SANG RESI GURU PUJASTAWA


Sementara itu perjalanan Rahiang Sanjaya dari Kabuyutan yang melarikan diri dari pertempuran dengan pemuda-pemuda kampung akibat kesalahfahaman. Rahiang Sanjaya kesalahan tangan waktu membantu seorang laki-laki tua yang sedang dikeroyok oleh sekelompok pemuda. Tidak dinyana laki-laki tua tersebut adalah seorang pencuri yang sering meresahkan warga kampung. Kelompok pemuda tersebut meluapkan amarahnya kepada Rahiang Sanjaya ketika lak-laki tua pencuri tersebut melarikan diri. Begitu menyadari kesalahannya Rahiang Sanjaya memutuskan untuk tidak melayani kelompok pemuda tersebut dan memutuskan untuk meninggalkan mereka.

"Ah...ada-ada saja, kenapa aku tidak meneliti dulu sebelum memutuskan menolong orang tua sialan itu" gerutu Rahiang Sanjaya sambil memacu kudanya meninggalkan kelompok pemuda kampung yang sudah kalap.

Hari menjelang petang ketika Rahiang Sanjaya memasuki wilayah Kabuyutan Ciburuy atau juga di sebut dengan Kamandalan Ciburuy di kaki Gunung Cikuray. Wilayah ini mendapat keistimewaan dari pemerintah Karatuan Galuh sebagai tempat pembelajaran atau pelatihan keagamaan khususnya agama Hindu. Oleh karena itu wilayah Kamandalaan atau Kabuyutan tidak akan ditarik pajak dan tidak boleh diganggu oleh siapapun. Yang berani melanggar aturan ini maka akan dihukum mati oleh pemerintah Karatuan. 

Pemimpin Kamandalaan atau Kabuyutan adalah seorang Resi Guru yang berilmu agama tinggi dan sangat dihormati. Umumnya mereka hanya fokus kepada masalah agama dan tidak mau ikut campur dengan urusan kekuasaan di pemerintahan sehingga walaupun kekuasaan silih berganti, posisi mereka tidak berubah. Namun tentu berbeda dengan Kamandalaan/Galunggung yang dipimpin oleh Resi Guru yang merupakan bekas putra mahkota Karatuan Galuh yaitu Sang Dangiang Resi Guru Semplakwaja. Kamandalaan/Kabuyutan Galunggung mempunyai posisi politik yang strategis tidak hanya d Karatuan Galuh tetapi hampir di seluruh Karatuan yang ada di pulau Jawa.

Kembali ke Kamandalaan/Kabuyutan Ciburuy yang akan didatangi oleh Rahiang Sanjaya. Karena hari sudah mulai gelap, Rahiang Sanjaya memutuskan untuk menunda kunjungannya sampai besok pagi.

"Ah...kurang baik rasanya mendatangi kuil Sang Resi Guru Pujastawa menjelang malam seperti ini" batin Rahiang Sanjaya sambil membelokkan arah kudanya menuju ke perkampungan penduduk yang cukup besar.

Terlihat beberapa pendeta muda yang sedang membawa sayuran yang disumbangkan dari penduduk kampung untuk kebutuhan kuil. Rahiang Sanjaya melompat turun dari punggung si Jagur lalu menuntunnya memasuki kampung. Dicegatnya seorang pandita muda yang sedang memanggul sayuran.

"Om swastyastu...mohon maaf pandita, bolehkah aku bertanya?" ujarnya sopan.

Pandita muda tersebut menghentikan langkahnya lalu memandangi Rahiang Sanjaya dengan saksama.

"Mangalam astu...silahkan saja Kisanak, semoga aku bisa membantumu" jawabnya ramah sambil menurunkan sayuran dari atas pundaknya.

"Apakah ini wilayah Kabuyutan Ciburuy?" Rahiang Sanjaya sambil tersenyum.

"Betul sekali...kiranya Kisanak ada keperluan apa?" jawab pandita muda itu dengan pandangan menyelidik.

Situasi yang memanas di Karatuan Galuh setelah pengambilalihan kekuasaan oleh Prabu Purbasora membuat mereka sangat berhati-hati dengan pendatang. Apalagi perawakan Rahiang Sanjaya yang tinggi besar dan gagah menunjukkan bahwa dirinya bukanlah orang sembarangan. Belum lagi kuda yang dituntunnya adalah sebuah kuda yang tinggi dan tegap, jelas hanya kaum bangsawan atau istana lah yang mampu membelinya.

"Aih...syukurlah kalau begitu, aku berniat untuk menemui Sang Resi Guru Pujastawa" jawab Rahiang Sanjaya.

Pandita muda itu terhenyak, tatapannya semakin tajam ke arah Rahiang Sanjaya.

"Sang Resi Guru kami sedang bersemedi, tidak sembarangan orang bisa menemui beliau. Baiknya kalau ada keperluan...Kisanak sampaikan saja kepadaku. Aku akan sampaikan kepada Pandita Kepala maksud dan tujuan Kisanak" ujarnya tegas.

Rahiang Sanjaya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.

"Hmmm...sayangnya aku harus menemui beliau langsung. Kalau pendeta berkenan, tolong sampaikan kepada Pendeta Kepala, aku, Sancaka diutus oleh Pandita Purusara dari Kabuyutan Denuh untuk menemui Sang Resi Guru Pujastawa" ujar Rahiang Sanjaya sambil menundukkan badannya.

Sesaat pandita muda itu terdiam mendengar ucapan Rahiang Sanjaya, walaupun dirinya tidak mengenal nama Pandita Purusara namun nama Kabuyutan Denuh...pandita mana di Karatuan Galuh yang tidak mengenalnya. Kemudian setelah sesaat berfikir, pandita tersebut berkata.

"Baiklah Kisanak...aku akan menyampaikan maksud dan tujuanmu kepada Pandita Kepala"

Rahiang Sanjaya tersenyum.

"Terima kasih pandita...besok pagi, aku akan mendatangi kuil" ujarnya senang.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada pandita muda tersebut, Rahiang Sanjaya meneruskan langkahnya memasuki kampung.

"Lebih baik aku mencari kedai nasi...perutku lapar sekali" batin Rahiang Sanjaya.

Langkahnya terhenti disebuah kedai nasi yang sepertinya sedang siap-siap untuk tutup. Seorang laki-laki paruh baya terlihat sedang membersihkan meja. Rahiang Sanjaya menambatkan tali kekang si Jagur di sebuah tiang yang tersedia di halaman kedai tersebut. Lalu menghampiri pintu warung tersebut.

"Sampurasun Mamang....masih ada makanan kah? Aku lapar sekali" tanya Rahiang Sanjaya kepada pemilik kedai tersebut sambil berdiri di mulut pintu.

Laki-laki tua itu menjawab tanpa menoleh, asyik dengan pekerjaannya membersihkan meja.

"Rampes...maaf Kisanak, semua lauk sudah habis"

Rahiang Sanjaya melangkahkan kakinya ke dalam kedai.

"Ah...sayang sekali, kalau begitu nasi saja tidak apa-apa" ujarnya sambil menarik salah satu kursi dan mendudukinya.

Pemilik kedai tersebut mengangkat wajahnya lalu menoleh ke arah Rahiang Sanjaya.

"Hmmm...sepertinya pemuda ini bukan orang sembarangan, bisa berabe urusannya kalau aku mengecewakan dia" batinnya.

"Aiih...Aden, sayang sekali kau terlambat tapi kalau mau sebentar menunggu...aku akan membakar daging meunceuk kering" ujarnya ramah.

"Walah...senang sekali kalau Mamang mau menyajikannya untukku. Biarlah aku menunggu sebentar" jawab Rahiang Sanjaya.

"Baiklah tunggu sebentar" ujarnya sambil menyajikan sepoci minuman dan cangkirnya di atas meja di depan Rahiang Sanjaya.

Kemudian dia berlalu menuju keluar kedai dan menyalakan dua buah obor yang ada di halaman. Suasana yang tadinya mulai temaram menjadi terang benderang. Pemilik kedai kembali ke dalam dan langsung menuju ke dapur. Tak lama tercium wangi daging bakar yang menggugah selera. Rahiang Sanjaya memejamkan matanya sambil menghirup wangi daging bakar tersebut dalam-dalam. Terbayang kelezatan nasi panas dan daging bakar yang akan disantapnya.

Pemilik kedai menghidangkan satu boboko nasi yang masih panas mengepul dengan satu piring penuh potongan daging mencek kering yang juga masih mengepul menyebarkan aroma yang membuat perut memberontak.

"Silakan Aden...hanya itu yang masih tersedia, sayur dan yang lainnya sudah habis dari tadi siang. Kebetulan hari ini banyak sekali yag makan di sini" ujarnya panjang lebar dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.

"Ini sudah lebih dari cukup...terima kasih" jawab Rahiang Sanjaya sambil meraih piring tanah dan mengisinya dengan setumpuk besar nasi dan sepotong daging bakar kering.

Rahiang Sanjaya makan dengan ngalimed seperti kokoro manggih mulud saking lahapnya. Hampir setengah dari isi boboko itu berpindah ke dalam perutnya, belum lagi daging bakar keringnya yang hampir tandas. Rahiang Sanjaya benar-benar merasa kekenyangan. Disandarkan tubuhnya pada belakang kursi sambil mengusap-usap perutnya.

"Luar biasa....aku kenyang sekali. Mamang...terima kasih banyak, daging kering buatanmu sungguh lezat dan nikmat. Tidak kalah dengan masakan keraton" ujarnya.

Pemilik kedai yang sedang mengawasinya dari belakang Rahiang Sanjaya, merasa senang sekali mendapat sanjungan seperti itu.

"Aihhh....terima kasih atas pujiannya Aden" ujarnya sambil berjalan mendekati Rahiang Sanjaya dan berdiri di depannya.

"Ah..iya, apakah di kampung ini ada tempat menginap tamu?" tanya Rahiang Sanjaya sambil tetap ngadayagdag di atas kursi.

Baca juga : Rahiang Sanjaya : Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #3

"Biasanya ada di rumah besar di samping kuil...tapi hanya musiman saja, kalau hari raya atau ada upacara besar di kuil. Itupun khusus untuk keluarga Resi atau keluarga keraton" jawabnya.

"Hmmm...begitu ya. Baiklah aku mencoba datangi saja ke sana..." ujar Rahiang Sanjaya sambil mengeluarkan sekeping benggol perak dan menyerahkannya kepada pemilik kedai.

"Aissh...Aden, ini terlalu besar...harga makanannya tidak sebesar ini" pemilik kedai itu terkejut. Walaupun sudah menduga bahwa Rahiang Sanjaya bukanlah rakyat biasa tetapi sama sekalitidak menyangka akan diberi benggol perak.

"Sudahlah...anggap saja itu untuk upah kerja keras Mamang mau memberi saya makan walaupun kedai sudah tutup" jawab Rahiang Sanjaya lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar kedai.

Setelah memohon dan juga memberikan beberapa kepingan benggol perak, pemilik rumah besar yang biasa dijadikan penginapan akhirnya mengizinkan Rahiang Sanjaya untuk menginap di sana.

Matahari pagi masih malu-malumemunculkanwajahnya dari timur saat Rahiang Sanjaya sudah bersiap untuk mengunjungi kuil Sang Resi Guru Pujasatawa. Niatnya memang tidak mau berlama-lama di Kabuyutan Ciburuy tersebut. Jika pesan Pandita Purusara untuk mengunjungi Sang Resi Guru Pujastawa selesai ditunaikan, dirinya akan segera melanjutkan perjalanan.

Di depan gerbang kuil yang cukup besar dan megah, langkah Rahiang Sanjaya di hentikan oleh dua orang pandita yang sepertinya bertugas menjaga gerbang kuil.

"Om Swastyastu...hendak kemana gerangan Kisanak, hari ini di kuil tidak ada acara sembahyang" ujar salah satu dari mereka yang janggutnya mulai memutih.

"Namaste Pandita...maksud kedatanganku adalah menemui Sang Resi Guru Pujastawa. Mohon diberikan izin untuk masuk" jawab Rahiang Sanjaya sambil membungkukkan badannya.

Kedua pandita tersebut saling berpandangan, malam sebelumnya Pandita Kepala sudah memberitau mereka tentang rencana kedatangan tamu yang akan menemui Sang Resi Guru Pujastawa.

"Hmmmm...siapa nama serta maksud dan tujuanmu menemui Sang Resi Guru?" pandita yang lebih muda bertanya.

Rahiang Sanjaya tersenyum lalu menjawab.

"Namaku Sancaka...maksud dan tujuanku menemui Sang Resi Guru Pujastawa adalah menyampaikan pesan dari Pandita Purusara dari Kabuyutan Denuh".

Mendengar jawaban Rahiang Sanjaya, kedua pandita tersebut kembali berpandangan dan saling menganggukan kepala. Keduanya yakin bahwa pemuda yang ada di depannya adalah tamu yang dimaksud oleh Pandita Kepala.

"Silakan Kisanak ikuti aku" ujar pandita yang lebih tua sambil berbalik menuju ke dalam halaman kuil. Sementara pandita yang lebih muda tetap berjaga di depan gerbang kuil.

"Terima kasih.." jawab Rahiang Sanjaya sambil kembali menundukkan badannya lalu mengikuti langkah pandita tersebut.

Pandita tersebut membawa Rahiang Sanjaya ke dalam sebuah bangunan yang cukup besar, sepertinya tempat tersebut khusus untuk menerima tamu-tamu yang datang.

"Silakan Kisanak tunggu di dalam...sebentar lagi Sang Resi Guru akan menemuimu" ujarnya sambil mempersilakan Rahiang Sanjaya masuk.

Rahiang Sanjaya melepaskan alas kakinya lalu beranjak memasuki ruangan. Wangi dupa yang menenangkan tercium saat Rahiang Sanjaya masuk ke dalam ruangan tersebut dan kemudian duduk bersila di tengah-tengah ruangan tersebut. Diedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut.

"Hmm...sangat bersih dan sejuk, aku kagum dengan Sang Resi Guru Pujastawa. Sepertinya beliau orang yang sangat rendah hati dan bijaksana. Buktinya tidak sulit bagiku untuk menemuinya" batin Rahiang Sanjaya. Sebelumnya dirinya mengira tidak akan mudah menemui Sang Resi Guru Pujastawa, seperi halnya waktu mau menemui Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul di Kabuyutan Denuh.

Lamunan Rahiang Sanjaya terpotong saat seorang laki-laki sepuh berpakaian Resi masuk ke dalam ruangan sambil mengucapkan salam.

"Om Swastyastu..." ujarnya.

Rahiang Sanjayabergegas berdiri dan membalas salam Resi tersebut sambil menundukkan badannya.

"Namaste...Sang Resi Guru" Rahiang Sanjaya menduga pasti orang tersebut adalah Sang Resi Guru Pujastawa.

Dugaan Rahiang Sanjaya benar adanya, laki-laki sepuh tersebut adalah Sang Resi Guru Pujastawa. Wajahnya bersinar terang dan sorot matanya teduh menandakan ketinggian ilmu dan budi pekerti.

"Silakan duduk anaking...jangan sungkan" ujar Sang Resi Guru Pujastawa mempersilakan Rahiang Sanjaya kembali duduk.

"Terima kasih Resi Guru..." jawab Rahiang Sanjaya sambil kembali duduk bersila dengan sikap yang takjim.

Sang Resi Guru Pujastawa lalu duduk tidak jauh dari hadapan Rahiang Sanjaya, bibirnya menyunggingkan senyum yang luar biasa menenangkan.

"Anaking...aku dengar kau diminta oleh Purusara untuk menemuiku. Ada pesan apa gerangan yang dia titipkan kepadamu?" Sang Resi Guru Pujastawa bertanya.

"Betul sekali Resi Guru...hamba diminta untuk meminta restu kepadamu" jawab Rahiang Sanjaya sambil tetap menundukkan kepalanya.

"Ah...Purusara adikku, kenapa kau libatkan aku dalam urusan kekuasaan" gumamnya pelan sambil menarik nafas panjang.

Rahiang Sanjaya terhenyak, tidak menyangka kalau Pandita Purusara adalah adik dari Sang Resi Guru Pujastawa. Pantas saja dia menyarankan Rahiang Sanjaya untuk menemuinya.

"Anaking...kau jelaskanlah kepadaku, siapa namamu dan apa tujuanmu?" tanyanya lirih dengan raut wajah yang tetap tenang dan jernih.

"Hamba adalah Rakean Jambri..putera dari Sang Senna bertujuan memohon kepada Resi Guru untuk merestui perjuangan hamba merebut kembali tahta karatuan" jawab Rahiang Sanjaya.

Sang Resi Guru Pujastawa kembali menghela nafas panjang namun raut wajahnya tidak berubah tetap tenang.

"Anaking...sejak ratusan tahun lalu penguasa karatuan silih berganti namun sikap Kabuyutan Ciburuy tidak pernah berubah. Kami tidak pernah ikut campur dengan urusan karatuan dan akan tetap begitu" ujar Sang Resi Guru Pujastawa tenang.

"Kenapa begitu Resi Guru? Bukankah para pemimpin agama harus selalu mendukung kebenaran? Dan hamba sedang memperjuangkan kebenaran itu dengan merebut kembali apa yang sudah menjadi hak hamba demi kemakmuran rakyat Karatuan Galuh" Rahiang Sanjaya panjang lebar bertanya dan mendesak.

Mendengar ucapan Rahiang Sanjaya, Sang Resi Guru Pujastawa tertawa sambil mengusap-usap janggutnya yang putih.

"Ha..ha..anaking, bicaramu begitu bersemangat dan penuh gairah...sebuah sikap dari seorang calon pemimpin besar. Kebenaran seperti apa yang kau perjuangkan? " ujarnya tergelak

"Anaking...kebenaran itu tidak pernah bersifat absolut, selalu berubah mengikuti waktu dan keadaan. Kebenaran yang kau perjuangkan hari ini tidak akan sama dengan kebenaran di masa depan atau bahkan di masa lalu. Untuk itulah kenapa Kabuyutan Ciburuy selalu menjaga sikap dari waktu ke waktu" sambungnya.

Rahiang Sanjaya termenung mendengar penjelasan Sang Resi Guru Pujastawa, dalam hati kecilnya mengakui keteguhan sikap yang diambil oleh Sang Resi Guru Pujastawa selaku pemimpin Kabuyutan Ciburuy.

"Sungguh pemimpin yang bijaksana dalam melindungi kesucian Kabuyutan Ciburuy" batin Rahiang Sanjaya diam-diam mengagumi keteguhan Sang Resi Guru.

"Resi Guru..hamba memahami penjelasan yang telah kau sampaikan, akan tetapi bukankah dengan demikian Kabuyutan Ciburuy menjadi tidak punya sikap? atau bahkan cenderung menutup mata dengan peristiwa yang akan mempengaruhi kehidupan rakyat?" keukeuh Rahiang Sanjaya yang merasa tertantang untuk menyelami sedalam apa pemiiran Sang Resi Guru Pujastawa.

Sang Resi Guru Pujastawa kembali terkekeh.

"Ha..ha..anaking, wawasanmu sungguh luas, baiklah akan aku jelaskan pandangan kami yang tua dan bodoh ini" ujarnya sabar.

"Sejatinya sikap kami sudah jelas yaitu sikap kemanusiaan. Pertikaian ataupun yang kau sebut memperjuangkan kebenaran pada akhirnya akan menempatkan rakyat pada kubu yang berbeda. Mungkin saja menurutmu kubu tersebut adalah kubu benar dan kubu salah ataupun mungkin ada kubu netral tapi buat kami, mereka adalah sama..mereka adalah umat manusia. Jadi siapapun mereka..kubu yang dianggap benar...kubu yang dianggap salah atau pun kubu yang dianggap netral..bisa datang kepada kami tanpa takut akan dibeda-bedakan. Kabuyutan Ciburuy ini adalah rumah untuk membersihkan diri bagi seluruh umat manusia" jelasnya panjang lebar dengan senyum tidak lepas dari bibirnya.

Rahiang Sanjaya tertunduk mendengarkan dengan khidmat, makin tinggi kekaguman dan rasa hormatnya kepada Sang Resi Guru Pujastawa. Sebuah ajaran tertingi dalam agama yaitu tentang hakikat kemanusiaan telah didapatnya hari itu.

"Ampun Resi Guru..hamba berterima kasih atas pengajaranmu hari ini" ujar Rahiang Sanjaya sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada.

Sang Resi Guru Pujastawa menggenggam tangan Rahiang Sanjaya, kedua matanya terpejam. Lalu meluncurlah kata-kata seperti pantun dari mulutnya.

"Yang lama akan jatuh
digantikan yang baru

Yang tua akan berpulang
digantikan yang muda

Lalu apa yang bisa kekal di dunia ini?

Kemudian Sang Resi Guru Pujastawa melepaskan genggaman tangannya dan membuka kembali kedua matanya. Senyum yang tenang kembali mengembang di bibirnya. Rahiang Sanjaya hatinya berdesir mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Sang Resi Guru Pujastawa.

"Anaking..bral geura miang...perjalananmu masih jauh. Aku akan mendo'akanmu semoga bisa menemukan arti kebenaran seutuhnya dalam hidupmu" ujarnya lembut mempersilakan Rahiang Sanjaya meninggalkan Kabuyutan Ciburuy.

===

"Ha..ha...Ajengsari...kau antek Bratasenawa jangan harap bisa lolos dari tanganku. Aku sendiri yang akan menyeret tubuhmu ke hadapan Apatih Bimareksa" bentak seorang laki-laki tinggi besar bernama Kunta yang merupakan kepala wilayah telik sandi Kotaraja Karangkamulyan.

Kunta dan enam anak buahnya mengepung seorang perempuan berpakaian warna merah yang sangat ringkas, bagian atasnya menggunakan kemben yang memperlihatkan kulit bahunya yang berwarna kuning mulus dan pakaian bawahnya menggunakan celana laki-laki berukuran ketat memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kencang. Rambutnya digulung ke atas memperliatkan lehernya yang jenjang. Wajahnya memang tidak muda lagi namun masih menunjukkan kecantikan seorang perempuan yang matang. Raut mukanya lonjong dengan dagu bagai telor dibelah dua dan bibir yang tipis merekah. Perempuan itu adalah Pwah Kenanga yang menyamar menjadi pedagang di pasar Kotaraja Karangkamulyan dengan nama Ajengsari.

Perjuangan Pwah Kenanga di dalam Kotaraja Karangkamulyan untuk merekrut para jawara agar berpihak dan mendukung Rahiang Sanjaya rupanya sudah tercium oleh telik sandi Karatuan Galuh. Sudah hampir seharian, Pwah Kenanga dikejar-kejar mulai dari pusat kota sampai akhirnya terdesak di pinggir hutan yang cukup jauh dari perbatasan kota.

Wajah Pwah Kenanga tidak sedikitpun menyiratkan rasa takut meskipun dikurungoleh tujuh orang laki-laki yang sebagian berperawakan tinggi besar. Sebuah golok panjang namun tipis terhunus di tangan kanannya.

"Aku tidak mengerti apa maksud kalian. Tapi kalau kalian hendak berbuat jahat...aku tidak segan-segan untuk menurunkan tangan keras" gertak Pwah Kenanga tidak mau kalah.

"Kau tidak bisa berkelit lagi perempuan jalang...kau ingat laki-laki ini? Dia adalah centeng pasar yang kau ajak bergabung melawan Karatuan Galuh" dengus Kunta sambil menunjuk salah seorang anak buahnya yang berperawakan sedang namun mempunyai wajah yang menyeramkan karena ada bekas codetan yang melintang di wajahnya.

Pwah Kenanga melirik pada laki-laki yang ditunjuk oleh Kunta.

"Apess...teryata Santika adalah anggota telik sandi, aku terlalu ceroboh" batin Pwah Kenanga merutuki kecerobohannya. Sementara Santika hanya menyeringai menyebalkan ke arah Pwah Kenanga.

"Baiklah...rupanya aku sudah tidak bisa berkelit lagi. Aku terpaksa harus menghabisi kalian semua" dengus Pwah Kenanga sambil memasang kuda-kuda bersiap untu bertempur.

"Nyalimu setinggi langit...perempuan jalang! Tangkap dia hidup-hidup!" bentak Kunta sambil memerintahkan anak buahnya mengeroyok Pwah Kenanga.

Keenam anak buah Kunta menerjang ke arah Pwah Kenanga. Mereka menggunakan ruyung hitam (tongkat dari batang pohon kelapa) bermaksud hanya melumpuhkan dan tidak berniat membunuh Pwah Kenanga. Mereka berharap dapat mengorek keterangan lebih dalam lagi dari mulut Pwah Kenanga.

Pwah Kenanga memutar golok tipisnya melindungi sekujur tubuhnya lalu menerjang menyambut serangan yang datang. Pertempuran pecah. Pwah Kenanga terkejut ternyata yang mengeroyok mereka mempunyai kemampuan silat yang tidak rendah. Pwah Kenanga bertahan dengan hebat menangkis serangan yang datang bertubi-tubi. Kunta yang memperhatikan jalannya pertempuran meleletkan lidahnya.

"Luar biasa...ilmu silat perempuan itu bukan main-main" batin Kunta,diam-diam dia merasa bersyukur membawa enam anak buahnya karena kalau satu lawan satu, dirinya tidak yakin bisa mengalahkan Pwah Kenanga atau yang dikenalnya dengan nama Ajengsari.

Tidak percuma Pwah Kenanga berguru ilmu silat selama bertahun-tahun di Kabuyutan Denuh. Tingkat kemampuannya mungkin hanya beberapa tingkat saja di bawah Apatih Bimareksa, kakak seperguruan sekaligus mantan kekasihnya. Dijurus ketigapuluh, goloknya mulai memakan korban, salah satu pengeroyoknya terpelanting dari arena pertempuran dengan luka besar menganga di perutnya.

"Arrrggghhh....." lengkingnya sambil menutupi luka diperutnya yang menyemburkan darah segar lalu ambruk dengan mata mendelik.

Kelima orang yang mengeroyoknya sejenak menghentikan serangannya melihat salah satu temannya tumbang dengan luka yang mengerikan.

"Kenapa kalian berhenti? Cepat jatuhkan perempuan itu!!!" bentak Kunta muntab.

Pwah Kenanga menyeringai sambil mengusap-usap mata goloknya yang mengucurkan darah segar.

"Kenapa tidak sekalian kau turun menghadapiku?...dasar pengecut!!!" hardik Pwah Kenanga kepada Kunta.

Lima orang anak buahnya kembali menerjangke arah Pwah Kenanga.

Pertempuran kembali pecah, Pwah Kenanga kembali harus bertahan di tengah hujan serangan ruyung yang berkilatan menyambar ke arahnya. Namun dengan berkurangnya satu pengeroyok membuat Pwah Kenanga lebih ringan. Beberapa puluh jurus kemudian seorang anak buah Kunta kembali terjatuh dengan leher hampir putus.

"Anjing buduk....tidak ada cara lain...." desis Kunta sambil mengeluarkan sumpit dari pinggangnya.

Pwah Kenanga yang merasa di atas angin menyerang balik sisa empat orang yang mengeroyoknya. Goloknya yang semakin haus darah kembali memakan korban, dua orang sekaligus terjengkang dengan isi perut yang terurai. Pwah Kenanga berdiri dengan gagah sambil menunjuk sisa dua orang pengeroyoknya yang mulai lumer nyalinya.

"Hi.hi..aku sudah memperingatkan kalian untuk tidak menggangguku, sekarang terpaksa aku harus....akh..." ucapan Pwah Kenanga terputus ketika dua buah jarum kecil menancap di leher jenjangnya. 

"Kau...kau...curang...bajingan...." suara Pwah Kenanga terpatah-patah sambil menunjuk ke arah Kunta yang tersenyum puas sambil memegangi sebuah sumpit di tangannya. 

Kepalanya terasa berputar, pandangannya mulai berkunang-kunang sementara seluruh badannya terasa lemas tidak bertenaga. Pwah Kenanga sadar dirinya telah terkena jarum beracun milik Kunta. Tubuhnya ambruk pingsan.

Kunta menyeringai.

"Kalian naikkan tubuhnya ke atas kuda milikku lalu kuburkan mayat-mayat itu. Setelah selesai susul aku ke Guha Dedemit" perintah Kunta kepada dua orang sisa anak buahnya".

Kunta memacu kudanya menuju Guha Dedemit, sebuah guha yang terletak di tepian sungai Cimuntur tidak jauh dari pusat Kotaraja Karangkamulyan. Guha Dedemit dijadikan penjara untuk orang-orang yang ditangkap oleh pasukan teliksandi karatuan. Di Guha Dedemit ini para tawanan yang dianggap membahyakan di interogasi dan disiksa bahkan sebagian ada yang di bunuh. Tidak banyak yang tahu mengenai keberadaan Guha Dedemit ini karena walaupun letaknya tidak jauh dari Kotaraja Karangkamulyan namun terletak di pinggir sungai yang hutan sekelilingnya disebut sebagai hutan larangan. Tidak sembarang orang bisa menjejakkan kakinya di situ.

Menjelang petang, Kunta sampai di tepian hutan larangan lalu menarik kekang kudanya. Dirinya bersuit beberapa kali sebelum kembali memacu kudanya menerobos lebatnya hutan larangan. Beberapa saat kemudian kudanya tiba di pinggiran sungai Cimuntur, Kunta mengarahkan kudanya menyusuri tepian sungai ke arah utara. Beberapa pasang mata mengawasinya dari balik lebatnya hutan. Kunta melompat turun dari punggung kudanya sambil bersuit.

Tak lama kemudian muncul seorang prajurit muda dari balik sebuah lebatnya rumpun bambu yang ada di tepi sungai. Prajurit muda itu menjura ke arah Kunta.

"Selamat datang Kakang Kunta, apakah kau membawa tawanan?" tanya prajurit muda itu sambil melirik Pwah Kenanga yang terkulai di atas punggung kuda.

"Hmmm...kau lihat sendiri di atas punggung kudaku, aku membawa ikan besar" seringai Kunta.

"Kau lemparkan dia ke dalam ruang tahanan utama, hati-hati..perempuan itu sangat berbahaya. Aku akan menghadap Kakang Senapati Wirajati untuk melapor" sambungnya.

Pwah Kenanga yang masih dalam keadaan pingsan di masukkan ke dalam sebuah ruangan yang berdinding batu dan hanya menyisakan sebuah lubang kecil yang tembus ke atas gua untuk sirkulasi udara.

Sementara itu Kunta diantar oleh salah satu prajurit yang bertugas di Guha Dedemit menyeberangi sungai Cimuntur dengan menggunakan rakit. Setibanya di seberang, Kunta bergegas menuju ke Keraton Karatuan Galuh yang tidak jauh dari lokasi Guha Dedemit. 

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #5