Palabuhan Pamalang tumbuh menjadi sebuah kota yang sangat strategis dalam bidang perdagangan dan perekonomian di Karatuan Kalingga. Wilayah daratnya yang berbatasan langsung dengan Karatuan Galuh dan juga hubungan perdagangan laut dengan Karatuan Sunda dan berbagai macam palabuhan dari berbagai wilayah lain. Sehingga di Palabuhan Pamalang banyak dikunjungi pendatang yang merupakan saudagar dari berbagai macam wilayah bahkan dari Cina dan Gujarat. Hal inilah yang membuat Ratu Shima, sebagai penguasa Karatuan Kalingga sangat berhati-hati dalam membuat kebijakan politik yang berkaitan dengan Karatuan Galuh dan Karatuan Sunda.

Kejadian dilengserkannya Prabu Bratasennawa, cucu menantu Ratu Shima, tidak serta merta membuat Karatuan Kalingga meradang. Malahan dengan sangat bijak Ratu Shima menawarkan agar cucunya Ratu Sannaha dan suaminya, Prabu Bratasennawa untuk pindah ke Kalingga dan memerintah di sana. Namun Prabu Bratasennawa memutuskan untuk lebih mendalami agama dan meminta agar istrinya, Ratu Sannaha yang mewarisi kekuasaan Karatuan Kalingga dari Ratu Shima.

Hal ini tentu bertujuan untuk meredam kecurigaan pihak Karatuan Galuh atas posisi politik Karatuan Kalingga. Ratu Shima adalah seorang ratu yang sangat bijaksana dan sangat memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Ratu Shima berfikir jika berkonfrontasi dengan Karatun Galuh hanya akan membawa kesulitan dan kesengsaraan untuk rakyat Kalingga. Selain itu, Prabu Bratasennawa pun secara khusus meminta kepada nenek mertuanya, yaitu Ratu Shima untuk tidak melibatkan diri dalam konflik di Karatuan Galuh.

Oleh sebab itulah Karatuan Galuh tidak bisa melakukan apapun kepada Karatuan Kalingga walaupun akhirnya Ratu Sannaha, istri Prabu Bratasennawa yang notabene adalah bekas Ratu Galuh, menjadi penguasa di Kalingga. Kedua Karatuan ini hidup berdampingan dan berdaulat walaupun sebenarnya saling mengawasi dan saling mencurigai.

Pertumbuhan ekonomi yang sedemikian pesat di Palabuhan Pamalang melahirkan banyak saudagar-saudagar lokal kaya yang hidup bak raja kecil di sana. Salah satunya adalah Juragan Arya Jumadi, seorang saudagar yang sangat licik dan jahat. Juragan Arya Jumadi mempunyai hubungan yang sangat baik dengan pihak Karatuan Kalingga karena tidak segan-segan untuk memberikan pajak ataupun upeti yang sangat besar baik secara resmi maupun tidak resmi kepada pejabat-pejabat yang korup. Namun kepada petani ataupun pedagang kecil, Juragan Arya Jumadi sangat licik dan jahat, dia menentukan harga hasil tani atau apapun sesuka hatinya. Jika ada yang menolak dia tidak segan-segan memerintahkan anak buahnya untuk bertindak kasar dan keras.

Untuk menjaga semua aset dan usahanya, Juragan Arya Jumadi selain memilik empat orang anak buah utamanya yaitu Wiji, Kusno, Jarot dan Barna, juga banyak memanfaatkan paguron-paguron silat yang berada di wilayah Karatuan Kalingga. Maka semakin lengkaplah kekuasaan Juragan Arya Jumadi di wilayah Palabuhan Pamalang. Hampir setiap tahun Juragan Arya Jumadi mengadakan pasanggiri silat untuk mencari jawara-jawara pilih tanding untuk menjadi pengawalnya.

Berita kemunculan Yuchi Saksena yang bermaksud membalaskan dendam kematian Jaka Saksena kepada Juraga Arya Jumadi, sebelumnya ditanggapi dingin bak angin lalu. Tetapi sejak kematian Barna dan juga Kusno (kematian Wiji dan Jarot belum diketahuinya) membuat Juragan Arya Jumadi sedikit was-was. Oleh sebab itu dia mengerahkan antek-anteknya untuk mencari dan membunuh Yuchi Saksena. Dan untuk lebih menenangan hatinya, Juragan Arya Jumadi mengundang beberapa ketua paguron silat dan jawara-jawara untuk datang ke rumahnya.

Rumah besar yang dikelilingi benteng tinggi dan selalu di jaga oleh puluhan pengawal itu terletak sedikit di luar kota Palabuhan Pamalang. Pada hari itu rumah tersebut terlihat lebih ramai, pintu gerbangnya terbuka lebar. Tamu hilir mudik keluar masuk rumah membuat jalan di depan rumah menjadi ramai. Orang-orangyang berkeliaran banyak yang mempunyai rupa dan perilaku yang aneh. Hal ini membuat sebagian besar penduduk Palabuhan Pamalang yang kebetulan melintas memilih untuk segera menyingkir.

Sejak pagi hari, banyak pendatang yang masuk ke kota Palabuhan Pamalang. Ada yang datang sendiri atau berdua bahkan ada yang datang berombongan. Hal ini karena memang Juragan Arya Jumadi terkenal sebagai saudagar yang royal memberikan uang untuk para jawara peliharaannya. Penduduk kota yang sudah terbiasa melihat hal tersebut hanya bisa mengusap dada, membayangkan bahwa hidupnya akan lebih sulit karena penindasan anak buah Juragan Arya Jumadi.

Sementara itu di halaman rumah sudah berdiri panggung yang cukup besar, terlihat ada sebuah kursi besar terbuat dari kayu pilihan dan hiasan gading gajah,  dibelakangnya terlihat berjejer sepuluh kursi yang juga sangat mewah terbuat dari kayu pilihan. Kursi pertama yang paling depan adalah tempat duduk Juragan Arya Jumadi dan dibelakangnya untuk pengawal utama dan beberapa ketua paguron silat yang menjadi sekutunya. Sedangkan di depan panggung tersebut terdapat sebuah lapangan yang luas sebagai arena para jawara mengadu ilmu silat. Tak jarang dalam pasanggiri tersebut jatuh korban mati sia-sia. Hal ini dikarenakan biasanya para peserta pasanggiri berasal dari tokoh-tokoh jahat ataupun paguron silat yang hanya mencari uang semata. Maka tidak heran jika mereka kadang berbuat keji dan kejam.

Sore itu Juragan Arya Jumadi duduk di atas kursi paling depan, di belakangnya duduk berjejer delapan ketua paguron silat sedangkan dua kursi terlihat masih kosong. Sejatinya kedua kursi tersebut diperuntukkan untuk Wiji dan Jarot. Di kiri dan kanan panggung terdapat beberapa meja besar berisi makanan dan minuman yang disediakan khusus untuk para tamu. Meja-meja tersebut sudah dikerubuti oleh para anak buah ketua paguron maupun oleh jawara-jawara yang datang secara sendiri-sendiri. Ada sekitar limapuluh orang yang berada di bawah panggung. Beberapa pelayan cantik berpakaian sedikit terbuka hilir mudik melayani para tamu, terkadang terdengar jeritan-jeritan manja dari para pelayan yang diusili oleh tamu.

Janardana adalah seorang laki-laki berusia hampir empat puluh lima tahun,bertubuh tegap dan mempunyai tingkat ilmu silat yang cukup tinggi. Dirinya adalah bekas perwira Karatuan Kalingga dan bersahabat dekat sekali dengan Juragan Arya Jumadi. Oleh karena itu setelah memutuskan mengundurkan diri dari angkatan perang, dirinya dipercaya untuk mengurusi usaha-usaha Juragan Arya Jumadi. Dirinya merupakan asisten kepercayaan dalam mengurusi usaha-usaha Juragan Arya Jumadi, berbeda tugasnya dengan empat pengawal utama. Janardana naik ke atas panggung dan menghampiri majikannya itu.

"Juragan...semua tamu undangan sudah hadir...lebih baik kita mulai acaranya" bisik Janardana.

Juragan Arya Jumadi meanggut-manggut sambil matanya liar mengawasi para tamu yang hadir di kiri dan kanan panggung.

"Bagaimana Wiji dan Jarot sudah datang?" tanyanya kepada Janardana.

"Belum Juragan...mungkin beberapa saat lagi akan datang...." jawab Janardana.

"Hmm...apakah kau melihat ada tamu yang mencurigakan?" Juragan Arya Jumadi kembali bertanya.

"Di sebelah kanan panggung ada laki-laki berpakaian warna kuning...sepertinya kita harus waspada.." ujar Janardana menjelaskan sambil melirik ke bagian kanan panggung.

"Tolong kau awasi dia...jangan sampai membuat kekacauan..." ujar Juragan Arya Jumadi pelan.

Juragan Arya Jumadi bangkit dari duduknya lalu berjalan ke bagian depan panggung. Puluhan tamu yang sebelumnya berada di samping kanan dan kiri, berpindah menyemut di depan panggung.

"Sampurasun...terima kasih atas kehadiran para ketua paguron dan juga jawara-jawara pilih tanding di tempatku" ujarnya sambil tersenyum. Kata-katanya tegas dan lugas bahkan terdengar sangat sombong.

"Tentu saja...kehadiran kalian akan sangat aku hargai. Setiap ketua paguron akan mendapat hadiah duapuluh lima keping emas dan para jawara akan mendapat lima keping emas" sambungnya sambil tersenyum jumawa.

Para ketua pagron tersenyum lebar mendengar bahwa mereka akan mendapatkan duapuluh lima keping emas. Sedangkan para tamu yang berada di depan panggung bersorak sorai sambil mengelu-elukan nama Juragan Arya Jumadi.

"Satu hal lagi...dalam pasanggiri ini akan dipilih dua orang jawara pilih tanding yang akan menjadi pengawal utamaku. Yang terpilih akan mendapat hadiah limapuluh keping emas dan gaji sepuluh keping emas setiap satu purnama" ujar Juragan Arya Jumadi meneruskan ucapannya.

Sorak sorai para tamu semakin riuh. Juragan Arya Jumadi menyeringai lalu kembali duduk di kursinya. Janardana maju ke bagian depan panggung menggantikan majikannya.

"Sekarang silakan mengisi tempat di samping kiri dan kanan panggung, di depan panggung akan dijadikan arena pasanggiri" ujar Janandara lalu berbalik dan duduk di belakang Juragan Arya Jumadi.

Seorang pemuda bertubuh tinggi besar bertelanjang dada maju ke depan panggung lalu menjura dalam-dalam kepada Juragan Arya Jumadi dan semua para ketua. Tubuhnya yang berotot terlihat berkilat oleh keringat.

"Sampurasun...nama hamba Kripala, mewakili paguron silat Julang Ngapak...mohon ijin untuk memulai" ujarnya.

Paguron "Julang Ngapak" adalah salah satu paguron yang menjadi kepercayaan Juragan Arya Jumadi. Paguron ini dulu menjadi tempat Barna dan Kusno belajar silat saat mereka masih kecil. Oleh karena itu paguron ini selalu mendapat perlakuan istimewa. Ketuanya merupakan seorang yang cukup sepuh berusia lebih dari tujuhpuluh tahun tetapi masih tangkas dan beringas yang bernama Ki Seda dan sekarang sedang duduk di belakang Juragan Arya Jumadi.

Tiba-tiba terdengar suara tawa yang sangat keras diikuti oleh melompatnya seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun berpakaian bagus berwarna kuning emas. Tubuhnya tegap dan juga tinggi besar, tidak kalah dengan tubuh Kripala. Laki-laki itu menjura ke arah panggung lalu menghadap kepada Kripala sambil bertolak pinggang. Dia adalah laki-laki yang dicurigai oleh Janardana.

"Hua..ha..ha..bocah ingusan, aku dengar paguron silat Julang Ngepek selama bertahun-tahun menjadi pemenang pasanggiri di tempat ini...aku jadi penasaran setinggi apa kemampuan silat kalian!" ujarnya sambil memandang rendah ke arah Kripala.

"Kisanak...harap menunjukkan sopan santun walaupun kita akan bertarung...menghina nama paguron orang lain bukanlah sikap ksatria. Silakan perkenalkan nama dan asal paguron kisanak..." Kripala terpancing emosinya saat laki-laki tersebut dengan sengaja memplesetkan nama paguronnya.

"Hua...ha...ha...bocah ingusan, aku tidak perlu segala peradatan...lebih baik gurumu saja yang menghadapiku...." laki-laki tersebut kembali tergelak sambil menunjuk ke arah Ki Seda yang sedang duduk di atas panggung.

Ki Seda yang duduk di atas panggung terlihat tetap tenang dan hanya tersenyum sambil mengusap-usap janggutnya yang panjang dan sudah memutih tersebut.

"Tidak perlu guruku yang turun tangan untuk membungkam mulutmu yang lancang itu...!" bentak Kripala muntab.

Laki-laki tersebut kembali tergelak.

"Hua...ha...ha...bocah ingusan...tidak tahu tinginya gunung dalamnya lautan...jangan salahkan aku jika kau mati muda. Tapi supaya kau tidak mati penasaran, aku akan memberitahu namaku...namaku adalah Parta dari Alas Peteng" ujar laki-laki itu.

Semua yang mendengar nama Parta melengak ngeri, ketua perampok Alas Peteng di sebelah timur yang terkenal sakti dan sangat kejam kini berada di hadapan mereka. Kelompok perampok ini sangat terkenal kejam dan tiada ampun, bahkan pasukan Karatuan Kalingga pun merasa kewalahan menghadapi mereka. Juragan Arya Jumadi diam-diam merasa jeri juga, rasanya tidak mungkin jauh-jauh seorang ketua perampok datang hanya untuk memperebutkan posisi seorang pengawal dan hadiah limapuluh keping emas.

Ki Seda mengusap wajahnya, walaupun belum pernah berhadapan langsung dengan Parta namun berita tentang kesaktian dan kekejaman kelompok Parta sudah seringkali dia dengar. Sementara Kripala yang masih mentah pengalaman tidak menyadari bahaya di depan mata.

"Bagus...rupanya kau perampok biadab...aku tidak akan ragu lagi untuk menurunkan tangan keras!" bentak Krispala sambil menghunus goloknya.

Krispala menerjang dengan membabatkan goloknya ke dada Parta. Krispala adalah murid utama dari paguron Julang Ngapak dan sudah mewarisi hampir semua ilmu Ki Seda. Gerakannya sangat cepat dan bertenaga.

Parta menyeringai lalu melompat mundur sambil tangan kanannya menarik sebuah golok tipis dari pinggangnya. Krispala tidak mau melepaskannya begitu saja, goloknya berputar menyasar leher. Golok tipis milik Parta berkelebat cepat menangkis. Terdengar bunyi yang sangat keras saat kedua senjata bertemu.

"Traangggg....!!!"

Krispala terkejut bukan main saat tangannya yang memegang golok bergetar keras dan terasa sakit akibat benturan dengan golok milik Parta. Untung dirinya sudah mengerahkan hampir setengah tenaga dalamnya sehingga goloknya tidak terlepas. Sementara Parta tersenyu sinis lalu balik menerjang ke arah Krispala.

Golok tipis milik Parta mengejar lengan kanan Krispala yang memegang golok. Tentu saja jurus ini sangat membahayakan Krispala karena yang dikejar bukanlah anggota tubuh yang mematikan tetapi lengan yang memegang senjata. Hebatnya lagi jurus ini seolah berantai dan sambung menyambung menyasar ke bagian tubuh yang lain. Satu serangan berhasil dihindari disambung oleh serangan berikutnya.

Krispala sangat kerepotan karena pergerakan golok tipis milik Parta sangat cepat. Melihat datangnya golok menyasar lengan kanannya, Krispala menarik lengannya dan memutar goloknya siap untu berbalik menyerang. Namun Krispala terkesiap, saat golok tipis itu lewat di sebelah kirinya tiba-tiba membalik dengan kecepatan yang luar biasa membabat ke arah pinggangnya. Mau tidak mau Krispala menangkis datangnya golok.

"Traaangggg....!!!"

Kembali terdengar suara benturan yang sangat keras. Krispala terjajar ke belakang menahan sakit di lengannya.

Semua yang duduk di atas panggung menahan nafas melihat murid utama paguron Julang Ngapak dibuat pontang-panting oleh Parta.

"Ki Seda...apakah menurutmu dia bisa bertahan?" bisik Kebo Muntilan, ketua paguron silat "Gajah M├ęta" yang duduk disamping Ki Seda.

"Hmmm....." Ki Seda bergumam tidak jelas.

Kebo Muntilan mengangkat bahunya sambil kembali memperhatikan pertarungan.

Pertarungan antara Krispala melawan Parta mulai berjalan tidak seimbang. Krispala dipaksa untuk terus bertahan dengan menghindar atau menangkis datangnya golok tipis milik Parta. Lama-lama tenaga Krispala mulai terkuras.

Parta dengan ganas kembali menerjang Krispala. Tiga serangan yang datang bergelombang berhasil di hindari dengan susah payah oleh Krispala sampai di serangan ke empat, ujung golok Parta menyasar ke arah dada dan Krispala mencoba menghadangnya dengan membabatkan goloknya sambil tangan kirinya bergerak cepat memukul dada Parta.

Namun Krispala kecele, saat golok tipis Parta tiba-tiba memutar arah ke kanan dan....

"Craakk!" lengan kiri Krispala dibabat putus sebatas siku.

"Arghhh.....!!!" Krispala menjerit setinggi langit sambil melompat mundur.

Parta rupanya tidak mau memberi ampun, kembali menerjang dengan membabatkan golok tipisnya ke arah leher Krispala. Sebagian penonton termasuk Juragan Arya Jumadi memejamkan mata ngeri membayangkan apa yang akan terjadi kepada Krispala.

Disaat yang sangat kritis tersebut, tiba-tiba sebuah cahaya hitam menghantam golok tipis milik Parta.

"Traaaang....!!!"

Parta tertahan sambil menarik goloknya yang baru saja kena hantam sebuah batu kecil yang dilemparkan oleh seorang yang memiliki ilmu kesaktian yang cukup tinggi. Diedarkannya pandangan ke arah panggung sambil tersenyum dingin.

"Rupanya ada seorang pengecut rendah yang mencoba melindungi bocah ingusan tidak tahu diri ini...!" bentak Parta sambil tangan kirinya bergerak cepat memukul ke arah Krispala yang terhuyung-huyung memegangi lengan kirinya yang buntung.

"Hiiiiyyyaaaa.....!"

Selarik cahaya hitam bergulung melesat dari tangan kiri Parta mengarah kepada Krispala.

"Argh.....!!!" Krispala terpental dengan tubuh nyaris hangus.

"Bajingan....keparat...kau harus membayar dengan nyawamu...!!!" Ki Seda meradang lalu melompat turun dari atas panggung.

Parta tersenyum sinis sambil melingkarkan kembali golok tipisnya di pinggang.

"Hmmm...kenapa kau tidak turun tangan dari tadi orang tua?...darah muridmu hanya mengotori tanganku saja" ujar Parta ambil mengusap-usapkan tangan ke bajunya seperti sedang membersihkan sesuatu.

Ki Seda merangkapkan kedua tangannya seperti memberi hormat kepada Parta.

"Ternyata nama ketua perampok Alas Peteng bukanlah nama kosong, ijinkan aku yang tua ini memberikan penghormatan" ujar Ki Seda.

Sekilas kedua tangan Ki Seda seperti memberi hormat dan menjura ke arah Parta namun saat kedua tangan itu mendorong ke depan, menyambarlah angin pukulan yang dahsyat ke arah dada Parta. 

Parta tersenyum tipis lalu balas menjura ke arah Ki Seda, sepertinya dia tidak sadar akan datangnya angin pukulan. Namun ketua paguron "Julang Ngapak" itu terkejut bukan main saat tenaga pukulannya seperti membentur tembok dan berbalik menyebabkan dadanya terasa panas terbakar. Ki Seda mencoba menguasai dirinya lalu tertawa dan berkata,

"Heu...heu...benar dugaanku, ilmu kesaktianmu boleh juga, sayang kau harus membayar kecerobohanmu membunuh anak muridku dengan nyawamu sendiri!"

Kesepuluh jari tangan Ki Seda terbuka seperti hendak mencengkram dan bergerak ke arah Parta. Lima jari tangan kiri bergerak hendak mencengkram bahu sedangkan lima jari tangan kanan bergerak hendak mencengkram lengan kiri Parta. Gerakannya sepertinya lambat dan hanya seperti gurauan saja namun jika saja serangan itu berhasil maka tubuh Parta bisa lumpuh karena tulang dan urat syarafnya hancur.

"Kau jangan terlalu sungkan orang tua..." ujar Parta sambil kedua tanganya menyambut datangnya tangan Ki Seda.

Sepertinya gerakan Parta seperti yang menyambut namun sebenarnya bergerak sangat cepat dan bertenaga bersiap memukul balik serangan Ki Seda. 

"Ahhh....!" Ki Seda menarik kembali kedua tangannya. Dirinya sadar jika meneruskan serangannya maka akibatnya akan fatal karena seluruh tenaga dalamnya akan berbalik. Parta mendengus lalu berkata,

"Orang tua sudah cukup bermain-main...bersiaplah menghadap kematian!"

Parta mengeluarkan suara melengking seperti srigala lapar, dia menerjang maju dengan kedua tangan memukul secara berbarengan. Ini adalah jurus pukulan "Ajag Mateni" yang merupakan ilmu ciptaannya sendiri setelah hampir sepuluh tahun bersemedi dan berlatih di Alas Peteng. Sebuah jurus yang sangat sulit dihadapi karena selain mengeluarkan hawa beracun juga mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.

Setiap lawan akan kesulitan untuk menentukan apakah akan menangkisnya atau menghindarinya. Jika memapaki serangan tersebut maka resikonya adalah dada jebol kena hantam tenaga dalam atau menghindarinya dengan resiko tetap terkena hawa beracun yang dikeluarkan.

Namun Ki Seda adalah jawara yang sudah banyak makan asam garam dunia persilatan, sudah beratus jawara berhasil dipecundanginya. Kedua kakinya dibuka selebar bahu lalu kedua tangannya mendorong mengerahkan tiga perempat tenaga dalamnya. Selarik sinar berwarna biru keluar dari kedua tangannya memapaki datangnya pukulan tangan Parta.

Parta tidak menghentikan serangannya malah menambahnya dengan melakukan gerakan menendang. Kaget bukan main hati Ki Seda, tujuannya adalah melancarkan serangan jarak jauh agar Parta tidak bisa menyebarkan hawa beracunnya namun serangannya kembali seolah membentur tembok tebal. Dadanya terasa panas dan sesak, dikerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk mendorong serangan Parta.

"Arghhh....." tubuh Ki Seda terlempar beberapa deupa sampai bergulingan sementara Parta tersenyum sinis.

Baca juga : Rahiang Sanjaya #10

"Orang tua...aku memberi kesempatan untukmu hidup...enyahlah sebelum aku berubah pikiran" seru Parta.

Ki Seda lekas bangkit dan bersila untuk mengatur jalan darahnya, sementara dari ujung bibirnya merembes darah segar tanda dirinya terluka dalam cukup parah.

Semua meleletkan lidah melihat kehebatan ilmu yang dipamerkan oleh Parta, bagaimana tidak...seorang Ki Seda yang selama bertahun-tahun menjadi kepercayaan Juragan Arya Jumadi bisa dipecundangi hanya dalam waktu singkat.

"Ayo...siapa lagi yang mau melawanku?...aku tidak banyak waktu...!!!" sesumbar Parta sambil bertolak pinggang ngalejeg di pakalangan.

Tujuh orang ketua paguron yang masih ada di atas panggung saling pandang seolah saling mengandalkan untuk melawan Parta. Sebenarnya Ki Seda adalah yang memiliki kesaktian dan ilmu silat yang paling tinggi diantara mereka, jadi tidak heran jika mereka merasa jerih setelah melihatnya dikalahkan dengan mudah.

Sementara jawara-jawara lain yang berada di samping kiri dan kanan panggung, mengurungkan niatnya untuk ikut pasanggiri ini. Mereka tidak menyangka kalau akan hadir dedengkot rampok yang sangat ditakuti di wilayah Karatuan Kalingga. Apalagi setelah melihat Ki Seda dipecundangi dengan sedemikian mudah, mereka memilih menyelamatkan diri dan satu persatu meninggalkan tempat kediaman Juragan Arya Jumadi.

"Juragan Arya Jumadi...aku sudah berhasil mengalahkan ketua paguron kepercayaanmu dan sepertinya anjing-anjing kecil di belakangmu itu tidak mempunyai nyali untuk melawanku. Cepat serahkan seluruh uang hadiah kepadaku...seratus keping uang emas" Parta berseru kepada Juragan Arya Jumadi.

Janardana yang duduk di samping para ketua paguron terlihat sangat marah, bagaimana bisa Parta meminta semua hadiah sedangkan peraturannya masing-masing pemenang hanya akan mendapat limapuluh keping uang emas.

"Pengecut...percuma Juragan Arya Jumadi memberi makan kalian....!!!" dengusnya kepada tujuh ketua paguron yang duduk mengkerut. Janardana berdiri dan menghampiri kursi Juragan Arya Jumadi.

"Juragan...apa yang harus kita lakukan?...sepertinya tidak ada lagi yang berani melawan dia" bisiknya di telinga Juragan Arya Jumadi.

Juragan Arya Jumadi tersenyum sambil berdiri dari duduknya lalu melompat turun dari atas panggung lalu menghampiri Parta yang masih berdiri tegak.

"Ha...ha...ha...luar biasa...luar biasa...kesaktian dan ilmu silatmu memang sulit dicari tandingannya...tidak percuma namamu terkenal di seluruh bumi Kalingga..." Juragan Arya Jumadi tergelak sambil memuji-muji kemampuan Parta.

"Tentu saja aku akan memberikanmu hadiah yang sudah kujanjikan...bahkan aku akan membayarnya empat kali lipat!" sambungnya ramah.

Parta menyeringai mendengar Juragan Arya Jumadi akan memberinya hadiah empat kali lipat dari yang dimintanya, berarti sebanyak empat ratus keping uang emas. Namun dirinya bukanlah jawara yang bodoh, tentu akan ada permintaan tambahan dari Juragan Arya Jumadi kepadanya.

"Hmmm...sebenarnya aku hanya menginginkan seratus keping uang emas sesuai dengan yang sudah kau janjikan...tapi bolehlah kau sampaikan apa yang menjadi syarat untuk tiga ratus keping uang emas tambahannya" ujar Parta dengan tatapan menyelidik.

Juragan Arya Jumadi kembali tergelak mendengar jawaban Parta.

"Ha...ha...ha...kau memang cerdas dan pintar, tidak heran kelompokmu bisa menguasai Alas Peteng....aku suka..." ujarnya sambil mengacungkan jempolnya.

"Sekarang lebih baik berbincang di dalam...sambil kita makan dan minum arak..." sambungnya mengajak Parta ke dalam rumah.

Janardana bergegas menghampiri Juragan Arya Jumadi.

"Juragan bagaimana dengan para tamu...apakah langsung kita usir saja orang-orang tidak berguna itu?" tanyanya gemas.

"Biarkan saja mereka meneruskan pestanya...kita masih memerlukan tenaga mereka...jangan lupa bawa dan obati Ki Seda" perintah Juragan Arya Jumadi.

Juragan Arya Jumadi memasuki dalam rumah diikuti oleh Parta.

*****

Malam itu pesta di rumah Juragan Arya Jumadi berlanjut, makanan dan arak tidak ada hentinya dihidangkan di atas meja oleh perempuan-perempuan cantik dan genit. Obor-obor besar menyala di sekeliling rumah besar itu hingga membuat suasana menjadi terang benderang belum lagi cahaya bulan bersinar penuh dan langit yang bersih.

Sementara itu di dalam rumah, Juragan Arya Jumadi sedang duduk berhadapan dengan Parta sambil makan dan minum. Disampingnya duduk Minten yang pakaiannya sudah terbuka di sana-sini karena digerayangi oleh tangan Juragan Arya Jumadi. Sementara di samping Parta juga menempel seorang perempuan muda yang pakaiannya juga hampir lolos dari tubuhnya.

Parta beberapa kali menelan ludah melihat buah dada Minten yang montok dan tersembul keluar tidak tertutupi oleh kembennya yang melorot. Walaupun disampingnya ada seorang perempuan muda yang tidak kalah bahenol dan cantiknya. Namun pesona dan desahan Minten memang berbeda dengan perempuan lainnya. Parta terbakar nafsu dan gairahnya saat melihat Minten menggelinjang-gelinjang dalam pelukan Juragan Arya Jumadi.

"Ki Parta...bagaimana apakah kau bersedia menerima tawaranku?" tanya Juragan Arya Jumadi kepada Parta.

Sebelumnya Juragan Arya Jumadi sudah menjelaskan bahwa dia akan memberikan Parta empat ratus keping emas asal bisa membunuh anak muda bernama Yuchi Saksena. Dan hadiahnya akan ditambah seratus keping emas jika bisa menangkap hidup-hidup kekasih Yuchi Saksena yang bernama Dewi Sekarasih.

"Heuh...entahlah Juragan...aku tidak mempunyai waktu banyak...aku harus segera kembali ke Alas Peteng" jawab Parta sambil tangannya meremas-remas buah dada perempuan yang berada dalam pelukannya sementara matanya sesekali melirik ke pangkal paha Minten yang sedikit terbuka.

Juragan Arya Jumadi tersenyum licik, dia bisa melihat kalau Parta tergila-gila kepada Minten. Didekatkannya mulutnya ke telinga Minten lalu membisikkan beberapa kata. Minten mendelik seolah tidak percaya lalu melirik ke arah Parta.

"Ki Parta...jangan khawatir...aku tidak akan menyepelekan waktu dan tenagamu. Kalau kau berhasil membunuh anak muda keparat itu...selain mendapat kepingan uang emas...kau boleh menikmati istri mudaku ini selama tiga hari tiga malam. Bagaimana apakah kau bersedia?" karena pada dasarnya Juragan Arya Jumadi adalah laki-laki bermoral rendah maka dengan enteng saja menawarkan istri mudanya kepada laki-laki lain.

Mendengar ucapan Juragan Arya Jumadi, Parta terperangah tidak menyangka akan ditawari hal seperti itu. Sementara Minten yang juga memang bukan perempuan baik-baik hanya merengek manja sambil menggeser pahanya yang membulat licin hingga benar-benar menghadap ke arah Parta. Tentu saja Minten tidak keberatan karena sebelumnya sudah dibisiki akan diberi hadiah seratus keping emas jika mau melayani Parta.

Belum sempat Parta menjawab pertanyaan Juragan Arya Jumadi, tiba-tiba terdengar suara yang melengking nyaring dari arah luar rumah. Lengkingan itu selain memekakkan telinga juga membuat jantung siapa saja yang mendengarnya berdegup kencang. Minten dan perempuan yang duduk disamping Parta menutup telinganya sambil membungkukkan badannya. Jelas lengkingan itu dilakukan oleh orang yang memiliki tenaga dalam tinggi.

Juragan Arya Jumadi dan Parta bergegas berdiri dan setengah berlari ke luar rumah. Dilihatnya puluhan anak buah paguron silat dan pengawal serta para pelayan rumah bergulingan sambil menutup telinganya karena tidak tahan menahan sakit. Sementara Janardana dan ketujuh ketua paguron silat menatap tajam ke arah suhunan atap rumah. Juragan Arya Jumadi dan Parta membalikkan tubuhnya mengikuti arah pandangan mereka.

Di atas suhunan atap rumah terlihat berdiri seorang laki-laki berpakaian merah gelap dengan caping bambu menutup sebagian wajahnya. Rambutnya yang panjang meriap tertiup angin malam.

"Keparat...cari mati kau...!!!" rutuk Janardana sambil mendorongkan tangannya ke arah laki-laki di atas suhunan atap rumah. Selarik angin berhawa panas meluncur cepat. 

Laki-laki tersebut menghentikan lengkingannya lalu melenting beberapa deupa ke atas menghindari angin pukulan Janardana lalu dengan indah melayang turun ke halaman rumah. Para ketua paguron berdecak kagum melihat kehebatan ilmu meringankan tubuh laki-laki ini.

Laki-laki itu berdiri tegak di tengah halaman rumah Juragan Arya Jumadi. Cahaya bulan dan obor memperjelas sosok misterius yang datang. Laki-laki tersebut masih berusia sekitar dua puluhan tahun, kulitnya terang cenderung kuning, wajahnya yang tampan sebagian tertutup oleh caping bambu di kepalanya, rambutnya meriap panjang. Pakaiannya berwarna merah tua dengan sebilah pedang menyembul dari balik punggungnya.

Baca juga : Proses Pengolahan Kopi Termahal di Dunia