KARATON PANCA PERSADA


Hari menjelang petang ketika Kai Darmaseta dan Rahiang Sanjaya berkuda menuju komplek Karaton Panca Persada, yaitu Komplek Karatuan Sunda yang terdiri dari lima buah bangunan Karaton yang mempunyai bentuk bangunan dan besarnya sama. Komplek Karaton ini sengaja didirikan oleh Prabu Tarusbawa saat dirinya diangkat menjadi Raja Tarumanagara setelah menikahi Gusti Ratu Manasih putri dari Raja Tarumanegara XII yaitu Prabu Linggawarman.

Kelima karaton ini terletak di luar kota Sundapura yaitu sebuah wilayah yang kelak di sebut sebagai kota Pakwan. Prabu Tarusbawa mempunyai cita-cita untuk membawa Karatuan Tarumanegara kembali berjaya seperti saat diperintah oleh Sri Maharaja Purnawarman. Oleh sebab itu Prabu Tarusbawa mendirikan Kota Pakwan yang dijadikannya sebagai pusat pemerintahan sedangkan kota Sundapura dijadikan sebagai pusat perekonomian. Selain itu, nama Tarumanagara dirubah menjadi Karatuan Sunda.

Perubahan nama Karatuan Tarumanegara menjadi Karatuan Sunda ternyata membuat Wretikandayun, yang diberi mandat oleh Karatuan Tarumanagara untuk mengelola wilayah timur, berontak. Wretikandayun yang didukung oleh Karatuan Kalingga akhirnya mendeklarasikan diri untuk merdeka dari kekuasaan Karatuan Sunda dan mendirikan Karatuan Galuh. Karatuan Kalingga terlibat dalam perseteruan ini karena putri dari Ratu Shima dan Raja Kartikeyashinga yang bernama Dewi Parwati menikah dengan putra bungsu Wretikandayun yaitu Rahyang Mandiminyak.

Sifat dari Prabu Tarusbawa sebenarnya adalah seorang yang cinta damai dan sangat menghindari perselisihan. Oleh sebab itu, pemberontakan Wretikandayun tidak ditanggapi dengan kekerasan. Walaupun sebenarnya angkatan perang Karatuan Sunda belum tentu akan kalah bila berperang melawan angkatan perang Karatuan Galuh. Belum lagi jika Prabu Tarusbawa berkehendak, bisa saja meminta bantuan angkatan perang kepada Karatuan Sriwijaya. Hal ini mungkin terjadi karena yang menjadi raja di Karatuan Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanasa, suami dari Ratu Sobakancana yang merupakan adik Ratu Manasih, adik iparnya sendiri.

Prabu Tarusbawa lebih memilih untuk memimpin setengah dari negara tetapi tangguh dan kuat dibandingkan negara yang luas tetapi di dalamnya terjadi pertikaian. Di Kota Pakwan inilah berdiri Karaton Panca Persada. Karaton pertama yang bernama Karaton Bima ditempati oleh Apatih Anggada sebagai orang yang bertanggungjawab atas keselamatan keluarga karatuan dan juga negara. Karaton kedua yang bernama Karaton Punta lokasinya sejajar dengan Karaton Bima tempat para petinggi kepercayaan tinggal dan bekerja. Karaton ketiga yang bernama Karaton Narayana terletak di tengah, menjadi tempat kediaman dan juga tempat Prabu Tarusbawa memerintah. Karaton keempat yang bernama Karaton Madura menjadi tempat tinggal permaisuri dan juga para putri karaton. Sedangkan karaton yang terakhir adalah Karaton Suradipati, di karaton digunakan untuk membahas masalah pertahanan dan keamanan negara, Apatih Anggada banyak mengadakan pertemuan di karaton ini.

Letak kelima karaton ini berdiri sejajar, sehingga posisi Karaton Naraya dan Karaton Madura diapit oleh Karaton Bima, Karaton Punta dan Karaton Suradipati. Oleh sebab inilah kelak Kota Pakwan ini disebut juga sebagai Pakwan Pajajaran karena letak keratonnya yang berdiri sejajar.

Kota Sundapura dengan Kota Pakwan dihubungkan oleh sebuah jalan yang cukup lebar dan rata. Sehingga jalur transportasi antara kedua kota tersebut bisa dibilang sangat lancar dan tidak memerlukan waktu lama.

"Gusti Rakean...sebelum kita menghadap kepada Gusti Prabu Tarusbawa, lebih baik melapor dulu kepada Gusti Apatih Anggada" ujar Kai Darmaseta kepada Rahiang Sanjaya saat keduanya sedang duduk di pendopo Karaton Bima yang menyerupai serambi terbuka, menunggu kedatangan Apatih Anggada.

Rahiang Sanjaya menganggukkan kepala sambil membetulkan posisi duduknya. Hatinya gembira karena akan segera bertemu dengan Prabu Tarusbawa tetapi juga sedikit gugup.

Tak lama menunggu, Apatih Anggada muncul dari balik pintu yang menghubungkan antara pendopo dengan ruang dalam karaton. Wajahnya yang tegas dan keras sempat membuat nyali Rahiang Sanjaya ciut. Samar-samar Rahiang Sanjaya teringat bahwa sebelumnya, mungkin saat dirinya kecil, pernah bertemu dengan Apatih Anggada.

Kai Darmaseta segera bangkit dari duduknya dan membungkukkan badannya ke arah Apatih Anggada diikuti oleh Rahiang Sanjaya.

"Ah...Darmaseta...duduklah...." ujar Apatih Anggada sambil tangannya mempersilakan keduanya duduk.

"Ampun Gusti Apatih...maafkan hamba karena datang mendadak di waktu seperti ini" Kai Darmaseta membuka pembicaraan.

Apatih Anggada tersenyum sambil matanya tidak lepas dari Rahiang Sanjaya, dahinya sedikit berkerut.

"Hmm...ada masalah apa dan siapa anak muda gagah ini?" tanya Apatih Anggada.

Kai Darmaseta melirik ke arah Rahiang Sanjaya yang duduk di sampingnya.

"Gusti Rakean...silakan memperkenalkan diri..." ujarnya kepada Rahiang Sanjaya.

"Sebentar...sebentar anak muda...wajahmu mengingatkanku kepada seseorang...berdirilah kau sebentar" ujar Apatih Anggada kepada Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya berdiri sambil tetap menundukkan kepala.

"Ah...mudah-mudahan tebakanku tepat...tapi kau bicaralah sendiri anak muda" Apatih Anggada sambil tersenyum lalu mempersilakan Rahiang Sanjaya kembali duduk.

Rahiang kembali duduk di kursinya dan mengatur nafasnya yang mendadak tidak teratur karena gugup.

"Ampun Gusti Apatih...nama hamba Rakean Jambri putra da....." ucapan Rahiang Sanjaya terpotong oleh suara Apatih Anggada yang keras nyaris berteriak.

"Ah...sudah kuduga...sudah kuduga...anaking...kau tidak ingat lagi kepadaku? Waktu kau kecil...aku beberapa kali menyambangi Gusti Prabu Bratasennawa di Karangkamulyan bersama mendiang Gusti Rakean Sundasambawa" Apatih Anggada terlihat sangat senang sambil berdiri dan mengangkat bahu Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya tersenyum lega karena sambutan Apatih Anggada yang begitu hangat.

"Hamba...sekilas masih ingat Uwa Apatih..." jawabnya sambil tersenyum.

"Ha...ha...ha...betul sekali...kau selalu memanggilku Uwa Apatih...ha...ha...ha....Dewata Agung...lihat kau begitu gagah dan tampan...persis ayahmu...Dewata Agung..." Apatih Anggada terbahak sambil tidak henti mengucapkan syukur sambil menepuk-nepuk bahu Rahiang Sanjaya.

"Ah...duduklah..duduklah Gusti Rakean....aahh...senangnya hatiku..." ujar Apatih Anggada mempersilakan kembali Rahiang Sanjaya duduk.

"Darmaseta...kau bilang tidak berhasil menemukan Gusti Rakean Jambri...tapi sekarang ada di depan mataku....bagaimana kejadian sebenarnya? Dimana kalian bertemu?" sambungnya bertanya bertubi-tubi kepada Kai Darmaseta.

"Anaking...anaking...." Apatih Anggada tidak hentinya memandangi Rahiang Sanjaya dengan mata berbinar-binar.

"Ampun Gusti Apatih....." ujar Kai Darmaseta lalu menceritakan awal pertemuan dirinya dengan Rahiang Sanjaya.

Selama Kai Darmaseta bercerita, Apatih Anggada tak hentinya berdecak dan mengucap rasa syukur.

"Dewata Agung..."

"...begitulah Gusti Apatih...makanya hamba bawa langsung menghadap...dan mohon bantuannya untuk bertemu Gusti Prabu...."

"Anaking...Dewata Agung sudah membimbingmu kemari...tentu...tentu sekarang juga kita menghadap Gusti Prabu..." ujar Apatih Anggada.

"Tapi..." sambungnya.

"Tapi apa Gusti Apatih?" tanya Kai Darmaseta heran.

Rahiang Sanjaya pun sedikit terkejut mendengar ucapan Apatih Anggada.

Apatih Anggada tersenyum sambil memandang Rahiang Sanjaya.

"Tapi...setelah selesai menghadap Gusti Prabu...anaking harus tinggal bersamaku...aku ingin mendengar cerita perjalananmu dan Gusti Prabu Bratasennawa...he...he..." Apatih Anggada terkekeh.

"Ah...tentu saja kalau Uwa Apatih mengijinkan..." jawab Rahiang Sanjaya sambil tersenyum.

Kai Darmaseta menarik nafas lega.

###

Prabu Tarusbawa tidak hentinya mengucapkan rasa syukur setelah bertemu dan mendengar kisah perjalanan Rahiang Sanjaya.

"Ah...Anaking...kau mendekatlah kemari..." ujar Prabu Tarusbawa meminta Rahiang Sanjaya agar menggeser tempat duduknya agar mendekat ke arahnya.

"Baik...Gusti Prabu..." ujar Rahiang Sanjaya sambil bediri dan menggeser tempat duduknya mendekati Prabu Tarusbawa.

"Panggil aku Aki Prabu...walaupun sebenarnya lebih cocok Buyut Prabu...ha...ha..." Prabu Tarusbawa terbahak sambil menepuk bahu Rahiang Sanjaya.

"Jambri...Jambri...aku tidak menyangka kau sudah dewasa seperti ini...dulu ayahmu Senna dan ibumu, Sannaha membawamu mengunjungiku...saat itu kau masih piyik...ha...ha..." sambungnya sambil tidak lepas tertawa.

"Mohon ampun...hamba tidak ingat Aki Prabu" jawab Rahiang Sanjaya pelan.

"Ha...ha...tentu saja kau tidak akan ingat...kau masih orok beureum...." Prabu Tarusbawa terbahak

Apatih Anggada dan Kai Darmaseta ikut tersenyum.

"Terima kasih Darmaseta...sudah ku katakan...kau tidak gagal menjalankan tugas..." Prabu Tarusbawa melirik ke arah Kai Darmaseta.

Kai Darmaseta tersenyum sambil menganggukan kepalanya.

"Mendengar ceritamu...apakah Suci sudah tahu tentang ini?" sambungnya menanyakan Nay Suci.

"Ampun Gusti Prabu...istri hamba belum mengetahuinya...tadi siang Gusti Putri Tejakancana menjemputnya dari rumah" jawab Kai Darmaseta.

"Hmm...kalau begitu, Suci sekarang berada di Karaton Madura...kau mintalah salah satu prajurit menjemputnya. Dia harus tahu kabar gembira ini...Suci sudah bekerja keras selama ini" ujar Prabu Tarusbawa.

"Baik Gusti Prabu...hamba akan laksanakan..." ujar Kai Darmaseta sambil berdiri lalu menganggukan badannya ke arah Prabu Tarusbawa.

"Sekarang...lebih baik kita makan dulu anaking...buyutmu ini ingin berbicara banyak denganmu..." ujar Prabu Tarusbawa sambil berdiri dan menaik tangan Rahiang Sanjaya.

"Anggada...kau juga ikut makan..." sambungnya kepada Apatih Anggada.

Malam itu suasana di Karaton Narayana begitu hangat dan gembira, gelak tawa terdengar penuh rasa sukacita.

===

Baca juga : Rahiang Sanjaya #15

Sementara itu di Karaton Madura, Putri Tejakancana terlihat sangat gelisah dikamarnya, sesekali bangun dari tempat tidur lalu mondar-mandir dan mengintip dari balik jendelanya. Sejak petang tadi Nay Suci dijemput oleh salah satu prajurit untuk menghadap Prabu Tarusbawa, sampai malam begitu larut tapi masih belum juga kembali.

"Huuuh...ada apa sebenarnya Ambu Suci diminta menghadap Aki Prabu? Padahal malam ini aku mau cerita banyak kepada Ambu Suci" gerutu Putri Tejakancana sambil mengucak-ngucak rambutnya sendiri.

Entah mengapa hatinya terasa berdebar-debar tidak tentu, sulit sekali untuk tidur.

"Aneh...kenapa aku sulit sekali tidur?" gumamnya sambil menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.

Matanya menerawang memandangi langit-langit, lamunannya melayang kemana-mana.

"Ahhh...ibunda...andai saja kau masih ada...tentu aku bisa bercerita keluh kesahku kepadamu kapan saja aku mau..." batinnya, matanya mulai berkaca-kaca mengingat ibundanya yang telah tiada.

Putri Tejakancana merasa semakin hari beban hatinya semakin berat.

"Ayahanda...kenapa harus aku?...Aku tidak mau menjadi ratu...aku tidak siap...Dewata Agung...." hatinya menjerit

Putri Tejakancana merasa bahwa takdir yang mengharuskannya menjadi penerus Prabu Tarusbawa untuk memimpin Karatuan Sunda, terlalu berat bagi dirinya. Putra Tejakancana membalikkan tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya di atas bantal. Tak kuasa lagi ditahan...tangisnya pun pecah.

Putri Tejakancana menangis sesenggukan, ini bukan pertama kalinya dirinya tenggelam dalam tangis.

"Tok...tok..."

Tiba-tiba terdengar ketukan halus dari pintu kamarnya.

Putri Tejakancana segera bangun dari tidurnya dan mengusap matanya yang basah oleh air mata.

"Tok...tok..."

Terdengar suara ketukan lagi.

"Siapa...?" Putri Tejakancana bertanya sambil mendekati pintu kamarnya.

"Ampun Gusti Putri...hamba Nay Suci..." suara Nay Suci terdengar.

"Ah...ah...sebentar Ambu Suci..." jawab Putri Tejakancana lalu dilepasnya tulak dan dibukanya pintu.

Sesaat Nay Suci terpana melihat keadaan Putri Tejakancana, rambut awut-awutan dan kedua matanya sembab.

"Ambuing...anaking...kenapa...ada apa Gusti Putri...?" tanya Nay Suci hariweusweus sambil membimbing Putri Tejakancana masuk kembali ke dalam kamar.

Nay Suci membawa Putri Tejakancana kembali duduk di atas tempat tidur.

"Sebentar anaking..." Nay Suci lalu kembali ke pintu dan menutupnya serta memasang tulaknya kembali.

"Sekarang ceritakan kepada Ambu Suci...ada apa anaking?" ujar Nay Suci lalu duduk disamping Putri Tejakancana yang tertunduk.

Putri Tejakancana merebahkan kepalanya di pangkuan Nay Suci lalu tangisnya kembali pecah. Nay Suci mengusap-usap kepalanya dengan penuh kasih sayang.

"Lepaskan anaking...menangislah sepuasmu...tidak apa-apa...lepaskan semua beban hatimu...Ambu akan selalu mendampingimu..." ujarnya lembut.

Tangis Putri Tejakancana semakin keras.

"Huuu...huuu...Ambu...aku takut...aku takut..." ujar Putri Tejakancana disela-sela tangisnya.

Nay Suci menarik nafas panjang, entah kenapa dirinya bisa merasakan beban berat yang rasakan oleh Putri Tejakancana.

"Ceritakan semua pada Ambu...tidak apa-apa...Ambu akan bantu semampu Ambu..." ujarnya bergetar, kedua matanya berkaca-kaca.

Setelah cukup lama larut dalam tangisannya, Putri Tejakancana mengangkat kepalanya dari pangkuan Nay Suci sambil mengusap pipinya yang bersimbah air mata. Sementara Nay Suci sesenggukan menahan tangis yang hampir pecah.

"Ambu Suci...kenapa ikut menangis..?" tanya Putri Tejakancana sambil mencoba untuk tersenyum.

Nay Suci cepat-cepat mengusap pipinya.

"Tidak anaking...tidak apa-apa..." ujarnya mengelak lalu menggenggam tangan Putri Tejakancana.

"Sekarang ceritakan kepada Ambu...apa yang menganggu pikiranmu begitu hebat?" sambungnya.

Putri Tejakancana menarik nafas lalu tersenyum getir sambil menggelengkan kepalanya, seolah tidak mau membuat perempuan yang sudah dianggap ibundanya sendiri itu ikut bersedih.

"Anaking...apakah ini mengenai menjadi Ratu Sunda yang kau ceritkan tadi siang?" Nay Suci menebak.

Putri Tejakancana tersenyum tipis lalu merebahkan kepalanya di bahu Nay Suci.

"Sudahlah Ambu...lupakan saja...aku tidak mau membuatmu khawatir..." gumamnya pelan.

Nay Suci memeluk tubuh Putri Tejakancana.

"Anaking...Ambu Suci tidak mau memaksamu untuk bercerita...tapi..." Nay Suci menghentikan ucapannya seolah menunggu reaksi Putri Tejakancana.

"Tapi apa Ambu...?" tanya Putri Tejakancana lesu.

Nay Suci tersenyum simpul.

"Tapi apakah Gusti Putri tidak ingin tahu...apa alasan Ambu Suci dipanggil Gusti Prabu ke Karaton Narayana?"

Putri Tejakancana mengangkat kepalanya dari bahu Nay Suci dengan acuh tak acuh lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sementara kakinya masih terjuntai ke lantai.

"Aku malas mendengar urusan keraton..." gumamnya.

Nay Suci tersenyum lalu diangkatnya kaki Putri Tejakancana yang masih terjuntai ke lantai dan ditempatkan di atas tempat tidur.

"Hmm...begitu ya Gusti Putri...ini tidak hanya urusan keraton...tapi juga tentang seorang pemuda yang gagah dan sangat tampan" ujar Nay Suci sambil memijat kedua kaki Putri Tejakancana.

Putri Tejakancana mengernyitkan dahinya.

"Pemuda?...Siapa dia?...Aku tahu semua pemuda yang ada di seluruh Keraton Panca Persada ini" tanyanya acuh tak acuh karena dirinya merasa mengenal semua pemuda yang rata-rata putra para petinggi karatuan. Dan dari kesemuanya tidak ada satupun yang menarik perhatiannya.

Nay Suci tersenyum penuh arti lalu menarik kain dan menyelimuti tubuh Putri Tejakancana.

"Besok saja Ambu Suci kasih tahu....sekarang lebih baik lekas tidur...jangan lupa mimpi indah..." ujarnya.

"Hmmm..." Putri Tejakancana bergumam sambil memandang wajah Nay Suci yang tersenyum-senyum penuh arti.

"Aku curiga...kenapa Ambu tersenyum-senyum seperti itu...ada apa sebenarnya?" Putri Tejakancana mulai curiga.

"Sudahlah besok saja...kalau Ambu Suci kasih tahu sekarang...takutnya Gusti Putri tidak bisa tidur...hi...hi..." Nay Suci terkikik sambil berdiri.

Putri Tejakancana semakin penasaran lalu bangkit dari tidurnya dan memeluk lengan Nay Suci.

"Aku tidak mau tidur sebelum Ambu menceritakan semuanya..." rajuk Putri Tejakancana sambil merengut.

Nay Suci menarik nafas panjang lalu tersenyum dan mengelus rambut Putri Tejakancana yang terurai indah.

"Anaking...Ambu Suci tidak bisa menjelaskan semuanya...nanti Gusti Prabu sendiri yang akan menjelaskan..." ujar Nay Suci lembut.

"Hmm...pasti ini berkaitan dengan diriku...Ambu harus menjelaskan walau sedikit...aku tidak akan bisa tidur kalau masih penasaran seperti ini..." desak Putri Tejakancana.

Nay Suci menatap wajah putri dari sahabatnya itu dengan penuh kasih sayang dan Putri Tejakancana sudah dianggap seperti putrinya sendiri.

"Baiklah...Ambu Suci sendiri belum tahu pasti ke depannya akan seperti apa...tetapi sekarang di Karaton Bima...ada putra mahkota Karatuan Galuh...putra dari Gusti Prabu Bratasennawa" ujar Nay Suci pelan.

"Karatuan Galuh?...Aku sudah mendengar mengenai keadaan Karatuan Galuh dari Aki Prabu...bukankah Gusti Prabu Bratasennawa dan putranya sudah lama menghilang?" Putri Tejakancana kembali bertanya dengan dahi mengkerut.

"Justru itu Gusti Putri...rupanya Dewata Agung sudah mengatur semuanya...." ujar Nay Suci lalu menceritakan kisah pertemuannya dengan Rahiang Sanjaya.

Putri Tejakancana mendengarkan dengan saksama...kadang-kadang tersenyum kecil saat mendengar betapa konyolnya saat Rahiang Sanjaya menyindir usia Kai Darmaseta dan Nay Suci hanya berbeda beberapa tahun dengan Rahiang Sanjaya. Wajahnya terlihat memerah dadu saat Nay Suci menyebutkan betapa tampan dan gagahnya Rahiang Sanjaya.

"Seperti itu ceritanya Gusti Putri...sekarang lebih baik cepat tidur supaya besok lebih segar dan cantik...siapa tahu Gusti Prabu akan mempertemukan Gusti Putri dengan Gusti Rakean Jambri...." Nay Suci mengakhiri ceritanya sambil menggoda Putri Tejakancana.

"Apakah pemuda yang dimaksud itu... yang tadi siang aku lihat di gerbang rumah Ambu?" Putri Tejakancana masih penasaran.

Nay Suci tersenyum.

"Aiihh...rupanya Gusti Putri melihatnya....tampan dan gagah bukan?...sekarang lebih baik cepat tidur..." ujarnya sambil membantu merebahkan tubuh Putri Tejakancana di atas tempat tidur lalu diselimutinya.

"Semoga mimpi indah bertemu dengan pemuda gagah dan tampan...Gusti Rakean Jambri..." sambungnya berbisik di telinga Putri Tejakancana.

"Ambu...apaan sih...kenal saja belum..." rajuk Putri Tejakancana namun wajahnya yang putih terlihat memerah jambu.

Senyuman kecil tersungging dibibirnya yang merah dan tipis.

=====

Matahari memancarkan sinarnya menghangatkan tanah Pakwan saat para pegawai dan pelayan di Karaton Narayana terlihat sangat sibuk mempersiapkan makanan dan minuman di ruangan makan. Sebagian lagi mempersiapkan ruangan balariung yang berada di tengah-tengah karaton.

Pagi itu memang Apatih Anggada meminta Senapati Wiradipati mempersiapkan pertemuan yang sangat rahasia dan penting. Tidak ada seorangpun yang boleh mendekat ke Karaton Narayana saat pertemuan itu di gelar. Setelah semuanya siap, Senapati Wiradipati meminta agar semua pelayan dan pegawai untuk meninggalkan Karaton Narayana.

Senapati Wiradipati juga memerintahkan pengawalan yang sangat ketat di Komplek Karaton Panca Persada bahkan khusus di Karaton Narayana dilakukan pengawalan berlapis.

"Hmm...ada pertemuan apa gerangan?" batinnya sambil berdiri sambil mengawasi para pengawal, yang sebagian besar terdiri dari perwira, yang sedang berjaga di sekeliling Karaton Narayana.

Tak lama kemudian terlihat Apatih Anggada terlihat berjalan dari arah Karaton Bima diikuti oleh seorang pemuda gagah yang tak lain adalah Rahiang Sanjaya. Beberapa orang perwira bergegas menghampirinya lalu menundukkan kepalanya diikuti oleh semua prajurit yang berjaga di sekitar Karaton Narayana. Apatih Anggada dan Rahiang Sanjaya menghentikan langkahnya.

"Ampun Gusti Apatih...semua penjagaan sudah dijalankan sesuai perintah Gusti Senapati Wiradipati" ujar salah satu perwira yang bernama Atmadharma melaporkan kesiapan penjagaan kepada Apatih Anggada.

"Hmm...bagus...kau atur semua dengan baik...jangan satu orangpun berani mendekat ke arah Karaton Narayana...jika ada yang memaksa...hukum dengan berat!" perintah Apatih Anggada sambil menepuk-nepuk bahu Atmadharma.

"Euh...Senapati Windu di mana?...aku tidak melihatnya..." sambungnya sambil mengedarkan pandangan mencari Senapati Windu yang merupakan pimpinan pasukan penjaga keamanan Komplek Karaton Panca Persada, atasannya Atmadharma.

"Ampun Gusti Apatih...Gusti Senapati Windu memimpin pasukan yang berjaga di lingkar luar Komplek Karaton Panca Persada...sedangkan di lingkar dalam, hamba yang bertugas memimpin" Atmadharma menjelaskan.

"Bagus...jangan sampai lengah anak muda..." tegas Apatih Anggada sambil melanjutkan langkahnya menuju Karaton Narayana diikuti Rahiang Sanjaya.

Senapati Wiradipati bergegas menuruni anak tangga Karaton Narayana begitu melihat kedatangan Apatih Anggada.

"Selamat datang Gusti Apatih...semuanya sudah siap..." ujarnya sambil menundukkan kepalanya.

"Ahhh...kerja bagus Wiradipati...sekarang kita masuk ke dalam...jangan sampai Gusti Prabu masuk ruangan lebih dulu..." ujarnya singkat lalu merengkuh bahu Rahiang Sanjaya dan diajaknya menaiki anak tangga bersama-sama.

"Baik Gusti Apatih..." jawab Senapati Wiradipati.

Senapati Wiradipati mengikuti langkah Apatih Anggada dan Rahiang Sanjaya menaiki anak tangga Karaton Narayana. Hatinya diliputi pertanyaan, melihat betapa Apatih Anggada begitu menghormati anak muda yang belum dikenalnya itu.

"Siapa sebenarnya anak muda ini?...aku belum pernah melihat sebelumnya..." batinnya.

Apatih Anggada, Rahiang Sanjaya dan Senapati Wiradipati duduk di ruangan balariung menghadapi meja yang sangat besar tanpa mengucap sepatah katapun. Ketiganya tenggelam dalam lamunan masing-masing, sesekali Senapti Wiradipati melirik ke arah Rahiang Sanjaya. Tak lama berselang Kai Darmaseta datang menyusul dan duduk di samping Senapati Wiradipati.

"Kakang...ada pertemuan apa ini sebenarnya?" bisik Senapati Wiradipati sambil menyentuh lengan Kai Darmaseta.

Kai Darmaseta tersenyum sambil balas membisik.

"Pertemuan yang sangat penting...nanti Gusti Prabu akan menjelaskan semuanya..."

Senapati Wiradipati mengangguk-anggukkan kepalanya namun sepertinya rasa penasarannya masih membuncah.

"Kakang...lalu siapa anak muda itu?" bisiknya lagi sambi melirik ke arah Rahiang Sanjaya yang duduk tepat diseberangnya.

Kai Darmaseta kembali tersenyum.

"Kau tanya saja langsung..." jawabnya.

"Mana aku berani..." Senapaiti Wiradipati tersenyum kecut.

Belum sempat Kai Darmaseta berbicara, pintu besar dari arah dalam karaton terbuka. Masuklah Prabu Tarusbawa dengan menggunakan pakaian kebesaran Prabu Karatuan Sunda. Walaupun usianya sudah sepuh namun kharisma dan wibawanya luar biasa menggetarkan hati.

Apatih Anggada, Kai Darmaseta, Senapati Wiradipati dan Rahiang Sanjaya segera bangkit dari kursinya masing-masing dan berjejer lalu berlutut menyambut kedatangan Prabu Tarusbawa.

"Ah...bangunlah...kalian kembalilah duduk " ujar Prabu Tarusbawa tenang.

Keempatnya lalu duduk kembali di kursi masing-masing dengan menundukkan kepala.

Prabu Tarusbawa memandang ke arah Rahiang Sanjaya dengan lembut.

"Anaking...bagaimana keadaanmu hari ini?" tanyanya kepada Rahiang Sanjaya.

"Ampun Aki Prabu...hamba dalam keadaan sehat dan berbahagia" jawab Rahiang Sanjaya sambil merangkapkan kepalanya di atas kepala.

Senapati Wiradipati melongo mendengar Prabu Tarusbawa memanggil anak muda tersebut anaking dan anak muda tersebut menjawabnya dengan menyebut Aki Prabu.

"Ah...sudah kuduga bukan anak muda sembarangan...tapi siapa sebenarnya dia?" Senapati Wiradipati semakin penasaran.

Prabu Tarusbawa melirik ke arah Senapati Wiradipati.

"Wiradipati...ada apa?...kelihatannya kau gelisah sekali..." tanya Prabu Tarusbawa seolah bisa mendengar isi hati Senapati Wiradipati.

Mendapat pertanyaan langsung seperti itu membuat Senapati Wiradipati gugup, mukanya pucat. Sementara Apatih Anggada dan Kai Darmaseta hanya tersenyum simpul.

"A...ampun Gusti Prabu...hamba...hamba...tidak berani..." ujarnya terbata-bata.

Prabu Tarusbawa hanya tersenyum melihat Senapati Wiradipati yang gugup lalu melirik ke arah Apatih Anggada.

"Anggada...apakah Cucuku dan Nay Suci sudah kau minta datang juga?" tanyanya.

"Sudah Gusti Prabu...mungkin sebentar lagi mereka tiba" jawab Apatih Anggada.

"Wiradipati...kau tunggulah sebentar...tahan dulu rasa penasaranmu..." ujar Prabu Tarusbawa kepada Senapati Wiradipati.

"I..iya...Gusti Prabu..." Senapati Wiradipati benar-benar mati kutu karena Prabu Tarusbawa bisa membaca rasa penasaran dihatinya.

Tak lama terdengar ketukan halus dari pintu yang menghubungkan ruangan balariung dengan ruangan dari arah luar keraton. Apatih Anggada, Kai Darmaseta, Senapati Wiradipati dan Rahiang Sanjaya bangkit dari duduknya.

"Masuk saja" ujar Prabu Tarusbawa mempersilakan masuk.

Pintu terbuka dan masuklah Putri Tejakancana diikuti oleh Nay Suci, keduanya membungkukkan badan ke arah Prabu Tarusbawa.

"Ampun Aki Prabu...hamba Tejakancana mohon izin menghadap..." suara Putri Tejakancana terdengar begitu lembut dan merdu.

Rahiang Sanjaya yang sedang menundukkan kepala, matanya melirik ke arah datangnya suara perempuan yang begitu indah dan menggetarkan sudut-sudut hatinya.

"Ha...ha...anaking...kemarilah...kemari..." Prabu Tarusbawa lalu berdiri dengan tangan terbuka.

Putri Tejakancana bergegas menghampiri Prabu Tarusbawa lalu memeluknya dengan erat.

"Aki Prabu...aku rindu sekali...sulit sekali bertemu dengan Aki Prabu..." rajuknya manja.

"Ha...ha...anak manja...kau sudah dewasa...anaking...sudah saatnya ada yang mengurus dan menyayangimu..." ujar Prabu Tarusbawa sambil mengusap-usap punggung Putri Tejakancana dan sesekali menciumi kepalanya.

Terlihat betapa Prabu Tarusbawa sangat menyayangi Putri Tejakancana.

"Sekarang duduklah...kau juga Suci...duduklah" ujarnya sambil melepaskan pelukannya.

Kai Darmaseta segera bergeser ke samping, memberikan tempat duduknya semula kepada Putri Tejakancana. Nay Suci duduk di samping Putri Tejakancana lalu Kai Darmaseta sedangkan Senapati Wiradipati pindah duduknya di samping Rahiang Sanjaya.

Setelah semuanya duduk, Prabu Tarusbawa menarik nafas lega...wajahnya terlihat sangat berseri-seri.

"Aku mengundang kalian semua...karena ada seseorang yang sangat penting akan kuperkenalkan kepada cucuku, Tejakancana dan kau...Wiradipati" ujarnya dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.

Mendengar ucapan Prabu Tarusbawa, Putri Tejakancana melirik ke arah Rahiang Sanjaya dan di saat bersamaan Rahiang Sanjaya pun melirik ke arah Putri Tejakancana. Kedua pandangan beradu.

Sesaat nafas Rahiang Sanjaya tercekat melihat kecantikan Putri Tejakancana.

Wajahnya yang putih dan halus bagaikan porselen China,

Rambut hitam yang tergerai halus licin laksana sutera,

Kedua alisnya yang hitam bagaikan gendewa terpentang,

Kedua bola matanya mengerling tajam bagai menggunting jantung,

Hidung bangir, halus laksana diraut, cupingnya yang tipis bergerak lembut menambah patut,

Bibir tipisnya yang merah, basah bagaikan secawan madu!

Sedangkan Putri Tejakancana juga sesaat terpana melihat betapa gagah dan tampannya Rahiang Sanjaya.

"Ah...sekarang benar-benar terlihat jelas...gagah dan tampan sekali" batin Putri Tejakancana sambil membuang pandangannya.

Rahiang Sanjaya pun seperti tergugu dan buru-buru menundukkan kepalanya. Wajah keduanya memerah bagaikan kepiting rebus.

Prabu Tarusbawa, Apatih Anggada, Kai Darmaseta dan Nay Suci tersenyum simpul melihat kelakuan kedua anak muda tersebut. Hanya Senapati Wiradipati yang masih terlihat bingung dengan apa yang terjadi.