DEWI SEKARASIH, PENDEKAR PEDANG WANITA


"Arya Jumadi...kau akan membayar nyawa kedua orangtuaku dengan nyawamu dan keluargamu" desis Yuchi Saksena.

Tangan kanannya menggenggam erat gagang pedangnya.

"Tidak...jangan sekarang...bajingan Arya Jumadi harus melihat sendiri kematian keluarganya. Aku harus bersabar...." batin Yuchi Saksena kalut, apakah harus bertindak sekarang atau menunggu waktu yang lebih tepat. Yuchi Saksena lalu menarik nafas panjang mencoba untuk mengendalikan amarahnya.

Yuchi Saksena membaringkan kembali tubuhnya di atas dipan mencoba untuk memejamkan matanya. Namun gemuruh di dadanya sulit untuk diredakan sampai ayam jantan berkokok, Yuchi Saksena baru bisa tertidur.

"Anakku...aku tidak meminta banyak kepadamu...aku hanya minta kau membalaskan kematian kami ini" suara Yuchi Meiang terputus-putus sambil mendekap tangan Yuchi Saksena. Darah mengalir deras dari perut Yuchi Meiang yang robek disabet golok.

Sementara itu Jaka Saksena mati tergolek di lantai dengan golok yang masih menancap di dadanya. Yuchi Saksena duduk berlutut sambil memeluk tubuh Yuchi Meiang dengan air mata bercucuran, tidak menyangka ayah ibunya akan mengalami nasib seperti ini.

"Ibu...aku bersumpah akan membunuh semuanya...semuanya....!!!" jerit Yuchi Saksena histeris.

"Kakang...kakang...ada apa...kakang...?!!!" tiba-tiba terdengar suara Dewi Sekarasih memanggil-manggilnya.

Yuchi Saksena terperanjat terbangun dari tidurnya.

"Ah...rupanya aku bermimpi..." batin Yuchi Saksena sambil mengusap wajahnya, kepalanya terasa sakit berdenyut.

"Cah bagus...Cah bagus....ada apa....?" terdengar suara Wiji.

"Ah...rupanya aku berteriak dalam mimpiku..." gumam Yuchi Saksena sambil bangkit dari tempat tidurnya lalu membuka pintu kamarnya.

Di luar kamar terlihat Dewi Sekarasih dan Wiji memandangnya dengan wajah yang sangat khawatir.

"Tidak apa-apa...aku hanya bermimpi..." ujar Yuchi Saksena menenangkan Dewi Sekarasih dan Wiji.

"Oalah...syukurlah kalau begitu, sekarang lebih baik kita sarapan dulu..." ujar Wiji sambil tersenyum mengajak Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih untuk sarapan.

"Baik bapa'e...nanti kami menyusul..." jawab Dewi Sekarasih sambil mendorong Yuchi Saksena masuk kembali ke dalam kamarnya.

Dewi Sekarasih menutup pintu kamar, dipandanginya lekat-lekat wajah Yuchi Saksena. Terlihat ada raut kecemasan yang tergambar, sementara Yuchi Saksena merasa jengah dipandangi oleh Dewi Sekarasih seperti itu. Wajahnya bersemu merah.

"Kakang...kau bermimpi apa sebenarnya?" tanya Dewi Sekarasih cemas.

"Biasa saja...namanya juga mimpi...." jawab Yuchi Saksena sekenanya.

"Jangan bohong Kakang...hampir setiap malam kau berteriak-teriak dalam tidurmu. Pasti ada yang istimewa" cecar Dewi Sekarasih tidak percaya, tubuhnya semakin mendekat ke arah Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena mundur menjauhi Dewi Sekarasih tetapi kepentok dipan tempat tidur sehingga mau tidak mau jarak mereka berdua hampir menempel.

"Ah...kau tahu apa tikus kecil, kapan aku bermimpi? Memangnya kau bisa masuk ke dalam mimpiku" ujar Yuchi Saksena salah tingkah.

"Kakang...." Dewi Sekarasih memeluk pinggang Yuchi Saksena.

"Eh...eh...apa-apaan kau tikus kecil?...lepaskan..lepaskan..." Yuchi Saksena gugup sambil mencoba mendorong bahu Dewi Sekarasih agar menjauh. Namun pelukan itu semakin kuat, Dewi Sekarasih menempelkan wajahnya ke dada Yuchi Saksena.

"Kakang...hampir satu purnama kita bersama...namun kau masih tidak mempercayaiku. Apa yang harus aku lakukan Kakang...apa?" desis Dewi Sekarasih suaranya bergetar sementara butir-butir airmata mulai menitik di pipinya yang mulus.

"Kau...ini tikus kecil...kenapa malah menangis...aduh..kau ini..." Yuchi Saksena panik.

"Kakang...aku tahu ada sesuatu yang kau rahasiakan...hampir tiap malam kau bermimpi dan terbangun di tengah malam...tidak mau kah kau berbagi cerita denganku? Siapa tahu aku bisa membantumu...aku mengkhawatirkanmu Kakang" suara Dewi Sekarasih terputus-putus sementara airmatanya semakin deras membasahi dada Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena menggelengkan kepalanya, entah kenapa hatinya berdesir hangat. Sejak lahir tidak pernah ada satupun perempuan yang mengkhawatirkan keadaannya kecuali Yuchi Meiang, ibunya. Dan sekarang seorang perempuan cantik sampai menangis dan memeluknya karena khawatir dengan keadaannya.  Pelan-pelan kedua tangannya mengusap-usap punggung Dewi Sekarasih.

"Tikus kecil...sudahlah...jangan menangis lagi, sekarang kita keluar untuk sarapan...tidak enak dengan tuan rumah" ujar Yuchi Saksena lembut sambil diciumnya kepala Dewi Sekarasih.

Dewi Sekarasih tidak bergeming, malah makin mempererat pelukannya namun tangisannya sudah mereda.

"Kau harus berjanji dulu Kakang..." ujarnya sambil menyelusupkan kepalanya ke dada Yuchi Saksena. Senyum bahagia tersungging dibibirnya ketika merasakan kepalanya dicium oleh Rahiang Sanjaya.

"Aku harus berjanji apa tikus kecil?" tanya Yuchi Saksena tanpa sadar tangan kanannya membelai kepala dan rambut Dewi Sekarasih.

"Kakang harus berjanji akan bercerita tentang apa saja kepadaku...tidak boleh ada rahasia diantara kita..." ujar Dewi Sekarasih manja, hatinya berbunga-bunga tidak karuan saking bahagianya mendapat belaian dari Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena menarik nafas panjang.

"Baiklah...kalau sudah waktunya aku akan bercerita semuanya....sekarang kau lepaskan dulu pelukanmu...malu dengan tuan rumah, disangkanya kita berbuat macam-macam" ujar Yuchi Saksena

"Tidak...tidak mau...aku maunya sekarang kau bercerita..." Dewi Sekarasih merajuk sambil tersenyum kecil.

"Tidak bisa sekarang...nanti diperjalanan aku akan bercerita...sekarang lepaskan pelukanmu" Yuchi Saksena menyerah.

Dewi Sekarasih senyumnya semakin lebar sambi melepaskan tangannya dari pinggang Yuchi Saksena.

"Kakang..." desahnya manja.

"Ya tikus kecil..." ujar Yuchi Saksena.

"Aku sudah melepaskan pelukanku...kau yang tidak mau melepaskan pelukanmu" ujar Dewi Sekarasih.

"Ah...ah..ya...maaf...maaf..." Yuchi Saksena tergagap sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Dewi Sekarasih, wajahnya merah padam karena malu.

Dewi Sekarasih menggenggam tangan kanan Yuchi Saksena yang masih salah tingkah.

"Kau boleh memelukku sepuasmu Kakang...tapi nanti ya, malu sama tuan rumah" goda Dewi Sekarasih sambil berbalik ke pintu kamar dan membukanya lalu keluar sambil tetap menggenggam tangan Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena tidak menjawab, wajahnya merah bagaikan kepiting rebus lalu diikutinya langkah Dewi Sekarasih yang berjalan menuju ruang tengah rumah Wiji untuk sarapan.


#

Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan uang sekedarnya, Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih melanjutkan perjalanan. Wajah Dewi Sekarasih yang tertimpa hangatnya mentari pagi terlihat berseri-seri diliputi kebahagiaan membayangkan betapa hangatnya berada di pelukan Yuchi Saksena. Kecantikannya sebagai seorang putri keraton benar-benar terpancar walaupun hanya menggunakan pakaian singset seperti seorang pendekar.

"Kakang...kapan kau akan bercerita tentang mimpimu kepadaku?" rengek Dewi Sekarasih menagih janji sambil menjajarkan kudanya dengan kuda yang ditunggangi oleh Yuchi Saksena.

"Hmmm...." gumam Yuchi Saksena lalu memacu kudanya meninggalkan Dewi Sekarasih.

Dewi Sekarasih melengak kesal tapi juga tersenyum kecil.

"Kakang...aku tidak akan melepaskanmu lagi..." gumamnya dan memacu kudanya mengejar Yuchi Saksena.

Kuda mereka saling berkeajaran menyusuri jalan setapak membelah lebatnya hutan Gunung Wangi menuju ke Palabuhan Pamalang. Menjelang tengah hari, langit mendadak mendung bahkan titik-titik hujan mulai berjatuhan. Yuchi Saksena menghentikan laju kudanya diikuti oleh Dewi Sekarasih.

"Tikus kecil...sepertinya akan hujan, lebih baik kita mencari tempat berteduh" ujar Yuchi Saksena sambil mengedarkan pandangan ke sekitar mereka.

Dewi Sekarasih hanya menjawab dengan senyuman manis yang bisa memabukkan laki-laki manapun yang melihatnya. Yuchi Saksena membuang mukanya gugup mendapat senyuman seperti itu. Yuchi Saksena bukanlah pertama kali bergaul dengan perempuan bahkan selama perjalanannya dari Bukit Panyandaan, entah berapa perempuan yang sudah jatuh ke dalam pelukannya. Tapi entah kenapa d hadapan Dewi Sekarasih dirinya mati kutu. Mungkin karena Dewi Sekarasih lah satu-satunya perempuan yang benar-benar memperhatikan bahkan mengkhawatirkannya...seperti seorang ibu kepada anaknya. Bahkan Yuchi Saksena sepanjang perjalanan dari rumah Wiji sering mencuri-curi pandang karena baru disadarinya bahwa Dewi Sekarasih sangat mirip dengan Yuchi Meiang, ibunya sendiri. Wajahnya yang cantik, kulitnya yang putih dan hidungnya yag bangir benar-benar mengingatkannya kepada sang ibu. Bahkan sifat Dewi Sekarasih yang jenaka terkadang konyol benar-benar mirip.

"Ah...kenapa dia mirip sekali dengan mendiang ibu...kenapa aku baru menyadarinya sekarang" rutuknya sambil melompat turun dari punggung kudanya.

Yuchi Saksena menuntun kudanya masuk ke dalam hutan mencari tempat berteduh. Sementara itu Dewi Sekarasih mengarahkan kudanya mengikutinya. Senyuman tidak lepas dari bibirnya merah merekah.

"Kau turunlah dari kuda...jalannya pekat dan banyak ranting pohon. Kau bisa tersangkut dan terluka..." Yuchi Saksena mengingatkan sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Dewi Sekarasih.

"Bantu aku turun..." rajuknya manja.

"Kau ini...jangan main-main, sebentar lagi turun hujan. Kita harus segera mencari tempat berteduh" ujar Yuchi Saksena agak kesal.

"Ya sudah kalau tidak mau bantu...aku tidak akan turun dari kuda" Dewi Sekarasih membuang muka.

Yuchi Saksena tidak menggubrisnya lalu meneruskan langkahnya ke dalam hutan. Dewi Sekarasih bergeming dengan susah payah mengarahkan kudanya melewati lebatnya hutan, sesekali dirinya harus menunduk sejajar punggung kuda karena ada dahan pohon yang melintang. Hanya beberapa saat dirinya sudah tertinggal oleh Yuchi Saksena tetapi dirinya tidak peduli.

"Dia pura-pura tidak peduli...tapi hatinya pasti sangat khawatir...tunggu saja pasti dia akan kembali" gumam Dewi Sekarasih sambil membuka caping bambu di kepalanya. Dengan tersenyum-senyum kecil diusapnya bagian atas kepalanya sambil membayangkan ciuman Yuchi Saksena tadi pagi.

Yuchi Saksena berjalan sambil sesekali menoleh ke belakang, dilihatnya Dewi Sekarasih susah payah melewati rintangan tanpa mau turun dari kudanya.

"Perempuan keras kepala..." dengusnya lalu mengikatkan kudanya ke salah satu pohon sementara dirinya berjalan kembali menghampiri Dewi Sekarasih.

Melihat kedatangan Yuchi Saksena, senyum Dewi Sekarasih makin lebar namun pura-pura tidak melihatnya. Setibanya di samping Dewi Sekarasih, Yuchi Saksena menyodorkan tangan kanannya tanpa berkata-kata.

"Terima kasih kakang..." ujar Dewi Sekarasih sambil menyambut uluran tangan Yuchi Saksena. Digenggamnya tangan Yuchi Saksena dengan tangan kirinya lalu melompat turun ke arah Yuchi Saksena.

"Aduh...aduh..." Dewi Sekarasih terpeleset lalu tangan kanannya dengan refleks merangkul pundak Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena terjajar ke belakang tertimpa tubuh Dewi Sekarasih sehingga mereka seperti sedang berpelukan. Dewi Sekarasih menengadahkan wajahnya yang persis berada di dada Yuchi Saksena, jantung keduanya mendadak berdegup kencang.

"Kakang...." desah Dewi Sekarasih menatap mata Yuchi Saksena, sesaat keduanya berpandangan dalam posisi berpelukan.

"Kau..." sergah Yuchi Saksena sambil memalingkan wajahnya lalu mendorong tubuh Dewi Sekarasih agar menjauh.

Sementara hujan mulai besar, beruntung hutan itu cukup lebat sehingga bisa sedikit terlindungi.

"Ayo cepat...di depan aku melihat ada tanah sedong (menjorok ke dalam)" ujar Yuchi Saksena sambil  menyambar tali kekang kuda milik Dewi Sekarasih dan menuntunnya.

"Baik Kakang..." ujar Dewi Sekarasih pelan tapi jelas wajahnya sangat merah, entah malu atau terlalu senang. Keduanya berjalan  dengan cepat beriringan.

Benar saja tak lama kemudian di depan mereka sekitar tigaratus depa, disebuah tebing terdapat sebuah sedongan tanah yang cukup dalam. Keduanya berlarian masuk ke dalamnya, suasananya lembab dan semakin dalam semakin gelap. Yuchi Saksena menurunkan buntela dari atas punggung kuda mereka lalu membawanya ke arah Dewi Sekarasih.

"Kakang...ternyata ini guha...kita masuk saja..." teriak Dewi Sekarasih kegirangan sambil menunjuk sebuah lubang guha setinggi tubuh orang dewasa dan lebarnya tidak sampai satu depa.

"Tunggu...jangan konyol" seru Yuchi Saksena menahan Dewi Sekarasih.

"Di sini terlalu dingin Kakang...belum lagi tempiasnya" sergah Dewi Sekarasih sambil merengut.

Yuchi Saksena meletakkan dua buah buntelan milik mereka di atas tanah dan menghunus pedangnya lalu pelan-pelan berjalan ke dalam guha tersebut.

"Kau tunggu di sini...aku khawatir ada binatang buas atau ular" perintah Yuchi Saksena.

Dewi Sekarasih hanya mengangguk sambil memandang punggung Yuchi Saksena yang memasuki guha. Tak lama Yuchi Saksena sudah tidak terlihat ditelan kegelapan guha.

"Hiya...hiya...Sekarasih...awas hati-hati..." mendengar teriakan Yuchi Saksena, Dewi Sekarasih secepat kilat menghunus pedangnya sambil memasang kuda-kuda. Matanya nyalang memandang denga tajam ke arah dalam guha.

"Ada apa Kakang?"  seru Dewi Sekarasih penuh kekhawatiran.

"Hati-hati...ada maung (harimau) berlari ke arahmu" terdengar suara Yuchi Saksena memperingatkan.

Benar saja tak lama kemudian seekor harimau jantan besar berlari dari dalam guha. Dewi Sekarasih tercekat, seumur hidup inilah pertama kalinya berhadapan dengan seekor kucing besar. Lututnya mendadak lemas sementara tangan kanannya yang menggenggam gagang pedang gemetar. Melihat ada manusia menghadangnya, harimau tersebut menghentikan langkahnya sambil mengaum.

"Huarrrgghhhh....." tubuh harimau tersebut menarik tubuhnya ke belakang seolah-olah bersiap menerkam, matanya yang hijau menyorot tajam memandang ke arah Dewi Sekarasih.

"Ka...kang...ka...kang...." Dewi Sekarasih ketakutan bukan main, suaranya bergetar memanggil Yuchi Saksena. Mentalnya ambruk...

"Diam...jangan bergerak" terdengar suara Yuchi Saksena.

"Huaarrrrgghhhh....." terlambat, harimau itu menerkam dengan buas ke arah Dewi Sekarasih.

"Kakang...tooollllooonggg...." jerit Dewi Sekarasih putus asa dan hanya bisa menutup wajahnya lalu ambruk terduduk lemas dan pedangnya terlepas.

Namun sesaat lagi harimau itu akan menerkam Dewi Sekarasih...tiba-tiba sebuah bayangan merah berkelebat menyambar dari arah belakang dan menghantam.

"Huargggggh......" terdengar suara raungan kesakitan harimau tersebut seolah menggetarkan seisi hutan.

"Bluuuuggggg....." terdengar suara berdebam keras sekali, ternyata harimau tersebut terlempar hampir dua depa ke samping. Sementara bayangan merah tersebut melenting indah dan bersalto lalu mendarat di samping Dewi Sekarasih.

Harimau tersebut kembali bangkit lalu memandang ke arah bayangan merah yang sudah menendangnya hingga terlempar.

"Hush...hush...pergilah kau...aku tidak mau mencelakaimu" usir bayangan merah tersebut yang tidak lain adalah Yuchi Saksena.

"Huarggggh...." seolah mengerti harimau itu mengaum sekali lagi lalu berbalik dan masuk kedalam hutan.

"Bangunlah...kau sudah aman sekarang" ujarnya sambil menyentuh bahu Dewi Sekarasih yang bersimpuh sambil menutup wajahnya.

Perlahan-lahan Dewi Sekarasih menurunkan tangannya dan membuka mata, mukanya basah oleh air mata. Matanya nanar melihat sekitar lalu mengangkat wajahnya melihat ke Yuchi Saksena yang berdiri gagah dihadapannya.

"Ka...kang..." desisnya lemah, jiwanya masih terguncang.

Yuchi Saksena dengan lembut menarik kedua tangan Dewi Sekarasih membantunya berdiri. Namun kembali ambruk namun untung masih bisa ditahan oleh Yuchi Saksena. Dewi Sekarasih masih belum bisa kembali sadar sepenuhnya, ini adalah pengalaman paling mengerikan yang pernah dialaminya.

"Dasar tikus kecil...selalu saja menyusahkan..." sungut Yuchi Saksena sambil membopong tubuh Dewi Sekarasih ke dalam guha. Sementara hujan semakin deras.

Yuchi Saksena merebahkannya tubuh Dewi Sekarasih di mulut guha...dibantunya agar bisa bersandar kemudian dirinya berlari mengambil buntelan milik mereka, sementara kuda-kuda mereka lenyap entah kemana. Mungkin lari ketakutan begitu mendengar suara auman harimau tadi.

Diletakkannya kedua buntelan tersebut di samping Dewi Sekarasih yang masih terduduk terbengong-bengong, mukanya pucat. Lalu dengan sebat mencabut pedangnya dan memotong pohon-pohon kecil sebesar pergelangan tangan. Dengan cepat dipasangnya pohon-pohon tersebut di muka guha menyerupai sebuah jeruji.

"Sekarang tidak akan ada lagi maung yang bisa masuk" gumamnya.

Yuchi Saksena menghampiri Dewi Sekarasih yang masih sawan di dinding guha lalu berjongkok dihadapannya.

"Hei...tikus kecil...kau sudah sadar?...lihat aku..." ujar Yuchi Saksena sambil menepuk pelan pipi Dewi Sekarasih.

"Hah...?...hah?" Dewi Sekarasih hanya menjawab tidak jelas, matanya kosong.

"Heuhhh...ada-ada saja" gerutu Yuchi Saksena lalu dengan entengnya dibopongnya lagi tubuh Dewi Sekarasih dan dibawanya masuk ke dalam guha.

Semakin dalam, udara di dalam guha semakin segar bahkan samar-samar terlihat cahaya temaram. Stalagtit bergantungan dari atap guha, sesekali tetes air jatuh. Dewi Sekarasih melingkarkan tangannya ke leher dan kepalanya disusupkan ke dada Yuchi Saksena. Persis seperti seorang gadis kecil yang sedang meminta perlindungan ayahnya. 

Tak berapa lama Yuchi Saksena menghentikan langkahnya di bagian guha yang cukup lebar. Di samping kanan terlihat sebuah telaga kecil berwarna hijau dengan tetesan air dari stalaktit di atasnya, sangat indah. Yuchi Saksena berjongkok di tepi telaga tersebut hendak menurunkan tubuh Dewi Sekarasih. Namun lingkar tangan Dewi Sekarasih dilehernya semakin kuat seolah tidak mau dilepaskan.

"Tikus kecil...kau turunlah dulu...aku hendak menyalakan api supaya lebih hangat" ujarnya lembut sambil mencoba melepaskan tangan Dewi Sekarasih dari lehernya.

"Aku takut Kakang...jangan tinggalkan aku" rengek Dewi Sekarasih.

"Jangan takut...sekarang kau sudah aman" bisik Yuchi Saksena lembut.

Dewi Sekarasih melepaskan tangannya dari leher Yuchi Saksena.

"Jangan tinggalkan aku Kakang..." ujarnya pelan.

Yuchi Saksena mengangguk lalu berjalan memasuki guha semakin dalam. Tak lama kemudian kembali dengan membawa beberapa kayu bakar kering. Lalu dengan menggunakan batu paneker yang dikeluarakan dari buntelannya, Yuchi Saksena membuat perapian. Seketika suasana di dalam guha menjadi lebih terang dan berangsur hangat.

Yuchi Saksena menghampiri kembali ke arah Dewi Sekarasih namun langkahnya terhenti, hidungnya bergerak-gerak seperti mengendus sesuatu. Didekatkan lengan kiri ke hidungnya lalu lengan tangannya.

"Hoek..hoek..." Yuchi Saksena seperti mau muntah, matanya merah berair.

"Kau...kau...kurang ajar tikus kecil...." rutuknya lalu mendekati Dewi Sekarasih yang rupanya sudah bisa menguasai dirinya dan sudah bisa duduk di lantai guha.

"Ada apa Kakang...?" tanya Dewi Sekarasih keheranan melihat Yuchi Saksena yang seperti mau muntah.

"Sekarang kau berdiri tikus kecil...dasar bocah tidak tahu adat" sergah Yuchi Saksena sambil menunjuk ke arah Dewi Sekarasih.

"Kau..mengompoliku...lihat baju dan celanaku basah dan bau pesing" sambungnya kesal.

Mendengar ucapan Yuchi Saksena, Dewi Sekarasih terkikik geli.

"Hi...hi...maafkan aku Kakang...aku tidak sengaja...hi....hi...semua gara-gara maung itu" ujarnya sambil memegang perutnya menahan ketawa.

Yuchi Saksena menggaruk kepala saking kesalnya tapi tidak tahu harus bagaimana.

"Sudahlah...kau bersihkan diri di telaga itu...aku akan keluar mencari hewan liar untuk makan siang kita" ujarnya sambil berlalu meninggalkan Dewi Sekarasih menuju ke mulut guha.

Dewi Sekarasih masih terkikik mencoba menghentikan tawanya.
#

Sementara itu di luar guha, hujan lebat sesekali bahkan sesekali petir menyambar. Yuchi Saksena berdiri tegak di depan lubang guha.

"Sialan tikus kecil...ngompolnya bau sekali...entah makan apa dia" rutuknya sambil sesekali melihat ke arah langit yang masih mendung. Matanya liar menembus lebatnya hutan mencari buah-buahan yang bisa dimakan. Matanya tertumbuk kepada sebuah rumpun pohon.

"Hujan seperti ini tidak mudah mencari hewan liar untuk makanan...Ah...sepertinya ada pohon salak di depan sana" batin Yuchi Saksena.

Dengan sebat tubuhnya melayang mendekati rumpun yang dikiranya adalah rumpun pohon salak. Yuchi Saksena tidak mempedulikan lebatnya hujan yang mengguyur tubuhnya.

"Betul dugaanku...pohon salak...." gumamnya begitu melihat bahwa rumpun pohon yang didatanginya adalah benar seperti dugaannya. 

Dipotongnya dua tandan buah salak yang sudah kelihatan matang dengan menggunakan pisau kecil yang selalu berada di pinggangnya. Dengan cepat Yuchi Saksena kembali ke dalam guha.

Dewi Sekarasih terlihat sedang menyisir rambutnya yang basah, sepertinya baru selesai mandi di telaga kecil yang berada di guha tersebut. Pakaiannya sudah berganti dengan yang kering dan bersih. Temaram cahaya dari sela-sela batu di atas guha dan juga cahaya dari perapian menciptakan siluet tubuh yang indah sekali.

Yuchi Saksena yang datang sambil menenteng dua tandan buah salak sesaat terpana melihat keindahan bentuk tubuh Dewi Sekarasih.

"Kakang...kau sudah kembali?" tanya Dewi Sekarasih bertanya tanpa membalikkan wajahnya.

Sesaat Yuchi Saksena tidak menjawab, pikirannya masih terhipnotis oleh kemolekan tubuh Dewi Sekarasih.

"Kakang...kakang...?" Dewi Sekarasih yang tidak mendapat jawaban dari Yuchi Saksena memalingkan wajahnya.

Dilihatnya Yuchi Saksena yang mematung membuat Dewi Sekarasih geli, lalu bangkit dari duduknya.

"I..iya...." Yuchi Saksena tergagap malu karena tertangkap basah sedang memandangi tubuh Dewi Sekarasih.

"Kau bawa apa Kakang?" tanya Dewi Sekarasih lembut sambil tidak lepas dari senyuman di bibirnya.

"Aiiihhh...buah salak...aku sekali..." sambungnya girang sambil bermaksud merebut satu tandan buah salak dari tangan Yuchi Saksena. Namun langkahnya terhenti lalu mundur menjauhi Yuchi Saksena sambil menutup hidungnya dengan tangan kanan.

"Ada apa...?" tanya Yuchi Saksena heran melihat kelakuan Dewi Sekarasih.

"Kakang...kau bau sekali...kau ngompol rupanya..hi...hi..hi...?" ujar Dewi Sekarasih sambil tertawa terkikik.

"Kau......" Yuchi Saksena kesal sambil mengangkat tandan buah salak seolah-olah mau dilemparkan ke arah Dewi Sekarasih.

"Semua ini gara-gara kau tikus kecil...melihat maung saja sudah ngompol...dasar penakut" sambungnya menggerutu sambil meletakkan dua tandan buah salak yang baru dipetiknya.

"Kau cepat mandi...nanti aku muntah...hi...hi..." Dewi Sekarasih masih terkikik sambil berbalik menuju ke perapian memunggungi Yuchi Saksena.

"Kau jangan mengintip tikus kecil...." ujar Yuchi Saksena sambil mengeluarkan buntalan miliknya dan mengeluarkan sepasang pakaian berwarna merah yang masih kering dan bersih.

"Buat apa aku mengintip...toh nanti Kakang akan menjadi milikku dan aku bisa melihat semuanya...hi...hi..." jawab Dewi Sekarasih menggoda Yuchi Saksena yang belingsatan sendiri tidak menyangka akan dijawab seperti itu.

"Anak edan...siapa juga yang sudi menjadi milikmu" gerutu Yuchi Saksena lalu masuk ke dalam telaga dan membuka baju dan celananya yang bau pesing.

Selesai mandi dan mencuci pakaian kotornya, Yuchi Saksena berganti dengan pakaian yang kering dan bersih. Rambut panjangnya yang basah dibiarkan terurai. Dihampirinya Dewi Sekarasih yang berada di depan perapian sambil menghangatkan bekal yang diperolehnya dari istrinya Wiji.

"Rupanya ada makanan...kenapa menyuruhku mencari makanan di luar?" tanya Yuchi Saksena kesal lalu duduk di atas sebuah batu di seberang Dewi Sekarasih.

"Yeee...siapa yang menyuruhmu mencari makanan? Lagipula kalau Kakang tidak pergi ke luar guha..pasti akan mengintipiku mandi...hi...hi..." gurau Dewi Sekarasih sambil menjulurkan lidahnya ke arah Yuchi Saksena.

"Tikus kecil...hentikan gurauanmu, aku hendak bicara hal yang sangat penting" ujar Yuchi Saksena sambil memasukkan kayu bakar ke dalam perapian.

"Sebentar Kakang...aku hendak bertanya dulu kepadamu..." sela Dewi Sekarasih.

"Kau mendapat kayu bakar ini darimana?" sambungnya heran karena Yuchi Saksena bisa mendapatan kayu bakar yang sudah dipotong rapi dan kering di tengah hutan seperti ini.

"Hmmm...akan aku katakan tapi kau harus berjanji..." jawab Yuchi Saksena pelan sambil melirik ke kiri dan ke kanan seolah-olah takut ada orang yang mendengarnya.

"Janji apa Kakang...cepat katakan!" Dewi Sekarasih penasaran.

"Kau harus berjanji...tidak akan ngompol ketakutan lagi...ha...ha...ha..." Yuchi Saksena tergelak.

"Tidak lucu...cepat katakan!" Dewi Sekarasih memuncungkun mulutnya sambil melemparkan sebuah batu kecil yang diambilnya dari lantai guha ke arah Yuchi Saksena.

"Ha...ha...ha...baiklah...baiklah...di ujung guha ini ada bekas tempat tinggal orang...selain kayu bakar ada tungku dan juga dipan kayu...." jawab Yuchi Saksena sambil tertawa geli.

"Kalau begitu...kita pindah saja ke sana..." sambar Dewi Sekarasih.

Yuchi Saksena kembali celingak- celinguk seolah takut ada yang mendengar.

"Tapi.....di sana ada tengkorak dan kerangka manusia, sepertinya pemilik guha ini mati di sana" ujarnya sambil menunjuk ke ujung guha yang terlihat temaram.

"Hi...hi...hi...rupanya kau yang penakut...tengkorak manusia mana bisa membunuhku. Aku cuman takut maung saja...karena maung bisa memakanku" jawab Dewi Sekarasih mengikik.

"Huuh...tapi tetap saja kita harus menghormati orang yang sudah mati..." dengus Yuchi Saksena.

"Sudahlah besok kita bereskan tempat itu...sekarang aku mau bicara hal penting kepadamu" sambungnya.

"Besok?...maksud Kakang, kita tinggal lama di guha ini?" tanya Dewi Sekarasih penasaran.

Yuchi Saksena menarik nafas panjang.

"Dengar tikus kecil...perjalananku sudah hampir tiba di tujuan, akan banyak bahaya yang mengancam jiwa kita berdua..." ujarnya.

"Aku tidak takut Kakang...asalkan bersamamu aku rela menghadapi apapun...mati pun aku tidak takut" Dewi Sekarasih dengan gagah sambil mengangkat dagunya.

"Konyol...aku tidak bisa setiap waktu melindungimu...oleh karena itu kupikir...." ucapan Yuchi Saksena dipotong oleh Dewi Sekarasih.

"Kakang berfikir untuk meninggalkanku di sini kan? Aku tidak sudi...aku akan bunuh diri jika ditinggalkan di tempat seperti ini" serunya suaranya terdengar bergetar, air mata kelihatan mengembang disudut matanya.

"Kau tidak perlu bunuh diri...nanti akan datang maung yang akan membuatmu ngompol sampai mati...ha...ha..." Yuchi Saksena tergelak.

"Kakang tidak lucu...aku tidak mau lagi mendengar omonganmu...aku akan tetap mengikutimu" sergah Dewi Sekarasih sambil mengusap air matanya.

Tanpa mereka sadari, keduanya sudah jauh lebih akrab dari sebelumnya bahkan sudah seperti sepasang kekasih yang saling ledek.

"Dengar tikus kecil...aku tidak akan meninggalkanmu tapi kau harus belajar beberapa jurus pedang dan meningkatkan tenaga dalam milikmu. Aku tidak mau selalu menyelamatkanmu" ujar Yuchi Saksena lebih serius.

"Benarkah Kakang? Kau akan mengajariku jurus-jurus pedang dan tenaga dalam milikmu?" wajah Dewi Sekarasih berbinar bahagia.

"Aku terpaksa mengajarimu supaya tidak merepotkan...tapi ingat...waktumu hanya satu purnama" dengus Yuchi Saksena

"Kakang.....terima kasih" pekik Dewi Sekarasih sambil menghambur dari tempat duduknya dan memeluk Yuchi Saksena