JILID #1




Malam itu disebuah rumah yang besar dan mewah, terlihat kerlip lampu masih menerangi di ruang tengahnya.

"Saksena, lekas kau tidur. Malam sudah larut jangan sampai kau bangun kesiangan" ujar Meiyang seorang wanita cantik jelita keturunan China dengan lembut.

Yuchi Saksena seorang anak berusia sepuluh tahun yang sedang tekun membaca sebuah kitab sastra di atas meja, mengangkat wajahnya yang tampan lalu tersenyum.

"Baiklah ibu...aku pun sudah mengantuk"  jawabnya sopan sambil menutup kitab yang dipegangnya. Walaupun sebenarnya rasa kantuk itu belum datang namun Yuchi Saksena tidak kuasa membantah permintaan ibunya.

Yuchi Meiyang, seorang ibu muda berusia tdak lebih dari 28 tahun itu tersenyum dan memandang putra semata wayangnya. Rasa bangga dan haru memenuhi dadanya, Yuchi Saksena adalah putra satu-satunya hasil pernikahannya dengan Jaka Saksena seorang bangsawan Sunda yang menjadi Syahbandar di Pelabuhan Kalapa.

Yuchi Jian membawa putrinya Yuchi Meiyang merantau dari tanah Chang'an Cina. Yuchi Jian memutuskan meninggalkan Cina dan berdagang kain sutera setelah keluarganya ditumpas habis oleh penguasa Chang'an yang baru. Keluarga Yuchi Jian secara turun temurun adalah pendukung penguasa Chang'an yang lama. Akibatnya ketika terjadi pengambil-alihan kekuasaan, keluarganya dibinasakan. Untungnya Yuchi Jian berhasil meloloskan diri bersama dengan putrinya Yuci Meiyang yang saat itu berusia tiga belas tahun.

Dengan uang hasil penjualan perhiasan keluarga yang berhasil diselamatkan, Yuchi Jian membeli kain sutera dalam jumlah yang banyak dan mulai berdagang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Sampai akhirnya lima belas tahun lalu memutuskan menetap di Palabuhan Kalapa dan membuka toko kain sutera. Para pelanggannya banyak dari kaum menak Sunda yang tinggal di kota Cipakancilan, ibukota Kerajaan Sunda. 

Yuchi Jian dan Yuchi Meiyang sangat terkenal di sekitar Palabuhan Kalapa sebagai keluarga yang murah hati dan banyak membantu warga sekitar. Selain seoarang saudagar yang kaya raya, Yuchi Jian pun memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan juga ilmu pengobatan. Entah berapa puluh kali Yuchi Jian berhasil mengusir para penjahat yang datang memeras. Selain ahli silat, Yuchi Jian terkenal pula sebagai tabib yang tidak pernah meminta bayaran.

Sedangkan Yuchi Meiyang tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita dengan wajah khas oriental. Sudah berpuluh pemuda keturunan menak dari kota Sundapura yang melamarnya, namun semuanya ditolak dengan halus. Sampai akhirnya seorang menak Sunda yang menjadi Syahbandar Palabuhan Kalapa, yaitu Jaka Saksena berhasil menjatuhkan hati Yuchi Meiyang dan melamarnya. Pernikahan keduanya diselenggarkan dengan sangat meriah tiga hari tiga malam. Dari hasil pernikahan itu lahirlah Yuchi Saksena, seorang anak laki-laki tampan dengan sorot mata tajam namun lembut. Tubuhnya tinggi degan tulang-tulang yang kokoh dan kulit bersih kekuningan.

Jaka Saksena terkenal sebagai seorang Syahbandar yang sangat jujur dan keras dalam menjalankan tugasnya. Sebagai putra bekas Senopati Kerajaan Tarumanagara, jiwa jujur dan berani sudah ditempa sedari kecil. Banyak pencoleng ataupun saudagar nakal yang kena batunya. Jaka Saksena tidak bisa disuap ataupun diiming-imingi harta kekayaan dalam menjalankan tugasnya.

Beberapa tahun lalu Palabuhan Kalapa sempat heboh karena seorang saudagar dari Pamalang yaitu Arya Jumadi datang mengamuk dan menantang Jaka Saksena. Hal ini disebabkan karena dua buah kapal dagang Arya Jumadi ditahan oleh pihak syahbandar dengan alasan kedua kapal tersebut adalah hasil rampasan dari pedagang Cina dan India. Kapal tersebut dirampas ditengah laut oleh anak buah Arya Jumadi dan untuk menghilangkan jejak semua awak kapal dilempar ditengah laut. Namun salah seorang anak buah kapal berhasil selamat dan mengadukan hal ini ke pihak syahbandar.

Kemarahan Arya Jumadi bersama anak buahnya dihadapi oleh Jaka Saksena dengan tenang. Setelah perkelahian hidup mati antara Jaka Saksena dengan tukang pukul Arya Jumadi, akhirnya mereka berhasil dikalahkan. Arya Jumadi dan anak buahnya melarikan diri.

Di rumah besar itu tinggal Jaka Saksena, Yuchi Meiyang, Yuchi Jian dan Yuchi Saksena ditemani oleh sepasang suami istri yang bertugas mengurusi rumah. Selain itu terdapat lima orang prajurit yang ditugaskan oleh Karajaan Sunda untuk mengawalnya sebagai seorang syahbandar.

Yuchi Saksena melangkah memasuki kamarnya sementara Yuchi Meiyang memasuki kamar utama dimana suaminya Jaka Saksena sudah terlelap tidur.

Malam semakin larut dan udara pantai yang biasanya kering dan panas namun malam itu terasa sangat dingin menusuk tulang dan juga menyeramkan. Terasa sangat tidak biasa seolah malam itu sangat gelap dan auranya sangat menakutkan. Malam itu yang bertugas menjaga rumah Jaka Saksena hanya dua orang, keduanya terlihat melenggut di dalam pondok kecil yang dijadikan sebagai pos penjagaan. Dari kegelapan terlihat empat buah bayangan berkelebat cepat melompati benteng rumah yang cukup tinggi lalu mengendap-endap mendekati pos penjagaan.

"Aduh...hek..!!!" terdengar suara dua jeritan lemah susul menyusul lalu kembali sunyi.

Keempat bayangan itu lalu bergerak mendekati rumah utama. Sekarang wujud mereka terlihat jelas terkena cahaya lampu yang menggantung di atas pendopo rumah. Mereka berpakaian hitam-hitam dan menggunakan topeng. Dua orang diantaranya memegang golok yang masih terhunus dengan tetesan darah manusia yang masih menempel. Salah satu dari mereka lalu duduk bersila menghadap ke selatan, mulutnya terlihat seperti merapal mantera. Tangannya bergerak dan ajaib dari tangannya keluar asap hitam pekat dengan wangi menyeramkan memenuhi udara.

Seluruh penghuni rumah Jaka Saksena tertidur lelap. Termasuk Jaka Saksena dan Yuchi Jian yang biasanya waspada. Namun posisi tidur mereka menunjukkan bahwa mereka terlelap dengan cara yang tidak wajar. Yuchi Jian tertidur dalam keadaan duduk diatas tempat tidur di kamarnya. Sementara Jaka Saksena dan Yuchi Meiyang tertidur dengan posisi berlawanan arah. Termasuk Yuchi Saksena yang tertidur sambil bersandar didinding kamar tidurnya. Sedangkan sepasang pembantunya memang sudah lama terlelap karena kecapean.

"Cepat kalian bereskan...mereka sudah tersirep" bisik bayangan yang sedang bersila pelan.

Ketiga temannya bergerak cepat membongkar pintu rumah. Suara burung gagak terdengar mengaok-aok dari kejauhan sesekali suara siit cungcuing meningkahi. Namun anehnya meskipun suara gaduh karena pintu yang dibongkar paksa, tidak seorangpun penghuni rumah yang terbangun seolah semuanya sudah mati.

Daun pintu terbuka dan tiga sosok bayangan berkelebat masuk sedangkan yang tadi merapal mantera terlihat berjaga-jaga dengan golok terhunus di depan pintu yang dibiarkan terbuka.

"Ini kamarnya...." bisik salah seorang dari mereka sambil menendang pintu salah satu kamar.

"Braaakkkk....."

"Cepat kita bereskan...." ujarnya kepada dua orang temannya sambil mendahului melompat ke dalam kamar.

Di dalam kamar terlihat Jaka Saksena dan Yuchi Meiyang tergolek tidur sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam kamarnya ada tiga orang durjana.

"Sret...sret...sret..."

Terdengar tiga kali suara golok diikuti oleh dua lenguhan pendek.

===

Besok paginya terjadi keributan di rumah Jaka Saksena ketika dua orang pengawal yang berniat untuk menggantikan temannya yang bertugas malam datang di pagi hari buta menemukan dua orang penjaga dalam keadaan tewas mengenaskan terkapar di pondok penjagaan. Apalagi ketika Yuchi Jian terbangun mendengar jeritan tersebut juga menemukan ceceran darah di depan kamar putri dan mantunya.

Yuchi Jian membuka pintu kamar putri dan mantunya.

"Thian (Tuhan)...apa yang terjadi?" gumamnya seolah tidak percaya melihat putri kesayangan dan mantunya sudah tergolek dengan leher hampir putus.

"Biadab...." Yuchi Jian mendesis lalu tubuhnya menggelosor seolah tidak percaya karena kaget.

Kejadian itu menggemparkan Palabuhan Kalapa bahkan beritanya sampai ke Sundapura, ibukota kerajaan Sunda. Prabu Tarusbawa yang saat itu berkuasa di kerajaan Sunda sempat mengerahkan senopati-senopati andalannya untuk mencari pembunuh Jaka Saksena dan Yuchi Meiyang, namun hasilnya nihil. Pembunuhnya menghilang tanpa jejak seolah ditelan bumi.

Yang paling terpukul tentu adalah Yuchi Saksena, putra semata wayang dari Jaka Saksena dan Yuchi Meiyang. Sejak kejadian yang mengenaskan yang menimpa kedua orangtuanya, Yuchi Saksena terlihat sering melamun walaupun ketekunannya dalam berlatih silat dan belajar sastra dan juga ilmu pengobatan tidaklah turun. Hal ini tidak lepas dari perhatian Yuchi Jian, kakeknya, satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya. Walaupun sebenarnya kakek dari pihak ayahnya, yaitu Senapati Wiradarma Saksena, kemungkinan masih hidup. Hanya saja sejak Kerajaan Tarumanagara pecah menjadi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, Senapati yang merasa kecewa dengan terpecahnya kerajaan Tarumanagara, Wiradarma Saksena memilih mengundurkan diri dan pergi bertapa di lereng gunung Ciremai.

Pada suatu pagi, tiga bulan setelah tragedi yang menghancurkan keluarga Jaka Saksena, Yuchi Jian duduk bersama Yuchi Saksena di bangku yang ada di pendopo rumah.

"Saksena...kuharap kau bisa melupakan apa yang terjadi kepada orangtuamu. Jangan habiskan waktu untuk meratapi dan menyesali yang terjadi. Semuanya sudah diatur oleh Thian...kita hanya perlu menjalani dengan sabar" ujarnya sambil mengusap rambut Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena adalah seorang anak laki-laki yang sudah digembleng lahir batin sejak lahir. Jiwanya jauh lebih kuat daripada anak seusianya.

"Kongkong (kakek)...aku tidak menyesali kepergian ibu dan ayah...hanya saja aku penasaran, siapa dan mengapa mereka membunuhnya?" jawab Yuchi Saksena dengan pandangan yang menerawang jauh.

"Akupun tidak tahu pasti siapa yang tega berbuat keji dan curang seperti itu. Mereka pasti menggunakan ilmu hitam sehingga seisi rumah tidak tahu apa yang sedang terjadi. Jika berhadapan langsung, keduaorangtuamu tidaklah mudah dikalahkan sembarang orang" suara Yuchi Jian terdengar parau seperti menahan tangis.

Yuchi Saksena mengusap matanya yang mulai basah.

"Kongkong...mampu kah aku membalaskan kematian mereka?" suara Yuchi Saksena pelan seolah berbicara kepada dirinya sendiri.

"Tentu saja asalkan kau tekun dan giat berlatih..." jawab Yuchi Jian sambil memeluk Yuchi Saksena seolah tidak mau kehilangan.

===

Lima tahun berlalu dengan cepat seolah waktu berkejaran, di pagi hari yang sangat cerah, di halaman belakang rumah mendiang Jaka Saksena yang tertutup oleh benteng yang cukup tinggi, seorang remaja laki-laki berusia lima belas tahun duduk bersila di atas tanah menghadap ke arah timur seolah menyambut datangnya sinar matahari. Tubuhnya tinggi dan berisi, lebih tinggi dari anak laki-laki seusianya, pakaiannya berwarna merah gelap. Rambutnya yang panjang diikat kain berwarna sama dengan warna bajunya. Wajahnya tampan dengan kulit bersih putih kekuningan. Matanya yang tertutup dengan alis yang hitam tebal semakin menegaskan ketampanan wajahnya. Walaupun sedang tenggelam dalam semedi namun bibirnya seolah menyungingkan senyum ramah.

"Saksena...pusatkan seluruh perhatian dan juga tenaga saktimu. Ini adalah hari keduapuluh dari semedimu untuk mencapai puncak dari ilmu pedang menembus langit membelah rembulan" terdengar suara Yuchi Jian yang mengawasinya dari pinggir.

"Sekarang akhirilah semedimu dan atur tenaga dalammu dari pusar alirkan ke seluruh tubuhmu. Bersiaplah memainkan jurus-jurus terakhir" Yuchi Jian menambanhkan.

Yuchi Saksena menarik nafas panjang lalu perlahan membuka kedua matanya.

"Baiklah Kongkong...aku sudah siap" jawab Yuchi Saksena sambil berdiri dan menghunus pedangnya lalu memasag kuda-kuda.

"Mainkan jurus kesembilanpuluh sampai jurus keseratus dalam duapuluh tarikan nafas" ujar Yuchi Jian.

Yuchi Saksena menarik nafas panjang lalu melompat tinggi dan mulai memainkan rangkaian jurus yang diperintahkan Yuchi Jian. Pedangnya menderu cepat, gerakannya sangat ringan. Hanya terlihat bayangan merah saja saking cepatnya. Walaupun selama duapuluh hari bersemedi tanpa makan dan minum, terbakar matahari dan bermandikan embun, namun Yuchi Saksena tidak merasa lelah ataupun lapar. 

Yuchi Jian mengawasinya dengan seksama lalu mengangguk-anggukan kepalanya.

"Hebat-hebat....kau memang berbakat cucuku...kau bisa menyelesaikannya dalam delapanbelas tarikan nafas...luar biasa...luar biasa" seru Yuchi Jian ketika Yuchi Saksena menginjakkan kaiknya di atas tanah dan menyelesaikan permainan pedangnya.

Peluh membasahi kening dan tubuh Yuchi Saksena namun nafasnya masih normal tidak memburu seperti orang kecapaian.

"Bagaimana Kongkong...apakah aku sudah memainkannya dengan benar?" tanya Yuchi Saksena sambil menyeka dahinya.

"Sempurna...sempurna...sekarang kau tunggu sebentar" puji Yuchi Jian sambil bergegas memasuki rumah. Tak lama kemudian Yuchi Jian keluar sambil menenteng sebuah kotak besi yang hampir karatan.

Saksena...kemarilah" ujar Yuchi Jian memanggil Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena menghampiri Yuchi Jian yang sedang membuka kotak besi tersebut. Yuchi Jian mengeluarkan sebuah pedang dengan sarung kayu lalu diserahkannya kepada Yuchi Saksena. Wangi cendana tercium tajam.

"Saksena...gunakan pedang ini, mainkan jurus keseratus dengan tenaga dalam tingkat enam. Kau tidak boleh menyentuh tanah dalam limapuluh tarikan nafas" ujarnya.

"Baik Kongkong" Yuchi Saksena menjawab singkat lalu kembali ke tengah lapangan.

Dicabutnya pedang tersebut dari sarungnya, wangi cendana makin santer tercium. Setelah sejenak berkonsentrasi, Yuchi Saksena mulai memainkan jurus keseratus dengan tenaga dalam tingkat enam dari kitab pedang "Menembus Langit Membelah Rembulan".

Tubuhnya melenting ke udara, sabetan dan tebasannya jauh lebih bertenaga dan cepat. Tubuhnya seperti seperti terbang, saking cepatnya membuat tubuhnya seperti bayangan.

Yuchi Jian kembali berdecak kagum.

"Bahkan dengan tenaga dalam yang belum sempurna, kekuatannya sudah sedemikian dahsyat"

Ditarikan nafas kelimapuluh, Yuchi Saksena bersalto tiga kali di udara lalu dengan indah mendarat di hadapan Yuchi Jian.

"Sempurna...Saksena..sempurna...aku bangga..." seru Yuchi Jian sambil memeluk cucu kesayangannya.

"Sekarang kau bersihkan diri dan isilah perutmu karena mulai malam ini kau harus meneruskan semedimu lagi selama 3 purnama, menyerap kekuatan bumi dan langit untuk menyempurnakan kekuatan spiritualmu. Hanya dengan kekuatan spiritual yang sempurna kau bisa menguasai tenaga dalam tingkat tujuh dan delapan" sambung Yuchi Jian

===

Tiga purnama berlalu, pagi itu sinar matahari mulai menghangatkan bumi, menghidupkan kembali daun-daun yang hampir luluh oleh embun pagi. Tanah yang basah oleh keringat malam mulai mengering.

Yuchi Saksena berdiri tegap di tengah halaman belakang rumahnya yang cukup luas. Badannya terlihat lebih kurus namun terlihat lebih berisi.

"Saksena..mainkan jurus keseratus dengan tenaga dalam tingkat delapan" teriak Yuchi Jian.

Yuchi Saksena menghunus pedangnya, wangi cendana menyeruak tajam. Setelah konsentrasi, tenaga dalamnya dialirkan ke tangan kanannya yang memegang pedang. Luar biasa...pedang tersebut mengeluarkan sinar terang berwarna hjau.

Tubuhnya melenting ke udara, sabetannya pedangnya mengeluarkan sinar seperti cemeti berwarna hijau. Pohon-pohon kecil yang terkena sabetan sinar tersebut bertumbangan dalam keadaan kering. Rerumputan di sekitar halaman belakang tersebut mulai terbakar. Yuchi Saksena layaknya seorang penari yang sedang memainkan tariannya di udara. Nyaris tujuhpuluh tarikan nafas dirinya melayang dan meliuk di udara, diakhiri dengan salto tiga kali, Yuchi Saksena mendarat dengan indah.

Yuchi Jian melengak nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Dewata Agung...luar biasa...seumur hidup aku baru melihat puncak dari kehebatan kitab pedang Menembus Langit Merobek Rembulan"

"Saksena...luar biasa..luar biasa. Gin-kang milikmu (ilmu meringankan tubuh) sudah sempurna" pekik Yuchi Jian, air matanya meleleh karena haru.

"Kongkong...aku berhasil..aku berhasil" ujar Yuchi Saksena sambil berlari memeluk Yuchi Jian.

Sesaat mereka berpelukan, kemudian Yuchi Jian merenggangkan pelukannya sambil memegang kedua bahu Yuchi Saksena.

"Saksena...sekarang saatnya kau tunjukkan tenaga dalam tingkat ke delapan tanpa menggunakan pedang" ujarnya.

Yuchi Saksena mengangguk lalu berjalan menjauhi Yuchi Jian lalu mulai memasang kuda-kuda.

"Saksena...ingatlah, inti dari puncak tenaga dalam ini bukanlah untuk menyerang tetapi untuk bertahan. Sekarang aku akan menyerangmu dengan pukulan tenaga dalam tingkat 5" ujar Yuchi Jian sambil memasang kuda-kuda.

"Baik Kongkong...." jawab Yuchi Saksena.

Kedua tangan Yuchi Jian bergetar, asap tipis mengepul. Diawali dengan bentakan yang sangat keras, Yuchi Jian mendorongkan kedua tangannya ke depan.

"Hiiiiiyyyyyaaaaaa...." serangkum cahaya berwarna hijau meluncur cepat ke arah Yuchi Saksena.

Sementara Yuchi Saksena dengan kedua tangan terkembang seolah sedang membentangkan dinding menahan cahaya hijau yang datang ke arahnya.

Yuchi Jian melipatgandakan tenaga dalamnya untuk membongkar dinding pertahanan Yuchi Saksena. Namun walaupun seluruh tenaga dalamnya di kerahkan, cahaya hijau pukulannya seolah tertahan bahkan tenaga dalamnya seolah terserap habis. Keringat dingin mulai mengucur deras dari dahinya.

"Hiyaaaaaa...." Yuchi Saksena berteriak keras lalu mendorongkan kedua tangannya ke arah sebuah batu besar yang berada di samping kirinya.

Cahaya hijau yang merupakan pukulan tenaga dalam Yuchi Jian, yang sebelumnya tertahan oleh dinding pertahanannya dibelokkan arahnya dan menghantam batu besar tersebut.

"Buuuuummmmmm......" ledakan besar terjadi, batu besar tersebut hancur menjadi butiran halus.

Yuchi Jian bagaikan ditarik oleh pukulannya sendiri, tubuhnya terjerembab membentur tanah. Dengan susah payah bangkit dan mengatur pernapasannya. Sementara Yuchi Saksena menarik kedua tangannya ke depan dada lalu berlutut dengan mata berkaca-kaca.

"Ayah...Ibu...aku akan segera membalaskan kematianmu" suaranya parau nyaris tak terdengar lalu menangis sejadi-jadinya.

"Luar biasa...luar biasa...." gumam Yuchi Jian tidak hentinya mengagumi kehebatan tenaga dalam cucu kesayanganna.

Yuchi Jian dengan nafas terengah mendekati Yuchi Saksena yang sedang duduk berlutut sambil menangis.

"Sudahlah cucuku...kau bersihkanlah tubuhmu lalu isi perutmu. Setelah itu temui aku di ruangan tengah" ujarnya sambil menepuk-nepuk bahu Yuchi Saksena.

Setelah membersihkan diri dan mengisi perutnya oleh makanan yang dihidangkan oleh pembantunya, Yuchi Saksena menghampiri Yuchi Jian yang sedang duduk melamun di ruang tengah.

"Kongkong...aku datang" ujar Yuchi Saksena pelan seolah takut mengagetkan kongkongnya yang sedang asyik melamun.

"Ah...kau duduklah cucuku" Yuchi Jian.

Yuchi Saksena duduk tepat dihadapan Yuchi Jian.

"Cucuku...aku bangga luar biasa, akhirnya kau berhasil menguasai sampai tingkat paling tinggi dari ilmu pedang warisan nenek moyangmu dari negeri China" Yuchi Jian menatap cucu kesayangannya dengan penuh haru dan juga bangga.

"Kongkong semua ini berkat bimbinganmu...." jawab Yuchi Saksena sambil tersenyum. Wajahnya yang tampan seolah bersinar dengan sorot mata tajam namun lembut.

"Semua ilmu dan kepandaianku sudah habis kuajarkan kepadamu...bahkan sekarang kau sudah beberapa tingkat di atasku. Sudah saatnya kau meluaskan pengalaman dan juga mengamalkan kepandaianmu..." suara Yuchi Jian bergetar menahan kesedihan karena sudah tiba saatnya harus melepas cucu kesayangannya tersebut.

"Kongkong...bagaimana denganmu?" Yuchi Saksena berkaca-kaca membayangkan harus meninggalkan kakeknya sendiri.

"Ha...ha...jangan kau khawatirkan kongkongmu ini...aku sudah terbiasa hidup sendiri. Yang terpenting jika semua tugas dan urusanmu selesai...pulanglah kemari" Yuchi Jian tertawa untuk menghilangkan rasa sedih dan membesarkan hati cucunya.

"Tentu Kongkong...aku berjanji setelah berhasil membalaskan kematian ayah dan ibu, aku segera pulang dan menemanimu di sini"  suara Yuchi Saksena terdengar bergetar karena sedih.

Yuchi Jian tersenyum lalu mengangguk-anggukan kepalanya sambil memejamkan mata menahan keharuan. Sesaat suasana hening, Yuchi Saksena dan Yuchi Jian tenggelam dalam kesedihan masing-masing.

"Cucuku...besok pagi, mulailah perjalananmu" suara Yuchi Jian tercekat memecah kesunyian.

"Kongkong...kemana aku harus memulai perjalanan mencari pembunuh-pembunuh keparat itu" geram Yuchi Saksena.

"Cucuku...janganlah kau niatkan perjalananmu untuk membalas dendam, itu hanya akan membebani jiwamu. Dan lambat laun jiwamu akan hancur oleh dendam dan kebencian" Yuchi Jian menasehati.

"Tapi Kongkong..." Yuchi Saksena membantah namun dipotong oleh Yuchi Jian.

"Cucuku...aku faham sekali akan rasa sakit hati dan dendam yang ada di hatimu. Aku memakluminya karena usiamu masih terlalu muda untuk bisa mengendalikan perasaanmu. Oleh karena itu kau perlu belajar lagi untuk mematangkan lagi jiwamu" Yuchi Jian dengan lembut menenangkan Yuchi Saksena.

"Kongkong...aku sudah menguasai semua ilmu silat yang kau ajarkan untuk apa aku belajar lagi?. Aku yakin bisa membalaskan dendamku...dendam kita" Yuchi Saksena dengan bersemangat.

"Ha..ha..ha..Saksena, kau belum mengenal dunia luar...bahkan aku pun tidak berdaya saat ayah dan ibumu di bunuh. Ini menunjukkan bahwa di luar sana banyak sekali orang yang lebih sakti dan hebat. Banyak ilmu dan kesaktian yang bahkan akupun baru tahu setelah tiba di tanah Sunda ini. Selain itu sungguh percuma jika semua ilmu dan kebisaanmu hanya digunakan untuk balas dendam. Ingatlah ayah dan kakekmu adalah patriot Kerajaan Sunda dan Tarumanagara" ujar Yuchi Jian panjang lebar.

"Oleh karena itu...kau pergilah terlebih dahulu ke lereng Gunung Ciremai. Temuilah kakekmu yang sedang bertapa di sana" sambungnya.

"Tapi Kongkong...aku tidak pernah bertemu dengan dia" Yuchi Saksena merasa segan karena memang terakhir mereka bertemu adalah saat usianya masih dua tahun. Belum bisa mengingat papaun tentang diri kakek dari pihak ayahnya, Senapati Wiradarma Saksena.

"Saksena...kalian pernah bertemu saat usiamu sekitar dua tahun, saat itu kakekmu menjengukmu sesaat sebelum pergi ke lereng Gunung Ciremai untuk bertapa. Selain itu, kau perlu mengabarkan tentang peristiwa yang terjadi pada ayah ibumu" ujar Yuchi Jian.

"Baiklah Kongkong..." jawab Yuchi Saksena.