BADAI API MELANDA PAMALANG


Lebih dari duapuluh hari berada di dalam guha, Dewi Sekarasih belajar rangkaian jurus pedang "Menembus Langit Membelah Rembulan" dari Yuchi Saksena. Setiap pagi Yuchi Saksena mengajarkan satu jurus pedang dan Dewi Sekarasih seharian melatihnya. Menjelang malam Yuchi Saksena akan mengujinya. Yuchi Saksena sengaja membabat pohon di bagian belakang guha yang tembus ke tepian sungai sehingga menjadi sebuah tegalan yang cukup luas untuk berlatih silat.

Walaupun dasar silatnya sudah cukup tinggi, Dewi Sekarasih sedikit mengalami kesulitan untuk mempelajarinya. Karena dasar ilmu pedang yang diajarkan oleh Yuchi Saksena berasal dari ilmu silat China yang anggun dan gemulai namun sangat cepat dan mematikan. Namun tekad dan juga bakat silatnya sangat besar, akhirnya walaupun tidak mudah rangkaian silat kuno dari China tersebut bisa dikuasainya.

"Tikus kecil...pagi ini aku akan mengajarkanmu jurus ke duapuluhlima, ini adalah jurus terakhir yang akan kuajarkan di sini. Setelah itu mulai besok...kau akan bermeditasi untuk meningkatkan tenaga dalam milikmu" ujar Yuchi Saksena sambil menghunus pedangnya. Tercium wangi cendana yang menyengat dan semburat cahaya kehijauan.

"Hiya...lihat..." teriak Yuchi Saksena sambil berkelebat memperagakan jurus keduapuluh lima dari seratus jurus ilmu pedang "Menebus Langit Membelah Rembulan". Gerakannya lambat untuk mempermudah Dewi Sekarasih untuk mengingatnya.

"Sekarang kau coba mainkan..." ujar Yuchi Saksena mengakhiri jurus pedang ke duapuluh limanya.

"Baik Kakang..." jawab Dewi Sekarasih, dengan pedang berwarna kuning pemberian dari Kanaka, aki gurunya di Karatuan Saunggalah.

Dewi Sekarasih memainkan jurus seperti yang diperlihatkan oleh Yuchi Saksena.

"Tangan kananmu kurang tinggi...!!!" seru Yuchi Saksena mengkoreksi gerakan Dewi Sekarasih.

"Ya...bagus, sekarang mainkan dengan cepat" teriak Yuchi Saksena memberi semangat.

"Bagus...terus tambah kecepatanmu...alirkan setengah tenaga dalam ke pedangmu dan setengahnya ke kaki" teriak Yuchi Saksena.

Dewi Sekarasih melaksanakan apa yang diperintahkan Yuchi Saksena, tangan kanannya bergetar sementara pedangnya mengeluarkan asap yang sangat tipis berbau sangat busuk. Namun hampir tidak tercium, hanya Yuchi Saksena yang bisa menciumnya.

"Luar biasa...pedang yang sangat luar biasa...beruntung Sekarasih bisa mendapatkannya" batin Yuchi Saksena.

"Sempurna...sekarang kau mainkan dari jurus pertama sampai jurus duapuluh lima...salurkan tenaga dalammu" Yuchi Saksena tidak henti memberi semangat kepada Dewi Sekarasih.

Dewi Sekarasih berteriak melengking lalu melompat memainkan rangkaian jurus pedang yang sudah dipalajarinya, Gerakannya sangat indah dan lentur tetapi mematikan, hanya saja belum secepat yang diharapkan.

"Hiyaa...hiyaa..." Dewi Sekarasih berlatih dengan semangat, keringat mulai membasahi pakaiannya.

"Lanjutkan latihanmu tikus kecil...aku akan keluar mencari makanan. Petang nanti kita akan bertarung" seru Yuchi Saksena lalu berkelebat meninggalkan tempat tersebut.

"Baik Kakang...aku akan mengalahkanmu..." jawab Dewi Sekarasih tanpa menghentikan gerakan silatnya.

#

Matahari mulai condong ke barat, saat Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih berhadapan dengan tongkat kayu yang dibentuk seperti pedang di tangan masing-masing.

"Serang aku...dengan jurus-jurus yang sudah kau pelajari" ujar Yuchi Saksena sambil memasang kuda-kuda.

"Jangan sampai kau menyesal Kakang...aku akan mengalahkanmu..." gurau Dewi Sekarasih sambil melompat menyerang.

"Hiya...lihat pedang!" pekiknya.

"Bagus...jangan ragu-ragu...!" teriak Yuchi Saksena.

Pedang kayu di tangan Dewi Sekarasih bergerak indah mencecar ke bagian tubuh Yuchi Saksena yang mematikan. Di balas dengan serangan-serangan menggunakan jurus yang sama oleh Yuchi Saksena.

"Jangan terpancing...perhatikan pertahananmu..." teriak Yuchi Saksena mengingatkan sambil menggerakkan pedang kayu di tangannya memukul pipi Dewi Sekarasih.

"Plak..."

"Aduh...jangan senang dulu...awas pinggang" Dewi Sekarasih mengaduh namun tidak menghentikan gerakan pedang kayunya menyasar pinggang Yuchi Saksena.

"Bodoh...kau akan mati jika bertarung seperti ini" teriaknya kesal sambil membuang badannya ke samping menghindari sabetan pedang kayu Dewi Sekarasih.

Mereka berlatih hingga matahari terbenam sebelum akhirnya diakhiri oleh Yuchi Saksena.

"Bagus...kau sudah menguasainya dengan baik hanya perlu menambah tenaga dan kecepatan. Yang terpenting kau hilangkan sifat cerobohmu" ujar Yuchi Saksena sambil menggetok pelan kepala Dewi Sekarasih dengan ujung pedang kayunya.

"Tunggu saja Kakang...aku akan terus menyempurnakannya dan mengalahkanmu" cibir Dewi Sekarasih.

"Kau mandi dulu...aku mau memotong uncal yang tadi siang ku tangkap untuk makan malam kita" Yuchi Saksena menunjuk seekor uncal di depan guha yang sudah terikat kakinya.

==

Baca juga : Rahiang Sanjaya #9

Arya Suta memacu kudanya menerobos gerbang pintu rumah ayahnya, Arya Jumadi. Beberapa laki-laki yang sedang berjaga bergegas membuka pintu gerbang. Mereka saling berpandangan heran, ada apa gerangan yang membuat anak majikannya begitu tergesa-gesa. Di belakang kuda yang ditunggangi Arya Suta menyusul kuda yang ditunggangi oleh Margo.

Setibanya di depan rumah yang sangat besar dan mewah, Arya Suta melompat turun.

"Margo, kau boleh pulang ke rumahmu..." ujarnya kepada Margo yang baru tiba di belakangnya.

"Baik juragan..." balas Margo lalu mengarahkan kudanya kembali ke luar gerbang rumah Juragan Arya Suta.

Beberapa pegawai yang sedang membersihkan halaman rumah membungkukkan badannya ke arah Arya Suta. Seorang pegawai laki-laki yang sudah cukup tua bergegas menghampiri kuda tunggangan Arya Suta dan menuntunnya ke bagian belakang. Sementara seorang pelayan perempuan tergopoh-gopoh menghampiri  Arya Suta.

"Aiiihhh...Juragan Anom sudah kembali rupanya...." ujarnya sopan.

"Ya Surti...ayahanda ada di rumah?" tanya Arya Suta sambil berjalan memasuki rumah diikuti oleh pelayannya yang bernama Surti.

"Juragan Sepuh baru tadi pagi berangkat ke Palabuhan..." jawab Surti.

"Ambu...?" tanya Arya Suta kembali bertanya.

"Juragan perempuan sedang membatik di belakang..." Surti tetap mengikuti Arya Suta.

"Kau siapkan air hangat untuk mandi sekalian siapkan makan. Aku akan menemui Ambu dulu..." perintah Arya Suta kepada Surti sambil terus melangkah menuju ke ruangan membatik yang berada terpisah dari rumah utama.

"Ambu...aku pulang...." ujar Arya Suta begitu dilihatnya sang ibunda yang sedang asyik membatik ditemani oleh seorang pelayannya.

Mendengar suara Arya Suta, ibundanya yang bernama Kinasih girang bukan kepalang. ditinggalkannya semua peralatan batiknya dan bergegas menyongsong ke arah putra kesayangannya tersebut.

"Aiih...anaking..si kasep...si bageur...kenapa baru kembali. Ambu sangat merindukanmu..." seru Kinasih sambil memeluk  Arya Suta.

"Maafkan anakmu ini Ambu..." balas Arya Suta sambil membalas pelukan ibundanya.

Kedua ibu dan anak itu saling berpelukan melepas rasa rindu.

"Sudah...sudah anaking...sekarang kau mandi, ambu akan menyiapkan makanan kesukaanmu" ujar Kinasih sambil melepaskan pelukannya.

#

Arya Suta menyantap masakan kesukaannya yang terhidang di atas meja, sementara Kinasih memandangi putra tunggalnya tersebut dengan penuh kasih sayang.

"Ayo tambah lagi anaking...badanmu kelihatan kurus sekali" ujar Kinasih sambil menyodorkan bakul nasi ke arah Arya Suta.

"Euuurggg...maaf Ambu..." Arya Suta sampai bersendawa saking kenyangnya.

"Cukup...aku sudah makan banyak sekali Ambu...bisa meledak perutku ini" sambungnya sambil mengusap-usap perutnya.

"Kalau sudah selesai...ayo pindah ke ruangan tengah, Ambu ada yang perlu dibicarakan" ujar Kinasih lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke ruang tengah.

"Surti...kau bereskan bekas makan Juragan Anom...dan jangan ada yang berani masuk ke ruangan tengah" sambungnya kepada pelayannya, Surti.

Arya Suta duduk berhadapan dengan ibundanya di ruangan tengah yang sangat luas.

"Anaking kenapa kau pergi lama sekali...tidak seperti biasanya..." keluh Kinasih.

"Ambu...ada banyak pesanan rempah dari Palabuhan Kalapa, jadi aku harus membelinya ke pedalaman Palabuhan Cimanuk" jawab Arya Suta.

"Keadaan Ambu dan Ayahanda...baik-baik saja kan?" sambungnya dengan nada khawatir.

"Ayahandamu baru saja tadi pagi berangkat ke palabuhan, rencananya akan bertemu saudagar dari China...setelah itu pulang ke rumah ibu tirimu yang baru. Mungkin baru purnama depan kembali ke mari" jawab Kinasih dengan suara parau. Dari nada suaranya jelas ada kepedihan dan kesakitan yang sangat mendalam.

Arya Suta yang sangat memahami kelakuan ayahnya, segera menggenggam tangan ibunya dengan penuh kasih sayang. Arya Jumadi sangat terkenal sebagai laki-laki yang sangat menyukai gadis-gadis muda. Arya Jumadi hanya singgah beberapa hari di rumah istri tuanya, Kinasih, dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah istri-istri mudanya.

"Yang terpenting buatku adalah keadaan Ambu...asalkan Ambu sehat...aku sudah senang" ujar Arya Suta.

"Jangan pikirkan Ambu...yang penting...pikirkan kehidupanmu anaking. Kapan kau akan menikah?" ujar Kinasih dengan mata yang berkaca-kaca menatap putra tunggalnya tersebut.

"Usiamua sudah cukup unuk menikah...Ambu harap kau jangan seperti ayahandamu...jangan suka menyakiti hati perempuan" sambungnya.

"Entahlah Ambu...aku sedang kalut..." ujar Arya Suta tidak meneruskan ucapannya.

Mendengar ucapan Arya Suta, Kinasih terkejut.

"Ada apa anaking...ada apa? Ceritakan semuanya kepada Ambu...Apakah ada perempuan yang menolakmu?" tanya beruntun dengan raut muka penuh kekhawatiran.

Arya Suta menarik nafas panjang.

"Bukan Ambu...bukan seperti itu...hanya beberapa hari ke belakang...aku bermimpi buruk sekali..." ujarnya pelan.

Raut wajah Kinasih mendadak berubah pucat.

"Mimpi apa anaking?...ceritakanlah...." tanyanya penasaran.

"Aku bermimpi rumah kita ini kebakaran dan....ambu...ayahanda....ah..." Arya Suta tertunduk.

"Dewata agung...apakah ini pertanda darimu?...semoga saja tidak..." tiba-tiba Kinasih menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah.

"Ambu apa maksudmu?" Arya Suta berbalik keheranan melihat reaksi ibundanya.

Kinasih menurunkan telapak tangan yang menutup wajahnya, raut wajah ketakutan jelas tergambar di sana.

"Anaking...Ambu juga bermimpi hal yang sama...dan...kita semua....ah...tidak...tidak mungkin" ujar Kinasih gugup.

Arya Suta menghela nafas panjang, rasa khawatirnya semakin membuncah. Yang sangat dia khawatirkan terutama adalah keselamatan ibundanya.

"Ambu...apakah tidak lebih baik...jika Ambu untuk sementara mengungsi ke tempat lain?" ujarnya memberi usul.

"Huuuuhhh..." Kinasih tidak mejawab hanya menghela nafas panjang.

Sesaat keduanya terdiam, larut dalam alam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Kinasih berkata,

"Anaking...lebih baik, nanti malam kita temui Pandita Ronggo...kita minta pendapat dan nasihatnya"

Kinasih memang dikenal sebagai penganut agama yang sangat taat dan tekun. Selain itu dikenal sebagai orang kaya yang sangat dermawan dan baik hati berbanding terbalik dengan Arya Jumadi, suaminya, yang sangat berangasan dan juga kejam.

"Terserah Ambu saja..." jawab Arya Suta singkat. Hatinya benar-benar kalut mengetahui bahwa ibundanya memimpikan hal yang sama.

"Tidak mungkin semua ini sebuah kebetulan....Dewata Agung jika ini adalah karma untuk keluarga kami...tolong kecualikan Ambu...dia orang baik" batin Arya Suta bergemuruh.

#

"Pandita...kami mohon nasihat dan pandanganmu supaya kami tidak salah melangkah" ujar Kinasih yang andeprok di lantai kuil bersama dengan Arya Suta yang diam menunduk. Dihadapannya duduk bersila seorang laki-laki dengan rambut dan janggut yang sudah memutih. Raut wajahnya tenang dan selalu tersungging sebuah senyuman yang terasa teduh.

Laki-laki tua tersebut tidak lain adalah Pandita Ronggo, seorang pemimpin kuil di wilayah Pamalang yang sangat dihormati dan di segani.

Setelah mendengar dengan seksama semua cerita Kinasih dan Arya Suta mengenai mimpi yang mereka alami. Sejenak Pandita Ronggo memejamkan matanya lalu bergumam.

"Hmmm...siapa menyalakan api permusuhan maka bersiaplah untuk menjadi kayu bakarnya..."

Mendengar gumaman Pandita Ronggo, Kinasih dan Arya Suta saling berpandangan.

"Pandita...apa maksudnya ucapanmu itu...tolong kau jelaskan" Kinasih penasaran.

"Anakku...aku hanyalah manusia biasa sama sepertimu...aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi...." ujar Pandita Ronggo lembut.

"Hanya saja...lebih baik kalian berjaga-jaga...aku melihat ada api di masa lalu yang semakin membesar sedang menuju ke kehidupan kalian" sambungnya tetap tenang dan lembut.

"Maksud Pandita...apakah ini karma untuk keluarga kami?" tanya Arya Suta penasaran

"Anak muda...aku tida bisa menjawabnya, karma adalah urusan para dewata...aku sama sekali tidak mengetahuinya" jawab Pandita Ronggo sambil menatap Arya Suta.

"Lalu apa yang harus kami lakukan Pandita?...beri kami petunjuk" Kinasih memohon.

"Anakku...kau adalah anak baik...aku yakin Dewata Agung akan selalu melindungimu...tetaplah tenang dan berdo'a. Aku tidak bisa melakukan apapun...semua adalah kuasa dewa" jawab Pandita Ronggo dengan nada suara yang berubah menjadi getir.

"Anak muda...." ujar Pandita Ronggo sambil melirik ke Arya Suta.

"Ya...Pandita...." jawab Arya Suta.

"Untuk sementara bawalah ibumu ke kulon...semoga Dewata Agung merestui" sambung Pandita Ronggo.

"Maksud Pandita...aku harus pergi meninggalkan rumah?" tanya Kinasih penasaran.

Pandita Ronggo menarik nafas panjang.

"Anakku...sebagai manusia sudah seharusnya kita menjauhi bencana...kita harus berikhtiar...semoga Dewata Agung merestui" ujarnya pelan.

"Pandita...kemana kah aku harus membawa Ambu pergi?...tolong beri kami petunjuk" tanya Arya Suta.

Sesaat Pandita Ronggo menatap dalam-dalam ke mata Arya Suta, senyumnya yang tenang tetap mengembang di bibirnya. Sementara Arya Suta yang dipandangi sedemikian rupa menjadi salah tingkah.

"Anak muda...bawalah ibumu ke tempat kau sudah menyimpan janji pada seseorang. Penuhi janjimu dan jangan sia-siakan...semoga bisa menjadi tolak bala untuk dirimu dan ibumu" ujar Pandita Ronggo sambil tersenyum penuh arti.

Mendengar ucapan Pandita Ronggo, wajah Arya Suta berubah menjadi merah padam. Arya Suta menundukkan mukanya tidak berani menatap ke arah Pandita Ronggo.

"Ah...euh...baik Pandita..." suara Arya Suta bergetar.

Sementara Kinasih bingung tidak mengerti apa maksud ucapan Pandita Ronggo.

"Maksud Pandita...?" tanyanya kebingungan sambil menatap ke arah Pandita Ronggo lalu menatap Arya Suta yang tertunduk malu dan gugup seperti seorang maling yang tertangkap basah dan sedang dihakimi warga.

"Ha...ha...anakku, orang tua seperti kita tidak perlu terlalu mencampuri urusan anak muda..." Pandita Ronggo tergelak.

"Anaking apakah kau mengerti maksud pandita?" Kinasih masih penasaran.

"Ambu...nanti saja di rumah aku ceritakan..." jawab Arya Suta dengan tetap menunduk.

Kinasih menggaruk-garuk kepala masih penasaran.

"Satu lagi Pandita...bagaimana dengan suamiku? Apakah harus ikut ke kulon bersama kami?" tanya Kinasih.

Pandita Ronggo menarik nafas panjang.

"Suamimu sudah terbakar..." Pandita Ronggo memejamkan matanya dengan raut wajah yang sangat sedih.

===

"Tikus kecil...sudah saatnya aku menceritakan semuanya kepadamu..." ujar Yuchi Saksena sambil memasukkan suapan terakhir daging uncal bakar ke mulutnya. Disambarnya cangkir tanah berisi minuman lalu meneguknya.

"Setelah mendengarkan ceritaku...kau boleh memutuskan untuk tetap ikut denganku atau pergi meninggalkanku" sambungnya sambil menatap ke wajah cantik Dewi Sekarasih.

Dewi Sekarasih menggeser duduknya mendekati Yuchi Saksena lalu memegang tangannya dengan lembut.

"Kakang...aku tidak peduli ceritamu seperti apa, aku tidak akan pernah meninggalkanmu" ujarnya sambil menatap Yuchi Saksena dengan penuh kasih sayang.

"Aku merasa perlu tahu segalanya tentangmu supaya aku bisa ïkut menanggung bebanmu bersama-sama" sambungnya lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena menarik nafas panjang.

"Sebenarnya aku jauh-jauh menuju ke Palabuhan Pamalang untuk mencari dan membalaskan dendam kepada orang yang telah membunuh kedua orangtuaku....." ujarnya pelan lalu menceritakan semua kisah hidupnya dari kecil di Palabuhan Sunda sampai akhirnya menetap di Bukit Panyandaan.

Sesekali Yuchi Saksena menghentikan ceritanya lalu menarik nafas panjang seolah berat untuk mengingat semua penderitaannya. Sementara Dewi Sekarasih berkali-kali menatap wajah Yuchi Saksena lalu mengusapnya dengan penuh kasih sayang. Seperti seorang ibu yang sedang menenangkan putranya.

"Demikian cerita hidupku...sekarang terserah padamu tikus kecil...perjalananku berikutnya akan sangat berbahaya dan mungkin saja aku akan terbunuh. Kau boleh pergi kapan pun kau suka..." ujar Yuchi Saksena mengakhiri ceritanya sambil mengusap kepala Dewi Sekarasih yang bersender di bahunya.

"Keji dan pengecut sekali...biar aku yang membunuh bajingan Arya Jumadi itu" gusar Dewi Sekarasih.

"Aku tidak akan meninggalkanmu Kakang...walaupun aku harus mati di sampingmu" sambungnya lalu menarik tangan Yuchi Saksana yang sedang mengusap kepalanya dan diciumnya dengan mesra.

"Kakang...akupun akan bercerita semuanya kepadamu. Seperti janjiku, mulai sekarang tidak boleh ada rahasia di antara kita" ujar Dewi Sekarasih sambil memandang wajah Yuchi Saksena dengan mesra.

"Baiklah...tikus kecil, aku juga berjanji..." jawab Yuchi Saksena pelan.

"Kakang, sebenarnya aku berasal dari Karaton Karatuan Saunggalah. Aku adalah putri bungsu dari Rahyang Demunawan dan Dewi Sangkari, penguasa Karatuan..." Dewi Sekarasih menceritakan mengenai asal-usulnya kepada Yuchi Saksena.

Mendengar cerita Dewi Sekarasih, Yuchi Saksena melengak kaget. Duduknya sedikit bergeser menjauh dari Dewi Sekarasih.

"Celaka...kalaupun aku berhasil membunuh Arya Jumadi...aku tidak akan bisa lolos dari ayahmu" keluh Yuchi Saksena sambil menepuk jidatnya.

"Sekarang pasti seluruh Karatuan Saunggalah akan menuduhku sebagai penculik Putri Karaton" sambungnya.

"Hi...hi...makanya Kakang, kau harus menikahiku agar kau selamat" Dewi Sekarasih terkikik sambil merapatkan kembali duduknya ke tubuh Yuchi Saksena.

"Dan kau tidak boleh memanggilku tikus kecil dihadapan ayah ibuku...panggilan itu hanya untuk kita berdua saja...kucing merahku" sambungnya manja.

"Kau istirahatlah dulu...malam sudah larut, besok pagi kita akan berlatih untuk menyempurnakan tenaga dalammu" ujar Yuchi Saksena sambil mengucek-ucek kepala Dewi Sekarasih.

#

Pagi itu Dewi Sekarasih duduk bersila dengan tangan ditumpangkan di atas pahanya, dibelakangnya Yuchi Saksena juga duduk bersila dengan telapak tangan kanan menempel di punggung Dewi Sekarasih. Dari tubuh mereka keluar asap putih, keringat bercucuran dari dahi Yuchi Saksena. Hari itu adalah hari ketujuh mereka bermeditasi, hari terakhir seperti yang direncanakan oleh Yuchi Saksena.

Perlahan Yuchi Saksena melepaskan telapak tangannya dari punggung Dewi Sekarasih.

"Kau atur pernafasanmu pelan-pelan dan hati-hati, aliran darahmu masih terbalik...dan akhiri meditasimu setelah aliran darahmu kembali normal" bisik Yuchi Saksena di telinga kanan Dewi Sekarasih. Yuchi Saksena bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju perapian. 

Sementara Dewi Sekarasih membuka matanya pelan-pelan lalu mengatur nafas dan peredaran darah seperti yang diperintahkan oleh Yuchi Saksena. Tubuhnya yang sebelumnya terasa panas berangsur-angsur terasa sejuk. Setelah peredaran darahnya dirasa normal, Dewi Sekarasih mengakhiri meditasinya dan berdiri dari duduknya.

"Aduh..." Dewi Sekarasih menggelosoh lemas ke lantai guha. Badannya terasa tidak bertenaga.

Yuchi Saksena meliriknya sambil memasang tungku berisi air diatas perapian yang baru dinyalakannya.

"Badanmu masih lemah...karena tidak makan selama tujuh hari. Kau duduk saja disitu...aku akan menyiapkan air hangat dan makanan untukmu" ujar Yuchi Saksena.

Dewi Sekarasih mengangguk sambil tersenyum tipis lalu tubuhnya terkulai ke lantai guha...pingsan!!!

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #1