PRAHARA DI PALABUHAN PAMALANG


Disebuah kedai yang tidak jauh dari Palabuhan Pamalang, Wiji dan Kusno sedang beristirahat setelah hampir dua hari satu malam mengawasi keadaan di Palabuhan Pamalang.

"Kemana kita harus mencari anak muda itu...seluruh palabuhan sudah kita ubek bahkan tidak ada seorangpun yang pernah melihatnya" keluh Wiji sambil mengusap peluh di dahinya.

Kusno tidak menanggapinya, matanya sayu karena kurang tidur, sesekali menguap lebar sambil meletakkan kepalanya di atas meja kedai.

Suasana kedai sedang sepi, hanya ada Wiji dan Kusno, selain memang sudah lewat waktunya makan siang juga karena sebagian pengunjung menghindari bertemu dengan Kusno. Orang-orang di sekitar palabuhan sangat mengenal sifat Kusno yang kasar dan selalu menindas orang-orang yang tidak disukainya.

Tukul, pemilik kedai pun sebenarnya tidak terlalu suka didatangi Kusno, tapi mana berani menolaknya. Tukul sudah puluhan tahun berjualan di sekitar palabuhan, sudah sangat mengenal sepak terjang para pengawal Juragan Arya Jumadi yang suka mencari keributan. Satu hal yang membuat Tukul sedikit tenang adalah walaupun pembuat onar, mereka selalu membayar makanan yang mereka makan.

"Wiji...sudah lama aku tidak melihatmu?...atau kau memang tidak mau lagi makan di kedaiku?" tanya Tukul sambil meletakkan kendi berisi air minum, sepiring besar rebusan kacang dan dua buah cangkir di meja. Lalu duduk di atas kursi tidak jauh dari meja Wiji dan Kusno.

Wiji tersenyum lalu meraih cangkir dan kendi yang baru diantarkan Tukul.

"Aku sudah menepi...sudah tidak kuat dengan hiruk pikuk palabuhan. Sekarang aku bertani di kaki Gunung Wangi bersama anak dan istriku" jawab Wiji sambil menuangkan isi kendi ke dalam cangkirnya.

"Glek...glekkkk..." Wiji menenggak isi cangkirnya sampai tandas.

"Keurrrr...keuuurrr...groookk..." sementara itu Kusno tertidur pulas dengan kepala beralaskan lengan di atas meja.

"Apakah kau hendak makan...?...Aku masih ada ayam bakar..." tanya Tukul.

"Tidak usah...aku sudah makan....ini saja sudah cukup..." jawab Wiji sambil meraih kacang rebus yang masih mengepulkan asap.

"Sudah tenang hidup jadi petani...kenapa kembali kemari?" tanya Tukul penasaran. Wiji dan Tukul memang sudah lama kenal.

Wiji menarik nafas panjang, sebenarnya dia memang sudah tidak mau lagi hidup dalam dunia kekerasan.

"Terpaksa...ada bahaya yang mengincar kami dan Juragan Arya...mau tidak mau..." ujarnya pelan dengan mata menerawang.

Tukul tidak bertanya lebih jauh dan memilih diam.

"Tukul...dalam beberapa hari ke belakang...kau pernah kedatangan tamu asing, sepasang pemuda dan pemudi?" tanya Wiji.

Tukul mengerenyitkan dahinya, mencoba mengingat-ingat.

"Seingatku tidak ada...ya...tidak ada.." jawab Tukul.

"Coba kau ingat-ingat lagi...siapa tahu kau lupa...maklum kau kan sudah tua bangka...ha...ha..." Wiji terbahak sambil mengusap-usap janggutnya.

"Kau pun sudah tua bangka Wiji...ha...ha...kedaiku ini tidak terlalu ramai...hanya orang-orang yang kenal saja yang makan disini. Kalau ada orang asing...aku pasti akan tahu" Tukul meyakinkan Wiji.

"Kau tahu Tukul...sebenarnya aku tidak terlalu risau dengan apa yang akan terjadi...hanya saja aku tidak enak dengan Juragan Arya Jumadi yang sudah sangat banyak membantu kehidupan keluargaku..." ujar Wiji sambil sesekali mengupas kulit kacang.

"Wiji...kehidupan kalian itu memang tidak akan pernah jauh dari bahaya...kaupun pasti sadar itu" Tukul seperti mengingatkan Wiji.

"Aku tahu...kami hidup mengandalkan golok maka tidak aneh jika akan mati di ujung golok pula...itulah kehidupan...ada sebab...ada akibat" suara Wiji pelan seperti mengandung penyesalan.

Wiji bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu kedai lalu berdiri mengawasi keadaan di luar kedai. Matanya yang mulai kuyu dimakan usia mengawasi orang yang lalu lalang menuju dan kembali dari palabuhan. 

"Mungkin Saksena tidak pernah pergi ke palabuhan...aku yakin setelah membunuh Barna dia pasti langsung menuju ke rumah Juragan Arya Jumadi" batinnya.

"Seandainya aku bisa mencegat Saksena di rumahku....Barna pasti masih hidup" Wiji menepuk jidatnya sendiri.

Wiji membalikkan badannya kembali ke dalam kedai, diliriknya Kusno yang masih tertidur pulas.

"Kusno...bangun...kita harus mencari pemuda itu lagi...aku khawatir dia menuju ke rumah Juragan Arya Jumadi" ujarnya sambil menepuk bahu Kusno.

"Heuuuhhh...aku masih ngantuk...ada apa?" tanya Kusno sambil membuka matanya setengah namun tidak beranjak dari posisi tidurnya.

"Lebih baik kita sekarang menuju ke rumah Juragan Arya Jumadi, aku yakin pemuda itu sedang berada di sekitar sana" ujar Wiji.

"Aaahh...tidak mungkin, mana berani dia masuk sarang harimau...kita cari di sekitar palabuhan saja..." jawab Kusno lalu kembali menutup matanya, meneruskan tidurnya yang terganggu.

Wiji menarik nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tukul...aku pergi dulu, tolong kau kasih tahu Kusno agar menyusul ke rumah Juragan Arya Jumadi"  Wiji menitip pesan kepada Tukul.

"Lebih baik kalian pergi bersama-sama...kau tunggu saja lah sampai Kusno bangun dari tidurnya" jawab Tukul mengingatkan.

"Aku tidak bisa menunggu berdiam diri...sudahlah...aku pergi...tolong kau sampaikan pesanku tadi" ujar Wiji sambil menyodorkan satu keping uang perak.

"Wiji...ini terlalu banyak...lagipula kau tidak makan...tidak usahlah kau bayar.." Tukul menolak pemberian uang dari Wiji.

"Sudahlah...kau terima saja...sekarang aku sudah jadi orangkaya...ha..ha..." desak Wiji sambil terbahak.

"Baiklah...terima kasih Wiji...hati-hati..." ujar Tukul sambil menyambut kepingan uang perak dari Wiji.

"Jangan lupa kau sampaikan pesanku kepada Kusno..." Wiji berlalu meninggalkan kedai milik Tukul hendak melanjutkan menyusuri jejak Yuchi Saksena yang diyakininya sudah berada di sekitar rumah Juragan Arya Jumadi.

#

"Kakang kenapa kita malah menjauhi rumah Arya Jumadi?...lebih baik kita langsung serbu saja...aku sudah tidak sabar..." oceh Dewi Sekarasih sambil mengikuti langkah Yuchi Saksena. 

Mereka berdua berjalan cepat di balik lebatnya pepohonan searah dengan jalan besar menuju ke arah palabuhan.

Yuchi Saksena tidak menjawab malah mempercepat langkahnya, setengah berlari meninggalkan Dewi Sekarasih yang susah payah mengejarnya.

"Kakang...tunggu..." pekik Dewi Sekarasih kesal.

Yuchi Saksena meneruskan langkahnya tanpa mempedulikan Dewi Sekarasih, di sudut bibirnya mengembang senyum. Dirinya sengaja berjalan cepat untuk melatih ginkang (ilmu meringankan tubuh) milik Dewi Sekarasih. Sementara itu Dewi Sekarasih yang tidak menyadari sedang dilatih oleh Yuchi Saksena, mencak-mencak kesal. Mulutnya tidak berhenti mengomeli Yuchi Saksena.

"Kakang...jangan terlalu cepat...tubuhku lemas karena belum makan dari pagi...Kakang...tunggu...!" rutuk Dewi Sekarasih.

Yuchi Saksena membelokkan langkahnya ke arah jalan besar dan menuju ke sebuah bangunan kedai tidak jauh dari pinggir jalan. Yuchi Saksena menghentikan langkahnya di depan kedai menunggu Dewi Sekarasih yang berjalan di belakangnya.

"Haahh...huuuu...Kakang...aku lapar...haus...badanku lemas sekali...hah..huh..." ujar Dewi Sekarasih tersengal-sengal sambil memegangi perutnya.

"Aku juga lapar...makanya aku berjalan cepat-cepat sekalian mencari kedai..." Yuchi Saksena sambil tersenyum.

"Ayo...kita makan..." sambungnya sambil berjalan memasuki kedai diikuti oleh Dewi Sekarasih.

"Sampurasun...." Yuchi Saksena mengucapkan salam.

"Rampess....." terdengar jawaban dari dalam kedai kemudian muncul seorang laki-laki tua dari arah dapur.

"Aiihhh...silakan...silakan...Cah Bagus...Cah Ayu..." ujar laki-laki tersebut yang ternyata adalah Tukul.

Yuchi Saksena melepaskan caping bambunya lalu duduk di depan sebuah meja diikuti oleh Dewi Sekarasih.

Tidak jauh dari mejanya, terlihat seorang laki-laki sedang tidur pulas beralaskan lengan. Sesekali terdengar mendengkur.

"Maaf Cah Bagus...hanya tersisa nasi dan ayam bakar saja...makanan lain sudah habis" ujar Tukul sambilmembungkukkan badannya dengan sopan ke arah Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

"Tidak apa-apa...sekalian aku minta air minum yang dingin..." jawab Dewi Sekarasih sambil mengipas-ngipaskan caping bambunya ke badannya. Wajahnya yang putih terlihat memerah kepanasan namun justru malah menambah kecantikannya.

"Mamang...sajikan saja yang ada..." timpal Yuchi Saksena sambil melirik Dewi Sekarasih yang kepanasan.

"Baik Cah Bagus...tolong tunggu sebentar..." jawab Tukul sambil berbalik menuju ke dapur.

"Apakah muda-mudi ini yang dicari oleh Wiji dan Kusno?...ah sayang, Wiji sudah pergi sedangkan Kusno malah molor" batin Tukul teringat ucapaan Wiji yang sedang mencari sepasang muda-mudi.

Sambi menyiapkan nasi dan ayam bakar, diam-diam Tukul mengawasi ke arah Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

"Ah...mana mungkin mereka yang dicari oleh Wiji, walaupun pakaian dan senjatanya menunjukkan kalau mereka adalah jawara...tidak mungkin tua bangka seperti Wiji ada silang sengketa dengan mereka" Tukul bimbang, apakah harus membangunkan Kusno atau tidak.

Dengan hati-hati dibawanya sekendi penuh air dingin, cangkir dan bakul nasi yang masih mengepul panas.

"Silakan Agan...sebentar saya ambilkan piring dan lauknya..." ujar Tukul sambil meletakkan kendi dan cangkir lalu bakul nasi di atas meja di depan Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

Yuchi Saksena meraih kendi dan menuangkan isinya ke dalam satu cangkir lalu disodorkannya cangkir tersebut ke Dewi Sekarasih. Diperlakukan begitu manis, wajah Dewi Sekarasih merona merah, cuping hidungnya yang bangir kembang kempis. Sepanjang perjalanan, sejak dari perahu di sungai Cisanggarung, hanya beberapa kali saja Yuchi Saksena berlaku sedemikian manis kepadanya.

"Kakang...aku jadi malu..." ujar Dewi Sekarasih manja sambil menyambut cangkir yang disodorkan oleh Yuchi Saksena.

Tak lama kemudian Tukul datang kembali membawa dua buah piring dan satu nampan besar berisi dua ekor ayam bakar.

"Silakan..." ujar Tukul sopan lalu kembali ke arah dapur lalu duduk di atas sebuah kursi sambil mengawasi ke arah Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

"Pasangan muda yang serasi...yang laki-laki tampan dan gagah sedangkan yang perempuan sangat cantik..." batin Tukul sambil diam-diam tersenyum melihat kemesraan pasangan tersebut.

Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih menyantap makanan yang dihidangkan oleh Tukul dengan lahap. Perut mereka sejak semalam memang belum diisi sama sekali.

Tukul kemudian menyiapkan satu sisir pisang yang sudah matang lalu mengantarkannya ke meja Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

"Silakan..." ujar Tukul ramah.

"Haaah...Mamang...ayam bakarnya enak luar biasa...aku kenyang sekali" ujar Dewi Sekarasih tersenyum senang.

"Mau tambah lagi Cah Ayu?" tanya Tukul kepada Dewi Sekarasih.

"Tidak...tidak...perutku sudah penuh...terima kasih Mamang..." jawab Dewi Sekarasih.

"Huuuuahhhh...tidurku enak sekali..." tiba-tiba laki-laki yang sejak tadi tertidur di atas meja terbangun sambil menggosok-gosok kedua matanya.

Laki-laki tersebut yang tidak lain adalah Kusno, meraih kendi yang ada di mejanya lalu ditenggaknya. Hampir satu kendi tandas ke dalam perutnya. Kemudian kepalanya melirik ke kiri dan ke kanan seperti sedang mencari sesuatu atu seseorang.

Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih sekilas meliriknya acuh tidak acuh. Sementara Tukul terlihat sedikit gugup, dia khawatir Kusno akan melabrak pasangan muda tersebut. Entah kenapa Tukul merasa tidak tega jika Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih disakiti.

"Wiji...Wiji..." teriaknya memanggil Wiji.

Tukul bergegas menghampiri meja Kusno.

"Wiji sudah pergi...tadi dia berpesan agar kau menyusulnya ke rumah Juragan Arya Jumadi" ujar Tukul menyampaikan pesan dari Wiji.

Mendengar Tukul menyebut nama Juragan Arya Jumadi, serentak Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih saling berpandangan lalu hampir bersamaan keduanya memalingkan wajahnya memandang ke arah Kusno.

"Tua bangka keras kepala...sudah kubilang tidak mungkin anak muda itu..." ucapan Kusno terhenti saat pandangannya tertumbuk pada Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih yang sedang memandangi mereka dengan pandangan menyelidik. 

Dipandangi seperti itu Kusno bangkit dari duduknya lalu menghampiri meja Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih. Tukul yang merasa akan terjadi keributan segera menyingkir ke arah dapur.

"Aih...aih...apakah aku masih bermimpi? tidak menyangka akan dkirim bidadari dari kahyangan...sungguh beruntung diriku" ujarnya sambil memandangi Dewi Sekarasih dengan pandangan yang mesum.

Kusno teringat akan ciri-ciri pemuda bernama Saksena dan pasangannya yang diceritakan oleh Wiji.

"Hmm...pucuk dicinta ulam tiba..." batin Kusno.

Mata Dewi Sekarasih meliriknya tajam.

"Ah...rupanya ada kebo baru bangun dari tidurnya..." ujar Dewi Sekarasih sambil tersenyum sinis. Dirinya memang palng tidak suka jika ada laki-laki yang menggodanya dengan kurang ajar.

"Ha...ha...selain cantik...kau juga galak rupanya...aku suka sekali, perempuan galak sepertimu..." Kusno makin menjadi-jadi, tangannya berniat akan menjawil dagu Dewi Sekarasih namun dengan cepat Yuchi Saksena menepis tangan itu.

"Plaakk..." tangan Kusno terpental.

Kusno kaget bukan kepalang, tangannya terasa panas dan kesemutan. Amarahnya langsung muntab.

"Keparat...kalian berani menantangku...?" bentaknya kepada Yuchi Saksena.

"Maaf Kisanak...kami berdua tidak ada urusan dengan Kisanak...kami akan segera pergi" ujar Yuchi Saksena sambil mengambil caping bambu dari atas meja dan memasangkan dikepalanya lalu bangkit dari duduknya diikuti oleh Dewi Sekarasih.

Kusno marah bukan main, tangannya menggebrak meja. Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih mundur dua langkah ke belakang. Yuchi Saksena memberi tanda kepada Dewi Sekarasih agar keluar dari kedai.

"Bruuukkkk...." meja tersebut hancur berantakan.

"Tidak semudah itu keparat...kau harus menyerahkan nyawamu sedangkan kekasihmu itu harus menjadi milikku" bentak Kusno.

Yuchi Saksena tersenyum dingin.

"Kau tunggulah di luar...jangan merusak tempat dagang orang lain..." ujarnya lalu melirik ke arah Tukul yang berdiri mematung di depan dapur.

"Mamang...kemarilah, aku hendak membayar makanan sekalian meja yang dirusak kebo ini" sambungnya mengejek Kusno.

Dengan tergopoh-gopoh Tukul menghampiri Yuchi Saksena.

"Terimalah...sekalian mengganti kerusakan..." ujar Yuchi Saksena sambil menyodorkan dua keping uang perak yang segera disambut oleh Tukul.

"Terima kasih...terima kasih.." ujarnya pelan.

Sementara Dewi Sekarasih dengan tenang mengenakan caping bambunya lalu melangkah ke luar kedai tanpa mempedulikan Kusno. Kusno yang sudah yakin dengan ciri-ciri pemuda bernama Saksena yang disebutkan oleh Wiji, semakin muntab diremehkan seperti itu. Dendam atas kematian Barna telah membakar hatinya, namun Kusno tidak mau berlaku ceroboh.

"Cah Bagus...hati-hati..." bisik Tukul memperingatkan Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena membalasnya dengan senyuman lalu menyusul Dewi Sekarasih dan Kusno ke luar kedai. Halaman kedai itu cukup luas, Dewi Sekarasih berdiri tegak dengan senyuman mengejek dan merendahkan Kusno.

Baca juga : Rahiang Sanjaya #3

====

Sudah dua hari Arya Seta memacu kudanya menyusuri jalan yang cukup besar menuju ke Palabuhan Caruban untuk menyusul ibunya yang sudah leih dulu berangkat. Hatinya sakit bukan main, niat hatinya yang bermaksud untuk menyelamatkan ayah dan ibunya ternyata mendapatkan tanggapan yang sangat menyakitkan dari ayahnya, Arya Jumadi.

"Aku bukan pengecut...aku bukan pengecut..." teriaknya dengan air mata yang mulai mengembang di kedua sudut matanya.

Sejak kecil, Arya Seta memang selalu dipandang sebelah mata oleh ayahnya. Hal ini dikarenakan sifat keduanya yang bertolak belakang, Arya Jumadi berangasan dan juga bengis, selalu menindas siapapun yang tidak mau menuruti kehendaknya. Sedangkan Arya Seta, lebih menuruni sifat ibunya yang lemah lembut dan baik hati. Oleh karena itu, sejak remaja Arya Suta memutuskanuntuk berdagang sendiri, tidak mau bergabung dengan ayahnya. Arya Suta berkelana ke pedalaman mencari rempah-rempah dari petani langsung dan membelinya dengan harga yang wajar. Karena cara berdagangnya yang jujur membuat Arya Suta cukup dikenal diantara saudagar-saudagar dari Palabuhan Kalapa.

Pikiran dan hati Arya Suta benar-benar kalut sehingga tidak menyadari kalau didepannya terlihat tiga orang laki-laki berpakaian hitam mencegatnya di tengah jalan. Arya Suta tersentak dan menarik kekang kudanya dengan tiba-tiba. Kudanya mengangkat kakinya sambil meringkik keras, debu-debu berterbangan menerpa ketiga orang tersebut.

"Kisanak...minta maaf aku tidak melihat kalian..." ujar Arya Suta sopan.

Ketiga laki-laki tersebut menyeringai sambil mengibaskan tangannya menepis debu-debu yang menerpa wajah mereka. Bahkan salah seorang dari mereka sampai terbatuk-batuk, namun tidak sedikit pun mereka bergeser dari tempatnya berdiri.

Arya Suta menenangkan kudanya yang sedikit beringas karena kaget.

"Kau memang bocah tidak tahu adat...cepat kau turun!!!" bentak salah satu dari mereka yang berdiri ditengah dan berperawakan tinggi besar berusia sekitar tigapuluh tahun. Wajahnya kasar dengan kumis yang melintang di atas bibirnya.

Setelah kudanya tenang, Arya Suta melompat turun lalu membungkukkan badannya ke ketiga laki-laki tersebut.

"Aiih...Kisanak, aku benar-benar minta maaf...aku benar-benar ceroboh sehingga tidak melhat kalian..." Arya Suta mengulangi permintaan maafnya.

"Masak cuma minta maaf?...setelah kau hampir membunuh kami bertiga...kau harus membayar denda...!" sengak laki-laki yang berdiri di samping kanan laki-laki bertubuh tinggi besar tersebut.

Arya Suta menarik nafas panjang, dirinya sudah sering menghadapi orang-orang seperti mereka yang selalu mengganggu di jalanan. Saat mengirim rempah-rempah dari pedalaman menuju pelabuhan, orang-orang seperti mereka selalu muncul di tengah-tengah perjalanan.

"Baiklah...mau kalian apa?" Arya Suta sudah tidak berminat lagi berbasa-basi.

"Ha...ha...dia bertanya mau kita apa?..." laki-laki berkumis baplang itu tergelak, kedua temannya bergerak melingkar mengurung Arya Suta.

Arya Suta sudah bisa menebak apa yang akan terjadi, ditepuk-tepuknya leher kuda kesayangannya.

"Hush..hush...kau carilah makan dulu..." ujarnya, kudanyapun seolah mengerti yang dikatakan oleh tuannya, lalu melangkah masuk ke hutan yang ada dipinggir jalan.

"Aku sedang diburu waktu...cepat katakan mau apa kalian?" Arya Suta tidak sabar.

"Mau kami adalah...kau serahkan semua harta benda dan kuda milikmu...setelah itu kau bebas pergi" ujar laki-laki berkumis baplang lagi. Sementara kedua temannya tidak bicara hanya mengawasi ke arah Arya Suta dengan tajam.

"Mana bisa begitu?" dengus Arya Suta kesal.

"Tapi baiklah...karena aku sedang terburu-buru, aku akan memberi kalian lima keping uang perak...setelah itu minggatlah!" sambungnya sambil merogoh ke balik bajunya. Arya Suta tidak mau berlama-lamu karena khawatir dengan keadaan ibundanya di Palabuhan Caruban.

"Fuiiiihhhh....kau menghina kami dengan lima keping uang perak!!!" sergah laki-laki berkulit hitam sambil meludah.

"Baiklah...kalian minta berapa?...kalau aku sanggup pasti aku berikan..." Arya Suta tidak mau berpanjang-panjang.

"Aku mau semua uangmu dan juga kuda itu" sergah laki-laki berkumis baplang sambil tersenyum sinis.

Arya Suta akhirnya muntab juga mendengar mereka meminta kuda miliknya.

"Sudahlah...kalian hanya membuang waktuku saja. Lebih baik kalian minggir sebelum menyesal..!!!" ujar Arya Suta keras.

"Ha...ha...besar mulut juga rupanya!...kau yang akan menyesal anak muda...Tisna...Ulung...serang dan jangan kasih ampun...bunuh saja!!!" si kumis baplang memerintahkan kedua temannya agar menyerang Arya Suta.

Kedua temannya yang bernama Tisna dan Ulung bergerak cepat menerjang ke arah Arya Suta.

"Ciiiaaatttt......!!!"

"Hiiiiyaaa.....!!!"

Keduanya menyerang hampir bersamaan dari arah yang berbeda. Arya Suta memiringkan badannya menghindari datangnya pukulan tangan kanan Tisna namun tiba-tiba dari arah kiri meluncur kaki Ulung yang mengincar perutnya. Mau tidak mau Arya Suta harus membuang badannya ke belakang.

"Upppsss...." Arya Suta memekik pendek saat kaki Ulung hampir menyambar perutnya.

"Ha...ha...anak muda, apakah kau masih mau keras kepala atau menyerah?" si kumis baplang tergelak sambil mengawasi pertempuran itu.

Arya Suta tidak menjawab, dipasangnya kuda-kuda bersiap menyambut serangan Tisna dan Ulung.

"Hiyaaa....!!!"

"Ciiaatt....!!!"

Tisna dan Ulung kembali menyerang, tendangan dan pukulan datang bergelombang. Arya Suta cukup kerepotan untuk menghadapinya sehingga beberapa kali harus beberapa kali melompat tinggi dan menjatuhkan tubuhnya ke tanah.

"Sialan...rupanya jurus mereka memang berpasangan dan saling mengisi...aku harus segera menjatuhkan salah satunya..." batin Arya Suta.

Arya Suta mengalirkan setengah tenaga dalamnya ke tangan kanan dan kirinya lalu berbalik menyerang.

"Ciiiiaaaattttt...."

Suara Arya Suta terdengar keras dan menggetarkan. Kedua tangannya bergerak cepat menyerang ke arah Ulung sambil menghindari serangan-serangan yang datag dari Tisna.

Ulung yang sebelumnya dalam posisi menyerang berbalik kerepotan menerima serangan dari Arya Suta.

"Bukkk....arghhhh..." Ulung terpekik kaget sangat tangannya berbenturan dengan tangan Arya Suta. Tangannya terasa panas dan kesemutan.

Belum hilang rasa kagetnya, kepalan tangan kanan Arya Suta menghajar dadanya dengan telak.

"Bukkkk....heug..."

Ulung terjajar ke belakang sambil memegang dadanya yang terasa sesak dan sakit.

"Bajingan...mengurus bocah ingusan saja tidak bisa" dengus si kumis baplang sambil menghunus golok panjangnya lalu merangsek menyerang Arya Suta.

Melihat si kumis baplang sudah menyerang dengan golok, Tisna pun menghunus goloknya dan ikut menyerang. Sementara Ulung memilih untuk mengatur pernafasannya dan duduk bersila.

"Ah...kenapa urusan menjadi kapiran seperti ini" rutuk Arya Suta sambil menghunus golok tipisnya.

Pertempuran seru kembali terjadi, kilatan sinar golok datang silh berganti menyerang Arya Suta. Walaupun dikeroyok oleh dua orang, Arya Suta masih bisa mengimbangi bahkan sesekali berhasil mendesak Tisna. Bahkan di jurus ketigapuluh, goloknya berhasil melukai betis Tisna.

"Sreetttt....aduuuh..." Tisna menjerit sambil melompat mundur sambil memegangi betisnya yang mulai mengucurkan darah. Dengan panik, Tisna merobek lengan bajunya dan membebatkannya ke betisnya.

"Bocah tengik...makan ini!!!" si kumis baplang murka melihat Tisna terluka.

"Trang...trang...."

Arya Suta menangkis golok si kumis baplang yang menyasar ke arah lehernya. Si kumis baplang terjajar sambil menahan tangannya yang kesemutan. Sementara itu Ulung yang kembali pulih menerjang masuk ke arena pertempuran. Pertempuran kembali berjalan seru, Tisna setelah membebat betisnya kembali menyerang Arya Suta, rasa marah membuat serangannya lebih buas dan berbahaya. Ketiganya menghujani Arya Suta dengan sabetan dan tebasan golok secara bergantian dan tidak memberi nafas kepada Arya Suta.

"Sreett....ughhh..." Arya Suta terpekik kaget ketika golong milik Ulung berhasil menggores tangan kirinya. Arya Suta melompat lalu bersalto mundur.

"Ha...ha...mau lari kemana kau...?!" Tisna terbahak sambil memutar-mutarkan goloknya.

"Sialan...aku tidak mungkin bisa mengalahkan mereka secara bersamaan...lebih baik aku menyelamatkan diri" batin Arya Suta sambil diam-diam matanya mencari kuda tunggangannya.

Namun rupanya si kumis baplang sudah bisa membaca maksud Arya Suta.

"Kau tidak akan bisa kabur...bocah tengik!...kau sudah menumpahkan darah maka nyawamu adalah tebusannya...ha...ha..." si kumis baplang tergelak melihat Arya Suta yang mulai ciut nyalinya.

"Sugo...jangan banyak bicara...kita segera habisi bocah ini" seru Tisna kepada si kumis baplang sambil kembali menerjang.

"Hiyyyaaa...."

Tidak menunggu lama, si kumis baplang yang bernama Sugo dan Ulung kembali ikut menyerang. Pertempuran kembali pecah, Arya Suta benar-benar terdesak. Tenaga dan nafasnya mulai habis.

"Argggghhhh..." Arya Suta menjerit kesakitan ketika golok Sugo merobek baju dan menggores punggungnya. Darah mulai mengucur dari lukanya, rasa kaget dan sakit membuat gerakannya semakin lambat.

"Eughhhh..." Arya Suta menjerit setinggi langit ketika golok Ulung membacok pahanya.

Arya Suta terjatuh sambil memegangi pahanya yang robek menganga dan mengucurkan darah segar. Goloknya lepas dari tangannya. Melihat Arya Suta jatuh tersungkur, Tisna tidak menyia-nyiakan kesempatan.

"Buuukkk...." kaki kanan Tisna menghajar rahang Arya Suta.

Arya Suta terbanting ke tanah...pandangannya kabur...lalu gelap!

Baca juga : Leuweung Sancang "Menghilang" Tanpa Bekas #1