PUTRI TEJAKANCANA


Pagi itu matahari cerah sekali, sinarnya yang keemasan menerobos ke kamar tidur Rahiang Sanjaya.

"Hmm...aku sudah berada di kota Sundapura...sebaiknya aku bergegas menemui Gusti Prabu Tarusbawa...tapi bagaimana caranya?" batin Rahiang Sanjaya bingung, pandangannya lurus ke arah jendela mengamati para pegawai Kai Darmaseta dan Nay Suci yang sedang sibuk membersihkan pekarangan.

"Apakah aku langsung meminta tolong kepada Kakang Darmaseta untuk bertemu Gusti Prabu Tarusbawa?" gumamnya gundah sambil melangkah ke luar kamar. Dilihatnya di ruangan tengah sudah tersedia hidangan yang masih mengepul di atas meja.

"Rupanya sudah ada sarapan...lebih baik aku mandi dulu baru sarapan..." batin Rahiang Sanjaya sambil menuju ke arah belakang rumah yang samar-samar terdengar suara pancuran air.

Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Rahiang Sanjaya menyantap beberapa potong ubi rebus dan dua cangkir minuman jahe hangat.

"Sebaiknya hari ini aku berjalan-jalan saja dulu di kota Sundapura...baru nanti bicara dengan Kakang Darmaseta" Rahiang Sanjaya memutuskan untuk berkeliling kota Sundapura terlebih dahulu.

Rahiang Sanjaya menuruni tangga rumah yang ditempatinya, sekilas dilihatnya rumah utama masih sepi.

"Ah...Kakang Darmaseta dan Ceuceu Suci masih belum terlihat, mungkin masih beristirahat kecapaian..." Rahiang Sanjaya melangkah menuju ke arah gerbang rumah.

"Juragan Anom...Juragan Anom...tunggu..huh..tunggu..." tiba-tiba Bi Narsih memanggilnya sambil menuruni tangga rumah utama.

Rahiang Sanjaya menghentikan langkahnya lalu berbalik menunggu Bi Narsih yang terengah-engah berlari ke arahnya.

"Ya...Bi, ada apa?" tanya Rahiang Sanjaya setibanya Bi Narsih di hadapannya.

Sesaat Bi Narsi mengatur nafasnya.

"Ampun Juragan Anom...hendak kemana gerangan?...Bi Narsih sudah menyiapkan sarapan di ruangan tengah...apakah sudah di makan?" tanyanya.

"Sudah...terima kasih ya Bi...minuman jahenya nikmat luar biasa..." jawab Rahiang Sanjaya sambil tersenyum.

"Aku hendak berjalan-jalan di sekitar kota...tolong Bi Narsih sampaikan kepada Juragan ya..." sambungnya ramah.

"Baik Juragan Anom...hamba akan minta Mang Karsa untuk siapkan kuda dan juga beberapa orang pengawal untuk menemani Juragan Anom" ujar Bi Narsih.

"Tidak perlu kuda dan juga pengawal...aku akan berjalan kaki saja di sekitar sini...Bi Narsih jangan khawatir..." Rahiang Sanjaya sambil menepuk bahu Bi Narsih.

"Tapi...Juragan bisa marah kalau tahu Juragan Anom pergi sendiri..." Bi Narsih tetap khawatir.

"Sudahlah Bi...tidak apa-apa...aku pergi dulu ya..." Rahiang Sanjaya berbalik lalu melanjutkan langkahnya ke arah pintu gerbang.

Bi Narsih mengikuti langkah Rahiang Sanjaya.

"Biar Bi Narsih antar sampai gerbang..." ujarnya lalu melangkah cepat mendahului Rahiang Sanjaya sambil menundukkan tubuhnya.

Bi Narsih berbicara dengan beberapa orang pengawal yang bertugas di pintu gerbang. Setelah menoleh ke arah Rahiang Sanjaya dua orang pengawal segera membukakan pintu gerbang.

"Juragan Anom...hati-hati ya...kalau ada apa-apa segera kembali..." ujar Bi Narsih seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya.

"Jangan khawatir Bi Narsih...aku tidak akan lama..." ujar Rahiang Sanjaya sambil menganggukkan kepalanya kepada para pengawal.

"Silakan Juragan...kalo ada apa-apa...bilang saja Juragan masih keluarga Senapati Rakai Darmaseta..." ujar salah seorang pengawal yang bertubuh paling tinggi besar, sepertinya kepala pengawal.

"Ah...tentu...terima kasih..." ujar Rahiang Sanjaya lalu melangkah meninggalkan gerbang rumah Kai Darmaseta menuju jalanan yang cukup ramai oleh lalu lalang orang.

"Bi Narsih...siapa sebenarnya dia?" bisik pengawal yang tadi berbicara.

"Hush...Mirja...jangan keras-keras...." bisik Bi Narsih kepada kepala pengawal bernama Mirja.

"Aku tidak tahu pastinya...tapi Juragan minta kita memanggilnya Juragan Anom...mungkin masih kerabat beliau" sambungnya sambil berlalu kembali ke rumah utama.

Rahiang Sanjaya  berjalan menyusuri jalanan kota Sundapura yang ramai, orang hilir mudik dengan segala aktifitasnya. Pedati yang ditarik dua ekor kerbau sesekali melintas membawa hasil pertanian ataupun rempah-rempah.

Tiba-tiba dua ekor kuda berbadan tegap yang ditunggangi oleh dua orang prajurit melaju dengan kencang berlawanan arah dengan Rahiang Sanajya, di belakangnya terlihat tiga baris prajurit berkuda mengawal sebuah kereta kencana yang ditarik oleh dua ekor kuda diikuti oleh tiga baris lagi prajurit berkuda. Sebuah pengawalan yang sangat ketat, tentu bukan orang sembarangan yang berada di dalam kereta kancana yang terlihat sangat bagus dan mewah itu. Orang-orang segera menepi sambil membungkukkan badannya ke arah kereta tersebut.

"Sepertinya ada petinggi karatuan...." batin Rahiang Sanjaya sambil ikut menepi dan membungkukkan badannya.

Sementara itu di dalam kereta, duduk seorang gadis muda yang sangat agung dan cantik berpakaian sutra China yang indah dan halus berwarna biru. Rambutnya yang hitam bergelombang dibiarkan terurai, dihiasi sebuah mahkota kecil bertahtakan batu berkilauan. Pameunteuna ngadaun sirih, ta'ar teja mentrangan, halis ngajeler paeh, soca cureuleuk, kulitna hejo carulang koneng umyang. Estuning Putri Karaton Sunda yang mempesona. Senyum tidak lepas dari bibirnya yang bagaikan jeruk sapasi dan giginya yang putih bagaikan gula gumantung.

Kereta tersebut melintas cepat di hadapan Rahiang Sanjaya. Selewatnya kereta dan para pengawalnya, orang-orang kembali beraktifitas seperti biasa. Rahiang Sanjaya yang merasa penasaran menghampiri salah satu pedagang di pinggir jalan.

"Punten Mang...boleh aku bertanya?" tanyanya sopan.

Pedagang tersebut melirik ke arah Rahiang Sanjaya.

"Ah...silakan Juragan...hendak bertanya apa?" ujar pedagang tersebut balik bertanya dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.

"Kereta yang baru saja lewat...apakah petinggi Karatuan?" tanya Rahiang Sanjaya polos.

Sesaat pedagang tersebut memandang Rahiang Sanjaya dari ujung kepala sampai kaki.

"Juragan pasti pendatang dari jauh?" pedagang itu kembali balik bertanya.

"Iya...Mang...aku pendatang dari wetan..." jawab Rahiang Sanjaya.

"Wetan?...dari Karatuan Galuh?" pedagang itu kembali bertanya dengan mimik muka yang berubah.

"Oh...tidak...bukan...aku dari Karatuan Kalingga...." Rahiang Sanjaya yang menangkap sorot ketidaksukaan dari pandanan dan nada suara pedagang tersebut segera menetralisir keadaan.

"Begitu rupanya...hamba kira berasal dari Karatuan Galuh...." ujar pedagang tersebut.

"Yang baru lewat adalah kereta kancana milik Gusti Putri Tejakancana...cucu kesayangan Gusti Prabu Tarusbawa" sambungnya sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala tanda penghormatan.

Rahiang Sanjaya mengangguk kepalanya.

"Oh...pantas saja keretanya begitu indah..." ujar Rahiang Sanjaya.

##

Baca juga : Rahiang Sanjaya #9

Matahari mulai meninggi saat Rahiang Sanjaya memutuskan untuk kembali ke rumah Kai Darmaseta dan Nay Suci. Dari kejauhan dilihatnya di gerbang rumah banyak pengawal yang berjaga, lebih banyak daripada saat Rahiang Sanjaya meninggalkan rumah. Kuda-kuda diikatkan di sekitar gerbang. Sebagian besar pengawal yang berjaga menggunakan pakaian yang berbeda dengan pengawal sebelumnya ditemui Rahiang Sanjaya di rumah Kai Darmaseta. Jika pengawal rumah Kai Darmaseta menggunakan seragam hitam-hitam, sementara pengawal-pengawal yang lainnya menggunakan celana hitam dan baju putih dengan ikat kepala merah.

"Aih...ada apa gerangan...sepertinya lebih banyak pengawal..." batin Rahiang Sanjaya keheranan namun terus melangkah mendekati gerbang.

Tiba-tiba seorang pengawal bersenjatakan tombak menghentikan langkah Rahiang Sanjaya.

"Kisanak...berhenti..." ujarnya tegas sambil melintangkan tombaknya menghalangi langkah Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya menghentikan langkahnya lalu menganggukkan kepalanya ke arah pengawal tersebut.

"Kau hendak menuju kemana?" pengawal itu kembali bertanya.

"Aku hendak kembali ke rumah Gusti Senapati Rakai Darmaseta..." jawab Rahiang Sanjaya tenang.

Pengawal tersebut mengamati Rahiang Sanjaya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan curiga. Beberapa orang pengawal lainnya mendekat dengan pandangan waspada.

"Ah...Juragan Anom rupanya...tidak apa-apa...beliau adalah keluarga Gusti Senapati Rakai Darmaseta..." Mirja tergopoh-gopoh menghampiri.

Pengawal berpakaian hitam putih bertubuh hampir sama dengan Mirja melirik.

"Dia tidak boleh masuk sebelum Gusti Putri Tejakancana pulang..." ujarnya tegas.

"Ah...baiklah..." sahut Mirja sambil mendekati Rahiang Sanjaya.

"Ampun...Juragan Anom, di dalam sedang ada Gusti Putri Tejakancana...jadi Juragan Anom belum bisa masuk..." ujarnya pelan.

Rahiang Sanjaya tersenyum, dia mengerti bahwa mereka hanya menjalankan tugas.

"Baiklah....Aku..." belum selesai ucapan Rahiang Sanjaya tiba-tiba terdengar teriakan keras dari balik pintu gerbang.

"Bukaa...pintuuuu gerbang.....!!!"

Para pengawal berpakaian hitam putih bergegas menghampiri kuda-kuda yang diikat di samping gerbang dan dengan sebat melompat ke punggung kuda masing-masing. Sementara para pengawal pintu gerbang bergegas membuka pintu gerbang lalu berbaris di samping gerbang. Rahiang Sanjaya pun ikut berdiri tegak sambil menundukkan kepalanya.

"Jalan...!!!" kembali terdengar suara keras memberi aba-aba.

Seperti sebelumnya, dua ekor kuda yang ditunggangi dua orang perwira berjalan diikuti tiga baris pasukan berkuda lalu kereta kencana. Sedangkan pasukan pengawal yang ikut berjaga di pintu gerbang rupanya adalah pasukan kuda yang bertugas di bagian belakang kereta kencana.

Rahiang Sanjaya dan para pengawal gerbang menundukkan kepala dengan takzim. Rombongan bergerak meninggalkan halaman rumah Kai Darmaseta. Sementara di dalam kereta kancana terlihat Gusti Putri Tejakancana duduk berdampingan dengan Nay Suci, sekilas keduanya melirik ke arah Rahiang Sanjaya.

Setelah rombongan menjauh terdengar suara Kai Darmaseta dari halaman rumah.

"Sancaka...cepatlah kemari...!" teriaknya sambil melambaikan tangannya ke arah Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya bergegas masuk ke halaman rumah menghampiri Kai Darmaseta lalu menganggukkan badannya.

"Bagaimana sudah mengelilingi kota Sundapura?" tanya Kai Darmaseta sambil tersenyum.

"Sudah Kakang...luar biasa...kotanya sangat ramai dan makmur...andai saja..." Rahiang Sanjaya menghentikan ucapannya.

"Andai apa Sancaka?" tanya Kai Darmaseta.

"Ehm...andai Kalingga bisa semakmur Sundapura..." jawab Rahiang Sanjaya.

"Ah...sudahlah...Kalingga pasti akan makmur..apalagi kudengar Gusti Ratu Sannaha yang sekarang bekuasa...lebih baik kita makan dulu" ujar Kai Darmaseta sambil merangkul bahu Sancaka lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah utama.

Rahiang Sanjaya tersenyum kecil mendengar nama ibundanya disebut oleh Kai Darmaseta, mendadak rasa rindunya membuncah.

"Ah...ibunda...semoga Dewata Agung selalu melindungimu" batin Rahiang Sanjaya sambil membarengi langkah Kai Darmaseta.

"Bi Narsih..." Kai Darmaseta memanggil pegawai kepercayaannya.

"Ya Juragan...." Bi Narsih tergopoh-gopoh datang dari arah ruangan belakang.

"Kau siapkan makanan...aku dan Juragan Anom mau makan..." perintah Kai Darmaseta.

"Baik Juragan...tadi Juragan Nay Suci sudah memasak banyak sekali...hamba akan segera  hidangkan di atas meja" jawab Bi Narsih.

"Ah...sudah hampir siap rupanya....ayo Sancaka kita makan...." girang Kai Darmaseta.

###

Selesai menyantap hidangan yang disediakan Bi Narsih, Kai Darmaseta dan Rahiang Sanjaya duduk santai di beranda rumah.

"Sancaka...." Kai Darmaseta membuka pembicaraan.

"Kalau aku boleh bertanya...apa rencanamu selanjutnya?...Kau datang ke Sundapura tentu membawa maksud tertentu..." sambungnya berhati-hati.

Mendengar pertanyaan Kai Darmaseta, Rahiang Sanjaya menarik nafas panjang.

"Kakang...sebenarnya aku datang ke Sundapura membawa tujuan dan harapan yang sangat besar. Aku berharap Kakang dapat membantuku..." ujarnya sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

Kai Darmaseta terkesiap, walaupun sudah menduga bahwa Rahiang Sanjaya bukan orang sembarangan tetapi tidak menyangka justru akan meminta bantuan darinya.

"Apakah tujuan dan harapan besar yang kau sebutkan ada hubungannya denganku?" tanya Kai Darmaseta sambil melirik ke kiri dan ke kanan seperti khawatir ada yang mendengar.

Rahiang Sanjaya menganggukkan kepalanya. 

"Aku meminta bantuan Kakang Darmaseta...karena aku tahu kalau Kakang adalah petinggi Karatuan Sunda" ujar Rahiang Sanjaya

Kai Darmaseta berdiri dari kursinya.

"Sancaka...lebih baik kita bicara di dalam saja" ujarnya sambil berlalu ke dalam rumah diikuti oleh Rahiang Sanjaya.

Setelah Kai Darmaseta menutup semua pintu, mereka berdua duduk di ruang tengah.

"Sekarang tidak akan ada yang mendengar...kau ceritakanlah semua.." ujar Kai Darmaseta.

"Kakang Darmaseta...sebelumnya mohon ampunkan jika aku berlaku lancang..." Rahiang Sanjaya berhati-hati.

"Aku sebenarnya bermaksud menemui dan memohon bantuan dari Gusti Prabu Tarusbawa..." sambungnya pelan.

Kai Darmaseta terbelalak mendengar tujuan Rahiang Sanjaya menemui Gusti Prabu Tarusbawa. Lalu memebetulkan letak duduknya.

"Sancaka...apa bantuan yang kau harapkan dari Gusti Prabu Tarusbawa?...Dan siapa sebenarnya dirimu?" tanyanya sambil mendekatkan kursinya ke arah Rahiang Sanjaya.

Sejenak Rahiang Sanjaya terlihat bimbang.

"Apakah ini saat yang tepat aku berterus terang?" batinnya sambil mengusap wajahnya.

"Kakang...aku harap...kau tidak marah kepadaku karena sebelumnya tidak berkata jujur" Rahiang Sanjaya masih terlihat ragu-ragu.

"Sudahlah...cepat katakan..." Kai Darmaseta tidak sabaran.

"Namaku sebenarnya adalah Rakean Jambri...putra dari Sang Senna" ujar Rahiang Sanjaya pelan.

"Degggg...." jantung Kai Darmaseta seakan mau copot mendengar pengakuan Rahiang Sanjaya.

"Dewata Agung...tolong kau katakan lagi...." Kai Darmaseta seolah tidak percaya mendengar ucapan Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya tersenyum melihat reaksi Kai Darmaseta.

"Namaku Rakean Jambri...putra Sang Senna..." ujarnya mengulangi ucapannya terdahulu.

Kai Darmaseta menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.

"Dewata Agung...sekian lamanya aku mencari...tidak tahunya ada di depan mata...Dewata Agung aku berterima kasih kepada-Mu" ujarnya sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala sambil memejamkan mata berdo'a kepada Sang Hyang Widhi.

Tak lama Kai Darmaseta turun dari tempat duduknya lalu berlutut di hadapan Rahiang Sanjaya.

"Gusti Rakean...maafkan hamba yang buta tidak melihat tingginya gunung di depan mata" ujarnya sambil merangkapkan kedua tangan di depan dadanya.

Melihat Kai Darmaseta berlutut, Rahiang Sanjaya bergegas menariknya kembali agar duduk di kursinya.

"Kakang...jangan seperti ini...bangunlah..." ujarnya.

Kai Darmaseta kembali duduk sambil tidak hentinya bersyukur.

"Dewata Agung...aku tidak menyangka...beberapa purnama ini, hamba mencari kabar Gusti Prabu Bratasenawa dan juga dirimu, Gusti Rakean...tidak tahunya...Dewata Agung..." ujarnya dengan wajah sumringah.

Mendengar Kai Darmaseta mencari ayah dan juga dirinya, Rahiang Sanjaya menjadi penasaran.

"Mencari kami?...Apakah tujuan Kakang mencari kami?" tanyanya heran.

"Betul Gusti Rakean...setelah mendengar kabar pemberontakan Prabu Purbasora yang menjatuhkan Gusti Prabu Bratasenawa...Gusti Prabu Tarusbawa sangat khawatir" jawab Kai Darmaseta.

"Berpuluh purnama Gusti Prabu Bratasenawa menunggu kabar...namun tidak pernah ada kabar mengenai Gusti Prabu Bratasenawa sehingga memutuskan untuk mengutus hamba mencari tahu keberadaan kalian" sambungnya bersemangat.

Rahiang Sanjaya sedikit khawatir mendengar bahwa Gusti Prabu Tarusbawa mencari ayahnya dan juga dirinya. Dia khawatir kalau, uwanya, Prabu Purbasora ada hubungan dengan Prabu Tarusbawa.

Melihat wajah Rahiang Sanjaya yang sedikit berubah, Kai Darmaseta dapat menerka apa yang ada di hati anak muda ini.

"Gusti Rakean...jangan khawatir...Gusti Prabu Tarusbawa mencari kalian tidak bermaksud jahat...beliau hanya ingin tahu kabar kalian" Kai Darmaseta menenangkan.

"Ah...begitu rupanya...aku lega Kakang..." jawab Rahiang Sanjaya menghembuskan nafas lega.

"Gusti Rakean mungkin masih terlalu kecil jadi tidak ingat...dahulu Gusti Prabu Bratasenawa seringkali berkunjung ke Sundapura...bahkan sering berburu bersama mendiang Gusti Rakean Sundasambawa. Bahkan saking dekatnya Gusti Prabu Tarusbawa sudah menganggapnya seperti putra sendiri" jelas Kai Darmaseta.

"Ah...bodoh sekali...aku tidak mengenalimu...padahal perawakan dan wajahmu mirip sekali dengan Gusti Prabu Bratasenawa..." sesal Kai Darmaseta.

##

Sementara itu di taman Kaputren Karaton Madura yang teduh dan juga sejuk, terlihat Nay Suci dan Gusti Putri Tejakancana sedang bercengkrama. Mereka berdua duduk di gazebo di bawah sebuah pohon yang sangat rindang. Disekitarnya tumbuh bunga-bunga yang bermekaran dan mengeluarkan wangi harum yang semerbak.

Gusti Putri Tejakancana merebahkan kepalanya di pangkuan Nay Suci. Semenjak ayah dan ibundanya mangkat, Gusti Putri Tejakancana banyak di asuh oleh Nay Suci yang merupakan sahabat ibundanya. Sehingga tak aneh jika mereka berdua sangat dekat, apalagi Nay Suci memang tidak mempunyai anak.

"Ambu Suci...malam ini kau harus menginap di kaputren...aku rindu sekali.." ujarnya manja.

Nay Suci tersenyum lalu mengusap-usap rambut gadis yang baru beranjak dewasa tersebut.

"Baiklah anaking...Ambu Suci juga sangat merindukan Gusti Putri..." jawabnya dengan pelan dan penuh kasih sayang.

"Ambu Suci...kapan aku bisa berkelana seperti dirimu?...Aku bosan dikurung dalam keraton terus menerus..." keluh Gusti Putri Tejakancana.

Nay Suci menarik nafas panjang.

"Anaking...Gusti Putri jangan berkecil hati...saatnya pasti akan tiba. Saat ini lebih baik Gusti Putri memperdalam ilmu sastra dan juga meningkatkan ilmu silat...sebagai bekal untuk memimpin Karatuan Sunda. Kalau sudah menjadi Ratu...Gusti Putri bisa pergi ke mana saja..." hibur Nay Suci.

Gusti Putri Tejakancana mengangkat kepalanya.

"Sampai kapan Ambu Suci?...aku bosan...tolong Ambu Suci bicara dengan Aki Prabu..." rengeknya manja.

Nay Suci tersenyum lembut, dirinya sudah sangat hapal dengan sifat manja Gusti Putri Tejakancana.

"Gusti Putri adalah calon penguasa Karatuan Sunda... meneruskan Gusti Prabu Tarusbawa...jadi mana mungkin Ambu Suci berbicara seperti itu..." ujarnya sambil menggenggam lembut tangan Putri Tejakancana.

"Aaahh...tapi aku tidak mau menjadi Prabu...lagipula mana ada Prabu perempuan..." Gusti Putri Tejakancana mengeluh dengan sorot mata penuh kesedihan.

"Andai saja ayahanda dan ibunda masih ada...tentu aku tidak akan menderita seperti ini..." sambungnya. Kedua matanya mulai berkaca-kaca mengingat kedua orangtuanya yang sudah tiada.

Melihat Gusti Putri Tejakancana yang mulai larut dalam kesedihan, Nay Suci segera menghiburnya.

"Aiihhh...Gusti Putri, jangan bicara seperti itu...memang tidak ada perempuan yang menjadi Prabu tapi bisa menjadi Ratu. Di wetan sana ada Karatuan bernama Kalingga...pemimpinnya selalu seorang perempuan" ujarnya.

"Lagi pula...Gusti Putri jangan merasa menderita seperti ini, Gusti Prabu Tarusbawa pasti sudah memikirkan yang terbaik" sambung Nay Suci.

Gusti Putri Tejakancana menarik nafas panjang.

"Ambu Suci...bagaimana aku akan memerintah Karatuan Sunda...sedangkan aku masih sendiri..." suaranya lirih.

Nay Suci tersenyum, dirinya memahami kegundahan gadis cantik dihadapannya.

"Jangan khawatir Gusti Putri...Gusti Prabu pasti sudah menyiapkan seorang Rakean yang sangat gagah dan tampan untuk mendampingi Gusti putri...hi..hi.." ujarnya terkikik mencoba menggoda Putri Tejakancana.

"Aahhh...aku tidak mau dengar....aku lapar...." Gusti Putri Tejakancana tidak mau mendengar ucapan Nay Suci.

Nay Suci segera berdiri.

"Ya sudah..kalau begitu kita kembali ke kaputren saja..." ujarnya lembut sambil berdiri.

"Tapi aku hanya mau makanan yang dimasak oleh Ambu Suci..." rajuk Putri Tejakancana sambil menggelayut di tangan Nay Suci.

"Baiklah...ayo...Ambu Suci akan masak makanan terenak untuk Gusti Putri..." ujar Nay Suci.

Keduanya berjalan bergandengan meninggalkan taman dan masuk kembali ke dalam Kaputren Karaton Madura, tempat tinggal khusus Gusti Putri Tejakancana.

Baca juga : Leuweung Sancang Menghilang Tanpa Bekas #3