KAPAL DAGANG MEGAH

Matahari masih malu-malu muncul dari balik lebatnya dedaunan, sinarnya yang keemasan menerobos menyinari rumah kediaman Senapati Wirajati. Pwah Kenanga telah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian yang semalam diberikan oleh Senapati Wirajati dengan pakaian yang baru saja diantarkan oleh seorang emban tua. Pakaian tersebut berwarna hijau daun dengan model singset biasa digunakan oleh para jawara perempuan. Dan menurut emban tersebut pakaian tersebut milik istri Senapati Wirajati bernama Nay Arum yang telah mangkat satu tahun lalu. Emban tersebut sangat darehdeh dan capetang sehingga banyak informasi yang dapat digali oleh Pwah Kenanga. Bahkan secara terang-terangan mengatakan kalau kecantikan dan kemolekan Nay Arum hampir mirip dengan Pwah Kenanga.

Emban tersebut menceritakan bahwa Nay Arum adalah seorang jawara perempuan yang selalu mendampingi Senapati Wirajati saat bertempur melawan musuh. Pasangan suami istri ini sangat disegani di Karatuan Indraprasta, oleh sebab itu Prabu Wiratara, penguasa Indraprasta, memerintahkannya utntuk memimpin pasukan ke Karatuan Galuh membantu Prabu Purbasora menjatuhkan Prabu Bratasenawa.

Setelah Prabu Bratasenawa jatuh dan Prabu Purbasora menjadi penguasa Karatuan Galuh, Senapati Wirajati diminta menetap dan membentuk sebuah kesatuan telik sandi. Walaupun berat hati namun akhirnya Prabu Wiratara memberi restu. Namun dua tahun terakhir, Nay Arum sering sakit-sakitan dan akhirnya meninggal satu tahun yang lalu. Hal ini sangat memukul hati Senapati Wirajati sehingga membuatnya menjadi seseorang yang dingin bahkan cenderung kejam.

Pwah Kenanga sangat antusias mendengar cerita emban tua itu yang ternyata ikut dengan Senapati Wirajati sejak lama di Karatuan Indraprasta. Namun cerita emban itu terpotong oleh suara gaduh di luar kamar.

"Kreeekkk..." daun pintu terbuka dan masuklah Senapati Wirajati, Kunta dan Santika ke dalam kamar.

"Emban...kau keluarlah dan menjauh dari kamar ini" perintah Senapati Wirajati pelan kepada eman tua tersebut.

"Baik Gusti Senapati..." jawab Emban tua tersebut sambil mengambil pakaian kotor bekas Pwah Kenanga dan membawanya keluar.

"Santika kau tutup pintu itu" ujar Senapati Wirajati.

Sementara itu Kunta merasa kaget melihat Pwah Kenanga dalam keadaan tidak terikat bahkan terlihat segar bugar dengan pakaian yang bersih dan bagus.

"Gusti Senapati...apa maksud semua ini?" Kunta terbelalak tidak percaya dengan penglihatannya.

Pwah Kenanga bangkit dari dipan tempat tidurnya lalu menunjuk telak-telak hidung Santika.

"Kakang Senapati...laki-laki bejad ini...laki-laki ini yang mencoba memperkosa hamba" lantang suara Pwah Kenanga membuat Santika terperanjat tidak percaya.

"Tidak...tidak...bukan seperti itu Gusti Senapati, dia yang mengajak hamba untuk memberontak" sengit Santika marah.

"Kau jangan memutar balikkan keadaan...perempuan sundal!!!" lengking Kunta marah sambil menerjang berniat menggampar Pwah Kenanga.

"Jleb..jleb...akh..akh...hoek....aaa..."

Gerakan Kunta terhenti mendengar suara jeritan melengking dari Santika dan segera membalikkan tubuhnya. Bagaikan disambar petir, mata Kunta melotot seolah tidak percaya melihat Santika ambruk dengan dada berlumuran darah dan mata yang mendelik. Sementara disampingnya terlihat Senapati Wirajati memegang pisau kecil yang berlumuran darah.

"Kau...kau...apa yang kau lakukan keparat?!!!" dengus Kunta muntab melihat anak buahnya tewas di tangan Senapati Wirajati. Tangannya bergerak cepat hendak menghunus golok dari pinggangnya.

"Hiiiyyyaaaaa......wuuuttt...jleeebbb"

Belum tuntas niatnya untuk mencabut golok, nyawa Kunta sudah terbang lebih dahulu. Dengan kecepatan yang luar biasa, Senapati Wirajati melemparkan pisau kecil ditangannya menembus tenggorokan Kunta.

Pwah Kenanga terperangah seolah tidak percaya dengan yang terjadi di depan matanya.

Baca juga : Rahiang Sanjaya #9

=====

Sebuah bayangan hitam berlari cepat dari arah Palabuhan menembus gelapnya malam dan rimbunnya pepohonan. Jelas bayangan hitam tersebut mempunyai kemampuan meringankan tubuh yang sangat tinggi. Tubuhnya seolah tidak menapak tanah saking cepat dan entengnya. Tak memakan waktu lama bayangan hitam itu tiba di bagian belakang rumah Sumi. Setelah celingak celinguk memastikan tidak ada yang melihatnya bayangan hitam itu melompat bagaikan terbang ke bagian atap rumah reyot tersebut, hebatnya walaupun tubuhnya tinggi besar namun tidak menimbulkan suara ataupun getaran.

Sementara itu di dalam rumah, kedua orangtua Sumi sudah tertidur pulas. Setelah seharian bekerja keras di ladang dan juga usia yang sudah mulai sepuh membuat keduanya gampang sekali tertidur tetapi sulit untuk terbangun. Sumi sendiri gelisah dalam kamarnya, sejak kembali dari kedai Juragan Godim, hati dan pikirannya tidak tenang. Apalagi Narsih yang mencurigai ada sesuatu yang tidak beres terjadi padanya.

"Ah...bagaimana ini? Cé Narsih sudah tahu kalau...ah...aku takut sekali. Bagaimana kalau Cé Narsih cerita kepada semua orang...betapa malunya aku" batin Sumi sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Belum lagi rasa bersalahnya terhadap suaminya, Kang Seta.

"Salah sendiri...kenapa Kang Seta tidak pulang-pulang...aku kan cuma perempuan. Kang Seta sendiri yang tidak menepati janji" Sumi mencoba meredakan rasa bersalahnya dengan menyalahkan suaminya yang tak kunjung pulang.

Pikirannya makin melayang kemana-mana, teringat kejadian semalam. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis, darahnya berdesir lebih cepat dan tubuhnya mulai terasa panas. Denyutan halus mulai terasa di area tubuh sensitivenya.

"Aiiihhh...Juragan, aku tidak menyangka..." desahnya malu sambil membalikkan tubuhnya menjadi menelungkup di atas tikar tipis.

"Kreek..."

Atap rumbia di atas kamar Sumi terbuka lalu dengan cepat sebuah bayangan hitam meluncur turun dan mendarat di samping Sumi. Sumi yang sedang mengkhayal terperanjat begitu merasakan ada sambaran angin halus disampingnya. Secepat kilat Sumi bangun dari tidurnya dan....

"Ju...Juragan..." desis Sumi. Entah mengapa tidak ada rasa takut ataupun malu seperti malam sebelumnya, yang ada malah rasa rindu yang membuncah.

"Iya...ini aku, kau jangan teriak atau...." ujar bayangan hitam itu sambil melirik ke luar kamar ke arah kedua orangtua Sumi yang tertidur pulas.

"Ba..baik Juragan..." jawab Sumi pelan bahkan terdengar seperti desahan.

"Bagus kalau kau mengerti...aku akan memberimu uang dan perhiasan yang banyak. Asal kau mau melayaniku dan menutup mulutmu" ujar bayangan hitam itu sambil melepaskan seluruh pakaian yang melekat ditubuhnya lalu mendekati Sumi dan merengkuhnya ke dalam dekapannya.

Sumi adalah perempuan muda yang selama ini gairahnya terpendam seolah mendapat penyaluran. Gairahnya membara dan meledak seketika, tanpa malu dan risih di sambutnya dekapan bayangan hitam tersebut. Pagutan bibir bayangan hitam tersebut di balasnya dengan rakus. Bibir Sumi yang agak tebal namun seksi dilumat habis oleh bibir bayangan hitam tersebut. Kain dan kemben Sumi terlempar kemana-mana. Desah nafas dan rintihan terdengar bersahutan dari kamar Sumi. Sebuah pergumulan yang benar-benar liar, entah berapa kali jeritan tertahan perempuan dan geraman berat laki-laki terdengar. Rumah reyot itu terasa bergoyang dahsyat, untungnya kedua orangtua Sumi tidak terbangun.

Menjelang dini hari, tubuh polos bayangan hitam itu merengkuh tubuh Sumi yang juga polos seolah mau meremukkan seluruh tulangnya. Sumi pun tidak kalah histerisnya, dibalasnya pelukan bayangan hitam itu sambil mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi, digigitnya pundak bayangan hitam itu.

"Arghhhhh.....aku sampai..lagi" bayangan hitam tersebut menggeram.

"Ahhhhhh....Juragan...." jerit Sumi tertahan.

Sesaat tubuh keduanya menegang...waktu seolah terhenti. Kedua mata Sumi membeliak hanya terlihat warna putih. Beberapa saat kemudian tubuh bayangan hitam tersebut menggelosoh dari atas tubuh Sumi. Keduanya bermandikan keringat.

"Sumi...luar biasa...aku sayang padamu" ujar bayangan hitam itu sambil terkapar di samping tubuh Sumi.

"Juragan juga hebat..." jawab Sumi pelan. Tubuhnya terasa sangat lemas dan tidak bertenaga setelah berkali-kali dihajar kenikmatan oleh bayangan hitam.

Keduanya beberapa saat ngalempreh tidak berdaya hanya deru nafas terdengar bersahutan, senyum  penuh kepuasan tersungging dibibir keduanya.

"Sumi..." terdengar suara bayangan hitam sambil bangkit lalu mengenakan kembali pakaian hitamnya.

"Ya...Juragan..." jawab Sumi lalu ikut bangkit dan mengambil kain dan kembennya yang berserakan. Dikenakan kain itu menutupi tubuh bagian bawahnya namun ketika akan mengenakan kembennya tiba-tiba bayangan hitam itu menahannya.

"Jangan ditutup dulu...aku masih ingin melihatnya...dadamu ini sangat indah" bisik bayangan hitam itu sambil meremas lembut dada Sumi yang membusung bulat. Memang diusia yang belum genap delapanbelas tahun, tubuh Sumi sedang mekar-mekarnya belum lagi baru dua malam suaminya menikmatinya sehingga seluruh bagian tubuhnya bagaikan seorang perawan.

Sumi menggelinjang sambil mendesah.

"Aaaah...Juragan mau tambah lagi?" tanya Sumi dengan mata yang sayu.

"Ha...ha...kamu memang luar biasa...malam ini cukup, keburu siang" jawab bayangan hitam tersebut sambil melepaskan tangannya dari dada Sumi.

"Ini untukmu Sumi...gunakanlah semaumu" bayangan hitam itu merogoh saku celananya lalu menyodorkan lima keping uang emas.

Mata Sumi terbelalak seolah tidak percaya dengan penglihatannya, seumur hidupnya baru sekarang melihat uang sebanyak itu.

"Ju...Juragan...ini banyak sekali" tangan Sumi bergetar saat menerima uang emas tersebut.

Bayangan hitam itu tersenyum.

"Itu belum seberapa...kalau kau terus memuaskan seperti ini...aku akan memberimu lebih banyak lagi" ujarnya.

"Te...terima kasih...Juragan" Sumi hampir menangis sambil menggenggam erat kepingan uang emas ditangannya.

"Aku pergi sekarang...ingat jangan pernah buka mulut atau kau akan menyesal..." desis bayangan hitam itu memperingatkan Sumi.

"Baik...Juragan, aku tidak akan membuka mulut ke siapapun" jawab Sumi lalu memeluk bayangan hitam itu seolah tidak mau ditinggalkan.

Bayangan hitam itu beberapa saat membalas pelukan Sumi lalu pelan-pelan melepaskannya.

"Aku akan segera kembali...ingat pesanku dan kau jangan coba-coba main gila dengan laki-laki lain...sekarang kau sudah menjadi miliku" bisiknya ditelinga Sumi lalu dengan sebat melayang ke atas atap rumbia yang bolong lalu menutupnya kembali setelah itu berkelebat meninggalkan rumah Sumi ke arah Palabuhan.

Sumi yang ditinggal oleh bayangan hitam itu masih tercenung tidak percaya dengan apa yang terjadi...selain mendapat kepuasan batin yang luar biasa, dirinyapun mendapat uang yang luar biasa banyak untuk ukuran orang miskin seperti dirinya.

"Ah...Juragan...semoga cepat kembali..." batin Sumi sambil meraih kemben yang tergolek di atas tikar lalu mengenakannya kembali. Saat memasang kemben bibirnya tersenyum mengingat betapa bayangan hitam itu sangat menyukai dadanya.

"Juragan...dada dan tubuhku ini seluruhnya milik dirimu..." desahnya bahagia. Lupa sudah dengan Kang Seta, suaminya yang selama berbulan-bulan ditunggunya. Yang ada dipikiran Sumi saat ini adalah sosok bayangan hitam yang sudah membanjirinya dengan kenikmatan batin juga uang yang berlimpah.

Sumi menyembunyikan kepingan uang emas yang diterimanya dari bayangan hitam di balik tumpukan pakaian miliknya. Lalu kemudian membereskan kamar yang berantakan dan membuka jendela kamarnya untuk menghilangkan bau cairan cinta yang menyengat. Dinginnya udara dini hari menyerbu masuk ke dalam kamarnya. Lalu Sumi melangkah keluar kamar lalu berdiri tidak jauh dari kedua oragtuanya yang masih tertidur pulas.

"Ambu...Apa...Sumi sekarang akan bisa membahagiakan kalian berdua. Kalian berdua tidak perlu lagi bekerja keras seperti sekarang" batin Sumi, kedua matany berkaca-kaca sedih.

"Ah...lebih baik aku membersihkan diri dulu sebelum Cé Narsih datang...jangan sampai dia mencium lagi bau cairan Juragan...hihi..." Sumi terkikik sendiri lalu bergegas keluar rumah dan menuruni tangga menuju ke tampian.

Selesai mandi dan mematut diri Sumi mengambil sekeping uang emas dari balik tumpukan bajunya lalu membangunkan kedua orangtuanya.

"Ambu...Ambu...Apa...Apa...bangun, Sumi mau bicara" ujar Sumi menggoyangkan tubuh kedua orangtuanya.

Pelan-pelan kedua orangtuanya membuka mata lalu bangun.

"Kau belum berangkat ke kedai?" tanya ayahnya sementara ibunya bangun dan hendak berdiri namun ditahan oleh Sumi.

"Belum Apa...masih janari...." jawabnya menjawab pertanyaan ayahnya.

"Sebentar Ambu...jangan pergi dulu" sambungnya menahan ibunya.

"Aya naon Éneng...asa ku rareuwas Ambu mah?" ibunya khawatir karena tidak biasanya Sumi seperti itu.

"Begini Ambu...Apa...kebetulan Sumi ada rejeki, jadi hari ini tidak usah bekerja, pergi saja ke pasar beli makanan yang enak-enak. Dan juga nanti Apa tanya-tanya ke tukang kayu...berapa biaya untuk membuat rumah baru yang besar" ujar Sumi Sumringah.

Ayah dan ibu Sumi saling berpandangan seolah tidak percaya.

"Apa maksudmu Éneng...kamu tidak berbuat yang aneh-aneh bukan?" tanya ibunya makin khawatir. Sementara ayahnya hanya terdiam tidak percaya.

"Jangan berfikir yang tidak-tidak Ambu...sekarang waktunya Sumi yang mengurus kalian berdua" ujar Sumi sambil menyodorkan sekeping uang emas ke ibunya.

Ayah dan Ibunya terbelalak tidak percaya melihat kepingan uang emas tersebut.

"Sumi....." ujar ayahnya namun kalimatnya terpotong saat tiba-tiba terdengar suara Narsih.

"Sumi...Sumi...hayu kita berangkat.."

"Sudahlah Ambu...Apa...kalian lakukan seperti yang Sumi minta. Kita harus segera membuat rumah baru sebelum rumah kita ini roboh" ujar Sumi lalu berbisik di telinga ibunya.

"Kalau masih kurang...ditumpukkan baju Sumi masih ada empat keping lagi" bisik Sumi lalu bergegas ke luar rumah meninggalkan kedua orangtuanya yang masih bengong tidak percaya.

"Ah...rupanya kau sudah siap..." sambut Narsih yang berdiri di bawah rumah Sumi dengan obor ditangan kanannya.

#

Matahari mulai meletek dari timur saat Rahiang Sanjaya bersiap untuk menaiki kapal yang akan menuju ke Palabuhan Caruban. Rahiang Sanjaya diantar oleh Juragan Godim yang sudah mengatur semuanya.

"Rakean...hamba sudah mengatur semuanya. Rakean hanya tinggal naik saja...Ini adalah kapal yang terbaik dan perlu sekitar sepuluh hari untuk sampai ke Palabuhan Caruban. Dari sana Rakean harus mencari kapal yang lain ke Palabuhan Kalapa" ujar Juragan Godim menjelaskan

"Ah...Mamang terima kasih sekali, Aku banyak berhutang kepadamu, semoga kita bisa bertemu lagi" jawab Rahiang Sanjaya.

"Dan tolong jaga si Jagur sampai aku kembali" sambungnya menitipkan kuda kesayangannya. Dirinya memutuskan tidak membawa si Jagur ke Sundapura.

"Jangan khawatir Rakean...hamba akan jaga dengan baik" Juragan Godim meyakinkan.

Rakean Sanjaya mengangguk-anggukan kepala lalu mengeluaran dua keping uang emas dan menyerahkannya kepada Juragan Godim.

"Mamang...terimalah, untuk biaya mengurusi si Jagur dan juga tanda terima kasih dariku" Rahiang Sanjaya menyodorkan kepingan uang emas tersebut.

Juragan Godim menyambutnya dengan senang lalu memasukkannya ke dalam saku celananya. Rahiang Sanjaya melangkahkan kakinya menuju kapal diikuti oleh pandangan Juragan Godim.

Kapal itu berukuran cukup besar, panjang sekitar limabelas meter dan lebar hampir tiga meter terbuat dari kayu hitam yang halus. Terdiri dari tiga tingkat, tingkat paling bawah adalah untuk para pendayung dan para anak buah kapal. Tingkat yang kedua adalah tempat barang-barang dagangan milik para saudagar dan juga para pegawainya. Sedangkan yang paling atas adalah tempat para saudagar. Dek-nya terbuat dari batang bambu gombong yang disusun rapi dan pilar-pilarnya dari bambu nyowana. Kemudinya model dari kapal-kapal dari Gujarat. Seluruh bagian dek kapal direkatkan oleh rotan omas dan rotan walatung. Pilar utamanya terbuat dari kayu laka. Terang dan gemerlap sekali. Petugas-petugas dayung terlihat berbadan gelap dan tegap dengan otot yang menonjol. Sungguh sebuah kapal dagang yang anggun dan gagah.

Setelah semua penumpang yang sebagian besar terdiri dari saudagar-saudagar kaya naik ke atas kapal, terdengar dentuman suara gong sebanyak tujuh kali jangkarpun diangkat. Ditingkahi riuhnya suara para pendayung yang memberi semangat dan lambaian tangan Syahbandar dan para kuli palabuhan di pinggir darmaga mengucapkan selamat jalan. Pelan-pelan kapal tersebut meninggalkan Palabuhan Cimanuk menuju ke Palabuhan Caruban di utara.

=====

Kai Darmaseta dan Nay Suci sudah tiga malam menghabiskan waktu di dalam guha, selain untuk menghindari kejaran pasukan Indraprahasta juga untuk menyembuhkan luka akibat sabetan golok Senapati Dumadi.

"Nyai, sepertinya kita harus segera meneruskan perjalanan...luka di pinggangku sudah mengering" ujar Kai Darmaseta kepada Nay Suci yang sedang menyiapkan makan malam.

"Apakah kau yakin Kakang?...aku tidak mau nanti terjadi masalah, lebih baik kita tinggal beberapa malam lagi" jawab Nay Suci.

"Tidak Nyai...lukaku sudah sembuh, ramuan obat yang diberikan pendekar muda itu sangat mujarab" Kai Darmaseta mengingat kembali tentang Yuchi Saksena yang telah menolong dan memberinya ramuan obat.

"Baiklah kalau begitu...besok pagi kita akan meneruskan perjalanan" jawab Nay Suci pendek sambil menyalakan api untuk perapian.

"Nyai...menurutmu, siapa sebenarnya pendekar muda yang bernama Saksena itu?" tanya Kai Darmaseta sambil bangkit dari duduknya lalu mendekati Nay Suci.

Nay Suci melirik ke arah Kai Darmaseta lalu menarik nafas panjang.

"Euuuuhh...entahlah Kakang, tapi melihat gerakan silatnya walaupun hanya satu jurus...sepertinya bukan berasal dari tanah Jawadwipa. Yang pasti dia telah menyelamatkan nyawa dan kehormatan kita berdua. Kapan kita akan membalas budi kebaikannya..." jawabnya pelan.

"Aku setuju Nyai...gerakan silatnya lebih mirip dengan gerakan pendekar-pendekar pengawal pribadi saudagar dari negeri Cina. Aku sempat beberapa kali melihat mereka bertarung di Palabuhan Kalapa" Kai Darmaseta sambil memasukkan batang kayu ke dalam perapian.

"Betul Kakang...kulit dan wajah anak muda itupun seperti orang-orang Cina, kulitnya terang dan matanya sedikit sipit. Tapi siapapun dia aku sangat menyukainya...andai dia mau jadi anak angkat kita...aku akan memohon kepada Prabu Tarusbawa untuk dijadikan seorang perwira tinggi" Nay Suci menerawang.

"Sudahlah Nyai...jika berjodoh tentu kita akan bertemu lagi dengan anak muda bernama Saksena tersebut. Yang penting sekarang adalah bagaimana kita secepatnya bisa sampai ke Sundapura" ujar Kai Darmaseta.

"Hmm...betul sekali Kakang, pasukan Karatuan Indraprahasta tentu sedang mencari kita. Kita harus lebih hati-hati. Apakah lebih baik kita naik kapal saja ke Palabuhan Sunda?" Nay Suci menyodorkan ide untuk melanjutkan perjalanan melalui kapal.

"Aku juga berpikir begitu Nyai...tapi sepertinya kita harus berkuda ke Palabuhan Caruban dulu...setelah itu baru menumpang kapal ke Palabuhan Kalapa" jawab Kai Darmaseta menyetujui usulan dari Nay Suci.

"Betul Kakang...terlalu berbahaya kalau menumpang kapal dari Darmaga Muara" ujar Nay Suci.

#

Selama berhari-hari Kai Darmaseta dan Nay Suci berkuda diantara lebatnya hutan di kaki Gunung Ciremai. Keduanya sengaja menghindari Kotaraja Indraprahasata dan perkampungan penduduk karena khawatir akan bertemu dengan pasukan Karatuan. Sebenarnya jarak dari Palabuhan Darmaga ke Palabuhan Caruban tidaklah jauh, bisa ditempuh dalam waktu dua hari dengan berkuda. Namun karena menempuh jalur hutan yang lebat tentulah tidak mudah bagi kuda untuk melaju kencang. Hari ketujuh menjelang malam, keduanya tiba puncak bukit menjelang Palabuhan Caruban. Nay Suci yang berkuda di depan menarik tali kekang dan berhenti..

"Kakang...lihat..!!! seru Nay Suci girang sambil menunjuk ke arah Palabuhan Caruban lalu melompat turun dari punggung kudanya.

Kai Darmaseta tersenyum sambil mengarahkan kudanya menghampiri Nay Suci.

"Akhirnya...." ujar Kai Darmaseta lega.

"Sebaiknya kita reureuh dulu di kaki bukit...menjelang tengah malam nanti kita baru masuk ke Palabuhan" sambungnya sambil melompat turun dari punggung kudanya.

"Baik Kakang..." jawab Nay Suci sambil kembali melompat naik ke atas punggung kudanya.

Keduanya kembali berpacu menuruni bukit.

Di sebuah pedukuhan yang tidak jauh dari Palabuhan, Kai Darmaseta dan Nay Suci menemui ketua padukuhan dan mengaku sebagai saudagar yang bermaksud membeli rempah-rempah untuk dibawa ke Palabuhan Kalapa. Setelah susah payah meyakinkannya, Kai Darmaseta dan Nay Suci berhasil membeli satu pedati kerbau penuh berisi rempah-rempah. Sebagai tanda terima kasih, selain membeli dengan harga tinggi keduanyapun menghadiahi kepala padukuhan dengan dua ekor kuda yang mereka tunggangi.

Ketua Padukuhan tentu saja sangat senang dan memerintahkan salah satu anak buahnya untuk mengantarkan rempah-rempah belanjaan Kai Darmaseta dan Nay Suci menggunakan pedati kerbau miliknya ke Palabuhan Caruban.

Kai Darmaseta dan Nay Suci memang memutuskan untuk menyamar menjadi saudagar rempah-rempah untuk mengelabui musuh dan juga mempermudah memperoleh tumpangan kapal ke Palabuhan Kalapa. Kerbau jantan itu tertatih-tatih menarik muatan rempah-rempah ditambah dengan tiga orang di atasnya yaitu kusir pedati, Kai Darmaseta dan Nay Suci.

Di gerbang penjagaan palabuhan, dua orang penjaga palabuhan mencegat mereka.

"Berhenti...berhenti..." teriak salah seorang yang bertubuh tinggi gempa berteriak sambil menghampiri ke arah pedati dengan obor di tangan kanannya. Sementara seorang penjaga lagi dengan kumis melintang berdiri tegak di hadapan pedati.

Melihat kedatangan penjaga palabuhan, Kai Darmaseta bergegas  turun dan menghampirinya.

"Aih...tuan penjaga, mohon maaf kami pedagang hendak membawa rempah-rempah ke Palabuhan Kalapa" ujar Kai Darmaseta sambil membungkukkan badannya.

Penjaga tersebut mengerutkan dahinya sambil mendekatkan obor ke arah wajah Kai Darmaseta.

"Sepertinya aku tidak pernah melihatmu...setiap pedagang yang biasa menggunakan kapal di Palabuhan Caruban ini...pasti aku kenal" ujarnya curiga sambil melongok ke dalam pedati.

"Kakang Suro...kemari cepat" panggilnya kepada temannya yang berkumis melintang.

Suro bergegas menghampiri sambil bertanya.

"Ada apa Mirja?"

"Orang katanya pedagang yang akan membawa barang dagangan ke Palabuhan Kalapa, tapi aku tidak mengenalnya" jawab Mirja sambil menatap Kai Darmaseta lekat-lekat.

Dicurigai seperti itu, Nay Suci bertindak cepat dengan turun dari atas pedati dan menjura dalam-dalam ke arah Mirja dan Suro.

"Ah...tuan penjaga ini bermata awas dan sangat teliti, kami memang baru pertama kali menumpang kapal dari Palabuhan Caruban...biasanya kami berangkat dari Palabuhan Darmaga" ujarnya mencoba mengambil hati kedua penjaga tersebut.

"Begitu rupanya..." ujar Mirja sambil melirik ke arah Suro.

Suro tersenyum tipis sambil memainkan kumis baplangnya.

"Kalian sepertinya kurang beruntung...kapal yang akan berangkat pagi nanti sudah penuh dengan muatan. Jadi aku tidak bisa mengijinkanmu masuk Palabuhan" ujarnya sambil berkedip ke arah Mirja.

Kai Darmaseta dan Nay Suci merasa kesal mendapat jawaban Suro, mana ada peraturan seperti itu. Lagipula yang memutuskan boleh tidaknya menumpang kapal bukanlah penjaga gerbang palabuhan tetapi Syahbandar. Namun Kai Darmaseta dan Nay Suci mencoba menyiasatinya untuk menghindari pertikaian yang akan memancing datangnya pasukan karatuan.

"Aduh...kami ini memang sedang tidak beruntung akhir-akhir ini. Kami sengaja mengejar ke Palabuhan Caruban karena ketinggalan kapal yang berangkat dari Palabuhan Darmaga. Tapi rupanya masih juga tidak beruntung" keluhnya.

"Kakang jangan khawatir...aku yakin tuan penjaga yang gagah ini pasti bisa membantu kita" Nay Suci menimpali sambil merangkapkan kedua tangannya di dada.

Suro dan Mira tersenyum mendengar ucapan Kai Darmaseta dan Nay Suci.

"Kakang Suro...bagaimana pendapatmu? Dapatkah kau membantu mereka?" tanya Mirja kepada Suro.

"Hmmm...tidak mudah..." ujarnya acuh tak acuh.

"Lebih baik kalian kembali lagi tiga hari di depan" sambungnya.

"Aduh...tuan penjaga, barang dagangan kami sudah ditunggu oleh pelanggan kami di Palabuhan Kalapa. Kami bisa kena denda...." ujar Kai Darmaseta.

"Kami siap membayar biaya lebih...tolong tuan penjaga pertimbangkan" timpal Nay Suci sambil mengeluarkan lima keping uang perak dari balik bajunya lalu menyodorkannya kepada Suro.

Suro mendengus tidak senang.

"Apa maksudmu? Uang segitu hanya cukup untuk makan di kedai! Kalian balik saja lagi...!!! sergahnya.

"Maafkan...maafkan kami yang lancang ini...tolong tuan penjaga sebutkan saja berapa yang dibutuhkan. Semoga kami dapat memenuhinya" Kai Darmaseta segera menetralisir keadaan.

"Setidaknya lima keping uang emas..." tegas Mirja.

Kai Darmaseta tersenyum.

"Nyai...kalau terlambat mengirim rempah-rempah ke Palabuhan Kalapa, kita akan kena denda yang besar. Aku pikir tuan penjaga ini sudah berbaik hati membantu kita...jadi berikanlah lima keping emas sekalian dengan lima keping perak itu" ujar Darmaseta.

"Ha...ha...ha...suamimu ini lebih bijak ternyata...." gelak Suro sambil menengadahkan telapak tangannya ke arah Nay Suci.

Dengan pura-pura segan, Nay Suci merogoh kantung di pinggangnya lalu mengeluarkan lima keping emas dan diserahkan kepada Suro.

"Eits...jangan lupa yang lima keping perak juga...he...he..he..." Mirja tergelak.

Dengan ogah-ogahan, Nay Suci menyerahkan lima keping perak kepada Suro.

"Tapi tuan berdua harus pastikan kami bisa berangkat besok pagi" ujar Nay Suci.

"Ha...ha...ha...jangan khawatir, aku akan mengurus semuanya. Kalian berdua ikuti aku...pedatinya bawa masuk saja ke dekat kapal...bilang saja sudah izin aku" gelak Suro meminta Kai Darmaseta dan Nay Suci agar mengikutinya dan memerintahkan pengemudi pedati agar mendekati kapal. 

"Mirja...kau jaga dulu di sini, aku akan mengurus mereka" sambungnya kepada Mirja.

======

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #2