PALABUHAN KALAPA



Di ruangan tengah rumah Arya Suta terlihat Margo sedang duduk di hadapan Kinasih sementara Surti berdiri di belakangnya.

"Margo....seharusnya putraku sudah tiba sejak dua hari yang lalu...bagaimana menurutmu?" tanya Kinasih kepada pengawal kepercayaan Arya Suta tersebut, yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri tersebut

"Ampun Juragan Sepuh...hamba pun berfikir demikian...tidak biasanya Juragan Arya Suta seperti ini..." jawab Margo sopan, baginya Kinasih sudah dianggap seperti orangtuanya sendiri, sejak remaja hingga saat ini Margo banyak menghabiskan waktu di rumah keluarga Arya Suta.

Kinasih menghela nafas panjang.

"Apa yang harus kita lakukan?...aku benar-benar khawatir...apalagi mereka tidak terlalu akur" ujar Kinasih cemas mengingat bahwa hubungan antara Arya Suta dengan ayahnya, Arya Jumadi, tidaklah terlalu baik.

"Juragan Sepuh...hamba pun merasa sedikit cemas...apakah lebih baik jika hamba menyusulnya ke rumah Juragan Arya Jumadi?" Margo menawarkan diri.

"Hmm...aku takut kalian akan bersilangan jalan...tapi juga tidak mungkin kita hanya menunggu seperti ini" Kinasih bimbang.

"Jangan khawatir Juragan Sepuh...kalau Juragan Arya Suta lebih dulu tiba...berangkatlah lebih dulu ke Palabuhan Cimanuk...hamba akan menyusul dengan kapal berikutnya" Margo memberikan saran.

"Ah...betul juga pendapatmu Margo...kau memang sahabat terbaik anakku..." Kinasih merasa senang.

"Kapan kau akan berangkat?" sambungnya sambil berdiri dari duduknya.

"Hamba akan berangkat hari ini juga..." jawab Margo.

"Baiklah...kau berhati-hatilah di jalan...jangan mencari masalah dulu...kurang-kurangi sifat mata keranjangmu itu" Kinasih mengingatkan Margo, dia tahu sekali tabiat Margo yang mata keranjang dan senang mencari masalah.

Wajah Margo bersemu merah karna malu. 

"Baik Juragan Sepuh..." ujarnya sambil matanya melirik ke arah Surti yang berdiri di belakang Kinasih.

"Surti...kau siapkan semua keperluan Margo..." ujar Kinasih kepada Surti sambil berlalu menuju ke kamarnya.

"Baik Juragan Sepuh..." jawab Surti takzim.

===

Baca juga : Rahiang Sanjaya #20

Pagi itu laut sangat tenang, hampir tidak ada angin yang berhembus. Sebuah kapal yang cukup besar bergerak lambat karena hanya mengandalkan tenaga para pendayung. Layar yang terkembang sama sekali tidak membantu laju kapal.

Kapal itu bergerak dari arah Palabuhan Caruban menuju Palabuhan Kalapa menyusuri sisi utara pantai Pulau Jawa.

Rahiang Sanjaya berdiri tegak di atas dek, matanya jauh menerawang seolah berusaha menembus ujung lautan.

"Ah...entah kemana ujung perjalananku ini...semoga Dewata Agung dan semua karuhun melindungi dan membimbingku. Aku khawatir bagaimana jika Gusti Prabu Tarusbawa tidak bersedia membantu..." keluhnya dalam hati.

Semenjak meninggalkan lereng gunun Merapi telah banyak kejadian yang membuat jiwa dan raga Rahiang Sanjaya benar-benar lelah. Jika saja tidak teringat amanat kedua orangtuanya, Sang Senna dan Dewi Sanaha, ingin rasanya menyerah saja dan memilih hidup tenang di Kalingga.

Rahiang Sanjaya menarik nafas panjang lalu mengusap wajahnya.

"Aku tidak boleh lemah...kelemahan hanya akan membawaku ke jalan kegagalan dan mempermalukan kedua orangtuaku..." gumamnya mencoba menguatkan hatinya kembali.

Tanpa disadari oleh Rahiang Sanjaya, dari balik sebuah ruangan yang diisi oleh penumpang-penumpang berkantung tebal yang biasanya terdiri dari para saudagar dan pejabat karatuan, dua pasang mata mengamatinya dari jendela. Dua pasang mata itu adalah milik Kai Darmaseta dan Nay Suci.

"Kakang...ilihat itu adalah anak muda yang bersama-sama kita naik kapal dari Palabuhan Caruban..." Nay Suci setengah berbisik.

"Nyai...melihat wajah dan perawakannya...sepertinya dia bukan anak muda dari kalangan jelata" ujar Kai Darmaseta.

"Apakah kau mencurigainya Kakang?" tanya Nay Suci.

"Sekarang ini...siapapun yang datang dari wilayah kekuasaan Galuh harus kita curigai..." jawab Kai Darmaseta.

"Hmmm...betul Kakang...semenjak Gusti Prabu Bratasenawa jatuh...keadaan Galuh masih belum juga aman" Nay Suci menarik nafas panjang.

"Huuhh...sebenarnya ada sesuatu yang membuatku malu untuk kembali ke Sundapura...aku malu menghadap Gusti Prabu Tarusbawa...kita berdua telah gagal menjalankan tugas..." Kai Darmaseta merahuh.

"Jangan berkecil hati Kakang...setelah melaporkan perjalanan kita selama enam purnama ini...kita bisa meneruskan dan menyelesaikan tugas itu kembali" Nay Suci membesarkan hati Kai Darmaseta.

Sesaat keduanya terdiam sambil mengawasi gerak-gerik Rahiang Sanjaya.

"Kakang...aku mempunyai firasat baik tentang anak muda itu...kau cobalah mengorek keterangan darinya, siapa sebenarnya anak muda itu.." ujar Nay Suci setelah beberapa saat mengawasi Rahiang Sanjaya.

"Aku pun berfikir begitu Nyai...baiklah...aku akan menghampirinya sekarang" ujar Kai Darmaseta sambil keluar dari ruangan tempatnya mengawasi Rahiang Sanjaya.

"Ehm...ehm..." tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara orang yang berdehem, mengagetkan Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya membalikkan badannya, dilihatnya laki-laki yang sebelumnya bersama-sama naik kapal dari Palabuhan Caruban mendatanginya sambil tersenyum. Rahiang Sanjaya menganggukan kepalanya sambil membalas senyum laki-laki yang tak lain adalah Kai Darmaseta.

"Pagi yang indah anak muda...bukan begitu?" tanya Kai Darmaseta lalu berdiri di samping Rahiang Sanjaya pandangannya jauh ke ujung horison.

"Eh..iya Juragan..." jawab Rahiang Sanjaya sopan.

"Ha...ha...anak muda, kau jangan memanggilku juragan...aku jadi malu..." Kai Darmaseta tergelak.

"Panggil saja aku...Kakang Darmaseta...supaya aku tetap merasa muda...ha..ha..." sambungnya sambil tidak henti tertawa.

Melihat pembawaan Kai Darmaseta yang ramah dan juga hangat membuat Rahiang Sanjaya tidak ragu-ragu membalas gurauannya.

"Ah...bukankah Kakang Darmaseta memang masih muda?...mungkin usia kita hanya berjarak dua atau tiga tahun...he...he..." balas Rahiang Sanjaya terkekeh.

"Ha...ha...matamu sudah terlalu banyak kena angin laut anak muda..ha...ha...tapi baiklah...aku suka...ha...ha..." Kai Darmaseta tertawa keras sekali saking senangnya.

"Kau tahu anak muda...sudah lama aku tidak tertawa seperti ini...." sambungnya.

Rahiang Sanjaya tersenyum senang, sudah lama juga dirinya tidak bercanda seperti ini. Sedikit bisa mengobati kegundahan hatinya.

Sesaat keduanya terdiam dengan senyum mengembang di bibir masing-masing.

"Omong-omong anak muda...aku belum tahu siapa namamu?" tanya Kai Darmaseta bertanya sambil memalingkan wajahnya kepada Rahiang Sanjaya.

"Ehmmm...panggil saja Sancaka..." jawab Rahiang Sanjaya ragu.

Sejenak Kai Darmaseta memandang wajah Rahiang Sanjaya seperti tidak percaya, tapi kemudian tersenyum.

"Sancaka...nama yang bagus..." ujarnya sambil kembali memalingkan wajahnya menatap  lautan.

"Aku dan istriku...hendak pulang ke Sundapura, setelah hampir enam purnama berkelana di wilayah wetan..." sambungnya sambil menengadahkan wajahnya menatap langit.

Rahiang Sanjaya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa memberi tanggapan.

"Sancaka...kau sendiri dari mana hendak ke mana?" Kai Darmaseta bertanya.

Rahiang Sanjaya menarik nafas panjang.

"Asalku dari wilayah Kalingga di wetan hendak menuju ke Sundapura...." jawabnya singkat.

"Ah...rupanya tujuan kita sama...nanti dari Palabuhan Kalapa...kita sama-sama saja menuju Sundapura..." ujar Kai Darmaseta senang.

"Ah...tidak usah merepotkan..." Rahiang Sanjaya mencoba untuk menolak.

"Merepotkan?...merepotkan apanya?..kau tidak minta digendong bukan?...he...he..." Kai Darmaseta terkekeh.

"Sepertinya seru sekali obrolan kalian..." tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan.

Serempak keduanya menoleh ke arah asal suara. Terlihat seorang perempuan setengah baya berpakaian ringkas berjalan mendekati mereka. Perempuan itu tidak lain adalah Nay Suci, istri dari Kai Darmaseta.

"Kemarilah istriku...kuperkenalkan kau kepada anak muda tampan dan gagah ini" ujar Kai Darmaseta menyambut kedatangan istrinya. 

"Sancaka...perkenalkan ini istriku tercinta...Nay Suci" ujar Kai Darmaseta.

Rahiang Sanjaya membungkukkan badannya dengan sopan ke arah Nay Suci.

"Oh...namaku Sancaka..." ujarnya sopan.

"Aih...gagah sekali...siapa nama orangtuamu Sancaka?...tentu orangtuamu gagah dan dan cantik sekali...aku jadi iri kepada mereka..." Nay Suci sangat senang melihat anak muda yang gagah dan tampan namun sangat sopan.

Rahiang Sanjaya terkesiap, tidak menyangka akan ditanya nama orangtuanya oleh Nay Suci.

"Euh...euh...orangtuaku hanya petani miskin di Kalingga sana..." jawabnya gugup.

Melihat Rahiang Sanjaya yang gugup ketika ditanya nama orangtuanya, Kai Darmaseta segera mengalihkan pembicaraan.

"Nyai...Sancaka ini hendak menuju ke Sundapura...aku mengajaknya untuk pergi bersama-sama kita" ujar Kai Darmaseta sambil mengedipkan matanya kepada Nay Suci.

Mendapat isyarat dari suaminya, Nay Suci menganggukan kepalanya.

"Ceuceu...apakah tidak merepotkan, jika aku ikut bersama-sama kalian?" tanya Rahiang Sanjaya.

Nay Suci terkejut lalu memalingkan wajahnya kepada Rahiang Sanjaya.

"Ceuceu...?...kau panggil aku Ceuceu?" tanya Nay Suci sambil tersenyum.

"Iya...bukankan Ceuceu adalah istrinya Kakang Darmaseta?" tanya Rahiang Sanjaya sambil tersenyum melirik ke arah Kai Darmaseta yang mesem-mesem di sampingnya.

"Hi...hi...kau keterlaluan Kakang...masih saja kau ingin dianggap muda...Sancaka itu cocoknya menjadi anak kita" Nay Suci tertawa mengikik sambil memukul bahu Kai Darmaseta.

"Tidak Ceuceu...tidak...menurutku usia kita hanya terpaut beberapa tahun...entah aku yang terlihat tua atau kalian berdua yang terlihat muda...he...he..." gurau Rahiang Sanjaya sambil terkekeh.

Mendengar ucapan Rahiang Sanjaya, Kai Darmaseta dan Nay Suci tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.

"Ha....ha....ha...."

"Hi....hi...hi...."

"Kau...kau...ini bisa saja meledek orangtua tidak tahu diri seperti kami ini...hi..hi..." Nay Suci terbata-bata sambil mengusap matanya yang berair saking nikmatnya tertawa.

"Sancaka...pastinya...kami yang terlihat muda...ha...ha..." timpal Kai Darmaseta.

Rahiang Sanjaya tersenyum lebar.

"Sancaka...kau harus ikut ke rumah kami di Sundapura...aku akan menyiapkan makanan yang enak-enak buatmu..." ujar Nay Suci setelah tawanya reda.

"Tapi Ceuceu...aku tidak mau merepotkan kalian...lagipula aku ada tujuan ke tempat lain..." Rahiang Sanjaya tetap berusaha menolak.

"Mana bisa begitu...setelah kau meledek kami...maka kau harus dihukum ikut bersama kami...hi...hi..." ujar Nay Suci masih tetap terkekeh.

"Sudahlah Sancaka...ikut saja dulu dan tinggal barang beberapa hari di rumah kami...istriku ini masakannya luar biasa enak..." Kai Darmaseta ikut mendesak.

"Masakan istriku ini sangat disukai oleh orang keraton terutama Gusti Prabu Tarusbawa..." sambungnya setengah berbisik.

Rahiang Sanjaya terkesiap mendengar nama Prabu Tarusbawa, sesaat wajahnya berubah namun segera bersikap biasa.

"Ah...sebuah kehormatan besar...bagi rakyat jelata sepertiku diundang oleh bangsawan seperti kalian berdua..." ujar Rahiang Sanjaya sambil membungkukkan badannya. Hatinya girang bukan kepalang.

"Rupanya mereka berdua bukan orang sembarangan...semoga aku bisa segera bertemu dengan Gusti Prabu Tarusbawa" batinnya.

##

Setibanya di Palabuhan Kalapa, Kai Darmaseta dan Nay Suci di sambut oleh Syahbandar Palabuhan yang memang teman dekat keduanya. Syahbandar tesebut bahkan menawarkan agar Kai Darmaseta dan Nay Suci menginap barang satu malam di rumahnya untuk melepaskan penat. Namun Kai Darmaseta dan Nay Suci menolak secara halus dan hanya minta bantuan disediakan tiga ekor kuda untuk mereka berdua dan Rahiang Sanjaya.

Tiga ekor kuda berbadan tegap berlari cepat di jalanan Sundapura meninggalkan debu-debu beterbangan di belakangnya. Dua ekor kuda yang berada di depan ditunggangi oleh Kai Darmaseta dan Nay Suci sedangkan kuda yang berlari di belakang keduanya, ditunggangi oleh Rahiang Sanjaya.

Di sepanjang jalan banyak orang yang berlalu lalang, baik yang berjalan kaki maupun menggunakan gerobak berisi hasil pertanian maupun rempah-rempah. Sementara dipinggir-pinggir jalan banyak berdiri saung-saung kecil yang menjajakan berbagai dagangan, dari mulai makanan, alat pertanian bahkan pakaian. Beberapa pasukan kecil pasukan Karatuan berpatroli menjaga ketertiban dan keamanan warga. Terlihat jelas bahwa kota Sundapura adalah sebuah kota yang cukup ramai dan hidup sejahtera secara ekonomi.

Sekitar lima deupa dari pinggir jalan, berdiri rumah-rumah penduduk yang terlihat kokoh dan bersih. Anak-anak kecil bermain dan berlarian di kolong-kolong rumah tersebut, sementara ibu-ibu mereka duduk di tangga rumah sambil membersihkan beras menggunakan nyiru. Sungguh gambaran sebuah kota yang makmur dan tertata rapi.

Tidak hentinya Rahiang Sanjaya berdecak kagum.

"Ramai sekali kota Sundapura ini....jauh lebih ramai daripada kota Karangkamulyan...bahkan dibandingkan dengan kota di Kalinggapun jauh lebh sejahtera kota ini.." batin Rahiang Sanjaya terkagum-kagum melihat betapa ramai dan makmurnya kota Sundapura.

Beberapa orang anggota pasukan yang mengenali Kai Darmaseta dan Nay Suci berdiri tegak dipinggir jalan lalu membungkukkan badannya, memberi penghormatan.

"Hmm...tidak salah lagi, Kakang Darmaseta dan Ceuceu Nay Suci bukanlah orang sembarangan...mungkin setingkat senapati..." batin Rahiang Sanjaya.

Di depan sebuah gerbang yang cukup besar, Kai Darmaseta menghentikan laju kudanya diikuti oleh Nay Suci dan Rahiang Sanjaya. Beberapa orang penjaga tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang dan mempersilakan ketiganya masuk. Gerbang tersebut ternyata adalah pintu rumah Kai Darmaseta dan Nay Suci. Ada tiga buah bangunan rumah di dibalik gerbang tersebut. Rumah-rumah tersebut sangat besar dan terbuat dari kayu-kayu pilihan.

Sepasang pelayan berusia cukup tua datang menyambut mereka dengan tergopoh-gopoh. Kai Darmaseta melompat turun dari punggung kudanya diikuti oleh Nay Suci dan Rahiang Sanjaya.

"Selamat datang Juragan...." ujar pelayan laki-laki sambil membungkukkan badannya.

Sementara pelayan perempuan menghampiri Nay Suci.

"Aihhh...lama sekali baru kembali...hamba benar-benar cemas..." ujarnya dengan mata yang merah menahan haru lalu membungkukkan badannya.

"Terima kasih...Mang Karsa kau bawa kuda-kuda ini ke belakang...." ujar Kai Darmaseta sambil menepuk pundak pelayan tua yang bernama Karsa tersebut.

"Bi Narsih...tolong kau bawa Juragan Anom ini ke rumah peristirahatan tamu...siapkan semua kebutuhannya...jangan membuatnya kecewa" Nay Suci meminta Bi Narsih agar mengurus Rahiang Sanjaya.

"Sancaka...kau beristirahatlah dulu...kalau ada kebutuhan apa-apa, kau bicaralah sama Bi Narsih. Dia sudah seperti kakakku sendiri...jangan sungkan-sungkan" sambung Nay Suci sambil melirik ke Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya menganggukan kepalanya kepada Bi Narsih dengan sopan.

Mang Karsa bergegas membawa ketiga kuda yang sebelumnya digunakan oleh Kai Darmaseta, Nay Suci dan Rahiang Sanjaya ke istal kuda di belakang rumah. Sementara Bi Narsih mempersilakan Rahiang Sanjaya agar mengikutinya.

"Mari Juragan Anom...silakan ikuti saya"

Rahiang Sanjaya membungkukkan badannya kepada Kai Darmaseta dan Nay Suci dengan hormat.

"Kakang...Ceuceu...terima kasih atas sambutannya..." ujarnya.

Kai Darmaseta tersenyum lalu menghampiri Rahiang Sanjaya sambil menepuk-nepuk bahunya.

"Sancaka...kau jangan merasa sungkan...anggaplah ini rumahmu sendiri...dan kami berdua anggap saja kakak angkatmu..." ujarnya.

"Betul Sancaka...anggap saja ini rumah kakakmu sendiri...tidak perlu sungkan" Nay Suci menimpali.

Setelah membungkuk sekali lagi, Rahiang Sanjaya membalikkan badannya megikuti Bi Narsih menuju rumah yang berada di samping kiri rumah utama.

Kai Darmaseta dan Nay Suci saling pandang lalu tersenyum penuh arti.

"Kakang...ayo masuk...aku sudah tidak tahan pingin mandi air hangat ditaburi bunga dan dipijit...badanku pegal-pegal semua" ujar Nay Suci sambil menarik tangan Kai Darmaseta. Keduanya berjalan menaiki tangga rumah utama.

##

Setelah melepaskan penat dan membersihkan diri, Kai Darmaseta dan Nay Suci malam itu juga bergegas menemui Prabu Tarusbawa di keraton untuk melaporkan hasil perjalanannya ke wilayah wetan.

Prabu Tarusbawa duduk dengan gagah di singgasananya yang megah. Walaupun usianya sudah sangat sepuh namun tidak mengurangi kharisma dan wibawanya. Sementara di samping kirinya duduk Apatih Agung Anggada yang bertubuh tinggi besar dan berwajah keras namun terlihat tulus dan jujur. Kai Darmaseta dan Nay Suci duduk di hadapan mereka berdua dengan muka menunduk penuh rasa hormat dan takzim.

"Anggada...suruh semua orang meninggalkan tempat ini...dan siapapun jangan berani menguping pembicaraan kita" suara Prabu Tarusbawa terdengar berat dan berwibawa.

Apatih Agung Anggada merangkapkan tangan di atas kepalanya.

"Ampun Gusti Prabu...hamba sudah memastikan tidak ada seorangpun yang berani menguping pembicaraan ini" ujar Apatih Agung Anggada.

"Gusti Prabu jangan khawatir..." sambungnya sambil menurunkan kedua tangannya.

Sedangkan Kai Darmaseta dan Nay Suci tidak berani membuka mulut ataupun mengangkat wajah mereka masing-masing.

"Hmmm...baiklah, Darmaseta...Suci...bagaimana kabar kalian?...lama sekali kalian pergi..." ujar Prabu Tarusbawa lembut kepada Kai Darmaseta dan Nay Suci.

"Ampun Gusti Prabu...keadaan kami berdua baik-baik saja tidak kurang sesuatu apapun...semoga Gusti Prabu selalu dalam lindungan Dewata Agung selama kami pergi..." jawab Kai Darmaseta sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala diikuti oleh Nay Suci.

Prabu Tarusbawa menarik nafas lega lalu menoleh ke arah Apatih Agung Anggada seolah memberi tanda. Apatih Agung Anggada menganggukkan kepalanya.

"Darmaseta...bagaimana hasil perjalananmu?" Apatih Agung Anggada bertanya kepada Kai Darmaseta.

"Ampun Gusti Apatih...selama enam purnama perjalanan hamba berdua di wilayah Karatuan Galuh tidak berhasil menemukan Gusti Prabu Bratasenawa..." ujar Kai Darmaseta.

"Ampunkan kami berdua Gusti Prabu....kami bersedia menerima hukuman" timpal Nay Suci.

Apatih Agung Anggada menoleh ke arah Prabu Tarusbawa yang sedang tersenyum lalu menganggukan kepalanya lagi, seolah memerintahkan Apatih Agung Anggada meneruskan bertanya kepada Kai Darmaseta dan Nay Suci.

"Darmaseta...aku menyirap kabar kalau Gusti Prabu Bratasenawa berada di Gunung Merapi, apakah kalian menyusul ke sana?" Apatih Agung Anggada kembali bertanya.

"Kami berdua sudah menyusul ke Gunung Merapi tetapi hanya menemukan pondok kosong...sepertinya belum lama ditinggalkan. Lalu kami mencoba mengejar ke Karatuan Kalingga tempat Gusti Ratu Shima.." Kai Darmaseta menceritakan perjalanannya sambil tetap menunduk.

Sementara Prabu Tarusbawa mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.

"Di Kalingga pun tidak ada jejak Gusti Prabu Bratasenawa...hanya saja hamba berdua menyirap kabar, saat ini Gusti Ratu Shima sudah lengser dan menyerahkan kekuasaan kepada Gusti Ratu Sannaha" sambungnya.

Mendengar cerita Kai Darmaseta, Prabu Tarusbawa terlihat terkejut.

"Ah...benarkah kabar yang kau bawa itu, Darmaseta?" Prabu Tarusbawa bertanya.

"Benar Gusti Prabu...menurut informasi dari dalam keraton...Gusti Ratu Shima memutuskan untuk menyucikan diri dan bertapa..." terang Kai Darmaseta.

"Hmmm...menarik, lalu kemana Bratasenawa?...mengapa Sannaha yang memangku kekuasaan?" gumam Prabu Tarusbawa sambil mengusap-usap jengotnya yang memutih panjang.

"Kau teruskan ceritamu..." ucap Prabu Tarusbawa.

"Hamba berdua memutuskan untuk tinggal lebih lama di Kalingga untuk menyirap kabar sambil menunggu kemunculan Gusti Prabu Bratasenawa...namun beliau tidak kunjung tiba. Hanya saja kami mendapat informasi bahwa putra Gusti Prabu Bratasennawa dan Gusti Ratu Sannaha sedang berkelana menuju ke kulon" Kai Darmaseta melanjutkan ceritanya.

"Jambri...Rakean Jambri...bocah itu pasti sekarang sudah dewasa" desis Prabu Tarusbawa.

"Lalu kenapa kalian berdua tidak mengejarnya?...Putranya pasti tahu keberadaan Gusti Prabu Bratasenawa!" sergah Apatih Agung Anggada terlihat kesal mendengar kegagalan Kai Darmaseta dan Nay Suci.

"Ampun Gusti Apatih...hamba berdua pun mencoba mengejar melalui Karatuan Indraprahasta, namun penyamaran kami terbongkar. Kami dikejar-kejar oleh pasukan Karatuan Indraprahasta dan memutuskan untuk kembali dan melapor kepada Gusti Prabu..." jawab Kai Darmaseta.

"Dan setelah melaporkan ini kami berdua berjanji akan melanjutkan mencari jejak Gusti Prabu Bratasenawa dan putranya..." timpal Nay Suci.

Mendengar nama Karatuan Indraprahasta, wajah Apatih Agung Anggada terlihat mengeras lalu mengepalkan tangan dan memukul pahanya sendiri.

"Gusti Prabu...ijinkan hamba menghancurkan Karatuan Indraprahsta yang tidak tahu diri itu..." suara Apatih Agung Anggada bergetar sambil mengangkat kedua tangannya.

Prabu Tarusbawa tersenyum tenang lalu berkata,

"Sabar Anggada...akan tiba waktunya..." ujar Prabu Tarusbawa dengan tenang.

"Darmaseta, Suci...kalian sudah bekerja dengan baik, jangan terlalu kecewa. Tidak mudah memang menemukan Bratasenawa. Yang penting aku sudah tahu kalau Bratasenawa dan keluarganya masih hidup...itu yang terpenting" sambungnya lembut kepada Kai Darmaseta dan Nay Suci.

Mendengar ucapan Prabu Tarusbawa, Kai Darmaseta dan Nay Suci merasa lega.

"Kalian berdua pulanglah dan beristirahat...nanti mungkin aku akan memberimu tugas yang lain" ujar Prabu Tarusbawa kepada Kai Darmaseta dan Nay Suci.

"Oh...iya, Suci....besok pagi kau datanglah ke kaputren, temui cucuku Tejakancana...dia selalu menanyakanmu..." sambungnya.

Kai Darmaseta dan Nay Suci merangkapkan kedua tangannya di atas kepala lalu bangkit dari duduknya.

"Terima kasih Gusti Prabu...hamba berdua mohon pamit..." ujar Kai Darmaseta lalu berbalik kepada Apatih Agung Anggada dan merangkapkan kedua tangannya di depan dada diikuti oleh Nay Suci.

"Hamba berdua mohon pamit Gusti Apatih..." sambungnya.

Sepeninggal Kai Darmaseta dan Nay Suci, Prabu Tarusbawa berbicara kepada Apatih Agung Anggada.

"Anggada...kau siapkan seluruh pasukan Karatuan Sunda dan pilihlah tiga ratus prajurit terbaik yang mempunyai kemampuan silat dan kesaktian tinggi dan juga dua orang senapati pilihan. Kita harus segera bersiap menghadapi peperangan. Ingat rahasiakan hal ini dari rakyat...jangan sampai mereka merasa terganggu dan panik"

Apatih Anggada bangkit dari duduknya lalu bersimpuh di hadapan Prabu Tarusbawa.

"Hamba siap menjalankan perintah"

Prabu Tarusbawa kemudian bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan tersebut menuju ke kamarnya. Senyuman tipis tersungging di bibirnya.

"Senna...hampir sepuluh tahun kau menghilang, seperti juga kakekmu...Wretikandayun, kau memang licin dan tangguh..." gumamnya.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #11