GEMPAR DI TANAH GALUH


Walaupun Dewi Sekarasih mencoba untuk bersikap tenang seperti yang ditunjukkan oleh Yuchi Saksena, namun tidak urung dirinya melirik dengan sudut matanya ke arah enam orang tersebut. Dewi Sekarasih tetap merasa curiga dengan tindak-tanduk orang-orang tersebut yang secara jelas-jelas mengawasi meja mereka. 

Dan benar saja, laki-laki pertama yang berwajah tirus sudah mencabut golok. Dua orang yang berpakaian ala orang Gujarat dan seorang yang rambutnya digelung mirip seorang perwira karatuan duduk tidak jauh dari meja Dewi Sekarasih dan Yuchi Saksena. Sedangkan Pandita tua dan pemuda tampan berwajah oriental berdiri di sisi kanan dan kiri meja. Terlihat jelas keenam orang ini mencari perkara dengan Dewi Sekarasih dan Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena seolah tidak peduli, tetap tenang meneguk cangkir demi cangkir yang sudah diisinya dengan arak harum. Dewi Sekarasih tetap menunjukkan wajah yang juga tenang-tenang saja walaupun hatinya berdebar keras. 

Pelayan dan pegawai kedai, diam-diam menyingkir dan menjauh. Sedangkan tamu-tamu lain yang sedang makan segera menyelesaikan makannya dan bergegas pergi. Mereka melihat gelagat yang tidak baik.

"Hmm...ternyata tidak perlu jauh-jauh mencari, kalian datang sendiri menyerahkan nyawa. Aku akan mendapatkan hadiah yang besar dari Juragan Jumadi..." dengus laki-laki pertama yang berwajah tirus sambil mengacungkan goloknya.

Mendengar ucapan laki-laki berwajah tirus tersebut, Dewi Sekarasih melirik ke arah Yuchi Saksena sambil berbisik,

"Kakang...tepat seperti dugaanmu...orang-orang Arya Jumadi sudah mencium keberadaan kita"

"Cantik...kau tidak usah bisik-bisik seperti itu...walaupun kepalamu bernilai tinggi, aku berjanji tidak akan menyerahkanmu kepada Juragan Arya Jumadi...aku akan membawamu untuk kita bersenang-senang berdua...ha...ha..." ujar laki-laki berwajah tirus itu lagi sambil terbahak.

Diperlakukan seperti itu, Dewi Sekarasih dongkol bukan main. Namun karena melihat Yuchi Saksena yang masih tenang-tenang saja, Dewi Sekarasi pun mencoba bersabar. Alih-alih menanggapi ucapan laki-laki berwajah tirus, Dewi Sekarasih malah tersenyum manis ke arah pemuda tampan bermata sipit yang berdiri di sisi kiri meja. Sesekali matanya berkedip-kedip seolah menggodanya. Pemuda tersebut menjatuhkan pandangannya ke atas meja, tidak kuat bertatapan dengan mata Dewi Sekarasih yang jeli dan bening.

Sementara Yuchi Saksena hanya melirik sekilas ke arah laki-laki berwajah tirus tersebut lalu kembali mengisi cangkirnya dengan tuak dari dalam guci.

"Sudah kuduga...Arya Jumadi akan mengerahkan orang-orang bayaran untuk memburuku..." batinnya sambil kembali acuh tak acuh.

Setelah puas menggoda pemuda tampan tersebut, Dewi Sekarasih memalingkan matanya ke arah laki-laki berwajah tirus yang sedari tadi sudah memutar-mutarkan goloknya.

"Orang aneh...tiada angin tiada hujan datang mengganggu...rupanya kau sudah sakit jiwa" sengit Dewi Sekarasih tajam.

"Ha...ha...cantik, walaupun mulutmu tajam dan tidak tahu adat...tapi aku semakin suka kepadamu...aku semakin tidak sabar untuk memberimu kenikmatan...ha...ha..." sambar laki-laki berwajah tirus itu terbahak.

Mual rasanya perut Dewi Sekarasih mendengar ucapan laki-laki berwajah tirus tersebut. Sementara pemuda tampan yang sedari terdiam tanpa banyak bicara rupanya sudah tidak sabar, pedangnya berkelebat menyasar ke arah guci arak yang terletak di atas meja.

"Terlalu banyak bicara dan buang waktu saja....!" seru pemuda tampan itu.

"Wuutt....."

Yuchi Saksena mengibaskan tangan kanannya ke arah pedang yang berkelebat dengan cepat. Belum sempat pedang itu mengenai guci arak tersebut, tiba-tiba terdengar lengkingan kesakitan.

"Argghhh.....Braaakkkk..."

Pemuda tampan tersebut terpental menghantam meja di belakangnya hingga berantakan. Dengan susah payah dirinya mencoba berdiri dengan muka yang merah padam. Sementara Yuchi Saksena kembali meneguk cangkir yang berisi arak, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

"Sudah kubilang...jangan membawa anak ingusan...bikin malu saja...sekali gebrak sudah terkapar..." dengus laki-laki yang rambutnya digelung sembari memukulkan kepalan tangan kanannya ke atas meja.

Mendengar ucapan laki-laki bergelung, pemuda berwajah tampan muntab dan bersiap menyerang kembali ke arah Yuchi Saksena.

"Aih...dasar tidak tahu diri...sudah dikasih hati malah minta mati...! Kau juga pandita...aku tidak yakin kau benar-benar seorang pandita..." dengus Dewi Sekarasih sambil berdiri dari tempat duduknya.

Kedua kakinyamenghentak ke lantai kedai lalu tubuhnya melenting ke atas sebuah meja yang masih penuh hidangan sisa para tamu yang tidak sempat dibereskan oleh pelayan kedai. Kini Dewi Sekarasih sudah berdiri tegak di atas meja tanpa menjatuhkan satupun bekas hidangan yang masih tersimpan di atas meja. Di tangan kanannya tergenggam erat gagang pedang kuning yang melintang di depan dadanya. Dari bibirnya yang merah merekah tersungging sebuah senyuman mengejek, matanya berbinar terang.

"Heehh...untuk menghadapai cecurut piaraan Arya Jumadi seperti kalian...cukup aku yang memberi pelajaran. Tapi aku tidak mau menghadapi kalian satu per satu...aku maunya kalian berenam maju sekaligus...biar waktuku tidak terbuang percuma"

Mendengar ucapan Dewi Sekarasih yang sangat percaya diri bahkan cenderung sombong dan angkuh, Yuchi Saksena tersenyum kecil. Dirinya teringat saat pertama kali bertemu dengan Dewi Sekarasih di Palabuhan Muara.

"Tikus kecil...sifat aslimu sudah kembali..." gumamnya senang melihat keceriaan dan keangkuhan Dewi Sekarasih telah kembali.

Direndahkan seperti itu laki-laki berwajah tirus, pemuda berwajah tampan dan pandita tua yang sedari tadi tidak mengeluarkan sepatah katapun, serentak mengurung Dewi Sekarasih yang masih berdiri di atas meja. Sementara dua laki-laki gujarat dan laki-laki bergelung tidak beranjak dari tempat duduknya. Mereka hanya mendengus namun tatapannya tidak lepas dari Yuchi Saksena. Sepertinya mereka lebih mengincar Yuchi Saksena daripada Dewi Sekarasih.

Laki-laki berwajah tirus, pemuda berwajah tampan dan pandita tua, serempak menerjang ke arah Dewi Sekarasih.

Dewi Sekarasaih menyambut serangan ketiganya dengan senyuman yang mengejek. Kaki kanannya bergerak cepat menyentil cangkir dan piring di atas meja.

"Sebelum berkelahi lebih baik kalian makan dulu...nih..." seru Dewi Sekarasih.

Serangan itu termasuk hebat, cangkir dan piring beterbangan berikut isinya. Cepat sekali benda-benda tersebut menghantam tiga orang penyerangnya tanpa bisa dihindari. Pakaian jubah pandita tua kuyup oleh semburan air dari dalam cangkir sementara pemuda berwajah tampan gelagapan ketika mukanya penuh oleh nasi. Sedangkan laki-laki berwajah tirus memekik kesakitan ketika cangkir tanah menghantam pelipisnya.

"Hi...hi...kalian lucu sekali dan tidak tahu diri....punya kemampuan sejengkal tapi belagak selangit tembus.." Dewi Sekarasih terkekeh.

Ketiga orang itu muntab dan gelap mata, senjata mereka berkelebat cepat mengurung Dewi Sekarasih yang hanya tertawa mengejek tanpa menurunkan tubuhnya dari atas meja. Pedang kuningnya menyambar-nyambar menangkis sabetan golok dan pedang. Sedangkan tongkat pandita tua itu sesekali dihindarinya dengan meliukkan tubuhnya yang lentur. Kadang-kadang ia hanya mengangkat kakinya menghindari sabetan golok dan pedang. Sepertinya Dewi Sekarasih hanya sedang menunggu saat yang tepat untuk menjatuhkan mereka bertiga.

Benar saja, saat sudah dirasa cukup bermain-main dengan mereka, Dewi Sekarasih melengking lalu tubuhnya berkelebat cepat memainkan jurus-jurus "Menembus Langit Membelah Rembulan" yang didapatnya dari Yuchi Saksena. Tubuhnya hanya terlihat bayangannya saja.

"Argghhh..." terdengar pekikan tertahan diikuti oleh terlemparnya tubuh pemuda berwajah tampan terkena tendangan kaki Dewi Sekarasih yang menghantam rahangnya. Tubuh pemuda tampan itu terjajar ke arah laki-laki bergelung yang sedang duduk. Sambil mendengus laki-laki bergelung tersebut berdiri lalu menendang punggung pemuda tersebut yang terdorong ke arahnya.

"Bruukkk...erghhh..." pemuda berwajah tampan tersebut mendelik lalu ambruk tak sadarkan.

"Sial...bikin malu saja!" gerutu laki-lak bergelung tersebut sambil duduk kembali.

Sementara itu pedang Dewi Sekarasih mulai memakan korban. Jeritan setinggi langit bersahutan ketika pedangnya membuat bahu laki-laki berwajah tirus dan dada pandita tua tergores dalam. Darah menyembur dari luka mereka masing-masing.

"Argh..." jeritan laki-laki berwajah tirus terdengar begitu menggidikkan, dilepaskan goloknya dan tangan kannnya dan mendekap bahu kirinya yang hampir putus.

Laki-laki tirus mengumpat lalu melompat dan berkelebat meninggalkan kedai tersebut.

"Perempuan jalang...aku bersumpah akan membalas dendam!"

Sementara pandita tua melompat mundur sambil mendekap dadanya yang tak henti mengeluarkan darah. Pandita tua itu menjura sekali ke arah Dewi Sekarasih lalu mengetukkan tongkatnya ke lantai dan berkelebat meninggalkan kedai tersebut.

Sementara itu, Yuchi Saksena asyik menenggak araknya seolah tidak meyadari bahwa telah terjadi pertarungan sengit di dalam kedai tersebut.

"Ternyata hanya seujung kuku kemampuan para begundal bayaran Arya Jumadi...menyesal aku melayani kalian...hanya mengotori tanganku saja" dengus Dewi Sekarasih pongah sambil melompat turun dari atas meja dan menyarungkan kembali pedang kuningnya. Dewi Sekarasih menghampiri Yuchi Saksena lalu duduk dihadapannya.

"Kakang...jangan terlalu banyak minum..aku yakin akan datang lebih banyak suruhan Arya Jumadi. Aku belum tentu mampu menghadapi mereka semua" sambungnya berbisik kepada Yuchi Saksena.

"Hmm...tikus kecil...aku percaya padamu...kau hadapilah mereka semua" gumam Yuchi Saksena sambil mengangkat cangkir berisi arak harum.

Dua laki-laki gujarat diikuti oleh laki-laki bergelung bangkit dari duduknya lalu menghampiri meja Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

"Anak muda...namaku Darsa, perwira Karatuan Kalingga yang mendapat tugas untuk menangkapmu" ujar laki-laki bergelung bernama Darsa yang ternyata adalah seorang perwira Karatuan Kalingga.

Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih sesaat saling berpandangan begitu mendengar ucapan Darsa.

"Karatuan Kalingga?...aku tidak pernah berurusan dengan kalian...untuk apa menangkapku?" ujar Yuchi Saksena sedikit mengerutkan dahinya.

Darsa menarik nafas panjang sambil tersenyum sinis.

"Kau telah membunuh anak buah Juragan Arya Jumadi tanpa alasan. Aku harap kau dan kekasihmu yang cantik ini... bisa ikut denganku dan mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu. Aku berjanji tidak akan menyakiti kalian..." ujar Darsa dengan tenang.

Mendengar ucapan Darsa yang seolah meremehkan mereka berdua, Dewi Sekarasih meradang.

"Hmm...ternyata prajurit karatuan telah menjadi antek-anteknya Arya Jumadi...sayang sekali, kau telah mempermalukan Ratu Kalingga..." dengus Dewi Sekarasih kesal. 

Dimasa itu memang bukan hal yang aneh jika para saudagar kaya mempunyai hubungan yang sangat erat dengan para petinggi angkatan perang karatuan.

"Tidak semudah itu prajurit...kami berdua yang akan menangkap dan menyerahkannya kepada Juragan Arya Jumadi..." tiba-tiba salah satu dari laki-laki Gujarat memotong pembicaraan.

Darsa melirik ke arah dua laki-laki Gujarat yang sudah siap dengan golok besar ditangan mereka masing-masing.

"Kisanak...aku tidak mau berebut mangsa seperti anjing liar...kalau kalian memang mau menangkapnya sendiri, aku persilakan" ujar Darsa sambil tersenyum licik.

"Biarkan mereka bertarung mati-matian...saat mereka kelelahan...aku akan memanfaatkannya" batin Darsa sambil melangkah mundur.

Dua laki-laki Gujarat tersebut mendekati meja Yuchi Saksena yang masih acuh tak acuh.

"Anak muda...namaku adalah Jigar dan adikku adalah Jiger, kami berdua tidak ada silang sengketa dengan dirimu. Hanya saja Juragan Arya Jumadi menghargai kepalamu senilai limaratus keping uang emas...urusan kami denganmu hanyalah masalah uang emas..." ujar Jigar sopan sambil membungkukkan badannya.

Baca juga : Rahiang Sanjaya #6

Mendengar ucapan laki-laki Gujarat bernama Jigar tersebut, Yuchi Saksena mengangkat kepalanya. Sementara Dewi Sekarasih mengernyitkan dahinya, dirinya baru tahu ada para pemburu emas yang pekerjaannya menangkap atau membunuh sesuai pesanan orang yang membayar.

"Hmm...aku sudah seringkali mendengar tentang pemburu emas seperti kalian...tidak dinyana hari ini akan berhadapan langsung..." ujar Yuchi Saksena sambil berdiri.

"Aku menghargai pekerjaan kalian...oleh karena itu aku akan memberimu kesempatan untuk membunuhku..." sambungnya.

"Kakang...biarkan aku yang menghadapi mereka!" sergah Dewi Sekarasih sambil berdiri lalu menghunus pedang kuningnya.

"Gadis cantik...kami akan mengurusmu setelah membunuh kekasihmu ini...nilaimu duaratus keping emas dalam keadaan hidup...jadi kau harap bersabar" ujar laki-laki Gujarat yang bernama Jiger sopan sambil membungkukkan badannya.

"Bajingan busuk..." maki Dewi Sekarasih meradang mendengar dirinya dihargai sejumlah uang emas bagaikan barang.

Yuchi Saksena menangkap tangan Dewi Sekarasih yang bersiap-siap akan menerjang ke arah Jiger.

"Sekarasih...sabar, mereka berdua hanya bekerja untuk menyambung hidup. Aku menghargai pekerjaan mereka...jadi biarlah aku layani mereka secara ksatria." ujar Yuchi Saksena tenang.

"Mari kita selesaikan di luar kedai...tidak baik menghancurkan kedai milik orang lain" sambungnya kepada Jigar dan Jiger lalu menghentakkan kakinya ke lantai lalu melesat ke pekarangan kedai yang cukup luas.

Jigar dan Jiger berkelebat menyusul Yuchi Saksena lalu diikuti oleh Dewi Sekarasih. Sementara Darsa, sang Perwira Karatuan Kalingga, tersenyum licik lalu berjalan dengan saNtai ke luar kedai.

*****

Sementara itu Kota Karangkamulyan yang merupakan ibukota Karatuan Galuh, terjadi kegegeran akibat menghilangnya Senapati Wirajati dari rumah kediamannya. Yang lebih membuat gempar lagi adalah di dalam rumahnya tergeletak mayat Kunta dan Santika yang merupakan perwira-perwira dari pasukan telik sandi pimpinan Senapati Wirajati.

Lenyapnya Senapati Wirajati dan juga tewasnya Kunta dan Santika, jelas membuat geram Apatih Bimaraksa apalagi sejak awal dirinya tidak menghendaki Senapati Wirajati menetap di Karatuan Galuh. Apatih Bimaraksa menganggap bahwa Senapati Wiarajati sebagai mata-mata yang ditempatkan oleh Prabu Purbasora untuk mengawasinya.

Suasana di Keraton Kapatihan sangat tegang saat Sanam, kepala pengawal rumah Senapati Wirajati, melapor kepada Apatih Bimaraksa. Sanam duduk berlutut dihadapan Apatih Bimaraksa yang duduk di atas kursi megahnya. Seorang Senapati kepercayaan Apatih Bimaraksa yaitu Senapati Anggadirja berdiri di sampingnya, sementara dua orang perwira berdiri dibelakang Sanam.

"Keparat...apa yang terjadi sebenarnya?...Sanam...kau cepat jelaskan kepadaku!!!" bentak Apatih Bimaraksa saat mendengar kabar tersebut dari kepala pengawal rumah Senapati Wirajati yang bernama Sanam.

Dibentak sedemikian rupa, Sanam menggigil ketakutan. Sambil tetap berlutut, Sanam mencoba untuk menenangkan diri.

"Ampun Gusti Apatih...hamba tidak tahu jelas apa yang terjadi. Hanya saja malam itu, Gusti Senapati Wirajati membawa tawanan perempuan ke dalam rumah dan ditempatkan di kamar belakang. Lalu..." Sanam menarik nafas panjang.

"Lalu apa?...cepat teruskan ceritamu..." sergah Apatih Bimaraksa.

"Lalu...besok paginya, Kakang Kunta ditemani oleh Santika datang dan menemui Gusti Senapati Wirajati. Setelah itu...hamba tidak tahu apa yang terjadi...hanya saja menjelang malam, emban memberitahukan ada mayat di dalam kamar belakang" sambung Sanam meneruskan ceritanya.

"Hmm...lalu kemana Wirajati dan tawanan perempuan itu?" tanya Apatih Bimaraksa.

"Ha..hamba...tidak tahu Gusti Apatih..." Sanam terbata-bata karena ketakutan.

"Keparat...lalu apa saja pekerjaanmu hingga dua orang bisa menghilang tanpa sepengetahuanmu...!!!" Apatih Bimaraksa bangkit duduknya lalu menarik bahu Sanam agar berdiri.

Sanam menggigil ketakutan. Senapati Anggadirja menarik nafas panjang sementara dua orang perwira yang bernama Cakra dan Minta melangkah mundur.

"Plak...Buukkk..."

Tangan kanan Apatih Bimaraksa menggampar pipi Sanam diikuti oleh hantaman lutut kiri menohok perutnya. Sanam terjajar ke belakang sambil menahan sakit. Darah segar terlihat merembes dari sudut bibirnya.

Apatih Bimaraksa belum luluh amarahnya dengan gemas ditariknya baju Sanam.

"Dasar tidak berguna...masukkan dia ke dalam kurungan...!!!...tangkap juga semua pengawal dan emban yang ada di rumah Wirajati..." hardiknya sambil menghempaskan tubuh Sanam ke arah Cakra dan Minta.

Sanam terjengkang ke atas lantai lalu diseret oleh Cakra dan Minta ke luar ruangan.

Apatih Bimaraksa memejamkan matanya saking kesal dan marahnya.

"Keparat apa sebenarnya yang terjadi? Mungkinkah Wirajati berkhianat dan melarikan diri bersama perempuan itu?...Sudah lama aku tidak mempercayai Wirajati...bangsat!!!" maki Apatih Bimaraksa sambil menghempaskan badannya kembali ke atas kursi.

Senapati Anggadirja melangkah ke hadapan Apatih Bimaraksa.

"Ampun Gusti Apatih...hamba sudah meminta keterangan dari anak buah Wirajati di Guha Siluman.." ujar Senapati Anggadirja sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

Apatih Bimaraksa membuka matanya yang memerah karena amarah.

"Hmm...apa yang mereka katakan?" tanyanya kepada Senapati Anggadirja.

"Tawanan perempuan yang mereka tangkap dan dibawa ke rumah Wirajati, bernama Ajengsari...dia diketahui banyak menghasut jawara-jawara dari paguron silat di sekitar Kota Karangkamulyan untuk memberontak kepada Gusti Prabu Purbasora" terang Senapati Anggadirja.

"Ajengsari...siapa perempuan itu?...kenapa tidak ada laporan kepadaku?" desis Apatih Bimaraksa sambil mengepalkan tangan kanannya.

"Ampun Gusti Apatih...menurut mereka, Kunta sudah berniat melaporkan hal ini kepada Gusti Apatih tapi dicegah oleh Senapati Wirajati" sambung Senapati Anggadirja.

"Keparat...Wirajati memang tidak bisa dipercaya..." dengusnya semakin muntab kepada Senapati Wirajati.

"Satu hal lagi Gusti Apatih..." Senapati Anggadirja menghentikan ucapannya lalu menarik nafas panjang seolah merasa berat untuk menyampaikannya.

"Apalagi...?" sergah Apatih Bimaraksa.

"Menurut penyelidikan pasukan Telik Sandi, perempuan itu berasal dari...Kabuyutan Denuh" ujar Senapati Anggadirja pelan.

Apatih Bimaraksa terkejut bukan alang kepalang mendengar keterangan dari Senapati Anggadirja.

"Mustahil...tidak mungkin ada satu orang pun dari Kabuyutan Denuh yang berani memberontak...kau jangan asal bicara Anggadirja!" Apatih Bimaraksa muntab.

"Ampun Gusti Apatih..." Senapati Anggadirja merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

Apatih Bimaraksa memejamkan matanya kembali sambil memijit keningnya, sesosok wajah berkelebat di kepalanya.

"Tidak...tidak mungkin...aku mengenal semua orang di Kabuyutan Denuh dan tidak ada yang perempuan yang bernama Ajengsari....atau....mungkinkah dia....ah...tidak mungkin" gumam Apatih Bimaraksa seolah berbicara kepada dirinya sendiri.

"Anggadirja...apakah kau mendapat kabar tentang ciri-ciri perempuan itu?" tanyanya kepada Senapati Anggadirja.

"Ampun Gusti Apatih...menurut kabar, perempuan itu berusia sekitar empatpuluhan tahun, kulitnya kuning umyang, sangat cantik dan montok. Ah sayang dia menjadi pemberontak..." Senapati Anggadirja malah melantur.

"Anggadirja...!!!" bentak Apatih Bimaraksa mendengar ucapan Senapati Anggadirja yang melantur.

"A..ampun Gusti Apatih..." Senapati Anggadirja terkesiap dibentak seperti itu.

Sementara Apatih Bimaraksa menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.

"Ah...tidak salah lagi...tidak salah lagi..." desisnya.

Setelah terdiam beberapa saat, Apatih Bimaraksa bangun dari tempat duduknya lalu memerintahkan Anggadirja untuk mencari keberadaan Senapati Wirajati.

"Anggadirja...kau ambil alih pasukan telik sandi, kerahkan semua untuk mencari Wirajati dan perempuan itu...hubungi semua Kandaga Lante!"

"Baik Gusti Apatih, akan hamba laksanakan!....Emh...tapi apakah mungkin Senapati Wirajati melarikan diri bersama Ajengsari?" tanya Senapati Anggadirja mengulang kecurigaan yang sebelumnya disebutkan oleh Apatih Bimaraksa.

"Kalau sampai terjadi hal seperti itu..aku sendiri yang akan menghabisi Wirajati" geram Apatih Bimaraksa.

###

Tidak lama setelah Senapati Anggadirja meninggalkan Karaton Kapatihan, Apatih Bimaraksa bergegas menuju Karaton Kaprabuan menemui Prabu Purbasora untuk melaporkan apa yang terjadi.

"Hmm...Rayi Bimaraksa, siapa sebenarnya perempuan bernama Ajengsari itu?" tanya Prabu Purbasora setelah Apatih Bimaraksa menceritakan semuanya.

Apatih Bimaraksa yang duduk dihadapan Prabu Purbasora menarik nafas panjang.

"Ampun Kakang Prabu...hamba khawatir perempuan tersebut adalah Pwah Kenanga" ujar Apatih Bimaraksa pelan.

Mendengar nama Pwah Kenanga, Prabu Purbasora tersenyum kecil.

"Maksud Rayi Bimaraksa...Pwah Kenanga yang berguru di tempat Paman Resi Rahytang Kidul?" tanyanya meyakinkan.

"Hamba tidak yakin Kakang Prabu...tapi mendengar ciri-cirinya...hamba kira dialah orangnya" jawab Apatih Bimaraksa dengan wajah bersemu merah.

"Ah...tapi apa alasannya Pwah Kenanga mau memberontak kepadaku?...bukankah urusannya hanya denganmu saja Rayi Bimaraksa?" Prabu Purbasora menggoda Apatih Bimaraksa.

Apatih Bimaraksa tersenyum kecut.

"Kakang Prabu...tidak perlu khawatir dengan Pwah Kenanga...hamba berjanji untuk menyelesaikannya sendiri" ujar Apatih Bimaraksa.

Prabu Purbasora tersenyum.

"Rayi Bimaraksa...urusan Pwah Kenanga..aku serahkan sepenuhnya kepadamu. Hanya saja tentang Senapati Wirajati...kenapa dirinya ikut menghilang?...Apakah dia kepincut oleh Pwah Kenanga lalu memilih untuk kabur?" tanya Prabu Purbasora sambil mengernyitkan dahinya.

"Ampun Kakang Prabu...itu yang hamba khawatirkan..." Apatih Bimaraksa menarik nafas panjang.

Prabu Purbasora tersenyum sambil menatap wajah Apatih Bimaraksa.

"Rayi Bimaraksa...kau kirim utusan ke Karatuan Indraprahasta dan sampaikan semua yang terjadi kepada Rayi Prabu Wiratara. Minta bantuan beliau untuk mencari Senapati Wirajati...jangan lupa kabari juga ke Karatuan Kuningan agar Rayi Prabu Demunawan ikut membantu mencarinya" ujar Prabu Purbasora.

"Baik Kakang Prabu..." ujar Apatih Bimaraksa sambil berdiri dan bersiap meninggalkan tempat tersebut.

Prabu Purbasora menahan tangan Apatih Bimaraksa.

"Sebentar Rayi Bimaraksa...kau duduklah lagi...ada hal penting lain yang harus kita bicarakan..." ujarnya mempersilakan Apatih Bimaraksa kembali duduk.

"Begini Rayi Bimaraksa...apakah kau sudah mendapat kabar tentang keberadaan Bratasennawa dan juga anaknya?" tanya Prabu Purbasora.

Apatih Bimaraksa kembali duduk lalu menarik nafas panjang.

"Ampun Kakang Prabu...sampai hari ini, kita belum bisa memastikan keberadaannya. Pasukan kita sudah mengejar dan mendatangi tempat pengasingan mereka di lereng Gunung Merapi...tapi tempat tersebut sudah kosong" ujar Apatih Bimaraksa.

"Hmm...apakah sudah mencari informasi ke Karatuan Kalingga?" tanya Prabu Purbasora.

"Sudah Kakang Prabu...menurut telik sandi kita, sekarang yang memerintah Karatuan Kalingga adalah Rayi Ratu Sannaha...tapi Rayi Bratasennawa tidak pernah muncul di sana..." jawab Apatih Bimaraksa.

Prabu Purbasora menarik nafas seolah ada beban berat di dadanya.

"Kabar terakhir...Rakean Jambri mendatangi Kabuyutan Denuh...namun setelah itu jejaknya tidak lagi dapat terlacak" sambung Apatih Bimaraksa.

"Huuhhh...kemana anak itu perginya?" Prabu Purbasora mengusap janggutnya yang panjang.

"Ampun Kakang Prabu...hamba khawatir anak itu menuju Sundapura untuk meminta bantuan dari Karatuan Sunda" ujar Apatih Bimaraksa.

"Aku tidak yakin Prabu Tarusbawa mau membantunya...apalagi setelah kematian putranya...kekuatan angkatan perang Karatuan Sunda tidak terlalu aku khawatirkan" ujar Prabu Purbasora, terdengar meremehkan kekuatan Karatuan Sunda.

"Kita harus lebih berhati-hati dengan Karatuan Kalingga...Rayi Patih...perkuat pasukan di perbatasan dan sebar telik sandi sebanyak-banyaknya di seluruh wilayah Kalingga" sambungnya.

"Untuk berjaga-jaga, kirim juga beberapa orang telik sandi ke Sundapura dan Pakwan..." Purbasora menambahkan perintahnya untuk mengawasi Karatuan Sunda juga.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #5