Yuchi Saksena membuka dan mengerjapkan matanya pelan-pelan, suara gemuruh air terjun dan silaunya sinar matahari yang menerobos lebatnya dedaunan telah membangunkannya. Seluruh badannya terasa sakit dan lemah, dicobanya untuk menggerakkan kaki dan tangannya.

"Ahh...sakit sekali..." keluh Yuchi Saksena sambil meraba pedang di punggungnya.

Yuchi Saksena menghela nafas lega begitu mengetahui pedangnya masih menempel di dadanya. Diliriknya Dewi Sekarasih yang masih tertidur pulas di dadanya, wajah letih dan juga ketakutan terbayang di sana. 

"Kasihan sekali...kau tikus kecil...gara-gara aku...kau jadi terseret dalam bahaya..." gumamnya sambil dicobanya menutupi sinar matahari yang menerpa wajah Dewi Sekarasih dengan tangan kirinya.

Walaupun terasa pegal dan sakit...Yuchi Saksena mencoba bertahan supaya tidak membangunkan Dewi Sekarasih yang tertidur pulas di dada kanannya.

Tak berapa lama Dewi Sekarasih terbangun, matanya menatap mata Yuchi Saksena dengan mesra. Dilingkarkan kedua tangannya memeluk pinggang sambil menempelkan kepalanya di dada Yuchi Saksena. Yuchi Saksena meringis kesakitan.

"Ahhh...tikus kecil...lepaskan dulu..." keluh Yuchi sambil menepuk bahu Dewi Sekarasih.

"Ohh...ohh...maafkan Kakang...aku kira tidak sakit..." ujar Dewi Sekarasih tersenyum manis sambil melepaskan pelukannya lalu bangkit.

"Badanku...masih ngilu dan nafasku sangat sesak...kau tolong bantu aku duduk..." ujar Yuchi Saksena sambil meringis kesakitan.

"Baik...Kakang...mari pegang tanganku..." jawab Dewi Sekarasih sambil membantu Yuchi Saksena untuk duduk dan bersila.

Lalu dengan cekatan Dewi Sekarasih memetik daun talas liar, melipatnya menjadi sebuah tempat air dan menciduk air dari sungai yang mengalir jernih.

"Kakang...kau minum dulu...biar sedikit melonggarkan dadamu..." ujarnya sambil berjongkok di hadapan Yuchi Saksena dan menyodorkan ujung daun yang sudah ditekuknya ke mulut Yuchi Saksena.

"Glekkk....gleekk..." air yang berada di dalam tekukan daun talas itu tandas berpindah ke perut Yuchi Saksena.

"Terima kasih..." ujar Yuchi Saksena pelan sambil memegang lengan Dewi Sekarasih.

"Kakang...kau tunggu di sini...aku akan mencari buah-buahan..." ujar Dewi Sekarasih sambil tersenyum lembut lalu melangkah meninggalkan Yuchi Saksena.

Sepeninggal Dewi Sekarasih, Yuchi Saksena memejamkan matanya lalu mengalirkan aliran hawa murni dari perutnya ke dadanya yang terasa sangat sesak. Keringat mulai terlihat di kening dan dahinya.

"Urgh..uhuk...uhuk..." Yuchi Saksena beberapa kali terbatuk sambil memuntahkan darah hitam yang mengental. Wajahnya semakin pucat namun rasa sakit di dadanya mulai berkurang.

"Ah...sialan...rupanya tenaga dalamku berbalik menyerang tubuhku..." batin Yuchi Saksena lalu melanjutkan bersemedi untuk mengembalikan tenaga dan mengobati luka dalamnya.

Matahari mulai meninggi saat Dewi Sekarasih kembali ke lembah tersebut sambil membawa banyak buah-buahan hutan. Dilihatnya Yuchi Saksena masih duduk bersila...matanya terpejam dari kepalanya keluar asap tipis berwarna putih.

"Rupanya Kakang Saksena masih bersemedi...lebih baik aku tidak mengganggunya" batin Dewi Sekarasih sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh lembah tersebut. Diletakkannya buah-buahan yang dibawanya di atas sebuah batu besar.

"Hmm...aku harus mencari tempat yang lebih baik untuk berlindung...siapa tahu di sekitar sini ada guha..." gumamnya sambil dengan lincah melompat ke arah air terjun.

"Sepertinya tidak ada guha yang bisa ditempati..." gumam Dewi Sekarasih sambil mengawasi ke samping kanan dan kiri air terjun yang terdiri dari batu cadas.

Dengan sebat Dewi Sekarasih melompat kembali mendekati Yuchi Saksena yang sudah mengakhiri semedinya.

"Kakang...aku membawa banyak buah-buahan...lumayan untuk mengisi perut dan memulihkan tenaga" ujarnya kepada Yuchi Saksena.

"Terima kasih tikus kecil..." jawab Yuchi Saksena pelan sambil mencoba untuk berdiri.

"Kakang hati-hati..." Dewi Sekarasih memburu ke arah Yuchi Saksena lalu membantunya.

Dipapahnya Yuchi Saksena ke atas batu besar tempatnya meletakkan buah-buahan. Dibantunya agar Yuchi Saksena duduk di atas batu besar tersebut lalu diambilnya sebuah jambu hutan yang sudah masak dan disodorkannya.

Yuchi Saksena menyambut jambu hutan yang disodorkan oleh Dewi Sekarasih, disantapnya dengan lahap. Dewi Sekarasih menatapnya dengan penuh kasih sayang, walaupun wajahnya masih terlihat letih tetapi melihat kekasih hatinya sudah mulai pulih...dirinya merasa sangat senang.

"Kau juga harus makan...." ujar Yuchi Saksena kepada Dewi Sekarasih.

"Tentu Kakang..." jawab Dewi Sekarasih ceria lalu duduk di samping Yuchi Saksena.

Sesaat keduanya lahap menyantap buah-buahan yang dibawa Dewi Sekarasih, rasa lapar dan juga letih membuat keduanya terlihat sangat lahap. Pandangan keduanya lurus memandangi aliran sungai yang sangat jernih, ikan dan hurang yang sedang berenang terlihat jelas saking jernihnya.

"Tikus kecil...terima kasih kau telah menyelamatkan nyawaku..." ujar Yuchi Saksena lirih.

"Jangan berkata seperti itu Kakang..." jawab sambil merebahkan kepalanya ke bahu kanan Yuchi Saksena.

"Apa rencana kita selanjutnya Kakang?" sambungnya bertanya.

Yuchi Saksena menarik nafas panjang.

"Aku terlalu gegabah...tidak menyangka bajingan itu memiliki kesaktian yang luar biasa...untuk sementara aku harus memulihkan luka dalamku" jawabnya sambil mengepalkan tangannya.

"Tidak perlu berkecil hati Kakang...menurut Aki Guru...ajian seperti itu adalah ajian siluman...tidak mudah mengalahkannya" Dewi Sekarasih mencoba membesarkan hati Yuchi Saksena.

Keduanya kembali larut dalam lamunan.

"Kakang...aku ingat sesuatu..." tiba-tiba Dewi Sekarasih berseru sambil mengangkat kepalanya dari bahu Yuchi Saksena.

"Ingat apa tikus kecil?" Yuchi Saksena sedikit kaget.

"Tapi aku mau bertanya dulu Kakang...." ujar Dewi Sekarasih dengan mata berbinar-binar.

Yuchi Saksena menatap Dewi Sekarasih dengan penasaran.

"Aku lihat waktu Kakang bertarung dengan bajingan itu...sepertinya Kakang terluka oleh tenaga dalam sendiri yang berbalik...betul tidak?" tanya Dewi Sekarasih sambil memegang lengan Yuchi Saksena.

"Hmmm...sepertinya begitu..." jawab Yuchi Saksena.

Dewi Sekarasih tersenyum tambah lebar, wajahnya yang putih terlihat kemerahan saking semangatnya.

"Kakang...ingat tidak waktu Barna mau membokong dengan memukul kepalamu?" tanyanya mengingat kembali kejadian saat Barna akan memukul kepala Yuchi Saksena.

"Hmmm...ya....." Yuchi Saksena masih belum dapat menangkap maksud ucapan Dewi Sekarasih.

"Waktu itu Barna terpental sebelum berhasil memukul dirimu Kakang...aku tidak tahu apa yang terjadi...tapi..." Dewi Sekarasih tidak meneruskan ucapannya, malah mengedip-ngedipkan kedua matanya.

"Tapi apa...tikus kecil...cepat katakan!" Yuchi Saksena penasaran.

"Menurutku...Barna terpental karena tenaga dalamnya berbalik menyerang dirinya sendiri...hampir sama seperti yang Kakang alami saat bertarung dengan bajingan jelek itu" Dewi Sekarasih menjelaskan analisanya saat mengamati pertarungan antara Yuchi Saksena melawan Kusno.

Sejenak Yuchi Saksena termenung mencerna analisa Dewi Sekarasih.

"Ah...bodohnya aku...bodoh...bodoh..." seru Yuchi Saksena sambil menepuk jidatnya sendiri.

"Kau pintar tikus kecil...pintar sekali..." sambungnya sambil memeluk Dewi Sekarasih.

Dewi Sekarasih balik memeluk Yuchi Saksena sambil tersenyum bahagia karena dipuji oleh kekasih hatinya tersebut.

"Kenapa aku bodoh sekali...." Yuchi Saksena terus merutuki dirinya sendiri.

"Kau memang bodoh Kakang...beruntung kau mempunyai kekasih yang pintar dan cantik seperti aku..." ujar Dewi Sekarasih menggoda Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena merenggangkan pelukannya dan memegang kedua bahu Dewi Sekarasih dipandanginya wajah cantik itu. lalu secara tiba-tiba mengecup pipi kiri Dewi Sekarasih yang memerah ranum.

"Cuupp..."

"Kakang...nakal..." manja Dewi Sekarasih sambil merajuk tapi hatinya begejolak oleh rasa bahagia yang luar biasa.

"Maaf...aku kelewatan...aku terlalu senang..." Yuchi Saksena memohon maaf sambil melepaskan tanganya dari bahu Dewi Sekarasih.

"Kakang..." Dewi Sekarasih tetap merajuk sambil bibirnya merengut.

"Aku mohon maaf tikus kecil...aku berjanji tidak akan mengulangi lagi" Yuchi Saksena gugup karena khawatir Dewi Skerasih benar-benar marah kepadanya.

"Sebelah lagi...." rajuk Dewi Sekarasih sambil menyodorkan pipi kanannya.

"Ha...ha...kau ini..." Yuchi Saksena tergelak melihat kelakuan Dewi Sekarasih yang disangkanya marah tersebut lalu dicubitnya hidung bangir perempuan cantik itu.

"Aaaah...Kakang...sebelah lagi...kalau tidak...aku benar-benar marah!" Dewi Sekarasih bergeming sambil mencubit lengan Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena menyerah sambil tersenyum bahagia.

"Cuuppp..." dikecupnya pipi kanan gadis cantik yang telah memikat hatinya tersebut.

"Terima kasih Kakang...aku bahagia sekali..." lirih Dewi Sekarasih sambil menyandarkan kembali kepalanya ke bahu kanan Yuchi Sasena.

"Tikus kecil...dendam dan kemarahan telah membuatku ceroboh dan juga gelap mata. Seharusnya aku lebih sabar dan tenang...." ujar Yuchi Saksena sambil menggenggam tangan kiri Dewi Sekarasih.

"Kakang...apakah kau juga menguasai ajian siluman seperti bajingan itu?" tanya Dewi Sekarasih penasaran.

Yuchi Saksena menarik nafas panjang.

"Tidak...ilmu yang kau lihat saat Barna terpental adalah jurus keseratus dari rangkaian jurus Menembus Langit Merobek Rembulan..." jawab Yuchi Saksena.

Dewi Saksena memukul lengan Yuchi Saksena saking kesalnya.

"Kakang...kenapa kau tidak gunakan jurus itu saat melawan bajingan jelek itu..." sungutnya.

"Aduuh...." Yuchi Saksena meringis sambil pura-pura kesakitan.

"Maaf Kakang...maaf...sakit ya?" Dewi Sekarasih kelihatan sangat menyesal sambil mengusap-usap lengan Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena tersenyum senang melihat Dewi Sekarasih yang mengusap-usap lenganya dengan mesra.

"Sudah kubilang...aku terlalu bodoh karena dendam dan amarah...jadinya aku menyerangnya dengan membabi buta" ujarnya.

"Sudahlah...sekarang lebih baik kita bersiap-siap mencari tempat berlindung...hari sebentar lagi gelap" sambungnya sambil melompat turun dari batu tempat duduknya.

"Aku sudah mencari...tapi tidak ada guha di sekitar sini. Dan juga kita tidak punya pakaian ganti...semuanya tertinggal di kedai" terang Dewi Sekarasih lalu ikut melompat turun.

"Hmmm....sudahlah tidak apa-apa..." Yuchi Saksena bergumam sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar lembah.

"Memang di sekitar sini tidak kelihatan  ada guha...sebentar..." Yuchi Saksena menghentikan pandangannya ke sebuah pohon beringin yang sangat besar tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

"Lihat...!" Yuchi Saksena berseru sambil menunjuk pohon beringin tersebut.

"Ada apa Kakang?" Dewi Sekarasih bertanya sambil bergidik seram melihat pohon beringin yang sepertinya sudah berusia ratusan tahun dengan akar-akar besar yang keluar dari tanah dan surai yang menjuntai.

"Kau lihat pohon berigin itu...menurutmu ada yang aneh tidak?" Yuchi Saksena berbalik bertanya sambil menghampiri pohon tersebut dengan tertatih.

"Hati-hati Kakang..." seru Dewi Sekarasih sambil berjalan mengikutinya.

Di sekitar pohon beringin tersebut tumbuh semak yang cukup tinggi dan rimbun, letaknya agak terpisah dari pohon-pohon besar lainnya. Hanya berjarak beberapa deupa dari lereng cadas yang dipenuhi rerumputan liar di samping air terjun.

"Tikus kecil...kau bantu aku membersihkan semak-semak ini..." ujarnya sambil mengangkat tangan kanannya bermaksud hendak mencabut pedang dari punggungnya.

"Biar aku saja Kakang...." ujar Dewi Sekarasih lalu mencabut pedang kuning dari punggungnya.

Dengan lincah, Dewi Sekarasih memainkan pedangnya menggunakan jurus-jurus pedang yang diajarkan oleh Yuchi Saksena. Tubuhnya berkelebat ringan lalu meliuk-liuk bagaikan seorang penari membabat semak-semak dihadapannya. Dalam waktu singkat semak-semak tersebut sudah rebah ke atas tanah.

Dewi Sekarasih menghentikan gerakan pedangnya lalu menyarungkannya kembali ke balik punggungnya.

"Terima kasih tikus kecil...gerakanmu sangat cepat dan indah..." ujar Yuchi Saksena lalu mendekati ke arah pohon beringin tersebut.

Dewi Sekarasih mengangguk sambil tersenyum bangga, cuping hidung bangirnya kembang kempis.

Yuchi Saksena meraba-raba pohon beringin yang besarnya mungkin tiga kali perut banteng hutan. Yuchi Saksena terlhat seperti mencari sesuatu, pandangannya mengamati pohon tersebut bahkan mengelilinginya.

"Aneh...tidak ada apapun..." desis Yuchi Saksena penasaran, sekali lagi ditelusurinya permukaan pohon tersebut dari bawah sampai sepejangkauan tangannya ke atas.

Dewi Sekarasih merasa heran dengan apa yang dilakukan Yuchi Saksena.

"Kakang...sebenarnya apa yang kau cari?" tanyanya sambil menghampiri pohon beringin tersebut dan ikut mengamatinya.

Yuchi Saksena menghentikan pencariannya lalu menghela nafas panjang.

"Tikus kecil...aku yakin ada sesuatu di balik pohon ini..." ujarnya sambil mengusap keringat di dahinya menggunakan punggung tangan kanannya.

Dewi Sekarasih mengamati batang pohon beringin itu dari bawah sampai atas lalu seperti halnya Yuchi Saksena, dirinya pun mengelilingi pohon tersebut. Namun sama saja, nihil, tidak ada sesuatu yang aneh atau menarik perhatian.

"Ah...tidak ada apa-apa..." keluh Dewi Sekarasih lalu menjatuhkan pantatnya di sebuah akar yang besar dan melintang tepat di bawah pohon beringin tersebut.

"Kreeekkk...kreeeekkk...." tiba-tiba terdengar suara berderak dan akar yang diduduki Dewi Sekarasih melesak masuk ke dalam tanah.

"Ehhh...eehh...Kakang..." pekik Dewi Sekarasih kaget lalu melompat ke arah Yuchi Saksena.

Sementara Yuchi Saksena terpaku dengan pandangan takjub melihat ke arah lereng cadas yang berada beberapa deupa di belakang pohon beringin tersebut.

"Dewata Agung...sudah kuduga..." desis Yuchi Saksena.

Melihat Yuchi Saksena yang melongo seperti tidak percaya, Dewi Sekarasih membalikkan pandangannya mengikuti arah pandangan Yuchi Saksena.

"Kakang...tidak mungkin..." gumam Dewi Sekarasih sambil menutup mulutnya, terkesima seolah tidak percaya dengan yang dilihatnya.

Semak-semak yang menutupi lereng cadas tesebut seolah ditarik ke dalam bumi, sehingga terlihat jelas sebuah lubang besar setinggi orang dewasa. Ternyata akar pohon yang diduduki oleh Dewi Sekarasih berfungsi sebagai tuas untuk menaikkan dan menurunkan semak-semak yang meghalangi lubang di lereng cadas tersebut.

Yuchi Saksena bergegas menghampiri mulut lubang tersebut diikuti oleh Dewi Sekarasih. Lubang tersebut lebih menyerupai sebuah pintu guha.

"Tahan...jangan gegabah..." ujar Yuchi Saksena menahan tangan Dewi Sekarasih yang berniat masuk ke dalam guha tersebut.

"Kakang...dirimu masih terluka...biar aku yang memeriksanya..." ujar Dewi Sekarasih penuh percaya diri.

Yuchi Saksena tersenyum simpul sambil melepaskan pegangan tangannya.

"Hati-hati...jangan sampai nanti ada maung yang menunggumu di dalam...aku tidak mau melihatmu ngompol lagi..." ujarnya pelan mengingatkan kejadian di guha sebelumnya.

"Kakang..." rengut Dewi Sekarasih manja lalu bergeser ke belakang Yuchi Saksena. Nyalinya ciut juga melihat ke dalam pintu tersebut yang gelap dan lembab.

"Bagaimana kalau benar-benar ada harimau..." batinnya sambil memukul bahu Yuchi Saksena dengan manja.

Yuchi Saksena mengambil sebuah batu kecil dari atas tanah.

"Kau bersiap-siap lari ya...kalau ada apa-apa, segeralah kau menghindar" ujar Yuchi Saksena memepringatkan.

"Kau sendiri bagaimana? Kakang masih terluka dalam...aku tidak akan meninggalkanmu" jawab Dewi Sekarasih sambil memegang baju belakang Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena mengambil ancang-ancang lalu melemparkan batu di tangan kanannya ke dalam guha.

"Wussss...." batu tersebut meluncur cepat ke dalam guha.

Tidak terjadi apapun.

"Bagaimana Kakang?" bisik Dewi Sekarasih.

"Kau tunggu saja di sini...aku akan memeriksa ke dalam..." jawab Yuchi Saksena lalu dengan mengendap-endap mulai memasuki pintu guha.

Sejenak Dewi Sekarasih terdiam, namun cepat-cepat menyusul Yuchi Saksena yang beberapa langkah di depannya. Saking terburu-burunya, kakinya terantuk sesuatu di lantai guha yang sepertinya terdiri dari cadas.

"Aduuh...." pekik Dewi Sekarasih, tubuhnya terdorong ke depan.

Mendengar suara Dewi Sekarasih yang mengaduh, Yuchi Saksena dengan sigap berbalik. Dengan reflek tangannya menahan tubuh Dewi Sekarasih, namun karena tenaganya masih lemah, dirinya tidak mampu menahan hingga akhirnya mereka terjerembab. Tubuh Dewi Sekarasih menindih Yuchi Saksena.

"Pyar...pyar...pyar...kreeekk...kreeek.." terdengar seperti suara letupan-letupan kecil diikuti oleh suara berderak. Mendadak keadaan di dalam guha tersebut menjadi terang benderang sementara semak belukar yang sebelumnya amblas ke dalam tanah kembali naik dan menutupi pintu guha.

Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih mengedaran pandangan ke sekitar guha...ternyata di dinding-dinding guha terdapat bebarapa obor kecil yang berderet hingga ke dalam guha.

Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih lalu saling berpandangan, namun meyadari posisi tubuh mereka yang saling menindih. Dewi Sekarasih segera bangkit dengan muka yang memerah. Diikuti oleh Yuchi Saksena yang juga merasa malu luar biasa karena tanpa sengaja tangannya menyentuh dada Dewi Sekarasih yang membusung indah.

"Ah...eh...ada apa ini..." Dewi Sekarasih pura-pura mengamati obor yang menempel didinding guha sambil diam-diam membetulkan baju di bagian dadanya yang tadi sempat tersentuh oleh Yuchi Saksena. Mukanya terasa panas karena malu...namun entah mengapa ada sesuatu yang hangat berdesir dihatinya.

Yuchi Saksena menyusul berdiri dengan gugup dan malu, diam-diam telapak tangan kanannya yang tidak sengaja menyentuh dada Dewi Sekarasih didekatkan ke hidungnya sambil tersenyum simpul.

Sesaat keduanya menjadi kikuk.

"Tikus kecil...ikuti aku dan tetap berhati-hati..." ujar Yuchi Saksena memecah kekakuan sambil berjalan semakin dalam.

"Ba...baik Kakang..." jawab Dewi Sekarasih jengah dan gugup.

Dewi Sekarasih adalah seorang gadis yang baru mekar, seumur hidupnya belum pernah disentuh oleh tangan laki-laki. Pengalaman jatuh cintanyapun baru pertama kali kepada Yuchi Saksena. Jadi wajar saja jika dirinya merasa malu dan gugup.

Setelah beberapa deupa ternyata guha tersebut buntu. Yuchi Saksena menatap dinding cadas didepannya...tanganya meraba-raba sambil mendorongnya pelan-pelan. Namun dinding itu tidak bergeming. Lalu diketok-ketoknya dinding tersebut.

"Dung...dung..." terdengar suara seperti bergaung menandakan bawa di balik dinding cadas tersebut ada sebuah ruangan kosong.

"Kakang...sepertinya ini adalah pintu..." Dewi Sekarasih menempelkan telinganya sambil memukul-mukul dinding cadas tersebut.

"Betul tikus kecil...hanya...bagaimana cara kita membukanya" jawab Yuchi Saksena sambil memeriksa di sekitar dinding cadas tersebut.

Dewi Sekarasih terlihat befikir keras lalu seperti teringat sesuatu, dirinya menghampiri salah satu obor yang menempel didinding guha. Dicobanya menggeser obor tersebut namun tidak bergeming, lalu dicobanya memutar ke bawah dan ke atas...tetap tidak bergeming. Obor tersebut seperti ditanam ke dalam cadas.

"Huuuhhh....ternyata berbeda..." keluh Dewi Sekarasih.

"Apa masudmu?" tanya Yuchi Saksena penasaran melihat yang dilakukan oleh Dewi Sekarasih.

"Biasanya..di keraton ada ruangan rahasia yang untuk membuka pintunya dengan menggeser atau memutar obor..." terang Dewi Sekarasih.

"Hmmm...." Yuchi Saksena bergumam sambil kembali mengawasi dinding-dinding guha tersebut. Kemudian berjongkok sambil tanganya meraba-raba lantai guha seperti sedang mencari sesuatu.

"Greeekkk....kreeeek....krekkkk...prettt..preeettt..."

Tiba-tiba terdengar suara berderak yang cukup keras...guha terasa bergetar hebat dan obor-obor yang tertancap di dinding mendadak padam semua. Seketika keadaan di dalam guha gelap gulita.

Dewi Sekarasih segera melompat mendekati Yuchi Saksena yang sudah berdiri dan bersiaga.

"Kakang...ada apa lagi ini..." bisik Dewi Sekarasih sambil memegang lengan Yuchi Saksena.

Suara berderak berubah menjadi suara bergemuruh seperti ada batu yang bergesekan.

"Grhhheeessskkk...grhhheeesssskkk...."

Dinding di depan mereka bergeser lambat ke arah kanan, cahaya terang muncul dari balik pintu guha tersebut dibarengi wangi dupa yang sangat menyengat. Dinding tersebut berhenti bergerak dan menyisakan sebuah lubang seukuran manusia dewasa. Rupanya itu adalah pintu menuju ke ruangan di balik dinding tersebut.

"Ikuti aku tikus kecil dan tetap waspada..." bisik Yuchi Saksena sambil pelan-pelan melangkah memasuki ruangan di balik dinding tersebut.

Dewi Sekarasih menghunus pedang kuning miliknya lalu mengikuti Yuchi Saksena sambil matanya liar mengawasi keadaan sekitar. Begitu keduanya melewati dinding tersebut, terdengar suara bergemuruh diikuti dengan bergesernya kembali dan menutup pintu di dinding tersebut.

"Grhhheeessskkk...grhhheeesssskkk...."

Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih terpana melihat keadaan di ruangan tersebut, luasnya sekitar lima kali lima deupa, seluruh dindingnya berupa cadas berwarna putih dan licin. Dibagian kanan terdapat sebuah pintu yang ditutupi selembar kain berwarna kuning keemasan. Sementara di ujung depan terdapat sebuah lubang pintu yang sepertinya menuju ke sebuah lorong. Tiga buah obor menempel di bagian atas guha yang memiliki lubang cukup besar. Rupanya lubang-lubang tersebut terhubung ke bagian atas lereng dan menjadi ventilasi yang membuat ruangan itu tetap terasa segar dan tidak pengap. Dua buah rak kayu yang berisi kitab dan pakaian berderet rapi di pojok ruangan.

"Kakang...tempat apa ini?" bisik Dewi Sekarasih penasaran.

"Entahlah..." lirih Yuchi Saksena, dirinyapun sama penasarannya dengan Dewi Sekarasih.

"Ada suara air...tapi di mana?" Dewi Sekarasih tambah penasaran lalu menghampiri pintu yang tertutup oleh kain berwarna kuning keemasan.

Sementara Yuchi Saksena menghampiri rak yang berisi kitab-kitab, usianya sepertinya sudah sangat tua. Terlihat dari warnanya yang mulai menguning.

Dewi Sekarasih menyibakkan kain berwarna kuning tersebut dan tiba-tiba menjerit tertahan sambil mundur beberapa langkah ke belakang.

"Kakang...kakang..." jeritnya sambil menutup mulutnya.

Mendengar Dewi Sekarasih menjerit, Yuchi Saksena bergegas menghampirinya dengan cemas.

"Ada apa?...ada apa?" sambil mengguncang-guncangkan bahu Dewi Sekarasih yang melotot seperti orang sawan.

"Di sana...di sana..." ujar Dewi Sekarasih terputus-putus sambil menunjuk ke arah ruangan yang ditutupi oleh kain berwarna kuning.

Yuchi Saksena pelan-pelan mendekati ruangan yang ditutupi oleh kain tersebut lalu menyingkapkannya.

"Hahh..." Yuchi Saksena terkejut bukan main, sesaat jantungnya seolah terhenti. Namun segera menguasai dirinya dan menarik lalu melepaskan kain tersebut yang tegantung di sebuah bilah kayu yang menempel di dinding cadas.

"Kakang...hati-hati..." seru Dewi Sekarasih tertahan sambil mendekati dan merapatkan tubuhnya ke punggung Yuchi Saksena.

Di dalam ruangan yang sedikit gelap terlihat sepasang mata berwarna hijau menatap tajam ke arah mereka. Mata itu adalah milik seekor macan kumbang berukuran sedang yang sedang berdiri di samping seorang laki-laki tua berjubah pandita berwarna putih yang sedang duduk bersila. Mata laki-laki itu tetutup sementara kedua tangannya merangkap di depan dadanya.

"Grhhhuaa...." macan kumbang itu menggeram pelan seolah memperingatkan Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

"Tenang...kau jangan bergerak tiba-tiba..." saran Yuchi Saksena kepada Dewi Sekarasih.

"Sampurasun..." Yuchi Saksena mengucapkan salam sambil merangkapkan tangan di depan dada.

Tidak ada jawaban dari laki-laki tua itu.

"Sampurasun..." Yuchi Saksena mengulangi lagi salamnya lebih keras.

"Grhhhaaa..." macan kumbang itu kembali menggeram seolah menjawab salam Yuchi Saksena.

Sementara dari laki-laki tua itu tidak ada jawaban. Macan kumbang itu berjalan lunglai mendekati Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

Yuchi Saksena menahan nafas sementara Dewi Sekarasih wajahnya sudah pucat bagai tidak berdarah.

"Kakang..." desis Dewi Sekarasih tubuhnya menggigil ketakutan.

"Diam...jangan bergerak...sepertinya macan itu tidak bermaksud buruk..." jawab Yuchi Saksena menenangkan walaupun hatinyapun sendiri sudah ciut.

Macan tersebut semakin dekat lalu menggesekkan badannya ke kaki Yuchi Saksena sambil menggeram pelan.

"Grhhhaaa..."

Dewi Sekarasih yang berdiri di belakang Yuchi Saksena, nyawanya serasa terbang tidak mampu bergerak ataupn berbicara sepatah katapun.

Yuchi Saksena memberanikan diri mengusap-usap kepala macan kumbang tersebut. Macan kumbang tersebut berbalik dan kembali menuju ke samping pria tua yang sedang duduk bersila.

"Grhhhaaa..." macan kumbang itu kembali menggeram pelan sambil menatap Yuchi Saksena seolah memanggilnya agar mendekat.

Yuchi Saksena berjalan mendekati orang tua tersebut lalu menjatuhkan tubuhnya dan bersimpuh di hadapannya. Dirangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

"Sampurasun Pandita...mohon diampunkan hamba mengganggu..." ujarnya takzim.

Orang tua itu tidak bergeming.

"Grhhhhaaa...Grhaaaa..." macan kumbang itu kembali menggeram sambil menggesekkan badannya ke tubuh laki-laki tua itu.

"Bruuukkk...." tubuh laki-laki tua itu ambruk ke samping namun tetap tidak bergerak.

Yuchi Saksena bergegas menghampirinya lalu memegang tangan pandita tua tersebut.

"Pandita...pandita..."

"Grhhhhaaa...Grhaaaa..." macan kumbang itu kembali menggeram pelan sambil berjalan mengitari pandita tua tersebut.

"Ah...rupanya sudah meninggal..." gumam Yuchi Saksena lalu mengangkat tubuh pandita tua tersebut dan dibaringkannya di lantai.

Macan kumbang itu menghentikan langkahnya lalu ngadangong di samping mayat pandita tua itu, matanya menatap ke arah Yuchi Saksena.

"Kakang..." terdengar suara Dewi Sekarasih pelan.

Yuchi Saksena memalingkan wajahnya ke arah Dewi Sekarasih.

"Hufffttt...." Yuchi Saksena menahan tawanya melihat keadaan Dewi Sekarasih yang berdiri mematung sementara dari ujung bawah celananya mengucur cairan.

"Kakang...jangan tertawa..." Dewi Sekarasih merajuk dengan muka yang berangsur memerah.

Yuchi Saksena terlhat sekuat tenaga menahan tawa.

"Tikus kecil hffft...kita harus segera mengurus mayat pandita ini..." ujarnya sambil menoleh ke arah mayat pandita yang terbaring ditunggui oleh macan kumbang.

"Argggghhh..." macan kumbang itu menggeram pelan sambil memandang ke arah Yuchi Saksena seolah setuju dengan pendapatnya.

"Tenanglah macan kumbang...aku akan mengurusnya dengan baik...tapi..kita harus membawanya keluar guha..." ujar Yuchi Saksena seolah berbincang dengan macan kumbang tersebut.

"Arghhh...." macan kumbang itu menggeram lalu melompat ke ujung ruangan yang ada di ujung ruangan lalu berbalik ke arah Yuchi Saksena. Sepertinya macan kumbang itu meminta Yuchi Saksena agar mengikutinya.

"Tikus kecil...kau tunggu disini..." ujar Yuchi Saksena kepadaDewi Sekarasih lalu mengikuti macan kumbang tersebut masuk ke dalam lorong.

Dewi Sekarasih menganggukkan kepalanya sambil merengut, hatinya malu dan kesal bukan main kepada Yuchi Saksena yang mentertawakannya. Dewi Sekarasih menoleh ke arah mayat pandita tua yang terbaring di lantai guha.

"Kenapa dia mati di tempat seperti ini...?" batinnya sambil bergidik lalu berjalan mendekati mulut lorong guha yang baru saja di masuki Yuchi Saksena dan macan kumbang.

Di kibas-kibas celananya yang basah kuyup menggunakan kedua tangannya.

"Sial...memalukan...kenapa aku ngompol lagi...Kakang Saksena pasti akan meledekku habis-habisan" rutuknya kesal sambil bersandar ke dinding guha.

Tak lama menunggu terdengar suara langkah kaki mendekati, rupanya Yuchi Saksena sudah kembali diikuti oleh macan kumbang.

"Tikus kecil...lorong ini ternyata tembus ke belakang lereng ini...di sana ada pancuran dan perapian.." ujarnya kepada Dewi Sekarasih dengan senyum yang dikulum.

"Di sana kau bisa membersihkan diri...." sambungnya menggoda sambil menutup hidungnya.

"Kakang...tidak lucu..." sergah Dewi Sekarasih kesal.

"Ha...ha...aku memang tidak lucu...tapi aku tidak bau pesing...ha...ha..." Yuchi Saksena tergelak semakin membuat mulut Dewi Sekarasih monyong saking kesalnya.

Yuchi Saksena kemudian menghampiri mayat pandita tua yang terbujur di lantai guha, pelan-pelan dan penuh hormat dipangkunya lalu berjalan ke arah lorong guha diikuti oleh macan kumbang.

"Tikus kecil...aku lihat ada beberapa jubah di atas rak itu...ambillah beberapa dan ikuti aku...kita harus mengurus mayatnya dengan baik" ujarnya kepada Dewi Sekarasih.

===

Baca juga : Rahiang Sanjaya #35

Malam itu Kinasih terbangun di tengah malam, tubuhnya penuh keringat dan nafas yang terengah-engah. Sepertinya Kinasih bermimpi buruk.

"Dewata Agung...aku mimpi buruk sekali..." batinnya sambil turun dai tempat tidurnya lalu menghampiri meja kecil di pojok kamar.

Kinasih menuangkan minuman dari kendi ke dalam sebuah cangkir tanah, kemudian duduk di kursi yang ada  di samping meja.

"Glek...glek..." minuman yang ada dicangkirnya tandas.

"Suta...anaking, kenapa kau belum datang juga?..." batinnya mengingat anak satu-satunya, Arya Suta yang belum datang juga.

Sudah enam hari, dirinya bersama rombongan yang dipimpin oleh Margo tiba di Palabuhan Caruban dan langsung menuju ke rumah milik Arya Suta. Sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya, Arya Suta akan terlebih dahulu mendatangi dan mengajak Arya Jumadi untuk ikut mengungsi bersama mereka. Setelah itu akan menyusul rombongan Kinasih ke Palabuhan Caruban untuk bersama-sama berlayar menuju Palabuhan Cimanuk.

"Ah...semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan...Dewata Agung tolong bimbing dan lindungi putra hamba..." batin Kinasih lalu memejamkan matanya sambil merangkapkan keda tangannya di atas kepala.

Rumah besar itu terasa sangat sepi, hanya suara binatang malam dan suara langkah beberapa orang yang sedang berjaga. Sesekali terdengar suara mereka berbincang dengan suara yang rendah.

Kinasih bangkit dari tempat duduknya lalu kembali ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya. Kedua matanya menatap kosong ke langit-langit kamar. Kepalanya dipenuhi bermacam pikiran sehingga baru menjelang pagi dirinya bisa tertidur lagi.

Sementara di kamar yang terletak paling belakang dari rumah tersebut, samar-samar terdengar desahan dan deru nafas yang memburu. Di atas tempat tidur terlihat seorang laki-laki bertubuh tinggi besar sedang memacu birahi bersama dengan seorang perempuan bertubuh mungil namun sekal. Laki-laki itu menaik turunkan pinggulnya dengan liar dan cepat sementara perempuan di bawahnya menggoyangkan kadang memutar pinggulnya mengimbangi. Deru nafas keduanya bagai kuda liar yang sedang berpacu. Udara di dalam kamar terasa panas, tubuh keduanya bermandikan peluh.

"Kakang...terus...terus...aku ga tahan...terus....ahhhh..." terdengar rintihan dan lengkingan dari perempuan yang tak lain adalah Surti. Sementara laki-laki bertubuh tinggi besar yang menindihnya adalah Margo.

Tubuh Surti melenting dengan kedua mata yang hanya terlihat putihnya saja sementara tangannya mencengkram punggung dan kakinya membelit pinggang Margo. Sesaat Margo menghentikan gerakannya dan memeluk tubuh mungil itu, memberi kesempatan Surti menikmati surga dunianya. Setelah beberapa saat tubuh Surti menjadi lemas dan nafasnya memburu.

"Kakang...istirahat dulu...aku sudah tiga kali...badanku lemas sekali Kakang..." ujarnya pelan sambil mengusap-usap dada Margo yang bermandikan peluh.

"Surti...aku sudah tidak tahan...sedikit lagi" bisik Margo di telinga Surti sambil pelan-pelan menggerakan pinggulnya lagi.

"Tapi aku masih lemas Kakang...aku tidak bisa mengimbangimu...tunggulah sebentar..." rengek Surti sambil menarik leher Margo dan melumat bibirnya.

Bibir mereka saling lumat sementara gerakan pinggul Margo semakin cepat. Tiba-tiba Margo melepaskan lumatan bibirnya lalu melepaskan dekapannya dari tubuh Surti dan turun dari tempat tidur. Surti menatapnya dengan mesra, menyangka Margo akan memberinya waktu untuk memulihkan tenaganya. Namun Surti...salah!

Margo menarik kaki Surti ke pinggir tempat tidur lalu diangkatnya dan di tumpangkan ke pundaknya. Margo berdiri di samping tempat tidur sementara pinggul kaki Surti terangkat dan pinggulnya berada di bibir tempat tidur.

"Kakang...apa yang....ahhh..." Surti kaget namun suaranya tercekat ketika sesuatu terasa menembusnya lagi.

Pinggul Margo bergerak maju mundur dengan cepat dan liar, sementara Surti tidak bisa berbuat apa-apa karena kakinya terkunci di atas pundak Margo. Hanya desahan dan rintihan yang tidak henti keluar dari mulutnya yang terbuka sementara matanya membeliak-beliak penuh kenikmatan

"Heuh..heuh..." dengus nafas Margo bagaikan suara babi liar, keringat bercucuran dari sekujur tubuhnya. Cukup lama Margo berpacu, tempat tidur bergoyang-goyang dahsyat. Kalau ada yang melewati kamar tersebut pasti akan mendengar suara pergumulan itu.

"Arggghhhh....." Margo menggeram lalu mendorong pinggulnya keras-keras menghantam pinggul Sumi yang bulat sekal, tubuhnya melenting ke belakang lalu berkejat-kejat beberapa kali.

"Kakang......" Surti menjerit sambil kedua tangannya meremas tikar alas tempat tidurnya.

Sesaat kemudian Margo menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Surti. Tubuh keduanya berkilat oleh keringat. Tak lama terdengar suara dengkur Margo yang tertidur.

Surti menoleh ke arah Margo yang tertidur di sampingnya, diusapnya wajah Margo yang berkeringat.

"Terima kasih Kakang...kau memang yang paling hebat....bagai banteng liar...hi...hi..." gumamnya sambil terkikik centil.

##

"Tok...tok...Juragan Sepuh...tok..tok..." terdengar suara ketukan dari luar pintu dan suara perempuan yang memanggilnya.

Kinasih menggerakkan badannya lalu bangun dan duduk di atas tempat tidur sambil memijit-mijit dahinya yang terasa pening.

"Masuk saja..." jawabnya.

"Kreeek...."

Pintu terbuka dan masuklah Surti sambil membawa nampan berisi cangkir yang masih mengepulkan asap dan satu piring berisi singkong rebus.

"Juragan Sepuh...silakan sarapan dulu..." ujar Surti sambil meletakkan nampan di atas meja.

Digesernya gorden yang menutupi jendela lalu membukanya. Cahaya matahari menerobos masuk menghangati keadaan di dalam kamar.

"Ah...sudah siang rupanya..." gumam Kinasih lalu turun dari tempat tidurnya menuju ke depan jendela. Matanya menerawang jauh seperti sedang menunggu sesuatu.

"Surti...sudah hampir tujuh hari...tapi anakku masih belum datang..." ujarnya tanpa menoleh ke arah Surti yang sedang membereskan tempat tidur.

Surti menarik nafas panjang.

"Jangan terlalu khawatir Juragan Sepuh...mungkin hari ini Juragan Anom akan tiba" ujarnya menenangkan walaupun dirinya sendiri bertanya-tanya. Seharusnya dalam empat hari majikan mudanya sudah tiba.

"Surti...kau panggil Margo kemari...ada sesuatu yang perlu aku sampaikan..." ujar Kinasih lalu duduk di kursi di sebelah meja kecil.

"Baik Juragan Sepuh..." jawab Surti dan berlalu keluar kamar.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #15