PWAH KENANGA TERJEBAK!!!



Hari mulai gelap saat Juragan Godim memerintahkan Narsih dan Sumi untuk membereskan kedai dan bersiap-siap untuk tutup.

"Narsih, Sumi kalian bereskan meja-meja dan perabotan-perabotan yang kotor. Hari ini semua makanan dan minuman ludes terjual" ujar Juragan Godim sambil bejalan menuju pintu kedai.

Juragan Godim melangkah ke luar kedai menghampiri seorang pegawai laki-lakinya.

"Soma...kau bawa kuda Rakean Sancaka ke istal milikku...biar diurus si Carna" ujar Juragan Godim kepada laki-laki tua yang biasa mengurus kuda-kuda tamu kedai.

"Baik Juragan...." jawab Soma singkat sambil menarik si Jagur, kuda milik Rahiang Sanjaya.

"Heeeehhh.....huuuuuhhh......." Juragan Godim menghela nafas panjang.

Pikirannya merasa terganggu dengan kejadian tadi sore karena walau bagaimanapun dia sangat mengenal perangai Margo. Tentu saja Margo tidak akan melepaskan Sumi begitu saja.

"Sumi...Sumi...ada-ada saja...semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan dirimu" batin Juragan Godim cemas.

Setelah memasang papan-papan kayu menutupi semua jendela, Juragan Godim melangkah ke dalam kedai dan memasang tulak pintu. Dengan langkah gontai, Juragan Godim menghampiri Narsih dan Sumi yang sedang mencuci perabotan di dapur.

"Nanti jalan pulang...kalian harus berhati-hati, terutama kau Sumi. Kalau ada apa-apa segera lari kembali ke warung atau ke rumahku" Juragan Godim menasihati kedua pegawai perempuan yang sudah dianggap seperti keluarganya sendiri.

"Baik Juragan....." jawab Sumi singkat sambil tetap mencuci perabotan.

"Kalau aku malah pengen ada apa-apa....udah lama kering...hi..hi..." ujar Narsih genit.

Juragan Godim menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.

"Makanya kau harus segera menikah lagi...biar ga kegatelan..he...he...Harusnya Juragan Margo itu minta dirimu saja yang menemani...bukannya si Sumi" Juragan Godim terkekeh.

"Sudahlah...aku pulang dulu. Nanti pasang selot dan tulak dan jangan lupa...hati-hati di jalan" sambung Juragan Godim sambil berlalu keluar kedai melalui pintu belakang.

Juragan Godim berlalu meninggalkan kedai sementara Narsih dan Sumi meneruskan pekerjaannya membersihkan perabotan.

#

Malam itu suasana di pelabuhan sangat ramai, obor-obor menyala di setiap penjuru, kuli-kuli pelabuhan sibuk menaikkan muatan ke atas kapal. Para pengepul hasil tani terlihat berbicara serius dengan saudagar-saudagar yang akan membeli barangnya. Para pengepul ini membeli hasil tani terutama rempah dari petani di pegunungan dan membawanya ke pelabuhan.

Malam itu Margo terlihat sangat sibuk, setelah seluruh barang dagangan yang ada di kapal dibawanya turun dan masuk gudang, sekarang waktunya membeli rempah-rempah untuk dijual di Caruban.

"Semua hasil tani yang mau dijual ke Juragan Arya Suta tolong dikumpulkan di sebelah sini" teriak Mago sambil menunjuk sebuah saung rumbia.

Juragan Arya Suta terkenal sebagai saudagar yang cukup baik dan tidak pernah menindas pengepul. Juragan Arya Suta selalu membeli dengan harga yag sedikit lebih tinggi daripada saudagar lain. Oleh karena itu, kedatangan Juragan Arya Suta sangat ditunggu-tunggu oleh para pengepul.

Mendengar teriakan Margo, sontak semua semua pengepul itu tergopoh-gopoh membawa rempah jualannya ke tempat yang ditunjuk oleh Margo. 

Sementara itu Sumi dan Narsih berjalan pulang menyusuri jalan setapak diantara lebatnya pepohonan dan gelapnya malam. Narsih memegang obor bambu kecil yang sudah diisi keletik (minyak kelapa) sementara Sumi berjalan di depannya. Rumah Sumi dan Narsih berada dalam satu kampung, bahkan Narsih lah yang mengajak Sumi untuk bekerja di kedai Juragan Godim.

"Sumi, kapan Kang Seta akan pulang dari Pamalang?" tanya Narsih membuka percakapan menanyakan kabar suaminya Sumi.

"Entahlah Ceu...akupun tidak tahu, sudah tiga purnama menunggu tapi tidak datang juga" jawab Sumi mengeluhkan suaminya yang tidak kunjung pulang.

"Sudah Euceu bilang...kamu jangan mau dinikahi oleh anak buah kapal. Kecil kemungkinan mereka untuk kembali...kalau tidak mati ditangan perompak ya kawin lagi di palabuhan lain" Narsih menyurutkan harapan Sumi.

"Isshh...jangan kitu atuh Ceu, angguran mah di do'ain biar Kang Seta teh cepat pulang" suara Sumi sedih.

"Eh...Sum, besok pasti Juragan Margo datang lagi ke kedai...gimana mau ga kamu menemani dia" tanya Narsih mengalihkan topik pembicaraan.

"Nyao ah Ceu...kan Sumi udah bilang tidak mau, nanti apa kata Kang Seta kalau sampai tahu" wajah Sumi memerah.

"Halah...Kang Seta mah ga bakalan kembali, lagian...kelakuan dia juga pasti sama kaya Juragan Margo. Di tiap pelabuhan pasti main perempuan" Narsih memanas-manasi.

"Teuing ah Ceu...." jawab Sumi sambil berhenti di depan rumahnya.

"Nanti janari sampeur lagi ya Ceu" sambungnya kepada Narsih yang rumahnya hanya berjarak beberapa ratus meter di samping rumah Sumi.

"Iya jangan lupa...pikirkan tentang Juragan Margo, biar bisa ngurus rumah orangtuamu itu. Juragan Margo pasti ngasih uang banyak buat kamu" jawab Nrasih sambil menunjuk rumah Sumi dan orangtuanya yang sudah kelihatan tua dan lapuk.

Mendengar ucapan Narsih, hati Sumi sangat teriris dan hanya bisa tersenyum getir. Narsih berlalu meninggalkan Sumi menuju rumahnya.

Pelan-pelan Sumi menaiki tangga kayu yang sudah mulai rapuh dan mendorong pintu rumahnya yang reyot. Kedua orangtuanya tidak pernah memasang tulak pintu karena tahu Sumi selalu pulang malam. Sumi berjalan berjinjit melewati kedua orangtuanya yang tertidur pulas beralaskan tikar. Rumah itu hanya mempunyai tiga ruangan kecil, ruangan pertama adalah ruangan yang dipakai sebagai tempat berkumpul keluarga dan sekarang dijadikan tempat tidur kedua orangtuanya. Ruangan kedua dan ketiga adalah kamar tidur yang biasa digunakan oleh kakak perempuan dan laki-lakinya. Sekarang semua kakak perempuan dan laki-lakinya sudah meninggalkan rumah, dua orang kakak perempuannya dibawa oleh suaminya masing-masing ke kampung sebelah dan tinggal di sana. Sementara tiga orang kakak laki-lakinya ngumbara entah kemana, entah masih hidup atau sudah mati.

Sumi menghempaskan tubuhnya di atas tikar tipis di dalam kamar tidurnya. Matanya menatap kosong langit-langit dan pikirannya menerawang kemana-mana. Diantara temaram lampu cempor, sekilas wajah Kang Seta melintas.

"Ah...Akang, kemana saja atuh..kenapa tidak kembali" batin Sumi. Tidak terasa air mata mulai mengembang di kedua sudut matanya. Sumi yang masih belia bersedia dinikahi oleh Kang Seta yang sudah berumur karena dijanjikan akan mengurus kedua orangtuanya dan membuatkan rumah baru untuk mereka.

Namun janji tinggal janji, setelah dua malam keduanya dibuai nikmatnya malam pengantin, Kang Seta memutuskan untuk kembali ikut berlayar dengan kapal yang menuju ke Palabuhan Pamalang. Kang Seta berjanji dalam dua purnama akan kembali dan membawa uang yang banyak untuk Sumi dan kedua orangtuanya.

"Aaaaahhh...Kang Seta" rintih Sumi di antara air mata yang mulai turun dipipinya yang bersih. Tangannya mulai mengusap kedua dadanya yang menonjol bulat dibalik kembennya. Diremasnya dengan perlahan...kedua matanya mulai menutup sedangkan bibirnya sedikit terbuka mengeluarkan desahan-desahan pelan. Belum puas dengan dadanya, tangan kanan Sumi bergerak membuka kain panjang yang membungkus tubuh bagian bawahnya. Tangannya bergerak pelan ke pangkal pahanya yang sudah terbuka.

"Kang Seta..." rintihan Sumi terdengar semakin memelas sementara tubuhnya melejang-lejang liar.

Seet...seeett....sebuah bayangan hitam melayang ringan turun dari atas kamar. Sumi yang sedang terhanyut dalam kerinduan kepada sentuhan suaminya tidak menyadari kehadiran bayangan tersebut. Melihat dari gerakan tubuhnya yang enteng dan sama sekali tidak menimbulkan suara...jelas bahwa bayangan hitam tersebut mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tinggi.

"Tuk...tuk..." bayangan hitam itu bergerak cepat menotok pangkal leher Sumi yang sedang menggeliat-geliat mengejar kenikmatan.

"Heug....." Sumi kaget bukan kepalang namun terlambat, tubuhnya terasa lemas tidak bisa bergerak dan tidak bisa bersuara.

"Dewata Agung...siapa orang ini" batin Sumi kaget dan juga malu mengingat apa yang sedang dilakukannya.

Bayangan hitam tersebut berjongkok di atas tubuh Sumi yang hampir telanjang. Dari jarak dekat Sumi dapat mengenalinya bahwa bayangan hitam itu adalah....

"Ju...ju...ragan...." suara Sumi tercekat ditenggorokan.

"Jangan berteriak...atau kubunuh kau dengan kedua orangtuamu sekalian" desis bayangan hitam itu ditelinga Sumi.

Gairah Sumi mendadak sirna yang ada hanya rasa takut dan malu.

#

"Sumi...Sumi...!!!" terdengar suara Narsih memanggilnya.

Sumi yang baru tertidur menjelang tengah malam, terperanjat dan segera bangkit dari tidurnya.

"Haduh...haduh...kesiangan ini mah" keluh Sumi sambil membetulkan kain panjang dan kembennya yang terbuka dimana-mana. Kejadian datangnya bayangan hitam tadi malam membuat Sumi tanpa sadar tertidur dengan tubuh hampir telanjang.

Dengan terburu-buru Sumi keluar dari kamarnya menuju pintu keluar.

"Sinarieun kesiangan Neng...cepetan kasian si Narsih nungguin" tegur ibunya yang ikut terbangun.

"Iya éma..." jawab Sumi singkat sembari beringsut menuruni tangga kayu.

"Hapunten Eucé...Sumi kapulesan" ujar Sumi merasa malu kepada Narsih yang menunggunya di bawah dengan obor di tangan.

"Ya udah gancangan...takut keburu Juragan Godim pulang dari pasar" jawab Narsih.

"Tapi aku belum sibeungét (cuci muka) Ceu...aku ke tampian (pancuran tempat mandi dan mencuci) sebentar" Sumi bergegas menuju ke tampian.

"Halah...teu kudu, nanti saja mandi di kedai" sergah Narsih sambil hidungnya bergerak-gerak seolah mencium sesuatu. Narsih tersenyum kecil karena sangat mengenal bau yang tercium dari tubuh Sumi.

"Sebentar Eucé...tidak enak...badan serasa lengket" jawab Sumi.

"Aduh...kainku masih basah dan lengket...kalau Ceu Narsih tahu bisa malu" batin Sumi sambil berjongkok di depan pancuran. Dicobanya membersihkan lengket di kain menggunakan air pancuran.

Setelah Sumi membersihkan tubuhnya yang lemas dan tulang-tulangnya serasa dilolosi, mereka berdua bergegas berjalan beriringan menuju kedai untuk memasak dan menyiapkan makanan untuk dijual.

"Sumi...apakah tadi malam ada yang datang ke rumahmu?" tanya Narsih yang berjalan di depan Sumi menyelidik sambil berbalik dan mendekatkan obor ke muka Sumi.

Bagaikan disambar geledek Sumi terperangah, untung saja karena masih gelap perubahan wajahnya yang menjadi merah tidak terlihat oleh Narsih.

"Ti..ti..tidak ada...maksud Eucé apa?" Sumi mencoba menenangkan dirinya.

"Maksudku tadi malam Juragan Margo datang ke rumahmu atau tidak?" Narsih mendesak.

"Jangan bohong...tubuhmu bau p****...makanya tadi kau bersikeras mau mandi..iya kan?" sambungnya menyudutkan.

Sumi semakin gugup dan malu.

"Sudah ah Cé...nanti keburu siang, kita harus segera ke kedai" ujar Sumi sambil berjalan mendahului Narsih.

"Kau...jangan main rahasia-rahasiaan kepadaku...." Narsih masih penasaran mengejar Sumi. Sementara Sumi mempercepat langkahnya menghindar.

Baca juga : Rahiang Sanjaya : Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #14

#

Matahari mulai muncul di ufuk timur saat Rahiang Sanjaya terbangun dari tidurnya. Rasa lelah dan capainya setelah berkuda hampir empat hari membuat dirinya tertidur dengan pulas. Perlahan-lahan bangkit dari dipan tempat tidurnya.

"Aaaah....lelap sekali tidurku..." gumamnya lalu berdiri menuju ke luar kamar dan menuruni tangga.

Penginapan milik Juragan Godim cukup banyak terdiri dari lima buah bangunan tinggi yang dibuat terpisah (seperti villa/bungalow jaman sekarang). Setiap bangunan terdapat sebuah pancuran di bawahnya. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rahiang Sanjaya berjalan menuju ke arah kedai.

"Waktunya mengisi perut sebelum jalan-jalan melihat-lihat palabuhan" gumamnya.

Di dalam kedai sudah ada beberapa pelanggan yang sedang mengisi perut, mereka adalah para pengepul hasil tani yang sudah menerima uang pembayaran dari saudagar-saudagar kaya.

"Aih...Rakean sudah bangun rupanya...silakan...silakan" Juragan Godim tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya tersenyum lalu duduk didepan sebuah meja yang kosong.

"Terima kasih Mamang..." ujarnya sambil celingak celinguk seperti mencari seseorang.

"Ampun Rakean...mencari apa rupanya?" Juragan Godim bertanya.

"Aku mencari laki-laki tua yang kemarin menjaga kuda di sana" jawab Rahiang Sanjaya sambil menunjuk ke halaman depan kedai.

"Oh...Soma, dia sedang mengambil beras di gudang. Tapi jangan khawatir...kuda Rakean sudah kami urus dengan baik" jelas Juragan Godim.

"Baiklah Mamang...bagaimana dengan kapal yang akan aku tumpangi, apakah bisa ikut atau tidak?" tanya Rahiang Sanjaya.

"Tenang Rakean...hamba sudah mengurus semuanya. Rakean besok pagi tinggal naik saja ke atas kapal" jawab Juragan Godim.

"Ampun Rakean...bolehkah hamba bertanya?" sambungnya ragu-ragu.

Rahiang Sanjaya sejenak memandang wajah Juragan Godim yang mendadak salah tingkah.

"Hmm...boleh saja, mau bertanya apa?" jawab Rahiang Sanjaya ramah.

Juragan Godim menarik nafas lega melihat Rahiang Sanjaya tersenyum.

"Ampun Rakean...apakah Rakean berasal dari Karaton Galuh?...sekali lagi mohon ampun karena hamba berani lancang" tanya Juragan Godim pelan.

"Ha...ha...tidak apa-apa Mamang...aku bukan dari Karaton Galuh, asalku dari wetan hendak menuju Sundapura untuk berguru" jawab Rahiang Sanjaya tergelak.

"Ah...ah..iya..iya...ampun Rakean...maaf kalo hamba lancang. Sekarang hamba akan segera siapkan makanan" Juragan Godim tergagap sambil memmbungkukkan badannya lalu berlalu ke belakang.

"Narsih...tolong kau siapkan makanan untuk Rakean Sancaka di sana" perintah Juragan Godim sambil melirik ke arah Sumi yang tertunduk sambil membersihkan piring-piring yang akan diisi makanan.

"Baik Juragan...." jawab Narsih sambil mengikuti arah pandangan Juragan Godim.

"Aih...aih...ambuing...meuni gagah sekali...apakah dia seorang senapati dari Karatuan?" sambung Narsih sambil menutup mulutnya terkagum-kagum melihat betapa tampan dan gagahnya Rahiang Sanjaya.

"Kenapa baru kaget sekarang? Kau sudah bertemu dengannya kemarin sore" ujar Juragan Godim sambil tersenyum.

"Kemarin tidak terlihat tampan dan gagah seperti ini...betul tidak Sumi?" jawab Narsih meminta pembenaran dari Sumi.

Sumi yang sedang tertunduk mengangkat kepalanya.

"Ah..aku tidak tahu tahu Ceu...tidak memperhatikan..." jawab Sumi dengan wajah yang kemerahan sambil melirik ke arah Juragan Godim.

"Ah...kau ini...yang ada dimatamu hanya Kang Seta...Kang Seta...apa hebatnya sih? Atau jangan-jangan semalam sudah ada yang menyirami" goda Narsih sambil meraih bakul nasi dan beberapa piring lauk dan piring kosong dari atas meja lalu membawanya ke arah Rahiang Sanjaya.

"Apa sih...Ceu...udah cepat antarkan makanannya" sahut Sumi sambil tertunduk malu mendengar ucapan Narsih sementara Juragan Godim berlalu menuju mejanya. Sekilas Sumi melirik ke arah meja Rahiang Sanjaya sambil tersenyum malu.

"Silakan Gusti Rakean..." ujar Narsih setelah meletakkan bakul nasi dan beberapa lauknya di atas meja Rahiang Sanjaya.

Nasi putih yang mengepul ditambah gulai ikan yang juga mengepul membangkitkan selera makan Rahiang Sanjaya.

"Aih...aih...nikmat sekali kelihatannya. Terima kasih...terima kasih" jawab Rahiang Sanjaya ramah.

Sementara itu Narsih tetap berdiri tegak di hadapan Rahiang Sanjaya, kedua matanya berkedip-kedip genit. Sesaat Rahiang Sanjaya menatapnya.

"Ada apa lagi?" tanya Rahiang Sanjaya sambil tersenyum kepada Narsih.

Mendapat senyuman dari pemuda gagah dan tampan seperti Rahiang Sanjaya membuat Narsih gugup dan salah tingkah.

"Euh...euh...anu...Gusti Rakean..." Narsih yang sebelumnya bertingkah genit mendadak menjadi mati kutu.

"Apakah ada yang mau dipesan lagi..." sambung Narsih dengan muka memerah.

"Sudah...sudah...cukup..." kata Rahiang Sanjaya sambil meraih bakul nasi dan piring kosong.

Setelah membungkukkan tubuhnya dalam-dalam ke arah Rahiang Sanjaya, Narsih berlalu menuju ke dapur. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba masuk seorang laki-laki berpakainan hitam ke dalam kedai.

"Narsih...Narsih...tunggu sebentar, aku mau bicara" ujar laki-laki yang baru datang itu memanggil Narsih lalu duduk di depan meja tidak jauh dari meja Rahiang Sanjaya.

Mendengar ada yang memangginya, Narsih menghentikan langkahnya dan berbalik.

"Euléh...euléh...Juragan Margo...." seru Narsih girang seraya menghambur menghampiri meja Juragan Margo.

"Ya...Juragan mau makan apa?" tanya Narsih setiba di meja Margo sambil tersenyum-senyum genit.

"Urusan makan gampang...aku mau tanya, bagaimana anak baru itu mau tidak menemaniku malam ini?" tanya Margo menanyakan Sumi dengan suara yang pelan. Margo khawatir jika Juragan Godim mendengarnya.

Narsih terkejut, dirinya menyangka semalam Sumi sudah disatroni oleh Margo. Dia yakin sekali janari tadi mencium bau laki-laki di tubuh dan pakaian Sumi. Namun sebagai perempuan yang sudah berpengalaman, Narsih mencoba menutupi rasa kagetnya.

"Aduuh...Juragan Margo, anak itu susah sekali untuk dikasi tahu. Aku sudah mengiming-imingi dengan uang dan memuji-muji Juragan...tetap saja dia tidak mau. Dia takut dengan suaminya" jawab Narsih panjang lebar. Namun dalam kepalanya berkecamuk pertanyaan, siapa sebenarnya yang semalam telah mendatangi Sumi.

Margo mendengus kesal, jika saja Sumi bukan pegawai Juragan Godim tentu sudah dipaksanya. Namun memandang Juragan Godim yang berilmu tinggi dan juga hubungan baiknya dengan Juragan Arya Suta...Margo merasa jiper.

"Ahhh...sundal kecil itu...." rutuknya sambil tangannya memukul-mukul meja.

"Ehm...Juragan, daripada mengejar-ngejar yang tidak mau...mending yang mau saja" ujar Narsih sambil mengedipkan mata dan membusungkan dada bulat kebanggaannya.

"Sialan...sialan..." Margo menggentakkan kaki saking kesalnya. Lalu berdiri dengan wajah kesal lalu berjalan menuju pintu keluar.

Narsih bergegas mengejarnya.

"Bagaimana Juragan....?" tanya Narsih.

"Ya sudah...kau tunggu saja dirumahmu!" dengus Margo jengkel sambil menyelipkan kepingan uang perak di belahan dada Narsih yang membusung.

"Aih...aih...aku akan berdandan yang cantk sekali untuk juragan" ujar Narsih sambil tersenyum genit memandangi punggung Margo yang berlalu meninggalkan kedai.

Narsih berbalik menuju dapur dengan segudang pertanyaan dan langsung mendatangi Sumi yang baru selesai menghidangkan makanan untuk tamu lain.

"Sumi...sebentar ikut aku..." bisiknya sambil menarik Sumi ke balik dapur.

"Iya...Cé..ada apa?" sahut Sumi sambil mengikuti Narsih.

Setelah celingak celinguk memastikan tidak ada orang yang mendengar, Narsih mulai menginterogasi Sumi.

"Sumi...kau harus jujur kepadaku.." desisnya sambil menatap tajam kedua mata Sumi.

"Apakah Kang Seta sudah ada pulang ke rumahmu?" sambungnya.

Wajah Sumi sesaat memerah.

"Belum Cé..Kang Seta belum ada pulang..." jawab Sumi pelan.

"Lalu siapa laki-laki yang malam tadi menidurimu...kau jangan bohong kepadaku" nada suara Narsih mengancam.

Sumi gugup dan malu karena Narsih jelas-jelas menuduhnya, air mata mulai mengembang di kedua sudut matanya.

"Maafkan aku Cé...aku tidak berani...aku takut" suara Sumi bergetar ketakutan.

Narsih semakin penasaran.

"Juragan Margo?...atau siapa?" Narsih terus mendesak.

Sumi tidak menjawab hanya tertunduk mulai membasahi pipinya.

"Sumi...jangan takut, aku tidak akan membocorkan ke orang lain" Narsih mencoba menenangkan Sumi.

"Cé...Sumi takut dan malu...." jawab Sumi sambil memeluk Narsih dan menangis sejadi-jadinya.

#

Kita sejenak kembali melihat keadaan Pwah Kenanga yang sedang ditahan di rumah Senapati Wirajati, pemimpin telik sandi Karatuan Galuh. Setelah susah payah bersiasat, akhirnya Pwah Kenanga dipindahkan dari Guha Siluman ke rumah Senapati Wirajati.

Pwah Kenanga dengan tangan dan kaki terikat diseret oleh seorang prajurit kepercayaan Senapati Wirajati dan dilemparkan ke atas sebuah dipan kayu di sebuah kamar yang tertutup rapat dengan dinding kayu yang sangat tebal. Sebuah cempor berkelip di sudut kamar dan terdegar gemericik air yang mengalir, sepertinya kamar itu dilengkapi pancuran untuk mandi.

"Biarkan malam ini ditahan di ruangan ini...besok pagi kita interogasi dia" ujar Senapati Wirajati yang mengikuti dari belakang.

"Ampun Gusti Senapati...apakah ada yang harus berjaga di depan kamar ini?" tanya prajurit tersebut sambil menutup pintu dari luar dan memasangkan tulak yang sangat kokoh.

Sesaat Senapati Wirajati memejamkan matanya seolah berfikir keras.

"Hmm...tidak perlu, kau perketat saja penjagaan diluar rumah. Jangan seorangpun diijinkan masuk...kalau memaksa...bunuh saja" ujar Senapati Wirajati tegas.

"Baik Gusti Senapati...." jawab prajurit tersebut sambil membungkukkan badannya lalu berbalik meninggalkan tempat tersebut.

Sepeninggal prajurit tersebut, Senapati Wirajati memandang daun pintu ruangan tempat Pwah Kenanga ditahan. Dilangkahkan kakinya mendekati namun sesaat langkahnya terhenti dan berbalik meninggalkan tempat tersebut menuju ke kamar tidurnya.

Sementara di dalam ruangan tahanan, Pwah Kenanga perlahan-lahan menggerakkan badannya namun ikatannya sangat kuat sehingga dirinya benar-benar tidak bisa bergerak.

"Ahh...apes sekali nasibku...." batin Pwah Kenanga merutuki kesialannya ditangkap oleh prajurit Karatuan Galuh.

Dipejamkan kedua matanya mencoba tidur untuk meredam rasa sakit di pipi dan kepalnya akibat ditampar dan dijambak oleh Kunta. Sesaat Pwah Kenanga akan tertidur tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka.

"Kraakk...krekek...." Pwah Kenanga memicingkan matanya mengawasi ke arah pintu.

Dari balik pintu muncul Senapati Wirajati membawa seperangkat pakaian perempuan.

"Ajengsari...apakah kau sudah tertidur?" tanya Senpati Wirajati sambil mendekati dipan kayu dan duduk disamping Pwah Kenanga yang tergolek tidak berdaya.

"Aahh...Kakang Senapati, bagaimana aku bisa tertidur dengan keadaan diikat seperti ini" jawab Pwah Kenanga lembut sambil mencoba untuk menggerakkan tubuhnya.

"Ambuing...ambuing...maafkan aku....sebentar aku buka dulu ikatanmu" Senapati Wirajati bergegas meletakkan pakaian perempuan yang dibawanya lalu membuka ikatan di kaki dan tangan Pwah Kenanga.

Setelah ikatan di kaki dan tangannya terlepas, Pwah Kenanga segera bangkit dan bersujud di hadapan Senapati Wirajati.

"Terima kasih Kakang Senapati...aku menghaturkan terima kasih yang tidak terhingga kepadamu" ujar Pwah Kenanga sambil tetap bersujud di atas dipan kayu.

"Ah...sudahlah Nyai, kau jangan berlebihan...sekarang kau bersihkan dulu badanmu dan ganti pakaianmu dengan ini" ujar Senapati Wirajati sambil memegang pundak Pwah Kenanga lalu menariknya untuk bangun.

"Dibalik kamar ini ada pancuran untuk mandi...nanti aku kembali kemari" sambungnya sambil berdiri dan menyodorkan pakaian yang dibawanya tadi kepada Pwah Kenanga. Sesaat setelah memandang ke arah mata Pwah Kenanga, Senapati Wirajati berlalu meninggalkan kamar tersebut.

"Baik Kakang Senapati" jawab Pwah Kenanga singkat.

Setelah membersihkan seluruh badan dan mengganti pakaian dengan yang diberikan oleh Senapati Wirajati, Pwah Kenanga merasa sangat segar dan tenaganya hampir pulih. Pakaian yang diberikan oleh Senapati Wirajati, entah kebetulan atau tidak, sangat pas ditubuhnya seolah khusus dibuat untuk dirinya. Setelah mematut diri seperlunya, Pwah Kenanga menggulung rambutnya yang hitam menggerai indah dan mengikatnya di atas kepala. 

"Kriuk..kriuk..." tiba-tiba perutnya berbunyi.

"Ah...perut tidak tahu diri...baru satu hari saja tidak diisi..sudah menagih jatah" batin Pwah Kenanga sambil mengusap-usap perutnya yang rata.

"Nyimas...apakah kau sudah selesai?" tiba-tiba terdengar suara Senapati Wirajati dari balik pintu.

"Iya Kakang...aku sudah selesai" jawab Pwah Kenanga pelan.

"Kreekkk...." terdengar suara daun pintu yang didorong lalu muncul Senapati Wirajati dengan membawa bakul nasi dan beberapa piring berisi lauk yang ditumpuk di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegang kendi berisi air minum.

"Kau tentu lapar sekali Nyai...aku bawakan makanan. Makanlah dulu setelah itu kita bicara" ujar Senapati Wirajati sambil meletakkan bakul nasi dan piring-piring berisi lauk di atas dipan.

Sesaat Pwah Kenanga merasa terharu atas perhatian dan perlakuan laki-laki ini terhadapnya. Dipandanginya laki-laki berusia sekitar limapuluh tahun tersebut, wajahnya tidak terlalu tampan dengan raut muka yang tenang dan teduh hanya sorot matanya saja yang sedikit nakal. Tubuhnya tegap menandakan seorang yang mempunyai ilmu silat yang mumpuni.

Tanpa menunggu dua kali dipersilakan, Pwah Kenanga langsung menyambar piring berisi ayam bakar dan bakul nasi. Dilahapnya dengan nikmat, rasa lapar telah menghilangkan kewaspadaanya bahwa dirinya berada di sarang musuh.

Senapati Wirajati memandangi Pwah Kenanga yang seperti sudah berhari-hari tidak pernah makan dengan tatapannya yang terkesan nakal. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Lalu duduk di atas dipan tidak jauh dari Pwah Kenanga.

"Ahhh...nikmat sekali" ujar Pwah Kenanga setelah menandaskan hampir setengah bakul nasi dan beberapa piring lauk. Disambarnya kendi berisi air minum lalu ditotornya langsung ke mulutnya.

"Glek...glek...glek...euuuu.." Pwah Kenanga sampai sendawa saking nikmat dan kenyangnya.

"Sabar Nyai...jangan cepat-cepat seperti itu...kalau kau masih kurang...aku bisa bawakan lagi..he...he..." Senapati Wirajati sampai terkekeh melihat kelakuan Pwah Kenanga.

"Mohon maaf Kakang Senapati...kelakukanku memang tidak beradab. Maklum perempuan kampung" ujar Pwah Kenanga sambil menempelkan kedua telapak tangannya di atas kepala.

"Ha...ha...ha...tidak apa-apa Nyai, aku senang melihatmu. Sudah lebih dari satu tahun aku tidak tertawa seperti ini" ujar Senapati Wirajati tergelak.

"Ah...sepertinya pakaian itu pas sekali ditubuhmu, nanti aku bawakan lagi beberapa untukmu" sambungnya sambil matanya mengamati Pwah Kenanga dari ujung kepala sampai kaki.

"Pakaian itu adalah bekas mendiang istriku...istri yang sangat setia mendampingiku" suara Senapati Wirajati berubah jadi pelan, raut wajahnya menjadi muram.

"Kalau begitu aku tidak pantas memakainya...." ujar Pwah Kenanga merasa sungkan dan tidak nyaman.

"Tidak...tidak...pakai saja" ujar Senapati Wirajati lalu bangkit dari duduknya.

"Kau istirahat saja dulu...bakul nasi dan piring-piring simpan saja di bawah. Besok pagi ada emban yang akan membereskan" ujarnya sambil menatap Pwah Kenanga.

"Besok pagi baru kita bicara..." sambungnya sambil berlalu meninggalkan kamar yang ditempati Pwah Kenanga.

"Baik Kakang...." jawab Pwah Kenanga singkat.

"Sepertinya dia orang baik..." batin Pwah Kenanga. Entah kenapa dirinya merasa tenang dan tidak ada ketakutan atau ada kecurigaan sedikitpun kepada Senapati Wirajati. Sebenarnya kalau dirinya mau bisa saja melarikan diri, tapi entah ada kekuatan apa yang membuat Pwah Kenanga memutuskan untuk tetap tinggal di ruangan tersebut.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #7