HANTU PENCABUT NYAWA



Dewi Sekarasih terpekik kaget menyaksikan Minah melakukan bunuh diri dengan menusuk dadanya sendiri menggunakan pisau kecil. Bahkan saat sekarat, Minah mencoba merangkak untuk mendekati Yuchi Saksena dan memohon maaf.

"Kakang...apa sebenarnya yang terjadi?...siapa sebenarnya perempuan itu?" tanya Dewi Sekarasih dengan suara bergetar.

Yuchi Saksena menarik nafas panjang.

"Perempuan itu adalah pelayan kepercayaan ibundaku...saat kejadian pembunuhan kedua orangtuaku, dia menghilang. Tidak kusangka akan menemuinya di tempat ini" jawab Yuchi Saksena lalu menghampiri tubuh Barna yang masih tergolek pingsan.

"Tikus kecil...tolong aku carikan tali di dalam rumah itu untuk mengikat bajingan ini.." sambungnya sambil menyeret tubuh Barna mendekati tiang penyangga rumah.

"Baik Kakang..." jawab Dewi Sekarasih tidak membuang waktu lagi dengan sebat melayang menerobos melalui jendela yang terbuka masuk ke dalam rumah.

Tak lama berselang, Dewi Sekarasih melompat keluar sambil menjinjing seutas tali terbuat dari anyaman ijuk. Dengan tidak mengucapkan sepatah katapun, Dewi Sekarasih menyodorkan tali ijuk tersebut ke arah Yuchi Saksena.

"Terima kasih..." ujar Yuchi Saksena pelan.

Yuchi Saksena mengangkat dan menyandarkan tubuh Barna di salah satu tiang rumah lalu diikatnya tangan dan kakinya di satukan dengan tiang tersebut.

"Tikus kecil...kau beristirahatlah di dalam rumah...aku akan menguburkan Minah..." ujar Yuchi Saksena kepada Dewi Sekarasih.

"Kita harus mengorek keterangan dari laki-laki itu...aku yakin mereka berhubungan dengan pembunuhan ayah dan ibuku" sambungnya sambil menghampiri jasad Minah. Dengan entengnya dipanggul dan melompat dengan sebat ke arah hutan sambil memanggul jasad Minah.

Dewi Sekarasih hanya mengangguk lemah lalu melangkah menaiki anak tangga rumah milik Barna. Namun langkahnya terhenti ketika terdengar suara Barna yang merintih kesakitan.

"Egh....aduh...Minah...Minah...di mana kau?" suara Barna lemah memanggil Minah.

Dewi Sekarasih melangkah mendekati Barna yang terikat di tiang. Sambil tersenyum merendahkan Dewi Sekarasih berkata,

"Hmmm...muka dandang...sudah sadar kau rupanya..?" 

Barna memandang ke arah Dewi Sekarasih dengan wajah penuh kemarahan dan dendam.

"Perempuan sundal...lepaskan aku...kita bertarung sampai mati!!!" maki Barna begitu melihat kedatangan Dewi Sekarasih.

"Hi...hi...besar juga nyalimu...sayang kemampuan silatmu tidak ada apa-apanya..." Dewi Sekarasih terkikik.

"Keparat lepaskan aku...aku akan mengadu nyawa denganmu!!!" sergah Barna sambil mencoba melepaskan ikatan di tubuhnya.

"Minah...Minah...bantu aku..." sambungnya memanggil Minah.

"Ssttt...jangan keras-keras...Minah sedang asyik-asyikan dengan kakakku di atas...hi...hi..." bisik Dewi Sekarasih sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir.

"Keparat...perempuan sundal...Minah...Minah...!!!" Barna semakin kalap.

"Plakk...." telapak tangan Dewi Sekarasih melayang menampar pipi Barna.

"Muka dandang...sudah kubilang diam...kakakku paling tidak suka diganggu kalau sedang asyik-asyikan dengan perempuan" bentaknya keras.

"Aduuuh...keparat...pfuuiiih..." Barna mengaduh kesakitan lalu kembali memaki dengan sorot mata penuh kebencian kepada Dewi Sekarasih.

"Minah sudah tidak peduli denganmu...kau dengar...suara desahan mereka?...aku saja sampai malu mendengarnya...." Dewi Sekarasih sambil meletakkan sebelah tangannya di samping telinganya, bertingkah seperti sedang mendengarkan sesuatu.

Barna benar-benar muntab, mendengar Minah sedang berasyik masyuk dengan laki-laki lain.

"Dasar pelacur...Minah...akan ku bunuh kau....!!!" teriak Barna kalap.

"Hi...hi...Minah perempuan pintar...dia tahu siapa yang bisa menyelamatkannya...sementara kau ini hanya tinggal menunggu mati..." Dewi Sekarasih terus memancing emosi Barna.

"Minah...perempuan tidak tahu diri...seharusnya aku membunuhmu saat di Palabuhan Kalapa...menyesal aku membawamu!!!" Barna terus memaki-maki Minah.

Dewi Sekarasih tersenyum penuh arti, otaknya yang cerdas berhasil memancing informasi yang sangat penting dari mulut Barna.

"Hi...hi...malang sekali nasibmu...muka dandang..." ledek Dewi Sekarasih lalu kakinya berputar cepat menghantam rahang Barna.

"Buuuukkkk...."

Tanpa sempat bersuara...Barna terkulai...pingsan!

Dewi Sekarasih memutuskan untuk menunggu Yuchi Saksena di kolong rumah, selain khawatir Barna siuman dan juga untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Tak terlalu lama menunggu Yuchi Saksena datang setelah menguburkan mayat Minah.

"Ah...Kakang, kau sudah datang rupanya..." seru Dewi Sekarasih bangkit dari duduknya lalu menghambur ke arah Yuchi Saksena.

"Tikus kecil...bagaimana keadaan bajingan itu?..apakah sudah siuman?" tanya Yuchi Saksena sambil menunjuk ke arah Barna yang masih terikat di tiang rumah.

"Sudah Kakang....tadi sudah siuman, lalu....." Dewi Sekarasih menjelaskan kejadian yang terjadi.

Mendengar cerita Dewi Sekarasih yang menyebut dirinya sedang berasyik masyuk dengan Minah, Yuchi Saksena terlihat kesal.

"Kau ini...keterlaluan..." sergah Yuchi Saksena  kesal sambil menepuk pelan lengan Dewi Sekarasih.

"Jangan marah Kakang...aku sengaja memancingnya...buktinya sekarang kita tahu kalau Minah pergi dari Palabuhan Kalapa bersama bajingan itu..." ujar Dewi Sekarasih sambil tersenyum bangga.

"Kau memang licik tikus kecil..." Yuchi Saksena tersenyum tipis.

#

Hari semakin gelap menjelang malam, Yuchi Saksena menyalakan perapian di halaman rumah. Sementara Dewi Sekarasih menyiapkan makanan malam yang diperolehnya dari dalam rumah milik Barna.

"Kakang...lihat..." seru Dewi Sekarasih menuruni tangga rumah sambil membawa dua bakul berisi makanan.

"Daging kering ini lebih baik dibakar lagi...supaya lebih nikmat..." sambungnya sambil menyerahkan sebakul penuh berisi daging kering kepada Yuchi Saksena.

Bau daging bakar tercium ke seantero tempat tersebut, Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih lahap menyantapnya ditemani nasi pulen yang walaupun sudah dingin tapi tetap terasa nikmat.

Hidung Barna bergerak-gerak mencium aroma yang menggugah selera, matanya pelan-pelan terbuka.

"Keparat...!" maki Barna melihat Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih sedang makan dengan nikmat.

"Aiiihh...muka dandang...sudah siuman rupanya...kenapa..kau lapar juga?" tanya Dewi Sekarasih sambil menghampiri ke arah Barna dengan piring tanah di tangan.

"Coba kau cium baunya...pintar juga Minah membuat daging kering..." ledek Dewi Sekarasih sambil menyodorkan piring tanahnya ke hidung Barna.

"Perempuan sundal...cepat lepaskan aku..." sembur Barna muntab.

"Sudahlah...jangan kau ganggu dia, lebih baik kau antar makanan ke atas. Minah pasti sudah kelaparan..." ujar Yuchi Saksena memancing Barna.

"Aiihhh...maaf aku lupa Kakang...tentunya Minah lapar habis bercumbu mesra denganmu...hi..hi..." Dewi Sekarasih terkikik sambil mengerling ke arah Barna yang mukanya sudah tidak karuan. Antara sakit...marah...dan juga cemburu.

"Bajingan...keparat...kalian benar-benar tidak tahu adat! Aku bersumpah akan membunuh kalian semua....!!!" Barna benar-benar muntab.

"Nyalimu besar juga...sudah hampir mati masih bisa berkoar..." Yuchi Saksena bangkit dari duduknya lalu menghampiri Barna.

Barna melotot memandang Yuchi Saksena dengan pandangan nyalang.

"Pengecut...lepaskan aku sekarang...kita bertarung secara laki-laki...!!! semburnya muntab.

"Ck...ck...luar biasa nyalimu ini...tidak heran kau menjadi kepercayaan Arya Jumadi" pancing Yuchi Saksena sambil mengusap pipi Barna yang berlumuran darah.

Barna melengak kaget mendengar ucapan Yuchi Saksena.

"Siapa kau sebenarnya? Apa hubunganmu dengan Juragan Arya Jumadi?" bentak Barna.

Yuchi Saksena mendekatkan wajahnya ke wajah Barna lalu berbisik.

"Aku adalah hantu pencabut nyawa dari Palabuhan Kalapa..."

Wajah Barna mendadak pucat, matanya melotot melihat ke arah Yuchi Saksena dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Aku tidak takut segala hantu...kau lepaskan ikatanku dan kita bertarung sampai mati...!!!" Barna menekan rasa terkejutnya.

"Hi...hi...mulutmu masih saja besar...sudah tahu maut di ujung mata...masih saja berlagak jagoan..." Dewi Sekarasih terkikik ikut meledek Barna lalu meletakkan piring tanahnya di atas tangga.

"Aku pasti akan membunuhmu...jangan khawatir, permintaanmu akan aku kabulkan" Yuchi Saksena sambil menekan pelan rusuk Barna yang patah.

"Arrgggghhhhh....." Barna melolong setinggi langi kesakitan.

Yuchi Saksena melepaskan jari tangannya dari rusuk Barna.

Barna meringis kesakitan, kedua matanya basah saking menahan rasa sakit yang luar biasa.

"Bunuh aku...bunuh aku sekarang keparat!!!" suara Barna bergetar.

"Sudah kukatakan...tentu saja aku akan membunuhmu...tapi kau akan menderita..." ujar Yuchi Saksena dengan dingin.

Diam-diam Barna bergidik melihat sorot mata Yuchi Saksena yang dingin.

"Kau akan lebih menderita daripada pasangan Syahbandar yang kau bunuh di Palabuhan Kalapa" desis Yuchi Saksena sambil meremas rahang Barna.

"Arrggghhh...." Barna kembali menjerit kesakitan, rahangnya serasa pecah.

"Si..siapa kau?...Aku tidak mengerti apa maksudmu..." suara Barna bergetar.

Yuchi Saksena tersenyum dingin.

"Sudah kukatakan...aku adalah hantu pencabut nyawa dari Palabuhan Kalapa yang akan menuntut balas atas kematian pasangan syahbandar yang kalian bunuh" desis Yuchi Saksena menggidikkan.

"Syahbandar apa? Aku tidak pernah ke Palabuhan Kalapa...kau pasti salah orang" Barna mencoba berkelit. Pikirannya melayang kepada sepuluh tahun yang lalu saat menjalankan tugas dari Juragan Arya Jumadi untuk membunuh syahbandar Palabuhan Kalapa.

"Siapakah anak muda ini?" batinnya.

"Kau tidak bisa berkelit muka dandang...Minah sudah menceritakan semuanya kepada kakakku..." timpal Dewi Sekarasih.

"Perempuan sundal...bawa kemari perempuan itu...akan kubunuh kau Minah..." seru Barna marah.

"Buat apa menyerahkan Minah kepadamu?...Dia sudah banyak membantu memberikan informasi..." Dewi Sekarasih semakin menjadi memancing amarah Barna.

"Kakang...apa tidak lebih baik, Minah kau jadikan istri ketigamu?" sambungnya kepada Yuchi Saksena.

Wajah Yuchi Saksena berkerut kesal mendengar ucapan Dewi Sekarasih yang semakin melantur.

"Tikus kecil sialan...mengapa harus sejauh itu...dasar..." Yuchi Saksena menggerutu.

Barna benar-benar merasa tersudut dan akhirnya nekat.

"Ha...ha...aku memang membunuh pasangan syahbandar itu...mau apa kau?...aku tidak takut!" bentaknya.

"Dan asal kau tahu...Minah juga terlibat dalam pembunuhan itu...ha...ha...Minah...Minah...dasar kau pengkhianat...sekali pengkhianat tetap pengkhianat...!!!" Barna tergelak dalam keputusasaan dan kemarahannya kepada Minah yang dianggapnya sudah berkhianat.

Wajah Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih berubah mendengar Barna menyebut bahwa Minah terlibat dalam pembunuhan syahbandar Palabuhan Kalapa, yang tak lain adalah orangtua Yuchi Saksena. Keduanya saling pandang namun segera menekan rasa terkejutnya supaya tidak terlihat oleh Barna.

"Hi...hi...jangan harap kau bisa memfitnah Minah...dasar kau laki-laki bejad...setelah menculik Minah bertahun-tahun...sekarang kau memfitnahnya..." maki Dewi Sekarasih sambil mendekati Barna dan tangannya melayang.

"Plaaakkk...." Dewi Sekarasih menggampar Barna.

"Eughhh...pfuuiiih..." Barna menahan sakit, terasa panas dan asin dimulutnya, dua buah giginya tanggal.

"Menculiknya?...kau bilang menculiknya...perempuan sundal itu yang tergila-gila kepadaku...bahkan bersedia meracuni majikannya sendiri agar bisa ikut denganku. Bawa perempuan sundal itu turun...!!!" maki Barna. Rasa sakit dan marah membuatnya tidak sadar kalau dirinya sedang dipancing oleh Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

"Rupanya kau makin melantur muka dandang...." ejek Dewi Sekarasih terus memancing informasi dari mulut Barna.

"Kau pikir mudah membunuh syahbandar dan istrinya?...Mereka mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi...beruntung perempuan sundal itu mau meracuni mereka hingga tidak berdaya...ha..ha.." Barna secara tidak sadar membongkar kejadian pembunuhan pasangan Jaka Saksena dan Yuchi Meiyang (baca : Rahiang Sanjaya #19).

Yuchi Saksena menggigil menahan amarah yang membuncah, wajahnya mengelam merah padam.

"Kalian memang pengecut..." desisnya mendekati Barna dan membuka tali pengikat yang membelit tubuh Barna.

"Kakang...kenapa dilepaskan?" seru Dewi Sekarasih kaget melihat Yuchi Saksena membuka tali ikatan Barna.

"Aku memberimu pilihan...mati bunuh diri atau mati bertempur denganku..." ujar Yuchi Saksena kepada Barna tanpa menghiraukan pertanyaan Dewi Sekarasih.

Begitu ikatan tangannya terlepas, Barna berlaku curang dengan melayangkan kepalan tangan kananya mengarah ke kepala Yuchi Saksena yang sedang berjongkok melepaskan ikatan di kakinya.

"Hiaaa....." Barna mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

"Kakang...awas....!!!" jerit Dewi Sekarasih ngeri.

Baca juga : Rahiang Sanjaya #11

Yuchi Saksena seolah tidak mempedulikan apa yang akan terjadi pada dirinya, tetap melepaskan tali yang mengikat kaki Barna. Semua tali yang mengikat Barna terlepas hampir bersamaan dengan datangnya kepalan tangan Barna yang akan menghantam bagian belakang kepala Yuchi Saksena.

"Heughhh...ughhhh...." mata Barna mendelik seolah tidak percaya, sesaat lagi tangannya akan menghantam kepala belakang Yuchi Saksena, tiba-tiba tangannya terhenti seolah ditahan oleh sebuah dinding tembok yang luar biasa keras.

Barna memaksakan pukulannya dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk mendorong dinding yang menahan pukulannya, namun tetap tidak bisa bergerak. Keringat dingin mulai merembes di dahinya. Yuchi Saksena tetap dalam posisi posisi berjongkok dengan tersenyum tipis.

"Kau adalah orang kedua yang akan mati..." desisnya lalu telapak tangan Yuchi Saksena menepuk tanah yang dipijaknya.

"Bummm.....argghhh....." terdengar suara berdebum yang sangat keras diikuti oleh jeritan mengerikan dari mulut Barna.

Tubuh Barna mencelat menghantam tiang rumah yang terbuat dari pohon kelapa...tulang punggungnya patah lalu menggelosoh ke atas tanah....tidak bernafas lagi.

"Kakang....." seru Dewi Sekarasih kaget sekaligus kagum melihat kehebatan Yuchi Saksena.

====

"Bodoh....apa yang kau lakukan?...jauh-jauh mendatangiku hanya karena mimpi tidak berguna?" damprat Arya Jumadi sambil menggebrak meja di hadapannya, gelas dan piring tanah yang berisi minuman dan makanan mencelat berantakan.

Sementara itu Arya Suta yang duduk dihadapannya hanya memejamkan mata sambil menarik nafas panjang. Sudah diduganya bahwa ayahnya akan bereaksi seperti itu.

"Berani sekali kau mengambil keputusan tanpa persetujuanku!" Arya Jumadi masih muntab sambil menunjuk-nunjuk muka Arya Suta, anaknya sendiri.

"Ampun Ayahanda..maafkan kelancanganku...tapi semua ini untuk keselamatan kita semua" Arya Suta lirih mencoba meredam amarah ayahnya.

"Keselamatan katamu?...siapa yang berani mengganggu keluarga Arya Jumadi?...aku tidak menyangka mempunyai putra yang pengecut seperti dirimu...memalukan!!!" maki Arya Jumadi, seolah lupa yang sedang dimakinya adalah putranya sendiri.

"Ayahanda...aku bukan pengecut..." sergah Arya Suta suaranya meninggi terpancing emosi.

Mata Arya Jumadi mendelik mendengar suara Arya Suta yang sedikit tinggi.

"Kau membawa ibumu melarikan diri dari bahaya yang tidak terlihat?...bahkan bahaya yang kau sendiri tidak tahu bentuknya seperti apa...kau...ah...keparat!" Arya Jumadi seolah kehabisan kata-kata.

Arya Suta menarik nafas panjang dan memutuskan meninggalkan ayahandanya.

"Baiklah Ayahanda...terserah dirimu saja...aku akan pergi menyusul Ambu...aku pamit" ujarnya sambil berdiri.

"Sebentar...kau harus bawa kembali ibumu kembali ke rumah...jangan membuat malu nama Arya Jumadi...!!!" ujar Arya Jumadi sambil menyambar tangan dan menahan Arya Suta.

"Atau...aku sendiri yang akan menyeret ibumu dan kau sendiri pulang ke rumah...." desis Arya Jumadi sambil menatap tajam ke arah mata Arya Suta. Matanya memerah nyalang lalu melepaskan tangan Arya Suta.

Arya Suta tidak menjawab hanya badannya menunduk hormat ke arah Arya Jumadi lalu berbalik meninggalkan ruangan tengah di rumah milik ayahnya.

"Anak tidak tahu adat...pengecut...menyesal aku punya anak sepertimu...!!!" rutuk Arya Jumadi. Hatinya benar-benar geram dan tidak habis pikir kenapa Arya Suta membawa ibundanya mengungsi hanya karena sebuah mimpi buruk.

Arya Jumadi menarik nafas panjang lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Minten...Minten...kemari cepat..." teriaknya memanggil seseorang.

"Iya...Kakang...aku datang..." terdengar suara seorang perempuan dan tak lama dari balik pintu muncul seorang perempuan muda, cantik dan berpakaian amat bagus. Dengan tergopoh-gopoh menghampiri.

Wajah Arya Jumadi mendadak sumringah, ditariknya tangan perempuan tersebut hingga tubuhnya terjatuh ke pangkuannya.

"Aduuh...aduuh...Kakang....takut jatuh..." rengek perempuan tersebut manja.

"Ah...beruntung aku punya istri seperti kau Minten..." ujar Arya Jumadi sambil menciumi leher jenjang perempuan yang usianya jauh lebih muda daripada usia anaknya, Arya Suta.

"Aw...aw...Kakang geli...aduh...pelan-pelan Kakang..." suara Minten mendesah-desah kegelian saat tubuhnya digerayangi tangan Arya Jumadi.

Namun tiba-tiba Arya Jumadi berhenti seolah-olah teringat sesuatu.

"Minten...kau panggil Kusno dan Jarot kemari...setelah itu kau tunggu aku di kamar" perintahnya sambil meremas pinggul Minten yang bulat menantang.

Minten menggelinjang sambil mencubit pelan tangan Arya Jumadi.

"Baik Kakang...tapi jangan lama-lama...aku sudah tidak tahan..." rengeknya genit sambil mengedipkan mata lalu berjalan

Sepeninggal Minten yang tak lain adalah istri mudanya yang terbaru, Arya Jumadi memejamkan matanya.

"Anak bodoh...aku tidak habis fikir dengan kelakuan anak dan istriku...." batinnya masih tetap kesal dengan apa yang dilakukan oleh Arya Suta.

Lamunan Arya Jumadi terhenti ketika terdengar suara yang mendatanginya.

"Ampun Juragan...kami datang menghadap" terdengar suara Kusno dari balik pintu.

"Ya...ya..masuk saja...cepat..." Arya Jumadi tidak sabaran.

Pintu terbuka dan masuklah Kusno diikuti oleh Jarot lalu keduanya menganggukan badannya dengan penuh hormat ke arah Arya Jumadi.

"Aku mau bertanya pada kalian...apakah di luar sana ada berita menyangkut diriku atau keluargaku?" tanya Arya Jumadi sambil menatap keduanya tajam.

Kusno dan Jarot saling berpandangan tidak mengerti.

"Maksud Juragan bagaimana...hamba tidak mengerti..." ujar Kusno pelan.

"Kalau berita tentang Juragan...setiap hari siapa yang tidak membicarakan kehebatan dan kekayaan Juragan..." sambung Jarot.

"Bodoh...bukan itu maksudku!!!" damprat Arya Jumadi kesal.

Kusno dan Jarot mengkerut ketakutan, mereka sangat hapal sifat majikannya yang berangasan dan mudah marah.

"Maksudku apakah ada orang asing atau siapapun yang bertanya-tanya tentangku dan keluargaku...!" sambungnya dengan suara meninggi.

Kusno dan Jarot kembali saling pandang.

"Kalau itu yang Juragan maksud...tidak ada Juragan...tidak ada.." Jarot menjawab dengan pasti.

"Hmmm...sudah kuduga...dasar anak bodoh..." gumam Arya Jumadi masih kesal dengan Arya Suta, anaknya.

"Sudahlah...tapi kalian harus hati-hati dan memasang telinga kalian. Awasi setiap ada pendatang baru...!!" ujar Arya Jumadi.

"Kalian temui juga Barna dan Wiji agar menyirap kabar dan berita...minta mereka lapor kalau ada yang mencurigakan" sambungnya sambil mengibaskan tangan menyuruh Jarot dan Kusno agar pergi.

"Baik Juragan...hamba berdua mohon pamit" ujar Kusno, lalu keduanya menundukkan badan dan berlalu meninggalkan Arya Jumadi.

#

Setibanya di luar rumah, Kusno dan Jarot berjalan berdampingan menuju istal kuda di halaman belakang.

"Jarot...apa maksud Juragan Arya Jumadi agar kita mengawasi jika ada orang asing?" tanya Kusno.

"Entahlah...aku juga tidak paham, hanya saja tadi aku lihat Juragan Arya Suta datang menemuinya..." jawab Jarot.

"Sudah lama...aku tidak mendapat perintah seperti ini..." sambungnya.

"Betul...lebih dari lima tahun kerjaan kita hanya mengawal barang dagangan dan bersenang-senang main perempuan...ha..ha..." Kusno terbahak.

"Sudahlah...yang penting sekarang kita jalankan saja perintah Juragan...aku akan menemui Wiji dan kau temui Barna di rumahnya..." ujar Jarot sambil melepaskan tali kekang kudanya yang terikat pada tihang istal.

Sekali lompat Jarot sudah duduk di atas punggung kudanya.

"Kusno...aku pergi duluan...hiyyyaa..." Jarot memacu kudanya meninggalkan rumah Juragan Arya Jumadi.

Menjelang petang, Jarot tiba di halaman rumah Wiji di kaki Gunung Wangi. Wiji yang baru saja tiba dari ladang menyambut kedatangannya dengan gembira.

"Ah...ah..ah...ada angin apa yang membawamu datang kemari?" tanyanya kepada Jarot.

Jarot melompat turun dari punggung kudanya.

"Apa kabarmu Wiji?...kau kelihatan makin tua?...ha..ha.." Jarot terbahak.

"Kita ngobrol di dalam...sudah lama kau tidak kemari...bahkan di rumah Juragan pun aku tidak pernah bisa menemuimu..." ajak Wiji mengajak Jarot ke dalam rumah.

"Bu'e...tolong siapkan makanan dan minuman...ada sahabat lamaku datang..." teriak Wiji sambil menepuk-nepuk pundak Jarot.

Keduanya duduk berhadapan di ruangan tengah, tak lama istri Wiji datang membawa nampan makanan dan minuman.

"Aih...aih...istrimu makin peot saja....ha...ha.." ujar Jarot terbahak.

Istri Wiji yang sudah hapal dengan tabiat Jarot, hanya tersenyum lalu berlalu meninggalkan mereka berdua.

"Wiji...istrimu ada berapa sekarang?" tanya Jarot penasaran.

Wiji tersenyum.

"Istriku hanya satu...masih yang dulu...belum nambah...he...he..." jawab Wiji.

"Ah...kau ini memang aneh Wiji...memutuskan jadi petani dan sekarang sudah berhasil tapi istrimu tidak nambah...tetap saja tua dan peot..." Jarot menggeleg-gelengkan kepalanya.

"Sudahlah...kau kemari tentu tidak hanya mengunjungiku bukan?" tanya Wiji.

Jarot mengambil cangkir berisi minuman hangat lalu meneguknya sampai tandas.

"Aku membawa perintah Juragan Arya Jumadi..." ujar Jarot pelan sambil menoleh ke kiri dan ke kanan seperti khawatir akan ada yang mendengarnya.

"Perintah?...baru satu purnama kemarin aku bertemu Juragan...perintah apa gerangan?" tanya Wiji penasaran.

"Juragan meminta kita agar mengawasi setiap orang asing yang datang...terutama jika bertanya tentang Juragan atau keluarganya..." jawab Jarot.

"Aneh...sudah lama aku tidak menerima perintah seperti itu..." gumam Wiji sambil mengerenyitkan dahinya.

"Aku juga berpikiran begitu...sepertinya Juragan sangat kahwatir. Apakah ada orang asing yang lewat ke wilayahmu akhir-akhir ini?" tanya Jarot.

Sesaat Wiji terdiam seperti sedang mengingat-ingat.

"Sekitar lima hari yang lalu...ada pasangan pendekar muda dari kulon hendak menuju ke Palabuhan Pamalang...tetapi mereka tidak bertanya-tanya tentang Juragan..." ujar Wiji.

"Ah...siapa nama mereka? bagiamana ciri-cirinya?...apakah kelakuan mereka mencurigakan?" Jarot bertubi-tubi bertanya.

"Hmm...namanya Saksena dan Sekarasih, laki-lakinya sangat tampan berkulit kuning dan perempuannya sangat cantik berkulit putih...usianya mungkin sekitar duapuluhan tahun..." Wiji menjelaskan.

"Berkulit kuning....Saksena" tanpa sadar Jarot mengulang ucapan Wiji.

Serentak keduanya berpandangan.

"Wiji...ingatkah kejadian sepuluh tahun lalu di Palabuhan Sunda, Jaka Saksena?" tanya Jarot dengan suara pelan.

"Tidak mungkin...tidak mungkin...bukankah kita sudah membunuh keduanya" bisik Wiji sambil melirik ke kiri kanan takut ada yang mendengar pembicaraa mereka.

"Kita memang membunuh Jaka Saksena dan istrinya...tapi kita gagal membunuh putranya. Menurut si Minah...putranya bernama Yuchi Saksena, saat itu berumur sepuluh tahun...jadi sekarang sekitar duapuluh tahunan..." suara Jarot bergetar.

Wiji menepuk dahinya saking kesalnya karena tidak menduga kalau tamu yang menginap di rumahnya adalah putra dari pasangan suami istri yang mereka bunuh.

"Bodoh...bodoh...kenapa aku sebodoh ini..." keluh Wiji.

"Jarot...besok pagi kita harus segera melapor kepada Juragan Arya Jumadi" sambungnya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #3