TAWANAN PALING BERBAHAYA

Disebuah ruangan kaputren kapatihan, terlihat Apatih Bimaraksa sedang berbincang dengan senapati kepercayaan Prabu Purbasora yaitu Senapati Wirajati. Senapati inilah yang bertugas mengamankan Kotaraja Karangkamulyan. Setelah Prabu Purbasora berhasil merebut tahta karatuan, kondisi keamanan Karatuan Galuh belum sepenuhnya pulih. Banyak simpatisan ataupun orang-orang yang masih setia kepada Pabu Bratasenawa yang secara diam-diam bergerak menyusun kekuatan.

Kebijaksanaan Prabu Bratasenawa dalam memimpin Karatuan Galuh tidak begitu saja bisa dilupakan oleh sebagian rakyatnya. Oleh karena itu, Prabu Purbasora meminta secara khusus kepada Apatih Bimaraksa, yang masih terhitung adik sepupunya, untuk menumpas kelompok-kelompok rakyat yang dianggap membahayakan dan merongrong kepada kekuasaan Prabu Purbasora. Kemudian Apatih Bimareksa membentuk sebuah Kesatuan Telik Sandi yang dipimpin oleh Senapati Wirajati, seorang bekas tokoh militer Karatuan Indraprahasta yang secara khusus direkrut oleh Prabu Purbasora.

"Membicarakan urusan karatuan bukanlah hal yang sederhana dan mudah. Walaupun kekuasaan sekarang berada di tangan Kakang Prabu Purbasora tetapi secara umum di kalangan rahayat kecil tidaklah mudah melupakan Rai Prabu Bratasenawa" ujar Apatih Bimaraksa pelan sambil mengurut dahinya dan menarik nafas dalam-dalam.

"Apa yang disampaikan oleh Gusti Apatih benarlah adanya, saat ini tidak hanya di peloksok padukuhan-padukuhan bahkan di dalam kotaraja sendiri, ada gerakan yang mengarah kepada penggalangan kekuatan untuk melawan Gusti Pabu Purbasora" Senapati Wirajati menimpali ucapan Apatih Bimaraksa.

Apatih Bimaraksa memejamkan menengadahkan wajahnya ke langit-langit sambil memejamkan matanya. Persoalan perebutan kekuasaan di antara Prabu Purbasora (kakak sepupunya) dan Prabu Bratasenawa (adik sepupunya) telah menyeretnya ke pusaran permainan politik tingkat tinggi. Sesuatu yang bahkan tidak pernah dibayangkannya saat masih hidup tenang di Kabuyutan Denuh. Permintaan Dangiang Guru Resi Semplakwaja (uwaknya) agar membantu Purbasora dalam merebut tahta dari Karatuan Galuh dari Prabu Bratasenawa benar-benar telah mengubah jalan kehidupannya.

"Aku telah kehilangan banyak hal berharga dalam hidupku, tidak akan kubiarkan seorangpun merebut kembali apa yang sudah aku genggam" gumam Apatih Bimaraksa sambil mengepalkan tangan kanannya. Pikirannya melayang ke masa dirinya masih tinggal di Kabuyutan Denuh bersama ayahandanya, Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul, juga sang kekasih hati yang telah dicampakkannya yaitu Pwah Kenanga.

"Ampun Gusti Apatih...ada satu hal yang sangat penting yang perlu hamba sampaikan" suara Senapati Wirajati memecah lamunan Apatih Bimaraksa.

"Ada apa lagi Senapati...cepat sampaikan!" dengus Apatih Bimaraksa. Suasana hatinya yang sedang kalut membuatnya sangat gampang naik darah.

"Anggota telik sandi kita yang tersebar di wilayah selatan menyerap kabar bahwa putra dari Prabu Bratasenawa telah bergerak menuju kulon. Bahkan diketahui pernah singgah ke Kabuyutan Denuh" ujar Senapati Wirajati.

"Aku sudah tahu...beberapa hari yang lalu ada utusan dari Kabuyutan Denuh melapor kepadaku. Perintahkan anak buahmu untuk tetap memantau pergerakannya, aku khawatir dia akan menuju ke Sundapura" ujar Apatih Bimaraksa.

"Hubungi secara diam-diam beberapa sekutu kita baik dari golongan hitam maupun putih untuk mencegahnya melintasi perbatasan. Kalau perlu bunuh...tapi ingat...jangan melibatkan Karatuan Galuh!!!" sambungnya tegas.

"Titahmu akan kami laksanakan tetapi hamba punya usul..." jawab Senapati Wirajati ragu-ragu.

"Apa usulmu Senapati?" tanya Apatih Bimaraksa.

"Euh...mengenai putra Prabu Bratasenawa, apakah tidak lebih baik jika mengirim pasukan karatuan untuk membunuhnya?" ujar Senapati Wirajati.

"Jangan bodoh Senapati...jika sampai tersebar kabar bahwa Karatuan Galuh membunuh Rakean Jambri maka akan memancing permusuhan dengan pihak Karatuan Kalingga. Saat ini kondisi angkatan perang kita belum siap berkonfrontasi dengan karatuan manapun" Apatih Bimaraksa menjelaskan.

Senapati Wirajati mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Apati Bimaraksa.

"Maafkan hamba yang bodoh dan berfikiran sempit...." Senapati Wirajati merangkapkan kedua tangan di depan dadanya.

"Sudahlah Senapati...yang penting kau jangan sampai lengah dan teledor. Jangan lupa kau harus ikuti juga jejak pendekar muda berbaju merah yang berkali-kali menolong Rakean Jambri. Cari tahu siapa sebenarnya dia" ujar Apatih Bimaraksa sambil bangkit dari duduknya.

"Hari sudah terlalu malam, aku hendak beristirahat dulu...ingat pesanku Senapati...jangan lengah dan teledor..." sambungnya sambil berlalu meninggalkan Senapati Wirajati.

Sepeninggal Apatih Bimaraksa, Senapati Wirajati bangkit dari duduknya lalu bergegas meninggalkan kaputren kepatihan menuju ke kediamannya yang berada tidak jauh dari komplek keraton Karatuan Galuh. Beberapa pasukan kecil pengawal komplek keraton berpapasan dan mengangguk hormat kepadanya.

"Masalah demi masalah sepertinya akan terus muncul...seharusnya dulu Prabu Purbasora membunuh Bratasenawa supaya tidak menjadi duri dalam daging seperti ini" gumamnya kesal.

Baca juga : Rahiang Sanjaya Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #15
==

Sementara itu Kunta yang bermaksud untuk melapor kepada Senapati Wirajati telah tiba di halaman rumah yang cukup besar, beberapa pengawal terlihat berjaga-jaga.

"Pengawal..apakah Gusti Senapati Wirajati ada di rumah?" tanya Kunta pada salah seorang pengawal.

Para pengawal yang tidak mengenali Kunta, memandangnya dengan penuh selidik dan curiga. Posisi Kunta sebagai kepala telik sandi kotaraja memang membuatnya kurang dikenal dikalangan prajurit karatuan. Hanya beberapa petinggi Karatuan Galuh saja yang mengenalinya.

"Siapa dirimu dan apa tujuanmu menemui Gusti Senapati?" tanya pengawal tersebut gagah.

"Jangan banyak tanya...kau kasih tahu saja kepada Gusti Senapati, ada utusan dari langit hendak bertamu" ujar Kunta tenang, sambil menyebutkan kata sandi yang biasa digunakan di antara dirinya dengan Senapati Wirajati yaitu "utusan dari langit".

"Tapi...Gusti Senapati baru saja sampai rumah...mungkin dia sedang beristirahat dan tidak mau diganggu. Lebih baik Kisanak besok pagi saja kembali ke sini" pengawal tersebut berusaha mencegah Kunta.

"Sialan...kau cari mati rupanya? Kalau urusanku tidak tersampaikan malam ini juga kepada Gusti Senapati...dia akan marah besar, kau berani bertanggungjawab?" Kunta mulai kesal.

Beberapa pengawal lain yang melihat perdebatan tersebut, mulai mendekat dan mengurung Kunta. Namun untungnya sebelum terjadi perkelahian, dari dalam rumah ke luar Senapati Wirajati yang rupanya mendengar ada keributan.

"Hei...kalian...ada apa?" bentak Senapat Wirajati.

Mendengar suara Senapati Wirajati, Kunta merasa senang dan mencoba menghampiri namun dihalangi oleh pengawal yang tetap berusaha mencegahnya.

"Gusti Senapati aku mohon izin untuk menghadap...ada hal yang sangat penting" teriak Kunta.

Melihat Kunta yang berteriak, Senapati Wirajati mendengus kesal.

"Pengawal...biarkan dia masuk!!!" bentaknya sambil berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah diikuti oleh Kunta.

Kunta duduk bersila di hadapan Senapati Wirajati yang wajahnya masih kelihatan kesal.

"Aku harap laporanmu sangat penting sehingga kau berani datang ke rumahku!" dengus Senapati Wirajati.

"Ampun Gusti Senapati...aku tahu bahwa urusan telik sandi hanya boleh dibicarakan di dalam keraton atau Guha Siluman saja...tetapi aku tidak bisa menunggu sampai besok. Urusan ini sangat penting" ujar Kunta dengan mantap.

"Lalu apa laporanmu Kunta?" tanya Senapati Wirajati.

Kunta melirik ke kanan dan ke kiri ruangan seperti memastikan tidak ada orang yang menguping.

"Kami berhasil menangkap salah satu orang yang berniat memberontak dan orang ini sudah banyak merekrut jawara" ujarnya setengah berbisik.

Senapati Wirajati mendengus kesal mendengar laporan dari Kunta yang dianggapnya biasa saja.

"Ladalah..laporan macam apa itu? Hampir setiap hari prajurit kita membunuhi orang-orang seperti itu"

"Tunggu dulu Gusti Senapati...ini ikan besar dan montok" tepis Kunta sambil menyeringai.

"Menurut hasil penyelidikan...perempuan ini adalah salah satu murid dari Kabuyutan Denuh" sambungnya.

"Perempuan?...siapa namanya?...tidak mungkin ada murid Kabuyutan Denuh yang berani memberontak kepada Gusti Prabu Purbasora?" tanya Senapati Wirajati bertubi-tubi.

Senyum Kunta mengembang mendengar pertanyaan Senapati Wirajati yang sepertinya sangat penasaran.

"Ya Gusti Senapati...perempuan..namanya adalah Ajengsari. Anak buah kita sudah memantaunya selama beberapa minggu dan diketahui beberapa kali mendatangi beberapa paguron silat di sekitar Kotaraja Karangkamulyan. Dia meminta para ketua paguron untuk berpihak dan mendukung Rakean Jambri putra dari Bratasenawa" jelas Kunta.

"Ajengsari? Aku belum pernah mendengar namanya dan kalau benar dia murid dari Kabuyutan Denuh...seharusnya Gusti Apatih Bimaraksa mengenalnya" gumam Senapati Wirajati.

"Di mana dia sekarang?" sambungnya menanyakan keberadaan Ajengsari.

"Ajengsari kami sekap di Guha Siluman" jawab Kunta.

"Baiklah...sekarang juga kita interogasi dia. Berani-beraninya murid Kabuyutan Denuh berkhianat" geram Senapati Wirajati.

Sementara itu Pwah Kenanga yang tergolek di dalam ruangan tahanan yang gelap dan dingin mulai siuman. Sekeliling ruangan tersebut terbuat dari batu, hanya bagian depan saja yang dihalangi oleh sebuah jeruji yang terbuat dari lempengan besi mentah. Perlahan kedua mata Pwah Kenanga terbuka, seluruh badannya masih terasa lemas dan tidak bertenaga. Sepertinya racun yang ditembakkan oleh Kunta masih bereaksi dalam tubuhnya.

"Aahh...di mana aku? Apakah aku sudah mati?" batin Pwah Kenanga, matanya mencoba menembus kegelapan tetapi gagal.

Sayup-sayup terdengar suara gelak tawa di kejauhan.

"Rupanya aku masih hidup, tapi di mana? Apakah para telik sandi itu yang membawaku ke sini?" gumam Pwah Kenanga.

Perlahan-lahan dicobanya untuk duduk namun kondisi tubuhnya yang sangat lemah membuatnya sulit. Pwah Kenanga mencoba untuk merangkak mencari dinding ruangan tersebut.

"Semuanya terbuat dari batu dan dingin sekali..tempat apakah ini?" Pwah Kenanga akhirnya berhasil duduk sambi menyandarkan punggungnya ke salah satu dinding ruangan.

Pwah Kenanga memejamkan matanya dan bersemedi untuk melancarkan peredaran darahnya sekaligus untuk mendorong keluar racun yang ada di tubuhnya. Asap tipis menyelimuti tubuhnya dan...

"Ughuk...ughuk...." Pwah Kenanga terbatuk.

Jika saja ruangan itu terang maka akan terlihat darah kental kehitaman meleleh dari ujung bibir Pwah Kenanga. Butiran keringat mulai muncul di kening dan mukanya sedangkan tarikan nafasnya terlihat tenang.

"Bawa perempuan itu ke ruangan interogasi..." terdengar suara Kunta memerintahkan anak buahnya agar membawa Pwah Kenanga.

Mendengar hal tersebut, Pwah Kenanga segera menghentikan semedinya dan kembali membaringkan tubuhnya seolah-olah masih tidak sadarkan. Cahaya obor mulai remang-remang menyinari ruangan tersebut. Di balik jeruji terlihat dua orang prajurit bertubuh tegap, salah satunya memegang obor.

"Kau seret dia..biar aku yang menerangi dan mengawasi" ujar salah satu dari mereka yang berambut panjang sebahu.

"Hmmm...walaupun tidak muda lagi tapi sayang kalau diseret...tubuhnya masih padat..hehe" timpal temannya sambil meleletkan lidah melihat Pwah Kenanga yang tergolek di atas lantai batu. Sebagian kembennya yang robek memperlihatkan gundukan montok di dadanya.

"Kau jangan cari masalah...di sini ada Senapati Wirajati, kalau sampai ketahuan mesum, bisa hilang kepalamu. Cepat kau ikat kaki dan tangannya...jangan sampai dia sadar duluan" hardik pengawal yang berambut panjang.

"Iya..iya..aku tahu..hanya saja...." timpal temannya namun ucapannya terhenti tidak berani diteruskannya.

Dengan sigap pengawal itu mencabut beberapa batang jeruji besi hingga bisa di lewati lalu di dekatinya tubuh Pwah Kenanga. Lalu dengan cepat diikatnya kaki dan tangan Pwah Kenanga menggunakan tali yang terbuat dari ijuk, diangkatnya tubuh Pwah Kenanga di naikkan ke atas bahunya. Namun dasar lak-laki mesum, sambil memanggul tubuh Pwah Kenanga, tangan laki-laki itu beredar meraba dan meremas bagian-bagian sensitif tubuh Pwah Kenanga.

Pwah Kenanga menahan nafas, mencoba untuk tidak bereaksi walaupun amarah sudah memuncak di ubun-ubun.

"Bajingan tengik...kalau saja keadaanku tidak dalam tahanan mereka..aku bersumpah untuk memotong kedua tanganmu" batin Pwah Kenanga muntab.

Tubuh Pwah Kenanga dibawa masuk ke dalam ruangan yang cukup luas dan terang. Terlihat Senapati Wirajati dan Kunta sedang berdiri menunggu.

"Lempar tubuhnya ke atas jerami itu...!" perintah Kunta.

"Dan kalian segera tinggalkan ruangan ini" sambungnya kepada pengawal yang tadi membawa Pwah Kenanga.

Tubuh Pwah Kenanga dilempar ke atas jerami. Kunta mengambil kendi yang berisi air lalu mengguyurkannya di atas kepala Pwah Kenanga. Tidak menyangka akan disiram air seperti itu membuatnya gelagapan, rencananya untuk pura-pura pingsan akhirnya gagal total. Kedua mata indahnya mendelik kepada dua laki-laki bertubuh tinggi besar, yang pertama adalah Kunta dan yang kedua adalah seorang laki-laki berusia lebih dari limapuluh tahun tinggi besar dan wajahnya walaupun tidak tampan tetapi menyiratkan wibawa yang besar. Pakaiannya terlihat bersih dan bagus, rambutnya yang panjang digelung di atas kepala serta sebuah pedang menggantung di pinggangnya Laki-laki tersebut adalah Senapati Wirajati yang bermaksud meginterogasi Pwah Kenanga.

Senapati Wirajati menghampiri ke arah Pwah Kenanga lalu berjongkok di hadapannya. Kedua matanya tajam memandangi Pwah Kenanga dari ujung rambut sampai ujung kepala. Cukup lama tatapan mata Senapati Wirajati singgah di dada kiri Pwah Kenanga yang terbuka mempertontonkan gumpalan daging lunak yang masih membusung. Senapati Wirajati meneguk ludahnya sendiri sementara mata Pwah Kenanga mengawasi dengan tajam. Sebagai perempuan yang cerdas dan matang, dirinya sudah bisa menerka bahwa Senapati Wirajati adalah tipe laki-laki penghisap madu.

"Perempuan cantik...siapa namamu?" tanya Senapati Wirajati sambil tersenyum.

"Namaku Ajengsari Kakang..." jawab Pwah Kenanga sambil tersenyum manis.

"Aish...nama yang indah, seindah tubuh dan wajahmu..." jawab Senapati Wirajati sambil menjawil dagu Pwah Kenanga.

"Ah...aku malu..Kakang juga tampan dan gagah sekali" jawab Pwah Kenanga sambil mengedipkan matanya genit.

"Ha...ha...aku suka..aku suka...Kunta, apakah kau tidak salah tangkap? Bagaimana mungkin perempuan semanis gula ini bisa berkhianat?" Senapati Wirajati tergelak sambil berdiri lalu menoleh ke arah Kunta.

"Gusti Senapati...lebih baik berhati-hati, perempuan jalang itu sudah membunuh dua orang anak buahku" jawab Kunta memperingatkan.

"Hmmmm..." sejenak Senapati Wirajati berfikir. Kedua matanya kembali memandangi Pwah Kenanga dengan tatapan yang seolah menelanjangi. Jika keadaan biasa, Pwah Kenanga pasti akan merasa risih dan marah dipandangi seperti itu. Namun saat ini kondisinya berbeda, keselamatan dirinya dan seluruh rencana besar Rahiang Sanjaya berada dalam ancaman besar.

"Kunta...kau dudukkan perempuan itu di atas kursi" perintahnya kepada Kunta.

Dengan sebat Kunta menarik tangan Pwah Kenanga dengan mendudukannya dengan kasar di atas kursi. Kunta memang merasa dendam kepada Pwah Kenanga atas kematian kedua anak buahnya. Andai saja tidak menganggapnya sebagai tawanan penting, sudah dari tadi Kunta membunuh Pwah Kenanga.

Pwah Kenanga duduk dengan tegak di atas kursi walaupun kedua tangan dan kakinya terikat. Dengan sengaja dibusungkan dadanya sehingga dua gunung kembarnya terlihat tegak menantang. Belum lagi kemben sebelah kirinya yang sobek hampir memperlihatkan bulatan hitam di tengah dadanya. Berkali-kali Senapati Wirajati menelan ludahnya.

"Ajengsari...kau tahu siapa aku?" tanya Senapati Wirajati sambil berdiri tegak di hadapan Pwah Kenanga sementara Kunta mengawasi di belakangnya.

Sebelum menjawab, Pwah Kenanga tersenyum sambil mengerling nakal.

"Aish...Kakang, aku tidak tahu siapa namamu tetapi melihat dirimu yang tampan dan gagah tentulah kau seorang yang sangat berpangkat dan berpengaruh" bibir manis Pwah Kenanga mulai menebarkan racunnya mencoba menjerat Senapati Wirajati.

Mendengar jawaban Pwah Kenang yang manis dan mengoda membuat hidung Senapati Wirajati kembang kempis. Hatinya benar-benar sudah terjerat bibir dan kerlingan Pwah Kenanga.

"Ha..ha..kau memang perempuan yang manis, betul sekali...aku adalah seorang senapati yang paling gagah dan disegani di Karatuan Galuh. Namaku Wirajati...seorang pendekar pilih tanding dari utara" jawabnya jumawa sambil terbahak.

Mendengar jawaban Senapati Wirajati, diam-diam Kunta mencibir tidak senang. Walau bagaimanapun bagi Kunta, Senapati Wirajati tetaplah orang asing yang datang dari Karatuan Indraprahasta di utara dan menggagalkan semua ambisinya menjadi seorang Senapati. Gara-gara Prabu Purbasora merekrutnya dari Indraprahasta membuat peluang Kunta menduduki posisi senapati jadi tertutup. Padahal dulu Kunta bersedia membelot dari pasukan pengawal keraton Prabu Bratasenawa adalah karena dijanjikan posisi yang tinggi oleh Apatih Bimaraksa. Tapi apa lacur, ketika Senapati Dangku tewas di tangan Rahiang Sanjaya (baca Sanjaya #6) Prabu Bratasenawa sendiri yang secara khusus memanggil Wirajati dari Indraprahasta. Padahal secara jenjang karir seharusnya Kunta yang menjadi Senapati menggantikan Senapati Dangku.

Mata indah Pwah Kenanga membelalak indah seolah-olah semakin kagum dengan Senapati Wirajati. Lidahnya sesekali membasahi bibirnya yang merah menantang.

"Aish..tidak salah dugaanku, kau adalah seorang pejabat tinggi yang sangat hebat dan bijak" ujarnya manja.

"Jangan lupa Nyimas...aku juga sangat gagah dan kuat..." sambar Senapati Wirajati sambil mengedipkan matanya. Panggilannya kepada Pwah Kenanga sudah berubah menjadi nyimas.

"Ampun Gusti Senapati..sudah cukup bermain-mainnya, kita harus menginterogasi perempuan ini untuk laporan kepada Gusti Apatih Bimaraksa" Kunta mengingatkan sambil sengaja menyebut nama Apatih Bimaraksa untuk menakut-nakuti Senapati Wirajati.

Raut muka Senapati Wirajati seketika berubah masam, sudut matanya mengerling tajam tidak suka mendengar ucapan Kunta. Sementara itu Pwah Kenanga diam-diam mengeluh, di sudut hatinya seolah teriris mendengar nama Apatih Bimaraksa.

"Kau....ah sudahlah, kau saja yang bertanya!" dengus Senapati Wirajati kesal.

Kunta berjalan ke hadapan Pwah Kenanga lalu dengan kasar ditamparnya pipi Pwah Kenanga.

"Plak..ugh" Pwah Kenanga mengeluh kesakitan ketika tangan kasar Kunta menghantam pipinya.

"Sekarang kau jelaskan kepada kami...apa tujuanmu dan siapa yang menyuruhmu untuk memberontak kepada karatuan?" bengis Kunta.

Dengan meringis menahan rasa sakit dan panas di pipinya, Pwah Kenanga menjawab dengan tenang.

"Sudah berkali-kali aku jelaskan, namaku Ajengsari dan aku tidak pernah bertujuan untuk memberontak. Kau ini tuli atau tidak mengerti bahasa manusia?" sergah Pwah Kenanga.

"Kau jangan berbelit-belit perempuan jalang...sudah jelas-jelas kau mengajak para ketua paguron silat agar memberontak kepada Gusti Prabu Purbasora. Bahkan kau telah merayu anak buahku, Santika untuk bergabung denganmu!" bentak Kunta muntab.

"Aku adalah pedagang kecil di pasar kotaraja, bagaimana mungkin punya keinginan memberontak. Keinginanku hanya daganganku cepat laku dan bisa membawa pulang uang. Tanya saja kepada laki-laki cabul anak buahmu itu" Pwah Kenanga dengan berani menantang.

Senapati Wirajati yang sedari tadi hanya diam mengawasi seolah tersengat mendengar Pwah Kenanga menyebut anak buah Kunta sebagai laki-laki cabul.

"Apa maksudmu perempuan jalang?...beraninya kau menyebut anak buahku laki-laki cabul" bentak Kunta marah.

Senapati Wirajati memegang lengan Kunta memberinya kode agar diam.

"Nyimas...tolong kau jelaskan kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi" ujar Senapati Wirajati tenang.

Pwah Kenanga menarik nafas panjang, matanya terpejam seolah menahan beban yang sangat berat. Tak lama kemudian membuka kedua matanya yang berkaca-kaca.

"Ampun Gusti Senapati...aku hanyalah pedagang kecil dari pedukuhan di sekitar Kabuyutan Denuh. Tujuanku datang ke kotaraja adalah untuk mencari kehidupan yang lebih untuk putra tunggalku" suara Pwah Kenanga terdengar bergetar.

"Perempuan jalang...kau jangan bersilat lidah, jelas-jelas kau mengajak orang-orang untuk memberontak!" bentak Kunta murka.

Tanpa mempedulikan ucapan Kunta, Senapati Wirajati kembali bertanya.

"Tapi Nyimas...anggota teliksandi kami sudah mengikutimu beberapa minggu ini dan kau sering mendatangi paguron-paguron silat di sekitaran kotaraja. Bisa kau jelaskan itu?"

Pwah Kenanga kembali menarik nafas panjang kemudian wajahnya berpaling ke arah Kunta, sorot matanya nyalang seperti berapi-api.

"Ampun Gusti Senapati...semua itu aku lakukan karena anak buah dia yang bernama Santika!" Pwah Kenanga tergetar.

"Apa maksudmu Nyimas?" Senapati Wirajati penasaran.

"Santika...beberapa kali mau menikahi hamba tapi hamba tidak mau...dia..dia..bahkan beberapa kali berusaha memperkosa hamba" bibir Pwah Kenanga bergetar air mata mulai luruh dari ujung matanya.

"Keji...tuduhanmu keji...dasar perempuan jalang...kau harusnya aku bunuh" bentak Kunta sambil menghunus goloknya.

"Kunta...kau diam dulu...aku ingin tahu cerita dia sebenarnya!" bentak Senapati Wirajati kepada Kunta.

"Tapi Gusti..." suara Kunta terpotong oleh suara Senapati Wirajati yang menggelegar.

"Diam.....!!!"

Bibir Kunta terkatup, giginya bergemeletuk menahan amarah. Pandangannya penuh kebencian kepada Pwah Kenanga.

"Teruskan Nyimas....apakah Santika berhasil memperkosamu?" ujar Senapati Wirajati minta Pwah Kenanga agar meneruskan ceritanya.

"Sang Hyang Widi masih melindungi hamba...beberapa kali hamba berhasil lolos tetapi Santika terus mendatangi hamba di pasar dan mengancam akan memanggil teman-temannya untuk memperkosa hamba beramai-ramai jika keinginannya tidak dituruti" ujar Pwah Kenanga.

"Hmmm...bagaimana kau bisa lolos dari Santika? Bukankah dia seorang laki-laki yang punya silat tinggi sedangkan kau hanya perempuan kampung pedagang sayur" tanya Senapati Wirajati menyelidik.

"Ampun Gusti Senapati...hamba sewaktu muda pernah belajar ilmu agama dan ilmu silat..walaupun  ilmu silat hamba tidak tinggi tapi bisa untuk menjaga diri" jawab Pwah Kenanga dengan suara bergetar dan air mata yang bercucuran.

"Baiklah...tapi aku masih belum mengerti kenapa kau mendatangi paguron-paguron silat?" Senapati Wirajati bertanya sambil mengerutkan keningnya.

"Ampun Gusti Senapati...hamba sengaja mendatangi para ketua paguron silat untuk meminta perlindungan dari niat jahat Santika" ujar Pwah Kenanga.

"Perempuan jalang...Gusti Senapati, jangan percayai semua omongannya. Betina ini mencoba memutarbalikkan keadaan!" sergah Kunta muntab.

Senapati Wirajati mengernyitkan dahinya lalu berjalan mondar-mandir, sepertinya sedang berfikir keras. Tak lama kemudian Senapati Wirajati kembali bertanya.

"Tadi kau bilang berasal dari padukuhan di sekitaran Kabuyutan Denuh, seharusnya kau mengenali Gusti Apatih Bimaraksa" ujar Senapati Wirajati sambil mendekati Pwah Kenanga.

Sesaat wajah Pwah Kenanga berubah begitu mendengar nama Apatih Bimaraksa namun cepat-cepat ditekannya dalam-dalam perasaan itu.

"Siapa yang tidak mengenal Gusti Apatih Bimaraksa, hamba berani datang ke kotaraja karena beliau adalah kakak seperguruan hamba...hamba merasa akan aman tetapi...tetapi..." tangis Pwah Kencana pecah.

"Betina licik...kau harus mati" desis Kunta, diam-diam dirinya mulai merasa jerih mendengar bahwa perempuan ini adalah adik seperguruan Apatih Bimaraksa.

"Gusti Senapati..kita tidak perlu berputar-putar menanyai betina ini lagi...lebih baik hamba bunuh saja dia" Kunta memohon kepada Senapati Wirajati

Senapati Wirajati yang dari awal memang sudah tertarik dengan kecantikan dan kemolekan tubuh Pwah Kenanga mencoba untuk memanfaatkan situasi.

"Kunta..kita tidak bisa memutuskan semudah itu apalagi perempuan ini ada sangkut pautnya dengan Gusti Apatih Bimaraksa. Lebih baik besok pagi kita tanya anak buahmu tentang kejadian yang sebenarnya, kita tidak boleh salah tangan" jelas Senapati Wirajati sambil tersenyum penuh arti.

"Baiklah Gusti Senapati..besok pagi hamba akan bawa Santika ke hadapan betina ini, biar semua kebohongannya kita bongkar" dengus Kunta sambil menarik tangan Pwah Kenanga yang terikat bermaksud membawanya kembali ke ruangan tahanan.

Namun Pwah Kenanga bertahan sambil mejatuhkan diri di hadapan Senapati Wirajati.

"Ampun Gusti Senapati...hamba mohon bantuanmu" ujar Pwah Kenanga sambil berlutut.

"Ada apa Nyimas?" tanya Senapati Wirajati.

"Hamba tidak mau kembali ke ruangan tahanan...mereka pasti akan membunuh hamba. Mereka pasti tidak terima perbuatan bejatnya hamba bongkar di hadapan Gusti Senapati" ujar Pwah Kenanga dengan suara yang memelas.

"Betina jalang...jangan banyak bacot...besok kita akan buktikan siapa yang sebenarnya berbohong" hardik Kunta sambil merenggut rambut Pwah Kenanga yang tergulung. Pwah Kenanga menjerit kesakitan rambutnya terlepas berantakan.

Senapati Wirajati menepis tangan Kunta yang menarik rambut Pwah Kenanga.

"Lepaskan...biarkan dia bicara" perintahnya kepada Kunta dengan tegas.

Senapati Wirajati menarik tangan Pwah Kenanga lalu dibantunya berdiri. Hatinya kembali berdesir melihat wajah Pwah Kenanga dengan rambut yang terurai seolah menambah kecantikannya berkali-kali lipat.

"Ampun Gusti Senapati...hamba tidak mau ditahan di tempat ini..mereka pasti akan membunuh hamba" Pwah Kenanga keukeuh bahwa dirinya takut akan dibunuh oleh Kunta dan 

"Lalu Nyimas mau ditahan dimana?" tanya Senapati Wirajati dengan tatapan nyalang.

"Dimana saja terserah Gusti Senapati...asal jangan di tempat ini" ujar Pwah Kenanga sambil mengerling penuh arti.

"Hmm...Kunta, panggil dua orang anak buahmu dan bawa dia ke rumahku. Sementara dia ditahan di rumahku...besok pagi kau bawalah Santika ke sana" ujar Senapati Wirajati.

"Tapi...tapi...Gusti Senapati..mana bisa begitu, perempuan ini berbahaya...ilmu silatnya cukup tinggi" Kunta mencoba untuk menghalangi.

"Jadi maksudmu ilmu silatku tidak akan mampu menangani dia?" bentak Senapati Wirajati tidak senang mendengar jawaban Kunta.

===

Sementara itu perjalanan Kai Darmaseta dan Nay Suci meninggalkan Karatuan Indraprahasta tidak berjalan lancar. Setelah terlibat bentrokan dengan salah satu petinggi militer Karatuan Indraprahasta yaitu Senapati Dumadi, keduanya dikejar-kejar oleh pasukan karatuan.

"Kakang...sepertinya kita harus mempercepat perjalanan kita kembali ke Sundapura" ujar Nay Suci setengah berteriak sambil memacu kudanya kepada Kai Darmaseta.

"Betul Nyai...keadaan akan semakin memanas, kita harus segera melapor kepada Gusti Prabu Tarusbawa" jawab Kai Darmaseta yang berkuda di samping Nay Suci.

"Ugh...." tiba-tiba Kai Darmaseta mengeluh dan meringis menahan sakit sambil memegangi pinggangnya. Rupanya luka bekas tusukan tombak Senapati Dumadi yang belum kering benar kembali terbuka dan mengucurkan darah.

Mendengar suara suaminya yang mengeluh sambil memegangi perutnya, Nay Suci segera menarik tali kekang kudanya.

"Kakang...kenapa lukamu? Lebih baik kita berhenti dulu" ujarnya panik.

Melihat istrinya menghentikan laju kudanya, Kai Darmaseta pun melakukan hal yang sama.

"Nyai..kita tidak bisa berhenti di sini, terlalu berbahaya" ujarnya meminta untuk meneruskan perjalanan.

"Tidak bisa Kakang...kita harus periksa lukamu terlebih dahulu. Aku sangat khawatir..." jawab Nay Suci sambil melompat turun dari punggung kudanya.

Akhirnya Kai Darmasetapun menyerah dan mengikuti turun dari atas punggung kudanya.

"Kakang ikuti aku...." ujar Nay Suci sambil menuntun kudanya memasuki lebatnya hutan.

Setelah dirasa cukup aman, Nay Suci menghentikan langkahnya sambil menunggu Kai Darmaseta yang berjalan di belakangnya. Ditepuk-tepuknya leher kudanya yang seolah mengerti maksud tuannya. Kuda milik Nay Suci diikuti oleh kuda milik Kai Darmaseta berlalu mencari makanan ke balik semak belukar.

Kai Darmaseta duduk di atas catang pohon yang cukup besar, dibukanya pakaian atasnya memeriksa pinggangnya yang terluka. Sepertinya karena hampir sepanjang hari mereka berkuda, luka tersebut kembali mengeluarkan darah. Kai Darmaseta meringis kesakitan. Sementara Nay Suci berjongkok di hadapan Kai Darmaseta, dikeluarkannya bungkusan kecil yang berisi obat pemberian Yuchi Saksena. Dengan penuh kasih sayang, ditaburkannya obat tersebut di atas luka Kai Darmaseta.

"Kakang...lebih baik kita beristirahat dulu sambil memulihkan kondisimu" ujar Nay Suci sambil merobek kain yang dikeluarkan dari buntelannya.

Dengan hati-hati diikatnya luka tersebut untuk mengurangi pendarahan. Melihat istrinya yang sangat telaten merawatnya, Kai Darmaseta merasa sangat terharu. Kedua matanya berkaca-kaca lalu diusapnya rambut Nay Suci dengan mesra.

"Nyai...terima kasih" ujarnya dengan suara bergetar.

Nay Suci memegang tangan Kai Darmaseta lalu menciumnya dengan sangat mesra.

"Aku akan memeriksa di sekitar sini...mudah-mudahan ada tempat yang aman untuk beristirahat" ujarnya pelan sambil melepaskan genggaman tangan Kai Darmaseta.

"Tunggu Nyai...biar aku yang memeriksa, kau tunggu saja di sini" cegah Kai Darmaseta sambil mencoba untuk berdiri namun di cegah oleh Nay Suci.

"Biar aku saja Kakang...lukamu belum sembuh benar jika dipaksakan malahan akan memperlambat perjalanan kita" ujarnya.

Kai Darmaseta akhirnya mengalah.

"Baiklah Nyai...berhati-hatilah, jika ada sesuatu cepat teriak saja" ujarnya.

Nay Suci segera berlalu memasuki rapatnya pepohonan di dalam hutan tersebut sementara Kai Darmaseta menunggunya sambil bersemedi. Diaturnya peredaran darah dan aliran pernapasannya untuk segera memulihkan luka dan tenaga dalamnya.

Cukup lama juga Nay Suci meninggalkan tempat tersebut, hari mulai gelap saat Kai Darmaseta mengakhiri semedinya. Badannya terasa lebih segar dan lebih enteng, rasa perih dipinggangnyapun mulai hilang.

"Hmm...rupanya Nyai belum kembali, semoga tidak terjadi apa-apa" batin Kai Darmaseta cemas karena Nay Suci belum juga kembali.

Tiba-tiba dari balik rimbunnya semak belukar terdengar suara langkah. Kai Darmaseta terhenyak dan segera memburu asal suara tersebut. Dilihatnya istri yang paling dikasihinya sedang berjalan dengan peluh yang bercucuran.

"Nyai...ah..kau sudah kembali" ujarnya kegirangan.

"Iya Kakang...aku menemukan sebuah tempat yang aman tidak jauh dari sini. Sekarang kita menuju ke sana" jawab Nay Suci sambil meraih tangan Kai Darmaseta dan menuntunnya memasuki hutan.

Suasana di dalam hutan yang gelap membuat mereka beberapa kali terantuk akar ataupun bebatuan. Tidak lama kemudian tercium bau kayu yang terbakar.

"Nyai...sepertinya ada orang lain di tempat ini, aku mencium ada orang yang sedang membakar kayu" ujar Kai Darmaseta sambil menahan tangan Nay Suci.

Nay Suci tersenyum.

"Jangan khawatir Kakang...aku yang membakar kayu itu, sebelum aku menjemputmu, aku sudah berburu ayam hutan dan menyiapkan kayu bakar untuk kita makan malam" ujarnya sambil menarik kembali tangan Kai Darmaseta untuk meneruskan perjalanannya.

Bau kayu terbakar semakin santer tercium tetapi tidak terlihat ada cahaya api. Dengan tersaruk-saruk keduanya terus berjalan. Tak lama mereka tiba di kaki sebuah lereng batu yang cukup tinggi, Nay Suci menghentikan langkahnya. Dipicingkan kedua matanya mencoba menembus kegelapan malam. Kai Darmaseta yang dari tadi hanya mengikuti langkah Nay Suci bertanya,

"Ada apa Nyai?...kenapa kita berhenti?"

"Sebentar Kakang...aku yakin di sinilah tempatnya" jawab Nay Suci sambil tangannya meraba-raba gundukan semak-semak yang banya terdapat di kaki lereng tersebut.

"Ah...ini rupanya...mari Kakang" sambungnya setengah berteriak sambil menyingkirkan gundukan semak-semak yang sepertinya baru saja ditebas.

Dibalik gundukan semak tersebut terlihat sebuah mulut guha yang cukup besar, kerlip cahaya terlihat di ujung sana. Nay Suci mempersilakan Kai Darmaseta memasuki mulut guha sedangkan dirinya kembali menarik gundukan semak-semak tersebut dan menumpuknya di depan mulut guha, sekilas tidak akan ada yang melihatnya.

Nay Suci dan Kai Darmaseta berjalan memasuki ke dalam guha, terdengar gemericik air. Rupanya di atas guha tersebut terdapat sebuah lubang yang cukup besar dan mengucurkan air yang membentuk sebuah sungai kecil yang berair sangat jernih di bawahnya. Dari kucuran tersebut tidak hanya mengalirkan air tetapi juga membawa aliran udara segar sehingga di dalam guha tidak terasa pengap. Sepertinya mata air tersebut berada di atas tebing batu. Semakin dalam suasana semakin terang karena di ujung gua terlihat sebuah gundukan kayu yang terbakar.

Dua ekor kuda milik mereka terlihat berada di dalam guha.

"Ah..Nyai, rupanya kau sudah mempersiapkan tempat ini. Terima kasih" ujar Kai Darmaseta kagum sambil memeluk istri tercintanya lalu mengecup mesra keningnya.

Nay Suci tersenyum bahagia disusupkannya wajahnya ke dalam dada bidang suami terkasihnya. Sesaat mereka berpelukan seolah tidak mau terpisahkan.

"Kakang...kau bersihkanlah dulu dirimu...aku akan menyiapkan makan malam kita" ujar Nay Suci sambil melepaskan pelukan suaminya.

"Sebentar Nyai...aku masih ingin memelukmu. Betapa beruntungnya aku memiliki istri sepertimu" ujar Kai Darmaseta seperti enggan melepaskan pelukannya.

Nay Suci tersenyum sambil mencubit kecil dada suaminya.

"Setelah mandi dan makan malam..Kakang bisa memelukku sepanjang malam" ujarnya mesra.

"Aih...kalau setelah mandi dan makan malam..aku tidak mau hanya memelukmu saja...aku ingin..." ucapan Kai Darmaseta terpotong oleh gigitan kecil Nay Suci di dadanya.

"Aduuhh..." Kai Darmaseta meringis.

"Kakang...cepat kau mandi...jangan lama-lama atau aku akan menghukummu..." desah Nay Suci sambil melepaskan pelukan Kai Darmaseta dan bergegas menuju ke arah perapian.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #10