Jilid #3


Hari menjelang malam saat Pwah Rababu memasuki kamar tidurnya yang terletak di kaputren dekat taman. Pwah Rababu memang tidak ikut dengan suaminya, Rahyang Sempakwaja, ke Kabuyutan Denuh. Hal ini karena dua orang putra mereka yaitu Rakean Purbasora dan Rakean Demunawan tidak mau ikut dan  ingin lebih lama tinggal di purasaba Galuh. Akhirnya Rahyang Sempakwaja memutuskan agar Pwah Rababu dan kedua putranya menunggu di keraton menunggu dirinya kembali sebelum sama-sama pulang ke Kabuyutan Galunggung.

Pwah Rababu merebahkan tubuhnya di atas pembaringan, hatinya benar-benar gundah setelah sekian lama tidak berjumpa dengan Rahyang Mandiminyak. Laki-laki yang diam-diam pernah menjadi pujaan hatinya, laki-laki cinta pertamanya yang kelihatan semakin tampan dan gagah. Tubuhnya yang tinggi tegap dengan otot-otot tubuhnya yang menonjol liat. Beberapa kali Pwah Rababu mencuri pandang yang disambut dengan senyum penuh pesona Rahyang Mandiminyak. Sebagai perempuan yang sudah menikah dan masih berusia sembilan belas tahun tentu saja rasa suka dan cintanya tidak bisa tertuntaskan hanya dengan saling pandang atau saling senyum. Tubuhnya terasa panas, organ-organ kewanitaannya berdenyut hangat meminta pelampiasan. Mata hatinya sudah gelap tersaput nafsu birahi.

Pwah Rababu benar-benar tersiksa oleh cinta yang tidak kesampaian. Matanya terpejam, nafasnya terengah. Setelah beberapa saat mencoba meredakan gairah dan nafsu dalam dirinya, Pwah Rababu bangkit dari tempat tidur. Dilepaskannya pakaian kebesaran putri keraton dan diletakkannya di atas kursi. Dibaringkan tubuhnya yang hanya dibungkus kain samping sebatas dada sampai lutut di atas tempat tidur, matanya kembali menerawang membayangkan betapa gagah dan tampannya Rahyang Mandiminyak berbeda jauh dengan suaminya, Rahyang Sempakwaja.

"Ah...kenapa bukan dia yang menjadi suamiku? Alangkah bahagianya didekap dan dipeluk oleh tubuh gagah berotot..." batin Pwah Rababu sesaat melantur. Namun didikan keagamaan yang sejak kecil ditanamkan oleh Resi Suriadarmawan menyadarkannya.

"Tidak...tidak...maafkan aku suamiku...tidak sepantasnya aku membayangkan lelaki lain...aku berdosa...aku berdosa..." keluhnya sambil menutup muka dengan kedua tangannya.

Namun lagi-lagi bayangan wajah dan tubuh Rahyang Mandiminyak melintas membuat hatinya semakin kalut.

"Dewata...apa yang harus kulakukan...aku berdosa..." rintihnya sambil membalikkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya di atas tempat tidur. Pwah Rababu menangis tidak mampu menahan perasaan antara rasa cinta dan nafsu melawan kepatutan dan aturan agama yang mengikatnya.

Tiba-tiba terdengar ketukan halus dipintu kamarnya,

"Tok...tok....tok..."

Pwah Rababu segera bangkit dari tempat tidurnya, diusap pipinya yang beruraian airmata lalu melangkah mendekati pintu sambil menyanggul rambutnya yang berantakan.

"Siapa...?" tanyanya ragu-ragu, sesaat harapan liarnya mengharapkan yang mengetuk pintu tersebut adalah Rahyang Mandiminyak, namun segera ditepisnya sendiri bayangan itu. Mana mungkin seorang putra mahkota yang tampan dan gagah sudi menemui dirinya seorang perempuan istri kakaknya sendiri yang bahkan sudah mempunyai dua orang anak.

"Hamba...emban dari keraton Gusti Rahyang..." terdengar suara halus perempuan setengah berbisik dari arah luar.

Deg...jantung Pwah Rababu seolah copot mendengar jawaban tersebut.

"Gusti Rahyang?....apakah mungkin....dia....?" pikirnya sambil menyambar pakaiannya yang ada di atas kursi.

"Tunggu sebentar..." jawabnya lirih sambil bergegas mengenakan pakaian.

Dengan perlahan Pwah Rababu membuka pintu, tampak berdiri seorang emban berdiri sambil membungkukkan tubuhnya.

Belum sempat Pwah Rababu bertanya, emban tersebut berkata,

"Gusti Putri...lebih baik kita bicara di dalam..." bisiknya sambil melirik ke kiri dan ke kanan seolah takut terlihat orang lain.

Pwah Rababu mengerutkan dahinya tidak senang dengan cara emban tersebut berbicara yang seolah mengatur dirinya. Tapi mengingat bahwa emban itu bisa saja utusan Rahyang Mandiminyak maka dirinya mengalah dan memberi jalan emban itu masuk.

Emban tersebut bergegas masuk lalu menutup pintu.

Pwah Rababu duduk di atas kursi sementara emban tersebut segera menjatuhkan diri sambil berlutut sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

"Ampun Gusti Putri....maafkan hamba yang lancang menganggu" ujarnya pelan dengan kepala tertunduk.

Pwah Rababu menarik nafas panjang, diamatinya emban tersebut. Wajahnya cukup cantik dengan kulit sawo matang namun bersih terawat. Tubuhnya montok dengan dada dan pinggul yang bulat. Usianya mungkin belum tujuhbelas tahun tapi sorot mata dan bibirnya terlihat genit.

"Hmmm....siapa namamu dan ada urusan apa? malam-malam seperti ini mengendap-endap megunjungiku? apakah tidak ada waktu lain?" tanya Pwah Rababu ketus, hatinya masih dongkol akibat perlakuan emban tersebut yang berani minta masuk ke dalam kamarnya.

"Ampun Gusti Putri....hamba membawa pesan dari Gusti Rahyang untuk Gusti Putri....dan tidak boleh ada seorang pun mendengarnya selain Gusti Putri sendiri" jawab emban itu sambil tetap bersimpuh di hadapan Pwah Rababu.

"Gusti Rahyang siapa? bicara yang jelas dan jangan berbelit-belit!" sergah Pwah Rababu kesal.

Emban itu menggeser duduknya ke arah Pwah Rababu lalu berkata dengan pelan.

"Gusti Rahyang Mandiminyak...."

Seeerrrrrr.....seluruh darah di tubuh Pwah Rababu berdesir mendengar nama laki-laki yang sangat dirindukannya tersebut. Namun Pwah Rababu mencoba mengendalikan diri supaya rasa senangnya tidak terlihat oleh emban tersebut.

"Apa pesannya?" suara Pwah Rababu bergetar.

"Ampun Gusti Putri....Gusti Rahyang minta bertemu dengan Gusti Putri..." bisik emban itu seolah takut terdengar orang lain.

Ingin rasanya Pwah Rababu bersorak senang mendengar pesan tersebut, namun dia masih sadar akan kedudukannya sebagai istri Rahyang Sempakwaja, putra tertua penguasa Kerajaan Galuh.

"Hmm...kenapa harus mengirim pesan malam-malam seperti ini? .... sampaikan kepada Gusti Rahyang...besok pagi aku ada di kaputren Ibu Prameswari...disana dia bisa menemuiku" jawab Pwah Rababu datar, seolah ingin menunjukkan bahwa dia tidak suka ditemui malam-malam. Selain itu, dia adalah istri putra tertua sedangkan Rahyang Mandiminyak adalah adik suaminya. Sewajarnya sebagai adik jika Rahyang Mandiminyak yang datang menemuinya.

Emban tersebut tersenyum kecil sambil menggeser lagi duduknya mendekati, bahkan hampir bersimpuh di kaki Pwah Rababu.

"Ampun Gusti Putri...bukan seperti itu.....Gusti Rahyang ingin bertemu malam ini" bisiknya lagi, bibir dan matanya bergerak genit.

Pwah Rababu merasa tidak suka melihat cara bicara dan gerakan bibir emban tersebut. Jelas menyiratkan kemesuman.

"Emban...apa maksudmu? Kau tahu ini sudah malam...tidak sepatutnya aku menerima tamu atau bertemu laki-laki selain suamiku....!" sergah Pwah Rababu sambil berdiri.

Emban itu terkejut melihat kemarahan Pwah Rababu, segera dia bersujud sampai dahinya menempel di lantai.

"Ampun Gusti Putri...ampunkan hamba....hamba hanya menjalankan tugas" isaknya menahan tangis karena ketakutan.

"Sudahlah emban...kau tidak bersalah...sampaikan kepada Gusti Rahyang...jika ingin bertemu denganku...temui besok pagi di kaputren Ibu Prmaeswari. Sekarang kau keluarlah...." ujarnya mengusir emban itu pergi.

"Ampun Gusti Putri...hamba tidak berani kembali sebelum Gusti Putri bersedia menemui Gusti Rahyang. Gusti Rahyang pasti akan menghukum berat hamba..." isak emban tersebut sambil tetap bersimpuh.

Pwah Rababu menarik nafas panjang pura-pura sangat marah, dirinya sangat tahu sifat Rahyang Mandiminyak yang sudah terkenal tidak pernah mau menerima jawaban "tidak" dari perempuan yang diinginkannya. Dirinya bukannya tidak mau bertemu denga Rahyang Mandiminyak malam itu, hanya saja masih takut dan khawatir jika pertemuan itu diketahui orang lain. Sejujurnya jika saja Rahyang Mandiminyak datang sendiri, sulit bagi Pwah Rababu untuk menolaknya.

Setelah beberapa saat membiarkan emban itu menangis sambil bersujud, Pwah Rababu berkata,

" Emban...kau berdirilah...cepat..."

"Ampun Gusti Putri...hamba takut...." jawab emban itu sambil mengangkat kepalanya perlahan.

"Emban...aku tidak tahu apa maksud Gusti Rahyang menemuiku malam-malam seperti ini. Tidak baik jika ada yang melihatnya..." Pwah Rababu mencoba memancing jawaban dari emban tersebut.

"Ampun Gusti Putri...menurut Gusti Rahyang ada masalah rahasia yang harus disampaikan langsung. Selain itu jangan khawatir, tidak akan ada seorangpun yang tahu dan berani mengganggu. Gusti Rahyang sudah mengatur semuanya" jawab emban itu sambil tetap menunduk.

"Hmmm....baiklah....ku adalah tamu di sini...sedangkan Gusti Rahyang adalah tuan rumah, tidak pantas jika aku menolak kunjungannya" gumam Pwah Rababu seperti berat untuk menerima hanya karena posisinya sebagai tamu saja yang membuatnya sulit menolak kunjungan tersebut. Pwah Rababu benar-benar lihai dalam memainkan perannya, kerinduan dan rasa cintanya kepada adik suaminya sendiri telah membuatnya menjadi perempuan yang pandai memainkan keadaan.

"Emban...kau adalah saksi bahwa aku terpaksa menerima kunjungan Gusti Rahyang malam-malam seperti ini. Kau harus bertanggungjawab dan aku tidak mau disalahkan jika terjadi apa-apa!!!" dengus Pwah Rababu mengancam.

Emban tersebut tersenyum sumringah dan sekarang berani mengangkat wajahnya walaupun tetap tidak berani menatap langsung wajah Pwah Rababu.

"Ampun Gusti Putri...hamba berani mempertaruhan nyawa hamba, lagipula Gusti Putri jangan khawatir, semua pengawal yang menjaga kaputren ini sudah diganti oleh pasukan kepercayaan Gusti Rahyang dan hamba akan berjaga diluar jika Gusti Putri dan Gusti Rahyang membutuhkan sesuatu" jawab emban itu sambil tersenyum penuh arti.

===

Sepeninggal emban yang membawa pesan dari Rahyang Mandiminyak, Pwah Rababu bergegas berganti pakaian dan merias diri. Hatinya berdebar kencang dan juga gugup luar biasa, seperti seorang perawan yang baru saja dinikahkan dan sedang bersiap menyambut suaminya di dalam kamar. 

Samar-samar terdengar langkah halus diluar kamar, tubuh Pwah Rababu menegang, darahnya mengalir deras, pipinya memerah. Matanya melotot ke arah daun pintu yang sengaja tidak dikuncinya. Pelan-pelan pintu terbuka lalu muncullah sesosok laki-laki yang selama ini diimpikannya. Pwah Rababu masih duduk di atas tempat tidur tidak mampu berkata-kata seolah gagu. Rahyang Mandiminyak menutup kembali pintu kamar lalu dengan tenang masuk ke dalam kamar dan duduk di atas kursi menghadap ke arah Pwah Rababu yang masih terpana seolah tidak percaya.

"Kanjeng Ceuceu (panggilan kakak perempuan)....maafkan kelancanganku berkunjung malam-malam seperti ini" ujar Rahyang Mandiminyak dengan senyuman simpatik yang memabukkan hampir semua wanita.

"Kanjeng Ra..rai...kenapa kau datang sekarang? Aku sudah sampaikan kepada emban...agar besok pagi saja kita bertemu di kaputren Ambu Prameswari" Pwah Rababu menjawab dengan tergagap. Perasaannya bercampur aduk antara senang dan juga takut. Senang karena laki-laki yang diimpikannya sekarang berada di depannya bahkan dalam satu kamar, takutnya karena ini adalah sebuah pelanggaran besar atas agama dan norma adat. Bagaimana mungkin dirinya seorang perempuan bersuami berada dalam satu kamar dengan laki-laki lain, bahkan laki-laki itu adalah adik iparnya sendiri.

"Kanjeng Ceuceu...aku tidak tahan lagi...aku harus sampaikan ini kepadamu..." Rahyang Mandiminyak tersenyum sambil berdiri dan melangkah mendekati Pwah Rababu.

"Kanjeng Rai...apa..." Pwah Rababu terpaku, tubuhnya menggigil saat Rahyang Mandiminyak duduk disampingnya lalu meraih tangannya.

"Kanjeng Ceuceu...aku menyukaimu..hmmm.." bisik Rahyang Mandiminyak sambil mencium jemari Pwah Rababu yang gemetar.

"Kanjeng Rai....kita tidak boleh seperti ini...aku ini kakak iparmu...istri kakakmu sendiri" lirih Pwah Rababu mencoba mengingatkan Rahyang Mandiminyak.

"Aku tidak peduli Kanjeng Ceuceu...aku tergila-gila kepadamu...ah...Kanjeng Ceuceu..." nafas Rahyang Mandiminyak semakin memburu bibirnya mencoba untuk mencium bibir Pwah Rababu yang bergetar.

"Kanjeng Rai...jangan...aku takut..." suara Pwah Rababu terhenti saat bibirnya dilumat dengan rakus oleh bibir Rahyang Mandiminyak.

Sesaat sunyi hanya deru nafas dan rintihan yang terdengar.

"Kanjeng Rai...hentikan...aku takut ada orang yang melihat..." rintih Pwah Rababu saat penutup tubuh terakhirnya lepas dan dilempar oleh Rahyang Mandiminyak.

"Jangan takut Kanjeng Ceuceu...tidak ada yang berani mengganggu kita..." desah Rahyang Mandiminyak sambl mendorong tubuh Pwah Rababu ke tengah tempat tidur lalu menerkamnya dengan buas.

"Kanjeng Rai...oh...jangan...oh...." selanjutnya tidak ada lagi penolakan. Pwah Rababu bergelut dengan Rahyang Mandiminyak diatas tempat tidur. Hilang semua akal sehat, ajaran agama ataupun kepatutan dalam norma masyarakat. Yang ada hanya nafsu birahi yang membuncah. Malam itu beberapa kali Pwah Rababu menjerit lirih ditingkahi suara geraman Rahyang Mandiminyak dan akhirnya menjelang subuh keduanya terlelap kelelahan dengan tubuh bermandikan keringat.

Selama satu bulan lebih, hampir setiap malam, mereka berdua tenggelam dalam lautan asmara terlarang. Berpuluh kali tubuh Rahyang Mandiminyak meregang di atas tubuh Pwah Rababu yang mendekapnya erat. Seperti musafir yang kehausan Pwah Rababu seolah tidak ada puasnya menuntut pelepasan atas dahaganya. Perbuatan terlarang tersebut berhenti setelah Prabu Wretikandayun meminta Rahyang Mandiminyak agar segera kembali ke Kerajaan Kalingga.

Apa yang diperintahkan Prabu Wretikandayun bukan tanpa sebab, perbuatan terlarang Rahyang Mandiminyak dan Pwah Rababu sudah mulai menjadi omongan penghuni keraton., Banyak pangeran dan putri dari selir Prabu Wretikandayu, atau kakak dan adik tiri Rahyang Madiminyak yang mengetahuinya. Para pangeran itu rata-rata merasa iri kepada Rahyang Mandiminyak yang berhasil menikmati tubuh sintal Pwah Rababu sedangkan putri-putri itu merasa cemburu. Bahkan salah seorang murid Rahyang Sempakwaja, yang ditugaskan mengawal Pwah Rababu selama di purasaba Galuh, diam-diam mendengar desas-desus tersebut dari seorang emban yang biasa menyediakan makan bagi pasukan pengawal.

Kelak sekembalinya dari Kotaraja Galuh, Pwah Rababu hamil dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Sang Sena. Rahyang Sempakwaja sebelumnya sudah menerima laporan dari muridnya yang bertugas mengawal Pwah Rababu ke Kotaraja Galuh, mengenai yang terjadi antara adik bungsu da istrinya, memberi nama Sang Sena (atau Sang Salah, yang berarti buah dari kesalahan atau dosa). Pwah Rababu mendidik dan merawat Bratasenawa dengan baik bahkan lebih memanjakannya daripada kedua putranya yang lain.

Rahyang Sempakwaja akhirnya tidak tahan lagi melihat hasil perbuatan terlarang antara istrinya dengan adik kandungnya tersebut, akhirnya meminta Pwah Rababu agar menyerahkan Sang Sena kepada Rahyang Mandiminyak. Sang Sena akhirnya di bawa ke Kerajaan Kalingga dan dibesarkan disana. Bahkan kemudian Sang Sena dinikahkan dengan adik tirinya sendiri yaitu Dewi Sanaha, putri Rahyang Mandiminyak dari istrinya Dewi Parwati. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putra yang gagah dan tampan yan diberi nama Rakean Jambri.

Di tahun 702 M, Rahyang Mandiminyak kembali ke Kerajaan Galuh dan naik tahta menggantikan Prabu Wretikandayun. Prabu Rahyang Mandiminyak tidak lama menjadi penguasa Kerajaan Galuh, tujuh tahun kemudian tepatnya tahun 709 M, tahta kerajaan diserahkan kepada putranya yaitu Sang Sena.

Naik tahtanya Sang Sena yang kemudian dikenal dengan Prabu Bratasenawa kurang dapat diterima oleh keluarga kerajaan. Terutama oleh keluarga Rahyang Sempakwaja dan Rahyang Wanayasa. Karena selain merasa lebih berhak, Rahyang Sempakwaja masih sakit hati atas penyelewengan istrinya, Pwah Rababu yang akhirnya melahirkan "anak haram" yaitu Sang Sena. Apalagi ternyata "anak haram" itu sekarang menjadi seorang raja.

===

Prabu Bratasenawa adalah seorang raja yang alim dan taat beragama, berbeda jauh dengan ayahnya Prabu Rahyang Mandiminyak. Prabu Bratasenawa memerintah Kerajaan Galuh dengan adil dan bijaksana. Rakyat Galuh sangat mencintai dan menghormati Prabu Bratasenawa.

Sayangnya, hal ini tidak berlaku bagi keluarga kerajaan terutama Rahyang Sempakwaja, sedangkan Rahyang Wanayasa mencoba untuk bersikap netral. Puncaknya adalah saat Rahyang Sempakwaja memerintahkan putranya yaitu Rahyang Purbasora untuk merebut kekuasaan dari tangan Prabu Bratasenawa.

Rahyang Purbasora mulai menyusun kekuatan dengan meminta bantuan dari Prabu Resiguru Padmahariwangsa, raja dari Kerajaan Indraprahasta yang merupakan ayah mertuanya. Rahyang Purbasora menikahi putri sulung Prabu Resiguru Padmahariwangsa yaitu Dewi Citra Kirana. Pasukan Kerajaan Indraprahasata secara turun temurun adalah pasukan tangguh dan sakti mandraguna. Sejak jaman Kerajaan Tarumanagara, pasukan dari Kerajaaan Indrapahasta sudah dipercaya sebagai pengawal raja dan keluarga Kerajaan Tarumanagara.

Prabu Resiguru Padmahariwangsa tidak berani secara berterang mengirim pasukan menyerang Prabu Bratasenawa. Oleh karena itu Rahyang Purbasora meminta bantuan adik misan yang juga menantunya yaitu Aria Bimaraksa. Aria Bimaraksa adalah putra dari Rahyang Wanayasa yang memiliki kedigjayaan dan juga ahli perang yang hebat. Untuk menyamarkan keterlibatan bantuan pasukan dari Kerajaan Indraprahasta,maka Aria Bimaraksa dijadikan pemimpin pasukan tersebut.

Selain itu Rahyang Purbasora minta bantuan pasukan dari adiknya yaitu Sang Resiguru Demunawan yang menjadi menantu Raja Kuningan. Sang Resiguru Demunawan dikenal juga sebagai Rahyangtang Kuku atau Seuweukarma. Sang Resiguru Demunawan adalah seorang ahli bertapa, sangat menguasai Sanghyang Darma dam Sanghyang Siksa serta sangat mematuhi ajaran Sang Rumuhun. Selain itu Sang Resiguru Demunawan juga seorang ahli perang yang sangat hebat, banyak wilayah yang sudah ditaklukkannya. Salah satu bukti kegagahan dan kesaktiannya adalah berhasil mengalahkan Sang Pacadana, seorang raja di wilayah Cina.

Sebenarnya Rahyang Purbasora juga meminta bantuan dari Kabuyutan Sawal yang berada di kaki Gunung Sawal. Kabuyutan Sawal ini setingkat posisinya dengan Kabuyutan Galunggung dan juga Kabuyutan Denuh. Namun Sang Resiguru Rabuyut Sawal sebagai pemimpin keagamaan di Kabuyutan Sawal secara halus menolaknya. Hal ini tidak lain karena Sang Resiguru Rabuyut Sawal sudah diwanti-wanti oleh Prabu Tarusbawa, Raja Sunda, agar tidak terlibat dalam perselisihan keluarga Prabu Wretikandayun.

Akhirnya dengan kekuatan pasukan dari Kerajaan Indraprahasta yang dipimpin oleh Aria Bimaraksa dan juga pasukan dari Kerajaan Kuningan yang dipimpin langsung oleh Sang Resiguru Demunawan, maka di tahun 716 M, Prabu Bratasenawa dilengserkan melalui peperangan yang sangat sengit.

Setelah perang saudara yang menelan korban ribuan jiwa, akhirnya setelah terdesak dan merasa bahwa pasukannya tidak akan mampu bertahan, Prabu Bratasenawa memilih untuk mundur bersama Prameswari Dewi Sannaha dan putranya Rakean Jamri. Dengan dikawal pasukan khusus yang setia kepadanya, Prabu Bratasenawa mula-mula mundur ke kaki Gunung Merapi lalu menuju ke Kerajaan Kalingga.

Sebenarnya rencana pemberontakan ini sudah diketahui oleh Prabu Bratasenawa. Oleh karena itu dirinya bermaksud minta bantuan pasukan dari Kerajaan Sunda dan Kerajaan Kalingga. Namun utusan yang dikirim kepada kedua kerajaan tersebut berhasil dicegat dan dibunuh oleh Aria Bimareksa. Hal ini tidak lain karena adanya mata-mata dari Rahyang Purbasora yang berhasil menyusup ke dalam keraton. Akibatnya saat keraton diserang, Prabu Bratasenawa kekurangan pasukan dan belum lagi ada sebagian pasukan Kerajaan Galuh yang berkhianat dan mendukung Rahyang Purbasora.

Tahun 716 M, Rahyang Purbasora naik tahta dengan gelar Prabu Purbasora Jayasakti Mandraguna didampingi oleh Dewi Citra Kirana sebagai permaisuri. Sedangkan Aria Bimaraksa yang berhasil memimpin pasukan Kerajaan Indraprahasta dan menghancurkan pasukan Kerajaan Galuh diangkat sebagai Mahapatih Kerajaan Galuh.