Berita tentang pernikahan Putri Tekjakancana dengan Rakean Jambri menyebar dengan cepat diseluruh wilayah dan juga karatuan-karatuan tetangga termasuk Karatuan Indraprahasta, Karatuan Saunggalah dan tentu saja Karatuan Galuh. Walaupun Prabu Tarusbawa menyebutkan bahwa Rakean Jambri adalah putra Ratu Sannaha dari Karatuan Kalingga. Namun tetap saja desas-desus sudah menyebar di sebagian besar rakyat tentang Prabu Bratasennawa, bekas Prabu di Karatuan Galuh yang merupakan ayahandadari Rakean Jambri.

Walaupun tidak terang-terangan namun kekhawatiran mengenai kemungkinan terjadinya perang mulai terasa di kalangan prajurit dan perwira-perwira tinggi Karatuan Sunda. Apalagi Prabu Tarusbawa dalam pidato sambutan pernikanan Putri Tejakancana dan Rakean Jambri, secara jelas mengatkan bahwa karena perbedaan fahamlah yang membuat karatuan terpisah dan menyerahkan kepada anak-anak muda untuk menyikapinya di masa depan. Hal ini dibaca oleh sebagian pembesar bahwa dengan pernikahan dari keturunan penguasa Karatuan Sunda dengan keturunan Penguasa Karatuan Galuh adalah merupakan kesempatan untuk mereka kembali bersatu.

Hal ini menimbulkan euforia bagi sebagian besar prajurit dan perwira-perwira tinggi yang mempunyai romantisme masa lalu yang tinggi untuk mendukung kembali bersatunya Karatuan Sunda dan Karatuan Galuh seperti di masa lalu saat masih bernama Karatuan Tarumanagara. Bahkan pembahasan-pembahasan kecil di kedai-kedai makan mulai terjadi sehingga tidak terasa kabar burung yang masih belum jelas kebenarannya itu menyebar di seluruh Karatuan Sunda. Sebagian besar rakyat Karatuan Sunda menyambut dan mendukungnya dengan sepenuh jiwa dan berharap Rakean Jambri sebagai penerus Prabu Tarusbawa bisa mengembalikan kejayaan seperti waktu Karatuan Tarumanagara di masa lalu.

Kabar dan desa-desus ini menyebar dari mulut ke mulut bahkan sampai ke negeri tetangga dan menimbulkan keresahan yang luar biasa. Terutama di kalangan rakyat Karatuan Galuh, Karatuan Indraprahasta dan Karatuan Saunggalah. Bahkan sebagian besar rakyat Karatuan Indraprahasta dan Karatuan Saunggalah mulai menyesalkan keterlibatan negara mereka dalam konflik di Karatuan Galuh.

Penguasa Karatuan Indraprahasta, Prabu Wiratara sangat cemas karena khawatir akan diserang oleh Karatuan Sunda sebagai pembalasan atas turut andilnya mereka dalam menjatuhkan Prabu Bratasennawa. Oleh karena itu Prabu Wiratara mengutus Rakean Raksadewa, putranya sendiri untuk menemui Prabu Purbasora di Karatuan Galuh untuk membahas kekhawatiran ini. Sebagai karatuan kecil, angkatan perang Karatuan Indraprahasta tentu saja bukanlah tandingan angkatan perang Karatuan Sunda. Hal yang sama dirasakan pula oleh penguasa Karatuan Saunggalah yaitu Prabu Demunawan dan mengutus putranya, Rakean Tambakwesi untuk berangkat ke Karatuan Galuh menemui Prabu Purbasora.

****

Sore itu di pendopo Karaton Karangkamulyan sudah berkumpul Prabu Purbasora, Apatih Bimaraksa, Senapati Anggadirja serta utusan dari Karatuan Indraprahsata dan Karatuan Saunggalah yaitu Rakean Raksadewa dan Rakean Tambakwesi. Wajah kelimanya terlihat tegang terutama Apatih Bimaraksa.

Prabu Purbasora menarik nafas panjang lalu melirik dengan tajam ke arah Rakean Raksadewa dan Rakean Tambakwesi.

"Hmm...ada apa gerangan ananda berdua datang menghadap tanpa kabar terlebih dahulu?" tanyanya dingin dengan wajah yang sangat kusut.

Rakean Raksadewa melirik ke arah Rakean Tambakwesi seolah mohon ijin untuk berbicara lebih dahulu. Setelah meihat Rakean Tambakwesi menganggukkan kepalanya, Rakean Raksadewa mengangkat kedua tangannya di atas kepala kepada Prabu Purbasora.

"Ampun Uwa Prabu, pertama hamba menyampaikan sembah bakti dari ayahanda Prabu Wiratara...." ujarnya lalu menarik nafas berat. Rakean Raksadewa memanggil Uwa Prabu karena kakak ayahnya, Ratu Citrakirana adalah merupakan istri dari Prabu Purbasora.

"...hal yang kedua adalah...mengenai kabar pernikahan Rakean Jambri dengan Putri Tejakancana dari Karatuan Sunda....telah menyebabkan terjadinya desas-desus yang kurang baik...oleh karena itu ayahanda memohon pandangan dari Uwa Prabu mengenai hal ini" ujarnya sambil menunduk.

Prabu Purbasora mengusap wajahnya lalu melirik ke arah Rakean Tambakwesi, yang dilirik segera merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

"Ampun...Uwa Prabu, hamba menghaturkan sembah bakti dari ayahanda Prabu Demunawan dan mohon maaf beliau tidak bisa datang sendiri. Beliau menyampaikan pesan untuk memohon petunjuk dari Uwa Prabu mengenai Karatuan Sunda yang saat ini sudah mengangkat Rakean Jambri sebagai prabu" ujarnya. Rakean Tambakwesi pun memanggil dengan sebutan Uwa Prabu karena ayahandanya, Prabu Demunawan adalah adik kandung dari Prabu Purbasora.

Prabu Purbasora menarik nafas panjang lalu melirik ke arah Apatih Bimaraksa yang sedari awal tidak berani bersuara.

"Hmm...akupun sudah mendengar kabar yang sangat tidak terduga ini...seharusnya kita bisa mencegahnya...tapi sudahlah...semua sudah terjadi" ujarnya dengan suara bergetar seperti menahan amarah yang luar biasa.

"Rayi Bimaraksa...bagaimana menurutmu?...jangan diam saja!" sambungnya sedikit keras karena melihat Apatih Bimaraksa hanya diam saja.

Apatih Bimaraksa bagaikan tersengat lalu mengangkat kedua tangannya di atas kepala.

"Ampun Kakang Prabu...ini semua adalah kesalahan hamba yang gagal menangkap bocah sialan itu..." ujarnya.

"Sudahlah...aku tahu ini adalah kesalahanmu yang paling fatal...tapi yang terpenting sekarang...apa yang harus kita lakukan?!!" potong Prabu Purbasora dengan suara yang tinggi.

"Ampun Kakang Prabu...hamba mendapat laporan dari telik sandi..belum ada pergerakan yang mencurigakan dari Karatuan Sunda setelah pernikahan itu..." ujarnya gugup.

"Braaakkkk.....!!!" Prabu Purbasora menggebrak meja.

"Bodoh....!!!...Rayi pikir mereka akan mengumumkan untuk melakukan penyerangan kepada kita?...Lihat...gara-gara kebodohanmu, tidak bisa menangkap bocah itu...Rayi Wiratara dan Rayi Demunawan menjadi ketakutan!!!" muntab Prabu Purbasora kepada Apatih Bimaraksa sekaligus menyindir kepada dua Prabu di Karatuan Indraprahasta dan Karatuan Saunggalah yang sepertinya sudah kebakaran jenggot.

Rakean Raksadewa dan Rakean Tambakwesi menahan emosinya mendengar ayahanda mereka disebut ketakutan oleh Prabu Purbasora.

"Ampun Kakang Prabu...!!!" Apatih Bimaraksa menjatuhkan tubuhnya dan berlutut di hadapan Prabu Purbasora.

Melihat Apatih Bimaraksa berlutut, Prabu Purbasora semakin muntab.

"Berdiri..cepat berdiri...tidak ada gunanya kau berlutut....!!!" bentak Purbasora.

Apatih Bimaraksa segera berdiri dan duduk kembali ditempat duduknya, wajahnya terlihat merah karena malu tidak berhasil mengatasi masalah lolosnya Rakean Jambri ke Karatuan Sunda.

"Anggadirja...bagaimana menurutmu?...Apa yang harus kita lakukan menyikapi hal ini?" Prabu Purbasora bertanya kepada Senapati Anggadirja yang sedari tadi diam saja.

"Ampun Gusti Prabu...hamba melihat kondisi saat ini sangat merugikan kita karena posisi kita seperti diapit oleh dua musuh besar...di kulon ada Karatuan Sunda dan dari wetan ada Karatuan Kalingga. Menurut hemat hamba...lebih baik kita mengirimkan utusan ke Karatuan Sunda untuk mengucapkan selamat dan membuka komunikasi untuk menghindari konfrontasi langsung" jawab Senapati Anggadirja.

Prabu Purbasora mengerenyitkan dahinya mendengar jawaban Senapati Anggadirja.

"Hmmm...mengirimkan utusan untuk mengucapkan selamat?...tapi aku khawatir itu menunjukkan kita takut pada mereka...apalagi saat ini penguasa Karatuan Sunda adalah bocah sialan itu" gumamnya sambil melirik ke arah Apatih Bimaraksa.

"Ampun Kakang Prabu...hamba setuju dengan pendapat Rayi Senapati Anggadirja...saat ini jika kita menunjukkan sikap bermusuhan akan sangat merugikan...lagipula yang kita pandang adalah Prabu Tarusbawa. Kalau kita bisa mengambil hati prabu tua itu...maka bocah sialan itu tidak akan berani mengganggu kita" ujarnya.

Prabu Purbasora menarik nafas panjang, dirinya tetap tidak yakin bahwa dengan mengirimkan utusan ke Karatuan Sunda untuk mengucapkan selamat atas pernikahan cucu Prabu Tarusbawa akan bisa meredakan dendam Rahiang Sanjaya kepadanya.

"Hmm...aku belum mendengar pendapat dari anak-anak muda perwakilan dari Indraprahasta dan Saunggalah..." Prabu Purbasora melirik ke arah Rakean Raksadewa dan Rakean Tambakwesi.

"Ampun Uwa Prabu...kami dari Karatuan Indraprahasta sama sekali tidak merasa jeri ataupun takut kepada Rakean Jambri yang sekarang menjadi prabu di Karatuan Sunda...tapi ayahanda memandang Uwa Prabu sehingga merasa perlu untuk berbicara mengenai masalah ini" Rakean Raksadewa menekan kata-kata tidak jeri ataupun takut kepada Karatuan Sunda sebagai balasan ucapan Prabu Purbasora yang menyebut ayahnya ketakutan.

"Oleh sebab itu...karena saya sudah mendengar semua tindakan yang akan dilakukan Uwa Prabu...saya mohon diri untuk melaporkannya kepada ayahanda" sambungnya dengan nada suara yang sedikit terdengar tidak enak ditelinga Prabu Purbasora.

"Kau sampaikanlah kepada ayahandamu...kita harus berhati-hati dalam menyikapi Karatuan Sunda...tapi aku tidak akan melupakan jasa ayahandamu yang sudah membantuku..." ujar Prabu Purbasora dingin.

"Aku akan mengirimkan lima ratus orang prajurit yang dipimpin oleh dua orang kandaga lante untuk membantu keamanan di Karatuan Indraprahasta..." sambungnya sambil mengusap janggutnya yang sudah mulai memutih.

"Uwa Prabu...tujuanku diutus oleh ayahanda bukan untuk meminta bantuan pasukan...kami masih bisa menjaga diri kami sendiri. Aku mohon pamit Uwa Prabu..." ujar Rakean Raksadewa sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala lalu berdiri dan menganggukan tubuhnya ke arah Apatih Bimaraksa dan Senapati Anggadirja.

Wajah Prabu Purbasora memerah sambil menarik nafas panjang menahan marah melihat kelakuan Rakean Raksadewa yang dianggapnya sama sekali tidak mempunyai sopan santun.

"Sudahlah...kau pergilah..." Prabu Purbasora mengibaskan tangannya menyuruh Rakean Raksadewa agar segera berlalu dari hadapannya.

Sepeninggal Rakean Raksadewa, keadaan menjadi sedikit canggung. Prabu Purbasora terlihat memejamkan matanya mencoba meredakan amarah akibat kelakuan Rakean Raksadewa yang tidak sopan dan tidak menghargainya. Kalau saja tidak mengingat keadaan yang sangat tidak menguntungkan...ingin rasanya dia menghajar anak muda yang masih terhitung keponakannya itu. Namun dia menyadari bahwa hal itu akan menyebabkan Prabu Wiratara marah dan bisa saja berbalik memusuhinya.

"Anak muda sombong...tidak tahu sopan santun..." rutuknya sambil mengepalkan kedua tangannya.

"Tambakwesi...kau pulanglah...sampaikan kepada ayahandamu agar jangan terlalu khawatir...aku akan mengurus semuanya..." ujarnya pelan kepada Rakean Tambakwesi, putra dari Prabu Demunawan dari Karataun Saunggalah.

"Baik Uwa Prabu...aku mohon pamit..." Rakean Tambakwesi merangkapkan kedua tangannya di atas kepala lalu bangkit dan membungkukkan badannya kepada Apatih Bimaraksa dan Senapati Anggadirja. Melihat keadaan yang sudah panas, Rakean Tambakwesi memilih untuk tidak berbicara apapun lagi.

Setelah Rakean Tambakwesi berlalu, Prabu Purbasora berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati jendela pendopo memandang jauh.

"Rayi Bimaraksa...kau kirimkan dua orang kandaga lante dan lima ratus orang prajurit ke Indraprahasta. Lalu rekrut sebanyak-banyaknya prajurit baru untuk memperkuat pertahanan" perintahnya kepada Apatih Bimaraksa.

"Anggadirja...kau undang semua ketua paguron silat yang masih mendukung kita dan kirimkan hadiah-hadiah yang mahal kepada mereka. Kita memerlukan dukungan mereka..." sambungnya kepada Senapati Anggadirja.

Baca juga : Rahiang Sanjaya #10

******

Sejak dua hari yang lalu suasana di Kota Karangkamulyan sangat berbeda dari biasanya. Banyak tamu yang datang dari penjuru negeri mendatangi kota. Penginapan-penginapan yang biasanya di tempati oleh para saudagar ata pejabat dari wilayah bawahan atau karatuan lain, hari itu dipenuhi oleh tamu yang berpenampilan dan berperilaku kasar layaknya para jawara dunia persilatan. Bahkan terlihat beberapa tokoh yang sebenarnya adalah pemimpin rampok yang menguasai wilayah hutan dan sungai serta sudah seringkali menjadi momok bagi para saudagar saat mengirimkan dagangan.

Di salah satu penginapan yang paling besar dan terletak tidak jauh dari alun-alun kota terlihat pimpinan paguron silat yang bernama Ki Darma, jawara yang berasal dari lereng Gunung Kendeng di barat Kota Karangkamulyan. Dia sempat menggegerkan Karatuan Galuh maupun Karatuan Sunda saat berhasil menghancurkan dan mengobrak-abrik sarang perampok dan membunuh ketuanya di hutan Sancang.

Di penginapan yang lain terlihat sosok Ki Surajati, seorang kepala perampok yang sudah malang melintang di hutan lereng Gunung Tunggul. Banyak pengawal barang kiriman milik saudagar yang akan dikirim dari wilayah Karatuan Galuh ke wilayah Karatuan Sunda sudah merasakan kekejamannya. Ki Surajati tidak segan-segan melakukan pembantaian kepada korban-korbannya. Kawasan hutan di Gunung Tunggul menjadi rute yang sebisa mungkin dihindari oleh para pengawal barang kiriman. Pihak Karatuan Galuh sudah seringkali mengirim pasukan untuk membasmi kawanan perampok ini, namun tidak ada seorangpun yang berhasil kembali. Hanya korban-korban yang menyerah dan tidak melakukan perlawanan saja dapat lolos dari kawanan ini. Sedangkan yang melawan, jangankan mengangkat senjata berkata keras atau kasar saja kepada kawanan perampok ini, maka bisa dipastikan akan menjadi mayat.

Belum lagi tokoh-tokoh persilatan yang menempati penginapan-penginapan lain maupun yang menginap di rumah-rumah penduduk. Tentu saja kedatangan tokoh-tokoh dunia persilatan maupun tokoh-tokoh jahat membuat geger warga kota Karangkamulyan. Disamping merasa ngeri dan ketakutan tapi sebagian juga merasa senang karena tokoh-tokoh ini sangat royal dalam membelanjakan uang mereka, tentu saja selama kemauannya dituruti.

Para jawara ini datang ke kota Karangkamulyan dengan satu maksud dan tujuan yakni menghadiri undangan dari Senapati Anggadirja yang menurut kabar, sedang mencari tokoh atau jawara untuk diangkat menjadi seorang senapati yang akan memimpin pasukan khusus untuk menjaga karaton. Tentu saja jabatan tinggi yang ditawarkan disertai dengan iming-iming lain yaitu rumah besar, harta yang berlimpah dan tentu saja gadis-gadis cantik yang masih ranum dan perawan.

Kesempatan baik ini tidak mau dilewatkan oleh tokoh-tokoh dunia persilatan baik dari golongan paguron silat maupun dari golongan perampok dan penjahat lainnya. Tokoh-tokoh paguron silat merasa berkewajiban untuk membantu pihak karatuan yang sudah banyak memberikan mereka bantuan dalam menjaga keamanan sedangkan tokoh-tokoh dari golongan perampok dan penjahat tentu saja melihat jabatan tinggi, harta dan perempuan-perempuan muda yang ditawarkan!.

Pagi masih terlalu muda, matahari belum menyebarkan cahaya kehidupannya namun banyak orang yang sudah berduyun-duyun menuju ke arah alun-alun kota Karangkamulyan. Ditengah-tengah alun-alun telah dibuat sebuah panggung pasanggiri yang sangat besar yang tingginya kurang lebih dua deupa. Tamu undangan bergegas menghampiri tuan rumah sedangkan orang-orang yang hanya bertujuan untuk menonton bergerombol agak jauh dari depan panggung. Ratusan prajurit karatuan terlihat berjaga-jaga di sekitar alun-alun.

Senapati Anggadirja berdiri di depan panggung menyambut para tamu undangan. Tubuhnya yang tinggi kekar dengan rambut yang digelung rapi ke atas dan kumis tebal menunjukkan wibawa yang membuat para tamu sedikit segan. Usianya yang masih sekitar empatpuluhan tahun semakin menunjukkan pamornya sebagai senapati nomor satu di Karatuan Galuh. Sementara seorang pemuda berusia tidak lebih dari dua puluh tahun berperawakan tegap dan gagah berdiri di sampingnya. Dia adalah Rakean Sukma putra kesayangan Senapati Anggadirja. Walaupun usianya masih terhitung belia namun Rakean Sukma telah digembleng oleh ilmu-ilmu silat tingkat tinggi sejak usia anak-anak.

Senapati Anggadirja dan putranya tersenyum hangat dan membungkukkan badannya memberikan penghormatan kepada mereka yang datang menghampiri. Dikarenakan banyaknya kenalan dan tamu yang datang, mereka sudah tidak bisa lagi mengetahui mana yang datang karena diundang ataupun datang karena kehendak sendiri. Pokoknya siapa yang mendatangi mereka, dianggap sebagai tamu.

Golongan yang berasal dari paguron-paguron silat yang kenal dekat dengan pihak karatuan seperti Ki Darma dari paguron silat Ruyung Saketi di lereng gunung Kendeng, Ki Sukanta dari paguron silat Garuda Wesi di lereng gunung Lawu dan banyak tokoh paguron dari sekitar kota mendapat tempat duduk yang terhormat. Mereka semua ini yang dianggap sudah mempunyai jasa kepada pihak karatuan.

Sedangkan tamu-tamu yang berasal dari golongan perampok dan penjahat seperti Ki Surajati dari lereng Gunung Tunggul dan Ki Wisesa, seorang ketua perompak yang banyak beraksi di aliran sungai Citarum, menduduki tempat duduk tamu undangan biasa.

Sebagai sambutan, hiburan berupa tarian yang disuguhkan oleh gadis-gadis muda berusia belasan yang berwajah cantik dan bertubuh montok, ditampilkan di atas panggung. Diiringi oleh tetabuhan musik yang dimainkan oleh rombongan seni yang biasa mentas di dalam keraton. Penonton dan tamu undangan tidak mau melepaskan pandangan matanya dari para penari yang berlenggang lenggok dan mengedip-ngedipkan matanya yang indah. Makanan dan minuman tidak ada hentinya mengalir ke meja para tamu undangan bahkan penonton biasapun tidak lupa disuguhkan makanan walaupun jenisnya berbeda. namun sudah cukup menggembirakan bagi penonton yang sebagian besar merupakan penduduk kota Karangkamulyan.

Semakin siang pesta semakin meriah namun tiba-tiba seorang prajurit yang bertugas menjaga di luar alun-alun datang menghampiri Senapati Anggadirja. Prajurit itu melaporkan bahwa ada seorang pemuda utusan dari Kabuyutan Kidul yang minta dijemput oleh Senapati Anggadirja di luar alun-alun. Senapati Anggadirja mengerenyitkan dahinya tidak senang namun demi kelancaran acara, dirinya mau mengalah dan berjalan bersama prajurit tersebut menyambut pemuda tersebut.

Di luar batas alun-alun terlihat seorang pemuda berusia tidak lebih dari duapuluh lima tahun berwajah tampan dengan rambut yang disanggul rapi dan mengenakan ikeut berwarna putih. Dipinggangnya tergantung sebuah golok panjang dan mengenakan pakaian ringkas berwarna putih. Terlihat bersih dan rapi namun sorot matanya menunjukkan kesombongan dan juga keangkuhan.

Senapati Anggadirja cepat-cepat membungkukkan badannya memberi hormat yang dibalas dengan sikap sangat sombong.

"Selamat datang Rakean Wastu...tidak kusangka, ternyata cucu kesayangan Gusti Rahyang Kidul yang berkenan datang sendiri" ujar Senapati Anggadirja sopan. Walau bagaimanapun pemuda ini adalah cucu dari paman Prabu Purbasora dan keponakan dari Apatih Bimaraksa jadi dirinya harus bersikap hormat walaupun hatinya dongkol bukan main. 

"Aku diutus oleh Eyang Rahyangtang Kidul untuk melihat kehebatan tamu-tamu karatuan" ujar Rakean Wastu pongah.

"Ah...begitu rupanya...baiklah, silakan...silakan...." dengan penuh hormat Senapati Anggadirja membimbing Rakean Wastu ke tempat untuk undangan-undangan terhormat.

Sebagian penonton dan tamu melirik dengan pandangan heran dan sebagian lagi dengan pandangan tidak suka melihat sikap pemuda itu yang jumawa dan seperti tidak menghargai Senapati Anggadirja yang berusia lebih tua. Rakean Sukma yang sebelumnya sudah mengenal Rakean Wastu hanya meliriknya sekilas. Dirinya sudah tahu sikap dan pembawaan Rakean Wastu yang sombong dan angkuh, membuatnya segan untuk menghampiri.

Ki Darma yang duduk berdampingan dengan Ki Sukanta berbisik,

"Kakang...siapa pemuda yang kelihatannya angkuh dan sombong itu?" tanya Ki Darma yang memang berusia lebih muda daripada Ki Sukanta.

Sebelum menjawab, Ki Sukanta menarik nafas panjang.

"Dia adalah cucu paling besar dari Gusti Resi Rahyangtang Kidul dari anak perempuannya" jawabnya pelan.

"Hmmm...berarti dia keponakannaya Apatih Bimaraksa dan masih terhitung keponakan Gusti Prabu Purbasora?" Ki Darma kembali bertanya.

Ki Sukanta hanya menganggukan kepalanya seperti tidak minat untuk membicarakan tentang pemuda tersebut.

"Pantas saja tingkahnya sombong dan angkuh..." gumam Ki Darma.

Sementara itu Rakean Wastu duduk diantara para ketua paguron dan tamu kehormatan lain. Sikapnya tetap angkuh dan melayangkan pandangannya kepada para tamu undangan dengan sorot mata acuh tak acuh. Sepertinya dia tidak memandang dan menghargai kehadiran tokoh-tokoh tersebut.

Senapati Anggadirja dan putranya, Rakean Sukma, melayani para tamu undangan dengan sikap yang sangat hormat. Setelah dirasa cukup memberikan hiburan tari-tarian dan musik, Rakean Sukma memberikan tanda kepada para penghibur di atas panggung agar menghentikan musik dan tarian. Kemudian dengan sebat dan lincah, Senapati Anggadirja melompat ke atas panggung lalu menjura ke arah para tamu undangan.

"Para ketua paguron, para jawara dan semua rakyat karatuan Galuh yang terhormat. Saya mewakili pihak karatuan menghaturkan banyak terima kasih atas kedatangannya memenuhi undangan. Sebagaimana kita ketahui, saat ini pihak karatuan ingin meberikan penghargaan kepada para ketua paguron, jawara atau siapapun yang mempunyai kemampuan silat paling tinggi untuk menjadi seorang senapati karatuan" suara Senapati Anggadirja berat dan berwibawa, terdengar sampai di seluruh area alun-alun yang luas karena disertai oleh pengerahan tenaga dalam tinggi.

Pidato Senapati Anggadirja disambut oleh tepuk tangan yang meriah.

"Acara pemilihan senapati ini tidak hanya untuk para tamu undangan tetapi siapapun boleh dan berhak mengikutinya" sambung Senapati Anggadirja yang kembali disambut oleh sorak sorai penonton.

"Sebagai pembuka...biarlah anakku yang masih bodoh dan hijau membuka acara dan mohon petunjuk dari tokoh-tokoh hebat yang hadir" ujar Senapati Anggadirja sambil memberi tanda kepada anaknya.

Mendapat tanda dari Senapati Anggadirja, Rakean Sukma segera melompat ke atas panggung di samping Senapati Anggadirja lalu menjura ke arah para tamu undangan dan penonton.

Tiba-tiba dari arah kursi undangan melompat seorang pemuda berpakaian hitam-hitam.

"Gusti Senapati...ijinkan hamba belajar..." ujarnya lalu menjura ke arah Senapati Anggadirja.

Senapati Anggadira menganggukkan kepalanya lalu melompat turun. Rakean Sukma memandang tajam ke arah pemuda yang mungkin usianya sebaya dengan dirinya.

"Silakan memperkenalkan diri..." ujar Rakean Sukma sambil tersenyum.

Pemuda tersebut membalas ramah senyum Rakean Sukma lalu membalikkan badannya ke ara penonton.

"Maaf kalau hamba lancang...nama hamba Ajiguna, seorang murid bodoh dari paguron kecil di tepi sungai Ciwulan" ujar pemuda itu sambil membungkukkan badannya. Penonton bersorak-sorai memberikan semangat kepada pemuda yang terlihat sopan dan ramah tersebut.

Setelah memperkenalkan diri, Ajiguna membalikkan tubuhnya menghadapi Rakean Sukma. Keduanya berhadapan saling memandang seperti sedang mengukur kemampuan lawan.

"Silakan dimulai...jangan sungkan..." ujar Rakean Sukma sambil memasang kuda-kuda.

"Maafkan hamba...." ujar Ajiguna singkat sambil dengan cepat menerjang ke arah Rakean Sukma. 

Kepalan tangan kanan Ajiguna berkelebat cepat ke arah muka. Rakean Sukma tidak mau bertindak ceroboh. Dengan tenang menggeser kaki kirinya ke belakang hingga kepalan tangan Ajiguna lewat di depan mukanya. Setelah serangan itu bisa dihindari, dengan cepat Rakean Sukma membalas dengan tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan menerjang dengan kepalan tangan kirinya lalu melompat dan mengirimkan kepalan tangan kanannya sebagai serangan susulan.

Sebuah serangan yang sangat tidak terduga dan dilakukan dengan sangat cepat. Namun rupanya Ajiguna cukup lincah dan gesit. Kepalan tangan kiri berhasil dihindarinya sedangkan kepalan tangan kanan ditangkisnya dengan tangan kiri.

"Duuukkkk.....!!!" terdengar suara kedua tangan beradu.

Ajiguna meringis sambil terhuyung ke belakang, rupanya tenaga dalamnya kalah jauh dari Rakean Sukma. Sebelum sempat mengatur kuda-kuda, Rakean Sukma sudah mengejar dengan sebuah tendangan ke arah lambungnya. Tidak ada cara lain bagi Ajiguna selain menyambut datangnya kaki tersebut dengan tangkisan tangan kanannya.

"Dukkkk.....!!!" kembali terdengar suara tulang beradu. Ajiguna kembali terhuyung dan terjengkang ke belakang tidak mampu mengimbangi tenaga Rakean Sukma. Dengan wajah merah karena malu, Ajiguna berdiri dan memberi hormat lalu melompat turun dari atas panggung. Sorak sorai penonton kembali pecah melihat bagaimana Rakean Sukma hanya perlu dua gebrakan saja untuk menaklukkan Ajiguna.

Seorang pemuda kembali melompat ke atas panggung, dia adalah Singacala, putra pemilik usaha pengiriman barang dagang yang sangat terkenal di kota Karangkamulyan. Semenjak ayahnya terbunuh saat mengawal barang kiriman ke Caruban, Singacala yang meneruskan usaha tersebut. Ilmu silatnya cukup tinggi karena selain digembleng sejak kecil oleh ayahnya juga hampir sepuluh tahun berguru ke salah seorang resi di Kalingga.

"Gusti Rakean...ijinkan hamba ikut berlatih" ujar Singacala yang sudah mengenal Rakean Sukma dengan baik.

"Ah...Singacala, kau rupanya....silakan jangan sungkan!" ujar Rakean Sukma.

Singacala segera menerjang denga sebuah tendangan melayang yang sangat cepat dan bertenaga. Rakean Sukma menggeser kaki kirinya untuk menghindar namun begitu sadar tendangannya luput, Singacala kembali mengejar dengan tendangan memutar. Tidak percuma Rakean Sukma menjadi putra Senapati Anggadirja, semua tendangan yang datan beruntun tersebut dapat dihindarinya dengan baik bahkan bisa balik melakukan serangan.

Pertarungan kedua ini berjalan alot dan seimbang. Singacala mengandalkan serangannya yang ganas dan bertenaga sedangkan Rakean Sukma mengandalkan kecepatan dan kegesitan. Penonton yang merasa terhibur bersorak semakin keras. Namun sepertinya Rakean Sukma sedikit lebih unggul, beberapa kali pukulan dan tedangannya mendarat di tubuh Singacala. Tapi tidak sedikitpun Singacala jeri ataupun takut bahkan gerakannya semakin liar dan buas mengamuk bagaikan harimau terluka.

Hampir limapuluh jurus berlalu, Singacala meraung tinggi lalu melakukan serangan dengan kesepuluh jarinya mencengkram bak cakar rajawali. Serangan ini sangat cepat dan ganas menyambar ke arah leher Rakean Sukma yang baiknya dapat menghindar. Rakean Sukma membungkukkan tubuhnya lalu begitu kedua tangan Singacala lewat langsung melancarkan pukulan ganda ke arah dada yang terbuka.

"Buuuuukkkk.....arggghhh....!!!"

Singacala menjerit tertahan sambil terhuyung memegangi dadanya. Rakean Sukma mengejar dengan sebuah sabetan kaki menebas betis.

"Buuukkk.....argggghh....!!!"

Singacala terbanting lalu terguling ke bawah panggung. Sekali lagi sorak sorai pecah dari penonton melihat Rakean Sukma kembali berhasil menjatuhkan lawannya.

Tiba-tiba terdengar bentakan keras lalu dari arah penonton melesat sesosok laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun dengan rambut awut-awutan dan hanya diikat selembar ikeut berwarna merah. Wajahnya keras dan kasar penuh cambang. Dari gerakannya yang sangat cepat dan hampir tidak terlihat tiba-tiba di atas panggung maka maklumlah semua yang hadir bahwa laki-laki ini bukanlah orang berkepandaian rendah.

Rakean Sukma sedikit terkejut karena kehadiran laki-laki ini hampir luput dari pandangannya. Dirinya segera menjura memberikan hormat.

"Silakan perkenalkan diri...." ujarnya.

"Hua...ha...aku tidak sudi sembarangan memperkenalkan diri kepada bocah ingusan sepertimu...tapi sebentar lagi kau bisa memanggilku Gusti Senapati...hua...ha...ha..." laki-laki itu tergelak.

Para ketua paguron silat mengernyitkan dahi karena terkejut melihat laki-laki tersebut sedangkan para tokoh dari golongan perampok dan penjahat terlihat tersenyum simpul. Buat mereka para tokoh silat tentu saja mengenal laki-laki kasar itu adalah Wirapala, penguasa Talaga Wening yang ada di puncak Gunung Bongkok. Wirapala dikenal mempunyai paguron silat dan murid-muridnya seringkali melakukan penculikan kepada gadis-gadis muda yang ada di sekitar Gunung Bongkok untuk dijadikan selir oleh Wirapala.

"Oh...baiklah...silakan memberikan pelajaran..!!!" dengus Rakean Sukma terpancing oleh sikap Wiarapala yang sombong.

Wirapala adalah penguasa Talaga Wening yang terkenal mata keranjang itu mulai menyerang. Pukulannya sangat bertenaga dan berisi tenaga dalam yang sangat kuat. Rakean Sukma mengandalkan kecepatan dan kegesitannya untuk mengimbangi. Pertarungan berjalan sengit hingga hampir berjalan limapuluh jurus. Awalnya pertarungan itu seperti berjalan imbang namun di beberapa jurus terakhir terlihat bahwa Rakean Sukma keteteran bahkan mulai terdesak. Nafasnya mulai memburu kehabisan tenaga setelah beberapa kali terkena pukulan di lengan dan punggungnya.

Wirapala melancarkan serangan tipuan, dengan membungkukkan tubuh, kedua tangannya melancarkan serangan ke arah dada Rakean Sukma dengan cepat. Dengan sisa-sisa tenaga Rakean Sukma berkelit ke samping, tapi tiba-tiba Wirapala menarik pukulannya dan menggunakan siku kanannya menghajar iga Rakean Sukma dari samping. 

"Buukkkk...argh....!!!"

Rakean Sukma terpental beberapa deupa lalu roboh pingsan.

"Kejam....!!!" terdengar seruan tertahan suara seorang perempuan. Suara itu berasal dari dua orang muda-mudi menggunakan caping bambu yang berdiri agak jauh terpisah dari kerumunan penonton.

Dua orang itu adalah seorang laki-laki berusia sekitar duapuluh tahunan dan seorang gadis berusia tidak lebih dari sembilanbelas tahun, Kedua orang itu tak lain adalah Yuchi Saksena yang menggunkan pakaian berwarna merah tua dan Dewi Sekarasih yang menggunakan pakaian ringkas berwarna hijau daun. Setelah Yuchi Saksena berhasil menewaskan Juragan Arya Jumadi dan seluruh pengawalnya, Dewi Sekarasih segera mengajaknya berangkat ke Karatuan Galuh. Dewi Sekarasi bermaksud menemui Prabu Purbasora seperti janjinya kepada ayahnya, Pabu Demunawan, saat pertama memohon ijin untuk berkelana meninggalkan karaton karatuan Saunggalah.