AJIAN BATARA KARANG

Kusno menatap tajam ke arah Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih, dirinya sangat yakin bahwa kedua pasangan inilah yang bertanggungjawab atas kematian Barna, sahabatnya.

"Anak muda...sebutkan namamu, aku tidak suka jika membunuh tanpa mengetahui namanya!" dengus Kusno jumawa.

Yuchi Saksena tersenyum dingin dibalik caping bambunya.

"Namaku Saksena...hantu pencabut nyawa dari Kalapa" jawabnya dingin.

Walaupun sudah menduga, Kusno tetap merasa terkejut mendengar jawaban Yuchi Saksena. Namun ditekannya rasa terkejutnya.

"Apa hubunganmu dengan Jaka Saksena?" tanyanya keras.

Yuchi Saksena tidak segera menjawabanya, malahan berbisik kepada Dewi Sekarasih.

"Tikus kecil...kau menyingkirlah...biar manusia ini aku tangani sendiri"

Dewi Sekarasih menganggukkan kepalanya, dia tidak ingin menghalangi kekasih hatinya itu untuk melampiaskan dendam kepada pembunuh ayah ibunya. Dia segera menyingkir ke arah kedai.

Setelah Dewi Sekarasih menjauh, Yuchi Saksena menjawab pertanyaan Kusno.

"Jaka Saksena adalah ayahku dan Yuchi Meiyang adalah ibuku..." jawabnya sambil memandang ke arah Kusno dengan tajam.

"Ha...ha...tidak kusangka aku akan bertemu dengan keturunan Jaka Saksena...mungkin sudah kehendak Dewata kau harus mati ditanganku...seperti ayah ibumu...ha...ha..." Kusno tergelak mencoba memancing amarah Yuchi Saksena.

Sementara Tukul yang mengawasi dari balik jendela mengusap wajahnya.

"Tidak kusangka...ternyata anak muda ini mempunyai sengketa seberat itu dengan Kusno...bahkan mungkin dengan Wiji juga" batinnya.

Mendengar ucapan Kusno, amarah Yuchi Saksena meluap namun dicobanya untuk menahan diri. Yuchi Saksena ingin menikmati momen balas dendam ini sepuasnya.

"Heuhhh...justru sebaliknya, kau dan komplotanmu akan ku bunuh satu per satu...kau akan menjadi orang kedua yang mati ditanganku...he...he..." dengus Yuchi Saksena sambil terkekeh.

Mendengar jawaban Yuchi Saksena, Kusno berbalik semakin muntab.

"Jadi kau yang telah membunuh Barna?" tanyanya murka.

Yuchi Saksena hanya tersenyum dingin.

"Jawab keparat...!!! Kau yang membunuh Barna?" Kusno penasaran.

"Bukan hanya Barna...tapi juga kau, dua orang komplotanmu dan yang terakhir juraganmu juga akan ku bunuh" jawab Yuchi Saksena.

Kusno meledak.

"Keparat...jangan bermimpi disiang bolong...aku akan meminum darahmu sebagai pembalasan atas kematian Barna!!!" geram Kusno sambil menghunus golok dari pinggangnya.

"Makan ini... " serunya sambil menerjang ke arah Yuchi Saksena.

Pertempuran pecah, Kusno yang telah melihat Barna tewas, mengeluarkan seluruh kemampuannya dan tidak mau bermain-main. Serangannya ganas dan kuat mengincar ke bagian-bagian vital di tubuh Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena tersenyum dingin lalu berkelebat menyambut serangan-serangan Kusno. Dirinya sudah bisa mengukur kemampuan Kusno dan memilih untuk melawannya dengan tangan kosong. Namun disinilah letak kesalahan Yuchi Saksena yang memandang rendah kemampuan Kusno.

Pertempuran sudah berjalan lebih dari sepuluh jurus, Yuchi Saksena masih dengan mudah menghindari serangan-serangan Kusno.

"Bangsat...lawan aku...jangan menghindar seperti pengecut...!!!" maki Kusno kesal karena Yuchi Saksena hanya menghindar dan tidak balik menyerang.

Senyuman sinis tersungging di bibir Yuchi Saksena.

"Tidak kusangka...pembunuh ayah ibuku hanyalah cecunguk-cecunguk tidak berguna..." ujarnya dingin.

Mata Kusno mendelik disebut cecunguk oleh Yuchi Saksena. Dialirkannya seluruh tenaga dalam ke tangan kanannya yang sedang memegang golok. Goloknya bergetar hebat...lalu secepat kilat dilemparkannya golok tersebut mengincar dada Yuchi Saksena.

"Mati kau....bangsat..."

"Wussssshhhhhh...."

Golok itu meluncur secepat kilat hanya terlihat sinarnya saja yang keperakan.

Yuchi Saksena tidak bergerak untuk menghindar, tetap berdiri tegak seolah menunggu datangnya golok tersebut. Sementara Dewi Sekarasih dan Tukul menahan nafas, ngeri membayangkan apa yang akan terjadi.

Sejengkal lagi, golok tersebut akan menembus dada Yuchi Saksena...tiba-tiba golok tersebut berhenti seperti ada yang menahannya. Golok tersebut tetap mengapung seolah berusaha untuk menembus tembok yang menahannya. Kusno ternganga tidak percaya dengan yang dilihatnya begitu pula Dewi Sekarasih dan Tukul. Keduanya membekap mulutnya masing-masing, takjub dan juga lega.

Yuchi Saksena tersenyum tipis lalu kedua tangannya mengembang.

"Hiiiiyyyyyaaaaa....."

Kedua tangan Yuchi Saksena mendorong ke depan...bagai dipukul dengan sangat keras...golok milikKusno berbalik dan berputar kembali ke arah Kusno.

"Baa..bangsat...." rutuk Kusno sambil menjatuhkan badannya menghindari laju golok miliknya sendiri. Goloknya terus meluncur dan menancap di sebuah batang pohon.

Kusno bangkit sambil mengatur nafasnya, hatinya sempat terkesiap kaget melihat kemampuan Yuchi Saksena. Keringat dingin mulai terasa di dahi dan tubuhnya.

"Sialan...anak muda ini ternyata ilmunya tidak main-main..." keluhnya.

Yuchi Saksena menurunkan kedua tangannya, barusan adalah jurus ke seratus dari rangkaian jurus "Menembus Langit Membelah Rembulan" dengan menggunakan tenaga dalam tingkat satu. Sebenarnya jika Yuchi Saksena mau menggunakan tenaga dalam tingkat dua, dipastikan Kusno tidak akan bisa menghindar. Lagi-lagi Yuchi Saksena memandang rendah kemampuan Kusno

"Tidak ada pilihan lain...aku harus mengadu nyawa dengannya.." batin Kusno.

Kusno memejamkan matanya, sementara mulutnya merapal mantra. Kesepuluh jari tangannya mengembang, tubuhnya bergetar. Kedua tangannya dari mulai jari sampai siku berubah menjadi hitam dan mengeluarkan asap tipis yang berbau sangat busuk.

"Ajian siluman..." desis Dewi Sekarasih.

Kusno membuka matanya...luar biasa kedua mata Kusno berubah menjadi merah menyala.

"Kau akan kucabik-cabik bocah keparat" Kusno menggeram dengan suara yang berat dan aneh berbeda dengan suara sebelumnya seperti suara yang berasal dari dimensi lain.

"Ajian Batara Karang...tidak kusangka Kusno menguasai ajian siluman itu" batin Tukul.

Yuchi Saksena terkejut melihat ajian yang dikeluarkan Kusno, semenjak turun dari Bukit Panyandaan belum pernah dirinya menghadapi yang seperti ini.

"Hiyyyaa...." Kusno menerjang ke arah Yuchi Saksena, gerakannya sedikit lambat namun penuh tenaga dan buas. Kesepuluh jarinya mengembang menyasar perut Yuchi Saksena seolah mau membobolnya.

"Huupp..."

Yuchi Saksena melompat menghindar namun Kusno terus mengejar. Yuchi Saksena terus menghindar dengan mengandalkan kecepatannya.

"Rasakan ini siluman...." desis Yuchi Saksena sambil mengarahkan tinjunya ke dada Kusno.

Aneh...Kusno tidak berusaha menghindar ataupun menangkis.

"Buuukkkk..." tinju Yuchi Saksena menghantam dada Kusno.

"Argghhh...." pekik Yuchi Saksena kaget dan juga kesakitan sambil menarik kembali tinjunya.

"Kakang....!!" jerit Dewi Sekarasih.

Yuchi Saksena melompat mundur sambil mengatur nafasnya. Tinjunya bagaikan menghantam batu karang, sakit dan panas. Terlihat tinjunya memerah bahkan lecet berdarah.

"Ha...ha...bocah keparat...cepat keluarkan semua ilmu dan kesaktianmu..." geram Kusno menggidikkan.

Yuchi Saksena melipatgandakan tenaga dalamnya, lalu melompat tiga depa ke atas dan kembali menukik sambil kedua tangannya terkembang menyasar batok kepala Kusno.

"Hiiiiyyyyaaaa....."

"Buukkkk....argggghhh..." 

Yuchi Saksena menjerit, kembali tangannya bagai membentur tembok tebal, tubuhnya terpental lalu terbanting ke atas tanah.

"Kakang...." jerit Dewi Sekarasih tidak mampu lagi menahan diri segera berlari menghampiri Yuchi Saksena yang sedang mencoba bangkit, darah merembes dari sudut bibirnya.

"Ha...ha...bocah ayu...kau jangan ikut-ikutan...lebih baik kau menjadi gundikku...ha...ha..." Kusno tergelak melihat Dewi Sekarasih yang memburu Yuchi Saksena.

"Kakang...kau tidak apa-apa?" tanya Dewi Sekarasih tanpa mempedulikan ucapan Kusno.

Yuchi Saksena mengelap bibirnya yang mengeluarkan darah, diaturnya pernafasannya yang kacau. Dadanya terasa panas dan sesak...rupanya tenaga dalamnya berbalik menyerang dirinya sendiri.

"Tikus kecil...minggirlah...aku tidak apa-apa...lekas minggir...." ujar Yuchi Saksena meminta Dewi Sekarasih agar minggir.

"Kakang...kita serang bersama-sama dengan menggunakan pedang..." Dewi Sekarasih bersikukuh sambil memegang tangan Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena mendengus tidak senang.

"Tikus kecil...ini adalah pertempuranku...kau jangan ikut campur"

"Tapi Kakang....." Dewi Sekarasih memaksa.

"Aku bilang minggggiiirrrr....!!!" Yuchi Saksena murka sambil mendorong tubuh Dewi Sekarasih. Akhirnya Dewi Sekarasih menyerah, pelan-pelan melangkah mundur menjauh dan mengawasi dari pinggir dengan hati yang was-was.

Yuchi Saksena memasang kuda-kuda lalu mengerahkan setengah tenaga dalam ke kedua tangannya.

"Ilmu apa sebenarnya yang digunakan bajingan itu...setiap aku menyerang, tenaga dalamku seolah berbalik. Aku harus menghindari benturan dengan manusia siluman itu..." batin Yuchi Saksena.

Kusno tertawa tergelak meihat Yuchi Saksena bersiap menyerangnya kembali.

"Hayyyyoooo....bocah keparat, keluarkan semua kesaktianmu..." dengusnya.

Yuchi Saksena berteriak setinggi langit sambil mendorongkan kedua tangannya ke arah Kusno. Dua gumpalan angin berhawa panas membumbung ke arah Kusno yang tidak bergerak sedikitpun.

"Buuummmm......"

Terdengar dentuman yang luar biasa keras...tanah terasa bergetar, debu-debu berhamburan.

"Hoek...hoek...argghhh..."

Yuchi Saksena amblas ke dalam tanah sebatas lutut, mulutnya menyemburkan darah segar. Sementara Kusno terdorong beberapa langkah namun tidak menunjukkan tanda-tanda terluka.

"Kakang....." jerit Dewi Sekarasih lalu secepat kilat menyambar tubuh Yuchi Saksena.

Beruntunglah tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh Dewi Sekarasih telah meningkat dengan pesat. Dengan entengnya tubuh Yuchi Saksena yang terkulai lemah di panggulnya dan dibawa berlari ke arah hutan.

"Bajingan...keparat...jangan kabur kalian..." dengus Kusno pelan lalu ambruk di atas tanah.

Kedua tangannya yang sebelumnya berwarna hitam dan mengeluarkan asap berbau busuk menjijikan berangsur kembali normal.

Tukul yang menyaksikan semuanya, sesaat hanya ternganga...tidak mampu berkata apapun.

##

Rasa khawatir dan juga takut kehilangan membuat Dewi Sekarasih seolah tidak merasa capai dan lelah. Terus berlari sambil memanggul tubuh Yuchi Saksena, keringat sudah membanjiri tubuh dan pakaiannya. Hanya satu yang ada dipikirannya adalah pergi sejauh mungkin dari Kusno. Lebatnya hutan dan rumpun semak-semak seolah tidak terasa. Namun manusia tetaplah manusia yang mempunyai batas kemampuan, hari mulai gelap saat Dewi Sekarasih akhirnya menggelosoh lemas kelelahan. Tubuhnya ambruk disusul oleh tubuh Yuchi Saksena yang menindihnya.

"Ahhhh....aku ga kuat lagi..." desisnya sambil dicobanya duduk dan menggeserkan tubuh Yuchi Saksena.

"Kakang...Kakang...kau masih sadar Kakang?" Dewi Sekarasih sambil menggoyang-goyangkan tubuh Yuchi Saksena.

"Heuuuhhh...Ti..tikus kecil...kau pergilah...jangan pedulikan aku...pergilah..." suara Yuchi Saksena pelan lebih mirip rintihan.

Dewi Sekarasih memeluk tubuh Yuchi Saksena sambil berurai air mata.

"Tidak Kakang...aku akan menyelamatkanmu...kita berdua akan selamat.." ujarnya menenangkan Yuchi Saksena walaupun dirinya ketakutan setengah mati.

Dewi Sekarasih memandangi keadaan sekitar yang mulai gelap, suara binatang hutan dan sesekali terdengar auman harimau dan lengkingan anjing hutan membuat nyalinya tergetar. Namun rasa sayang dan cintanya kepada Yuchi Saksena telah memberikan kekuatan batin yang luar biasa bagi Dewi Sekarasih.

"Tidak...aku tidak boleh takut..." batinnya mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Lamat-lamat telinganya menangkap suara seperti gemuruh suara air. Dengan memaksakan diri dicobanya untuk berdiri lalu menyandarkan tubuhnya di batang pohon, diaturnya nafas untuk memulihkan tenaganya.

Setelah tenaganya sedikit pulih, diangkatnya tubuh Yuchi Saksena lalu dipapahnya menuju ke arah suara air. Dengan terantuk-antuk terkena akar pohon yang membentur kakinya, dengan susah payah Dewi Sekarasih memapah Yuchi Saksena. Suasana dalam hutan yang gelap menyulitkan mereka, hingga berkali-kali keduanya terjatuh. Namun Dewi Sekarasih adalah seorang wanita yang keras hati dan juga tangguh. Malam yang semakin larut ternyata membawa berkah, langit terang, sinar bintang dan bulan walaupun belum penuh cukup membantu penglihatan Dewi Sekarasih.

Sesekali dengusan anjing liar dan babi hutan terdengar begitu dekat, beberapa pasang mata yang moncorong hijau mengincar mereka berdua. Dewi Sekarasih menguatkan hati dan nyalinya. Menjelang tengah malam, Dewi Sekarasih dan Yuchi Saksena tiba di sebuah lembah yang mempunyai curug yang cukup tinggi dan deras. Lembah itu mempunyai lapangan rumput yang cukup luas dengan beberapa batu besar menghiasinya. Dari tempat jatuhnya air terbentuk kolam yang sangat jernih dan luas dan air buangannya mengalir ke  sebuah sungai yang cukup lebar.

Dewi Sekarasih menghentikan langkahnya di samping sebuah batu besar lalu mendudukkan Yuchi Saksena dan menyandarkannya. Rupanya Yuchi Saksena sudah jatuh pingsan cukup lama. Dewi Sekarasih menghampiri tepian sungai lalu berjongkok dan menciduk airnya mengunakan kedua tangan.

"Gleekkk...glekkk...." Dewi Sekarasih beberapa kali menenggak air sungai yang dingin dan sangat segar.

Dicarinya semak-semak yang berdaun lebar lalu dibentuknya menjadi sebuah wadah air lalu diisinya.

"Kakang...Kakang...sadarlah..." ujar Dewi Sekarasih sambil menepuk-nepuk pipi Yuchi Saksena.

Namun Yuchi Saksena tidak bergeming. Dewi Sekarasih mendekatkan wadah air ke mulut Yuchi Saksena lalu dituangkan pelan-pelan. Setelah dirasa cukup membasahi bibir dan mulut Yuchi Saksena, Dewi Sekarasih bangkit dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling curug tersebut. Dewi Sekarasih bergidik ngeri saat melihat beberapa pasang mata yang mencorong hijau mengawasi mereka dari kegelapan. 

"Dewata Agung...aku tidak mau mati dimakan maung ataupun ajag..." desisnya sambil mencabut pedang dari punggungnya.

Dewi Sekarasih duduk bersila di depan tubuh Yuchi Saksena yang bersandar tidak sadarkan diri pada sebuah batu besar. Dewi Sekarasih mencoba untuk terus terjaga melawan rasa kantuk dan lelah yang mendera tubuhnya. Pedang kuning kesayangannya terhunus, siap menghadapi segala gangguan dan ancaman. 

Namun kondisi tubuhnya yang kelelahan akhirnya tidak bisa dilawan, menjelang dini hari, Dewi Sekarasih tak mampu lagi melawan kantuk. Tubuhya pelan-pelan goyang ke belakang dan akhirnya Dewi Sekarasih tertidur dengan kepala bersandar di dada Yuchi Saksena.

===

Baca juga : Rahiang Sanjaya #10

Ni Darmi menjerit tertahan saat pandangannya tertumbuk pada sesosok tubuh nyaris telanjang tergeletak di semak-semak. Seluruh tubuhnya penuh dengan darah yang mulai mengering. Hampir duapuluh tahun dirinya tinggal di dasar jurang tersebut, baru sekarang menemukan ada orang yang jatuh dari atas jurang.

"Dewata Agung..." sambil menangkubkan tangannya ke mulut.

Diletakkannya kayu bakar yang sedang digendongnya ke atas tanah lalu pelan-pelan menghampiri tubuh yang tergeletak tidak bergerak tersebut. Setelah dekat Ni Darmi berjongkok memeriksa keadaan tubuh yang ternyata adalah seorang laki-laki muda, paha kanannya menganga seperti bekas dibacok golok dan punggungnya pun sobek cukup panjang. Wajahnya kelihatan sangat pucat seperti kehabisan darah.

"Hmmm...untunglah masih hidup..." gumamnya sambil memegang lengan pemuda tersebut.

Ni Darmi bangkit lalu memandang ke atas lereng yang berada di depannya.

"Sepertinya jatuh dari atas sana...sungguh beruntung pemuda itu masih hidup" batinnya, sambil mata tuanya menatap tajam ke atas lereng setinggi lebih dari tigapuluh deupa tersebut.

Ni Darmi bersuit...suaranya sangat nyaring dan bergema di seluruh hutan tersebut. Lalu kembali berjongkok dan memegang tangan pemuda tersebut, mata Ni Darmi terpejam dan mulutnya merapal mantra.

"Ni...ada apa? Kau selalu menggangguku saja..." tiba- tiba terdengar suara seorang kakek yang entah darimana suara tersebut datangnya.

"Ki Darta..kau kemarilah...ada pemuda yang jatuh dari atas sana...kau bawalah dia ke pondok untuk diobati" jawab Ni Darmi sambil melepaskan pegangan tangannya lalu berdiri.

"Siuuuttt...."

Sebuah bayangan hitam melesat dari atas sebuah pohon yang sangat tinggi lalu meluncur ke arah Ni Darmi. Bayangan tersebut ternyata seorang kakek-kakek yang sudah sangat tua namun badannya masih tegap. Mengenakan pakaian hitam-hitam serta ikat kepala berwarna hitam pula. Janggutnya yang putih dan sangat panjang menghiasi wajahnya yang sangat teduh. Jelas bahwa Ki Darta adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.

"Hmm...jatuh dari atas lereng...sulit dipercaya masih bisa hidup" gumam Ki Darta sambil menghampiri pemuda yang masih tergeletak itu. 

Tanpa banyak bicara, kaki kanannya bergerak mencungkil tubuh pemuda tersebut. Luar biasaaa....sekali cungkil tubuh pemuda itu melayang ke atas pundak Ki Darta.

"Ni...aku pergi duluan..." ujarnya lalu melesat ke arah selatan sambil memanggul pemuda tersebut.

"Baiklah Ki...aku akan mencari daun-daun untuk ramuan luka-lukanya..." jawab Ni Darmi.

 #

Di dalam sebuah pondok kayu yang berada di tepian mata air yang sangat jernih, terlihat Ni Darmi sedang mengoleskan ramuan ke atas luka yang ada di tubuh pemuda yang masih belum sadarkan diri. Tubuh dan lukanya sudah dibersihkan oleh Ki Darta, sehingga kelihatan wajahnya yang tampan dan badannya yang tegap berisi.

"Bocah malang...kenapa bisa jatuh ke dalam jurang?...apakah terjatuh atau ada yang melemparkannya?" gumam Ni Darmi bertanya-tanya.

Sementara itu, Ki Darta terlihat sedang memasak air dalam belanga tanah di atas perapian yang berada di halaman pondok tersebut. Setelah air mendidih, Ki Darta memasukkan beberapa jenis dedaunan ke dalamnya lalu mengaduknya menggunakan sendok panjang yang terbuat dari kayu.

"Ki...sudah selesai ramuannya?" tanya Ni Darmi yang berdiri di depan pintu pondok.

"Sudah..kau bawalah ramuan ini ke kolam...biar aku yang membawa pemuda itu" jawab Ki Darta sambil mengacungkan sendok kayunya ke arah Ni Darmi.

Ni Darmi dengan sebat melompat turun dari mulut pintu, gerakannya sangat cepat dan enteng. Rupanya mereka adalah pasangan jawara yang menguasai ilmu silat dan tenaga dalam yang sangat tinggi. Dengan enteng seolah tidak merasa panas ataupun berat, ditentengnya belanga berisi ramuan yang sedang mendidih tersebut ke arah mata air.

Diletakkannya belanga tersebut di pinggir mata air yang menyerupai kolam tersebut lalu mengambil batu berukuran cukup besar untuk membendung aliran yang ke arah sungai. Setelah aliran dari kolam terbendung, Ni Darmi menuangkan isi belanga ke dalam kolam.Seketika kolam tersebut yang sebelumnya berair jernih berubah menjadi warna hijau dan...ikut mendidih seperti dipanaskan oleh api.

Tak lama, Ki Darta datang sambil memanggul tubuh pemuda yang masih tidak sadarkan diri.

"Byuuuurrrr...."

Ki Darta melemparkan tubuh pemuda tersebut dengan begitu saja ke dalam kolam. Tubuh pemuda itu tenggelam ke dasar kolam yang mendidih. Ni Darmi dan Ki Darta mengawasinya dengan tenang.

"Semoga pemuda itu masih diberi hidup oleh Sang Hyang Widi" ujar Ni Darmi pelan.

Ki Darta tidak menanggapi ucapan Ni Darmi, mulutnya komat-kamit merapal mantra. Air di dalam kolam pelan-pelan berangsur tenang tidak lagi mendidih seperti sebelumnya. Pelan-pelan dari dasar sungai muncul tubuh pemuda tersebut...ajaib...luka-luka disekujur tubuhnya hilang seolah tidak pernah terjadi apapun. Tubuh dan kulitnya tidak lagi pucat tapi sudah mulai memerah menandakan aliran darahnya mulai normal.

Ki Darta mengusap wajahnya lalu dengan cepat menyambar tubuh pemuda tersebut dan membawanya kembali ke dalam pondok.

"Ah...pemuda yang beruntung...terima kasih Sang Hyang Widi..." gumam Ni Darmi sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

Lalu Ni Darmi menyingkirkan kembali batu yang sebelumnya digunakan untuk membendung kolam tersebut. Air kolam kembali mengalir ke aliran sungai dan airnya berangsur kembali jernih seperti semula.

"Bagamana Ki?...apakah ada kesempatan selamat?" tanya Ni Darmi setibanya di dalam pondok.

Tubuh pemuda tersebut terbaring di lantai pondok beralaskan tikar, sementara Ki Darta duduk bersila di depannya.

"Semoga Sang Hyang Widi merestui...luka-lukanya sudah sembuh, hanya saja luka dalamnya belum begitu pulih...mungkin dua tiga hari baru bisa sadar" jawab Ki Darta sambil menoleh ke arah Ni Darmi yang baru masuk.

"Apakah kita bantu saja dengan mengalirkan hawa murni ke tubuhnya?" usul Nyi Darmi lalu duduk di samping Ki Darta.

"Jangan...malah akan membahayakan dirinya...lebih baik kita tunggu dia sadar baru kita alirkan hawa murni ke tubuhnya" cegah Ki Darta.

Ni Darmi mengangguk lalu menarik nafas panjang.

"Bocah malang...sepertinya dia bukan orang jahat...siapa yang tega melukainya separah ini?" guman Ni Darmi.

Baca juga : Dewa : Antara Cinta Yang Terabaikan, BuTar dan Covid-19