Kidang dan Zhian Liu saling pandang.

"Lebih baik kita kabur...." bisik Kidang.

Keduanya memutar tubuh bersiap meninggalkan pelataran kuil tersebut namun Yuchi Saksena sudah berdiri menghalangi mereka berdua. Senyumannya dingin dan sorot matanya menggidikkan.

"Aih...Koko...aku tidak ikut campur dengan penculikan kekasihmu....aku hanya meminjamkan kuil ini kepada mereka..." ujar Zhian Liu panik sambil membungkukkan badannya.

"Bajingan...kau tunjukkan dimana Sekarasih sekarang berada...kalau tidak...aku akan mencabik-cabik tubuh kalian berdua" ancam Yuchi Saksena dingin.

"Kekasihmu ada di ruangan belakang kuil ini Koko...silakan kau bebaskan dia..." jawab Zhian Liu sambil menunjuk ke arah belakang kuil.

"Sekarang ijinkan aku meninggalkan tempat ini Koko..." sambungnya.

Yuchi Saksena tersenyum sinis.

"Sreettt...."

Bagaikan kilat tangannya menghunus pedang dari punggungnya dan berkelebat mencengkram baju Zhian Liu. Pedang berwarna kehijauan yang mengeluarkan wangi harum cendana tersebut telah menempel di leher Zhian Liu.

"Kau tunjukkan tempatnya...dan jangan sekali-kali mencoba mengkhianatiku..." sergahnya sambil mendorong tubuh Zhian Liu.

"Ba...baik...Koko...." Zhian Liu pucat pasi.

Zhian Liu berjalan ke arah belakang kuil dengan pedang milik Yuchi Saksena menempel di lehernya.

"Hiiiyyyyaaa....."

Tanpa di duga...Kidang yang luput dari perhatian Yuchi Saksena, dengan ganas menyerang kepala bagian belakang dengan tongkat besinya.

"Crack.....Arghhhhh...."

Entah kapan bergeraknya Yuchi Saksena telah melenting beberapa deupa ke atas lalu balik menyerang Kidang dengan pedangnya. Terdengar suara jeritan setinggi langit disusul dengan ambruknya tubuh Kidang dengan leher yang hampir putus.

"Manusia rendah tidak tahu diuntung..." dengus Yuchi Saksena, pedangnya yang berlumuran darah telah menempel kembali di tengkuk Zhian Liu yang bergidik ngeri. Darah Kidang yang menempel di ujung pedang Yuchi Saksena membasahi tengkuknya.

"Koko...mohon jangan bunuh aku..." Zhian Liu mengiba.

"Cepat jalan..." gertak Yuchi Saksena sambil mendorongkan pedangnya.

Terasa perih di tengkuk Zhian Liu. Dengan penuh rasa takut dirinya berjalan menuju bagian belakang kuil di bawah ancaman pedang Yuchi Saksena yang sewaktu-waktu bisa saja membuat putus lehernya. Zhian Liu menghentikan langkahnya di depan sebuah bangunan yang terpisah dari bangunan utama kuil.

"Koko...kekasihmu ada di sana..." ujar Zhian Liu sambil menunjuk ke arah pintu.

"Kau bukalah pintunya...jangan sekali-kali berbuat konyol atau kau akan mati" dengus Yuchi Saksena sambil menendang punggung Zhian Liu.

Dengan perlahan Zhian Liu mendorong pintu bangunan tersebut.

"Kreeekkk...."

Pintu terbuka dan Zhian Liu melirik ke arah Yuchi Saksena.

"Silakan Koko..." ujarnya mempersilakan.

Yuchi Saksena menyarungkan pedangnya lalu berjalan mendekati pintu tersebut. Sekali tangannya bergerak, Zhian Liu tertotok berdiri mematung tidak bisa menggerakkan badannya ataupun berbicara.

Perlahan-lahan penuh kewaspadaan Yuchi Saksena melangkah memasuki bangunan tersebut.

"Tikus Kecil....!"

Yuchi Saksena berseru tertahan melihat Dewi Sekarasih tergolek dengan tubuh terikat dan mulut yang disumpal di atas sebuah dipan kayu.

"Shhh...shhh...." Dewi Sekarasih mencoba memanggil Yuchi Saksena namun karena muutnya disumpal hanya terdengar suara yang tidak jelas.

Dewi Sekarasih girang bukan main melihat kedatangan Yuchi Saksena. Dengan cepat Yuchi Saksena melepas semua ikatan di tubuh Dewi Sekarasih termasuk kain yang menyumpal mulutnya. Kedua matanya berkaca-kaca dibimbingnya Dewi Sekarasih untuk duduk lalu dipeluknya dengan erat.

"Tikus kecil...maafkan aku...kau tidak apa-apa?" ujar Yuchi Saksena panik dan juga senang.

"Kha...kang...aku tidak bisa bernafas...."  keluh Dewi Sekarasih mencoba sedikit mendorong tubuh Yuchi Saksena. Diujung bibirnya tersungging sebuah senyuman.

"Ah...oh...maaf tikus kecil...aku terlalu senang..." ujar Yuchi Saksena sambil melonggarkan tangannya yang melingkari tubuh Dewi Sekarasih. Namun badannya masih menempel di tubuh Dewi Sekarasih seolah takut akan kehilangan lagi.

"Kakang...aku tidak apa-apa...mereka menculikku hanya untuk memancing kedatanganmu...kau jangan khawatir...aku tidak apa-apa..." ujar Dewi Sekarasih lembut sambil telapak tangannya mengusap lembut kedua pipi Yuchi Saksena.

Sesaat keduanya berpandangan dengan pandang mata penuh kerinduan dan takut kehilangan.

"Kakang...aku sempat takut tidak bisa bertemu lagi denganmu" desah Dewi Sekarasih dengan mata berkaca-kaca.

"Aku juga...aku juga...sangat takut kehilanganmu...." bisik Yuchi Saksena sambil mendekatkan wajahnya.

"Kakang...." seluruh tubuh Dewi Sekarasih bergetar saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Yuchi Saksena.

Sesaat bibir kedua pasangan muda yang dimabuk asmara itu bertemu....buat Dewi Sekarasih ini adalah ciuman bibir pertama yang diterimanya dari seorang pria. Dirinya tidak tahu harus berbuat apa sementara Yuchi Saksena merasakan bawa gadis cantik yang berada dalam dekapannya masih lah polos dan tidak berpengalaman.

Perlahan Yuchi Saksena menjauhkan bibirnya dari bibir Dewi Sekarasih lalu melepaskan pelukannya sementara Dewi Sekarasih masih terpejam dengan tubuh yang kaku. Sesaat Yuchi Saksena menatap wajah cantik yang kemerahan tersebut.

"Tikus kecil...aku tidak boleh berbuat gegabah kepadamu..." batinnya sambil mengusap pipi Dewi Sekarasih.

"Kakang..." desah Dewi Sekarasih sambil membuka matanya.

Keduanya berpandangan lalu dengan gugup membuang muka dengan wajah yang merah padam. Yuchi Saksena segera bangkit dari duduknya dengan gugup.

"Ah...euh...tikus kecil..kita harus segera pergi dari sini...." ujarnya sambil membalikkan badannya berjalan ke arah pintu ke luar.

"Tunggu Kakang...pedangku dirampas oleh mereka" jawab Dewi Sekarasih lalu bangkit dan mencari-cari pedangnya yang dirampas oleh Zhian Liu dan Kidang.

"Siapa yang telah merampas pedangmu?" tanya Yuchi Saksena sambil membantu mencari-cari ke bawah dipan dan pojok ruangan tersebut.

"Dia...dia yang sudah merampas pedangku..." jawab Dewi Sekarasih sambil menunjuk ke arah Zhian Liu.

Saat melintasi Zhian Liu yang berdiri mematung di depan lubang pintu, tangan Dewi Sekarasih berkelebat dengan cepat mengerahkan jurus pukulan "Guntur Bumi". Sebuah pukulan tangan kosong andalannya yang diperolehnya dari Ki Kanaka.

"Dasar pengecut...kau tidak layak hidup....!!!" maki Dewi Sekarasi murka.

"Buukkk....arghhh..." Zhian Liu terpental ke luar saat telapak tangan kanan Dewi Sekarasih menghantam dadanya. Luar biasa...karena tenaga dalam Dewi Sekarasih sudah meningkat pesat, walaupun hanya mengerahkan sepertiganya namun hasilnya cukup membuat Zhian Liu hampir ati. Totokannya terlepas, mukanya meringis kesakitan sambil tangan kanannya memegangi dada, darah segar merembes dari ujung bibirnya.

Yuchi Saksena melirik sekilas.

"Bangun kau bajingan tengik...tunjukkan dimana pedang miliku...!!!" sergah Dewi Sekarasih kepada Zhiu Liu yang masih terkapar.

"Aku akan menyerahkan pedangmu...tapi...tapi kalian harus mengampuni dan membebaskan aku..." rengek Zhian Liu memohon sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

"Hmmm...kita lihat saja nanti...sekarang serahkan dulu pedangku...!!" ujar Dewi Sekarasih.

Zhian Liu bangkit sambil tetap memegangi dadanya.

"Pedang milikmu ada di dalam kuil...kau ambil saja sendiri" ujarnya pelan.

"Kau pikir kami akan percaya ucapanmu...kau ambil dan serahkan kepadanya...!!!" bentak Yuchi Saksena muntab melihat kelakuan Zhian Liu.

"Ba..baik...." jawab Zhian Liu keder, kalau menghadapi Dewi Sekarasih, dirinya masih berani tetapi melawan Yuchi Saksena tidak ada kesempatan baginya untuk menang.

Namun tiba-tiba Zhian Liu tersenyum licik sambil memandang ke arah timur kuil. Terlihat dua ekor kuda sedang berpacu menuju ke arah mereka.

"Hmm...sepertinya kalian berdua jangan dulu merasa senang...masih ada dua kawan yang ingin bertemu dengan kalian" ujar Zhian Liu dengan senyum yang memuakkan.

Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih serempak melirik ke arah datangnya dua orang berkuda yang baru saja tiba. Penunggangnya melompat turun, mereka adalah Jarot dan Wiji. Keduanya melirik kearah Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

"Liu...di mana Kusno dan yang lain?" tanya Jarot kepada Zhian Liu sedangkan Wiji menganggukkan kepalanya kepada Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

"Kakang...kau masih ingat laki-laki itu?" bisik Dewi Sekarasih kepada Yuchi Saksena.

"Iya Tikus Kecil...kita sempat menginap di rumahnya..." jawab Yuchi Saksena pelan dengan pandangan yang dingin.

"Kusno dan yang lainnya sudah mati dibunuh oleh dia....!!!" telunjuk Zhian Liu menunjuk ke arah Yuchi Saksena. Keberaniannya kembali timbul setelah kedatangan Jarot dan Wiji.

Jarot melirik ke arah Yuchi Saksena dengan tajam.

"Bajingan...kau telah membunuh dua orang temanku...siapa kau sebenarnya?" sergah Jarot muntab mendengar kematian Kusno.

"Kupikir kalian sudah tahu siapa diriku dan apa tujuanku...." jawab Yuchi Saksena tenang.

"Tapi baiklah...namaku adalah Yuchi Saksena putra dari Jaka Saksena dan Yuchi Meiyang yang kalian bunuh di Palabuhan Sunda Kalapa sepuluh tahun yang lalu...sedangkan tujuanku sudah jelas...adalah menuntut balas atas perbuatan kalian" sambungnya sambil melangkah ke depan satu langkah.

"Ha...ha...bocah ingusan mimpimu terlalu jauh...bukan hanya akan gagal membalas dendam tapi juga akan ku kirim kau menyusul kedua orangtuamu...ha...ha..." Jarot tergelak sambil menghunus golok besarnya. 

Sementara Wiji menarik nafas panjang.

"Dewata Agung...rupanya hari ini adalah waktu pembalasan atas semua perbuatan jahatku dimasa lalu...tapi ijinkan aku untuk bertarung mempertahankan hidupku. Bukan untuk menghindari semua dosaku tapi untuk menghargai hidup yang telah kau anugerahkan kepadaku" batin Wji sambil mengusap mukanya.

"Tikus kecil...kau minggirlah...awasi bajingan licik yang telah merampas pedangmu...hati-hati dia sangat licin dan licik" bisik Yuchi Saksena kepada Dewi Sekarasih.

"Kakang...berhati-hatilah...." jawab Dewi Sekarasih lalu melangkah mundur, sudut matanya tidak lepas mengawasi Zhian Liu.

Wiji melangkah ke depan lalu membungkukkan tubuhnya ke arah Yuchi Saksena.

"Anak muda...aku minta maaf kepadamu atas kejadian sepuluh tahun lalu...saat itu aku hanya menjalankan tugas. Aku tidak memohon ampunan tapi ijinkan aku untuk mati dengan cara yang terhormat" ujarnya lalu memasang kuda-kuda.

Yuchi Saksena menyeringai.

"Jangan banyak bicara...aku berjanji akan memberimu kematian yang indah di dalam arena pertarungan" ujarnya.

Wiji maju lalu menerjang ke arah Yuchi Saksena dengan pukulan berisi tenaga dalam, kedua tangannya berubah menjadi merah. Yuchi Saksena menggeser tubuhnya untuk menghindari pukulan Wiji. Yuchi Saksena berhasil menghindari pukulan tersebut namun tiba-tiba dari kepalan tangan Wiji menyambar sinar merah ke arah mukanya. Yuchi Saksena kaget bukan kepalang sambil dengan cepat melangkah mundur. Sinar merah itu berhasil dihindarinya namun hawanya yang terasa sangat panas masih terasa diwajah.

Dengan cepat Yuchi Saksena mencelat ke belakang, jelaslah terlihat bahwa diantara empat orang yang membunuh kedua orangtuanya, Wiji lah yang memiliki ilmu paling tinggi. Wiji kembali menerjang maju, dari kedua kepalan tangannya keluar sinar merah yang menyebarkan hawa yang sangat panas. Yuchi Saksena mengerahkan setengah tenaga dalamnya untuk menangkis serangan Wiji sekaligus untuk menguji kekuatan lawan.

Kedua lengan yang mengandung tenaga dalam tinggi bertemu, Wiji terkesiap kaget bukan main. Ia merasa tenaganya seolah tenggelam dan terserap oleh lengan Yuchi Saksena yang terasa begitu lunak. Pukulannya yang berisi tenaga dalam dan berhawa panas seolah tidak berarti bahkan terasa ada aliran hawa dingin yang menjalar dari tangannya sampai ke pangkal lengan. Dengan cepat Wiji menarik lengannya yang menempel di lengan Yuchi Saksena lalu melompat mundur, hanya itulah satu-satunya cara menyelamatkan dirinya sebelum Yuchi Saksena sempat menyerangnya balik.

"Luar biasa....ilmu apa yang dimilikinya..." batin Wiji sambil mengatur nafasnya.

Melihat hal tersebut, Jarot tertawa bergelak.

"Ha...ha...ha...rupanya boleh juga kemampuanmu bocah ingusan...pantas saja kau berani jual lagak. Kau hadapilah golok milikku !!!" ujar Jarot lalu menerjang ke arah Yuchi Saksena.

Cahaya hitam bergulung-gulung membentuk garis dan lingkaran mengarah ke bagian-bagian tubuh Yuchi Saksena. Ini adalah jurus golok andalan Jarot yang selama berpuluh tahun digunakannya untuk menguasai Palabuhan Pamalang bersama ketiga temannya.

"Hmmm...kalian pengecut-pengecut anjing piaraan Arya Jumadi...majulah sekalian!" Yuchi Saksena menyeringai.

Secepat kilat Yuchi Saksena berkelebat diantara cahaya hitam yang mengurungnya, kemudian membalas serangan Jarot dengan sebuah tendangan. Jarot menangkis tendangan itu dengan tangan kirinya. Ketika kakinya berbenturan dengan tangan kiri Jarot, tubuh Yuchi Saksena  mecelat meminjam tenaga tangkisan Jarot. Tubuhnya melenting ke arah Wiji sambil mengirimkan sebuah pukulan ke arah dada.

Sungguh cepat dan tidak terduga serangan itu. Wiji mencoba menangkis sambil melompat mundur namun walaupun demikian tubuhnya terdorong hebat. Tubuh Wiji terlempar dan bergulingan di atas tanah. Namun Wiji memang bukanlah orang sembarangan, dengan cepat berdiri lalu balik menerjang ke arah Yuchi Saksena.

Dari kedua tangan Wiji menyambar dua larik sinar merah yang menyebarkan hawa yang sangat panas mengarah ke arah dada. Namun sepertinya Yuchi Saksena tidak berusaha menghindar tetapi malahan menyambutnya dengan kedua tangan terpentang lebar. Tak ayal lagi tangan keduanya bertemu. Lagi-lagi Wiji merasakan tangannya membentur sesuatu yang sangat lunak dan mengalirkan hawa yang sangat dingin di seluruh tanganya.

Wiji menarik kembali kedua tangannya namun gagal. Tangannya seolah menempel di tangan Yuchi Saksena sementara tenaganya seperti terus tersedot.

Yuchi Saksena menyeringai dingin lalu mendorongkan kedua tangannya.

"Hiiiyyyyyaaaa......" disertai bentakan yang menggelegar seolah meruntuhkan jantung.

Wiji terlempar beberapa deupa lalu berguling-guling di atas tanah tidak bergerak.

"Keparat....mati kau!!!" tiba-tiba Jarot menerjang ke arah Yuchi Saksena yang masih berdiri mengatur nafasnya.

"Aarrgggghhhhh....." terdengar jeritan yang menggidikan.

Dewi Sekarasih dan Zhian Liu melengak seolah tidak percaya, Yuchi Saksena dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya berputar menghindari datangnya golok Jarot. Dengan ganas Yuchi Saksena meraih tangan yang memegang golok lalu memutar arahnya. Kedua mata Jarot mendelik saat dadanya ditembus golok miliknya sendiri. Jarot mati dengan mengenaskan.

Yuchi Saksena menarik nafas panjang sambil mengusap wajahnya dan sesaat memejamkan matanya. Tidak ada yang berani bersuara, Dewi Sekarasih terpaku sementara Zhian Liu pelan-pelan melangkah mundur mencoba untuk melarikan diri. Namun rupanya Dewi Sekarasih sudah mencium gelagat itu, dengan cepat dirinya melompat dan mengirimkan sebuah tendangan ke kepala Zhian Liu.

Serangan itu tidak kalah cepat dengan gerakan Yuchi Saksena. Zhian Liu tergagap mencoba untuk menghindar namun tetap saja kaki Dewi Sekarasih menghantam pundaknya.

"Buukkkkk..." Zhian Liu terkapar.

"Ampun...jangan bunuh aku..." Zhian Liu memohon.

Dewi Sekarasih memutar tubuhnya lalu berkelebat masuk ke dalam kuil untuk mencari pedang kuning miliknya. Setelah mengobrak-abrik seluruh ruangan di dalam kuil, akhirnya Dewi Sekarasih menemukan pedang miliknya.

Setelah mengikatkan pedangnya di punggungnya, Dewi Sekarasih melangkah kembali ke luar kuil. Dilihatnya Yuchi Saksena sedang mencengkram leher Zhian Liu.

"Kakang...biarkan aku menghukumnya...dia sudah berani berbuat kurang ajar kepadaku!" seru Dewi Sekarasih sambil bergegas menghampiri mereka.

"Tikus kecil...apa yang sudah dilakukannya kepadamu?" tanya Yuchi Saksena tanpa melepaskan cengkeramannya.

"Dia...dia...kurang ajar...dia menggerayangi tubuhku..." jawab Dewi Sekarasih terbata-bata karena malu.

"Keparat busuk...." Yuchi Saksena muntab mendengar kelakuan mesum Zhian Liu kepada kekasihnya. Sekali lempar tubuh Zhian Liu meluncur deras menghantam pagar belakang kuil yang terbuat dari tumpukan batu. Kepalanya remuk.

*****

Panas Matahari seakan membakar seluruh permukaan bumi. Hari yang terang, langit bersih menunjukkan warna biru tanpa disaput awan. Sungai Citarum yang merupakan batas pemisah kekuasaan Karatuan Sunda dan Karatuan Galuh seolah tidak merasakan teriknya matahari. Di sepanjang sungai yang mengalir deras dari hulu Situ Cisanti di kaki Gunung Windu ke hilir di sekitar Kota Sundapura, banyak tumbuh pohon yang menghijau sehingga bisa menyerap panasnya gempuran sinar matahari. Semua hawa panas tersebut seolah diserap habis oleh sungai yang sangat lebar dan dalam tersebut.

Kapal-kapal besar yang mengangkut hasil tani dari pedalaman sesekali terlihat melintas seolah mengabaikan panasnya hawa siang itu. Hanya saja para nelayan yang biasanya menjala atau memancing ikan tidak terlihat berkeliaran, mungkin sengaja menghindari panasnya sinar matahari. 

Sebuah perahu kecil terlihat melintas dari arah daratan Karatuan Galuh menuju ke seberang yang merupakan daratan kekuasaan Karatuan Sunda. Di atas perahu terlihat sepasang laki-laki dan perempuan berusia setengah baya.Yang perempuan berusia sekitar empatpuluhan tahun terlihat cantik dan manis. Berdiri tegak diujung perahu dengan berpayung hias buatan negeri Cina. Rambutnya yang hitam dibiarkan tergerai menyisakan keindahan anak-anak rambut yang terurai tertiup angin. Mukanya ngadaun seureuh bak telur dibelah dua. Sorot matanya yang tajam menyiratkan keteguhan hati dan juga kecerdasan dari pemiliknya. Hidungnya bangir dan bibirnya yang merah merekah seolah memikat dan membangkitkan gairah laki-laki manapun yang melihatnya.

Walaupun sudah tidak muda lagi tetapi kulitnya yang kuning umyang masih kencang dan halus. Kedua pipinya yang dihiasi sepasang lesung pipit terlihat kemerahan dibakar matahari. Butiran keringat terlihat di dahinya. Pakaiannya berwarna putih terbuat dari sutera Cina. Sementara di bagian belakang perahu,  seorang laki-laki berusia sekitar limapuluh tahunan tapi terlihat masih gagah berpakaian hitam-hitam dengan iket barangbang semplak, ciri khas iket yang biasa digunakan oleh para jawara. Laki-laki itu mendayung dengan cepat menyeberangi sungai Citarum.

"Nyai...lebih baik kau gunakan penutup kepala...aku tidak mau kulitmu terbakar seperti itu" ujar laki-laki itu sambil tetap mendayung.

Perempuan itu mengangkat matanya memandang kepada laki-laki tersebut lalu tersenyum manis.

"Tidak apa-apa Kakang...aku lebih senang berpayung seperti ini. Lagipula sebentar lagi kita akan sampai di seberang...di sana kita bisa mengaso sebentar" jawab perempuan itu sambil mengusap butiran keringat di dahinya.

Ternyata pasangan itu adalah Senapati Wirajati dan Pwah Kenanga. Keduanya yang dikabarkan menghilang dari Kota Karangkamulyan. Tidak disangka saat ini mereka berdua sedang menyebrang ke wilayah Karatuan Sunda.

Bagaimana ceritanya Senapati Wirajati dan Pwah Kenanga bisa menghilang dari Kota Karangkamulyan? Kita tarik balik ke kejadian beberapa purnama sebelumnya (Rahiang Sanjaya #30)

Saat Senapati Wirajati membunuh Kunta dan Santika menggunakan pisau kecil miliknya, Pwah Kenanga benar-benar kaget bukan kepalang. Tidak menyangka terjadi peristiwa yang sama sekali diluar perkiraannya.

"Nyai...cepat kita harus segera meninggalkan tempat ini" ujar Senapati Wirajati sambil mencabut pisau kecil yang menancap dileher Kunta. Dibersihkannya pisau tersebut dengan mengusap-usapkannya dipakaian Kunta. Pwah Kenanga masih melongo sambil menutup mulutnya yang terbuka lebar.

"Kakang...kenapa kau lakukan itu?" tanya Pwah Kenanga seolah tidak percaya.

"Sudahlah Nyai...kita harus bergegas....nanti aku jelaskan" jawab Senapati Wirajati sambil mendorong dipan kayu bekas Pwah Kenang tidur.

Ternyata di bawah dipan kayu itu ada sebuah lubang rahasia yang ditutupi tikar papan dan tikar...sekilas tidak akan terlihat.

"Nyai...kau turun duluan ikuti lorong itu....bawalah ini...aku akan menyusulmu" ujar Senapati Wirajati sambil mengambil sebuah buntelan yang sepertinya sengaja disimpan di atas lemari lalu menyodorkannya ke arah Pwah Kenanga.

Pwah Kenanga menyambut buntelan itu yang ternyata cukup berat.

"Apa isi buntelan ini Kakang?" tanya Pwah Kenanga penasaran.

"Itu bekal untuk kita melarikan diri dari Karatuan Galuh...cepat Nyai...nanti keburu ada prajurit yang datang" desak Senapati Wirajat.

Pwah Kenanga tidak banyak bertanya lagi dan menyambut buntelan yang disodorkan oleh Senapati Wirajati lalu langsung melompat ke dalam lubang tersebut. Sementara Senapati Wirajati membuka pintu lemari dan kembali mengeluarkan dua buah buntelan lagi. Kemudian dengan hati-hati menuruni lorong dan menarik kembali posisi dipan kayu dan memasang penutup dan tikar di atas lubang.

Lorong tersebut ternyata mengarah ke bagian luar benteng rumah sehingga luput dari pengawasan para prajurit pengawal. Sejak saat itu Senapati Wirajati dan Pwah Kenanga buron dari Kota Karangkamulyan. Sampai akhirnya siang ini keduanya terlihat menyeberangi perbatasan menuju ke Karatuan Sunda.

Kembali kepada Senapati Wirajati dan Pwah Kenanga yang sedang menyeberangi Sungai Citarum. Senapati Wirajati adalah bekas seorang senapati kepercayaan Prabu Wiratara yang juga mahir dalam peperangan di laut atau di sungai. Jadi buatnya menyeberangi Sungai Citarum bukanlah hal yang menyulitkan. Setibanya di seberang, Senapati Wirajati melompat turun ke darat lalu mengikatkan tali perahu kesebuah pohon yang cukup besar.

"Ayo Nyai...." Senapati Wirajati menjulurkan tangannya membimbing Pwah Kenanga menuruni perahu.

"Kau tunggulah di bawah pohon...biar aku menurunkan semua barang bawaan" sambungnya.

Pwah Kenanga menuruti semua ucapan Senapati Wirajati lalu menjatuhkan pantatnya di atas akar pohon. Kedua matanya yang jeli mengawasi Senapati Wirajati yang menurunkan barang bawaan mereka. Setelah selesai, Senapati Wirajati menyodorkan bumbung bambu berisi minuman.

"Nyai minumlah dulu...." ujarnya mesra sambil duduk di samping Pwah Kenanga.

Pwah Kenanga menyambut bumbung bambu tersebut dan membuka penutupnya lalu dengan lahap diteguknya.

"Glek...glek...."

"Terima kasih Kakang...." setelah menandaskan beberapa teguk, bumbung bambu itu diserahkan kembali kepada Senapati Wirajati.

"Nyai...apa rencanamu selanjutnya?" tanya Senapati Wirajati.

Mendengar pertanyaan seperti itu, Pwah Kenanga melemparkan pandangannya ke arah sungai. Hatinya benar-benar resah tidak menentu, dalam hati kecilnya dia sangat ingin membantu Rahiang Sanjaya merebut kembali tahta Karatuan Galuh dari tangan Prabu Purbasora. Tetapi di sisi lain dirinya pun bimbang jika harus berhadapan dengan Apatih Bimaraksa, walau bagaimanapun masih ada rasa yang tertinggal di hatinya.

Pwah Kenanga menghela nafas panjang.

"Entahlah Kakang...aku masih bingung....aku tidak punya tujuan...." keluhnya dengan suara pelan.

Senapati Wirajati menatap Pwah Kenanga dengan penuh rasa sayang, dirinya tahu luka hati yang ditinggalkan Apatih Bimaraksa di hati Pwah Kenanga.

"Nyai...kalau kau ragu...lebih baik kita mencari tempat tinggal sementara sampai kau memutuskan langkah selanjutnya..." ujar Senapati Wirajati.

Pwah Kenanga menatap wajah Senapati Wirajati.

"Kakang...aku sangat berhutang budi kepadamu...tidak mungkin aku menambah lagi beban itu...." ujarnya.

"Tidak Nyai...jangan berbicara seperti itu...sudah berapa kali aku sampaikan...aku jatuh cinta sejak pertama kali kita bertemu...aku rela melakukan apapun untukmu..." ujar Senapati Wirajati.

Pwah Kenanga menatap Senapati Wirajati dengan kedua mata berkaca-kaca, entah kenapa dirinya merasa terenyuh oleh ketulusannya. Sejak melarikan diri dari Kota Krangkamulyan, senapati gagah itu sudah menunjukkan ketulusan yang luar biasa kepadanya.

"Kakang...aku...." ucapan Pwah Kenanga dipotong oleh Senapati Wirajati.

"Nyai...jangan khawatir, aku akan menunggumu sampai luka dihatimu sembuh dan siap menerima kehadiranku..." ujar Senapati Wirajati tegas namun juga terasa penuh luka. Dirinya menyangka bahwa Apatih Bimaraksa lah yang membuat Pwah Kenanga ragu.

"Rakean...semoga kau menemukan jodoh yang sepadan denganmu..." keluh hati Pwah Kenanga mengingat pemuda gagah yang telah menyembuhkan luka dan mengisi hatinya akhir-akhir ini.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #3