Laki-laki itu berdiri tegak di tengah halaman rumah Juragan Arya Jumadi. Cahaya bulan dan obor memperjelas sosok misterius yang datang. Laki-laki tersebut masih berusia sekitar dua puluhan tahun, kulitnya terang cenderung kuning, wajahnya yang tampan sebagian tertutup oleh caping bambu di kepalanya, rambutnya meriap panjang. Pakaiannya berwarna merah tua dengan sebilah pedang menyembul dari balik punggungnya.

Janardana yang pukulan jarak jauhnya dihindari dengan mudah oleh laki-laki muda itu mendekati Juragan Arya Jumadi.

"Juragan...sepertinya dia adalah orang yang kita cari selama ini" bisiknya.

"Hmmm....bagus...akhirnya dia datang sendiri mengantarkan nyawanya..." ujar Juragan Arya Jumadi sambil melangkah ke depan.

"Rupanya ada tamu tak diundang datang ke pestaku...harap kau mau memperkenalkan diri" ujar Juragan Arya Jumadi sambil mengusap-usap dagunya. Pandangannya tajam menyelidik mencoba melihat dengan jelas wajah dibalik caping bambu tersebut.

Sementara itu Janardana, Parta dan tujuh ketua paguron silat berbaris di belakang Juragan Arya Jumadi. Murid-murid paguron, pengawal dan para pelayan yang sebelumnya berguling-guling menutup telinga mereka masing-masing, kini mulai bangun dan menenangkan diri.

Laki-laki muda tersebut menyeringai.

"Aku tidak akan berpanjang kata...namaku adalah Yuchi Saksena dan tujuanku adalah mau menagih hutang nyawa kedua orangtuaku..." ujar laki-laki muda tersebut yang tak lain adalah Yuchi Saksena.

"Aahhh...rupanya kau..." Juragan Arya Jumadi memandang Yuchi Saksena dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Nyalimu besar juga anak muda...sama dengan ayahmu yang berani menahan kapal dagang milikku. Hanya saja...nyali tidak akan bisa menyelamatkanmu...lihat saja kedua orangtuamu mati mengenaskan....hua..ha...ha..." sambungnya sambil tergelak.

Yuchi Saksena menatap dingin ke arah Juragan Arya Jumadi. Walaupun amarahnya menggelegak namun dicobanya untuk tetap tenang. Kejadian konyol saat dikalahkan oleh Kusno menjadikannya lebih berhati-hati.

Dua orang ketua paguron silat yang bertubuh tinggi besar segera melompat ke depan.

"Juragan...biar kami yang membereskan bocah ingusan ini...tidak perlu mengotori tangan sendiri" ujar salah satu dari mereka. Keduanya lalu menghunus golok masing-masing.

Juragan Arya Jumadi tersenyum sambil melangkah mundur.

"Baiklah...aku akan memberikan hadiah besar buat siapa saja yang bisa membunuh bocah ingusan ini" ujarnya lalu melangkah ke atas panggung dan duduk di atas kursi seperti saat terjadi pasanggiri tadi siang. Janardana dan Parta mengkutinya, keduanya duduk di belakang Juragan Arya Jumadi.

"Aku sebenarnya tidak ada urusan dengan anjing-anjing penjilat seperti kalian...kalian hanya membuang waktuku saja" dengus Yuchi Saksena kepada dua orang bertubuh tinggi besar yang sekarang mengurungnya dengan golok terhunus.

"Keparat ingusan....rasakan golokku...!!" bentak salah satu dari mereka lalu keduanya menerjang.

Melihat gerakan kedua orang tersebut, Yuchi Saksena tersenyum sinis lalu menghunus pedang hijau miliknya, wangi harum cendana menyengat. Saat keduanya menubruk dengan sabetan golok yang cepat dan bertenaga, secepat kilat Yuchi Saksena memainkan pedangnya. Bukan main cepat dan indah permainan pedangnya, cahaya kehijauan bergulung-gulung seperti seekor naga yang sedang menari. Kedua pengeroyoknya terhenyak dan terdesak hebat.

Yuchi Saksena rupanya tidak mau membuang waktu. Terdengar suara lengkingan yang sangat tinggi seperti saat pertama kali dirinya datang diikuti dengan berkelebatnya sinar hijau menyambar ke arah kedua ketua paguron yang mengeroyoknya.

"Crakk....argh....!"

Terdengar suara jerit kesakitan yang bersahutan. Kedua ketua paguron itu terjengkang dengan leher yang hampir putus. Semua yang menyaksikan pertempuran tersebut menarik nafas panjang sambil bergidik ngeri.

"Keparat.....!!!"

Juragan Arya Jumadi mendesis sambil melirik ke arah Janardana dan Parta. Sementara para ketua paguron yang tersisa termasuk Kebo Muntilan saling berpandangan ngeri. Bagaimana tidak, dua orang temannya hanya dalam beberapa gebrakan saja dibuat putus lehernya.

Yuchi Saksena tersenyum dingin dengan pedang yang bercucuran darah terhunus di tangan kanannya.

"Aku harap...tidak ada lagi yang akan bertindak konyol seperti mereka...yang tidak punya urusan dengan kalian... lebih baik segera meninggalkan tempat ini!" bentaknya sambil matanya menyapu kepada semua orang yang menyaksikan pertempuran tersebut.

Janardana melirik ke arah lima ketua paguron yang tersisa seolah memberi komando untuk menyerang Yuchi Saksena. Namun tidak ada seorangpun ketua paguron yang bergerak termasuk.

"Pegecut tidak tahu diri.....!!!" dengus Janardana sambil berdiri dari duduknya sambil bersiap akan melompat menghadapi Yuchi Saksena namun ditahan oleh Juragan Arya Jumadi.

"Sebentar Janardana....." ujar Juragan Arya Jumadi.

"Ki Parta...empat ratus keping emasmu sudah menunggu. Lekas selesaikan...!" sambungnya sambil melirik ke arah Ki Parta.

Parta tidak bergeming malahan memejamkan matanya sambil memainkan kumisnya yang tebal.

"Hmmm...bukan lawan yang mudah...aku tidak yakin empat ratus keping emas sepadan untuk dia. Setidaknya aku perlu tujuh ratus keping emas..." gumamnya.

"Bajingan...pemeras...!!!" maki Janardana sambil berdiri.

Juragan Arya Jumadi sesaat wajahnya berubah merah namun kembali menguasai dirinya.

"Ki Parta...uang bagiku bukan masalah...kau bunuh dia dan aku akan memberikan apa yang kau mau" ujarnya sambil memberi tanda kepada Janardana agar diam.

Parta membuka matanya lalu melirik ke arah Janardana dengan pandangan merendahkan lalu menatap ke arah Juragan Arya Jumadi.

"Kau harus memegang kata-katamu...sekali kau ingkar janji....kau akan tahu akibatnya" desisnya lalu berdiri dan melompat ke bawah panggung berhadapan dengan Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena menatap tajam Parta lalu melirik ke arah Juragan Arya Jumadi yang masih duduk di atas panggung.

"Arya Jumadi...kau turunlah hadapi sendiri...aku tidak mau lagi membunuh begundal-begundalmu!!!" serunya.

Disebut sebagai begundal, Parta muntab lalu menghunus golok tipisnya.

"Bocah ingusan...jaga mulutmu!!! Aku bukan begundal siapapun...!!!" sergahnya.

Yuchi Saksena kembali melirik ke arah Parta.

"Kau mungkin bukan begundal...tapi anjing penjilat!!!" ujarnya sambil tersenyum sinis.

Baca juga : Rahiang Sanjaya #45

"Keparat....aku akan mencincang mulutmu yang tidak tahu adat itu!!!" bentak Parta sambil menerjang ke arah Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena terkesiap sambil melompat mundur, golok tipis itu menerjang dengan sangat hebat dan mengeluarkan suara berdesing. Diam-diam dirinya terkejut, tidak disangkanya Parta bisa bergerak sedemikian cepat namun tetap bertenaga.

"Hua..ha...ha....kenapa kau pucat bocah ingusan?" Parta tergelak lalu memutar kembali golok tipis miliknya dan kembali menerjang.

Yuchi Saksena melengking tinggi sambil memiringkan tubuhnya menghindari datangnya golok yang mengicar ke arah dada. Golok milik Parta bergerak aneh dan kembali mengejar ke arah leher. Luar biasa cepat! Yuchi Saksena terkejut bukan main tidak menyangka kalau jurus-jurus yang dikeluarkan Parta sangat cepat dan aneh. Dengan cepat Yuchi Saksena menggulingkan tubuhnya ke bawah lalu berguling beberapa deupa untuk menghindari serangan golok yang sangat ganas. Lalu secepat kilat berdiri dan kembali bersiap.

"Aku tidak boleh gegabah...jurusnya sangat aneh dan cepat" batin Yuchi Saksena.

Sementara itu Juragan Arya Jumadi tersenyum lebar saat melihat Yuchi Saksena dibuat pontang-panting oleh Parta.

"Ternyata hanya segitu saja ilmu silatmu bocah ingusan...sekarang bersiaplah untuk mati!" Parta kembali menerjang dengan golok tipis miliknya ke arah leher.

Yuchi Saksena maklum bahwa jurus-jurus milik Parta sangatlah cepat maka dengan mengerahkan tenaga dalam level empat ditangkisnya golok tersebut. Tujuannya adalah untuk menjajaki seberapa tinggi tenaga dalam lawannya.

"Traaanggg....!!!" terdengar dentingan keras beradunya kedua senjata hebat tersebut.

Parta meringis kesakitan, tangannya terasa panas dan kesemutan. Sementara Yuchi Saksena mengerutkan dahinya, dirinya mengerahkan setengah tenaga dalam dengan harapan akan membuat golok itu lepas dari tangan Parta. Namun ternyata golok itu masih tergenggam erat di tangan Parta.

"Luar biasa...selain jurusnya sangat cepat tenaga dalamnya juga tidak rendah...aku harus mendahuluinya menyerang" batin Yuchi Saksena lalu menerjang.

Serangan itu tidak kalah cepat dan ganas karena merupakan rangkaian jurus ke sembilanpuluh dari ilmu pedang "Menembus Langit Membelah Rembulan" dengan mengerahkan tenaga dalam level enam. Tubuhnya berekelebat dan pedangnya berubah menjadi gulungan cahaya berwarna hijau.

"Trang...trang....!!!" Parta berhasil menangkis pedang milik Yuchi Saksena.

Semua orang memicingkan matanya karena terangnya api yang berpijar dari pertemuan dua senjata pusaka tersebut. Dua jawara pilih tanding tesebut bergerak semakin cepat saling serang sehingga yang terlihat hanya bayangan kuning dari pakaian Parta dan bayangan merah dari pakaian Yuchi Saksena. Lengkingan dan bentakan saling bersahutan.

"Cukup....!!!" tiba-tiba terdengar suara Yuchi Saksena lalu meloncat ke belakang setinggi dua depa lalu dengan sangat luar biasa tubuhnya tetap melayang bagaikan terbang. Sabetan pedangnya mengeluarkan sinar seperti cemeti yang menyambar ke arah Parta. Itu adalah jurus keseratus dan tenaga dalam level delapan, puncak tertinggi dari ilmu pedang "Menembus Langit Membelah Rembulan" .

Parta terkejut bukan main lalu melompat mundur, sinar hijau hanya lewat sejengkal dari wajahnya. Terasa hawa panas menyambar. Yuchi Saksena kembali mengejar dengan tubuh yang masih melayang di udara. Pedangnya menyasar ke arah kaki, lecutan sinar hijau menyambar cepat. Parta melompat sambil bersalto beberapa kali ke belakang namun tak urung ujung celananya tergores dan mengeluarkan bau sangit terbakar.

"Keparat...ilmu iblis apa yang digunakannya...aku tidak mau mati konyol" rutuknya sambil melirik ke kiri dan ke kanan. Parta adalah seorang perampok dan bukanlah seorang ksatria, baginya tidak ada rasa malu ataupun sungkan. Tidak ada guna baginya untuk mengadu jiwa dengan Yuchi Saksena.

"Lebih baik aku menghindar...dan datang lagi kemari untuk menjarah harta juragan keparat itu setelah dibunuh oleh pemuda ini" sekali genjot tubuhnya melayang ke atas benteng halaman rumah lalu lenyap ditelan gelapnya malam. 

Juragan Arya Jumadi pucat sambil menggeram.

"Bajingan pengecut....!" rutuknya sambil melirik ke arah Janardana. Sekali berkelebat, Juragan Arya Jumadi sudah berdiri berhadapan dengan Yuchi Saksena. Pandangannya tajam penuh kemarahan dan kebencian.

"Bocah tengil...aku sendiri yang akan merobek dadamu dan mencabut jantungmu!!!" bentaknya sambil meloloskan ikat pinggangnya.

"Siiiinggg...." terdengar suara berdesing, ternyata ikat pinggang itu terbuat dari baja yang tipis dan halus. Mirip dengan golok tipis milik Parta namun ini lebih licin dan tipis.

Yuchi Saksena menarik nafas panjang, perasaannya campur aduk antara sedih, senang dan juga dendam.

"Pembunuh keji...akhirnya aku akan membalaskan hutang nyawa kedua orangtuaku...!!!" suara Yuchi Saksena bergetar, sorot matanya nyalang.

"Jangan banyak bacot...kau akan segera menyusul kedua orangtuamu....mati!!!" bentak Juragan Arya Jumadi sambil menerjang dengan golok tipisnya.

Serangan yang dilancarkan oleh Juragan Arya Jumadi sangat dahsyat dan ganas. Rupanya dirinya bukanlah orang yang berilmu silat rendah, ilmu meringankan tubuh dan jurus yang digunakannya sangat cepat. Tidak heran jika Juragan Arya Jumadi berani bedagang dengan cara-cara kekerasan karena mempunyai ilmu silat yang cukup mumpuni.

Yuchi Saksena tidak mau lagi bermain-main, dikerahkan duapertiga tenaga dalam ke tangan kanannya yang memegang pedang, sinar hijau berkilauan terlihat. Dengan tidak kalah cepat disambutnya serangan dari Juragan Arya Jumadi.

"Trang....!!!" kedua senjata tersebut bertemu.

Juragan Arya Jumadi meringis kesakitan, goloknya bergetar hebat hampir terlepas dari pegangannya. Tangannya terasa kesemutan namun cepat-cepat dirinya mundur.

Yuchi Saksena tersenyum dingin.

"Hmmm...tidak sulit bagiku untuk membunuhmu. Tapi biarlah ku beri waktu untuk bernafas....ayo...serang lagi...he..he...!!!" ujar Yuchi Saksena terkekeh.

Juragan Arya Jumadi muntab luar biasa, dirinya sadar bahwa kemampuan silatnya jauh berada di bawah Yuchi Saksena. Walaupun adatnya yang sangat berangasan dan kejam namun jiwa jawaranya masih ada....mana mungkin dia menyerah begitu saja.

"Mampuslah kau....!!!" bentak Juragan Arya Jumadi, sambil kembali menerjang dengan bacokan dan juga tusukan.

Luar biasa...!!! Gerakan golok Juragan Arya Jumadi sangat cepat dan perubahan serangannya sangat sukar diduga. Semakin lama semakin cepat sehingga hanya terlihat sinar berwarna keperakan yang menggulung dan mengurung tubuh Yuchi Saksena. Dengan cerdik dirinya menghindari benturan dengan pedang milik Yuchi Saksena karena sadar bahwa tenaga dalamnya jauh berada di bawah. 

Beberapa kali Yuchi Saksena memekik tertahan karena kaget dengan serangan-serangan yang dilancarkan Juragan Arya Jumadi.

"Rupanya dia sangat cerdik...sengaja mengurungku dalam jarak rapat sehingga aku tidak bisa mengeluarkan jurus-jurus seranganku" batin Yuchi Saksena sambil menghindari serangan-serangan yang datang bertubi-tubi.

Walaupun serangan yang dilancarkan oleh Juragan Arya Jumadi tidak ada yang berhasil namun Yuchi Saksena pun sama sekali tidak ada kesempatan untuk membalas. Hal ini disebabkan oleh kecerdikan dari Juragan Arya Jumadi yang memaksanya untuk bertarung dari jarak yang sangat rapat. Kalau saja mereka bertarung dalam jarak yang sedikit renggang, pasti tidak akan sulit bagi Yuchi Saksena untuk mengkahiri perlawanan Juragan Arya Jumadi. Dengan sabar Yuchi Saksena meladeni pertarungan tersebut, dirinya sudah jauh lebih sabar dan bijak saat bertarung setelah kekalahan yang sangat memalukan oleh Kusno tempo hari.

Pertarungan sudah berjalan berpuluh jurus namun Juragan Arya Jumadi belum berhasil mendesak Yuchi Saksena. Hal ini mulai memancing emosi Juragan Arya Jumadi yang pada dasarnya memang berangasan. Juragan Arya Jumadi membentak keras lalu mempercepat gerakan goloknya mencoba untuk mengurung Yuchi Saksena. Gerakannya sangat ganas bahkan cenderung nekat. 

"Keparat...sudah hampir habis tenagaku...kalau tetap seperti ini aku bisa mati lemas" batin Juragan Arya Jumadi.

Semakin cepat dirinya bergerak menggunakan sisa-sisa tenaganya namun tetap saja tidak berhasil menyentuh tubuh lawannya hingga akhirnya dirinya berbuat curang. Tangan kirinya bergerak ke balik bajunya dan secepat kilat mengeluarkan bungkusan serbuk berwarna hitam dan menyebarkannya ke arah Yuchi Saksena sambil melompat mundur. Namun justru kecurangan inilah yang akhirnya membawa petaka bagi Juragan Arya Jumadi karena akhirnya Yuchi Saksena terlepas dari kurungan senjata dalam jarak yang rapat.

"Racun busuk....!!!" seru Yuchi Saksena kaget sambil melompat mundur namun tiba-tiba selarik angin meluncur dari belakang Yuchi Saksena menghantam tebaran racun tersebut dan berbalik ke arah Juragan Arya Jumadi.

"Bangsat...." maki Juragan Arya Jumadi sambil mencoba untuk menutup jalan pernapasannya dan menjatuhkan dirinya dan berguling-guling menjauh.

"Kakang....kau tidak apa-apa?" tiba-tiba terdengar suara perempuan dari belakang Yuchi Saksena.

"Tikus kecil...bagaimana kau bisa disini?...bukankah..." seru Yuchi Saksena kaget karena sebelum dia mendatangi rumah Juragan Arya Jumadi, dirinya sudah menotok Dewi Sekarasih dan menidurkannya di kamar penginapan. Hal ini dia lakukan karena tidak mau perempuan yang sangat dicintainya itu terancam bahaya jika ikut mendatangi Juragan Arya Jumadi.

"Kakang...kau keterlaluan...!!!" sembur Dewi Sekarasih dengan mulut cemberut. Rupanya dirinyalah yang telah memukul racun yang disebarkan oleh Juragan Arya Jumadi menggunakan pukulan jarak jauh "Guntur Bumi" andalannya.

"Tikus kecil...bagaimana kau bisa lepas dari totokanku?" Yuchi Saksena terkaget-kaget karena seingatnya dia sudah menotok jalan darah Dewi Sekarasih dengan benar dan seharusnya semalaman tidak akan bisa bergerak.

"Sudahlah Kakang...nanti aku ceritakan. Sekarang kau lihat bajingan itu mau melarikan diri...!!!" seru Dewi Sekarasih sambil menunjuk ke arah Juragan Arya Jumadi yang sudah kembali berdiri.

"Hua...ha...ha...gadis binal tidak tahu diri..Arya Jumadi pantang lari dari arena pertempuran. Kau tunggulah dipinggir...setelah aku membunuh kekasihmu ini...aku akan menidurimu....hua...ha..." Juragan Arya Jumadi tergelak sambil memandang Dewi Sekarasih bagaikan mau menerkamnya.

"Cuiiihhhh....laki-laki tidak tahu malu...nafas sudah diujung tenggorokan masih berani bicara kotor!!!" maki Dewi Sekarasih.

Juragan Arya Jumadi menyeringai sambil memeberi kode kepada Janardana yang segera melompat ke sampingnya.

"Kita keroyok bajingan itu..." bisiknya sambil kembali menerjang ke arah Yuchi Saksena.

Janardana menghunus goloknya dan ikut menerjang mengeroyok Yuchi Saksena.

"Pengecut....biar aku melayani yang satunya!" seru Dewi Sekarasih namun tangannya keburu ditahan oleh Yuchi Saksena.

"Tikus kecil...kau jangan ikut campur!!!" seru Yuchi Saksena lalu melompat lalu memapaki datangnya serangan dari Juragan Arya Jumadi dan Janardana.

"Trang...trang....!!!" terdengar bunyi beradunya senjata dua kali diikuti dengan suara pekikan tertahan.

Rupanya Yuchi Saksena sengaja menangkis golok milik kedua lawannya. Juragan Arya Jumadi meringis kesakitan sementara Janardana terbanting ke tanah dan goloknya terlempar jauh.

Yuchi Saksena tidak mau membuang waktu, tubuhnya melompat tinggi lalu bagaikan burung walet menyambar ke arah Juragan Arya Jumadi. Pedangnya mengeluarkan cahaya berwarna hijau dan bau harum cendana yang sangat pekat. Juragan Arya Jumadi terkejut bukan kepalang, diputar golok di atas kepalanya mencoba untuk menangkis datangnya pedang sambil merendahkan tubuhnya.

Yuchi Saksena tidak menghindari benturan kedua senjata tersebut malah melipatgandakan tenaga dalam di tangan kanannya.

"Traaannggg....!!!" kedua senjata beradu dan golok Juragan Arya Jumadi patah sedangkan pedang tetap melucur menghantam kepala.

"Arggggghhhhh.......!!!!" jeritan kesakitan dan kengerian terdengar lalu tubuh Juragan Arya Jumadi roboh dengan kepala hampir terbelah.

Semua yang menyaksikan memekik ngeri sambil membuang pandangan ngeri melihat keadaan tubuh Juragan Arya Jumadi. Sementara Yuchi Saksena menjatuhkan tubuhnya sambil berlutut dan pedangnya di hunjamkan di dada Juragan Arya Jumadi yang sudah terbujur kaku.

"Aaaahhhhhhhhh..................!!!" Yuchi Saksena berteriak dengan suara menggelegar seolah melepaskan semua dendam yang sudah ditahannya selama lebih dari satu tahun. Kedua tangannya dilepaskan dari pedang yang masih tertancap di dada Juragan Arya Jumadi lalu menengadah ke langit malam yang terang disinari cahaya rembulan.

"Ayah...Ibu...aku berhasil membalaskan dendam kalian....semoga kalian tenang di Nirwana..." suara Yuchi Saksena bergetar.

******

Pesta besar-besaran diadakan di seluruh kota Pakwan. Prabu Tarusbawa sengaja mengadakan pesta yang sangat besar dan meriah selain untuk merayakan pernikahan Rahiang Sanjaya dengan Putri Tejakancana juga akan mengumumkan pengunduran dirinya sebagai ratu di Karatuan Sunda. Persiapan yang sudah dilakukan hampir tiga purnama benar-benar membuat pesta itu berjalan meriah.

Hari itu, alun-alun kota Pakwan yang tidak jauh dari komplek karaton Panca Persada telah penuh dengan rakyat Karatuan Sunda yang ingin menyaksikan dan mengikuti pesta yang diadakan oleh junjungan mereka. Walaupun sebagian besar tidak mengetahui dengan pasti tujuan diadakannya pesta tersebut. Para tamu undangan yang sebagian besar berasal dari Karatuan Kalingga dan Karatuan Sriwijaya duduk berbaris di tempat yang sudah disediakan. Alun-alun tersebut juga sudah dihias sedemikan rupa oleh bunga-bunga dan daun-daun yang indah. Seak pagi bunyi tetabuhan dan musik terdengar memeriahkan suasana pesta.

Ketika Prabu Tarusbawa muncul di panggung, sorak-sorai rakyat Karatuan Sunda menggema menyambutnya. Prabu Tarusbawa memakai pakaian kebesaran, lengkap dengan tanda kekuasaan. Laki-laki tua ini nampak lebih agung dan berwibawa dari pada biasa. Dibelakangnya Putri Tejakancana memakai pakaian yang sangat indah dan juga mewah berwarna putih terbuat dari sutera Cina. Kepalanya memakai mahkota yang indah gemerlapan. Gadis muda ini nampak jauh lebih cantik dari pada biasa karena kebahagiaan... hatinya bersinar-sinar terlihat pada wajahnya, membuat pipinya kemerahan dan matanya bersinar-sinar seperti bintang. Sang Putri diapit ole Ratu Sobakancana dari Karatuan Sriwijaya yang juga merupakan bibinya dan juga Nay Suci. Keduanya walaupun masing-masing terpaut umur cukup jauh dari Putri Tejakancana namun tetap menunjukkan keanggunan dan kecantikan yang menawan.

Dibelakangnya menyusul Rahiang Sanjaya dengan wajahnya yang tampan berseri, tubuhnya yang tinggi dan tegap, pakaiannya yang indah dan gagah. Berjalan didampingi oleh sang ibunda, Ratu Sannaha yang juga berpakaian tidak kalah mewah dan juga indahnya. Hanya sayang tidak terlihat sosok Bratasennawa atau Sang Senna di panggung tersebut. Lalu berturut-turut masuk Apatih Anggada, Kai Darmaseta dan juga Senapati Wiradipati. Ketiganya menunjukkan wajah yang berseri-seri.

Setelah menerima penghormatan rakyatnya yang bersorak-sorai, keluarga karatuan ini mengambil tempat duduk yang sudah disediakan sambil mengangguk sedikit ke arah para tamu undangan yang bangkit berdiri menyambut mereka. Kemudian Apatih Anggada bangkit berdiri, maju ke pinggir panggung sehingga tampak oleh semua yang hadir, dengan suara lantang mengumumkan bahwa Gusti Prabu Tarusbawa  yang mulia berkenan hendak menyampaikan sebuah kabar gembira kepada rakyatnya. Tepuk-sorak gegap-gempita menyambut pengumuman ini, terus bergemuruh ketika Prabu Tarusbawa bangkit berdiri di pinggir panggung dengan sikap agung.

Prabu Tarusbawa tersenyum lebar, mata tuanya bersinar-sinar, hatinya terharu menyaksikan cinta kasih dan penghormatan rakyat Karatuan Sunda kepadanya. Ia mengangkat lengan ke atas dan berhentilah sorak-sorai itu. Keadaan seketika menjadi sunyi sekali, seolah-olah di situ tidak ada orang, seolah-olah semua orang yang hadir menahan napas untuk mendengarkan suara Prabu mereka.

Setelah menarik nafas panjang,

“Rakyatku sekalian....” suara Sang Prabu terdengar berat namun lantang dan nyaring. Semua yang berada di alun-alun tersebut dapat mendengarnya dengan jelas, maklum saja suara tersebut dibarengi pengerahan tenaga dalam yang mumpuni.

“Sebagian dari kalian mungkin sudah tahu atau mendengar, untuk apa pesta ini diadakan......" Prabu Tarusbawa menghentikan ucapannya sambil tersenyum mengedarkan pandangan ke seluruh rakyatnya yang hadir seolah menantikan jawaban. Namun tidak ada seorangpun yang berani bersuara hanya saling pandang di antara mereka sambil tersenyum.

".......yaitu untuk merayakan beberapa hal yang sangat membahagiakan bagi keluarga keraton dan tentu saja kebahagiaan bagi seluruh rakyat Karatuan Sunda. Seperti sudah berjalan beratus tahun sebelumnya dari jaman nenek moyang kita, wilayah karatuan terbentang dari Sungai Cipamali di tebeh wetan dan pasisir sagara Banten di tebeh kulon" sejenak Prabu Tarusbawa menarik nafas panjang.

"Namun karena ada pandangan yang berbeda akhirnya kita berpisah jalan dengan sebagian saudara kita di wilayah tebeh wetan. Namun sudahlah itu adalah cerita masa lalu yang akan selalu kita ingat. Yang terpenting adalah hari ini...cucu kesayanganku...Putri Tejakancana akan menikah dengan seorang pemuda gagah perkasa putra dari Ratu Sannaha Yang Agung penguasa Karatuan Kalingga. Setelah pernikahan...maka aku akan mengundurkan diri untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widi. Selanjutnya cucuku putri Tejakancana akan mendampingi suaminya Rakean Jambri untuk memimpin kalian semua. Aku harap kalian selalu mendukung apapun keputusan mereka berdua. Semoga Sang Hyang Widhi merestui....."

Pengumuman Prabu Tarusbawa jelas mengandung pesan politik bagi sebagian petinggi Karatuan Sunda maupun para tamu undangan dari karatuan tetangga. Dimana dengan jelas dirinya menyebutkan kejayaan karatuan di masa lalu yang wilayahnya terbentang luas dari kulon sampai wetan. Tetapi karena perbedaan pandangan maka terjadi perpisahan wilayah. Namun sama sekali dirinya tidak mau menyinggung nama Karatuan Galuh bahkan Rahiang Sanjaya alias Rakean Jambri pun disebutnya sebagai putra penguasa Karatuan Kalingga. Sama sekali tidak menyebutkannya sebagai keturunan penguasa Karatuan Galuh. Apakah Sang Prabu menginginkan kembalinya wilayah karatuan seperti di masa lalu? Sebagian besar petinggi dan tamu undangan mengartikannya demikian!
 
Sorak sorai rakyat pecah saat Prabu Tarusbawa menyelesaikan pengumumannya. Rahiang Sanjaya alias Rakean Jambri memegang tangan ibundanya lalu berdiri dan berjalan ke samping Prabu Tarusbawa diikuti oleh Putri Tejakancana yang matanya basah oleh air mata kebahagiaan. Keduanya berdiri berdampingan di samping kanan Prabu Tarusbawa lalu membungkukkan badannya ke arah rakyatnya yang masih bersorak sorai. Pesta berlangsung sampai tujuh hari tujuh malam...pihak karatuan menyediakan makanan dan minuman yang sangat lezat dan mewah bagi rakyatnya.