GUNUNG WANGI


Kapal melaju meninggalkan Palabuhan Cimanuk, angin bertiup cukup kencang searah kapal membuat lajunya semakin cepat. Juragan Arya Suta sedang terlihat berdiri di pinggir dek kapal lantai 3, pandangannya menerawang jauh. Beberapa malam sebelumnya, Juragan Arya Suta bermimpi rumah kediaman orangtuanya terbakar. Bahkan dalam mimpinya, ayah dan ibunyapun tewas terpanggang api.

"Ada apa sebenarnya? Tidak biasanya aku bermimpi seperti ini...semoga ayah ibu selalu dalam keadaan sehat" keluhnya sambil mengusap wajahnya yang kelihatan letih dan kurang tidur.

Sementara itu Margo terlihat berjalan menaiki tangga menuju ke lantai 3 sambil membawa nampan besar makanan. Begitu tiba di lantai 3, dilihatnya majikannya sedang termenung di pinggir dek. Pelan-pelan dihampirinya.

"Ampun Juragan...ada apa gerangan, sepertinya hatimu sedang gelisah?" tanya Margo hati-hati.

Juragan Arya Suta menarik nafas panjang lalu.

"Margo...setibanya di Caruban, kau lekaslah urus barang dagangan kita. Jangan membuang waktu kita segera berangkat berkuda menuju Pamalang" ujarnya pelan kepada Margo tanpa menjawab pertanyaan Margo.

Margo sebenarnya adalah saudara seperguruan silat Juragan Arya Suta sejak mereka masih anak-anak. Sehingga Margo sangat mengenal sifat dan hati majikannya.

"Baik Juragan...sekarang leih baik makan dulu lalu istirahat. Sepertinya juragan kelihatan lelah dan kurang tidur" jawab Margo.

"Huuuuhhh....." Juragan Arya Suta menghela nafas panjang lalu berjalan ke ruangannya diikuti oleh Margo. Di lantai 3 terdapat sekitar enam ruangan seperti kamar tidur yang biasanya disewa para saudagar selama kapal berlayar.

"Aku mau tidur...kau letakkan makanan itu di bangku. Kau keluarlah...." ujar Juragan Arya Suta sambil melemparkan tubuhnya di atas dipan.

Setelah meletakkan makanan di atas bangku, Margo keluar dari kamar lalu menutup pintu membiarkan majikannya beristirahat. Margo berjalan mendekati pinggir dek...sejauh mata memandang deretan bukit dan hutan yang menghijau.

"Ada apa sebenarnya dengan Juragan Arya Suta? Beberapa hari ini tingkahnya sungguh aneh...bahkan sudah dua malam sepertinya kurang tidur" batin Margo mengkhawatirkan keadaan majikannya.

Sementara itu Rahiang Sanjaya yang juga menumpang kapal yang sama dengan Juragan Arya Suta dan Margo terlihat sedang berbaring di dalam kamar tidurnya. Rupanya Juragan Godim menempatkannya di tempat yang mewah, sama dengan para saudagar. Tatapannya kosong menatap langit-langit.

"Ayahanda...perjalanan ini semakin mendekati akhir, semoga Ayahanda dan Ibunda baik-baik saja di Kalingga" batinnya teringat akan Sang Senna dan Ratu Sannaha, ibundanya.

"Perjalanan masih beberapa hari ke depan, lebih baik aku memanfaatkannya untuk bersemedi" gumamnya lalu bangkit dari tidurnya lalu beranjak ke luar kamar menuju ke lantai bawah kapal untuk memberitahu anak buah kapal agar jangan mengganggu dirinya.

Tanpa terasa hampir tujuh hari tujuh malam Rahiang Sanjaya bersemedi di dalam kamarnya, tubuhnya terlihat lebih kurus namun segar. Dari tubuhnya mengeluarkan kepulan asap tipis sementara tubuhnya yang sedang bersila di lantai perlahan-lahan terangkat. Ya...Rahiang Sanjaya sedang menyempurnakan tenaga dalam yang diterimanya dari Nyai Malati (baca : Rahiang Sanjaya #13), seorang tokoh pendekar wanita yang rela melepaskan paras dan tubuh mudanya demi membantunya. Ini adalah malam ketujuh Rahiang Sanjaya bersemedi, jika dirinya mampu menyelesaikannya maka jangankan manusia, banteng pun akan terlempar jika dihantam tenaga dalam milikinya. Menjelang tengah malam Rahiang Sanjaya mengakhiri semedinya.

"Ah...syukurlah aku bisa menyelesaikan semediku, sekarang tenaga dalamku hampr sempurna. Terima kasih Nyai Malati...aku tidak akan melupakan kebaikanmu" gumamnya pelan.

Dilangkahkan kakinya yang terasa pegal ke luar kamar bermaksud untuk turun ke lantai satu untuk mencari makanan. Di tangga Rahiang Sanjaya berpapasan dengan Juragan Arya Suta, keduanya sesaat berpandangan lalu saling menganggukan kepala.

"Sepertinya aku pernah melihat orang tersebut..." batin Rahiang Sanjaya sambil berfikir keras mengingat-ingat.

"Ah...iya, aku ingat sekarang...aku pernah melihatnya di kedai Mamang Godim" gumamnya sambil menepuk jidatnya sendiri.

Malam itu Rahiang Sanjaya menyantap makanan banyak sekali seolah menebus rasa laparnya selama tujuh hari bersemedi. Dari obrolan dengan anak buah kapal, mereka akan tiba di Palabuhan Caruban dalam dua hari ke depan. Setelah menuntaskan makan malamnya dan sedikit mengobrol dengan para anak buah kapal, Rahiang Sanjaya kembali ke kamarnya dan tidur.

#

Menjelang pagi, kapal memasuki perairan di muara Palabuhan Caruban dan tak lama kemudian merapat di dermaga. Rahiang Sanjaya bergegas membereskan buntalan pakaiannya dan bersiap-siap meninggalkan kapal. Begitu juga dengan Juragan Arya Suta yang sepertinya sudah tidak sabaran dan sudah berdiri di dek kapal lantai dua. Begitu jangkar dilempar dan tali ditambatkan, beberapa tangga disambungkan untuk membantu penumpang turun dan juga kuli-kuli kapal yang akan menurunkan muatan milik para saudagar.

"Margo.." teriak Juragan Arya Suta yang baru sampai di ujung tangga memanggil Margo yang sedang berbincang dengan dua orang laki-laki tidak jauh dari kapal.

Mendengar teriakan majikannya, Margo segera membalas sambil mengajak kedua orang tersebut menghampiri Juragan Arya Suta.

"Ya Juragan...." jawab Margo

Setibanya di hadapan Juragan Arya Suta, ketiganya membungkukkan badan dengan hormat.

"Dirga...kau urus barang dagangan kita dan langsung masukkan ke dalam gudang. Dan kau, Suha...segera kembali ke rumah dan siapkan kuda milikku untuk berangkat siang ini" perintah Juragan Arya Suta kepada kedua laki-laki tersebut yang ternyata adalah anak buahnya yang bertugas di Palabuhan Caruban. Seperti halnya di Palabuhan Cimanuk, di Palabuhan Caruban pun, Juragan Arya Suta mempunyai rumah yang sangat megah dan besar.

Mendapat perintah langsung dari Juragan Arya Suta, Dirga dan Suha menjawab hampir bersamaan.

"Baik Juragan..." lalu keduanya meninggalkan Juragan Arya Suta dan Margo untuk menjalankan perintah.

"Margo kita segera kembali ke rumah...aku mau beristirahat sejenak. Nanti saat matahari sudah dipuncaknya...kita berangkat ke Pamalang untuk menemui ayahku" ujar Juragan Arya Suta.

"Baik Juragan...." Margo menjawab pendek.

Keduanya berjalan beriringan meninggalkan palabuhan menuju ke rumah Juragan Arya Suta.

#

Rahiang Sanjaya terpesona seolah tidak percaya dengan keadaan Palabuhan Caruban yang sangat ramai. Puluhan kapal berukuran besar dan sedang banyak bersandar menunggu waktu untuk kembali berlayar. Kapal-kapal berukuran besar adalah pengangkut barang dagangan dari Palabuhan Kalapa atau Palabuhan Pamalang, ada yang baru datang ada juga yang bersiap kembali. Sedangkan kapal-kapal yang berukuran sedang adalah yang mendistribusikan barang-barang dagangan tersebut ke palabuhan yang lebih kecil di pedalaman. Ratusan orang hilir mudik dengan urusannya masing-masing. Ratusan obor berukuran besar menerangi palabuhan tersebut.

"Luar biasa...ramai sekali. Apakah ini termasuk wilayah Karatuan Sunda atau Karatuan Galuh?" batin Rahiang Sanjaya terkagum-kagum.

"Lebih baik mencari informasi mengenai kapal yang akan berangkat ke Palabuhan Kalapa" gumamnya sambil melangkahkan kaki menuju ke sebuah kedai yang masih terlihat ramai.

Kedai tersebut cukup besar, Rahiang Sanjaya mengambil tempat tidak jauh dari pintu. Seorang pelayan menghampirinya sambil membungkukkan badannya.

"Aiihhh...agan, selamat datang..." sambut pelayan tersebut dengan ramah.

"Ah..iya...Mang...terima kasih..." jawab Rahiang Sanjaya tersenyum.

"Sepertinya Agan baru datang ke palabuhan....mau pesan makanan apa?" pelayan itu ramah.

"Aku memang baru pertama kemari...aku minta air jahe dan kacang rebus" Rahiang Sanjaya menyebutkan pesanannya.

"Baik agan...tolong tunggu sebentar" pelayan itu berbalik ke dalam untuk mengambil pesanan Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya mengedarkan pandangannya ke seluruh kedai, terlihat ada sekitar lima meja yang terisi. Kebanyakan dari mereka adalah kuli palabuhan dan juga terlihat beberapa prajurit karatuan.

"Hmmm...sepertinya palabuhan ini termasuk Karatuan Indraprahasta. Aku harus berhati-hati..." batin Rahiang Sanjaya setelah melihat seragam prajurit-prajurit tersebut. Mengingat peran Karatuan Indraprahasta dalam menjatuhkan kekuasaan ayahnya, Prabu Bratasenawa,  Rahiang Sanjaya bersikap lebih berhati-hati.

Tak lama pelayan tersebut datang membawa secangkir minuman jahe hangat dan sepiring besar kacang rebus yang masih mengepul panas.

"Silakan agan...." ujarpelayan tersbut sambil meletakkan makanan dan minuman tersebut di atas meja di hadapan Rahiang Sanjaya.

"Mamang...aku hendak bertanya, kapal menuju Palabuhan Kalapa apakah ada yang berangkat malam ini?" tanya Rahiang Sanjaya.

"Aiihh...hendak ke Kalapa rupanya, ada agan...ada...nanti akan berangkat menjelang waktu balebat" jawab pelayan tersebut.

"Hmmm...kira-kira siapa yang bisa membantu supaya aku bisa ikut kapal itu?" tanya Rahiang Sanjaya lagi.

Pelayan tersebut celingak celinguk seperti takut ada yang akan mendengar lalu mendekatkan wajahnya ke arah Rahiang Sanjaya.

"Sepertinya sulit mendadak seperti ini, karena kapal sudah penuh dan siap berangakat. Lagi Juragan Syahbandar pasti sudah tidur. Kecuali......" bisiknya ragu-ragu.

"Kecuali apa...?" Rahiang Sanjaya kembali bertanya sambil berbisik.

Kembali pelayan tersebut menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka.

"Kecuali agan bersedia membayar dengan harga yang mahal sekali" jawab pelayan tersebut.

"Berapa....?" Rahiang Sanjaya penasaran.

"Satu orang membayar satu keping uang emas...kalau membawa barang dagangan ditambah tiga keping emas" pelayan tersebut sambil tersenyum.

"Hmm...baiklah, kepada siapa aku harus membayar?" Rahiang Sanjaya kembali bertanya.

"Biasanya nanti orangnya datang kemari...agan tunggu saja" jawab pelayan tersebut sambil membungkukkan badannya lalu berbalik meninggalkan Rahiang Sanjaya.

Baru saja pelayan itu melangkah meninggalkan Rahiang Sanjaya, masuklah dua orang laki-laki dan seorang perempuan ke dalam kedai. Laki-laki yang berkumis menggunakan pakaian seperti prajurit karatuan sedang laki-laki yang satunya berusia sedikit lebih tua namun penuh wibawa dan gagah. Perempuannya berpakaian cukup bagus menunjukkan bukanlah orang biasa, kalau bukan istri seorang saudagar kaya pastilah istri seorang pejabat. Sekilas Rahiang Sanjaya meliriknya lalu meneruskan kembali menikmati jagung rebus yang nikmat.

Ketiga orang tersebut lalu duduk tidak jauh dari meja Rahiang Sanjaya.

"Kalian tunggu saja di sini...barang dagangan kalian sedang dinaikkan ke atas kapal. Begitu mendengar tanda kapal akan berangkat...kalian segera naik" ujar laki-laki berpakaian prajurit karatuan.

"Bagaimana kalau kami ditanya nakhoda atau anak buah kapal?" tanya perempuan yang terlihat masih cantik walaupun sudah tidak muda lagi.

"Jangan khawatir...kalian bilang saja tamunya Juragan Suro...he..he.." ujar laki-laki berpakaian prajurit tersebut.

Ternyata ketiga orang tersebut adalah Suro, Kai Darmaseta dan Nay Ayu.

"Kalian makan minum saja dulu di sini...aku masih ada urusan" ujar Suro sambil bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan meja menuju ke arah pintu keluar.

Namun langkahnya terhenti ketika pelayan yang melayani Rahiang Sanjaya memanggilnya sambil tergopoh-gopoh mengejarnya.

"Juragan Suro...Juragan...tunggu sebentar"

Suro menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah pelayan tersebut.

"Ada apa Wéténg?" tanyanya.

"Sebentar juragan...ada yang perlu sampaikan" ujar pelayan tersebut yang ternyata bernama Wéténg sambil mengedipkan matanya.

Seolah paham dengan kedipan mata Wéténg, Suro tersenyum lalu berkata,

"Kita bicara di sana..." Suro menunjuk ke luar kedai lalu berjalan kembali diikuti oleh Wéténg.

Setelah sampai di tempat yang dirasa aman, Suro menghentikan langkanya lalu berbalik kepada Wéténg.

"Juragan...ada pemuda yang hendak menumpang kapal ke Kalapa. Apakah Juragan bisa bantu?" tanya Wéténg pelan sambil celingukan.

"Hmmm...kau sudah sampaikan syaratnya?" tanya Suro sambil tersenyum.

"Sudah Juragan...sepertinya dia bersedia" jawab Wéténg.

"Baiklah...mana orangnya? Panggil dia kemari..." ujar Suro.

"Sebentar Juragan...orangnya ada di kedai" Wéténg berbalik lalu berjalan ke arah kedai. Sementara Suro menunggu sambil mengusap-usap kumisnya yang tebal.

"Ha...ha...malam ini rupanya malam yang baik, Juragan Syahbandar tentu senang menerima setoran dariku" batin Suro.

Setibanya di dalam kedai, Wéténg menghampiri meja Rahiang Sanjaya.

"Agan...ikuti saya" bisiknya sambil mengedipkan matanya lalu kembali berjalan kembali ke luar kedai.

Rahiang Sanjaya bergegas menyambar buntelan miliknya dari atas meja lalu mengikuti Wéténg.

Setibanya di hadapan Suro, Rahiang Sanjaya membungkukkan badanya memberi hormat.

"Jangan segala peradatan...apakah kau mau membayar satu keping uang emas?" Suro langsung bertanya kepada Rahiang Sanjaya.

"Baik Juragan...saya sudah siapkan uangnya...." jawab Rahiang Sanjaya pelan sambil merogoh saku celananya dan mengeluarkan satu keping uang emas.

"Ha...ha...bagus...bagus....rupanya kau orang kaya. Darimana asalmu dan hendak ke mana?" Suro tergelak lalu bertanya menyelidik sambil menyambar kepingan uang emas yang disodorkan oleh Rahiang Sanjaya.

"Aku berasal dari wetan, dari Keling hendak menuju ke Kalapa untuk belajar berdagang" jawab Rahiang Sanjaya menyebutkan sebuah daerah di wilayah Karatuan Kalingga.

"Hmmm...dari Keling...jauh juga..." gumam Suro.

"Kau sepertinya orang kaya...hati-hati di atas kapal...semua hartamu bisa lenyap kalau kau lengah" Suro menasihati Rahiang Sanjaya.

"Terima kasih Juragan...lalu sekarang bagaimana?" tanya Rahiang Sanjaya.

"Kau tunggu saja di dalam kedai...kapal akan berangkat saat balebat. Nanti Wéténg akan mengantarmu ke kapal" jawab Suro kepada Rahiang Sanjaya lalu berbalik menatap Wéténg.

"Wéténg...selain pemuda ini, di dalam kedai ada dua orang, suami istri yang juga hendak ikut ke Kalapa...kau sekalian antar mereka" perintahnya kepada Wéteng.

"Baik Juragan..." jawab Wéténg singkat sambil membungkukkan badannya ke arah Suro.

Wéténg dan Rahiang Sanjaya kembali ke dalam kedai sementara Suro pergi entah kemana.

Baca juga : Rahiang Sanjaya #21

#

Ayam-ayam mulai berkokok saat terdengar suara gong yang dipukul berulang-ulang dari arah dermaga.

Wéténg bergegas menghampiri meja Kai Darmaseta dan Nay Suci,

"Kapal sudah siap berangkat...harap ikuti hamba" ujarnya sopan sambil membungkukkan tubuhnya.

"Agan juga ikut dengan saya..." Wéténg berbalik kepada Rahiang Sanjaya yang duduk tidak jauh dari meja Kai Darmaseta dan Nay Suci.

Rahiang Sanjaya bergegas bangkit lalu mengangguk hormat ke arah Kai Darmaseta dan Nay Suci.

Ketiganya berjalan mengikuti Wéténg yang berjalan dengan cepat. Setibanya di bawah kapal yang sangat besar, Wéténg behenti. Kelihatan puluhan orang bergegas naik ke atasnya.

"Mohon tunggu sebentar...hamba akan berbicara dengan nakhoda terlebih dahulu" ujarnya lalu melangkah menaiki tangga naik ke atas kapal.

Kai Darmaseta, Nay Suci dan Rahiang Sanjaya menunggu sambil terdiam. Ketiganya kelihatan sangat berhati-hati dengan orang asing. Tak lama berselang, Wéténg menuruni tangga kapal.

"Hamba sudah bicara dengan nakhoda kapal...Agan bertiga akan menempati ruangan yang sama di lantai tiga kapal" ujar Wéténg.

"Baiklah Mamang...terima kasih atas bantuanmu" Rahiang Sanjaya menjawab sambil meraih tangan Wéténg dan menyelipkan satu keping uang perak.

"Aiih...agan terima kasih...terima kasih" Wéténg kegirangan.

"Silakan..." Rahiang Sanjaya mempersilakan Kai Darmaseta dan Nay Suci untuk menaiki tangga kapal terlebih dahulu.

"Terima kasih anak muda...." ujar Kai Darmaseta lalu melangkah diikuti oleh Nay Suci.

"Semoga selamat sampai tujuan...." teriak Wéténg sambil melambaikan tangannya.

===

Di jalan tanah berdebu dua ekor kuda berwarna hitam dan putih berlari cepat saling berkejaran. Penunggangnya tidak terlihat jelas, hanya rambut mereka terlihat beriapan dihembus angin. Di gerbang sebuah pedukuhan, mereka menghentikan laju kudanya. Penunggang kuda hitam, seorang pemuda berpakaian warna merah, melompat turun diikuti oleh penunggang kuda putih, seorang gadis berpakaian warna hijau terang. Keduanya mengenakan caping bambu lebar menutupi hampir setengah wajah mereka.

"Tikus kecil...kita cari makan di pedukuhan ini, sekalian menanyakan arah" ujar pemuda berpakaian merah.

"Baik Kakang...aku pun sudah lapar sekali" timpal gadis berpakaian hijau terang.

Mereka ternyata adalah Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih yang sedang menuju ke Palabuhan Pamalang. Mereka berjalan beriringan sambil menuntun kuda masing-masing.

Pedukuhan tersebut tidak terlalu ramai, mungkin karena letaknya di kaki sebuah gunung yang agak terpencil. Hanya terlihat beberapa orang laki-laki dewasa memanggul hasil tani dari arah gunung. Yuchi Saksena mendekati sebuah bangunan mirip gudang yang sepertinya menjadi tujuan dari para laki-laki yang membawa hasil tani tersebut.

"Sampurasun..." salamnya kepada beberapa orang yang sedang memasukkan hasil tani ke dalam bangunan gudang tersebut.

"Rampes...." mereka menjawab hampir berbarengan lalu menoleh ke arah Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

"Maaf...kami hendak bertanya, apakah di sekitar sini ada kedai makanan?" tanya Yuchi Saksena sopan.

Seorang dari mereka yang berusia lebih tua mendekati Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

"Di pedukuhan kami mana ada kedai makanan. Di sini kalau mau makan tinggal minta saja tidak perlu beli...he...he..." laki-laki itu terkekeh.

"Kalian sepertinya sudah melakukan perjalanan jauh...mari beristirahat di rumahku saja" sambungnya ramah.

"Sapto...kau lanjutkan dulu...bapa mau mengantar mereka ke rumah" laki-laki tersebut berteriak ke salah seorang yang berada di dalam gudang.

"Nggih Bapa'e...." jawab salah seorang pemuda sambil tersenyum dan menganggukan sopan ke arah Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

"Mari anak muda...." aja laki-laki tua tersebut ramah.

"Tidak usah merepotkan...lebih baik kami meneruskan perjalanan saja" ujar Yuci Saksena menolak halus. 

"Aduuuh...." Yuchi Saksena memekik tertahan karena pinggangnya di cubit oleh Dewi Sekarasih.

"Jangan bodoh Kakang...aku hampir pingsan kelaparan" bisik Dewi Sekarasih sambil menganggukkan wajahnya kepada laki-laki tua tersebut.

"Ha...ha...kalian ini cocok sekali...ha...ha..." laki-laki tua tergelak melihat kelakuan Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

"Ayolah anak muda...kasihan istrimu sudah kelaparan" sambungnya sambil berlalu menuju ke rumah kayu yang terletak tidak jauh dari gudang tersebut.

Mendengar laki-laki tua tersebut menyebutnya sebagai istri Yuchi Saksena, Dewi Sekarasih bukan main girangnya. Matanya berkedip-kedip menggoda Yuchi Saksena.

"Mari suamiku...istrimu ini sudah sangat kelaparan..." ajak Dewi Sekarasih sambil berjalan mendahului Yuchi Saksena menyusul laki-laki tua tersebut.

"Kau...." desis Yuchi Saksena kesal tapi diam-diam hatinya berdesir hangat.

Setibanya di depan rumah, laki-laki tua tersebut mempersilakan Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih duduk di atas sebuah bale-bale yang cukup besar.

"Silakan duduk...jangan sungkan-sungkan anak muda" ujarnya.

"Bu'e...bu'e..." teriaknya memanggil istrinya.

Seorang perempuan tua namun terlihat masih cantik dan bersih, tergpoh-gopoh datang dari arah samping rumah.

"Aiiiihhhhh...bapa'e, ada apa teriak-teriak? Aku sedang menjemur gabah di belakang" kata perempuan tersebut sambil terengah-engah.

"Bu'e tolong siapkan makan untuk tamu kita ini..." ujar laki-laki tersebut ramah.

"Aduh...aduh...cah ayu...cah bagus...selamat datang di gubuk kami. Bapa'e temani dulu mereka...bu'e akan siapkan makanan" ujar perempuan itu tidak kalah ramah dengan suaminya kemudian berlalu ke dalam rumah.

"Oh...iya, namaku Wiji, tetua di Padukuhan Panjang sini. Kalian panggil saja bapa'e...orang-orang di padukuhan memanggilku begitu" ujar laki-laki tua yang ternyata bernama Wiji tersebut.

"Iya bapa'e...namaku Saksena dan ini....." ucapan Yuchi Saksena terpotong.

"...calon istrinya, namaku Sekarasih..." sambar Dewi Sekarasih sambil tersenyum sementara Yuchi Saksena hanya bisa menarik nafas panjang.

"Aiiihh...baru calon ternyata, maafkan tadi aku mengira kalian sudah suami istri...he...he..." Wiji terkekeh.

"Sepertinya kalian berasal dari kulon...hendak menuju kemana rupanya?" sambung Wiji.

"Kami hendak menuju ke Palabuhan Pamalang...apakah masih jauh dari sini?" jawab Yuchi Saksena sambil menanyakan jarak ke Palabuhan Pamalang.

"Ah...begitu rupanya, tidak...tidak terlalu jauh. Kalau kalian berkuda...nanti malam kalian sudah sampai" jawab Wiji.

"Tapi lebih baik...besok saja kalian berangkat ke sana, malam ini beristirahatlah di rumahku" sambung Wiji.

"Ah...betul, aku setuju...besok pagi saja kita melanjutkan perjalanan. Badanku pegal-pegal sekali...harus istirahat. Bagaimana Kakang?" Dewi Sekarasih meminta persetujuan Yuchi Saksena.

Sesaat Yuchi Saksena menatap wajah Dewi Sekarasih yang memandangnya dengan wajah menghiba namun matanya berkedip-kedip manja.

"Apakah tidak merepotkan bapa'e?" tanya Yuchi Saksena kepada Wiji.

"Ha...ha...merepotkan apa anak muda?...rumahku sudah biasa menjadi tempat persinggahan para pedagang dan pengelana seperti kalian" jawab Wiji.

"Ayo...makanan sudah siap...kita makan di dalam saja..." tiba-tiba istri Wiji muncul dari balik pintu mengajak mereka makan di dalam rumah sambil membimbing Dewi Sekarasih bangkit dari duduknya.

"Aduh ayu'ne..." ujarnya mengagumi kecantikan Dewi Sekarasih sambil membimbingnya masuk ke dalam rumah.

"Ayo cah bagus..." ajak Wiji kepada Yuchi Saksena.

Mereka berempat masuk ke dalam rumah.

#

Malam itu suasana Padukuhan Panjang sepi dan gelap sekali, mendung menggelayuti langit. Suara lolongan anjing liar dari kejauhan, sesekali ditingkahi suara gajah yang melengking bagai terompet. Lokasi padukuhan yang berada di kaki Gunung Wangi membuatnya sangat terpencil.

Rumah milik Wiji sangat besar dan kamar tidurnyapun banyak, tidak heran jika jadi tempat persinggahan para pengelana. Yuchi Saksena terlihat gelisah di kamarnya, saat semua orang sudah larut dalam mimpinya masing-masing, dirinya tidak bisa memicingkan mata. Pikirannya benar-benar menggelora membayangkan esok hari akan bertemu dengan pembunuh ayah ibunya.

"Ayah...Ibu...aku akan membalaskan dendam kalian" desisnya dengan gigi bergemeretukan menahan dendam dan amarah. Bayangan mereka yang berlumuran darah seolah menghantuinya.

Tiba-tiba telinganya yang tajam lamat-lamat mendengar suara derap kaki kuda dikejauhan, suara itu semakin lama semakin mendekat. Bergegas Yuchi Saksena bangkit dari tidurnya lalu memiringkan kepalanya mencoba mendengar lebih jelas.

"Sepertinya dua ekor kuda sedang menuju kemari" batin Yuchi Saksena. Kehidupannya yang mengenaskan membuat dirinya selalu waspada bahkan selalu mencurigai apapun. Dengan sebat diraihnya pedang miliknya dari samping tempat tidur lalu dengan mengendap-endap membuka jendela kamarnya.

Dengan enteng Yuchi Saksena melompat ke luar lalu menutupnya kembali. Setelah memastikan tidak ada yang melihatnya, Yuchi Saksena melayang bagaikan walet ke atas sebuah pohon yang cukup besar dan rimbun.

"Hiiiiyaaa....heup..."

Yuchi Saksena berdiri di atas sebuah dahan yang sangat rimbun, matanya nyalang mengawasi sekitar mencari sumber suara derap kuda tersebut berasal. Suara derap kuda tersebut semakin jelas dan dari arah selatan terlihat dua ekor kuda dan penunggangnya mendekati rumah Wiji. Tak lama kemudian dua ekor kuda tersebut tiba di halaman rumah Wiji. Yuchi Saksena tidak bisa melihat dengan jelas wajah para pendatang, sinar obor yang tertancap di halaman rumah hanya memperlihatkan sosok mereka adaah laki-laki. Keduanya melompat turun dari punggung kuda.

Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan muncullah Sapto, anak Wiji, sambil menggisik-gisik matanya. Matanya membelalak begitu melihat yang datang.

"Aduuhh....Juragan Arya Suta...Juragan Margo...selamat datang...." ujar Sapto tergopoh-gopoh menghampiri mereka.

Rupanya kedua penunggang kuda tersebut adalah Juragan Arya Suta dan Margo.

"Sapto...maaf mengganggu kalian...bapa'e ada di rumah?" tanya Juragan Arya Suta.

Melihat sikap Sapto dan Juragan Arya Suta jelas mereka sudah sangat saling mengenal.

"Aiiihhh...Juragan...ayo silakan masuk...kita ngobrol di dalam saja" tiba-tiba Wiji muncul sambil membungkukkan badannya penuh hormat.

"Sapto...kau urus dan bawa kuda Juragan ke belakang" sambungnya kepada Sapto, anaknya.

Juragan Arya Suta dan Margo masuk ke dalam rumah diikuti oleh Wiji sementara Sapto menuntun kuda-kuda ke belakang rumah.

"Hmm...sepertinya mereka saling mengenal. lebih baik aku kembali masuk" batin Yuchi Saksena

Dengan enteng dan tanpa mengeluarkan suara Yuchi Saksena melayan turun dan kembali ke dalam kamarnya melalui jendela.

"Bu'e...tolong siapkan air hangat dan makanan untuk Juragan Arya Suta dan Juragan Margo" perintah Wiji kepada istrinya yang baru saja terbangun.

Yuchi Saksena mendekatkan telinganya ke pintu mencoba mendengar pembicaraan mereka. Walau bagaimanapun Yuchi Saksena merasa bahwa haurs menyirap berita sebanyak mungkin. Karena dia berada di wilayah musuh yang akan dihancurkannya.

"Juragan kenapa malam-malam...hendak menuju kemana kah?" terdengar suara Wiji bertanya.

"Kami baru kembali dari Palabuhan Cimanuk...hendak kembali ke Pamalang" terdengar suara Margo menjawab.

"Ada sesuatu yang pentng rupanya...hingga harus berkuda seperti ini?" tanya Wiji penasaran.

"Iya bapa'e...aku harus ke Pamalang secepatnya karena...aku khawatir dengan keadaan ayah ibuku" sekarang yang menjawab Juragan Arya Suta.

"Hamba baru saja tiga hari yang lalu kembali dari rumah Juragan Arya Jumadi mengantar rempah-rempah hasil panen" ujar Wiji.

"Betulkah bapa'e? bagaimana keadaan ayahku?" tanya Juragan Arya Suta yang ternyata adalah anak dari Juragan Aya Jumadi (baca : Rahiang Sanjaya #19).

Sementara itu Yuchi Sancaka bagai mendengar petir di siang bolong.

"Arya Jumadi?...jadi mereka adalah orang-orang Arya Jumadi?!!" desis Yuchi Saksena sambil memegang gagang pedangnya erat-erat.

Yuchi Saksena terduduk di atas tempat tidurnya. Darahnya seolah mendidih tubuhnya bergetar karena dendam yang dipendamnya lebih dari sepuluh tahun.

"Arya Jumadi...kau akan membayar nyawa kedua orangtuaku dengan nyawamu dan keluargamu" desis Yuchi Saksena.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #9