Kedai dan penginapan itu mempunyai halaman yang cukup luas, biasanya dipakai untuk menyimpan kuda, pedati ataupun kereta kencana milik para tamu yang menginap.

Yuchi Saksena berdiri tegak berhadapan dengan Jigar dan Jiger.

"Anak muda, aku tidak mau berpanjang kata...walaupun aku menyayangkan anak muda sepertimu harus berurusan dengan Juragan Arya Jumadi..." ujar Jigar sambil memasang kuda-kuda, goloknya yang besar terhunus di tangan kanannya.

"Aku tidak akan mempunyai dendam pada kalian...ayo seranglah...!" seru Yuchi Saksena.

Sementara Dewi Sekarasih berdiri di pinggir sambil memperhatikan dengan seksama, walaupun yakin Yuchi Saksena akan mampu mengatasinya namun tak urung hatinya merasa was-was. Kekalahan Yuchi Saksena dari Kusno seolah meninggalkan trauma tersendiri bagi Dewi Sekarasih.

"Anak muda...kau cabutlah pedang milikmu agar pertarungan ini adil..." seru Jiger mengingatkan Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena tersenyum.

"Baiklah...ku harap kailan jangan sungkan!" ujar Yuchi Saksena dengan senyuman yang sangat dingin menghunus pedang hijaunya, harum wangi cendana menyeruak di tempat tersebut. 

"Bocah sombong...!" dengus Jigar sambil melompat dan goloknya bagaikan kilat menyambar dan menusuk, tubuhnya yang tinggi dan besar melayang dengan enteng.

Sebuah serangan yang tidak main-main namun Yuchi Saksena yang sudah bersiap dengan pedang hijaunya menangkis.

"Traaanggg...!!!"

Jigar terpental ke samping namun dengan enteng melakukan salto dengan indah lalu kembali melakukan penyerangan. Melihat kakaknya terpental seperti itu, Jiger tidak tinggal diam. Jiger menerjang dengan tidak kalah buasnya. Yuchi Saksena sedikit terkejut. Dua kakak beradik ini benar-benar tidak bisa dipandang remeh. Walaupun tubuh keduanya tinggi dan besar namun gerakan mereka benar-benar enteng dan cepat. Yuchi Saksena memutar pedangnya untuk menangkis bacokan dan tusukan yang datang dari kanan dan kiri.

Jigar dan Jiger terus mendesak dengan serangan yang bertubi-tubi. Yuchi Saksena memutar pedangnya memainkan rangkaian jurus "Menembus Langit Membelah Rembulan". Gerakannya yang sangat cepat dan indah mampu mengimbangi gelombang serangan yang datang. Bahkan beberapa jurus berlalu, Yuchi Saksena berhasil memukul balik serangan-serangan yang dilancarkan oleh Jigar dan Jiger. Golok milik Jigar dan Jiger yang sebelumnya dalam posisi menyerang, kini berbalik hanya bisa menangkis dan berloncatan menghindari sabetan pedang hijau milik Yuchi Saksena.

"Traang...!!!"

Golok Jigar berusaha menangkis sabetan pedang yang mengarah ke lehernya namun gagal. Setengah dari goloknya terpental putus sementara pedang Yuchi Saksena melaju cepat. Jigar panik bukan kepalang, tidak mungkin lagi menghindar dan hanya bisa memejamkan mata menunggu datangnya pedang yang akan menebas putus lehernya. Namun rupanya Yuchi Saksena memang tidak bermaksud membunuhnya, laju pedang berbelok ke bahu kiri Jigar.

 "Crash....arggggghhh...!!!

Jigar melolong setinggi langit sambil mendekap bahunya dan jatuh berlutut. Bahu kirinya terluka cukup dalam.

"Kalian berdua...lebih baik segera pergi...aku tidak ada urusan dengan kalian..." seru Yuchi Saksena memperingatkan.

Namun rupanya Jiger sudah gelap mata melihat kakaknya terluka seperti itu.

"Keparat...aku akan mengadu nyawa denganmu..." bentaknya sambil kembali menerjang Yuchi Saksena.

"Hentikan...!!!"

Jiger menarik kembali serangannya lalu membalikkan tubuhnya kepada Jigar yang barusan berteriak menghentikan serangannya.

"Kami mengaku kalah dan akan segera pergi..." ujar Jigar sambil memberi kode kepada Jiger agar segera meninggalkan tempat tersebut.

Keduanya lalu berkelebat cepat menjauh dan menghilang. Yuchi Saksena menyarungkan kembali pedangnya lalu berpaling ke arah Dewi Sekarasih yang menyaksikan pertarungan tersebut dengan sorot mata penuh kekaguman.

"Kakang...luar biasa, kau bisa mengalahkan mereka di bawah tiga puluh jurus..." seru Dewi Sekarasih kegirangan sambil menghambur menghampiri Yuchi Saksena.

Sementara Yuchi Saksena hanya tersenyum namun matanya liar seolah mencari sesuatu atau seseorang.

"Kakang...kau mencari apa?" tegur Dewi Sekarasih.

"Tikus kecil...kau lihat laki-laki yang mengaku perwira Karatuan Kalingga?" tanya Yuchi Saksena.

Dewi Sekarasih tersentak.

"Ah...entahlah Kakang...tadi dia berdiri di depan pintu sana...tapi aku tidak melihatnya pergi" jawab Dewi Sekarasih.

"Ah...sudahlah...lebih baik kita mengganti kerusakan kepada pemilik kedai setelah itu kita berisirahat. Pasti akan banyak lagi yang datang...kita harus menyiapkan tenaga" ujar Yuchi Saksena sambil melangah masuk ke dalam kedai.

###

Matahari sudah terbit dari timur dan menyebarkan cahaya keemasannya ke sleuruh penjuru bumi, membawa kehangatan menyingkirkan sisa-sisa hawa dinginnya malam. Di kamar yang disewanya, Yuchi Saksena terbangun dengan tubuh yang segar. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian yang sebelumnya dibelikan oleh pelayan penginapan, Yuchi Saksena mengikat kepalanya dengan kain sutera berwarna biru milik Dewi Sekarasih yang direbutnya dulu saat di Palabuhan Muara. Pedang hijaunya disangkutkan di punggungnya.

Yuchi Saksena melangkha ke luar kamar menuju kedai makanan yang terletak di depan bagian depan penginapan. Yuchi Saksena mengedarkan pandangan ke seluruh bagian kedai mencari keberadaan Dewi Sekarasih.

"Ah...rupanya tikus kecil masih belum bangun...lebih baik aku menunggunya sambil makan pagi" gumam Yuchi Saksena lalu duduk di depan sebuah meja dekat jendela.

Dipanggilnya seorang pelayan lalu memesan beberapa makanan dan minuman.

"Ya...Juragan, hendaka memesan makanan apa?" tanya pelayan tersebut sambil membungkukkan badannya. Kejadian pertarungan kemarin sore telah membuat pelayan-pelayan di kedai dan hotel itu sangat menghormati Yuchi Saksena. Selain takut dengan kemampuan silatnya yang sangat tinggi juga merasa kagum dengan kemurahan hatinya bersedia mengganti semua kerusakan yang terjadi di kedai.

"Hmm...aku minta nasi hangat dan lauk apa saja...jangan lupa jahe manis" ujar Yuchi Saksena.

"Baik Juragan...mohon menunggu..." jawab pelayan tersebut sambil membungkukkan badannya kembali dan berlalu hendak mengambil makanan yang dipesan oleh Yuchi Saksena.

Sepeninggal pelayan tersebut, Yuchi Saksena membuang pandangannya ke luar jendela sambil menarik nafas panjang.

"Ayah bunda...mohon restu dan bimbingan kalian...aku bersumpah akan segera menuntaskan dendam kepada Arya Jumadi" batinnya sambil mengepalkan kedua tangannya.

Tak lama kemudian datang pelayan yang tadi membawa nampan besar dan diatasnya terhidang nasi hangat di dalam boboko, ikan merah bakar, sayur lodeh yang masih mengepulkan asap, satu buah kendi , piring dan cangkir kosong juga cangkir besar berisi jahe manis.

"Silakan menikmati hidangan kami Juragan...kalo masih ada yang kurang...silakan beritahu kami" ujar pelayan tersebut sambil tersenyum ramah.

"Ah...terima kasih pelayan..." Yuchi Saksena menganggukan kepalanya.

"Aku mau bertanya...apakah kau lihat gadis yang bersamaku...apakah dia sudah ada datang kemari?" sambungnya menanyakan Dewi Sekarasih.

"Maaf Juragan...hamba belum melihatnya...mungkin masih di kamarnya" jawab pelayan itu.

"Oh...ya sudah..." jawab Yuchi Saksena lalu mulai menyantap makanan yang terhidang di atas mejanya.

Setelah menandaskan semua makanan yang tersaji, Yuchi Saksena menyeruput jahe manisnya.

"Rupanya pulas sekali tidurnya...sudah siang seperti ini masih belum bangun. Lebih baik aku tunggu saja...mungkin dia kelelahan" batin Yuchi Saksena sambil kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela. Jalanan mulai ramai oleh lalu-lalang orang dengan berbagai kepentigannya.

Palabuhan Pamalang adalah sebuah palabuhan yang cukup sibuk dikunjungi oleh para saudagar dari penjuru negeri, tidak jarang pula para saudagar dari China, Persia dan Gujarat datang untuk membeli rempah dan hasil bumi. Palabuhan ini secara de jure masih berada di bawah kekuasaan Karatuan Kalingga yang diperintah oleh Ratu Sannaha istri Prabu Bratasenawa.

Cukup lama Yuchi Saksena menunggu kedatangan Dewi Sekarasih, namun yang ditunggu tak kunjung datang.

"Keterlaluan tikus kecil...sudah begini siang masih belum bangun..." batin Yuchi Saksena sambil bangkit dari duduknya.

"Lebih baik aku bangunkan saja..." gumamnya lalu melangkah ke arah penginapan.

Sesampainya di depan kamar yang ditempati Dewi Sekarasih, Yuchi Saksena mengetuk pintunya.

"Tok...tok....tok...!!"

"Tikus kecil...tikus kecil...sudah siang...cepat bangun..." ujarnya pelan.

Tidak terdengar jawaban dari dalam kamar. Yuchi Saksena mengetuk pintu kembali dengan lebih keras.

"Tok...tok...tok...!!!"

"Tikus kecil...Sekaraasih...kau sudah bangun?"

Tidak ada jawaban, Yuchi Saksena mulai khawatir.

"Sekarasih...Sekarasih....!!!"

"Duk...duk...duk....!!!"

Yuchi Saksena setengah berteriak menggedor pintu kamar. Beberapa pelayan penginapan datang menghampiri.

"Maaf Juragan...ada apa?" salah satu dari mereka bertanya dengan tatapan cemas.

"Kau lihat gadis yang menempati kamar ini?..Apakah dia sudah keluar dari kamar?" tanya Yuchi Saksena sedikit panik.

"Maaf Juragan...saya belum melihatnya..." jawab pelayan tersebut sambil melirik ke dua orang temannya yang juga menggelengkan kepalanya tanda merekapun belum melihat Dewi Sekarasih.

Yuchi Saksena semakin panik lalu dengan kaki kanannya menendang pintu kamar.

"Braaakkkk....."

Pintu kamar itu hancur berkeping-keping.

Yuchi Saksena memburu ke dalam kamar diikuti oleh pelayan penginapan. Terlihat kamar tersebut dalm keadaan berantakan sementara jendelanya terbuka lebar. Tidak terlihat adanya Dewi Sekarasih.

"Sekarasih...Sekarasih...di mana kau?!" Yuchi Saksena benar-benar panik

"Juragan...lihat...!!!" seru salah satu pelayan sambil menunjuk dinding kamar.

Yuchi Saksena mengarahkan pandangannya ke arah telunjuk pelayan tersebut. Di dinding kamar terlihat tulisan besar berwana merah.

KALAU INGIN KEKASIHMU SELAMAT

DATANGLAH KE KUIL BUMI DAN LANGIT!!!

Yuchi Saksena mengepalkan kedua tangannya, geram dan marah.

"Pelayan...tahu kah dimana letak Kuil Bumi dan Langit?" tanyanya kepada pelayan penginapan.

Raut wajah ketakutan tergambar di wajah pelayan tersebut. Sebelum menjawab dirinya menengok ke arah teman pelayannya. 

"Kuil itu sudah lama kosong dan tidak terawat, hampir seperti tidak pernah ada orang yang mendatanginya. Kebanyakan yang datang ke sana adalah pandita-pandita gadungan yang suka memita derma dengan cara memaksa. Letaknya di sebelah selatan sana...dekat batas kota" jawab pelayan itu pelan.

"Keparat..kalau berani melukai Sekarasih...aku bersumpah akan memenggal kepalanya...!!!" geram Yuchi Saksena, matanya menyorotkan kemarahan yang luar biasa.

Yuchi Saksena melesat keluar dari kamar tersebut melalui jendela kamar yang terbuka lebar. Berlari cepat ke arah selatan sesuai petunjuk dari pelayan tersebut. Hatinya cemas bukan main memikirkan keselamatan Dewi Sekarasih. Cukup lama dirinya berlari sampai akhirnya tiba di sebuah jalan yang bercabang. Yuchi Saksena menghentikan langkahnya lalu mengamati keadaan sekitar.

"Hmm...sepertinya jalan yang berbelok ke kiri ini jarang dilalui orang ataupun pedati. Menurut cerita pelayan tadi...kuil itu sudah tidak terpakai berarti jarang dikunjungi orang" batin Yuchi Saksena lalu memutuskan untuk mengambil jalan ke arah kiri.

Keputusannya tidak salah...tak begitu lama di depannya terlihat sebuah bangunan sangat besar yang terbuat dari kayu yang sebelumnya pasti sangat megah dan kokoh. Hanya saja sekarang terlihat kotor dan sebaian ataspnya sudah rusak. Dibagian depan kuil terlihat dua buah arca yang sudah rusak bahkan sebagian sudah tidak utuh. Agaknya kuil Langit dan Bumi ini dulunya sangatlah megah dan banyak dikunjungi orang.

Pekarangannya cukup luas namun sudah mulai ditumbuhi oleh rumput-rumput liar. Sebuah plang dari kayu tergantung di bagian atas kuil bertuliskan "Kuil Bumi dan Langit". Yuchi Saksena menghentikan langkahnya di depan kuil tersebut, kedua matanya menyapu tajam ke seluruh kuil tersebut.

Dilihat dari depan, kuil itu terlihat sunyi seakan tidak ada penghuninya. Sepasang pintunya yang juga sangat besar dan tebal tertutup rapat. Dengan lincah Yuchi Saksena memasuki pekarangan lalu melompat ke atas beranda bangunan tersebut. Dengan sangat hati-hati didorongnya pintu tersebut. Terdengar suara berderit, sepertinya pintu itu sudah lama tidak dibuka atau ditutup.

Yuchi Saksena melongokkan kepalanya ke dalam kuil, sesaat menantikan reaksi dari terbukanya pintu tersebut. Keadaan didalam hampir sama dengan keadaan di luar, kotor dan penuh debu. Ada beberapa ruangan yang tidak berpintu. Meja-meja bekas persembahan dan beberapa buah arca yang sudah rusak tergeletak tidak beraturan. Tidak terlihat ada barang berharga yang tertinggal. Hanya saja dilantai kuil yang berdebu terlihat jejak tapak kaki manusia, sepertinya masih baru.

Dengan sangat hati-hati dan penuh kewaspadaan, Yuchi Saksena melangkah masuk. Telinganya yang tajam mendengar sesuatu yang bergerak dari balik dinding kuil sebelah dalam. Dihunusnya pedang dengan tangan kanan lalu melangkah memasuki sebuah kamar yang tidak berpintu.

"Sreettt....sreettt...."

Terdengar suara desiran sangat halus diikuti dengan melesatnya dua buah cahaya keperakan menyasar ke dada dan leher Yuchi Saksena.

Dengan cepat Yuchi Saksena memiringkan tubuhnya.

"Cleb...cleebbb....!!" 

Dua buah pisau kecil menancap di dinding kamar. Yuchi Saksena berseru tertahan.

"Pengecut....tunjukkan wajahmu...!!!" bentak Yuchi Saksena.

"Ha...ha...hanya maling yang memasuki rumah orang lain tanpa permisi" dari balik pintu masuk terdengar suara yang menjawab sambil tergelak.

Pintu yang sebelumnya dilewati oleh Yuchi Saksena saat memasuki kuil terdengar berderit. Tak lama kemudian muncul dua orang laki-laki. Yuchi Saksena melengak kaget karena dua orang itu adalah pemuda tampan bermata sipit dan pandita tua yang kemarin dikalahkan oleh Dewi Sekarasih saat bertarung di kedai.

"Kalian...?!" seru Yuchi Saksena seolah tidak percaya.

Pemuda tampan itu tersenyum licik sementara pandita tua hanya menatap dengan tajam ke arah Yuchi Saksena.

"Selamat datang Koko..." ujar pemuda tampan itu sambil menjura namun senyuman licik tidak lepas dari bibirnya.

"Perkenalkan namaku Zhian dan margaku Liu...sedangkan kakek tua ini adalah pemilik kuil ini....namanya Pandita Kidang...sepertinya nenek moyang kita berasal dari negeri yang sama" sambung pemuda tampan itu memperkenalkan diri.

Yuchi Saksena mendengus kesal dan muak melihat kelakuan pemuda tampan yang mengaku bernama Zhian Liu itu.

"Aku tidak ada urusan dengan segala nama dan asal-usul nenek moyangmu....lebih baik kau tunjukkan dimana temanku berada!!!" bentak Yuchi Saksena sengit.

Zhian Liu tersenyum pongah.

"Ha..ha..Koko...janganlah terburu-buru seperti itu...kekasihmu yang cantik dan juga montok itu dalam keadaan aman. Tapi tentu semua tergantung kepadamu..." Zhian Liu kembali tergelak.

"Keparat....kau serahkan sekarang atau akan kucincang tubuhmu!!!" Yuchi Saksena meradang sambil mengacungkan pedang hijau miliknya.

Zhan Liu tetap bersikap tenang bahkan cenderung terlalu percaya diri padahal sebelumnya Dewi Sekarasih menjatuhkannya dalam satu gebrakan. Tiba-tiba dari pintu kembali berderit dan terbuka lebar, masuklah dua laki-laki yang tak lain adalah Darsa, sang perwira Karatuan Galuh diikuti oleh Kusno, anak buah Arya Jumadi yang sebelumnya mengalahkan Yuchi Saksena.

"Bajingan...rupanya kalian memang sudah berkomplot...jangan harap aku akan mengampuni nyawa kalian" sergah Yuchi Saksena muntab.

"Aiih...tidak kusangka kau masih hidup bocah ingusan. Seharusnya kau melarikan diri dan tidak lagi datang kemari" ujar Kusno sambil tersenyum tipis.

"Kalian lepaskan temanku...dia tidak ada urusan dengan masalah ini...!" bentak Yuchi Saksena yang semakin mengkhawatirkan Dewi Sekarasih.

"Aih...aih...rupanya kau merindukan kekasihmu yang cantik dan mulus itu...tenang saja, setelah kau mampus...aku akan mengurusnya dengan baik...he...he...." Darsa terkekeh sambil tersenyum mesum.

"Keparat busuk...aku tidak akan melepaskan kalian...!!!"

Kesabaran Yuchi Saksena habis dan pedangnya bergerak cepat mengeluarkan suara berdesing. Darsa cepat melompat mundur dengan wajah kaget karena tidak menyangka Yuchi Saksena akan menyerang secepat itu. Pedang Yuchi Saksena menyambar hebat hanya satu jengkal dari lehernya.

"Kita selesaikan diluar..." seru Kusno lalu dengan cepat berkelebat melalui pintu terbuka lebar. Diikuti oleh Darsa, Zhian Liu dan Kidang sementara Yuchi Saksena sudah berkelebat lebih cepat mengejar Kusno.

Yuchi Saksena berdiri di tengah halaman kuil dikurung oleh empat orang. Hanya terlihat bahwa Zhian Liu dan Kidang tidak mempunyai nyali untuk berhadapan dengan Yuchi Saksena. Zhian Liu tidak banyak bicara setelah kedatangan Darsa dan Kusno.

"Sejujurnya aku sudah banyak melihat wanita cantik tapi kekasihmu itu sungguh luar biasa..." Darsa kembali berkoar.

"Kusno biarkan aku yang membunuh bocah ingusan ini biar secepatnya aku bisa mencicipi kekasihnya..ha..ha..." sambungnya sambil melirik ke arah Kusno.

Baca juga : Rahiang Sanjaya #7

Kusno yang sudahh mengetahui betapa tingginya ilmu silat Yuchi Saksena mendengus kesal.

"Kau hadapilah...jika kau mampu membunuhnya kau bisa menikmati kekasihnya..." ujar Kusno sambil melangkah mundur memberi kesempatan Darsa untuk bertarung melawan Yuchi Saksena.

Mendengar percakapan Kusno dan Darsa, amarah Yuchi Saksena meluap namun juga sedikit lega arena berarti Dewi Sekarasih belum mereka apa-apakan. Dengan melengking keras, Yuchi Saksena melompat sambil menusukkan pedangnya ke arah dada Darsa.

Darsa mengelak dengan cepat sambil melenggakkan badannya ke belakang. Namun pedang Yuchi Saksena bergerak aneh dan kembali mengejar dengan serangan susulan menyasar leher. Luar biasa cepat! Darsa terkejut bukan kepalang, dengan cepat menjatuhkan dirinya lalu bergulingan menjauh sambil kedua tangannya melepaskan dua buah pisau kecil ke arah Yuchi Saksena.

"Trang...!!!"

Sekali babat, dua buah pisau itu jatuh dihantam pedang Yuchi Saksena. Sementara Darsa sudah kembali berdiri dengan golok panjang terhunus ditangannya.

"Boleh juga jurus pedangmu bocah ingusan...sayang kau harus segera mampus" dengus Darsa.

"Trang...!!!"

Dengan susah payah Darsa menangkis pedang Yuchi Saksena yang menyasar ke wajahnya.

"Keparat...!  rutuk Darsa tidak berani lagi membuka mulut, serangan pedang Yuchi Saksena datang bergelombang. Sepertinya Yuchi Saksena tidak mau bermain-main dan ingin segera menuntaskan semuanya agar bisa segera menolong Dewi Sekarasih.

Pedangnya mengeluarkan cahaya kehijauan dan wangi harum cendana yang semakin menyengat. Pedang itu berkelebat cepat dengan gerakan membabat dan menusuk dengan ganas. Yuchi Saksena memainkan jurus-jurus dari rangkaian jurus pedang "Menembus Langit Membelah Rembulan". Siuran angin yang keluar dari pedang hijaunya merontokkan daun-daun dari pepohonan kecil yang ada di halaman kuil.

Pedang Yuchi Saksena seolah berubah menjadi banyak mengurung tubuh Darsa. Tentu saja perwira Karatuan Kalingga ini tidak mau mati konyol. Cepat ia mengubah kuda-kuda kakinya menjadi miring sambil menghantamkan goloknya ke kiri dan ke kanan.

"Trang..!!!"

Kembali terdengar suara nyaring bertemunya pedang dan golok. Dengan cepat Darsa balik menyerang dengan membabat dada kiri Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena memutar lengannya dan pedangnya siap menangkis datangnya golok milik Darsa. Namun ternyata serangan itu hanya tipuan belaka. Sebelum goloknya tertangkis pedang, Darsa menarik kembali goloknya lalu membuat gerakan melengkung dan membabat ke arah kaki sedangkan tubuhnya doyong ke depan dengan tangan kiri terbuka siap mencengkram dada Yuchi Saksena. Gerakan yang sangat berbahaya juga ganas karena bisa menjebol dada.

"Ups....!!!"

Yuchi Saksena memekik tertahan lalu melompat ke atas membiarkan golok Darsa membabat angin di bawah kakinya sedangkan pedangnya dengan kecepatan luar biasa berkelebat membabat tangan Darsa yang akan menjebol dadanya.

Luar biasa...Zhian Liu dan Kidang yang menyaksikan pertempuran tersebut beberapa kali meleletkan lidah sementara Kusno berdiri tegak tanpa ekspresi.

Inilah kehebatan dari jurus "Menembus Langit Membelah Rembulan" yang mempu merubah keadaan dari posisi diserang menjadi menyerang. Tapi sepertinya Darsa juga bukan lawan yang mudah, jurus goloknya benar-benar hebat. Dengan cepat Darsa menarik tangan kirinya yang berada dalam ancaman pedang Yuchi Saksena, sedangkan goloknya yang membabat angin bergerak cepat mengejar dada Yuchi Saksena yang sedang melayang turun ke atas tanah. Namun serangan ini terlalu mudah bagi Yuchi Saksena untuk dielakkan.

Darsa terus mendesak Yuchi Saksena dengan jurus-jurus golok dari wilayah selatan. Goloknya kembali berkelebat menyasar kaki dan setiap serangan akan diakhiri dengan mendoyongkan badannya ke belakang, hal ini untuk menghindari serangan balasan dari Yuchi Saksena. Hal ini memaksa Yuchi Saksena untuk tetap berlompatan menghindari sabetan golok Darsa.

"Cukup sudah bermain-main...!!!" seru Yuchi Saksena.

Tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas hampir dua deupa, lalu bagaikan elang menyambar mangsanya, pedang Yuchi Saksena menyasar leher Darsa. Dengan panik dan rasa ngeri Darsa menarik lehernya ke bawah bagaikan kura-kura. Desingan pedang terdengar hanya sejengkal dari tengkuknya. Darsa terkesiap, nyawanya serasa terbang saat dilihatnya Yuchi Saksena tidak turun ke atas tanah tapi kembali bersalto dan sekarang tepat berada di atas kepalanya, kedua kaki Yuchi Saksena meluncur cepat menghajar bahu kiri dan kanan Darsa tanpa sempat dihindari.

"Kreekkk....kreeek...."

"Arggggh......."

Darsa menjerit setinggi langit, kedua kaki Yuchi Saksena menghajar kedua bahunya lalu berputar menjepit lehernya. Kedua mata Darsa mendelik saat  jepitan kaki Yuchi Saksena memutar lehernya. Ambruk tidak bernyawa.

Zhian Liu dan Kidang memejamkan mata ngeri melihat Darsa mati dengan cara yang mengenaskan. Yuchi Saksena menendang tubuh Darsa yang sudah tidak bernyawa...luar biasa...tubuh itu meluncur deras ke arah Kusno. Kusno mendelik lalu menggeser tubuhnya menghindari tubuh Darsa yang akhirnya menghantam pohon besar di belakangnya.

"Keparat..." desis Kusno sambil melompat ke tengah halaman kuil berhadapan dengan Yuchi Saksena.

"Bocah tolol...kali ini kau tidak akan lolos lagi dari tanganku..." sambungnya sambil memasang kuda-kuda.

Yuchi Saksena menyeringai, dirinya sekarang lebih berhati-hati dan tidak mau terbawa amarah yang menyebabkannya hampir celaka seperti di masa lalu. Tanpa banyak bicara lagi, dirinya memasang kuda-kuda bersiap memainkan jurus ke sembilanpuluh dari rangkaian jurus "Menembus Langit Membelah Rembulan" . 

"Aku tidak boleh ceroboh lagi..." batin Yuchi Saksena.

Kusno tersenyum mengejek, rasa percaya diri memenuhi rongga dadanya setelah dipertarungan sebelumnya berhasil mengalahkan Yuchi Saksena. Dipejamkan kedua matanya sambil merapal mantra. Kesepuluh jari tangannya mengembang, tubuhnya bergetar. Kedua tangannya dari mulai jari sampai siku berubah menjadi hitam dan mengeluarkan asap tipis yang berbau sangat busuk.

"Ajian batara karang...tidak kusangka ajian itu benar-benar ada..." desis Kidang sambil melirik kepada Zhian Liu.

Kusno membuka kedua matanya yang merah dan menyorotkan hawa kematian.

"Grhhhh....akan kuhirup darahmu dan ku robek tubuhmu...." Kusno menggeram dengan suara yang berubah menjadi berat dan serak, seperti suara dari alam lain.

Yuchi Saksena yang sudah merasakan kehebatan ajian Batara Karang milik Kusno memilih untuk menunggu serangan. Kesalahannya di pertempuran sebelumnya adalah terlalu bernafsu untuk menyerang Kusno.

"Jangan banyak bicara siluman busuk...aku sudah tidak tahan dengan bau busuk dari mulutmu..." Yuchi Saksena mencoba memancing amarah Kusno.

Kusno menggereng bagaikan binatang liar.

"Grhhh...!!!"

Kusno menabrak maju ke arah Yuchi Saksena, gerakannya sangat cepat dan berbahaya. Kesepuluh jari tangannya mengembang sementara kaki kanannya dalam posisi menendang.

Walaupun terlihat seperti sebuah serangan yang kasar dan ceroboh, namun sepuluh jari tangannya mengandung racun yang berbahaya dan mematikan sementara tendangan kakinya bisa menjebol perut. Yuchi Saksena tersenyum sinis, dengan cepat melagkah mundur sementara kedua tangannya membuat gerakan memutar untuk menangkis kedua tangan Kusno. 

"Dukkk....!!!"

Tangan keduanya berbenturan. Tubuh Yuchi Saksena terdorong beberapa deupa ke belakang sementara Kusno terpental lalu bersalto dan turun ke atas tanah dengan ringan. Kusno tersenyum mengejek. Yuchi Saksena sedikit kaget karena dirinya sudah menggunakan jurus ke sembilanpuluh tetapi masih terhuyung-huyung ke belakang.

"Grhhh...bersiaplah menghadapi kematianmu bocah ingusan...." Kusno kembali menggereng.

Kusno kembali menerjang maju dan kali ini terjangannya disusul serangkaian serangan yang ganas, memukul dan menendang bergantian, semua mengarah jalan darah yang berbahaya. Yuchi Saksena berlaku cepat, tubuhnya mencelat ke sana-sini dan ia pun membalas dengan pukulan tanpa memakai sungkan-sungkan lagi. Maka lenyaplah bayangan kedua orang  ini, berkelebatan seperti petir menyambar.

Berkali-kali mereka beradu tangan dan selalu Yuchi Saksena terdesak mundur. Jelas bahwa ia kalah kuat dalam hal tenaga dalam, akan tetapi karena Yuchi Saksena memang memiliki ilmu silat yang tinggi maka pertahanannya rapat sekali. Setelah mengalami benturan tangan belasan kali yang membuat kedua lengannya terasa sangat sakit, Yuchi Saksena segera mengerahkan jurus ke sembilanpuluh sembilan "Menembus Langit Membelah Rembulan". Kedua tangannya menjadi lunak seperti kapas dan tenaga Kusno seperti amblas kalau bertemu dengan tangannya, sehingga ia tidak mengalami rasa nyeri lagi, malah dengan jurus ini, Yuchi Saksena dapat membalas serangan dengan mendadak dan cepat, membuat Kusno itu berkali-kali mengeluarkan seruan tertahan.

Yuchi Saksena berteriak nyaring lalu mencelat ke belakang.

"Cukup aku bermain-main denganmu siluman terkutuk..sekarang keluarkan jurus terhebatmu.." dengusnya sambil tersenyum sinis.

Kusno muntab terpancing emosinya oleh Yuchi Saksena. Jika dipertarungan sebelumnya Yuchi Saksena yang terus menyerang tapi saat ini Kusno lebih agresif. Sepertinya Kusno saat yakin bahwa ajian "Batara Karang" miliknya tidak akan terkalahkan.

Kusno kembali menerjang dengan kesepuluh jari mengembang menyasar leher dan dada. Yuchi Saksena memasang kuda-kuda, kakinya terbuka selebar bahu tubuhnya sedikit merunduk dan kedua tangannya mengembang bagaikan sayap garuda. Serangan Kusno semakin mendekat tidak ada tanda-tanda Yuchi Saksena akan menghindar.

"Hiyyyyaaaaaa......" Kusno menggeram menggidikkan.

Zhian Liu dan Kidang tersenyum senang.

"Matilah kau bocah ingusan...." dengus Kidang.

Sejengkal lagi kedua tangan Kusno akan mematahkan leher dan merobek dada Yuchi Saksena. Tiba-tiba serangan Kusno tertahan, dicobanya mendorong lebih keras dengan melipatgandakan tenaga dalamnya namun tetap tidak bisa tembus. Pertemuan tenaga dalam itu sangat luar biasa.

Kaki Yuchi Saksena terlihat melesak setinggi mata kaki sementara asap tipis mulai mengepul dari tubuh Kusno.

"Keparat....ilmu apa yang digunakan oleh bocah ini.." batin Kusno sambil terus mengerahkan tenaga dalamnya tanpa menyadari bahwa seluruh tenaga dalamnya disedot oleh Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena tersenyum tipis.

"Hiiiiiyyyyyaaaaa......"

Yuchi Saksena berteriak nyaring sambil mendorongkan kedua tangannya.

"Buuuummmm.....Arggghhhh...."

Terdengar bunyi dentuman yang sangat keras dan Kusno terlempar beberapa deupa, Yuchi Saksena terjajar beberapa langkah ke belakang. Debu-debu berhamburan dan daun-daun kering berterbangan menyisakan tanah berlubang sedalam tiga jengkal di bekas pertemuan tenaga dalam tingkat tinggi tersebut.

Yuchi Saksena cepat-cepat bersila mengatur pernafasan dan jalan darahnya yang kacau. Zhian Liu dan Kidang memburu Kusno yang tergeletak di atas tanah tidak bergerak. Dari tubuhnya mengeluarkan asap yang berbau sangat busuk, matanya yang merah melotot. Namun tidak sedikitpun terlihat luka ditubuhnya...benar-benar luar biasa. Ajian "Batara Karang" telah membuat seluruh tubuh Kusno kebal...sayangnya hantaman tenaga dalam miliknya yang berbalik telah menghancurkan seluruh organ dalam tubuhnya.

"Kusno...Kusno..." seru Kidang namun tidak berani menyentuh Kusno yang berbau busuk.

"Celaka...dia mati..." gumam Zhian Liu.

Kidang dan Zhian Liu saling pandang.

"Lebih baik kita kabur...." bisik Kidang.

******

Sepeninggal Apatih Bimaraksa, Prabu Purbasora termenung di atas singgasananya yang megah bertahtakan sepasang gading gajah dan beralaskan kulit harimau. Entah kenapa hatinya merasa kurang enak mendengar kabar tentang munculnya Pwah Kenanga, bekas kekasih Bimaraksa, yang berniat memberontak, dirinya merasa sedikit khawatir. Bukan khawatir karena rencana pemberontakannya tetapi lebih kepada putrinya yaitu Dewi Komalasari yang sudah dinikahkannya dengan Apatih Bimaraksa. Jadi Apatih Bimaraksa selain adik sepupunya, juga adalah menantunya sendiri. Dia khawatir Apatih Bimaraksa akan berpaling kembali kepada Pwah Kenanga dan menyia-nyiakan putrinya.

"Hmm...kenapa perempuan itu muncul lagi?...apakah dia masih sakit hati dengan pernikahan Bimaraksa dengan putriku, Dewi Komalasari?" gumam Prabu Purbasora sambil mengusap-usap janggutnya yang panjang dan putih.

"Semoga saja benar dugaanku bahwa Pwah Kenanga melarikan diri dengan Wirajati karena saling jatuh cinta. Hal itu akan lebih baik bagi Dewi Komalasari dan Bimaraksa. Tidak ada jalan lain selain harus melenyapkan mereka berdua" batinnya.

Diliriknya seorang prajurit yang berdiri gagah di samping kanannya.

Prabu Purbasora bangkit dari singgasannya dan melangkah menuju kaputren tempat tinggal putrinya, Dewi Komalasari dan juga cucu laki-lakinya, Premana Dikusuma.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #6