SEPASANG PENDEKAR PEDANG

Yuchi Saksena memacu kudanya secepat mungkin diikuti oleh Dewi Sekarasih yang dengan setia menempel kemanapun dirinya pergi. Sebenarnya sejak kejadian bentrok dengan Senapati Dumadi di sebuah kedai nasi, Yuchi Saksena sudah meminta Dewi Sekarasih agar meninggalkannya dan kembali ke Karatuan Saunggalah namun permintaan tersebut ditolak mentah-mentah. Rasa kagum kepada Yuchi Saksena dan juga jiwa petualangannya yang membuncah membuat Dewi Sekarasih seolah melupakan jati dirinya yang merupakan putri seorang Pabu yang berkuasa. Pada masa itu bukanlah hal yang lumrah putri seorang Prabu melakukan petualangan tanpa didampingi oleh pengawal.

Menjelang petang perjalanan mereka telah tiba di hutan pinggiran Kotaraja Indraprahasta, Yuchi Saksena menarik tali kekang memperlambat lari kudanya diikuti oleh Dewi Sekarasih yang dengan susah payah menghentikan laju kudanya.

"Kakang...kalau mau berhenti tolong kasih tanda!" seru Dewi Sekarasih kesal.

Yuchi Saksena hanya meliriknya sekilas, acuh tidak acuh, lalu melompat turun dari punggung kudanya. Dewi Sekarasih yang masih kesal kemudian mengikutinya turun dari punggung kuda miliknya sambil bersungut-sungut. Mereka membiarkan kedua kudanya merumput di sekitar tegalan di dalam hutan tersebut.

"Jangan kira dengan mengacuhkanku...kau bisa mengusirku pergi" gumam Dewi Sekarasih ngedumel.

Masih dengan wajah yang tidak peduli, Yuchi Saksena menengadahkan wajahnya sambil memiringkan telinganya seperti sedang mencoba mendengarkan sesuatu. Sementara sambil menahan kesal Dewi Sekarasih mengeluarkan bumbung bambu dari buntelan kecilnya dan menenggak air nira yang ada di dalam bumbung bambu tersebut.

"Sepertinya ada orang yang berkelahi...." gumam Yuchi.

Dewi Sekarasih curinghak mendengar ada yang berkelahi, jiwa petualangannya seolah meronta-ronta.

"Dimana Kakang?...dimana ada yang berkelahi?...kita ke sana sekarang" ujar Dewi Sekarasih dengan muka yang berbinar-binar.

Yuchi Saksena mendengus tidak senang mendengar pertanyaan Dewi Sekarasih.

"Sudah berapa kali aku peringatkan...jika kau masih ingin ikut denganku, jangan suka ikut campur urusan orang lain" ujarnya dingin.

"Kita berhenti di sini untuk beristiahat sambil menunggu perkelahian mereka selesai" sambungnya sambil duduk di atas sebuah catang kayu di bawah pohon yang sangat rindang.

Dewi Sekarasih seolah tidak menggubris ucapan Yuchi Saksena, dengan sebat dirinya melompat ke atas sebuah pohon yang cukup tinggi. Diedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu mencari arah suara perkelahian tersebut.

"Aish...rupanya tidak jauh dari sini, aku harus melihatnya" batinnya sambil melayang turun dan menghampiri Yuchi Saksena.

"Kakang...perkelahian itu ada di depan sana, tidak jauh. Aku mohon izin melihatnya" ujarnya dengan suara yang memelas tapi dengan mata yang dikedip-kedipkan manja.

"Tikus kecil...tujuan perjalananku ini adalah untuk menyelesaikan urusanku sendiri, tidak ada waktu untuk mengurusi urusan orang lain" ujarnya tegas.

"Tapi Kakang...aku tidak akan ikut campur hanya sekedar melihat saja..aku ingin menambah wawasan ilmu silatku" Dewi Sekarasih tetap merengek.

Yuchi Saksena seola-olah tidak mendengar ucapan Dewi Sekarasih, dilepasnya caping bambu dari kepalanya lalu menyandarkan punggungnya di batang pohon. Wajahnya ditutupi oleh caping bambunya. Dewi Sekarasih menganggap diamnya Yuchi Saksena adalah persetujuan atas permohonannya.

"Terima kasih Kakang...aku akan segera kembali" ujarnya sambil berlari menuju ke arah perkelahian tersebut.

Yuchi Saksena hanya menarik nafas panjang.

Tidak lama Dewi Sekarasih berlari terlihat dua orang laki-laki yang sedang berkelahi dengan hebat. Dewi Sekarasih mengendap-endap mendekatinya lalu melompat dengan ringan ke atas sebuah pohon.

"Ah...melihatnya dari sini lebih jelas" gumamnya sambil duduk dengan santai di atas sebuah dahan yang cukup besar.

Dua orang yang sedang berkelahi dengan hebat, salah seorang yang berpakaian hitam menggunakan senjata sebuah golok besar sedangkan lawannya yang berpakaian merah bersenjatakan sebuah tombak pendek. Di sebelah kanan arena perkelahian, berdiri tegak empat orang berpakaian hitam dengan simbol matahari di dadanya. Sepertinya mereka berasal dari salah satu paguron silat bersama-sama dengan salah satu orang yang sedang berkelahi. Sedangkan di sebelah kiri arena perkelahian terdapat dua orang yang berpakaian merah dengan simbol tombak bersilang di dadanya. Jelas bahwa perkelahian ini adalah antar paguron silat.

Baca juga : Cinta Virus Corona

Perkelahian itu berjalan cukup seru dan menegangkan. Dilihat dari gerakan dan jurus yang digunakan oleh keduanya, jelas bahwa yang berkelahi tersebut bukanlah anggota paguron silat biasa. Pasti keduanya menduduki tingkatan yang tinggi di paguronnya masing-masing. Entah dijurus ke berapa puluh, laki-laki berpakaian merah yang bersenjatakan tombak pendek mencelatkan tubuhnya ke atas lalu dengan ganas menyambar laki-laki berpakaian hitam yang bersenjatakan golok. 

Laki-laki yang bersenjatakan golok sepertinya mulai kewalahan dan terdesak. Dia hanya bisa menangkis dan mengelak dan sudah tidak mampu menyerang balik.

"Hmmm...tidak lama lagi..laki-laki berpakaian hitam itu akan roboh" batin Dewi Sekarasih.

Namun rupanya dirinya kecele, pertahanan laki-laki berpakaian hitam tersebut sangat kokoh. Semua tusukan dan sabetan tombak dari laki-laki berpakaian merah itu tidak pernah bisa mengenai sasaran. Tiba-tiba laki-laki berpakaian merah itu bersuit keras lalu merubah jurus tombaknya. Tombaknya diputar dengan cepat membentuk lingkaran-lingkaran yang semakin lama semakin cepat dan hanya menyisakan cahaya berwarna hitam yang mengurung seluruh tubuhnya.

"Huh...mati kau pendekar golok" pekiknya tertahan tanpa sadar. Rupanya diam-diam Dewi Sekarasih mendukung laki-laki berpakaian merah yang bersenjatakan tombak pendek.

Benar saja dugaan Dewi Sekarasih, posisi laki-laki berbaju hitam terdesak makin hebat. Beberapa kali dia harus menjatuhkan dirinya ke atas tanah menghindari tusukan dan sabetan tombak pendek yang datang bergelombang bagaikan air bah. Bahkan akhirnya karena tenaga yan mulai berkurang membuat gerakan laki-laki berpakaian hitam semakin melambat dan akhirnya tidak bisa menghindari sebuah tusukan yang mengarah ke lehernya.

"Argh...." laki-laki berpakaian hitam itu tersungkur dengan luka menganga di lehernya, nafasnya pun putus.

"Cleb...cleb..." namun bersamaan dengan itu, laki-laki berpakaian merah pun tumbang dengan mata melotot seolah tidak percaya. Tombak yang berlumuran darah di tangan kanannya terlepas. Dua buah pisau kecil telah menembus dadanya. Rupanya teman-teman sepaguron laki-laki berpakain hitam, diam-diam telah membokongnya dengan melempar dua pisau kecil beracun.

"Pengecut.....!!" kedua temannya yang berpakaian merah meraung marah sambil menghunus tombak pendek yang tergantung di punggungnya dan menerjang ke arah empat orang laki-laki berpakaian hitam.

"Curang...." desis Dewi Sekarasih. Kalau saja tidak ingat pesan Yuchi Saksena untuk tidak ikut campur, ingin rasanya dia melompat dan menyerang orang-orang berpakaian hitam tersebut.

Kedua laki-laki berpakaian merah dan bersenjatakan tombak pendek merangsek dengan memutar tombaknya mencoba untuk menjatuhkan empat orang laki-laki berpakaian hitam yang bersenjatakan golok. Perkelahian beralngsung seru dan ganas. Masing-masing mencoba untuk membunuh lawannya, benar-benar sebuah perkelahian hidup dan mati.

Dua orang laki-laki berpakaian merah dan bersenjatakan tombak pendek itu benar-benar nekat dan mempertaruhkan nyawanya. Serangan-serangannya ganas dan mematikan, terbukti tidak berapa lama kemudian terdengar jeritan disusul dengan terlemparnya seorang laki-laki berpakaian hitam dari arena perkelahian. Dada kirinya bocor dan menyemburkan darah segar, tak lama kemudian ambruk tidak bernyawa. 

Melihat temannya roboh, ketiga laki-laki berpakaian hitam saling bersuit dan merubah gerakan goloknya. Mereka mengurung kedua laki-laki berpakaian merah dengan serangan membabi buta sesekali terlihat sambaran pisau kecil yang dilepaskan mengarah ke leher dan jantung. Menghadapi serangan golok yang datang, tidaklah terlalu sulit bagi kedua laki-laki berpakaian merah namun datangnya sambaran pisau terbang beracun seringkali memecahkan konsentrasi mereka.

"Pengecut hina...." Dewi Sekarasih gregetan melihat kecurangan ketiga laki-laki berpakaian hitam.

"Mampus kau...." bentak laki-laki berpakaian merah yang bertubuh ceking sambil menusuk leher salah satu laki-laki berpakaian merah.

"Arggghhhh..." laki-laki berpakaian hitam itu menjerit lalu darah menyembur dari lehernya, terdengar suara mengorok seperti kerbau di sembelih.

Dewi Sekarasih bergidik ngeri.

Namun robohnya laki-laki berpakaian hitam itu diikuti oleh terjengkangnya kedua laki-laki berpakaian merah dengan pisau kecil menancap di dada mereka masing-masing. Keduanya jatuh berkelojotan tak lama kemudian terlepas nafasnya dengan wajah menghitam. Sungguh tindakan yang keji dan tidak ksatria dilakukan oleh dua orang laki-laki berpakaian hitam itu.

"Bajingan keji...." tanpa sadarDewi Sekarasih memaki sambil mengepalkan tangannya.

"Siapa di sana?" bentak laki-laki berpakaian hitam yang wajahnya bengis dan brewokan sambil mengawasi pohon yang dijadikan tempat menonton oleh Dewi Sekarasih.

"Aduuhhh....ketahuan" keluh Dewi Sekarasih sambil menaha nafas.

"Turun atau aku yang akan memaksamu turun!" bentaknya lagi.

Dewi Sekarasih tetap bertahan di atas pohon, bukan takut kepada dua laki-laki tersebut tetapi dia khawatir Yuchi Saksena akan marah bila dirinya terlibat masalah. Sementara kedua laki-laki itu mengawasi ke arah pohon dengan tatapan menggidikkan.

"Hmmm...Saka cepat kau paksa turun monyet di atas pohon itu!" perintahnya kepada salah satu temannya yang bernama Saka.

Tanpa diperintah dua kali Saka mendorong kedua tangannya ke atas dan dua buah pisau kecil melesat menembus dedaunan mengincar ke arah Dewi Sekarasih.

"Sialan....berani-beraninya bajingan itu menyebutku monyet....!" maki Dewi Sekarasih.

Amarahnya benar-benar memuncak, setelah melihat kecurangan mereka lalu di sebut monyet dan sekarang diserang oleh dua buah pisau terbang. Dihunusnya pedang dari pinggangnya lalu melompat turun menyambut dua buah pisau yang terbang ke arahnya.

"Trang...trang" dua buah pisau terbang itu terjatuh.

Dewi Sekarasih mendarat dengan enteng di atas tanah, sebuah pedang berwarna kebiru-biruan terhunus di tangan kanannya. Tanpa menunggu banyak bicara, Dewi Sekarasih melayang menerjang dengan tusukan pedang ke arah Saka yang sudah melemparnya dengan pisau terbang. 

Tubuh Dewi Sekarasih yang melayang ke arahnya disambut dengan sabetan golok Saka yang cepat. Sepertinya Dewi Sekarasih terlalu gegabah, tusukan pedang birunya sepertinya akan kalah cepat dengan sabetan golok Saka. Namun rupanya gadis ini tidak berusaha menghindar, telapak tangan kirinya mengembang lalu melakukan gerakan mendorong...luar biasa...golok yang terkena hawa pukulan itu membalik lalu dengan cepat gagang pedangnya menghajar pergelangan tangan Saka yang memegang golok.

"Ughhhh...." keluh Saka.

Pergelangan tangannya serasa dihantam batu besar...goloknya terlempar ke udara lalu jatuh menghunjam ke pundaknya sendiri.

"Aaahhh......" Saka menjerit sambil memegangi pundaknya yang berlumuran darah dengan golok yang tertancap. Saka berlutut sambil menahan sakit lalu dicabutnya golok tersebut.

"Monyet betina...siapa kau berani ikut campur urusan Paguron Srengenge Sakti?...atau jangan-jangan kau juga masih muridnya Paguron Tumbak Salaksa?" bentak laki-laki berwajah bengis dan brewokan.

Dewi Sekarasih memutar badannya, membelakangi Saka dan menghadap ke arah laki-laki bengis brewokan tadi. Senyumnya mengembang dengan pedang terhunus di tangan kanannya.

"Tampang kalian lebih jelek daripada siluman hutan berani-beraninya memanggilku monyet" ejek Dewi Sekarasih.

"Keparat...!!! Selama ini kita tidak pernah bertemu apalagi berselisih faham, kenapa tiba-tiba kau datang menyerang kami? Apakah kau mau membela mayat-mayat busuk ini?" tanyanya bengis.

Dewi Sekarasih tersenyum mengejek.

"Hei..kau wajah siluman!..apakah aku tidak salah dengar, kau yang duluan mencari perkara dengan menyerangku dengan pisau rombengan. Padahal kenal pun aku tidak sudi!" sergah Dewi Sekarasih tidak kalah sengit.

"Gurda...tidak perlu banyak bicara lagi, kita tangkap dan siangi saja perempuan ini. Lumayan untuk menghangatkan tubuh nanti malam" ujar Saka sambil meringis menahan sakit.

"Ha...ha...betul juga pendapatmu Saka" ujar laki-laki brewokan yang ternyata bernama Gurda.

"Sepertinya dia bukan perempuan sembarangan...mungkin keturunan bangsawan. Sudah lama aku ingin mencicipinya...pasti rasanya berbeda dengan perempuan jelata" sambungnya sambil meleletkan lidahnya.

"Ciiihhh....sudah kuduga...kalian tidak lebih dari gerombolan pengecut tidak bermoral!" dengus Dewi Sekarasih muntab.

"Sayangnya...aku tidak punya waktu untuk mengurusi kalian...lebih baik aku pergi sebelum muntah melihat tampang kalian yang menjijikan!" sambungnya sambil menyarungkan kembali pedangnya dan berlalu berniat meninggalkan tempat tersebut.

Baru saja kakinya melangkah...tiba-tiba Saka datang menghadangnya. Pundaknya yang terluka dililit ke dadanya menggunakan kain hitam.

"Tunggu dulu betina jalang...kau sudah melukaiku. Setidaknya tinggalkan sebelah tanganmu" hardik Saka.

Dewi Sekarasih melengos lalu melompat meninggalkan tempat tersebut menuju ke arah Yuchi Saksena menunggu.

"Aku tidak punya waktu melayani gerombolan siluman seperti kalian" teriaknya.

"Kejar...jangan sampai lolos!!!" pekik Gurda sambil melompat mengejar diikuti oleh Saka.

Dengan terengah-engah Dewi Sekarasih tiba di hadapan Yuchi Saksena yang masih duduk duduk bersandar dengan wajah ditutup caping bambu di bawah pohon rindang.

"Kakang...cepat bangun, kita harus segera meninggalkan tempat ini" ujarnya rusuh.

Yuchi Saksena tetap terpejam hanya menjawab dengan suara yang pelan.

"Kenapa?...kau terlibat masalah lagi?"

"Tidak Kakang...tidak seperti itu...justru aku mengajakmu pergi untuk menghindari masalah" Dewi Sekarasih masih hariweswes.

"Hmmm...masalah jangan dicari tapi jika masalah datang janganlah lari" gumamnya sambil mengangkat caping bambu dari wajahnya. Ditatapnya mata Dewi Sekarasih yang berdiri di hadapannya. Dewi Sekarasih menjadi kikuk dan serba salah dipandangi seperti itu.

"Betina jalang...jangan lari!" terdengar suara Mada yang berlari mengejar diikuti oleh kedua temannya, Saka dan Gurda.

Yuchi Saksena bangkit dari duduknya dan memasang kembali caping bambu di kepalanya lalu berdiri di samping Dewi Sekarasih.

"Sudah ku peringatkan...kurangi rasa ingin tahu mu..." ujar Yuchi Saksena sambil mengucak-ucak rambut Dewi Sekarasih.

Mendapat usapan dari Yuchi Saksena di kepalanya membuat wajah Dewi Sekarasih yang putih menjadi memerah dadu.

"Maafkan aku..." jawabnya pelan sambil menunduk dan meremas-remas jari-jari tangannya sendiri. Hatinya girang luar biasa melihat sikap Yuchi Saksena yang lebih hangat terhadapnya. Sangat berbeda dengan sebelumnya yang sangat dingin dan seolah-olah tidak mau tahu.

Gurda dan Saka tiba di hadapan Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih. Keduanya dengan terengah-engah mengacungkan golok ke arah mereka.

"Ha...ha...jangan harap kau bisa lolos dari tangan kami betina jalang!" hardik Saka.

"Betul...malam ini kau harus menghangatkan tubuh kami...he..he..." Gurda terkekeh seolah tidak memandang kehadiran Yuchi Saksena di samping Dewi Sekarasih.

Sementara Saka menatap tajam ke arah Dewi Sekarasih, kecantikan wajah dan kemolekan tubuh Dewi Sekarasih tidak bisa melipur rasa dendamnya. Dewi Sekarasih menyeringai sambil menyunggingkan bibir tipisnya mengejek kedua laki-laki tersebut. Hatinya sedang berbunga-bunga karena sikap lembut Yuchi Saksena kepadanya.

"Hi....hi...kalian sudah membuat kesalahan besar mengejarku...aku sudah memberi kalian kesempatan untuk hidup" ujarnya.

"Tapi rupanya kalian sudah bosan hidup...jangan salahkan aku jika nyawa kalian terbang di ujung pedangku" sambungnya sambil menyipitkan sebelah matanya.

Yuchi Saksena yang sedari tadi diam, menoleh ke arah Dewi Sekarasih lalu berkata setengah berbisik,

"Kau bereskanlah mereka...hari ini aku malas berkelahi" lalu dengan tenang kembali duduk di atas catang kayu.

Dewi Sekarasih tersenyum.

"Jangan khawatir Kakang...kau lihatlah kemampuan kekasihmu ini...hi..hi.." kekehnya sambil bergeser ke tanah yang lebih lapang.

"Kalian berdua silakan maju sekaligus...aku tidak mau berlama-lama menghadapi kalian" tantangnya jumawa.

Saka yang sudah dari tadi menahan amarahnya kepada Dewi Sekarasih menerjang dengan goloknya.

"Kau harus mampus di tanganku....hiyyyaaaa!"

Serangan Saka walaupun sangat kuat dan berbahaya namun kecepatannya sudah banyak berkurang akibat rasa sakit dipundaknya. Gurda yang akan menyusul Saka untuk menyerang Dewi Sekarasih menahan langkahnya, dirinya merasa khawatir dengan kehadiran Yuchi Saksena.

"Hmmm...lebih baik aku mengawasi pemuda ini...sepertinya mereka adalah sepasang kekasih" batinnya sambil matanya menyelidik ke arah Yuchi Saksena.

Dewi Sekarasih menghunus pedangnya lalu menyambut serangan Saka. 

"Rupanya kau memang sudah bosan hidup siluman jelek...." dengusnya.

Menyadari kepandaian Sekarasih yang tidak rendah, Saka sangat berhati-hati dan langsung mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Golok milik Saka beputar dengan cepat mengurung tubuh Dewi Sekarasih yang berkelit dan meliuk dengan sangat indah. Semua serangan Saka dengan mudah dihindarinya bahkan tanpa harus menggunakan pedangnya untuk menangkis.

Diam-diam Yuchi Saksena mengangguk-angguk kagum melihat kemampuan silat Dewi Sekarasih. Tidak disangkanya gadis manja yang bandel ini mempunyai kemampuan yang lumayan tinggi.

Sementara itu Saka yang meyerang dengan membabi buta mulai terengah-engah kecapaian karena Dewi Sekarasih hanya menghindar dan tidak membalas menyerangnya.

"Sialan...gerakannya sangat cepat...aku tidak bisa menyentuhnya..." batin Saka sambil tangan kirinya bergerak ke pinggangnya.

Sambil terus menghujani Dewi Sekarasih dengan serangan, diam-diam tangan kirinya meraih dua buah pisau kecil di pinggangnya. Dengan menggunakan jurus pamungkasnya, golok Saka menyasar ke pinggang Dewi Sekarasih. Dengan cekatan Dewi Sekarasih melentingkan tubuhnya ke udara lalu bersalto...namun ternyata serangan itu tipuan belaka. Ketika tubuh Dewi Sekarasih melayang turun, Saka dua kali melemparkan pisau terbangnya menyasar dada dan perut. Dua pisau itu meluncur dengan deras dan sepertinya sulit untuk dihindari.

Dewi Sekarasih adalah seorang gadis muda yang masih mentah pengalaman dalam dunia persilatan. Walaupun ilmu silatnya tidak rendah namun masih polos sehingga tidak mengantisipasi kecurangan-kecurangan yang mungkin dilakukan oleh musuhnya. 

Matanya membelalak tidak percaya saat pisau terbang itu meluncur deras mengincar dada dan perut. Posisi tubuhnya yang masih melayang turun membuatnya hampir mustahil untuk menghindar kalaupun dirinya memaksakan untuk membuang tubuhnya ke kiri atau kanan, tetap saja minimal pisau terbang itu akan merobek pinggang dan bahunya.

Yuchi Saksena yang secara diam-diam mengawasi pertarungan itu mendengus tidak senang.

"Bocah ceroboh...kau bisa mati jiga bertarung seperti itu" gumam Yuchi Saksena.

"Mampus kau...perempuan jalang...!!!" desis Saka girang.

Sementara itu Dewi Sekarasih masih mencoba untuk meloloskan diri, sekuat tenaga memutar pedangnya mencoba memapasi datangnya pisau terbang. Namun kasip, pedangnya menghantam angin dan pisau terbang itu masih meluncur deras ke dada dan perut Dewi Sekarasih.

"Cleb...cleb...bukk..bukk.."

Tubuh Dewi Sekarasih terpental ke belakang lalu tersungkur di tanah. Dengan panik di raba dada dan perutnya...tidak ada pisau yang menancap ataupun darah yang mengucur. Hanya saja bahunya terasa ngilu dan sakit seperti dihantam palu.

Ternyata sesaat lagi pisau terbang itu akan menghantam tiba-tiba tiga buah dahan pohon meluncur deras dengan kecepatan yang luar biasa. Dua batang pohon menghalangi datangnya pisau terbang sehingga kedua pisau itu menancap di dahan pohon dan satu batang pohon lagi menghantam bahu Dewi Sekarasih sehingga tubuhnya terjengkang dan pedangnya terlepas.

Kedua mata Saka mendelik tidak percaya, serangannya yang hampir berhasil mencelakai Dewi Sekarasih bisa digagalkan. Sementara Gurda meleletkan lidahnya. Ketiganya memalingkan wajah ke arah Yuchi Saksena yang masih duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

"Bajingan tengik...siapa kau berani ikut campur? Cari mampus rupanya....!!!" bentak Saka muntab. Tangannya bergerak cepat mengantam...sebuah pisau terbang meluncur kencang.

Seolah tidak peduli, Yuchi Saksena mengangkat caping bambunya lalu mengebutkannya ke arah pisau terbang yang dilepaskan Saka. Serangkum angin memapasi datangnya pisau dan...

"Plukkk...." pisau terbang tersebut jatuh sebelum menemui sasaran.

"Keparat....!" maki Saka semakin muntab.

Sementara itu Gurda mencoba memanfaatkan situasi, melihat Dewi Sekarasih yang masih terduduk di atas tanah sambil meringis kesakitan,  dengan sebat memburu ke arah Dewi Sekarasih. Kedua tangannya terkembang bermaksud menyergap. Menyadari datangnya serangan, Dewi Sekarasih bergegas bangkit dan mendorongkan kedua tangannya ke depan. Serangkum angin berhawa panas menyambut tubuh Gurda dan....

"Duuugghhh.....argghhhh....!!!" 

Terdengar suara dentuman keras diikuti oleh pekik kesakitan dari mulut Gurda. Tubuhnya terpental menghantam batang-batang pohon di belakangnya, darah kental merembes dari sela bibir keduanya. Jelas dirinya terluka dalam akibat pukulan tangan kosong yang dilepaskan Dewi Sekarasih. Dengan terhuyung-huyung Gurda mencoba bangkit namun kembali terjatuh. Tubuhnya terasa lemas dan sakit sekali.

Saka muntab melihat Gurda dijatuhkan dengan mudah oleh Dewi Sekarasih. Pandangannya nyalang bergantian menatap tajam ke arah Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih. Rasa marah seolah telah mematikan logikanya, seharusnya dia cepat menyadari bahwa pasangan pendekar tersebut mempunyai kemampuan jauh di atas dirinya.

"Aku akan mengadu nyawa dengan kalian.....!!!" pekiknya

"Saka...saka...jangan diteruskan...lebih baik kita pergi saja" ujar Gurda sambil kembali mencoba untuk bagkit.

"Apa masudmu Gurda? Perempuan itu sudah melukai kita...dia harus menebus dengan nyawanya sendiri" sergah Saka.

"Jangan Saka....!" pekik Gurda lalu kembali terjatuh dan tidak bergerak lagi...pingsan.

Dengan kalap, Saka menerjang ke arah Dewi Sekarasih dengan goloknya. Dewi Sekarasih tidak mau bermain-main lagi, dengan sebat berguling ke samping menghindari serangan yang datang sambil menyambar pedangnya yang tergolek di atas tanah tidak jauh dari tempatnya berdiri. 

Golok Saka menghantam angin...Saka makin kalap. Dengan membabi buta mengurung Dewi Sekarasih dengan sabetan dan bacokan. Terdengar beberapa kali suara benturan senjata yang sangat nyaring. Sebenarnya jika saja Dewi Sekarasih berhati dingin sudah sejak tadi Saka sudah terkapar tidak bernyawa. Dewi Sekarasih adalah gadis keraton yang sebenarnya berhati lembut dan sangat baik maka dalam pertarungan pun lebih banyak menghindar dan tidak mau sampai membunuh musuhnya.

Yuchi Saksena beberapa kali menarik nafas kesal menyaksikan pertarungan tersebut.

"Bodoh..." dengusnya.

Beberapa puluh jurus berlalu sampai akhirnya...

"Trang...." golok milik Saka patah jadi dua dibabat oleh pedang pusaka milik Dewi Sekarasih.

Saka terkejut bukan main lalu melompat mundur namun kali ini tidak dilepaskan oleh Dewi Sekarasih. Telapak tangan kirinya mengembang sambil mendorong dan....

"Buughhh...." Saka terjajar beberapa langkah ke belakang terkena pukulan tangan kosong Dewi Sekarasih.

"Ughukk...ughuk..." Saka beberapa kali terbatuk sambil menyeburkan darah segar. Dicobanya untuk tetap berdiri sambil mengatur pernafasannya.

"Kau masih ku beri kesempatan hidup...sekarang pergilah!!!" bentak Dewi Sekarasih sambil menyarungkan pedangnya.

Namun boro-boro bisa meninggalkan tempat tersebut, Saka langsung ambruk tidak berkutik.

Dengan riang Dewi Sekarasih menghampiri Yuchi Saksena berharap akan mendapat sambutan atau pujian tetapi hanya pandangan dingin yang didapatnya.

"Kalau bertarungmu seperti itu...hidupmu tidak akan panjang" gumamnya dingin.

Dewi Sekarasih merengut kesal.

"Kau hanya bisa mengkritik tapi tidak pernah mengajariku..." dengusnya kesal.

"Hari sudah mulai senja...lebih baik kita mencari tempat beristirahat" Yuchi Saksena mengabaikan ucapan Dewi Sekarasih dan menghampiri kuda-kuda mereka yang sedang merumput tidak jauh dari situ.

Sekali lompat tubuhnya melayang ke atas punggung kudanya lalu diarahkan kudanya menyusuri jalan tanah meninggalkan tempat itu. Dewi sekarasih menghentakkan kakinya sambil mengepalkan tangan saking kesalnya. Setengah berlari menghampiri kudanya dan melompat dnegan cepat. Diikutinya kuda yang ditunggangi Yuchi Saksena.

"Kakang..tunggu..." teriak Dewi Sekarasih sambil memacu kudanya menjajari kuda Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena memalingkan wajahnya menatap Dewi Sekarasih tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Kakang...dari sini tidak jauh ke Kotaraja Indraprahasta, lebih baik kita beristirahat di sana" ujar Dewi Sekarasih.

"Kau saja yang ke sana..." jawab Yuchi Saksena pelan memalingkan kembali wajahnya.

Wajah Dewi Sekarasih kembali merengut kesal.

"Heuuhh...menyebalkan...menyebalkan...aku benci...benci..." rutuknya sambil mengepalkan kedua tangannya.

Dengan wajah yang merengut dan tatapan kesal akhirnya Dewi Sekarasih tidak bicara lagi.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #7