Wiradharma kembali melambaikan tangannya.

Yuchi Saksena berdiri lau melangkah perlahan dan duduk bersila di hadapan Bagawan Wiradharma.

"Utun...apakah kau tahu siapa orangtua ini?" Bagawan Wiradharma bertanya sambil menunjuk dadanya sendiri.

"Eyang adalah yang semalam menyelamatkan nyawa saya dan juga...kalau tidak salah....." Yuchi Saksena menghentikan ucapannya lalu memandang ke arah wajah Bagawan Wiradharma.

"Persangkaanmu tidak salah...adalah kakekmu..." ujar Bagawan Wiradharma sambil tersenyum haru.

"Eyang....saya Yuchi Saksena menghaturkan sembah sujud" Yuchi Saksena menjatuhkan kepalanya di atas bale-bale menyembah Bagawan Wiradharma.

"Ah...bangunlah utun...kau ceritakan bagaimana kau bisa sampai kemari?" ujar Bagawan Wiradharma.

Yuchi Saksena mengangkat kepalanya lalu duduk kembali. Bagawan Wiradharma memandang kepada Yuchi Saksena dengan tersenyum namun keningnya sedikit berkerut. Perasaan dan instingnya yang peka dapat menangkap ada sesuatu yang terjadi pada cucunya ini. Kepekaan yang sebenarnya sangat tidak menyenangkan buat dirinya. Sepertinya ada sesuatu yang kurang baik yang membayangi kehidupan cucunya ini.

"Eyang...hampir setengan tahun yang lalu saya meninggalkan Palabuhan Sunda untuk mencari dan menemui Eyang" ujar Yuchi Saksena memulai ceritanya sekaligus menjelaskan apa yang terjadi dengan ayah dan ibunya.

Bagawan Wiradharma menarik nafas panjang mendengar bahwa putra semata wayangnya, ,Jaka Saksena, dan juga menantunya sudah mati dibunuh orang.

"Jaka...Meiyang...malang sekali nasib kalian...semoga Sang Hyang Widhi mengampuni kalian berdua" gumam Bagawan Wiradharma setelah Yuchi Saksena mengakhiri ceritanya.

"Utun...aku benar-benar tidak menyangka kalau orangtuamu sudah tiada...bahkan aku sempat berniat mengunjungi kalian....tapi sudahlah...hidup dan mati manusia sudah ada yang mengatur" ujar Bagawan Wiradharma pelan.

"Lalu selanjutnya apa rencanamu?" sambungnya bertanya kepada Yuchi Saksena.

"Sebelumnya saya mencari Eyang hanya untuk mengabarkan musibah yang terjadi pada ayah dan ibu lalu membalaskan dendam kepada para pembunuh...namun sekarang...." Yuchi Saksena menghentika ucapannya lalu mengusap kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.

"Ada apa utun? Bicaralah..." Bagawan Wiradharma tersenyum.

"Setelah saya melihat bahwa begitu banyak ilmu dan kesaktian di luar sana...bahkan saya pun hampir saja terbunuh andai tidak diselamatkan oeh Eyang...maka ijinkanlah saya berguru kepada Eyang..." ujar Yuchi Saksena.

Bagawan Wiradharma tersenyum haru.

"Utun...aku sudah melihat kepandaianmu memainkan pedang yang tentu warisan dari Kongkongmu...dan kurasa akan sulit untuk mencari tandinganmu. Hanya saja memang perlu lebih dmatangkan dalam hal tenaga dalam dan tenaga gaib. Banyak jawara-jawara yang menggunaan ilmu hitam" jawab Bagawan Wiradharma.

"Hanya saja...aku kurang setuju dengan niatmu untuk membalas dendam. Hal itu hanya akan mengotori batinmu saja. Tapi sudahlah...pelan-pelan aku akan mengajarkanmu untuk menghilangkan benci dan dendam yang meracunimu" sambung Bagawan Wiradharma.

Bagawan Wiradharma menghela nafas lalu berkata lirih seolah bicara dengan dirinya sendiri "Ayah dan ibumu bukanlah orang sembarangan yang bisa begitu saja dibunuh namun hidup dan mati seseorang adalah kehendak Sang Hyang Widhi. Yang penting selama hidup kita selalu berada di jalan kebenaran. Kita semua terikat oleh karmanya masing-masing"

Sejak saat itu, Yuchi Saksena tinggal bersama kakeknya yaitu Bagawan Wiradharma untuk memperdalam kedigjayaan dan ilmu-ilmu kebatinan.

===

Waktu berjalan amat cepat bahkan kadang tidak pernah disadari karena nikmat dan juga kesenangan duniawi yang melenakan. Padahal jika saja mau sedikit memaknai waktu maka akan terasa lambat bagai kura-kura. Karena nikmat dan senang duniawi maka tidak terasa lima tahun sudah berlalu.

Pagi yang tenang dan damai dibagian selatan sebuah lereng gunung Ciremai. Kokok ayam hutan jantan terdengar bersahutan. Kokok ayam jantan itu seolah mengejutkan burung-burung yang terlelap di pohon-pohon raksasa yang rimbun daunnya. Kicau mereka terdengar mulai bersahutan, riang gembira berlompatan dar satu dahan ke dahan lainnya. Ranting-ranting kecil bergoyang menggugurkan bening embun yang berkilauan di ujung dedaunan.

Seorang pemuda duduk bersila di atas batu besar menghadap ke arah timur seolah menantang datangnya sinar mentari. Sejak subuh dia sudah menikmati semua keindahan yang disajikan alam kepadanya. Dihirupnya udara pagi yang segar dan menenangkan dalam-dalam. 

Dipenuhinya seluruh ruang dada dan perutnya dengan udara lalu perlahan-lahan dikeluarkan melalui hidungnya. 

"Sujud dan syukur kepada Sang Hyang Widhi atas semua karunia kehidupan dan keindahan yang senantiasa kunikmati" ujarnya lirih sambil merangkapkan kedua telapak tangannya di depan dada lalu diangkatnya ke atas kepala.

Pemuda itu berusia kurag lebih duapuluh tahun dengan tubuh yang tinggi dan tegap. Wajahnya luar biasa tampan, siapapun yang melihatnya akan mengakui ketampanan pemuda itu yang sedikit berbeda dengan pemuda kebanyakan. Kulitnya kuning bersih, matanya tajam mencorong namun terlihat teduh. Celananya sebatas lutut berwarna merah gelap, dadanya dibarkan terbuka memperlihatkan dadanya yang bidang dan otot-otot perut dan lengannya. Sejak subuh tadi pemuda itu duduk bagai arca di atas batu.

Tiba-tiba pemuda itu berdiri dari duduknya lalu melompat turun dari atas batu. Diputar tubuhnya ke arah utara. Walaupun nyaris tidak terdengar suara langkah yang mendekati namun dia tahu ada orang yang menghampirinya. Tak lama kemudian seorang kakek berusia sekitar tujuhpuluh lima tahun melangkah tenang ke arahnya. Ditangan kanannya terdapat sebaang bambu hitam yang dijadikan tumpuan saat berjalan. Tubuh kakek itu terlihat kurus namun tetap gagah dan menunjukkan wibawa yang kuat. Rambutnya yang panjang berwarna putih digelung ke atas dan diikat kain berwarna putih. Jenggot dan kumisnya yang juga sudah putih dibiarkannya panjang.

Pemuda itu membungkukkan badannya penuh rasa hormat.

"Eyang..." pemuda itu menyapa sopan.

"Hmmm...utun, sudah kuduga kau pasti berada di sini menikmati keindahan alam yang diciptakan oleh Sang Hyang Widhi" ujar kakek itu yang tak lain adalah Bagawan Wiradharma.

Dan pemuda itu tentu saja adalah Yuchi Saksena yang selama lima tahun ini tinggal bersama kakeknya untuk memperdalam kedigjayaan dan kesaktian. Selama lima tahun Yuchi Saksena digembleng lahir dan batin. Sekarang Yuchi Saksena adalah pemuda berusia duapuluh tahun yang gagah perkasa dan sakti mandraguna.

"Saya sudah sejak pagi tadi berada di sini Eyang...maafkan karena merepotkan Eyang" jawab Yuchi Saksena.

Bagawan Wiradharma melangkah mendekati batu besar yang didiuduki Yuchi Saksena.

"Utun...duduklah disini" ujar Bagawan Wiradharma sambil mendahului duduk di atas batu.

"Baik Eyang..." jawab Yuchi Saksena lalu duduk di atas sebuah akar besar menghadap ke arah kakeknya.

"Utun...lima tahun sudah kau hidup bersamaku untuk memperdalam ilmu kanuragan dan juga kesaktian. Selama itu pula tenu kau sudah memendam hasrat dan keinginan dalam hatimu untuk membalaskan dendam kematian kedua orangtuamu" ujar Bagawan Wiradharma sambil matanya menatap mata Yuchi Saksena seolah ingin menjenguk isi hati cucunya ini.

Yuchi Saksena menghela nafas panjang.

"Ampun Eyang...memang benar sangkaan Eyang...selama lima tahun ini saya menahan rasa kepenasaran kepada pembunuh kedua orangtua saya"

Bagawan Wiradharma tersenyum lembut.

"Apakah kepenasaranmu itu untuk membalas dendam dan membunuh mereka semua seperti yang dilakukan kepada kedua orangtuamu?" Bagawan Wiradharma bertanya kembali.

"Ampun Eyang...tidak...sama sekali tidak ada kebencian ataupun rasa dendam dalam hati saya. Hanya saja...saya perlu tahu apa alasan mereka tega membunuh kedua orangtua saya" Yuchi Saksena dengan wajah tenang.

"Hmm...kalau kau sudah tahu...lalu apa yang akan kau lakukan?" Bagawan Wiradharma mencoba memancing isi hati pemuda itu.

Yuchi Saksena tersenyum lalu menjawab,

"Seandainya mereka membunuh karena akibat dari kejahatan yang dilakukan oleh kedua orangtua saya maka saya akan meminta maaf kepada mereka dan melupakan semua yang terjadi. Sedangkan jika mereka membunuh karena nafsu dan kejahatan maka saya akan menyadarkannya"

Bagawan Wiradharma tersenyum lalu mengangguk-anggukan kepalanya.

"Utun...syukurlah sekarang kau bisa lebih sabar dan mengerti pentingnya penerimaan atas semua kehendak Sang Hyang Widhi. Hanya saja, aku ingin tahu...apa tindakanmu jika pembunuh tersebut membunuh kedua orangtuamu karena angkara murka bahkan berniat membunuhmu juga?"

Yuchi Saksena menghela nafas panjang.

"Jika sudah tidak bisa diingatkan...maka hamba akan memerangi kejahatannya dan bukan orangnya" jawabnya tegas.

Bagawan Wiradharma tersenyum lebar wajahnya terlihat sumringah dan bahagia.

"Lalu kapan kau akan pergi mencari mereka?" tanya lembut.

Yuchi Saksena menundukkan kepalanya.

"Eyang...sebenarnya ada dua hal yang saya takutkan. Yang pertama adalah selama tinggal bersama Eyang, hati saya merasa tenang dan damai...tetapi jika pergi ke luar...saya takut tidak sanggup menjaga hati saya. Dan yang kedua...jika saya pergi...bagaimana dengan Eyang, siapa yang akan menemani dan melayani Eyang" 

"Ha..ha..ha.." Bagawan Wiradharma tergelak mendengar jawaban Yuchi Saksena.

"Utun..sebagai makhluk, kita harus siap meninggalkan dan ditinggalkan. Harus berani menjalani hidup sendiri dan bukankan kita terlahir sendiri? Tidak ada pertemuan tanpa perpisahan. Aku yakin selama kau berpegang kepada ajaran Sang Hyang Widhi, hatimu akan selalu tentram dan damai. Carilah ketentraman dan kedamaian dalam hatimu sendiri jangan pernah mencarinya di luar"

"Eyang...bagaimana dengan diri Eyang?" tanya Yuchi Saksena.

"Mengenai diriku jangan kau khawatirkan...aku terbiasa hidup sendiri. Lagipula aku berniat pergi untuk mengunjungi makam ayah dan ibumu. Setelah itu aku akan menemui Kongkongmu...lalu aku akan menyepi di gunung Pangrango" jawab Bagawan Wiradhama.

"Hanya saja aku punya satu permintaan kepadamu" sambungnya.

"Saya siap menjalankan apapun permintaan Eyang" jawab Yuchi Saksena.

Bagawan Wiradharma menarik nafas panjang.

"Utun...kau tahu, kakekmu ini adalah kawula Tarumanagara yang setia dan tidak rela melihat tanah air tercerai berai. Oleh karena itu setelah kau menyelesaikan niatmu mencari pembunuh kedua orangtuamu...kuharap kau mau mengabdi kepada pemimpin yang bisa menyatukan kembali Tarumanagara"

"Tapi Eyang...aku tidak tahu apa-apa mengenai urusan kerajaan dan lagi tidak tahu siapa pemimpin yang Eyang maksudkan"

"Utun...saat ini Kerajaan Tarumanagara terpecah belah menjadi dua yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Saat ini Kerajaan Sunda diperintah oleh Prabu Tarusbawa dan Kerajaan Galuh diperintah oleh Prabu Purbasora. Sosok pemimpin yang aku maksud bisa menyatukan kembali kedua kerajaan tersebut adalah putra raja Galuh sebelumnya yaitu putra Prabu Bratasenawa. Prabu Bratasenawa dijatuhkan oleh kakak sepupunya sendiri yaitu Prabu Purbasora dan sekarang berada di Kerajaan Kalingga bersama istri dan putranya yang bernama Rakryan Jambri. Kalau berjodoh...kau akan bertemu dengannya dalam perjalananmu. Bantulah Rakryan Jambri untuk menyatukan kembali tanah air yang telah terpecah. Setelah tanah air bisa disatukan kembali...terserah padamu..."

Yuchi Saksena menganggukan kepalanya tanda menyetujui permintaan kakeknya itu.

"Nah Utun...sekarang tibalah saatnya kita berpisah, hari ini juga kau harus memulai perjalananmu dan melaksanakan tugasmu sebagai manusia yang berguna bagi sesama. Satu hal lagi pesanku kepadamu...hati-hati terhadap perempuan jangan mudah silau oleh kecantikan dan kelembutannya..." 

"Tapi Eyang..."

"Jangan ragu dan lemah utun...sekarang cepat berkemas. Tidak pantas cucuku yang gagah perkasa bersikap selemah itu.." kata Bagawan Wiradharma sambil menatap wajah cucunya yang kelihatan sedih.

"Baiklah Eyang...jaga diri Eyang baik-baik...secepatnya saya akan mengunjungi Eyang di gunung Pangrango" Yuchi Saksena bangkit dari duduknya lalu setelah membungkukkan tubuhnya berjalan gontai ke arah pondok.

Sepeninggal Yuchi Saksena, Bagawan Wiradharma tersenyum lalu menghela nafas panjang. Kedua matanya dipejamkan, tangannya dirangkapkan didepan dada lalu mulutnya berbisik,

"Duh Sang Hyang Widhi Wasa, mohon lindungi cucu hamba dan bimbing selalu berada di jalan kebenaran. Gusti Mahaprabu Linggawarman mohon restu untuk cucu hamba yang akan bertugas membantu mengembalikan kejayaan Tarumanagara"

Tak lama berselang Yuchi Saksena telah datang kembali ke tempat itu membawa buntala dan juga sebatang pedang terikat dipunggungnya.

"Utun...sekarang dengarkan pesan terakhirku sebelum perjalananmu. Berangkatlah ke arah wetan karena pembunuh kedua orangtuamu berada di Palabuhan Pamalang. Carilah seorang saudagar yang bernama Arya Jumadi, tanyalah mengenai kematian kedua orangtuamu kepadanya. Selesaikan semua permasalahan dengan baik dan sebisa mungkin hindari kekerasan yang akan menimbulkan dendam baru. Dan sekali lagi aku ingatkan adalah mengenai perempuan...wajahmu yang tampan bisa menjadi masalah besar yang akan menyulitkanmu. Berhati-hatilah menghadapi dan menangani makhluk yang kelihatan lemah ini...karena sebenarnya mereka menyimpan kekuatan yang bisa mencelakakan kaum laki-laki"

"Baik Eyang...saya akan selalu mengingat dan menjalankan semua perintah dan pesan Eyang"

"Satu hal lagi...dalam perjalananmu pasti akan melewati wilayah Kerajaan Galuh dan Kerajaan Indraprahasta dan juga Kerajaan Saunggalah...sebisa mungkin hindarilah terlibat dalam urusan mereka. Kau hanya harus membantu satu keturunan dari Kerajaan Galuh yang sekarang berada di pengasingan yaitu Rakryan Jambri putra dari Prabu Bratasenawa"

"Eyang...saya mohon pamit.." Yuchi Saksena berlutut dengan mata mengembang oleh airmata lalu menyembah.

"Pergilah..." suara Bagawan Wiradharma terdengar serak dan bergetar.

Yuchi Saksena menyembah sekali lagi lalu bangkit dan berjalan menuruni lereng gunung Ciremai. Setelah pemuda itu pergi, Bagawan Wiradharma membuka matanya yang basah oleh airmata dan memandang ke arah bayangan cucunya yang menuruni lereng gunung. Dihelanya nafas panjang.

"Semoga Sang Hyang Widhi Wasa selalu membimbingmu cucuku"