Suasana di balariung sedikit tegang walaupun diwajah mereka memancarkan kebahagiaan namun semuanya menantikan titah apa yang akan disampaikan oleh Prabu Tarusbawa. Tentu saja kecuali wajah Senapati Wiradipati yang masih kelihatan bingung dan tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi.

Mata tua Prabu Tarusbawa menatap Putri Tejakancana dengan penuh kasih sayang, walaupun senyum selalu tersungging dibibirnya namun sorot matanya menyiratkan sedikit kekhawatiran.

Prabu Tarusbawa menghela nafas panjang.

"Anaking Tejakancana...kau lihat pemuda gagah disamping Anggada itu?" tanya Prabu Tarusbawa lembut sambil menunjuk ke arah Rahiang Sanjaya yang masih tertunduk.

"Iya Aki Prabu..." jawab Putri Tejakancana sambil tetap menundukkan kepalanya tidak berani melirik ke arah Rahiang Sanjaya.

"Dia adalah Rakean Jambri...putra Bratasennawa sahabat ayahmu..." sambung Prabu Tarusbawa lalu melirik ke arah Rahiang Sanjaya.

"Anaking Jambri...kau lihat gadis muda ini...dia adalah Tejakancana, putri dari Sundasambawa...sahabat ayahmu" lanjut Prabu Tarusbawa kepada Rahiang Sanjaya.

"I..iya...Aki Prabu..." jawab Rahiang Sanjaya dengan muka yang memerah.

"Wiradipati...sudah jelas sekarang?" Prabu Tarusbawa bertanya kepada Senapati Wiradipati.

"Iya Gusti Prabu...hamba sudah faham" jawabnya pelan.

"Nah...sekarang semua sudah tahu tentang Jambri...cucu buyut dari sahabatku diwaktu muda dulu yaitu Kakang Wretikandayun. Dimasa lalu kami sempat berselisih faham mengenai cara mengelola negara ini...tapi semua sudah berlalu yang terpenting sekarang adalah masa depan" ujar Prabu Tarusbawa sambil menghela nafas panjang.

"Kalian yang muda-muda harus bisa membawa Karatuan ini kembali berjaya seperti dimasa lalu...Aku yakin pertemuan ini adalah kehendak Dewata Agung....Aku sudah tua...sudah saatnya menyepi dan mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi" sambungnya dengan mata menerawang jauh.

Semua yang ada di ruangan balariung terdiam menunggu kelanjutan ucapan Prabu Tarusbawa.

"Anggada...bagaimana menurutmu?" Prabu Tarusbawa meminta pendapat Apatih Anggada.

"Ampun Gusti Prabu...hamba hanya bisa menebak-nebak maksud Gusti Prabu...Mohon Gusti Prabu menjelaskan lebih terperinci agar hamba bisa menjalankan semua titahmu" jawab Apatih Anggada sambil tersenyum.

"Ha...ha...ha...kita ini sama-sama sudah tua Anggada...pasti kau mengerti apa maksudku...kau jelaskanlah kepada anak-anak muda ini" Prabu Tarusbawa tergelak.

Semua pandangan mengarah kepada Apatih Anggada yang tersenyum lebar mendengar titah Prabu Tarusbawa untuk menjelaskan maksud ucapannya.

"Mohon ampunkan hamba kalau salah Gusti Prabu..." Apatih Anggada merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

"Hmmm...." Prabu Tarusbawa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

"Maksud Gusti Prabu adalah....dimasa lalu Karatuan Sunda dan Karatuan Galuh adalah satu kesatuan dalam lingkup kekuasaan Karatuan Tarumanagara...." Apatih Anggada mulai menjelaskan maksud ucapan Prabu Tarusbawa.

"....hanya karena ada perbedaan pendapat antara Gusti Prabu Tarusbawa dengan Gusti Prabu Wretikandayun yang membuat kita terpecah menjadi Karatuan Sunda dan Karatuan Galuh" Apatih Anggada menarik nafas sambil memandang semua yang hadir di balariung tersebut.

Sementara Prabu Tarusbawa memejamkan matanya sambil mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.

"Gusti Prabu Tarusbawa yakin bahwa pertemuan antara cucu dan buyut dua penguasa karatuan ini tentulah sudah diatur oleh Sang Hyang Widhi...ini adalah sebuah pertanda bahwa Karatuan Sunda dan Karatuan Galuh bisa kembali bersatu seperti di masa lalu. Bahkan Gusti Prabu Tarusbawa yakin bahwa jika dua karatuan ini kembali bersatu...maka akan mencapai kejayaan seperti di masa lalu" sambung Apatih Anggada.

Rahiang Sanjaya dan Putri Tejakancana menahan nafas masing-masing mendengar penjelasan Apatih Anggada, wajah keduanya memerah dan duduknya mulai tidak tenang. Sementara Kai Darmaseta dan Nay Suci saling pandang lalu tersenyum bahagia. Sementara Senapati Wiradipati manggut-manggut karena bisa mulai memahami maksud pertemuan tersebut.

"Demikian menurut hemat hamba...Gusti Prabu...mohon dikoreksi kalau salah" Apatih Anggada merangkapkan kedua tangannya kembali di atas kepala.

"Ha...ha...ha...betul sekali Anggada semua penjelasanmu benar adanya...sayang masih kurang satu hal..." Prabu Tarusbawa tergelak.

"Ampun Gusti Prabu...mohon dimaafkan...hamba tidak mengerti...mohon Gusti Prabu memberitahu hamba tentang satu hal itu..." jawab Apatih Anggada sambil tersenyum, sebenarnya dirinya sudah tahu apa yang dimaksud oleh Prabu Tarusbawa tapi memilih untuk membiarkan Sang Prabu sendiri yang menjelaskan.

"Kau sudah menjelaskan semua...tapi cara menyatukan kembali Karatuan Sunda dan Karatuan Galuh...harus bagaimana Anggada?" Prabu Tarusbawa bertanya lagi kepada Apatih Anggada.

"Ampun Gusti Prabu...hamba tidak berani menjawab..." Apatih Anggada tersenyum lebar.

"Hmm...sudah tua masih saja sungkan..." ujar Prabu Tarusbawa kepada Apatih Anggada.

"Darmaseta...menurutmu bagimana cara menyatukan dua karatuan yang sudah terpecah ini?" sambungnya bertanya kepada Kai Darmaseta.

Kai Darmaseta tersenyum sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

"Ampunkan hamba yang bodoh ini Gusti Prabu..." Kai Darmaseta tidak berani menjawab walaupun sudah bisa menebak maksud Prabu Tarusbawa.

Prabu Tarusbawa tersenyum mendengar jawaban Kai Darmaseta lalu memandang ke arah Rahiang Sanjaya yang sedari tadi menunduk semakin dalam.

"Ah...harusnya aku juga bertanya kepada utusan dari Karatuan Galuh...." ujarnya.

"Jambri sebagai buyut dari Kakang Wretikandayun penguasa Karatuan Galuh...bagaimana menurutmu jika Karatuan Sunda dan Karatuan Galuh kembali bersatu?" sambungnya bertanya kepada Rahiang Sanjaya dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.

Rahiang Sanjaya terhenyak, tidak mengangka akan ditanya seperti itu oleh Prabu Tarusbawa.

"Eum...Ampun Aki Prabu...menurut hemat hamba, Eyang Buyut Wretikandayun membuat keputusan memisahkan diri tentu dengan banyak pertimbangan...dan pertimbangan-pertimbangan tersebut yang mengetahuinya tentu saja putra dan cucunya yang dipercaya menjadi Prabu...oleh sebab itu hamba perlu membicarakannya terlebih dahulu dengan Ayahanda Senna" jawab Rahiang Sanjaya diplomatis dan sangat berhati-hati.

Mendengar jawaban Rahiang Sanjaya yang seolah menolak ide untuk menyatukan Karatuan Sunda dan Karatuan Galuh, suasana di balariung kembali tegang. Mereka tidak menyangka anak muda bau kencur berani membantah titah Prabu Tarusbawa.

Kai Darmaseta dan Nay Suci saling berpandangan dengan wajah tegang, sementara Apatih Anggada dan Senapati Wiradipati menatap Rahiang Sanjaya dengan pandangan tajam. Hanya Prabu Tarusbawa yang masih tetap tersenyum.

"Hmmm...seandainya kami dari Karatuan Sunda memaksa untuk menyatukan kembali dan menyerang Karatuan Galuh...bagaimana pendapatmu anak muda? Bukankah sekarang yang menguasai Karatuan Galuh bukan lagi ayahmu?" Prabu Tarusbawa kembali bertanya dengan nada suara yang tetap tenang dan lembut namun mengintimidasi.

Keringat dingin mulai membasahi tubuh Rahiang Sanjaya, tekanan dan intimidasi dalam meja politik seperti ini belum pernah dialaminya sebelumnya.

Rahiang Sanjaya membetulkan posisi duduknya sambil mengusap keringat di dahinya.

"Ampun Aki Prabu...memang betul adanya, saat ini yang berkuasa di Karatuan Galuh bukanlah Ayahanda Senna...tapi hal tersebut sama sekali tidak merubah rasa cinta dan kesetiaan hamba pada tanah Galuh dan ...darah hamba masih tetap darah Galuh. Sekali lagi mohon ampun Aki Prabu..." jawab Rahiang Sanjaya sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

Suasana semakin tegang mendengar jawaban Rahiang Sanjaya.

"Ha...ha...ha...luar biasa...luar biasa...rasa sakit hati dan dendam tidak membuatmu gelap mata dan menjual negaramu. Buyutmu Kakang Wretikandayun pasti bangga kepadamu...ha...ha..." tiba-tiba Prabu Tarusbawa tergelak mendengar jawaban Rahiang Sanjaya.

Semua orang menarik nafas lega termasuk Rahiang Sanjaya dan Putri Tejakancana yang sebelumnya sudah takut Aki Prabunya akan menghukum pemuda yang diam-diam mulai disukainya.

"Ampunkan hamba yang lancang dan tidak sopan ini Aki Prabu..." ujar Rahiang Sanjaya pelan.

"Tidak anaking...aku tidak marah...urusan Karatuan Galuh adalah urusan kalian sendiri...saat aku memutuskan untuk merestui Kakang Wretikandayun mendirikan Karatuan Galuh...maka aku tidak punya hak lagi mencampuri...urusan kenegaraan dimasa depan biarlah menjadi tanggung jawab kalian yang masih muda-muda..." ujar Prabu Tarusbawa bijak.

"Terima kasih Aki Prabu..." ujar Rahiang Sanjaya kembali meragkapkan kedua tangannya di atas kepala.

"Anggada...bagaimana menurutmu anak muda ini?" Prabu Tarusbawa bertanya kepada Apatih Anggada.

"Ampun Gusti Prabu...hamba sangat kagum dengan cara berfikir dan juga kesetiaannya kepada negara...tidak semua anak muda bisa memilah dan memilih antara dendam pribadi dengan urusan negara...mohon ampun kalau hamba salah" jawab Apatih Anggada.

Prabu Tarusbawa manggut-manggut mendengar jawaban Apatih Anggada.

"Wiradipati bagaimana menurutmu?" tanya Prabu Tarusbawa kepada Senapati Wiradipati.

"Ampun Gusti Prabu...hamba sependapat dengan Gusti Apatih Anggada...anak muda ini memiliki kemampuan berfikir dan rasa cinta tanah air yang mengagumkan. Hamba sangat setuju jika...." Senapati Wiradipati tidak melanjutkan ucapannya tapi melirik ke arah Putri Tejakancana.

Mendengar ucapan dan juga tatapan Senapati Wiradipati, Putri Tejakancana mendelik sambil mengepalkan tangannya. Dipelototi seperti itu, Senapati Wiradipati tersenyum sambil mengedipkan mata kirinya...menggoda Putri Tejakancana.

"Ha...ha...Wiradipati...kau memang adalah Mamangnya Tejakancana tapi tidak boleh memutuskan sendiri seperti itu..." Prabu Tarusbawa tergelak.

Apatih Anggada, Kai Darmaseta dan Nay Suci tertawa tertahan, mereka mengerti apa maksud Senapati Wiradipati dan juga Prabu Tarusbawa. Hanya Putri Tejakancana yang belingsatan karena malu dan gugup sementara Rahiang Sanjaya hanya tertunduk.

"Darmaseta, Suci...menurutmu bagaimana?" Prabu Tarusbawa melanjutkan pertanyaannya kepada Kai Darmaseta dan Nay Suci.

Kai Darmaseta tersenyum sambil melirik ke arah Rahiang Sanjaya.

"Ampun Gusti Prabu...semua pendapat hamba sudah disampaikan oleh Gusti Apatih dan juga Senapati...hamba sudah mengagumi putra Gusti Prabu Bratasennawa ini sejak pertama kali kami bertemu di atas kapal..." jawab Kai Darmaseta.

Prabu Tarusbawa manggut-manggut terlihat senang dengan jawaban Kai Darmaseta.

"Kalau kau sendiri Suci...apa pendapatmu?" Prabu Tarusbawa melirik ke arah Nay Suci.

Sesaat Nay Suci melirik Putri Tejakancana yang duduk disampingnya...digenggamnya tangan kanan gadis yang sangat disayanginya tersebut.

"Ampun Gusti Prabu...menurut hemat hamba Gusti Rakean Jambri adalah orang yang paling hamba percaya bisa membuat putri kesayangan hamba ini berbahagia...dan lagi...dia sangat tampan dan gagah..." jawab Nay Suci sambil meringis karena kaki kirinya diinjak oleh Putri Tejakancana yang wajahnya sudah merah padam tidak karuan.

"Ha...ha...baiklah...baiklah...kalau semua sudah sepakat..." Prabu Tarusbawa tergelak bahagia.

Baca juga : Perlawanan Terkahir Kstaria Pajajaran #3

"Anaking Jambri...kau jangan heran kenapa aku bertanya demikian kepada mereka. Mereka adalah keluarga terdekatku saat ini...Wiradipati adalah adik dari ibunya Tejakancana sedangkan Darmaseta dan Suci sudah seperti orangtua Tejakancana dan Anggada sudah ku anggap adikku sendiri" sambungnya.

Rahiang Sanjaya hanya menganggukkan kepalanya, walaupun sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan Prabu Tarusbawa namun dirinya masih khawatir salah menerka.

"Anaking Jambri...maafkan kalau orang tua renta ini bertanya langsung kepadamu...bagaimana menurutmu?" Prabu Tarusbawa bertanya kepada Rahiang Sanjaya.

"Euh...euh...ampun Aki Prabu...hamba masih belum mengerti..." jawab Rahiang Sanjaya dengan bibir bergetar, wajahnya merah padam dan keringat mulai bercucuran dari keningnya.

"Anaking...baiklah akan aku jelaskan apa adanya...tapi aku tidak memaksamu...keputusan ada ditanganmu...." suara Prabu Tarusbawa terdengar sangat berat.

"Cucuku Tejakancana adalah cucu kesayanganku...aku rela menukar nyawaku dengan kebahagiaannya...kau lihat...dia sudah tumbuh dewasa menjadi seorang perempuan cantik baik paras maupun kepribadiannya. Oleh sebab itu...aku sangat berhati-hati dalam memilihkan jodoh untuknya. Kedatanganmu yang tidak diduga-duga membuatku berfikir dan merenung...semalaman aku bersemedi memohon petunjuk Sang Hyang Widi dan...jika memang berjodoh...aku ingin mengangkatmu sebagai buyut mantuku" sambung Prabu Tarusbawa panjang lebar sambil bergantian menatap Rahiang Sanjaya dan Putri Tejakancana yang tertunduk malu.

Rahiang Sanjaya tambah mengigil karena gugup sementara Putri Tejakancana memegang erat tangan Nay Suci.

Rahiang Sanjaya mengusap wajahnya yang basah oleh keringat.

"Ampun Aki Prabu...sebuah kehormatan besar bagi hamba...hamba tidak tahu harus menjawab apa...hamba takut...hamba tidak layak bagi Aki Prabu dan juga Gusti Putri...lagipula sangat tidak sopan dan tidak pada tempatnya jika hamba menerima ataupun menolaknya...akan lebih baik Ayahanda Senna atau Ibunda Sannaha yang menjawabnya untuk Aki Prabu..." Rahiang Sanjaya menjawab dengan sangat berhati-hati takut menyinggung perasaan Prabu Tarusbawa.

Suasana balariung kembali tegang mendengar jawaban Rahiang Sanjaya.

"Anak baik...anak berbakti...aku semakin mengagumimu anaking Jambri...betul sekali ucapanmu itu...seorang anak tidak mempunyai kuasa atas dirinya sendiri...semua keputusan ada di orangtuamu..." ujar Prabu Tarusbawa.

"Tadi malam aku sudah "menemui" ayahmu di pertapaan...kami sudah berbicara banyak mengenai hal ini...Senna menyetujui perjodohan kalian...mengenai Sannaha, ibumu, aku akan mengirimkan utusan khusus ke Kalingga" sambungnya.

Rahiang Sanjaya melengak mendengar Prabu Tarusbawa sudah "menemui" ayahnya di pertapaan. Sepengetahuannya hanya orang-orang yang sudah memiliki kesaktian tingkat tinggi yang bisa melakukan "miraga sukma" seperti itu. Hanya orang setingkat resi yang mampu melakukannya. Rasa kagumnya kepada Prabu Tarusbawa yang dianggapnya seorang ratu yang bijaksana semakin bertambah.

Rahiang Sanjaya menarik nafas lega.

"Ampun Aki Prabu...jika demikian adanya...hamba akan melakukan yang terbaik...apapun titah Aki Prabu kepada hamba" Rahiang Sanjaya melirik ke arah Putri Tejakancana.

"Hmm...bagus...sekarang aku ingin mendengar suara cucu kesayanganku...bagaimana menurutmu anaking Tejakancana?" tanya Prabu Tarusbawa dengan halus.

Putri Tejakancana tidak berani mengangkat wajahnya, sama halnya seperti Rahiang Sanjaya, dirinyapun bercucuran keringat dari kening dan seluruh tubuhnya. Pelan-pelan diliriknya Nay Suci yang duduk disampingnya. Pandangannya seolah meminta persetujuan dari Nay suci.

Nay Suci tersenyum sambil menggenggam tangan Putri Tejakancana dengan erat.

"Ikutilah kata hatimu anaking...jangan takut...kau putuskan sesuai hati nuranimu..." bisik Nay Suci sambil menganggukan kepalanya menguatkan hati Putri Tejakancana.

Semua yang ada di ruangan balariung menahan nafas menunggu jawaban Putri Tejakancana.

"A...aku...ikut saja keputusan Aki Prabu..." jawab Putri Tejakancana dengan suara pelan dan terbata-bata.

Semua menarik nafas lega, Nay Suci secara spontan memeluk Putri Tejakancana...kedua matanya berlinang oleh air mata kebahagiaan.

Prabu Tarusbawa menarik nafas panjang, matanya berkaca-kaca karena haru.

"Baiklah...semoga Sang Hyang Widhi memberkati semua tujuan baik kita" gumamnya sambil mengusap wajah tuanya.

Apatih Anggada, Kai Darmaseta dan Senapati Wiradipati memejamkan matanya masing-masing  mengucap rasa syukur dan memohon perlindungan kepada Sang Hyang Widhi. Sementara Putri Tejakancana berpelukan dengan Nay Suci, mata keduanya basah oleh air mata kebahagiaan.

"Selanjutnya adalah upacara pernikahan akan dilaksanakan tiga purnama ke depan..." ujar Prabu Tarusbawa.

Semua terkejut tetapi juga bahagia dan senang mendengar rencana pernikahan yang terhitung cepat.

"Upacara pernikahan ini...harus dirahasiakan sampai waktunya tiba...jangan sampai bocor keluar karaton...aku khawatir akan ada gangguan dari pihak luar yang tidak setuju dengan pernikahan ini" sambungnya.

Semua menganggukkan kepala tanda memahami dan siap melaksanakan titah Sang Prabu.

"Anaking Tejakancana...kau boleh kembali ke kaputren sekarang...persiapkan dirimu...lahir dan batin. Suci kau dampingi cucuku selama persiapan menuju upacara perkawinan" Prabu Tarusbawa mempersilakan Putri Tejakancana dan Nay Suci untuk meninggalkan balariung dan kembali ke Karaton Madura.

Setelah Putri Tejakancana dan Nay Suci meninggalkan balariung maka yang tertinggal di adalah Apatih Anggada, Kai Darmaseta, Senapati Wiradipati dan Prabu Tarusbawa sendiri.

"Wiradipati...." terdengar suara berat Prabu Tarusbawa.

"Ya Gusti Prabu..." jawab Senapati Wiradipati.

"Besok pagi berangkatlah ke Karatuan Sriwijaya sebagai perwakilan keluarga...sampaikan surat undangan kepada keluarga Gusti Dapunta Hyang Sri Jayanasa..." sambung Prabu Tarusbawa.

"Baik Gusti Prabu..." jawab Adipati Wiradipati singkat dengan wajah berseri-seri, hatinya begitu senang karena keponakannya akan menikah.

"Darmaseta...kau berangkatlah ke Karatuan Kalingga, temui Ratu Sannaha dan sampaikan surat dariku...kalau beliau berkenan undanglah beliau untuk menghadiri upacara pernikahan" Prabu Tarusbawa memerintahkan agar Kai Darmaseta berangkat ke Karatuan Kalingga.

"Ingat selalu berhati-hati...jangan sampai rencana ini bocor ke pihak Galuh dan sekutunya" sambungnya mengingatkan.

"Baik Gusti Prabu...hamba akan menjaga rahasia ini dengan nyawa hamba sendiri..." jawab Kai Darmaseta sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

Prabu Tarusbawa mengangguk-anggukan kepalanya lalu berpaling kepada Apatih Anggada.

"Anggada...tugasmu adalah yang paling berat..." ujarnya.

"Hamba siap melaksanakan titahmu Gusti Prabu..." Apatih Anggada merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

"Kau perketat keamanan negara terutama di wilayah yang berbatasan dengan Galuh dan Indraprahasta...tambah pasukan prajurit di sepanjang sungai Citarum. Jangan ragu untuk bertindak keras....minta semua Kandaga Lante yang ditugaskan di masing-masing wilayah agar menambah pasukan...tapi tetap rahasiakan rencana pernikahan ini" sambungnya tegas kepada Apatih Anggada.

"Baik Gusti Prabu...mulai besok pagi, hamba akan melakukan pemeriksaan pasukan di semua wilayah Kandaga Lante dan perbatasan sesuai titah Gusti Prabu" jawab Apatih Anggada.

Prabu Tarusbawa menganggukkan kepalanya lalu melirik ke arah Rahyang Sanjaya.

"Anaking Jambri...kau ikutlah dengan Anggada...kau harus banyak belajar mengenai pertahanan negara dan strategi perang. Belajarlah dengan sungguh-sungguh...tugasmu akan semakin berat di masa depan" ujarnya kepada Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

"Terima kasih Aki Prabu...hamba akan belajar dengan sepenuh hati...." jawabnya dengan penuh semangat.

"Bagus anaking...aku suka semangat dan juga kemauanmu yang keras itu" Prabu Tarusbawa tersenyum sambil mengusap-usap janggutnya yang putih.

"Anggada...kau jangan ragu-ragu dalam mendidiknya...masa depan Karatuan ada ditangannya" Prabu Tarusbawa mengingatkan Apatih Anggada agar mendidik Rahiang Sanjaya dengan sungguh-sungguh.

===

Setelah hampir tiga hari tiga malam berdiam di dalam guha, selain untuk menyembuhkan luka dalam dan memulihkan tenaga dalam yang diderita oleh Yuchi Saksena juga untuk mengurus mayat pandita tua yang mereka temukan, akhirnya mereka memutuskan untuk segera kembali ke Palabuhan Pamalang. Hari telah menjelang senja ketika Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih memasuki jalanan besar di sekitar Palabuhan Pamalang. Orang masih banyak berlalu lalang, sebagian dari mereka memikul barang-barang dagangan atau hasil pertanian. Beberapa pedati yang penuh dengan muatan berderak keluar masuk pelabuhan.

"Kakang...kita harus berhati-hati, mungkin saja Juragan Jumadi dan anak buahnya sedang mencari kita" Dewi Sekarasih mengingatkan Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena menarik nafas panjang.

"Hmm...tidak apa-apa tikus kecil...justru aku berharap mereka segera menemukan kita" ujar Yuchi Saksena sambil menghentikan langkahnya.

"Lebih cepat lebih baik...jadi kita tidak perlu buang-buang waktu untuk mencari mereka..." sambungnya sambil matanya mengawasi sebuah rumah penginapan yang cukup besar di samping kanan jalan.

Dewi Sekarasih menganggukan kepalanya tanda mengerti apa yang dimaksud oleh Yuchi Saksena. Matanya mengikuti arah pandangan Yuchi Saksena.

"Tikus kecil...sepertinya penginapan ini cukup ramai...kalau kita menginap di sini, berita keberadaan kita berdua pasti akan cepat menyebar" ujar Yuchi Saksena.

"Aku setuju Kakang...selain itu aku sudah lapar sekali...sudah lama tidak makan nasi...hi..hi..lagipula kita harus membeli pakaian baru...lihat bajuku sudah rombeng seperti ini..." Dewi Sekarasih terkikik lalu merangkul lengan Yuchi Saksena dan menariknya menuju ke arah penginapan tersebut.

Keduanya berjalan bergandengan seperti layaknya pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara.

"Tikus kecil...jangan seperti ini...aku malu dilihat orang-orang..." bisik Yuchi Saksena.

"Halah...apa peduli mereka..." jawab Dewi Sekarasih sambil mempererat rangkulannya di lengan Yuchi Saksena.

Seorang pelayan penginapan tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka berdua lalu menunjukkan dua buah kamar yang dipesan oleh Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih. Tak lupa Yuchi Saksena memberikan kepingan uang emas dan meminta pelayan tersebut untuk membelikan beberapa stel pakaian untuk mereka berdua. Letak penginapan yang tidak jauh dari palabuhan sebagai pusat perniagaan, memudahkan bagi pelayan tersebut untuk memenuhi pesanan kedua orang muda ini.

Setelah menerima pakaian baru, keduanya membersihkan diri dari debu tebal yang menempel di kulit mereka, berganti pakaian lalu mereka mengambil tempat duduk di kedai yang menyatu dengan penginapan tersebut.

Dewi Sekarasih memesan makanan banyak sekali sedangkan Yuchi Saksena memesan satu guci arak China yang sangat harum.

Dewi Sekarasih mendengus tidak suka saat pesanan arak datang ke atas meja.

"Kakang...buat apa kau minum minuman seperti itu?...kalau kau mabuk, aku yang kerepotan" sungut Dewi Sekarasih sambil tetap melahap sepiring nasi dan lauk yang masih mengepulkan asap.

Yuchi Saksena tersenyum sambil meraih guci arak dan dituangkannya ke dalam sebuah cangkir kecil.

"Tikus kecil...jangan khawatir, aku tidak akan mabuk...hanya saja aku sedang teringat dengan Züfü...biasanya sore-sore seperti ini kami akan berbincang sambil minum arak" Yuchi Saksena menerawang lalu meneguk cangkir berisi arak. Tandas sekali teguk.

Mendengar penjelasan Yuchi Saksena, Dewi Sekarasih diam-diam teringat akan kedua orangtuanya...rasa rindu menjalari hatinya.

"Kakang...lihat..." tiba-tiba Dewi Sekarasih berbisik sambil memonyongkan mulutnya menunjuk ke arah belakang Yuchi Saksena yang membelakangi pintu kedai.

Dewi Sekarasih menghentikan kata-katanya ketika melihat beberapa laki-laki muncul satu per satu dari pintu depan dengan gerak-gerik yang mencurigakan. Yang pertama masuk adalah laki-laki bermuka tirus lancip, mukanya licin tidak berjenggot, pakaiannya kumal, di pinggangnya tergantung sebilah pedang tanpa sarung, usianya kurang lebih empat puluh tahun. Orang ini berjalan dengan gerakan yang sangat ringan layaknya seekor kucing, saat memasuki kedai, matanya mengerling ke arah tempat duduk Dewi Sekarasih dan Yuchi Saksena.

Karena Yuchi Saksena duduk membelakangi pintu sedangkan Dewi Sekarasih yang berhadapan dengannya terlebih dahulu melihat kedatangan mereka. Apalagi ketika berturut-turut masuk lima laki-laki lain di belakang Si Muka Tirus. Dua orang berpakaian dan mempunyai wajah seperti orang gujarat dengan jenggot dan jambang yang sangat lebat, berikutnya seorang laki-laki setengah baya dengan wajah lumayan tampan dengan rambut digelung ke atas mirip perwira pasukan karatuan, kemudian seorang pemuda berwajah oriental dengan mata sipit dan di pinggangnya tergantung sebilah pedang, dan yang terakhir adalah seorang pandita tua berkepala gundul yang membawa sebatang tongkat besi yang berat. Enam orang ini jelas bukanlah orang-orang sembarangan karena gerak-gerik mereka ringan dan gesit.

"Kakang...lihat mereka...di belakangmu...pelan-pelan jangan menarik perhatian mereka..." bisik Dewi Sekarasih.

"Ah...sudahlah tikus kecil...sekarang ini jangan dulu mencari masalah...kau nikmati saja makananmu dan aku menikmati arak ini" jawab Yuchi Saksena dengan tenang sambil kembali meneguk arak dari cangkir yang sudah diisinya kembali. Namun diam-diam Yuchi Saksena menggeser menggeser posisi pedangnya yang terikat di punggungnya.

Dewi Sekarasih tersenyum simpul lalu kembali menekuni makanan yang tersaji di atas meja. Dirinya maklum bahwa tanpa diperingatkan olehnya, Yuchi Saksena sudah mengetahui kedatangan enam orang mencurigakan tersebut.

Baca juga : Kian Santang: Jejak Intoleransi di Tatar Sunda