PEMBALASAN DENDAM YUCHI SAKSENA

"Dewata Agung...apa yang terjadi?" Kusno memekik kaget melihat keadaan rumah Barna.

Halaman rumahnya terlihat ledeg seperti bekas jejak perkelahian, ceceran darah yang terlihat mulai mengering. Sementara jendela dan pintunya terbuka lebar, tidak ada suara kehidupan hanya suara binatang hutan yang terdengar.

"Barna...Barna...di mana kau?!!!" teriaknya memanggil Barna, namun hanya suara binatang hutan yang terdengar.

Kusno melompat turun dari punggung kudanya dan melangkah cepat hendak menuju ke tangga rumah. Namun langkahnya terhenti saat sudut matanya menangkap ada sosok yang tergeletak di kolong rumah.

"Barna......Barna..." Kusno histeris sambil menghampiri sosok yang sangat dikenalnya.

Kusno berjongkok dan memeriksa keadaan tubuh Barna yang sudah kaku dan mulai dikerubungi lalat hijau. Setelah memastikan keadaan Barna, Kusno bangkit dan mundur menjauhi mayat Barna.

"Siapa yang telah berani membunuh Barna?" batin Kusno sambil matanya nyalang mengawasi sekitar.

"Minah...Minah..." Kusno memanggil istri Barna sambil melompat ke atas tangga rumah.

Dilihatnya keadaan di dalam rumah tidak ada yang mencurigakan, semuanya masih kelihatan rapi hanya dipan tempat tidur yang sepertinya acak-acakan belum dirapikan. Kusno berbalik dan keluar rumah lalu menuruni tangga kembali ke halaman. Dilihatnya sebuah perapian yang sepertinya baru saja digunakan dan masih mengeluarkan asap tipis.

"Keparat...rupanya masih belum lama ada orang lain di sini" batin Kusno sambil meraba abu perapian yang masih terasa hangat.

"Si Minah tidak ada di sini...apakah jangan-jangan dia yang telah membunuh Barna?" Kusno mulai mencurigai Minah karena dilihatnya yang terbunuh hanyalah Barna.

"Arrggggghhhhh...keparat....siapa yang telah berani membunuh Barna?...Keluar kau bajingan....!!!" Barna berteriak sekuat tenaga melampiaskan amarahnya.

Barna adalah saudara seperguruan silat dengan Kusno, sejak kecil mereka selalu bersama. Bahkan setelah dewasa, Barna lah yang mengajak Kusno untuk ngajawara di Palabuhan Pamalang. Keduanya bahu membahu, saling jaga saat harus berhadapan dengan jawara-jawara silat yang sudah lebih dulu menguasai Palabuhan Pamalang. Selama bertahun-tahun keduanya menguasai wilayah di sekitar Palabuhan Pamalang sebelum dikalahkan oleh Wiji yang akhirnya mengajak mereka berdua menjadi pegawal Juragan Arya Jumadi.

Sekitar setahun yang lalu Barna memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai pengawal Juragan Arya Jumadi dan memutuskan untuk berladang. Barna tinggal di rumahnya di tengah ladang yang cukup luas bersama istrinya, Minah. Perempuan yang dikenalnya di Palabuhan Kalapa saat mereka berempat (Barna, Kusno, Jarot dan Wiji) ditugaskan oleh Juragan Arya Jumadi untuk membunuh Jaka Saksena. Saat itu, Barna  menyamar sebagai saudagar dan sering mendatangi rumah Jaka Saksena, berpura-pura untuk urusan pengiriman rempah melalui kapal. Dari kunjungan-kunjungan tersebutlah, akhirnya Barna dapat memikat hati Minah, pelayan kepercayaan Yuchi Meiyang, istri Jaka Saksena. Dengan mulut manis dan janji-janji muluknya, Barna bisa meyakinkan Minah untuk meracuni Jaka Saksena dan Yuchi Meiyang.

Kelopak mata Kusno mulai basah oleh air mata, Barna sudah dianggap seperti saudaranya sendiri. Kusno jatuh berlutut di atas tanah sambil meremas rambutnya.

"Barna...kenapa kau harus mati seperti ini?...keparat...aku bersumpah untuk membalas dendam...!!!" teriak Kusno memecah kesunyian ladang.

Setelah beberapa saat tenggelam dalam kesedihan, Kusno bangkit lalu menghampiri tubuh Barna dan memanggulnya ke samping rumah untuk dikuburkan. Menjelang malam Kusno selesai menguburkan mayat Barna.

Kusno termenung di depan perapian di halaman rumah.

"Apakah kematian Barna ada hubungannya dengan kekhawatiran Juragan Arya Jumadi?" batin Kusno sambil duduk di depan perapian yang baru saja kembali dinyalakannya.

"Lalu kemana Minah...apakah dia melarikan diri...atau...ah..lebih baik aku melapor kepada Juragan Arya Jumadi" Kusno penasaran dengan keberadaan Minah, istrinya Barna.

Kusno memutuskan untuk bermalam di rumah mendiang Barna, selain untuk menenangkan hatinya yang kalut, dirinya pun merasa akan lebih baik jika melapor ke Juragan Arya Jumadi besok pagi. Juragan Arya Jumadi akan murka jika waktu bersama istri mudanya diganggu oleh siapapun.

#

Setibanya di halaman rumah Juragan Arya Jumadi, Jarot dan Wiji melompat turun dari punggung kudanya masing-masing. Keduanya bergegas berjalan memasuki pendopo rumah yang terbuka. Mereka terkejut bukan main melihat Kusno yang rupanya telah lebih dulu datang menghadap Juragan Arya Jumadi.

"Keparat...siapa yang berani membunuh Barna?...Sama saja dengan menantangku terang-terangan...!!!" suara Juragan Arya Jumadi menggelegar sambil kedua tangannya mencengkram pegangan kursi yang didudukinya.

Sementara Kusno yang berdiri di hadapannya hanya diam tertunduk. Jarot dan Wiji bergegas menghampirinya dan berdiri berjajar di samping Kusno. Mata Juragan Arya Jumadi nyalang memandang ke arah Jarot dan Wiji yang baru tiba.

"Kalian berdua...sudah tahu apa yang terjadi pada Barna?" tanyanya keras.

Hampir berbarengan Jarot dan Wiji menggelengkan kepala mereka.

"Kalian semua memang tidak berguna...teman sendiri mati tidak ada yang tahu!!!" geram Juragan Arya Jumadi sambil menendang meja yang ada di depannya.

Kusno menggeser badannya menghindari datangnya meja yang meluncur ke arahnya.

"Braaakkk...." meja tersebut hancur berantakan setelah menghantam salah satu tiang rumah.

Gigi Juragan Arya Jumadi bergemeletuk menahan amarah. Dia berdiri dari tempat duduknya lalu memandang ketiga anak buahnya dengan murka.

"Kau sudah cari si Minah?" tanyanya tajam kepada Kusno.

"Hamba belum berhasil menemukannya Juragan..." jawab Kusno dengan suara yang pelan.

"Plaaaakkk...." telapak tangan Juragan Arya Jumadi melayang menghantam pipi Kusno.

Kusno terjajar ke belakang sambil menahan sakit di pipinya, dirinya tidak berani mengaduh karena takut. Jarot dan Wiji saling berpandangan tidak mengerti apa yang telah terjadi.

"Mohon ampun Juragan...sebenarnya apa yang terjadi kepada Barna?" Wiji memberanikan diri bertanya.

Juragan Arya Jumadi mengerling tajam kepada Wiji dengan muka yang sangat marah.

"Barna dibunuh...dan sekarang istrinya hilang entah dimana...!" ujar Juragan Barna dengan nada tinggi.

"Barna dibunuh?...siapa yang telah berani membunuhnya?" tanya Jarot keceplosan.

Mendengar pertanyaan Jarot, Juragan Arya Jumadi semakin muntab.

"Goblok...kalau aku tahu siapa yang membunuhnya...tidak akan bertanya pada kalian...!!!" sembur Juragan Arya Jumadi.

Jarot mengkerut ketakutan.

"Jangan-jangan...." gumam Wiji pelan.

Namun gumaman Wiji rupanya tertangkap oleh telingan Juragan Arya Jumadi.

"Jangan-jangan apa Wiji?...bicara yang jelas jangan sepotong-sepotong!!!" bentak Juragan Arya Jumadi sambil bertolak pinggang.

"Ampun Juragan...beberapa minggu yang lalu, ada orang asing yang menginap di rumah hamba. Dia mengaku berasal dari kulon hendak menuju ke Palabuhan Pamalang...namanya..." Wiji menarik nafas panjang sebelum meneruskan ucapannya.

Juragan Arya Jumadi mendelik menunggu kelanjutan ucapan Wiji.

"...namanya Saksena..." sambung Wiji.

"Lalu apa hubungannya dengan terbunuhnya Barna?" Juragan Arya Jumadi mengerutkan dahi masih belum bisa menangkap maksud dari penjelasan Wiji.

"Ampun Juragan...apakah Juragan masih ingat dengan kejadian kurang lebih sepuluh tahun yang lalu?" tanya Wiji hati-hati.

"Kejadian apa?...banyak sudah yang terjadi...ah...sudah...cepat kau katakan saja...kejadian apa...jangan berbelit-belit" sergah Juragan Arya Jumadi tidak sabar.

"Kejadian....Syahbandar Palabuhan Kalapa...Jaka Saksena yang kami bunuh..." jawab Wiji.

"Jaka Saksena...Saksena...jadi maksudmu ini ada hubungannya dengan kejadian tersebut?" tanya Juragan Arya Jumadi.

"Hamba pikir begitu..." sambar Kusno sambil mengusap-usap pipinya yang masih terasa panas.

Juragan Arya Jumadi mendelik mendengar pertanyaannya kepada Wiji disambar oleh Kusno.

"Aku tidak bertanya kepadamu goblokkk...." sergahnya.

Kusno mengkerut sambil menundukkan wajahnya.

"Dulu Minah pernah bercerita bahwa Jaka Saksena mempunyai seorang putra berusia sekitar sepuluh tahun...berarti sekarang berusia sekitar duapuluh tahunan. Usianya cocok dengan pemuda yang menginap di rumah hamba" Wiji menjelaskan.

"Sekarang kemana anak keparat itu?...biar aku buat mampus menyusul bapaknya...!" tanya Juragan Arya Jumadi.

"Mohon ampun Juragan...mereka sudah pergi menuju ke Palabuhan...sebelumnya hamba tidak mencurigainya...mohon ampunkan hamba" ujar Wiji sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

"Goblokkkk...keparat...kau biarkan anak keparat itu lolos untuk membunuh Barna dan mungkin saja sekarang sedang mengincar nyawaku!!!...Kau memang tidak berguna .....!!!" Juragan Arya Jumadi murka sambil menunjuk-nunjuk muka Wiji.

Juragan Arya Jumadi meremas rambutnya sendiri sambil melangkah mondar-mandir, sementara ketiga anak buahnya hanya diam mematung tidak berani bergerak ataupun bersuara.

Setelah berfikir beberapa saat, akhirnya Juragan arya Jumadi menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap kembali ke arah ketiga anak buahnya.

"Wiji kau jelaskan ciri-ciri anak keparat itu..." perintahnya kepada Wiji.

"Ampun Juragan...anak itu berusia sekitar duapuluh tahunan, berwajah tampan dan berkulit kuning, berpakaian merah dan dipunggungnyanya menyandang senjata pedang. Dia bersama-sama dengan seorang perempuan muda cantik, berkulit putih berusia sekitar delapanbelas tahun...mereka selalu menggunakan caping bambu" Wiji menjelaskan.

"Hmmm...jadi anak ingusan itu mau membalas dendam..." gumam Juragan Arya Jumadi.

"Wiji, Kusno...kalian berdua sekarang juga berangkat ke palabuhan...cari anak ingusan itu dan langsung kalian bunuh. Dan kau Jarot...tambah lagi pengawalan di sekitar rumahku sekalian hari ini juga kau jemput Ki Masta dan ajak kemari" perintahnya.

"Teman perempuannya tangkap dan bawa kemari...kalau tidak terpaksa jangan kalian lukai...siapa tahu dia bisa menjadi istri mudaku...he...he..." sambungnya sambil terkekeh, dalam kondisi seperti itupun sifat hidung belangnya tidaklah hilang.

Setelah ketiga anak buahnya pergi, Arya Jumadi kembali duduk di kursinya.

"Bocah ingusan mau cari perkara dengan Arya Jumadi...akan kutebas kepalanya dan kulempar ke muara...biar jadi santapan buaya...he...he..." gumamnya terkekeh.

====

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #5

Yuchi Saksena berdiri tegak di atas sebuah batu besar yang berada di puncak sebuah bukit, kedua matanya menatap tajam ke arah sebuah rumah besar yang dikelilingi pagar kayu yang tinggi dan sangat rapat. Untuk dapat memasuki rumah tersebut hanya bisa melalui sebuah gerbang besar yang dikawal lebih dari sepuluh laki-laki bertubuh tinggi besar.

Sementara itu Dewi Sekarasih terlihat sedang duduk sambil menyandarkan punggungnya ke sebuah pohon besar yang cukup rindang.

"Kakang...kapan kita menyerang mereka?...sudah sehari semalam kita mengawasi rumah itu. Tanganku sudah gatal ingin menghajar orang-orang yang telah membunuh ayah dan ibumu" ujar Dewi Sekarasih sambil mengusap-usap pedang kuning kesayangannya.

Yuchi Saksena menarik nafas panjang lalu berbalik menghampiri Dewi Sekarasih lalu duduk di atas batang pohon tumbang. Berhadapan dengan Dewi Sekarasih yang langsung membetulkan posisi duduknya.

"Tikus kecil...kita harus berhati-hati dalam bertindak, aku lihat banyak orang yang keluar masuk rumah tersebut dan sepertinya para pengawalnya bertambah banyak daripada kemarin. Aku merasa mungkin Arya Jumadi sudah bersiap-siap menyambut kedatangan kita" jawab Yuchi Saksena tenang sambil menunduk tanpa melihat ke arah Dewi Sekarasih.

"Lagipula aku ingin menikmati perburuan ini....aku ingin Arya Jumadi merasakan ketakutan yang berkepanjangan sebelum aku menghabisinya..." sambungnya dengan senyuman tipis yang menggidikkan.

Dewi Sekarasih menatap wajah Yuchi Saksena dengan pandangan penuh kasih sayang.

"Kakang...." panggilnya mesra.

Yuchi Saksena mengangkat wajahnya menatap ke arah Dewi Sekarasih namun kemudian membuang pandangannya. Seolah tidak kuasa bertatapan mata dengan wanita cantik yang diam-diam sudah dicintainya itu.

Dewi Sekarasih bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Yuchi Saksena dan duduk di sampingnya.

"Kakang...apa rencanamu setelah ini semua ini berakhir?" tanyanya sambil mengusap dengan lembut lengan Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena sekilas menatap wajah Dewi Sekarasih yang sekarang sudah duduk begitu dekat di sampingnya. Ditariknya nafas dalam-dalam.

"Entahlah...yang pasti aku akan mengantarkanmu kembali ke orangtuamu...aku tidak mau jadi buronan orang-orang Karatuan gara-gara membawa pergi Putri mereka" jawab Yuchi Saksena.

"Lalu setelah itu...?" kejar Dewi Sekarasih penasaran.

"Mungkin aku akan kembali ke Bukit Panyandaan...menemui kakekku" ujar Yuchi Saksena.

Wajah Dewi Sekarasih terlihat merengut.

"Aku...lalu aku bagaimana?" tanyanya kesal.

"Kau?...ya terserah kau saja..." Yuchi Saksena acuh tak acuh.

"Kau ini...." Dewi Sekarasih gusar, tangan kiri Dewi Sekarasih yang tadinya mengusap-usap lengan Yuchi Saksena berubah menjadi mencubitnya gemas.

"Aduuuuhhhh..." Yuchi Saksena mengaduh sambil mengusap-usap lengannya yang dicubit oleh Dewi Sekarasih.

"Lantas apa maumu tikus kecil?" tanya Yuchi Saksena masih meringis.

"Aku mau ikut denganmu Kakang...kau sudah berjanji untuk mengawiniku" Dewi Sekarasih merajuk.

"Mana bisa seperti itu tikus kecil?...kau adalah seorang Putri Keraton...tentu orangtuamu sudah menjodohkanmu dengan seorang Prabu atau setidaknya putra dari Prabu..." ujar Yuchi Saksena sendu, ada nada kesedihan dalam ucapannya.

"Tidak mau...aku hanya mau mengawinimu...siapapun tidak bisa mencegahku" ujar Dewi Sekarasih tegas.

Yuchi Saksena menggelengkan kepala mendengar kerasnya hati perempuan cantik di sampingnya.

"Kau akan sengsara jika terus bersamaku...lebih baik kau..." ucapan Yuchi Saksena terpotong oleh ucapan dan pelukan Dewi Sekarasih.

"Tidak...aku tidak mau mendengar alasan apapun darimu Kakang...aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku..." ujar Dewi Sekarasih pelan sambil memeluk lengan Yuchi Saksena.

"Kau pun mencintaiku bukan?" sambungnya dengan mata berkaca-kaca.

Yuchi Saksena memalingkan wajahnya ke arah Dewi Sekarasih, wajah keduanya begitu dekat, nafas mereka begitu panas. Yuchi Saksena mendekatkan wajahnya, Dewi Sekarasih sesaat terpana lalu memejaman matanya. Yuchi Saksena mengecup kening Dewi Sekarasih, lembut dan lama. Semilir angin, dengungan serangga hutan dan jeritan elang liar seolah berhenti sejenak untuk menjadi saksi cinta mereka berdua. Bagi Dewi Sekarasih, kecupan Yuchi Saksena menjawab semuanya. Hatinya begitu berbunga-bunga seakan inilah kebahagiaan terbesar yang pernah dialaminya.

Begitulah cinta kedua sejoli tersebut akhirnya bersemi, dari pertemuan tidak sengaja lalu pertengkaran demi pertengkaran sepanjang perjalanan yang akhirnya membuat mereka saling jatuh cinta. Cukup lama mereka berpelukan seolah tidak bisa dipisahkan sampai akhirnya, Yuchi Saksena mengakhiri kecupannya.

"Tikus kecil...bersiaplah, kita harus segera turun bukit untuk mencari makanan sekaligus mencari cara agar bisa masuk ke dalam rumah Arya Jumadi" ujarnya.

Dewi Sekarasih seolah tidak mau melepaskan pelukannya dari lengan Yuchi Saksena.

"Sebentar Kakang..." Dewi Sekarasih seolah tersentak karena mengingat sesuatu. Tangannya meraba-raba ke dalam bajunya.

"Ah...syukurlah tidak terjatuh..." gumamnya sambil mengeluarkan sebuah kitab kecil yang cukup tebal namun sudah berwarna kuning di makan usia.

Diangsurkannya kitab ke arah Yuchi Saksena.

"Kakang...lihat kitab ini, apakah kau bisa membacanya?" tanyanya.

Yuchi Saksena menyambut kitab tesebut lalu membukanya.

"Tigapuluh Jurus Pedang Naga Sungai Kuning..." gumamnya membaca halaman pertama kitab tersebut.

"Darimana kau mendapatkan kitab ini...?" sambungnya penasaran.

"Aku mendapatkannya dari Aki Guruku...satu paket dengan pedang ini" jawab Dewi Sekarasih sambil menunjuk pedang kuning miliknya.

"Hmm...sudah kuduga...pedangmu bukanlah senjata sembarangan...kitab ini berisi jurus-jurus untuk memainkannya" ujar Yuchi Saksena.

"Jadi kau bisa membacanya Kakang?...tolong ajari aku kitab itu" Dewi Sekrasih sumringah.

Yuchi Saksena menarik nafas panjang.

"Kitab ini menggunakan bahasa China kuno...aku tidak yakin bisa membantumu..." Yuchi Saksena seperti menyesal sambil mengembalikan kitab tersebut ke Dewi Sekarasih.

Dewi Sekarasih wajahnya sedikit kecewa, dengan lemas diterimanya kembali kitab tersebut dan kembali dimasukkan ke balik pakaiannya.

"Tapi..." Yuchi Saksena tidak menyelesaikan ucapannya seperti ragu-ragu.

"Tapi apa Kakang?..." Dewi Sekarasih penasaran.

"Kakekku di Bukit Panyandaan mungkin bisa membantumu..." ujar Yuchi Saksena.

"Benarkah?...setelah ini selesai kita segera menemui kakekmu...sekalian kita minta restu dan menikah..hi..hi.." ujar Dewi Sekarasih terkikik.

Yuchi Saksena tersenyum lebar sambil mencubit hidung bangir milik Dewi Sekarasih. Langit mendadak cerah dan burung-burung berkicau riang melihat kemesraan mereka berdua.

Baca juga : Dewa : Antara Cinta Yang Terabaikan, BuTar dan Covid19