BERLAYAR MENUJU SUNDAPURA

Rahiang Sanjaya memacu si Jagur, kudanya, menuju arah kulon, hatinya terasa sejuk dan tenang setelah pertemuan dengan Sang Resi Guru Pujastawa di Kabuyutan Ciburuy. Hatinya tidak lagi panas dan gelisah oleh rasa marah dan dendam kepada Prabu Purbasora yang telah menjatuhkan ayahnya, Sang Senna alias Prabu Bratasenawa.

"Hmm...aku sungguh beruntung bisa bertemu dan menerima wejangan dari Sang Resi Guru Pujastawa" batin Rahiang Sanjaya.

Matahari mulai condong ke barat saat Rahiang Sanjaya memasuki sebuah pedukuhan di kaki Pegunungan Mandalagiri. Pedukuhan itu sangat ramai karena merupakan hulu Sungai Cimanuk yang juga digunakan sebagai sebuah pelabuhan yang cukup besar. Karatuan Galuh menjadikan Pelabuhan tersebut sebagai lalu lintas ekonomi antara Galuh bagian selatan dengan Sunda bagian Utara, Caruban. Sore itu sebuah kapal yang cukup besar baru saja merapat dari Sunda utara membawa barang dagangan yang banyak dibutuhkan oleh rakyat Galuh di selatan yaitu seperti kain dan juga alat-alat pertanian dari besi. Kuli-kuli pelabuhan sibuk menurunkan muatan di selingi suara-suara perintah bernada tinggi dari para saudagar yang khawatir barang dagangannya rusak.

Rahiang Sanjaya mengarahkan si Jagur ke arah sebuah kedai makanan yang cukup besar lalu melompat turun di depannya. Di ikatkan tali kekang si Jagur ke sebuah tiang pancang yang tersedia.

"Kau istirahatlah dulu...aku akan mencari makan sekalian mencari informasi" gumamnya sambil menepuk-nepuk leher si Jagur.

Rahiang Sanjaya berjalan menghampiri seorang laki-laki tua bertelanjang dada yang sedang duduk di bawah sebuah pohon besar sambil mengipas-ngipas dadanya yang penuh keringat.

"Punten Mamang....saya mau minta tolong..." ujar Rahiang Sanjaya sopan sambil membungkukkan tubuhnya.

Laki-laki tua itu terlihat sangat terkejut lalu bergegas bangkit dari duduknya dan balas membungkuk ke arah Rahiang Sanjaya.

"Eh...eh...iya...Rakean..apa yang bisa hamba bantu?" ujarnya gugup karena melihat wajah dan perawakan Rahiang Sanjaya yang tampan dan gagah, tentulah bukan orang sembarangan.

"Saya minta bantu untuk memberi makan dan minum kuda saya yang di sana" ujar Rahiang Sanjaya sambil menunjuk ke arah si Jagur.

"Nanti saya akan kasih upah sewajarnya" sambungnya sambil tetap tersenyum.

"Baik...baik..Rakean, hamba akan urus kuda itu" ujar laki-laki tua itu sambil membungkukkan badannya berkali-kali ke arah Rahiang Sanjaya.

"Terima kasih Mamang..." ujar Rahiang Sanjaya lalu membalikkan badannya menuju ke dalam kedai. Sementara laki-laki tua itu tergopoh-gopoh menghampiri si Jagur, kuda milik Rahiang Sanjaya.

Suasana di dalam kedai tidak terlalu ramai, mungkin karena sudah terlalu sore dan sudah lewat jam makan, Rahiang Sanjaya mengambil tempat duduk di paling kanan sehingga pandangannya bisa leluasa melihat ke luar kedai. Seorang pelayang perempuan muda menghampirinya lalu bertanya dengan sopan.

"Maaf Rakean...hendak memesan makanan atau minuman apa?" pelayan muda itu bertanya sambil melemparkan senyum manis ke arah Rahiang Sanjaya.

"Hmmm...kau hidangkan saja nasi putih dan juga ikan laut bakar sekalian aku minta minuman jahe" jawab Rahiang Sanjaya.

"Baik Rakean...mohon ditunggu sebentar" ujar pelayan muda itu lalu membungkukkan badannya dan berbalik meninggalkan Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya melemparkan pandangannya ke arah kapal yang sedang bongkar muatan. 

"Tidak ku sangka...pelabuhan ini cukup ramai...berarti secara perdagangan, hubungan antara Galuh dan Sunda tidak terganggu. " batin Rahiang Sanjaya takjub karena tidak menyangka pasca pemisahan wilayah antara Sunda di Kulon dan Galuh di Wetan ternyata secara perdagangan seolah tidak terganggu.

"Ah...urusan politik memang hanyalah urusan orang-orang keraton yang gila jabatan dan kehormatan sedangkan rakyat lebih memikirkan bagaimana caranya menyambung hidup" Rahiang Sanjaya menghela nafas panjang.

"Rakean...mohon maaf..." suara pelayan muda itu mengejutkan Rahiang Sanjaya.

"Oh..iya..kau taruh saja di atas meja.." Rahiang Sanjaya menyuruh pelayan muda itu agar meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya di atas meja.

Pelayan muda tersebut meletakkan makanan dan minuman di atas meja.

"Silakan dinikmati...." ujarnya sopan sambil membungkukkan badan.

"Ya...ya...terima kasih" jawab Rahiang Sanjaya sambil menarik bakul nasi dan juga piring tanah di hadapannya. Dengan lahap disantapnya makanan yang tersedia.

Dua orang laki-laki berpakaian bagus dan mewah memasuki kedai tersebut lalu duduk tidak jauh dari meja Rahiang Sanjaya. Sekilas Rahiang Sanjaya meliriknya lalu meneruskan makannya. Melihat pakaiannya bisa dipastikan kalau mereka adalah saudagar yang sangat kaya.

"Juragan Arya Suta...sepertinya kita harus cepat kembali ke Pelabuhan Caruban dan segera menuju ke Pamalang" ujar salah satu dari mereka sambil melambaikan tangannya kepada pelayan kedai.

"Ku pikir juga begitu Margo" jawab laki-laki tinggi besar yang sebelumnya dipanggil Juragan Arya Suta.

"Aku sangat khawatir dengan keadaan ayahanda..." sambungnya pelan.

Seorang pelayan perempuan muda menghampiri mereka.

"Mohon maaf juragan...mau pesan makanan dan minuman apa?" pelayan tersebut bertanya dengan sopan sambil menganggukkan badannya.

Laki-laki yang dipanggil Margo tidak menjawab, matanya melotot dengan sorot mata yang kurang ajar.

"Aih...rupanya ada kembang baru di kedai ini. Siapa namamu manis?" ujarnya sambil memegang tangan kanan pelayan tersebut.

"Euh...euh...nama saya Sumi..juragan" jawab pelayan itu gugup dan ketakutan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seolah meminta pertolongan.

"Ha..ha...tidak usah takut manis...sekarang kau bawa semua makanan yang paling enak kemari" ujar Margo sambl melepaskan tangan pelayan tersebut. Namun sorot matanya liar memandangi belahan dada pelayan tersebut yang menyembul di balik kemben hitamnya.

Dengan tergopoh-gopoh Sumi berjalan meninggalkan meja Margo dan Juragan Arya Suta. Di dekat dapur Sumi menghampiri seorang laki-laki yang sedang duduk sambil menghitung kepingan uang yang bertumpuk di atas meja.

"Ju...juragan...saya takut" ujar Sumi sambil gemetar.

Laki-laki yang dipanggil juragan oleh Sumi adalah Juragan Godim pemilik kedai tersebut. Juragan Godim mengangkat wajahnya lalu dipandangi Sumi, pelayan baru di kedainya yang masih muda dan polos.

"Ada apa Sumi?" tanyanya pelan.

"Ampun Juaragan...ada tamu yang pesan makanan tapi saya takut juragan" jawab Sumi sambil melirik ke arah meja Margo dan Juragan Arya Suta.

Juragan Godim tersenyum lalu mengarahkan pandangannya mengikuti arah pandangan Sumi.

"Oohhh...Juragan Arya Suta rupanya...tidak usah takut, kau siapkan saja makanan dan minumannya lalu minta bantuan Narsih untuk mengantarkan ke mejanya" rupanya Juragan Godim sangat mengenal Arya Suta.

"Narsih...tolong kau bantu Sumi mengantarkan makanan ke meja Juragan Arya Suta" sambungnya kepada pelayan perempuan yang sebelumya melayani Rahiang Sanjaya. Melihat usianya masih sama-sama muda hanya lebih tua sedikit daripada Sumi. Juragan Godim bangkit dari duduknya lalu menghampiri ke arah meja Arya Suta dan Margo.

Mendengar perintah tuannya, Narsih bergegas menyiapkan bakul nasi dan beberapa piring tanah untuk diisi lauk. Sumi yang masih ketakutan menghampiri Narsih dan membantunya.

"Ceu Narsih...aku takut" ujar Sumi pelan.

"Kenapa takut?...Yang berpakaian warna biru itu Juragan Arya Suta, saudagar kaya raya dari wetan sedangkan yang berpakaian hitam itu pengawalnya, namanya Margo" terang Narsih sambil tersenyum genit.

"Yang berpakaian hitam itu...aku takut Ceu..." Sumi lirih sambil menggidikkan bahunya.

"Hi...hi...kenapa takut? Kakang Margo itu orangnya royal dan sangat kuat...kau dijamin akan ketagihan jika bersamanya" ujar Narsih sambil meleletkan lidahnya.

"Disamping akan mendapatkan uang banyak....kau jiga bisa...aaaahhhh" sambungnya mendesah sambil membeliakkan bola matanya.

"Iihhh...Ceu Narsih..apa sih? Aku takut...kalau suamiku tahu bisa berabe" jawab Sumi resah.

"Atau kalau kau mau...sekalian saja kau goda Juragan Arya Suta....hi..hi..." Narsih kembali menggoda Sumi.

"Ceu Narsih...udah..udah...malu" wajah Sumi memerah.

Sementara itu Juragan Godim membungkukkan tubuhnya di hadapan meja Juragan Arya Suta dan Margo.

"Aiihhh...mohon maafkan hamba yang tidak menyambut kedatangan Juragan Arya Suta" ujarnya ramah.

Juragan Arya Suta tersenyum tipis lalu berkata,

"Tidak apa-apa Godim yang penting kau siapkan makanan kesukaanku"

"Tentu...tentu..Juragan Arya Suta, sebentar lagi makanan dan minuman terbaik akan dihidangkan. Ada yang bisa hamba bantu lagi?" tanya Juragan Godim sopan.

"Kau sini sebentar" Margo berkata sambil melambaikan tangannya kepada Juragan Godim agar mendekatinya.

"Iya..iya...." Juragan Godim bergegas mendekati Margo dan berdiri di sampingnya.

"Pelayan baru itu...siapa namanya?" Margo bertanya sambil menunjuk ke arah Sumi yang sedang menyiapkan makanan.

"Oh...namanya Sumi, dia memang pelayan baru di sini" jawab Juragan Margo sopan.

"Hmmm...tolong kau atur supaya malam ini dia datang ke kediaman Juragan Arya Suta" ujar Margo sambil tersenyum mesum.

Sebagai saudagar yang sering bolak-balik ke pelabuhan tersebut, Juragan Arya Suta memiliki rumah yang sangat mewah dan besar. Rumah tersebut diurus oleh beberapa orang pegawainya dan hanya ditempati kalau Arya Suta datang ke pelabuhan tersebut.

"Hmm...saya akan tanya dulu apakah Sumi bersedia datang ke tempat Juragan" Juragan Godim menjawab dengan sopan.

Margo mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Juragan Godim, selama ini belum pernah ada yang berani menolak permintaannya.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #9

"Apa maksudmu Godim? Aku tidak memintamu untuk bertanya tetapi menyuruhnya untuk datang!" Margo mendelikkan matanya.

"Ampun Juragan...Sumi sudah mempunyai suami, jadi hamba harus bertanya dahulu apakah dia bersedia atau tidak" jawab Juragan Godin tetap tenang.

Modin muntab mendengar jawaban Juragan Godim.

"Kau...!!!" bentaknya sambil berdiri.

"Margo...duduk!!!" tiba-tiba terdengar suara Juragan Arya Suta yang menggelegar dan meminta Margo agar duduk kembali.

"Aku kesini mau makan enak...kau jangan merusak selera makanku" bentaknya tanpa menoleh ke arah Margo.

"Baik...baik...Juragan...maafkan saya" jawab Margo bergetar ketakutan sambil kembali duduk. Kedua bola matanya mendelik mengancam ke arah Juragan Godim.

Setelah membungkukkan tubuhnya ke arah Juragan Arya Suta, Juragan Godim berlalu meninggalkan mereka dan kembali duduk di depan mejanya. Sementara itu Narsih dan Sumi menghidangkan seluruh makanan di atas meja Juragan Arya Suta. Beberapa kali Narsih meleparkan senyum menggoda kepada Margo sambil membusungkan dadanya yang memang besar dan bulat. Namun Margo yang baru saja disemprot oleh Juragan Arya Suta tidak berani berkutik dan hanya beberapa kali matanya memberi kode kepada Narsih sambil melirik ke arah Sumi. Narsih yang memang sudah sangat mengenal Margo, tersenyum penuh arti sambil menganggukkan kepalanya.

Rahiang Sanjaya yang duduk tidak jauh dari meja Juragan Arya Suta hanya tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukan mereka. Setelah menuntaskan makanannya, Rahiang Sanjaya bangkit dari duduknya dan menghampiri meja Juragan Godim. Diambilnya sebuah kursi lalu duduk dihadapan meja Juragan Godim.

Menyadari ada yang datang, Juragan Godim mengangkat wajahnya sambil tersenyum.

"Aih...Rakean, sudah selesai makannya? Ada yang perlu kami bantu lagi?" tanyanya ramah. Juragan Godim adalah bekas seorang kepala pengawal pelabuhan yang sudah bertemu bermacam-macam orang, sehingga dengan instingnya dia bisa menebak bahwa Rahiang Sanjaya pastilah seorang pembesar atau pejabat keraton.

"Ah...terima kasih Juragan kau baik sekali" Rahiang Sanjaya sangat terkesan dengan keramahan Juragan Godim.

"Aku memang hendak bertanya dan minta tolong kepadamu" sambungnya sopan.

"Jangan panggil Juragan...panggil saja Mamang Godim. Rakean hendak bertanya apa?" jawab Godim sambil tersenyum ramah.

"Aku hendak menumpang kapal ke Sundapura...bisakah Mamang membantu?" tanya Rahiang Sanjaya.

Juragan Godim tersenyum sambil membetulkan duduknya lalu melirik ke arah meja Juragan Arya Suta.

"Aiihh...kebetulan sekali Rakean, dua hari lagi ada kapal yang akan berangkat ke Caruban. Kau bisa menumpang dan turun di Palabuhan Maja" jawabnya ramah.

"Dari Palabuhan Maja bisa berkuda menuju ke Sundapura...atau bisa juga menyambung naik kapal ke Palabuhan Kalapa" sambungnya.

"Hmmm...dua hari lagi ya" gumam Rahiang Sanjaya mengerutkan dahinya.

"Iya Rakean...karena kapal baru tiba hari ini. Besok mereka akan mengisi muatan barang dagangan untuk dibawa ke Caruban. Jadi baru dua hari lagi kapal akan berangkat" Juragan Godim menjelaskan.

"Menurut hamba dua hari tidaklah lama, karena kalau hanya berkuda menuju Sundapura perlu 2 sampai 3 purnama. Dengan menumpang kapal, setidaknya Rakean bisa menghemat waktu dan tenaga" sambungnya.

"Ya...betul juga pendapat Mamang...aku juga sudah letih berkuda terus menerus" ujar Rahiang Sanjaya.

"Apakah di sekitar sini ada penginapan?" sambungnya bertanya.

"Ada Rakean...di belakang kedai ini ada beberapa kamar yang biasa disewakan untuk para pendatang ataupun anak buah kapal" jawab Juragan Godim sambil menunjuk ke arah belakang kedai.

"Sumi....sumi...kemari" sambungnya memanggil Sumi, pelayan kedainya.

Sumi yang sedang kasak-kusuk dengan Narsih bergegas menghampiri Juragan Godim.

"Ya...Juragan..." ujarnya berdiri di samping Juragan Godim sambil menundukkan kepalanya.

"Kau antar...Rakean ini ke penginapan dan berikan kamar yang paling besar" perintah Juragan Godim.

"Rupanya selain kedai...kau juga memiliki penginapan...hebat" Rahiang Sanjaya terperangah.

"Kecil-kecilan saja Rakean...untuk membantu tamu dan pendatang juga" Juragan Godim merendah.

Rahiang Sanjaya mengeluarkan kepingan uang emas dari dalam saku celananya lalu menyerahkannya kepada Juragan Godim.

"Mamang terimalah ini sebagai pembayaran makanan dan penginapan selama dua hari" ujarnya.

"Rakean...ini terlalu besar, lagipula tidak perlu membayar...Mamang tidak berani" Juragan Godim memundurkan tubuhnya.

"Terimalah Mamang...mana mungkin aku menerima sesuatu tanpa membayarnya. Lagipula kau bisa rugi besar...makan ku sangat banyak...ha...ha..." Rakean Sanjaya terkekeh sambil meletakkan kepingan uang emas tersebut di atas meja.

"Baiklah Rakean...Mamang akan urus semua keperluanmu selama di pelabuhan sekaligus akan pesankan tempat di kapal" Juragan Godim sumringah lalu menyambar kepingan uang emas tersebut dan dipegangnya erat-erat. Dugaannya semakin kuat bahwa pemuda di hadapannya bukanlah pemuda sembarangan.

"Ampunkan Mamang berani lancang bertanya...siapakah kiranya nama Rakean? Supaya Mamang tidak salah memangggil" sambungnya sambil berdiri lalu membungkukkan tubuhnya dalam-dalam ke arah Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya tersenyum lalu bangkit dari duduknya sambil membalas membungkukkan badannya ke Juragan Godim.

"Mamang bisa panggil saya...Sancaka" ujarnya pelan.

Kemudian dengan diantar oleh Sumi, Rahiang Sanjaya berlalu menuju penginapan.

Sementara itu, Margo yang sedang menyantap makanan...matanya mengerling tajam melihat Sumi berjalan bersama pemuda yang tidak dikenalnya. Hatinya muntab panas karena beberapa saat sebelumnya jelas Juragan Godim menolak untuk menyerahkan Sumi kepadanya sedangkan sekarang dilihatnya Sumi meninggalkan tempat tersebut bersama orang asing.

Sementara itu Juragan Arya Suta seolah tidak terganggu oleh apapun...tetap anteng menyantap makanan yang terhidang. Memang kedai Juragan Godim adalah tempat makan favoritnya walaupun dirumahnya ada juru masak.

Setelah menuntaskan makanan dan minumannya, Juragan Arya Suta menoleh ke arah Margo yang sudah sedari tadi menyudahi makannya. Hatinya yang muntab karena melihat Sumi dengan lelaki asing telah menghilangkan selera makannya.

"Margo...kau bayarlah makanan ini...aku hendak istirahat di rumah. Kau periksa dan awasi muatan kapal dan pastikan masuk gudang. Jangan sampai ada yang hilang!" perintahnya sambil berlalu.

Melihat Juragan Arya Suta berlalu, Juragan Godim tergopoh-gopoh mengejarnya.

"Aih....Juragan Arya Suta, terima kasih berkenan maka di kedai hamba" ujarnya sambil membungkukkan badannya dalam-dalam.

"Godim...makananmu selalu enak...aku senang sekali" jawab Juragan Arya Suta sambil menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Juragan Godim. Setelah membalas Godim dengan anggukan kepalanya, Juragan Arya Suta berlalu.

"Godim...aku mau bicara!" terdengar suara Margo.

"Iya...Juragan, ada apa?" Juragan Godim menghampiri meja Margo.

"Kau sengaja menantang aku bukan?!" bentak Margo.

"Aduuhh...mana berani hamba menantang Juragan. Lagipula hamba tidak mengerti maksud Juragan" jawab Juragan Godim tenang.

"Tadi kau menolak menyerahkan pelayan baru itu kepadaku...sekarang kau serahkan dia kepada orang asing itu!!!" Margo muntab dan menggebrak meja, piring dan cangkir tanah berhamburan jatuh.

Beberapa orang yang sedang makan di kedai melirik tapi tidak berani ikut campur. Mereka tahu siapa Margo, orang kepercayaan saudagar kaya dari wetan yang terkenal suka mengganggu perempuan. Tidak segan-segan Margo menganiaya siapapun yang menghalanginya.

Juragan Godim tersenyum kecil.

"Ampun Juragan...Sumi hamba perintahkan untuk mengantar orang asing itu ke penginapan. Bukan menyerahkannya" Juragan Godim tetap tenang.

"Tuh...Sumi sudah kembali" sambungnya sambil menunjuk Sumi yang baru saja masuk ke dalam kedai.

Melihat Sumi sudah kembali, amarah Margo mereda.

"Kau panggil dia kemari..." ujarnya kepada Juragan Godim.

"Sumi...kau kemari sebentar" Juragan Godim melambaikan tangannya.

Dengan tergopoh-gopoh Sumi mendekati sambil menundukkan kepalanya.

"Sumi...ini adalah Juragan Margo, beliau sangat menyukaimu. Bersediakah kau menemaninya?" tanya Juragan Godim lembut.

Wajah Sumi memerah...bibirnya bergetar ketakutan. Melihat Sumi yang ketakutan, Juragan Margo tersenyum.

"Sumi...jangan takut, jawab saja...kalau mau silahkan ataupun tidak mau...tidak apa-apa. Jawablah..." Juragan Godim menenangkan Sumi seperti seorang bapak ke anaknya.

"Ampun...Juragan...Sumi takut...Sumi tidak berani" suara Sumi patah-patah, dari kedua ujung matanya terlihat air mata menggenang.

"Neng Geulis...kenapa takut? Aku akan memberikan uang yang banyak dan juga kepuasan kepada mu" ujar Margo sambil cengengesa sementara kedua bola matanya seolah menelanjangi seluruh tubuh Sumi.

Sumi semakin ketakutan, airmatanya jatuh tidak tertahankan. Dipandanginya wajah Juragan Godim seolah minta pertolongan. Juragan Godim menganggukan kepalanya seolah memberikan kekuatan kepada Sumi.

"Ampun Juragan...Sumi...Sumi...sudah mempunyai suami...tidak bisa menemani Juragan...hiks..hikss..." jawab Sumi terpatah-patah dan pecahlah tangisnya.

Mendengar jawaban Sumi, wajah Margo merah karena marah.

"Aku tidak peduli dengan suamimu...aku hanya minta kau melayaniku malam ini!" bentak Margo murka sambil berdiri.

Sumi semakin ketakutan, kakinya terasa lemah tidak bertenaga dan akhirnya jatuh berlutut dihadapan Margo dan Juragan Godim. Tangisnya semakin keras...

"Juragan...sudah jelas Sumi sudah mempunyai suami dan tidak mungkin bisa menemanimu. Hamba harap Juragan bisa mengerti" Juragan Godim mencoba menengahi untuk membela Sumi.

Margo semakin muntab mendengar ucapan Juragan Godim, kedua tangannya mengepal marah, sorot matanya seolah nyalang.

"Apa maksudmu Godim? Kau pun menolak permintaanku?" suara Margo bergetar akibat menahan marah. Tetapi walaupun amarahnya memuncak, Margo mencoba menahan diri untuk tidak membuat onar. Dirinya tahu bahwa Juragan Godim adalah bekas kepala pengawal pelabuhan yang sudah terkenal akan ilmu silat dan kesaktiannya.

"Ampun Juragan...kita sudah mendengar jawaban Sumi, semoga Juragan bisa mengerti" Juragan Godim menjura hormat ke arah Margo.

"Kau...kau..berani-beraninya menentang keinginanku" dengus Margo sambil melemparkan dua keping perak ke atas meja.

"Aku akan membalas penghinaan ini...kau ingat ini sundal kecil" sambungnya sambil menunjuk ke arah Sumi yang bersimpuh dihadapannya.

Margo bergegas meninggalkan kedai milik Juragan Godim dengan dada yang membara!


Baca juga : Rahiang Sanjaya #27