RAHIANG SANJAYA : MEREBUT TAHTA KARATUAN GALUH #50




Melihat Rakean Sukma terlempar dan pingsan, Senapati Anggadirja secepat kilat melompat ke atas panggung. Dengan sedikit khawatir dirinya memeriksa keadaan putra kesayangannya. Setelah memastikan tidak ada yang membahayakan, Senapati Anggadirja dengan tenang memangkunya turun dari panggung. Sementara itu Wirapala yang merasa di atas angin, petantang-petenteng di atas panggung.

"Hua...ha...ha...siapa lagi yang mau menemaniku bermain-main di atas panggung? Atau...langsung saja aku diangkat menjadi senapati...hua...ha...ha..." Wirapala terbahak-bahak sambil memandang ke arah tempat duduk para tamu kehormatan yang diisi oleh para ketua paguron silat.

Ki Darma yang sedari tadi diam menyaksikan rupanya gatal juga melihat polah Wirapala yang jumawa. Setelah berbisik kepada Ki Sukanta untuk mohon ijin, dirinya berkelebat ke atas panggung berhadapan dengan Wirapala.

"Hmmm...laki-laki cabul sepertimu tidak punya tempat di Karatuan Galuh..." ujarnya pelan sambil tersenyum mencibir.

Wirapala balas tersenyum lalu menjura namun dengan gaya yang konyol, jelas-jelas memandang rendah Ki Darma.

"Kenapa begitu orang tua? Bukankah pasanggiri ini terbuka untuk siapa saja? Apakah aku kurang gagah untuk menjadi senapati?" tanyanya lantang.

"Seorang senapati haruslah mempunyai perilaku yang jujur...bukan sepertimu yang suka memetik bunga-bunga desa untuk memuaskan nafsu birahimu!" ketus Ki Darma.

"Aahhh...kalau aku tidak salah kenal...kau adalah Ki Darma...ketua paguron Ruyung Saketi....tidak kusangka...." ujar Wirapala sambil tersenyum sinis.

"Kalau kau sudah tahu siapa aku...kenapa tidak cepat-cepat menyingkir !!!" bentak Ki Darma memotong ucapan Wirapala.

"Hua...ha...ha...kau bicara aku adalah laki-laki pemetik bunga sedangkan istrimu sendiri tidak terhitung banyaknya...bahkan aku dengar istri terakhirmu yang masih berusia belasan dan kau rebut dari anak muridmu...hua...ha...ha...maling teriak maling...!!!" Wirapala terbahak sambil membuka aib Ki Darma yang memang terkenal mempunyai banyak istri dan tidak segan-segan merebut perempuan yang sudah bersuami.

Mendengar ucapan Wirapala, muka Ki Darma merah karena malu dan juga marah karena aibnya dibongkar di depan umum.

"Keparat...tutup mulutmu jangan menyebar fitnah keji seperti itu...aku tidak pernah menculik gadis-gadis desa untuk kujadikan istri. Semua istriku kunikahi secara resmi dan terhormat!!!" bentak Ki Darma.

"Hua...ha...apa bedanya menculik dengan memaksa...kau tidak lebih baik dariku...!!!" Wirapala kembali tergelak.

"Keparat busuk...tutup mulutmu!!!" maki Ki Darma sambil menerjang ke arah Wirapala.

Pertarungan seru pun pecah, Ki Darma yang berusia lebih tua memang kalah tenaga namun lebih berpengalaman dan mempunyai tenaga dalam yang lebih tinggi daripada Wirapala. Ki Darma terkenal mempunyai kedua tangan yang keras dan liat seperti ruyung kelapa, oleh sebab itulah paguronnya bernama Ruyung Saketi. Namun sepertinya Wirapala mempunyai ilmu kebal pukulan, terbukti beberapa kali terkena pukulan namun seolah tidak merasakannya bahkan menerjang dengan lebih ganas dan buas.

Pertarungan berjalan hampir lebih dari seratus jurus, keduanya masih tampak berimbang belum ada tanda-tanda yang terdesak. Keringat mulai membanjiri tubuh keduanya sampai tangan Ki Darma yang keras bagai ruyung itu mengincar kepala. Wirapala yang tahu betapa bahayanya bila pukulan itu mengenai kepalanya segera membuang tubuhnya ke belakang namun tidak disadarinya kaki kiri Ki Darma terayun menendang sambungan lutut kanannya.

"Kraaakkkk....arghhhh.....!!!" terdengar suara tulang patah dan lolongan kesakitan yang menggidikkan.

Wirapala memang berhasil menyelamatkan kepalanya tapi harus merelakan sambungan lutut kanannya patah. Tidak ampun lagi tubuhnya terguling dan tidak bisa bangun lagi. Beberapa prajurit yang berjaga disekitar panggung segera memboyong tubuh Wirapala yang masih meraung kesakitan ke bawah panggung. Sorak penonton pecah setelah beberapa saat terdiam karena tegang dan ngeri melihat keadaan kaki Wirapala.

"Kakek tua itu juga tidak kalah kejamnya..." dengus Dewi Sekarasih sambil mengepalkan kedua tangannya.

"Biarkan saja...semuanya bukan orang baik-baik...biarkan saja mereka saling hajar" jawab Yuchi Saksena pelan.

"Tapi Kakang...apa jadinya jika salah satu dari mereka menjadi senapati...Uwa Prabu benar-benar sembrono..." keluh Dewi Sekarasih.

Sementara itu di atas panggung sudah melompat seorang laki-laki bertubuh tinggi besar yang tak lain adalah Ki Surajati, pemimpin rampok dari lereng gunung Tunggul.

"Hmm...rupanya ketua paguron Ruyung Saketi bukan nama kosong...tidak aneh jika kakak seperguruanku bisa kau bunuh" dengus Ki Surajati dengan pandangan penuh kebencian.

Ki Darma mengerenyitkan dahinya mendengar ucapan Ki Surajati.

"Apa maksudmu Kisanak? Siapa yang sudah ku bunuh?" tanyanya heran.

"Kakak seperguruanku adalah Ki Supata...yang kau bunuh dengan cara licik di hutan Sancang. Hari ini aku akan menuntut balas atas kematiannya!" jawab Ki Surajati.

"Aaahh...rupanya kau sebangsa perampok juga...baiklah...sekali tepuk dua lalat terbunuh...majulah kau...akan kukirim segera menemui kakak seperguruanmu!!!" Ki Darma tersenyum sinis.

Melihat bahwa pertemuan dua orang itu sudah keluar dari jalur pasanggiri, Senapati Anggadirja secepat kilat melompat ke atas panggung untuk menengahi.

"Maafkan kami...tapi pasanggiri ini tidak diperkenankan untuk dijadikan ajang pembalasan dendam pribadi. Mohon para ketua yang gagah dapat menahan diri..." ujarnya berusaha tetap sopan walau yang dihadapinya adalah orang-orang yang kasar.

"Senapati...diawal tadi...kau tidak menyebutkan peraturan tidak boleh membawa urusan pribadi ke atas panggung. Jangan kau coba untuk melindungi orang tua lapuk ini !" sergah Ki Surajati muntab.

"Biarlah Senapati...bukankah sebuah keuntungan bagi pihak karatuan jika aku bisa membunuh perampok busuk ini" ujar Ki Darma.

Sesaat Senapati Anggadirja berfikir ada benarnya juga ucapan dua orang itu, setelah menimbang-nimbang dan juga desakan dari penonton yang semakin riuh akhirnya dia menganggukan kepalanya. Sekali lompat dirinya sudah kembali ke tempat duduknya.

Ki Surajati menghunus golok panjangnya yang berwarna hitam pekat sementara Ki Darma mengeluarkan ruyung yang terbuat dari pohon kelapa yang juga berwarna hitam pekat.

"Kau majulah perampok busuk..." ujar Ki Darma sambil memasang kuda-kuda.

Ki Surajati tertawa mengejek, melangkah satu tindak dan menyabetkan goloknya mengincar leher. Dengan cepat Ki Darma mengangkat ruyungnya menahan datangnya golok.

"Traaanggg....!!!" dua senjata beradu mengeluarkan suara nyaring dan percikan api.

Setelah berhasil menahan serangan pertama, Ki Darma balas menyerang dengan sabetan ruyung mengarah ke kaki. Pertarungan sengit terjadi, keduanya melancarkan serangan-serangan yang mengancam jiwa. Sudah tidak seperti pasanggiri lagi tetapi menjadi sebuah pertarungan maut antara dua musuh bebuyutan. Masing-masing mengincar nyawa musuhnya.

Empat puluh jurus lebih berlalu, dentingan suara senjata beradu sudah puluhan kali terdengar namun belum terlihat siapa yang lebih unggul. Tiba-tiba dari arah tempat duduk kehormatan tempat para ketua paguron silat, seorang pemuda yang tak lain adalah Rakean Wastu berdiri. 

Baca juga : Leuweung Sancang Menghilang Tanpa Bekas #1

"Hentikan pertarungan yang menjemukan ini...." bentaknya keras karena dibarengi pengerahan tenaga dalam yang tingggi membuat semua memalingkan wajah ke arahnya termasuk dua orang yang sedang bertarung di atas panggung.

Sekali genjot, tubuh Rakean Wastu melesat melewati kepala para tamu menuju ke arah panggung. Gerakannya sangat cepat dan enteng, membuat para tamu dan juga penonton melengak kagum melihatnya. Ki Darma dan Ki Surajati melangkah mundur sambil tetap waspada.

"Kisanak...siapa kau dan apa maumu?...pertarungan kami belum selesai!" bentak Ki Surajati keras.

"Betul anak muda...harap kau bersabar sampai salah satu dari kami terkapar dan kalah..." sambung Ki Darma.

"Namaku Rakean Wastu dari Kabuyutan Denuh dan aku sudah muak dengan kelakuan kalian berdua...tidak seorangpun yang layak jadi senapati karatuan. Lebih baik kalian berdua segera minggat dan selesaikan urusan pribadi kalian diluar pasanggiri" ujar Rakean Wastu pongah.

Semua yang hadir melengak mendengar pengakuan pemuda tersebut, semua orang tahu, pada waktu itu Kabuyutan Denuh sangat disegani dan ditakuti karena selain berhubungan sangat erat dengan pihak karatuan tapi juga memiliki murid-murid yang mempunyai kemampuan silat yang sangat tinggi.

"Ah...Gusti Rakean...mohon maaf hamba lancang..." ujar Ki Darma sopan sambil membungkukkan tubuhnya ke arah Rakean Wastu.

"Ki Surajati, lain waktu kita selesaikan urusan kita..." sambungnya kepada Ki Surajati lalu melompat turun dan kembali ke tempat duduknya.

Sementara Ki Surajati tidak terlihat jeri ataupun takut.

"Hmmm...aku kira murid-murid Kabuyutan Denuh hanya terdiri dari para pandita saja...kiranya ada juga dari kalangan bangsawan manis seperti ini...." ujarnya sinis.

"Senapati...apakah aku akan ditangkap dan dihukum kalau berhasil membunuh bangsawan manis licin seperti ini?" sambungnya bertanya kepada Senapati Anggadirja di bawah panggung.

Senapati Anggadirja menarik nafas panjang.

"Ki Surajati..selama pertarungan berjalan dengan jujur dan tidak ada kecurangan, tentu saja tidak akan ditangkap atau dihukum. Hanya saja lebih baik jika di pasanggiri ini tidak ada korban jiwa" jawab Senapati Anggadirja tenang.

Sementara itu Rakean Wastu dengan pongahnya membungkukkan badannya ke arah penonton dan tamu, berlagak seperti seorang jagoan pilih tanding.

"Kalian semua dengarkanlah....namaku adalah Rakean Wastu dari Kabuyutan Denuh, cucu dari Rahyangtang Kidul dan keponakan dari Apatih Bimaraksa. Kehadiranku adalah untuk mencegah para bajingan dan penjahat rendah menjadi seorang senapati karatuan...oleh karena itu...siapapun yang mau coba-coba dan mempunyai sedikit kepandaian, silakan naik ke atas panggung!" ujarnya lantang dengan mengerahkan tenaga dalam.

"Sombongnya tidak ketulungan...." maki Dewi Sekarasih geregetan.

Nama Kabuyutan Denuh ditambah bahwa pemuda tersebut adalah keponakan Apatih Bimaraksa, membuat orang-orang yang tadinya berminat untuk ikut pasanggiri dengan sendirinya mulai mundur teratur karena segan dan takut.

Ki Surajati yang merasa kehadirannya di atas panggung dianggap sepi oleh Rakean Wastu, menjadi muntab.

"Bocah licin tidak tahu adat...biar mulutmu yang lancang itu aku robek...!!!" makinya sambil menerjang dengan golok hitam miliknya.

"Majulah perampok rendah....!" sambut Rakean Wastu sambil menghunus golok panjangnya.

Sorak sorai penonton kembali menggelora saat pertempuran kedua jawara bergolok ini pecah.

Keduanya adalah jawara yang sangat ahli dalam memainkan senjata golok, keduanya saling serang dengan menggunakan jurus-jurus yang lihai dan cepat. Beberapa jurus berjalan tubuh keduanya berubah hanya tinggal bayangan saking cepat dan gesitnya. Bacokan-bacokan dan tusukan-tusukan golok dilakukan dengan gerakan-gerakan yang sangat mematikan. Sedikit saja lengah maka nyawa mereka bisa melayang.

Tetapi nama Kabuyutan Denuh ternyata bukan nama kosong, setelah bertempur beberapa puluh jurus, Ki Surajati mulai terdesak. Dia kalah tenaga dan nafas. Dengan nekat dibabatkannya golok dengan gerakan dari atas ke bawah seperti hendak membelah tubuh Rakean Wastu. Semua penonton dan tamu menahan nafas ngeri karena gerakan Rakean Wastu seperti melambat dan tidak sempat menghindar hingga terpaksa menangkis dengan memutar goloknya di atas kepala.

"Traaangggg.....!!!" terdengar suara senjata beradu.

Kedua senjata menempel dan saling dorong mengerahkan tenaga dalam. Golok Ki Surajati perlahan mulai terdorong karena kalah tenaga. Keringat mulai bercucuran dari dahi Ki Surajati, dengan mati-matian menahan golok di atas kepalanya. Rakean Wastu tersenyum mengejek.

Tiba-tiba Rakean Wastu menarik goloknya dan kaki kanannya mengayun ke arah dada Ki Surajati yang tidak sempat menghindar.

"Buuuukkkkk.....!!!" telapak kaki Rakean Wastu menghajar dengan telak dada Ki Surajati.

"Arrgggghhhh......!" terdengar pekikan pendek Ki Surajati yang terlempar ke bawah panggung sambil memuntahkan darah.

Anak buah Ki Surajati yang berada di kerumunan penonton lekas memburunya dan membawanya menyingkir dari alun-alun Karangkamulyan.

"Ah...sombong dan kejam sekali...tidak seharusnya dia memukulnya sehebat itu..." rutuk Dewi Sekarasih geram.

"Tikus kecil...lebih baik kita segera pergi mencari makanan...aku lapar sekali..." ajak Yuchi Saksena yang merasa jemu dengan pasanggiri tersebut.

"Sebentar Kakang...aku mau lihat apakah ada yang bisa mengalahkan laki-laki pongah itu...atau kalau perlu aku yang memberinya pelajaran.... Kalau Kakang lapar di sana banyak makanan" Dewi Sekarasih masih geregetan melihat kelakuan Rakean Wastu yang dianggapnya sombong sambil menunjuk meja-meja di sekitar panggung tempat makanan disajikan.

"Aahh...tidak perlu lah kita mencari perkara...." sungut Yuchi Saksena sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar panggung mencari makanan yang disuguhkan ole pihak karaton.

Tiba-tiba dari tempat duduk para tamu kehormatan melompat sebuah bayangan ke atas panggung dan berdiri berhadapan dengan Rakean Wastu.

"Ampun Gusti Rakean...hamba banyak mendengar bahwa di Kabuyutan Denuh banyak pandita berkepandaian tinggi...kalau boleh tahu...apakah diantaranya ada yang bernama Ki Bedegul dan Ki Bolenang?" tanya laki-laki tersebut yang tak lain adalah Ki Sukanta, ketua paguron Garuda Wesi. (mengenai Ki Bedegul dan Ki Bolenang baca : Rahiang Sanjaya #15)

Mendengar pertanyaan Ki Sukanta, Rakean Wastu mendengus sambil memandang dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Hmmm...siapa kau berani bertanya tentang Kabuyutan Denuh?" tanyanya dengan pandangan merendahkan.

Walaupun ucapan dan pandangan Rakean Wastu sangat merendahkan namun Ki Sukanta tetap tenang bahkan tersenyum.

"Ampun Gusti Rakean...hamba hanya ingin memastikan saja tentang keberadaan mereka...karena hamba masih ada sedikit urusan dengan mereka berdua" jawabnya tenang.

"Aku tidak mau tahu dengan urusan kalian...saat ini apa tujuanmu naik ke atas panggung? Apakah orang tua sepertimu masih menginginkan menjadi seorang senapati?" Rakean Wastu dengan pongah seolah tidak memandang sebelah mata.

Para penonton dan tamu undangan tidak berkedip memandang ke atas panggung sambil mengurut dada. Walaupun mereka tahu bahwa Rakean Wastu berasal dari kalangan bangsawan karaton namun sikapnya kepada Ki Sukanta yang berusia jauh lebih tua membuat sebagian yang hadir merasa muak. Termasuk Dewi Sekarasih yang sudah gatal ingin memberi pelajaran kepada Rakean Wastu.

"Ah...tidaklah begitu, hamba yang tua ini mana mungkin masih menginginkan posisi senapati...biarlah itu menjadi bagian orang-orang muda" jawab Ki Sukanta tetap tenang.

"Hanya saja...hamba sedikit mengenal jurus-jurus yang Gusti Rakean mainkan..." sambungnya sambil tersenyum.

"Apa maksudmu orang tua?" Rakean Wastu tidak senang.

"Orang tua ini mempunyai nama Ki Sukanta...harap Gusti Rakean berkenan memanggil hamba dengan nama itu. Kalau hamba tidak salah lihat...jurus yang Gusti Rakean mainkan adalah jurus yang berasal dari paguron kami yang kitabnya dibawa kabur oleh Ki Bedegul dan Ki Bolenang " ujarnya tenang walaupun tingkah Rakean Wastu semakin sengak dan tidak hormat.

"Jadi maksudmu...ilmu silatku adalah ilmu curian? Mulutmu itu perlu diberi pelajaran....!!!" maki Rakean Wastu dengan muka merah.

Semua yang mendengar ucapan Ki Sukanta melengak tidak percaya bawa jurus-jurus yang dimainkan oleh Rakean Wastu adalah jurus curian dari paguron Garuda Wesi.

"Ah...kalau Gusti Rakean berkenan...mohon berilah petunjuk kepada orang tua yang bodoh ini.." ujar Ki Sukanta sambil memasang kuda-kuda.

"Baiklah orang tua...jangan salahkan kalau aku bertindak keras...!!!" sergah Rakean Wastu sambil menerjang dengan golok panjangnya.

"Ah...jurus Garuda Nyawang...sayang masih mentah..." ujar Ki Sukanta tenang sambil menggeser tubuhnya dan menghunus golok dari pinggangnya.

Gerakan silat yang digunakan oleh Rakean Wastu sangat cepat dan bertenaga seperti hendak mencincang tubuh Ki Sukanta. Dalam sekejap goloknya berubah menjadi gulungan hitam yang mengurung tubuh Ki Sukanta.

Namun pertarungan itu menjadi aneh dan lucu karena seperti bukan sedang bertempur tetapi seperti sedang berlatih. Gerakan keduanya sama, akan tetapi jelas terlihat bahwa gerakan Ki Sukanta lebih cepat. Berkali-kali terdengar suara denting golok yang bertemu.

"Gusti Rakean...kau harus lebih sering berlatih...he...he..." Ki Sukanta terkekeh sambil menangkis golok yang menyasar lehernya.

"Keparat....tutup mulutmu...." bentak Rakean Wastu muntab karena merasa dipermalukan oleh Ki Sukanta. Apalagi saat dirinya dilawan menggunakan jurus yang sama dan semakin menguatkan pendapat orang bahwa jurus yang dimainkannya adalah benar jurus curian.

Rakean Wastu dengan cepat merubah gerakannya dengan jurus yang lebih cepat dan dahsyat. Dengan tenang kembali Ki Sukanta menyambut serangan tersebut dengan jurus yang sama. Golok-golok mereka kembali berdesing dengan cepat saling menyerang lawan dengan jurus-jurus yang sama persis. Namun serangan Rakean Wastu benar-benar berniat untuk menjatuhkan lawan sedangkan Ki Sukanta terlihat hanya mengimbangi saja tanpa bermaksud mencelakai lawan.

"Benar-benar menjemukan...." rutuk Dewi Sekarasih melihat pertarungan tersebut.

"Sudah jelas dia memainkan jurus-jurus yang sama dengan laki-laki tua itu...mana mungkin bisa mengalahkannya....benar-benar pemuda tidak tahu diri" bibir Dewi Sekarasih monyong saking kesalnya.

"Sudahlah tikus kecil...lebih baik kita segera pergi...bukankah kau hendak menemui uwa mu?" ajak Yuchi Saksena sambil memasukkan sisa potongan makanan ke mulutnya.

"Sebentar kakang...aku benar-benar tidak suka kepada pemuda itu...sudah tahu jurusnya adalah curian masih saja jumawa...biar ku beri pelajaran!!!" maki Dewi Sekarasih sambil melepaskan caping bambunya dan berkelebat ke atas panggung.

"Eh...eh...tikus kecil...tunggu....aduh...kau selalu saja mencari masalah" keluh Yuchi Saksena sambil mengawasi kekasih pujaan hatinya tersebut dengan was-was.

"Hentikan pertarungan.....!!!" bentak Dewi Sekarasih dengan suara yang menggelegar membuat semua yang hadir terhenyak.

Rakean Wastu dan Ki Sukanta melompat mundur sambil memandang ke arah suara yang telah menggetarkan hati tersebut. Keduanya termasuk Senapati Anggadirja, Rakean Sukma yang sudah siuman dan semua penonton melotot tidak percaya melihat sosok yang berdiri gagah di atas panggung.

Dia adalah seorang gadis muda yang cantik jelita, usianya pasti tidak akan lebih dari delapanbelas tahun. Sepasang matanya tajam dan bening dengan bulu mata yang lentik. Hidungnya yang kecil mancung sangat serasi dengan bibirnya yang tipis dan memerah indah. Rambutnya yang hitam panjang dan lebat di gelung ke atas menyerupai bunga teratai dan ujungnya dibiarkan terurai di belakang punggungnya. 

Pakaiannya yang berwarna hijau berpotongan sangat sederhana terbuat dari bahan yang tidak mahal dan jahitannya pun kasar akan tetapi terlihat serasi ditubuhnya. Hal ini dikarenakan bentuk tubuhnya yang nyaris sempurna, padat dengan lekuk lengkung sempurna. Sebatang pedang tergantung di punggungnya menambah kegagahan tanpa mengurangi kejelitaannya.

Senapati Anggadirja mengerutkan dahinya mencoba menebak-nebak siapa gadis jelita yang berdiri gagah di atas panggung itu. Sementara Rakean Wastu seolah terpana kajamparing rasa melihat kecantikan Dewi Sekarasih.

"Kalian ini bertempur sangat menjemukan...kalau mau berlatih silat lebih baik kalian mencari tempat sendiri..." sembur Dewi Sekarasih kesal.

"Aiihh...siapa kiranya yang sedang hamba hadapi ini?" tanya Ki Sukanta sambil menjura. Sebagai jawara yang sangat berpengalaman dirinya bisa menebak bahwa gadis ini bukanlah orang sembarangan. Rakean Wastu hanya melongo sambil mengerjap-ngerjapkan matanya seperti orang tolol. Sepanjang hidupnya baru pertama kali melihat perempuan secantik ini. Walaupun di Kabuyutan Denuh banyak gadis yang cantik dan manis namun tidak ada yang bisa menandingi kecantikan dan kegagahan perempuan ini.

"Ki Sukanta...aku sudah mendengar ucapanmu tentang jurus silatmu yang dicuri...dan melihat jurus yang kalian mainkan, jelas bahwa jurus kalian sama. Oleh karena itu pertarungan kalian jadi sangat menjemukan...aku tidak suka!" ujar Dewi Sekarasih sambil menunjuk ke arah Rakean Wastu.

"Ah...Nona cantik...terima kasih sudah bersedia menyebut namaku yang buruk ini...semoga Nona juga bersedia memberitahu nama kepada ku..." ujar Ki Sukanta bertambah segan mendengar bahwa gadis cantik itu meyebut namanya tidak seperti Rakean Wastu yang sombong dan selalu menyebutnya dengan sebutan "orang tua".

Rakean Wastu yang pada dasarnya adalah seorang pemuda yang tinggi hati, jelas merasa terganggu saat mukanya ditunjuk oleh Dewi Sekarasih. Setelah rasa kagumnya berhasil disembunyikan, dirinya melangkah mendekati.

"Nona...ku harap kau jangan mengganggu urusan kami. Kalau berniat mengikuti pasanggiri harap menunggu setelah pertarungan kami selesai" ujarnya kepada Dewi Sekarasih dengan mata jelalatan. Walaupun ucapan dan kata-katanya tertata rapi tapi pandangan matanya seolah ingin melahap Dewi Sekarasih.

Dipandangi seperti itu, Dewi Sekarasih mangkel bukan main.

"Rakean...aku tidak berminat ikut pasanggiri, hanya saja aku tidak senang melihat orang berkelahi menggunakan jurus-jurus hasil mencuri" ujarnya dengan nada yang jengkel.

"Heh...apa maksudmu? Aku tidak mengenal orang tua ini, bagaimana mungkin aku mencuri jurus silatnya?" Rakean Wastu mulai naik darah wajahnya memerah.

Dewi Sekarasih hanya mendengus lalu memalingkan wajahnya kepada Ki Sukanta.

"Ki Sukanta...sepertinya dia tidak bersalah, yang mencuri kitab silat milik paguronmu tentulah gurunya. Jadi lebih baik kau ampuni dia dan mencari perhitungan dengan gurunya saja. Lihat sekelilingmu...." lirih Dewi Sekarasih. Dirinya merasa kasihan karena kalaupun Ki Sukanta bisa mengalahkan Rakean Wastu tetapi tentu pihak karaton akan menuntut balas dan tidak akan membiarkannya lolos.

"Ah...benar sekali yang diucapkan oleh Nona cantik ini...biarlah hamba mencari perhitungan dengan Ki Bedegul dan Ki Bolenang saja" ujar Ki Sukanta setelah menyadari bahwa di sekitar alun-alun ratusan prajurit karaton terlihat berjaga. Ki Sukanta lalu melirik ke arah Rakean Wastu.

"Gusti Rakean...hamba mohon diri..." ujarnya lalu berkelebat turun dari panggung dan bergegas meninggalkan alun-alun diikuti oleh para muridnya.

"Heh...mana bisa begitu? Kau sudah menuduhku mencuri ilmu silat...kita harus selesaikan urusan ini!" bentak Rakean Wastu berniat mengejar Ki Sukanta namun dihalangi oleh Dewi Sekarasih.

"Sebentar bocah sombong....kau jangan memaksakan diri...!!!" sergah Dewi Sekarasih sambil tersenyum sinis.

Disebut bocah sombong oleh perempuan yang usianya jauh dibawahnya jelas membuat Rakean Wastu muntab.

"Heh...perempuan tidak tahu adat...jaga mulutmu!!!" bentak Rakean Wastu geram. Hilang sudah rasa kagumnya kepada perempuan jelita di hadapannya ini berganti dengan rasa marah.

Sementara itu para penonton mulai kembali bersorak sorai dan sebagian bersuit-suit melihat kehadiran perempuan jelita di atas panggung. Senapati Anggadirja terlihat berbisik-bisik dengan putranya, Rakean Sukma.

"Apakah ayahanda mengenal perempuan gagah itu?" bisik Rakean Sukma sambil matanya tidak lepas dari sosok jelita di atas panggung tersebut.

"Hmmm...entahlah...yang pasti gadis muda itu pasti bukan orang sembarangan..." sahut Senapati Anggadirja.

Sementara itu Dewi Sekarasih menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap Rakean Wastu dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Kelakuan sombongmu ini yang akan membuatmu celaka...seharusnya kau berterima kasih kepadaku..." ujar Dewi Sekarasih.

"Berterima kasih?...untuk apa? Lebih baik kau minggat dari atas panggung ini sebelum aku kelepasan tangan!!!" bentak Rakean Wastu sambil menyarungkan kembali golok hitamnya.

"Ah...dasar bocah sombong dan tidak tahu malu!!...tidak tahu tingginya gunung dan dalamnya lautan. Pertama, Ki Sukanta memainkan jurus yang sama denganmu...berarti benar bahwa kau atau mungkin gurumu sudah mencuri jurus-jurus silat miliknya. Yang kedua, kalau saja Ki Sukanta berniat jahat...kau sudah mampus di ujung goloknya!!!" maki Dewi Sekarasih seolah sengaja menelanjangi Rakean Wastu.

"Keparat...jaga ucapanmu!!! Aku tidak pernah mencuri jurus silat dari siapapun...aku berlatih dari jawara-jawara kahot di Kabuyutann Denuh. Kalau kau menyebut jurus silat sebagai hasil curian berarti kau menuduh Kabuyutan Denuh sebagai pencuri!" geram Rakean Wastu sambil sengaja menyebut Kabuyutan Denuh untuk menakuti Dewi Sekarasih.

"Hi...hi...siapa yang tahu kalau Kabuyutan Denuh banyak pencuri. Sudahlah...aku tidak ada waktu...!!!" ujar Dewi Sekarasih.

Mendengar ucapan Dewi Sekarasih, tidak hanya Rakean Wastu yang terhenyak tapi juga Adipati Anggadirja yang sangat menghormati Kabuyutan Denuh sebagai tempat para pemuka agama dan para jawara kahot.

"Ah...anak perempuan itu terlalu lancang...." gumam Adipati Anggadirja.

"Ayahanda..yang diucapkan perempuan itu ada benarnya....jurus-jurus yang dimainkan oleh Rakean Wastu persis sama dengan jurus Ki Sukanta...." bisik Rakean Sukma membela Dewi Sekarasih.

"Ayahanda setuju dengan itu tapi menyebut banyak pencuri di Kabuyutan Denuh...jelas itu lancang dan tidak tahu tata krama" balas Senapati Anggadirja geram.

"Keterlaluan...kau sudah merendahkan Kabuyutan Denuh...jangan salahkan aku kalau menurunkan tangan keras untuk menghukummu!!" bentak Rakean Wastu sambil melayangan tangannya berniat menampar wajah Dewi Sekarasih.

Sambil tersenyum, Dewi Sekarasih tidak menghindar malah mengangkat tangan kirinya menangkis.

"Dessss....!!!" kedua tangan tersebut beradu.

Rakean Wastu menarik tangannya yang terasa panas dan kesemutan, jelas bahwa tenaga dalam perempuan ini tidak berada di bawahnya.

Baca juga : Rahiang Sanjaya #45