BERAKHIRNYA PELARIAN EMBAN PENGKHIANAT


Matahari sedang berada di ubun-ubun saat dua buah bayangan berkelebat di antara lebatnya hutan Gunung Wangi, keduanya adalah bayangan Yuchi Saksena yang menggunakan pakaian warna merah dan Dewi Sekarasih menggunakan pakaian berwarna hijau daun. Rambut mereka yang panjang meriap liar, sebatang pedang dan sebuah caping bambu menempel di punggung mereka masing-masing. Sementara tangan kanan mereka menjinjing sebuah buntelan kecil.

"Tikus kecil...berhenti ..." seru Yuchi Saksena sambil menghentikan langkahnya diikuti oleh Dewi Sekarasih.

"Ada apa Kakang?" tanya Dewi Sekarasih sambil mengatur nafasnya yang naik turun, keringat terlhat membasahi wajahnya yang putih kemerahan.

"Kita istirahat dulu...sebentar lagi kita akan sampai di perkampungan. Lihat di sana..." ujar Yuchi Saksena sambil menunjuk ke depan, terlihat ladang sayuran terhampar diantara pepohonan kelapa. Dari kejauhan lamat-lamat terdengar suara deburan ombak.

"Ah...betul juga...aku kehausan Kakang...lihat ada kebun kelapa..." Dewi Sekarasih manja.

"Maksudmu aku harus mencuri kelapa untukmu?" tanya Yuchi Saksena.

"Aku tidak bicara begitu...tapi kalau Kakang mau mencuri...aku tidak apa-apa...hi...hi..." Dewi Sekarasih terkikik sambil memukul manja lengan Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena mencibirkan mulutnya lalu mengenakan caping bambu miliknya di atas kepala.

"Lebih baik kita cari pemilik ladang ini...sepertinya di sana ada rumah" ujar Yuchi Saksena sambil melangkah mendekati rumah kayu yang mengeluarkan asap seperti ada yang sedang menyalakan perapian.

Dewi Sekarasih pun mengenakan caping bambu miliknya lalu mengikuti langkah kekasih hatinya. Keduanya berjalan berdampingan.

"Kakang...sepertinya tenaga dalamku meningkat pesat..." ujar Dewi Sekarasih girang.

"Bukan hanya tenaga dalam...ilmu meringankan tubuhmu juga sudah lebih baik....tapi kau jangan senang dulu, di luar sana banyak orang jahat yang berilmu jauh leih tinggi" Yuchi Saksena mengingatka.

"Kakang harus melatihku setiap hari...agar kau tidak malu punya calon istri sepertiku..hi...hi..." rajuk Dewi Sekarasih.

"Aku bisa dibunuh ayahmu kalau berani memperistrimu..." ujar Yuchi Saksena.

"Aku tidak peduli dengan ayahku...kalau ayahku menolak...kita kabur saja...kita berkelana menjadi sepasang pendekar penuh cinta...hi...hi..." ujar Dewi Sekarasih terkikik.

"Kakang berani tidak membawa kabur aku?" sambungnya sambil menahan tangan Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena menghentikan langkahnya lalu menatap wajah Dewi Sekarasih dengan mesra.

"Hidupku sudah banyak masalah...buat apa aku menambah masalah dengan membawa lari putri keraton yang manja seperti dirimu...ha..ha.." goda Yuchi Saksena sambil tergelak lalu mempercepat langkahnya meninggalkan Dewi Sekarasih yang merengut kesal mendengar jawaban darinya.

"Kakang....Kakang..." Dewi Sekarasih mengejar langkah Yuchi Saksena.

Keduanya berkejaran layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.

"Sampurasun...sampurasun...." Yuchi Saksena mengucapkan salam di halaman rumah yang berada di ujung ladang tersebut.

Sementara Dewi Sekarasih berdiri di belakang Yuchi Saksena masih dengan wajah yang merengut kesal.

"Rampesss..." terdengar jawaban dari dalam rumah, tak lama kemudian pintu terbuka dan muncullah seorang laki-laki berusia sekitar empatpuluhanan tahun. Wajahnya tegas, kulitnya hitam mengkilat dan tubuhnya tegap berotot. Sepertinya seorang laki-laki pekerja keras atau seorang ahli silat.

"Maaf kami mengganggu...bolehkah kami bertanya arah ke Palabuhan Pamalang?" tanya Yuchi Saksena dengan sopan.

Laki-laki tersebut tidak segera menjawab, diamatinya Yuchi Saksena dari ujung kepala sampai ujung kaki lalu beralih melihat ke arah Dewi Sekarasih. Dipandangi seperti itu, Dewi Sekarasih mendelik tidak suka.

"Kalian berasal dari mana?" laki-laki tersebut tidak menjawab pertanyaan Yuchi Saksena tapi malah balik bertanya.

Laki-laki tersebut menuruni tangga kayu rumahnya dan menghampiri ke arah Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih. Lagaknya sangat tidak menyenangkan.

"Kami dari kulon...hendak ke palabuhan..." jawab Yuchi Saksena tetap tenang.

"Hmm...begitu?" laki-laki tersebut bertambah sengak sambil matanya sesekali melirik ke arah Dewi Sekarasih.

"Kakang...lebih baik kita pergi..." bisik Dewi Sekarasih kepada Yuchi Saksena.

Laki-laki itu sepertinya mendengar ucapan Dewi Sekarasih, senyumnya yang menyebalkan mengembang dibibirnya yang tebal menghitam.

"Ha...ha...kenapa buru-buru gadis manis?...aku akan menunjukkan jalan ke palabuhan kepada suamimu...tapi...." laki-laki itu menghentikan ucapannya sambil mengedipkan mata kirinya kepada Dewi Sekarasih.

"Tapi apa...?" Dewi Sekarasih muntab sambil melangkah mendekati laki-laki itu, namun ditahan oleh Yuchi Saksena.

"Ha...ha...aku suka gadis galak sepertimu...gadis sepertimu tentu akan galak juga di tempat tidur...ha...ha..." laki-laki itu tambah kurang ajar.

"Bajingan...kau memang mencari mati..." dengus Dewi Sekarasih.

"Sabar...biar aku yang menghadapinya..." bisik Yuchi Saksena sambil memegang lengan Dewi Sekarasih.

"Kisanak...kami datang tidak untuk mencari masalah, jika kau memang tidak mau membantu...tidak masalah...kami akan pergi" ujar Yuchi Saksena sambil berbalik bersiap meninggalkan tempat tersebut.

"Eits...eits...tunggu sebentar...kalian sudah menggangguku...tentu kalian harus membayar ganti rugi" ujar laki-laki tersebut menahan langkah Yuchi Saksena.

"Apa maksudmu ganti rugi...?" sergah Dewi Sekarasih benar-benar murka.

"Sebentar gadis manis...jangan marah dulu...aku akan membuatmu senang...ha...ha..." jawab laki-laki itu sambil terbahak kurang ajar.

"Minah...minah...keluar sebentar sayang..." sambung laki-laki itu sambil menoleh ke arah rumahnya.

Dari pintu rumah tersebut keluar seorang perempuan berusia sekitar tigapuluhan tahun dengan hanya menggunakan kain yang dikembenkan sehingga sebagian dadanya yang montok terlihat menyembul sedangkan pahanya yang coklat terlihat membulat indah.

"Ada apa Kakang Barna...?" jawab perempuan yang dipanggil Minah itu genit. Matanya jelalatan melihat ke arah Yuchi Saksena.

"Minah...kau ajak adikmu ini ke dalam...nanti aku menyusul untuk membahagiakan kalian berdua...ha...ha..." laki-laki yang dipanggil Barna itu sambil menunjuk ke arah Dewi Sekarasih.

Dilecehkan seperti itu, amarah Dewi Sekarasih tidak terbendung apalagi melihat mata Minah yang jelalatan memandang kepada Yuchi Saksena. Sementara itu, raut wajah Yuchi Saksena terlihat berubah melihat kehadiran Minah. Matanya yang terhalang oleh caping bambu menatap ke arah Minah dengan pandangan yang aneh dan menggidikkan.

"Minah...akhirnya...." desis Yuchi Saksena.

"Bajingan tengik...biarkan aku menghajarnya Kakang..." geram Dewi Sekarasih sambil melepaskan lengannya yang dipegang oleh Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena tidak lagi menahan Dewi Sekarasih, apalagi melihat Barna yang sepertinya mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi.

"Hmmm...mungkin ada baiknya Sekarasih mengasah kemampuannya..." batin Yuchi Saksena lalu melangkah mundur menjauh.

"Aih...gadis manis kesayanganku akhirnya kau mengerti kemauan kakangmu ini...ha...ha...ayo silakan masuk ke dalam rumah...kita akan bersenang-senang...ha...ha..." ujar Barna tertawa terbahak-bahak dengan mimik muka yang menyebalkan.

"Pfuiiihhh...muka dandang...mimpimu terlalu tinggi...laki-laki sepertimu hanya pantas menjadi makanan serigala..." dengus Dewi Sekarasih sambil meludah.

"Aah...rupanya kau ingin bermain-main dulu sebelum bersenang-senang...baiklah aku akan menangkapmu gadis manis...Ciiiaaaattt...." seru Barna sambil merentangkan kedua tangannya lalu menerjang ke arah Dewi Sekarasih dengan posisi hendak menangkapnya.

Barna jelas meremehkan Dewi Sekarasih. Dengan tersenyum mengejek, Dewi Sekarasih menyambut Barna dengan telapak tangan mengembang, sepertiga tenaga dalamnya dikerahkan. Rupanya Dewi Sekarasih tidak mau berlama-lama menghadapi Barna, di jurus pertama sudah menggunakan tenaga dalam untuk merobohkannya.

"Hiiyaaa...kau akan menyesal berurusan denganku...muka dandang..." sambut Dewi Sekarasih.

Melihat Dewi Sekarasih menyambut serangannya, Barna terkejut bukan main apalagi getaran tenaga dalam yang sangat kuat menerpanya. Barna secepat kilat merubah gerakannya dan menyalurkan setengah tenaga dalamnya ke tangan kanan dan memapaki telapak tangan Dewi Sekarasih.

"Buuuggg.....heuggg..." kedua telapak tangan berisi tenaga dalam tingkat itu saling berbenturan.

Barna terjajar beberapa langkah ke belakang sambil meringis kesakitan sementara Dewi Sekarasih meringis menahan ngilu di sikunya.

"Jangan terbawa nafsu...serang dengan menggunakan jurus-jurus tangan kosongmu..." terdengar suara Yuchi Saksena berbisik sangat halus di telinga kanan Dewi Sekarasih.

Dewi Sekarasih melirik ke arah Yuchi Saksena sambil menganggukkan kepalanya.

"Ha...ha...rupanya gadis manisku ini sedikit liar...aku suka...semakin sulit didapat...akan makin nikmat..." seru Barna sambil menutupi rasa terkejutnya, tidak menyangka bahwa perempuan yang dihadapinya bukanlah orang sembarangan.

"Aku akan menghancurkan mulut kotormu itu...bajingan..." pekik Dewi Sekarasih sambil menerjang ke arah Barna menggunakan rangkaian jurus "Maung Kanaka" yang dipelajarinya dari Ki Kanaka (baca : Rahiang Sanjaya #20). Tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh yang meningkat pesat, membuat Dewi Sekarasih bisa memainkan rangkaian jurus "Maung Kanaka" itu lebih cepat dan bertenaga.

Namun rupanya Barna bukanlah nama kosong, dirinya mampu meladeni serangan-serangan Dewi Sekarasih dengan baik bahkan sesekali mampu balik menyerang. Pertarungan berjalan sengit hingga berpuluh jurus. Yuchi Saksena mengangguk-anggukan kepalanya senang melihat kemajuan yang dicapai oleh Dewi Sekarasih.

"Bagus tikus kecil...sebenarnya kalau saja kau lebih sabar...bajingan itu dapat kau robohkan dalam sepuluh jurus..." batin Yuchi Saksena sambil tersenyum tipis.

Sementara itu perempuan bernama Minah yang sedari tadi berdiri di pintu, diam-diam kembali masuk ke dalam rumah dan mengintip dari balik jendela. Pandangannya sesekali menatap wajah Yuchi Saksena yang tersembunyi di balik caping bambunya. Ketakutan dan rasa bersalah membayang di wajahnya.

"Sial...ternyata perempuan ini ilmunya sangat tinggi...belum lagi suaminya...benar-benar sial" rutuk Barna sambil melompat mundur menghindari gempuran Dewi Sekarasih yang semakin merepotkan.

"Ha...ha...sudahlah...cukup bermain-mainnya...aku akan menunjukkan kalian jalan ke palabuhan..." Barna mencoba menyelamatkan mukanya dan meminta menghentikan pertempuran.

"Mana bisa begitu bajingan?...aku tidak akan berhenti sebelum bisa memotong lidahmu yang busuk" geram Dewi Sekarasih sambil menghunus pedangnya. Selarik warna kuning keemasan bersemburat keluar dari pedangnya, menandakan pedang tersebut bukanlah pusaka sembarangan.

Baca juga : Rahiang Sanjaya #22

Melihat Dewi Sekarasih menghunus pedang, nyali Barna seketika terbang.

"Kisanak...aku sedang malas untuk menumpahkan darah...lebih baik kalian pergi dari hadapanku..." usir Barna sambil diam-diam merogoh sebilah pisau kecil dari balik pinggannnya.

Dewi Sekarasih menyeringai dingin, dialirkan seperempat tenaga dalam ke tangan kanannya yang menggenggam pedang. Asap tipis keluar bergelombang menebarkan bau busuk yang menyengat. Jelas tenaga dalam Dewi Sekarasih meningkat berlipat kali, sebelumnya walaupun mengerahkan lebih dari setengah tenaga dalam, asap yang keluar dari pedangnya hampir tidak terlihat...bahkan bau busuknya pun nyaris tidak tercium.

Atas petunjuk Yuchi Saksena saat berlatih di dalam guha, akhirnya rahasia kehebatan pedang kuning milik Dewi Sekarasih terkuak. Yaitu diperlukan tenaga dalam yang tinggi untuk mengeluarkan racun mematikan yang terkandung di dalam pedang tersebut.

Barna bergidik ngeri melihat pedang yang mengeluarkan asap berbau busuk tersebut.

"Keparat...rupanya perempuan itu tidak mau melepaskanku...tidak ada jalan lain selain mengadu nyawa" batin Barna nekad.

"Hiiiyyyaaa....." sebuah pisau kecil meluncur dari balik tangan kanan Barna mengincar dada Dewi Sekarasih.

"Bajingan pengecut...!" seru Dewi Sekarasih sambil dengan entengnya mengibaskan pedang miliknya menangkis pisau yang meluncur deras.

"Trang...." pisau tersebut terpotong dua dan jatuh ke atas tanah.

"Ciiiattt....." Barna tidak membuang waktu, menghunus golok dipinggangnya dan memburu menyerang Dewi Sekarasih dengan jurus-jurus yang mematikan.

Sambil tersenyum kecut, Dewi Sekarasih menyambut serangan tersebut. Pertarungan kembali pecah, jurus-jurus pedang dari rangkaian jurus "Menembus Langit Membelah Rembulan" dimainkan dengan baik oleh Dewi Sekarasih. Tubuhnya meliuk dan melayang dengan indah bak seorang penari mengurung tubuh Barna.

Barna benar-benar kewalahan karena selain harus menghindar dari pedang yang menyambar ke bagian-bagian vital di tubunya tetapi juga harus mengatur pernafasan karena asap yang keluar dari pedang Dewi Sekarasih benar-benar membuat sesak dada dan pusing kepala.

"Luar biasa...ternyata pedangnya berjodoh dengan jurus yang kuajarkan" Yuchi Saksena berdecak kagum melihat permainan pedang Dewi Sekarasih.

Pertarungan hanya berlangsung tidak lebih dari sepuluh jurus sampai akhirnya Barna menjerit ngeri ketika golok yang dipegangnya putus menjad dua dibabat oleh Dewi Sekarasih.

"Traaang....aduhh...." Barna memekik sambil melompat mundur menahan rasa sakit dipergelangan tangannya.

Namun Dewi Sekarasih tidak mau melepaskannya begitu saja, tubuhnya melayang mengejar Barna. Pedangnya mengincar leher, Barna menjatuhkan badannya namun sayang ternyata serangan itu hanya tipuan. Dewi Sekarasih menarik laju pedangnya dan memutar kakinya menyambut datangnya tubuh Barna.

"Buukkkk....argh...." 

Tendangan yang dibarengi seperempat tenaga dalam tersebut menghajar rusuk Barna yang tadinya bermaksud menghindari sabetan pedang dengan menjatuhkan tubuhnya. Barna terlempar beberapa depa. Sebagian rusuk kirinya patah, dadanya terasa sesak sementara darah segar meleleh dari sudut bibirnya. Barna mencoba untuk bangkit namun akhirnya tersungkur menghantam tanah...pingsan. 

Dewi Sekarasih mencibir sambil menyarungkan kembali pedangnya.

"Bajingan tengik...hanya segitu saja kemampuanmu...." dengusnya sambil membalikkan badannya menghampiri Yuchi Saksena.

Sementara dari balik jendela rumah, Minah mengawasi dengan tubuh menggigil ketakutan.

"Kakang...bagaimana permainan pedangku?" tanya Dewi Sekarasih bangga.

"Bagus...banyak kemajuan hanya saja kau tetap harus banyak berlatih dan harus lebih tenang" jawab Yuchi Saksena mengevaluasi pertarungan Dewi Sekarasih.

"Sekarang bagaimana Kakang?...kita lanjukan perjalanan kita?" tanya Dewi Sekarasih dengan hidung yang kembang kempis mendapat pujian dari kekasih hatinya.

"Sebentar...." ujar Yuchi Saksena sambil wajahnya seperti mencari sesuatu.

"Minah...keluar kau...." seru Yuchi Saksena sambil menatap tajam ke arah rumah.

Dewi Sekarasih melengak kaget mendengar Yuchi Saksena memanggil perempuan genit yang berada d dalam rumah.

"Kakang...apa maksudmu?...Kau..." protes Dewi Sekarasih namun ucapannya terhenti melihat sorot mata Yuchi Saksena yang sangat dingin dan menakutkan.

Tidak terdengar suara jawaban dari dalam rumah.

"Minah...aku memberimu kesempatan sekali lagi...atau aku hancurkan rumahmu...." Yuchi Saksena memperingatkan.

Tak lama terdengar derit pintu terbuka lalu muncul Minah dengan pakaian yang lebih tertutup. Wajahnya pucat pasi ketakutan seperti baru melihat hantu di siang bolong.

"Ju...ragan Anom...betulkah kau ...Juragan Anom Yuchi?" Minah ragu-ragu sambil menuruni tangga rumahnya dengan rasa takut yang luar biasa.

Wajah Yuchi Saksena kelam seperti memendam marah yang luar biasa...diambilnya dua potongan golok milik Barna lalu disatukannya. Kepalanya mengangguk-angguk sambil melirik Barna yang tergolek pingsan dengan sorot mata penuh kebencian.

Minah menjatuhkan tubuhnya dihadapan Yuchi Saksena sambil menangis dan memohon-mohon.

"Ampuni hamba Juragan Anom...ampuni hamba...." suara Minah terdengar memilukan.

Dewi Sekarasih terbengong-bengong tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

"Ada apa sebenarnya?...mengapa perempuan itu memohon ampun kepada Kakang Yuchi Saksena?" batin Dewi Sekarasih, beribu pertanyaan memenuhi kepalanya.

"Minah...jelaskan kenapa kau bisa berada di wilayah sini?" tanya Yuchi Saksena dingin.

Minah tidak menjawab hanya tangisnya yang semakin keras.

"Arggggh....hoek...." tiba-tiba Minah menikam dadanya sendiri menggunakan pisau kecil yang rupanya sudah dipersiapkan sebelumnya.

Darah menyembur dari mulutnya...matanya melotot...nafasnya tersengal-sengal merangkak menuju kaki Yuchi Saksena.

"A...a...mpuni ha..mba...Ju..ra..gan...." nafas Minah putus sebelum sempat sampai di kaki Yuchi Saksena.

Dewi Sekarasih menjerit kecil melihat kejadian yang sama sekali tidak disangka-sangkanya.

====

Pagi itu suasana di halaman rumah Juragan Arya Jumadi, Margo terlihat sibuk mengatur beberapa pegawai yang menaikkan muatan ke atas tiga buah pedati. Sementara itu di dalam rumah, Arya Suta sedang meyakinkan ibundanya yang tidak berhenti menangis sejak dua hari lalu sekembalinya dari Pandita Ronggo.

"Ambu...ini adalah jalan yang terbaik, kita tidak pernah tahu apa yang akan datang menimpa...dan seperti kata Pandita Ronggo, kita harus berikhtiar..." ujar Arya Suta sambil menggenggam erat tangan ibundanya.

"Tapi ayahmu...bagaimana dengan ayahmu?...Ambu tidak bisa meninggalkannya begitu saja..." ratap Kinasih, ternyata walaupun Arya Jumadi sering menyakitinya tidaklah mengurangi rasa cinta dan sayangnya.

Arya Suta mencium tangan ibunya dengan penuh kasih sayang.

"Ambu...aku akan mencari Ayahanda dan membawanya menemui Ambu...Ambu jangan khawatir..." Arya Suta meyakinkan.

"Anaking...apa sebenarnya yang akan terjadi?...Ambu masih tidak mengerti kenapa kita harus mengungsi..." Kinasih masih tidak yakin dengan apa yang akan dilakukannya.

Arya Suta menarik nafas panjang.

"Akupun tidak tahu Ambu...apa yang akan terjadi hari ini...terjadi besok...atau apapun kejadian di masa depan. Tetapi Dewata sudah memperingatkan kita berdua...dengan mimpi yang persis sama...jadi tidak ada salahnya jika kita untuk sementara pergi dari rumah..." ujar Arya Suta panjang lebar.

Kinasih mengusap matanya yang berkaca-kaca.

"Rumah ini penuh sejarah...di sinilah Ambu dan Ayahandamu memulai semuanya...dari mulai ayahmu hanya pengepul kecil...lalu lahirlah kau Anaking...permata hati kami yang membawa keberuntungan hingga akhirnya Ayahandamu menjadi saudagar besar seperti saat ini" Kinasih menerawang masa-masa indahnya.

"Sudahlah Ambu...kita hanya akan pergi untuk sementara waktu...suatu saat kita akan kembali" ujar Arya Suta menenangkan.

Kinasih menatap Arya Suta dengan penuh kasih sayang.

"Apa rencanamu Anaking?...kemana kita hendak pergi?" tanya Kinasih pelan.

"Ambu...ada sebuah tempat di wilayah kidul...di Palabuhan Cimanuk...aku mempunyai sebuah rumah yang bisa kita tinggali sementara...tempatnya sejuk dan tenang. Aku yakin Ambu akan betah di sana..." ujar Arya Suta.

Kinasih menarik nafas panjang.

"Baiklah Anaking...Ambu akan mengikuti rencanamu...kapan kita akan berangkat?" tanyanya.

"Pagi ini Ambu...aku sudah memerintahkan Margo untuk membawa semua perbekalan dan juga barang-barang yang dibutuhkan ke dalam tiga buah pedati. Margo akan memimpin perjalanan bersama beberapa pengawal kepercayaan kita" ujar Arya Suta menjelaskan rencana perjalanannya.

"Kau sendiri bagaimana Anaking? Mengapa tidak pergi bersama Ambu?" tanya Kinasih khawatir.

"Aku akan menyusul Ayahanda terlebih dahulu...lalu nanti akan menyusul ke Palabuhan Caruban dan bersama-sama menumpang kapal ke Palabuhan Cimanuk" jawab Arya Suta.

"Apa tidak lebih baik kita berlayar dari Palabuhan Pamalang?...jadi kita bisa berlayar bersama-sama..." usul Kinasih.

"Ambu...terlalu berbahaya jika kita berangkat dari Palabuhan Pamalang...entah mengapa hatiku merasa seperti itu..." jawab Arya Suta.

"Sekarang Ambu lebih baik bersiap-siap menyiapkan barang-barang yang mau dibawa...ada sebuah pedati kosong untuk Ambu..." sambungnya.

"Baiklah Anaking..." ujar Kinasih pendek sambil berdiri dan berlalu ke dalam kamarnya.

Sementara Arya Suta berdiri dan berlalu ke luar ruangan tengah hendak mengumpulkan semua pelayan dan pengawal-pengawalnya.

#

Setelah semua barang berhasil dimuatkan ke atas gerobak, Margo bergegas memasuki rumah hendak menemui majikannya. Di pintu masuk dirinya berapasan dengan Surti yang sedang membawa keranjang pakaian kotor.

"Aih...Surti cantik...apa kabarmu sayang?" goda Margo sambil menjawil dagu Surti.

Surti menghentikan langkahnya lalu menepis tangan nakal Margo, wajahnya merengut manja.

"Kakang kemana saja...sudah kembali sejak tiga hari yang lalu tapi tidak ada menemuiku..." Surti merajuk.

"Maafkan aku sayang...istriku di rumah rewel sekali tidak mau ditinggal...maunya nambah terus...he...he..." ujar Margo terkekeh.

"Huuhhh....selalu istrimu saja...kapan giliranku Kakang...." Surti menarik tangan Margo ke dapur lalu menutup pintu dapur.

"Ha...ha..rupanya kau sudah tidak sabar sayang...jangan khawatir aku akan memuaskanmu..." Margo terbahak sambil mengikuti langkah Surti.

Setelah menutup pintu, Surti menerkam Maro...tangannya bergelayut menarik leher Margo dan melumat bibirnya. Mereka berciuman dengan dahsyat, liar dan lama. 

"Surti...hati-hati nanti ada yang memergoki kita..." bisik Margo terengah-engah.

"Aku tidak peduli Kakang...aku pingin..." jawab Surti sambil meremas celana Margo.

"Aduuh...pelan-pelan sayang..." pekik Margo tertahan.

"Suamimu dimana...?" sambungnya sambil meremas pinggul Surti yang membulat menggoda.

"Pergi dengan Juragan Sepuh...aaahh...Kakang..." jawab Surti sambil menggelinjang.

"Kita teruskan nanti sayang...aku harus melapor ke Juragan Arya Suta..." bisik Margo tapi tangannya bergerilya melepaskan kemben Surti

"Nanti saja lapornya Kakang...masih ada waktu...kita tuntaskan dulu..." desah Surti sambil menarik Margo mendekati sebuah meja dan merebahkan tubuhnya.

"Kakang...cepat..." rintih Surti sambil melepaskan kain yang membungkus tubuh bagian bawahnya.

Melihat Surti sudah terlentang tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya, Margo menjadi gelap mata. Diterkamnya tubuh mungil Surti.

Baca juga : Dewa : Antara Cinta Yang Terabaikan, Butar dan Virus Corona