Jilid #2




Kerajaan Tarumanagara adalah salah sebuah kerajaan besar yang didirikan oleh Maharaja Prabu Jayasingawarman di tahun 358 M. Jayasingawarman yang merupakan seorang Maharesi dari Salakanyana di India yang mengungsi ke Jawadwipa setelah wilayahnya ditaklukan oleh Maharaja Samudragupta dari Magada. Saat pelariannya dari Salakanyana tiba di Rajatapura, ibukota Kerajaan Salakanagara, Prabu Jayasingawarman diangkat mantu oleh Raja Salakanagara yaitu Prabu Dewawarman VIII.

Lalu kemudian Jayasingawarman mendirikan Kerajaan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumanagara. Sedangkan Kerajaan Salakanagara berubah status menjadi bawahan Kerajaan Tarumanagara. Prabu Jayasingawarman berkuasa dari tahun 358 M~ 382M, kurang lebih 24 tahun. Dimasa inilah kekuasaan Tarumanagara memperluas wilayah kekuasaannya dengan menundukkan raja-raja kecil di wilayah tersebut sehingga Jayasingawarman mendapat julukan Maharaja Prabu Jayasingawarman.

Di tahun 382 M, Maharaja Prabu Jayasingawarman menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putranya yaitu Maharaja Prabu Dharmayawarman yang meneruskan kekuasaan di Kerajaan Tarumanagara selama 13 tahun, 382 M~ 395 M. Pada masa ini Kerajaan Tarumanagara mulai berkembang dengan meluaskan wilayahnya ke arah timur Jawadwipa.

Puncak kejayaan Kerajaan Tarumanagara terjadi pada masa pemerintahan Maharaja Prabu Purnawarman, putra Prabu Dharmayawarman, yang berkuasa hampir 39 tahun dari 395 M ~ 434 M. Selain arif bijaksana, Maharaja Prabu Purnawarman juga terkenal sakti mandraguna dan sangat ahli dalam ilmu perang. Kekuasaannya membawahi 48 raja muda dan wilayahnya membentang dari Rajatapura (teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga di bagian tengah Jawadwipa. Rakyatnya hidup dalam keadaan damai dan cukup sejahtera sehingga hampir tidak pernah terdengar adanya perampokan ataupun pemberontakan dari raja muda di wilayah bawahan.

Namun keadaan ini mulai berubah sejak Maharaja Prabu Purnawarman mangkat dan di gantikan oleh keturunannya yaitu Maharaja Prabu Wisnuwarman (434 M ~ 455 M) dan dilanjutkan oleh Maharaja Prabu Indrawarman (455 M ~ 515 M). Banyak petinggi-petinggi kerajaan yang melalaikan tugasnya dan lebih banyak bersenang-senang, berfoya-foya dan menurutkkan hawa nafsunya. Akibatnya rakyat mulai terlantar dan hidup kekurangan karena pajak yang diterapkan pihak kerajaan sangat mencekik leher. Mulailah timbul pergolakan dan protes dari para raja muda yang berkuasa di wilayah bawahan Kerajaan Tarumanagara.

Kondisi kerajaan yang gonjang-ganjing semakin terasa saat Maharaja Prabu Candrawarman naik tahta menggantikan Maharaja Prabu Indrawarman. Prabu Candrawarman yang berkuasa selama lebih kurang duapuluh tahun (515 M ~ 535 M) merasa bahwa kedudukannya semakin terdesak, sehingga banyak raja-raja muda yang mengabaikan perintah dari dirinya. Oleh karena itu demi menjaga keutuhan wilayah Kerajaan Tarumanagaa, Prabu Candrawarman memberikan keleluasaan kepada raja-raja muda untuk mengatur pemerintahannya sendiri dengan catatan tidak boleh melepaskan diri dari Kerajaan Tarumanagara. Keputusan ini semakin menurunkan kewibawaan seorang Maharaja di Kerajaan Tarumanagara. Apalagi kondisi ini diperparah dengan meletusnya Gunung Krakatau di selat Sunda yang menyebabkan kehidupan menjadi semakin sulit.

Keadaan Kerajaan Tarumanagara yang semakin sulit berlanjut hingga masa pemerintahan Maharaja Prabu Suryawarman yang naik tahta di tahun 535 M menggantikan ayahandanya yaitu Maharaja Prabu Candrawarman. Maharaja Prabu Suryawarman meneruskan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kekuasaan lebih luas untuk para raja muda. Namun untuk menjaga eksistensi Kerajaan Tarumanagara, Maharaja Prabu Suryawarman mengutus salah satu menantunya yaitu Manikmaya untuk mendirikan kerajaan baru di bagian timur kekuasaan Kerajaan Tarumanagara. Manikmaya mendirikan kerajaan di wilayah Kendan dan dikenal sebagai Kerajaan Kendan. Tujuan dari Maharaja Prabu Suryawarman adalah untuk mengontrol dan mengawasi raja-raja muda di wilayah timur yang sulit dijangkau dari Tarumanagara.

Tahun 561 M ~ 628 M, Maharaja Prabu Kertawarman naik tahta menggantikan ayahandanya yaitu Maharaja Suryawarman. Pada masa ini pamor Kerajaan Tarumanagara semakin hilang bahkan nyaris tidak dianggap oleh raja-raja muda kerajaan bawahan. Apalagi sejak tahun 612 M, cicit Manikmaya yang berkuasa di Kerajaan Kendan yaitu Prabu Wretikadayun mengganti nama Kerajaan Kendan menjadi Kerajaan Galuh dan memindahkan pusat pemerintahan dari Kendan ke timur yaitu Galuh. Hal ini semakin mempersulit kontrol dan pengawasan, sehingga Kerajaan Galuh bekembang semakin besar di wilayah timur.

Kerajaaan Tarumanagara akhirnya menjadi seperti sebuah macam ompong, sudah kehilangan wiabawa dan juga pengaruh terhadap kerajaan-kerajaan kecil yang dahulu berada di bawah kekuasaanya. Kerajaan-kerajaan kecil itu sekarang lebih memandang dan menghargai Kerajaan Galuh yang dianggap lebih besar dan kuat daripada Kerajaan Tarumanagara. Pelan-pelan kerajaan-kerajaan kecil yang dulu setia kepada Kerajaan Tarumanara, seperti Kerajaan Indraprahasta dan Kerajaan Kuningan bersekutu dengan Kerajaan Galuh.

Hal ini berlanjut sampai masa pemerintahan Maharaja Prabu Sudhawarman (628 M ~ 639 M), masa pemerintahan Maharaja Prabu Hariwangsawarman (639 M ~ 640 M), masa pemerintahan Maharaja Ngajayawarman (640 M ~ 666 M), dan masa pemerintahan Maharaja Prabu Linggawarman (666 M ~ 669 M). Keempat Maharaja ini sebenarnya sudah tidak pantas menyandang gelar Maharaja karena bisa dikatakan sudah tidak mempunyai lagi raja bawahan yang benar-benar setia. Sedangkan di wilayah timur, Kerajaan Galuh semakin besar dan ditakuti oleh raja-raja muda di wilayah tersebut.

Puncaknya adalah saat Maharaja Prabu Linggawarman lengser dan digantikan oleh menantunya yaitu Prabu Tarusbawa yang menikahi putri sulungnya, Dewi Manasih. Prabu Tarusbawa naik tahta tahun 669 M menggantikan mertuanya, Maharaja Prabu Linggawarman.

Prabu Tarusbawa sangat berambisi untuk mengembalikan kejayaan Kerajaan Tarumanagara seperti saat pemerintahan Maharaja Purnawarman. Sebagai langkah pertama yang dilakukan Prabu Tarusbawa adalah merubah nama kerajaan menjadi Kerajaan Sunda. Hal ini mengingat bahwa pada masa jayanya di masa pemerintahan Maharaja Purnawarman, Kerajaan Tarumanagara berpusat di purasaba (ibukota) Sundapura. Selain itu, Prabu Tarusbawa adalah putra dari seorang raja muda yang berkuasa di purasaba Sundapura.

Namun pergantian nama kerajaan ini berakibat fatal, karena Prabu Wretikandayun memanfaatkan momen tersebut untuk membebaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Tarumanagara. Prabu Wretikandayun beralasan bahwa selama ini Kerajaan Galuh hanya tunduk kepada Kerajaan Tarumanagara. Sekarang Kerajaan Tarumanagara sudah berganti nama menjadi Kerajaan Sunda maka secara otomatis Kerajaan Galuh menjadi kerajaan yang bebas.

Tentu keberanian Prabu Wretikandayun beresiko karena sewaktu-waktu bisa saja pihak Kerajaan Sunda mengerahkan pasukannya untuk menggempur Kerajaan Galuh. Namun Prabu Wretikadayun sudah mempersiap recana pembebasannya dari kekuasaan Kerajaan Sunda/Tarumanagara dengan sangat matang. Selain mendapat dukungan dari Kerajaan Indraprahasta dan Kerajaan Kuningan di utara, Prabu Wretikandayun juga mendapat dukungan dari Kerajaan Kalingga di timur. Hal ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari dengan menikahkan putra mahkota Kerajaan Galuh yaitu Sang Jalantara bergelar Rakean Mandiminyak dengan Putri Parwati yang merupakan putri kesayangan Ratu Shima dan Prabu Kartikeyasinga, penguasa Kerajaan Kalingga.

Keadaan ini menyulitkan posisi Prabu Tarusbawa, niatnya untuk mengembalikan kejayaan seperti saat pemerintahan Maharaja Purnawarman menghadapi tantangan besar dari Kerajaan Galuh. Dengan menekan rasa marah dan kecewa yang luar biasa, akhirnya Prabu Tarusbawa membiarkan Kerajaan Galuh lepas dan di sepakati bahwa aliran Sungai Citarum menjadi batas kedua kerajaan. Di bagian barat sungai Citarum menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda dan di bagian timur sungai Citarum menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Galuh.

Saat itu Prabu Tarusbawa berpendapat lebih baik mempunyai wilayah yang lebih kecil tapi rakyatnya bisa sejahtera daripada wilayah besar tapi setiap saat muncul pemebrontakan yang bisa mengganggu kesejahteraan rakyat. Selain itu, Prabu Tarusbawa saat itu sedang sibuk mengatasi gangguan perompak di lautan Sunda yang banyak mengganggu kelancaran kapal-kapal dagang dari negeri Gujarat, India dan China.

Maka sejak tahun 670 M, berakhirlah sejarah Kerajaan Tarumanagara yang besar dan jaya di masa lalu menjadi dua buah kerajaan yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.

===

Prabu Wretikandayun adalah cicit dari Maharaja Prabu Suryawarman dari garis ibu. Secara singkat garis keturunannya adalah Resi Mahaguru Manikmaya menikahi Dewi Tirtakancana, putri Maharaja Prabu Suryawarman. Lalu lahirlah  Prabu Suraliman yang kemudian mempunyai putra yaitu Prabu Kandiawan. Prabu Kandiawan adalah ayah dari Prabu Wretikandayun.

Hal ini salah satu alasan Prabu Wretikandayun tidak mau diperintah lagi oleh Maharaja Prabu Tarusbawa. Karena secara darah dan garis keturunan, Prabu Wretikandayun adalah keturunan langsung raja-raja Kerajaan Tarumanagara dibandingkan dengan Prabu Tarusbawa yang hanyalah menantu dari Maharaja Prabu Linggawarman.

Prabu Wretikandayun mempunyai permaisuri yang bernama Dewi Manawati dan bergelar Prameswari Dewi Candrarasmi yang merupakan putri Resi Makandria. Dari hasil pernikahannya ini lahir tiga orang putra yaitu, Sang Jatmika, Sang Jantaka dan Sang Jalantara.

Prabu Wretikandayun menetapkan bahwa Sang Jalantara yang merupakan putra bungsunya menjadi putra mahkota. Hal ini tentu tidak lazim karena menurut adat dan kebiasaan, yang berhak menjadi putra mahkota adalah putra sulung dari permaisuri yang dalam hal ini seharusnya adalah Sang Jatmika.

Keputusan ini diambil oleh Prabu Wretikandayun dengan pertimbangan bahwa putra sulung dan keduanya yaitu Sang Jatmika dan Sang Jantaka mempunyai kekurangan fisik sehinga dianggap kurang pantas menjadi seorang raja. Sang Jatmika mempunyai kekurangan yaitu giginya ompong sedangkan Sang Jantaka mempunyai kekurangan karena menderita sakit hernia. Sedangkan putra bungsunya yaitu Sang Jalantara adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah sehingga dianggap sangat pantas menjadi seorang raja.

Hal ini tentu saja diam-diam menimbulkan rasa ketidakpuasan dari dua orang putra Prabu Wretikandayun, terutama dari putra sulungnya, Sang Jatmika. Namun ketidakpuasannya tersebut dipendam serapi mungkin karena tidaklah mungkin melawan titah Prabu Wretikandayun. Untuk menutupi kekecewaannya Sang Jatmika memutuskan untuk menyepi dan membuka sebuah kemandalaan (pusat agama Hindu) di daerah Gunung Galunggung yang kemudian dikenal dengan Kabuyutan Galunggung dengan gelar Rahyang Sempakwaja. Langkah ini diikuti oleh adik pertamanya yaitu Sang Jantaka yang memilih untuk menyepi dan membuka kemandalaan di daerah Denuh yang kemudian dikenal dengan Kabuyutan Denuh dan diberi gelar Rahyang Denuh atau Rahyang Wanayasa.

Untuk mengobati luka hati kedua putranya, Prabu Wretikandayun membuat sebuah peraturan bahwa setiap keputusan yang diambil oleh raja Galuh yang berhubungan dengan urusan pemerintahan termasuk pengangkatan raja baru, haruslah atas persetujuan Kabuyutan Galunggung dan Kabuyutan Denuh. Hal ini ditambah bahwa kedua kabuyutan tersebut dibebaskan dari pajak dan diberi wewenang penuh untuk membuat aturan tersendiri terpisah dengan aturan yang dikeluarkan oleh Kerajaan Galuh. Dengan kata lain, dua kabuyutan itu mempunyai kedaulatan seperti halnya sebuah kerajaan.

Sang Jalantara kemudian dinikahkan dengan Dewi Parwati yang merupakan putri dari keraton Kerajaan Kalingga. Setelah menikah Sang Jalantara diberi gelar Rahyang Mandiminyak. Rahyang Mandiminyak adalah seorang putra mahkota yang tampan, gagah perkasa dan cakap dalam ilmu pemerintahan. Hal ini juga karena sejak menikah dengan Dewi Parwati diusia yang cukup muda, Rahyang Mandiminyak banyak belajar tentang pemerintahan selain dari ayahnya juga dari kedua mertuanya yaitu Prabu Kartikeyasinge dan Ratu Shima di Kerajaan Kalingga.

Hanya sayang, tidak ada gading yang tak retak, seperti kata pepatah. Rahyang Mandiminyak mempunyai kelemahan yaitu mudah terbawa nafsu birahi. Bermodalkan ketampanan dan kekuasaanya, banyak perempuan yang jatuh hati dan menyerahkan seluruh jiwa dan raganya kepada Rahyang Mandiminyak. Kebiasaan jeleknya ini agak berkurang setelah menikah dengan Dewi Parwati dan lebih banyak menghabiskan waktu di Kerajaan Kalingga. Namun tetap saja, saat sesekali pulang ke purasaba Galuh, Rahyang Mandiminyak seringkali mengadakan pesta dan menghabiskan waktu dengan gadis-gadis kembang purasaba.

Seperti malam itu, Rahyang Mandiminyak yang sudah sejak dua hari lalu tiba di  purasaba Galuh tanpa didampingi istrinya, Dewi Parwati, baru saja selesai makan malam dengan Prabu Wretikandayun dan juga kakaknya, Rahyang Sempakwaja. Secara kebetulan Rahyang Sempakwaja dan istrinya sedang berada di purasaba Galuh.

Malam menjelang pagi saat Rahyang Mandiminyak terlihat masih duduk menyendiri di sebuah bangku panjang di dalam taman keraton. Pikirannya meliar mengingat seorang kembang purasaba Kendan (ibukota kerajaan lama) yang sempat menjatuhkan hatinya. Perempuan kembang purasaba itu adalah Pwah Rababu, putri Resi Suriadarmawan seorang pemuka agama Hindu di Kendan.

Pwah Rababu adalah putri dari Resi Suriadarmawan pemuka agama di daerah Kendan, bekas ibukota kerajaan sebelum pindah ke Galuh. Pwah Rababu seorang perempuan muda yang cantik jelita, kulitnya putih kekuningan, tubuhnya ramping dengan dada membusung dan pinggang yang kecil. berita tentang kecantikannya menyebar dari mulut ke mulut hingga akhirnya terdengar oleh Prabu Wretikandayun yang saat itu sudah pindah ke Kotaraja Galuh. 

Banyak pangeran dari selir Prabu Wretikandayun maupun putra para petinggi kerajaan yang penasaran mendengar kabar tentang kecantikan Pwah Rababu. Hingga akhirnya, Prabu Wretikandayun mengundang Resi Suriadarmawan dan Pwah Rababu ke keraton purasaba Kerajaan Galuh. Kehadiran Pwah Rababu membuat geger keraton karena kecantikannya namun semua hanya bisa menahan hasrat dalam hati, karena siapa yang berani mati mengganggu tamu undangan Prabu Wretikandayun.

Muncul rumor bahwa Pwah Rababu akan dijodokan dengan Rahyang Mandiminyak, sang putra mahkota. Bahkan saat acara makan yang diadakan di ruang makan keraton, Prabu Wretikandayun memperkenalkan Resi Suriadarmawan dan Pwah Rababu kepada ketiga putranya. Sejak kecil Pwah Rababu dibesarkan dilingkungan yang taat beragama dan dididik dengan keras oleh orangtuanya. Selama lima belas tahun hidupnya belum pernah bergaul dekat dengan laki-laki luar. Oleh karena itu saat Pwah Rababu dikenalkan dengan Rahyang Sempakwaja, Rahyang Wanayasa dan Rahyang Mandiminyak, hatinya langsung tergetar melihat ketampanan putra bungsu Prabu Wretikandayun. Begitu pula Rahyang Mandiminyak yang langsung jatuh cinta saat pertama melihat Pwah Rababu.

Namun Prabu Wretikandayun punya rencana lain, dirinya menganggap bahwa Pwah Rababu walaupun cantik jelita tapi tidak layak menjadi Garwa Pramiswari dari Rahyang Mandiminyak. Prabu Wretikandayun ingin memberikan Pwah Rababu yang cantik jelita sebagai "hadiah" kepada putra sulungnya yaitu Rahyang Sempakwaja yang gagal menjadi putra mahkota. Diharapkan dengan memberikan istri yang cantik jelita maka akan menghibur kekecewaan putra sulungnya tersebut selain itu dengan menjadi menantu Resi Suriadarmawan, Rahyang Sempakwaja bisa lebih memperdalam ilmu agamanya.

Tentu saja keputusan itu membuat kecewa Pwah Rababu dan juga Rahyang Mandiminyak. Namun di jaman itu, apalah daya seorang perempuan apalagi dalam lingkungan keraton. Sehingga Pwah Rababu akhirnya menerima perjodohan tersebut. Pernikahan Rahyang Sempakwaja dan Pwah Rababu diadakan dengan meriah dan setelah menikah, tak lama kemudian Rahyang Sempakwaja memboyong Pwah Rababu ke Kabuyutan Galunggung.

Pagi itu Rahyang Mandiminyak terbangun dari tidur dengan muka pucat dan mata merah karena kurang tidur. Nyaris semalaman dirinya tidak bisa tidur, batinnya bergulat antara kerinduan dan juga kepatutan. Sungguh tidak elok jika dirinya mengganggu pagar ayu kakak iparnya sendiri.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rahyang Mandiminyak duduk dipinggir tempat tidurnya. Beberapa kali terdengar menarik nafas panjang.

"Jagad dewa batara...kenapa hamba seperti ini?" keluhnya sambil menutup muka dengan kedua tangannya.

"Aaahhh....tidak...tidak boleh aku mengganggu istri Kakang Resi..." akal sehatnya mencoba mengingatkan.

Rahyang Mandiminyak berdiri dari duduknya lalu berjalan gontai keluar dari kamarnya melintasi taman menuju pendopo. Tanpa disadarinya sepasang mata jernih menatapnya penuh kerinduan dari balik pintu sebuah kaputren yang berada di samping kanan taman. Pemilik mata yang bening indah itu adalah seorang perempuan berusia sekitar duapuluh tahun. Wajahnya cantik jelita dan tubuhnya dengan lekuk-lekuk yang nyaris sempurna. Perempuan itu adalah Pwah Rababu yang secara tidak sengaja melihat Rahyang Mandiminyak yang sedang berjalan menuju pendopo.

===

Di pendopo, Rahyang Mandiminyak bertemu dengan Rahyang Sempakwaja yang sedang duduk menghadapi hidangan di atas meja.

"Kakang Resi..." sapa Rahyang Mandiminyak sopan sambil duduk di hadapan Rahyang Sempakwaja.

"Ah...Rai, sepagi ini kau sudah terbangun" Rahyang Sempakwaja menyambut sapaan Rahyang Mandiminyak dengan dingin.

"Iya Kakang...semenjak tiba di purasaba Galuh...aku sulit untuk tidur nyenyak. Teringat istriku yang sedang mengandung di purasaba Kalingga" keluh Rahyang Mandiminyak.

Rahyang Sempakwaja hanya tersenyum mendengar keluhan adik bungsunya tersebut. Sementara itu terlihat seorang pengawal bergegas menghampiri mereka lalu menjatuhkan tubuhnya berlutut di luar pendopo. Setelah tiga kali menyembah ke arah Rahyang Sempakwaja dan Rahyang Mandiminyak.

"Ampun Gusti Resi dan Gusti Rahyang...semua perlengkapan dan perbekalan sudah selesai dinaikkan ke atas kereta. Hamba menunggu perintah Gusti Resi..." ujar pengawal tersebut sambil tetap menundukkan wajahnya.

"Ah...baiklah, mari kita berangkat" ujar Rahyang Sempakwaja sambil berdiri dari duduknya.

"Kakang Resi hendak berangkat ke mana?" tanya Rahyang Mandiminyak sambil ikut berdiri.

"Aku hendak mengunjungi Rai Resi Wanayasa di Denuh...aku hendak bertapa di sana untuk beberapa purnama" ujar Rahyang Sempakwaja datar.

Rahyang Mandiminyak menganggukkan kepalanya sambil lalu berkata,

"Aku iri sekali kepada Kakang Resi berdua, kalian bebas kapan saja untuk bertapa dan menyucikan diri" keluhnya pelan.

Rahyang Sempakwaja hanya tersenyum masam mendengar keluhan adik bungsunya tersebut lalu melangkah keluar pendopo diikuti oleh pengawalnya. Rahyang Mandiminyak menarik nafas panjang lalu menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Semenjak penunjukkan dirinya sebagai putra mahkota, sikap kedua kakaknya memang sangat dingin bahkan sinis.

"Kakang Resi...bukan kehendakku menjadi putra mahkota, seharusnya kau marah kepada Ramanda Prabu...bukan kepada diriku" keluhnya sambil memejamkan mata. 

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Rahyang Mandiminyak berdiri dari tempat duduknya. Matanya mencorong liar sambil bergumam.

"Pwah Rababu...ya Pwah Rababu aku tidak melihatnya pergi bersama Kakang Resi. Jangan-jangan dia masih berada di keraton"