BANGSAWAN KARATUAN SUNDA


Kedai makan itu belum terlalu ramai, mungkin karena memang belum masuk waktu makan siang. Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih yang hampir selama satu bulan berada di atas perahu hanya makan ikan sungai dan nasi putih, sudah kangen sekali dengan makanan rumahan. Terutama Dewi Sekarasih yang memang terbiasa hidup di lingkungan keraton dengan jenis makanan yang lezat dan mewah.

Kepulan asap yang keluar dari kedai tersebut membawa harum masakan, perut Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih makin melilit.

"Di depan ada kedai makanan...lebih baik kita menuju ke sana" ujar Yuchi Saksena sambil mengarahkan kudanya ke arah kedai.

"Hmmm....aku mau daging mencek bakar...sudah lama sekali aku tidak menikmatinya" jawab Dewi Sekarasih sambil memacu kudanya mendahului Yuchi Saksena.

Setibanya di depan kedai, dengan gesit Dewi Sekarasih melompat turun lalu mengikatkan tali kekang kudanya ke sebuah tiang, lalu masuk ke dalam kedai. Yuchi Saksena mengikuti langkah Dewi Sekarasih, matanya yang tajam menyapu ke seluruh bagian kedai. Hanya ada empat meja di dalam kedai tersebut, yang dua meja sudah terisi dan dua meja lainnya masih kosong. Di meja pertama, seorang laki-laki tua dengan janggut panjang sedang menyantap makanannya dengan lahap. Di meja kedua terlihat sepasang laki-laki dan perempuan berusia tidak lebih dari empatpuluh tahun. Sikap dan gerak-gerik pasangan ini menunjukkan bahwa mereka berdua bukanlah orang sembarangan. Dua buah golok berukuran besar dan kecil tergeletak di atas meja mereka. Mereka berdua adalah pasangan suami istri, Kai Darmaseta dan Nay Suci, yang berasal dari Sundapura di Karatuan Sunda. Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih memilih meja yang terletak di ujung dalam kedai.

Dasar memang Dewi Sekarasih sifatnya jenaka dan polos, dengan suara lantang dia memesan makanan.

"Mamang...bawa ke sini semua makanan sekalian minumnya air lahang. Sudah satu purnama aku tidak makan enak...hihi.." ujarnya sambil tersenyum lebar.

Ketiga orang yang sedang menyantap makanan melirik sekilas ke arah Dewi Sekarasih dan Yuchi Saksena, lalu mereka kembali menekuni makanannya. Tak lama pemilik warung ditemani salah seorang pelayan perempuan muda menyajikan makanan di atas meja. Dewi Sekarasih melirik ke arah Yuchi Saksena yang diam-diam memandangi pelayan perempuan muda yang bertubuh montok dan sekal. Dengan gemas Dewi Sekarasih menginjak kaki Yuchi Saksena.

"Aduh..." pekik Yuchi Saksena kaget dan sakit.

"Dasar mesum..." dengus Dewi Sekarasih sambil mendelik ke arah Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena yang merasa malu karena tertangkap basah hanya garuk-garuk kepala sambil nyengir kuda. Sementara pelayan perempuan yang tahu sedang diawasi oleh pendekar muda yang gagah dan tampan itu mengerling nakal.

"Silakan...dinikmati makanannya Aden" ujarnya manja sambil mengedipkan matanya ke arah Yuchi Saksena.

"Ah...iya..iya..terima kasih" Yuchi Saksena tergagap.

Pelayan perempuan itu tersenyum sambil meleletkan lidahnya di atas bibir tebalnya yang merekah dan mencolek manja tangan Yuchi Saksena sambil berlalu. Dewi Sekarasih hatinya muntab, entah kenapa dirinya merasa sangat cemburu ketika melihat pelayan perempuan itu menggoda Yuchi Saksena.

"Kakang...kau tentu suka perempuan seperti itu" desisnya sambil mengambil piring tanah lalu mengisinya dengan nasi hangat yang masih mengepul di dalam boboko.

"Ah...tidak juga, biasa saja" jawab Yuchi Saksena sambil mengambil cangkir yang berisi minuman lalu meneguknya sampai tandas. Tenggorokannya serasa mendadak kering setelah mendapat kerlingan manja dari pelayan perempuan tadi.

Tiba-tiba dari arah pintu kedai masuk tiga orang laki-laki gagah menggunakan pakaian prajurit. Salah satu dari mereka yang bertubuh paling kecil menunjuk ke arah Kai Darmaseta dan Nay Suci yang mejanya berada tidak jauh dari meja Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih.

"Kakang Senapati Dumadi...itu orangnya..sepertinya mereka mau melarikan diri"

Pasangan tersebut menghentikan makannya lalu saling pandang lalu dengan santai kembali melanjutkan santapannya. Sementara itu melihat kedatangan tiga orang laki-laki tersebut, laki-laki tua berjanggut bangkit dari duduknya dan meletakkan beberapa keping benggol di atas meja kemudian mengedipkan matanya ke arah Dumadi dan segera berlalu keluar kedai. Rupanya laki-laki tua tersebut adalah teliksandi Karatuan Indraprahasta yang bertugas membuntuti Kai Darmaseta dan Nay Suci.

Laki-laki yang dipanggil Dumadi melangkah mendekati meja Kai Darmaseta dan Nay Suci. Dumadi membungkukkan badannya dengan sopan. Sedangkan kedua temannya berdiri tegak di belakangnya.

"Sampurasun Kisanak...mohon maaf mengganggu kalian" ujarnya.

Kai Darmaseta yang sedang menyantap makanan tersebut mengangkat wajahnya lalu tersenyum.

"Ah...ada apa rupanya Kisanak? Sepertinya kita tidak pernah bertemu sebelumnya" jawabnya dengan tenang.

"Perkenalkan namaku Senapati Dumadi...membawa titah Prabu Wiratara untuk mengundang kalian berdua ke keraton Indraprahasta" ujar Dumadi.

"Aisshhh....mana berani rakyat jelata seperti kami menerima undangan dari seorang Prabu Karatuan Indraprahasta. Kalian mungkin salah orang" jawab Nay Suci sambil tetap menunduk menikmati makanannya.

Dewi Sekarasih melengak mendengar nama Prabu Wiratara disebut-sebut. Dirinya memang masih terikat tali persaudaraan dengan penguasa Karatuan Indraprahasta tersebut. Prabu Purbasora, uwaknya, menikahi Ratu Citrakirana yang merupakan kakak perempuan dari Prabu Wiratara. Diam-diam matanya mengawasi mereka. Sementara Yuchi Saksena asyik menyantap makanannya seolah tidak mempedulikan yang terjadi di dalam kedai.

"Kalian berdua mohon jangan merendah seperti itu...kalian berdua adalah bangsawan dari keraton Karatuan Sunda. Jadi junjungan kami merasa selayaknya untuk mengundang dan menjamu kalian" ujar Senapati Dumadi.

Baca juga : Rahiang Sanjaya : Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #7

Kai Darmaseta dan Nay Suci melengak mendengar ucapan Senapati Dumadi. Mereka tidak menyangka penyamaran mereka akan terbongkar oleh prajurit dari Karatuan Indraprahasta. Padahal mereka sudah menyamar sedemikian rupa agar tidak dikenali.

Kuping Dewi Sekarasih tambah lebar mendengar pasangan tersebut adalah bangsawan dari Karatuan Sunda. Dirinya beberapa kali mendengar cerita dari Prabu Demunawan, ayahnya, mengenai kebesaran Karatuan Sunda.

"Ah...rupanya kami sudah dikenali, teliksandi kalian sungguh hebat. Aku harus mengakuinya" ujar Kai Darmaseta sambil mengakhiri santapannya dan membersihkan tangannya lalu mempersilakan Senapati Dumadi duduk.

"Silakan duduk Senapati...tidak baik berbincang sambil berdiri"

"Terima kasih....tapi lebih baik, aku menunggu di luar. Silakan selesaikan santapan kalian...setelah itu aku akan membawa kalian ke keraton"  jawab Senapati Dumadi.

"Kalau kami tidak mau ikut...bagaimana?" sergah Nay Suci sengit.

Senapati Dumadi tersenyum.

"Aku pikir....lebih baik kalian tidak menolak undangan junjungan kami..." ujarnya tegas.

"Kurang ajar...kalian mengancam kami?" sergah Nay Suci sambil berdiri dan menyambar golok kecil miliknya dari atas meja.

Kai Darmaseta memegang tangan Nay Suci untuk menenangkannya.

"Lebih baik Senapati tunggu kami di luar..." ujar Kai Darmaseta mempersilakan Senapati Dumadi menunggu mereka di luar.

"Kakang...apa maksudnya? Tidak sudi aku menerima undangan dari mereka!" dengus Nay Suci.

"Tenang Nyai....kita harus berkepala dingin menghadapi mereka. Lagipula sebisa mungkin kita menghindari keributan dengan mereka" ujar Kai Darmaseta sambil merogoh saku bajunya dan mengeluarkan kepingan perak lalu meletakkannya di atas meja sebagai pembayaran makanan yang mereka santap.

Dengan tenang Kai Darmaseta meraih golok besar miliknya dari atas meja lalu melangkah ke luar kedai diikuti oleh istrinya, Nay Suci. Setibanya di luar, dilihatnya Senapati Dumadi dan dua orang anak buahnya, Jarga dan Gani, sudah menunggu mereka.

Dewi Sekarasih bangkit dari duduknya dan melangkah keluar kedai namun baru saja dua langkah, tangannya ditarik oleh Yuchi Saksena.

"Tikus kecil...jangan suka mencampuri urusan orang lain" ujar Yuchi Saksena.

Dewi Sekarasih membalikkan badannya sambil mendelik ke arah Yuchi Saksena.

"Aku tidak mau ikut campur...hanya ingin tahu saja" jawabnya sambil mencoba melepaskan pegangan tangan Yuchi Saksena.

"Itu sama saja...dasar gadis bodoh" dengus Yuchi Saksena.

Dewi Sekarasih tidak menggubrisnya, setelah berhasil melepaskan cengkraman tangan Yuchi Saksena, dirinya bergegas keluar kedai.

"Cari masalah saja..."desis Yuchi Saksena sambil mengakhiri santapannya dan meletakkan sekeping perak di atas meja. Diikutinya langkah Dewi Sekarasih ke luar kedai.

Suasana di luar kedai terasa tegang, penduduk kampung sebagian tergopoh-gopoh meninggalkan tempat tersebut. Sementara pemilik kedai dan pelayan perempuannya terlihat bergegas membereskan peralatan makan dan sisa makanan yang terserak di atas meja.

"Kalian berdua silakan naik ke atas kuda dan bersama-sama kami menuju kotaraja" ujar Senapati Dumadi.

"Sampaikan permohonan maaf kami kepada Yang Mulia Prabu Wiratara, dengan sangat menyesal kami berdua harus secepatnya kembali ke Sundapura" jawab Kai Darmaseta tenang.

Senapati Dumadi menyeringai sinis, sikap hormatnya seketika berubah setelah mendengar penolakan dari Kai Darmaseta.

"Aih...memandang hubungan baik Karatuan Indraprahasta dengan Karatuan Sunda, tidak sepatutnya kalian menolak undangan junjungan kami" Senapati Dumadi dengan suara yang menunjukkan ketidaksukaan atas penolakan tersebut.

"Kami hanyalah bangsawan kecil yang sedang mengadakan perjalanan dagang dan tidak atas nama Karatuan Sunda...mohon jangan sangkut pautkan dengan urusan Karatuan" ujar Kai Darmaseta tetap tenang.

Senapati Dumadi mendengus mendengar ucapan Kai Darmaseta.

"Lebih baik kalian jelaskan semua itu di keraton saja...sekarang lebih baik kita berangkat" ujarnya dingin.

"Dasar bebal...apakah kau tidak mengerti bahasa manusia? Sudah berapa kali dikatakan...kami tidak mau ikut dengan kalian!!!" Nay Suci muntab.

Senapati Dumadi wajahnya kelam membesi, sepertinya kesabarannya mulai habis.

"Aku akan memaksa kalian dengan cara apapun untuk ikut ke keraton. Kalian dicurigai sebagai teliksandi yang memata-matai karatuan kami" dengusnya sambil menghunus tombak kecil yang tergantung di punggungnya.

"Teliksandi? Apa maksud ucapanmu?" sergah Nay Suci sambil menghunus goloknya.

"Kakang...mereka sepertinya sengaja mencari perkara dengan kita" sambungnya sambil melirik ke arah Kai Darmaseta.

"Ha..ha..ha..buat apa Karatuan Sunda yang besar memata-matai karatuan kecil seperti Indraprahsta ini. Sungguh kalian merendahkan kami..." ujar Kai Darmaseta tergelak.

"Kalian memang tidak bisa dikasih hati...sudah diundang dengan baik-baik malahan minta diperlakukan kasar!!!" dengus Senapati Dumadi.

"Tangkap perempuan tidak tahu diuntung itu...biar aku yang menghajar laki-laki ini" sambungnya kepada Jarga dan Gani, anak buahnya.

Senapati Dumadi memutar tombak pendeknya hingga berubah menjadi bayangan berwarna putih. Dengan sigap menerjang ke arah Kai Darmaseta. Mendapat serangan seperti itu Kai Darmaseta menghunus golok besar miliknya dan menyambut serangan Senapati Dumadi.

Perkelahianpun pecah. Sinar putih putih yang berasal dari tombak pendek milik Senapati Dumadi mengurung Kai Darmaseta. Kedua orang ini memang mempunyai tingkat kesaktian yang hampir seimbang, serangan-serangan dari Senapati Dumadi mampu dielakkan bahkan dibalas oleh Kai Darmaseta.

Sementara itu Jarga dan Gani mengurung Nay Suci.

"Nyai...lebih baik kau menyerah...jangan sampai golok kami melukai kulitmu yang halus" seringai Jarga sambil mengusap-usap mata goloknya.

Nay Suci yang walaupun sudah tidak muda lagi tetapi tubuh dan kulitnya masih kencang terawat dengan baik. Jarga dan Gani beberapa kali menelan ludah melihatnya.

"Laki-laki tidak tahu adat.." dengus Dewi Sekarasih yang berdiri tidak jauh dari mereka. Dirinya merasa sangat tersinggung melihat kelakuan Jarga yang merendahkan perempuan.

"Jangan banyak bacot...makan golok ini" bentak Nay Suci sambil menerjang ke arah Jarga.

"Ha...ha...baiklah kalau maumu seperti itu" ujar Jarga sambil menyambut serangan Nay Suci.

Perkelahian antara Nay Suci melawan Jarga berlangsung sengit. Nay Suci yang sudah muntab tidak ragu-ragu mengeluarkan jurus-jurus terbaiknya. Golok kecilnya bergerak cepat, menderu mengurung tubuh Jarga. Lima jurus berlalu, Jarga pontang-panting menghindari serangan golok Nay Suci. Melihat kondisi yang tidak menguntungkan, Gani menghunus goloknya dan menerjang ke tengah pertempuran membantu Jarga. Angin berbalik, walaupun ilmu silat dan kesaktian Nay Suci tidak bisa dibilang rendah, namun menghadapi keroyokan dua orang laki-laki bertenaga badak, mau tidak mau dirinya keteteran.

"Trang...trang" dua kali golok Nay Suci menghadang laju golok Jarga dan Gani.

Nay Suci merasa tangannya bergetar hebat. Diaturnya nafas dan peredaran darahnya.

"Bajingan...beraninya main keroyokan" desis Yuchi Saksena yang merasa tidak senang melihat Nay Suci dikeroyok.

"Kenapa?...Kakang suka kepada perempuan itu?" sengit Dewi Sekarasih sambil mengerling tajam ke arah Yuchi Saksena yang berdiri di sampingnya. Walaupun dirinya tidak suka jika melihat pengeroyokan tetapi melihat Yuchi Saksena yang begitu mengkhawatirkan Nay Suci, tak urung membuat rasa cemburu Dewi Sekarasih meluap. Yuchi Saksena hanya diam, pura-pura tidak mendengar ucapan Dewi Sekarasih.

"Ha..ha...bagaimana Nyai?...apakah kau mau menuruti permintaan kami?" Jarga terkekeh sambil mengedipkan mata kirinya ke arah Nay Suci.

Sementara itu, Kai Darmaseta yang sekilas melihat Nay Suci terdesak oleh Jarga dan Gani menjadi pecah konsentrasinya. Tusukan tombak pendek Senapati Dumadi yang mengarah ke perutnya terlambat di antisipasi. Ujung tombak itu sudah begitu dekat saat Kai Darmaseta menyadarinya, dengan panik dilemparkan tubuhnya ke samping. Namun ujung tombak masih sempat menggores pinggangnya. Bajunya sobek dan dari perutnya mengucur darah segar.

Kai Darmaseta bergulingan lalu secepat kilat bangkit dan mengusap perutnya pinggangnya yang sobek. Untung lukanya tidak terlalu dalam. Nay Suci menjerit panik lalu menghampiri Kai Darmaseta.

"Kakang...kakang...kau tidak apa-apa?" pekiknya cemas.

"Jangan khawatir Nyai...aku hanya tergores saja" ujar Kai Darmaseta pelan sambil menahan perih di pinggangnya.

"Kisanak...lebih baik kalian mengikuti permintaan kami untuk datang ke keraton. Kami tidak segan-segan melumpuhkan kalian jika masih menolak" ujar Senapati Dumadi sambil menyeringai penuh kemenangan.

Kai Darmaseta tersenyum.

"Kami adalah ksatria..mati ataupun terluka dalam pertarungan bukanlah hal yang ditakutkan" ujarnya tetap tenang.

"Baiklah kalau itu mau kalian...kalau tidak berhasil membawa kalian hidup-hidup, biarlah bangkainya yang akan aku seret" dengus Senapati Dumadi.

"Serang....!" pekiknya memeri tanda kepada Jarga dan Gani.

Ketiganya hampir berbarengan menerjang ke arah Kai Darmaseta dan Nay Suci. Kelebatan golok dan tusukan tombak menderu. Tiba-tiba sebuah bayangan merah berkelebat memotong serangan mereka. Wangi cendana santer tercium.

"Trang..trang...trang" terdengar tiga kali benturan senjata terdengar.

Senapati Dumadi, Jaarga dan Gani melompat mundur sambil menahan sakit ditangannya. Tangan mereka terasa kesemutan.

Dewi Sekarasih melengak tidak menyadari kapan berkelebatnya Yuchi Saksena dari sampingnya. Walaupun dirinya tidak senang dengan pengeroyokan yang dilakukan kepada Kai Darmaseta dan Nay Suci, namun Dewi Sekarasih memilih untuk diam. Dia khawatir jika turun tangan membantu akan merusak hubungan Prabu Wiratara dengan Prabu Demunawan, ayahnya sendiri. Tidak disangkanya Yuchi Saksena akan turun tangan membantu Kai Darmaseta dan Nay Suci.

Yuchi Saksena berdiri dengan gagah di hadapan Senapati Dumadi dan kedua anak buahnya. Rambut panjangnya yang tidak tertutupi caping bambu meriap tertiup angin. Ditangan kanannya terhunus pedang berwarna kehijau-hijauan yang menyebarkan wangi cendana.

"Siapa kau? Berani-beraninya ikut campur urusan karatuan!" bentak Senapati Dumadi muntab.

"Aku bukan siapa-siapa...hanya saja aku tidak suka melihat tingkah pengecut kalian!" dengus Yuchi Saksena.

"Anak muda...lebih baik kau segera menyingkir. Biarlah urusan ini kami selesaikan. Mereka prajurit karatuan..urusannya akan panjang jika melibatkan diri" bisik Kai Darmaseta kepada Yuchi Saksena. Dirinya merasa khawatir jika anak muda itu akan terluka gara-gara pertikaiannya dengan prajurit Karatuan Indraprahasta. Tubuhnya mulai goyah, luka goresan dipinggangnya makin terasa sakit dan panas.

"Aku tidak ada urusan dengan karatuan manapun...hanya saja aku tidak akan membiarkan tindakan pengecut dan licik terjadi di depan hidungku" dengusnya sambil matanya tajam mengawasi ke arah Senapati Dumadi dan kedua anak buahnya.

"Ambu...lebih baik kau obati lukanya. Sepertinya tombak itu beracun...kalau tidak segera diobati lukanya akan membusuk" sambungnya sambil melemparkan bungkusan kecil ke arah Nay Suci dan memintanya agar mengobati luka Kai Darmaseta.

Nay Suci menyambut bungkusan kecil yang dilemparkan oleh Yuchi Saksena lalu memburu ke arah Kai Darmaseta yang meringis kesakitan. Wajahnya pucat dan bibirnya mulai membiru, rupanya racun dari goresan tombak milik Senapati Dumadi mulai bereaksi menyerang aliran darah Kai Darmaseta.

"Kau mencari mati rupanya...." dengus Senapati Dumadi muntab disebut pengecut dan licik oleh Yuchi Saksena.

Dengan cepat Senapati Dumadi diikuti oleh Jarga dan Gani menerjang ke arah Yuchi Saksena. Namun Yuchi Saksena sudah bersiap, pedang hijau ditangan kanannya berkelebat dan menderu laksana seekor naga yang sedang mengamuk. Tubuhnya bergerak enteng dan sangat cepat hingga sulit diikuti oleh mata orang biasa. Walaupun Senapati Dumadi, Jarga dan Ganu menerjang bersamaan, namun kecepatan Yuchi Saksena bukanlah tandingan mereka, terutama Jarga dan Gani.

Tubuh Yuchi Saksena menyelinap diantara gelombang serangan yang dilancarkan oleh mereka. Lalu dengan kecepatan yang luar biasa, pedang hijau ditangannya bergerak merobohkan Jarga dan Gani yang mempunyai tingkat ilmu silat yang paling rendah.

Hanya terdengar bunyi denting pedang dan golok yang beradu lalu diakhiri suara pekik kesakitan dari Jarga yang terlempar dari arena pertarungan dengan perut yang robek lalu ambruk. Tak lama disusul oleh pekik kengerian dari Gani begitu disadarinya ujung pedang Yuchi Saksena menyasar lehernya...suaranya terputus begitu pula lehernya.

Dewi Sekarasih terpekik sambil menutup mulutnya dan mata yang melotot tidak menyangka Yuchi Saksena, laki-laki tampan yang diam-diam dicintainya akan berlaku sekejam itu. 

Senapati Dumadi melompat mundur sambil menekan rasa ngerinya melihat nasib kedua anak buahnya yang dibunuh hanya dalam satu gebrakan.

Yuchi Saksena menyeringai menggidikkan, sebagian wajahnya yang tertutup caping bambu menambah kesan bengis. Pedang hijau ditangan kanannya mengucurkan darah segar.

"Bajingan tengik...kau berani membunuh prajurit Karatuan Indraprahasta. Jangan harap bisa hidup lebih lama" dengus Senapati Dumadi bergetar. Matanya liar mengawasi sekitar lalu dengan sigap berlari dan melompat ke atas punggung kuda tidak jauh dari arena pertarungan. Dipacunya kuda secepat mungkin meninggalkan tempat tersebut menuju ke arah kotaraja Indraprahasta untuk minta bantuan.

"Pengecut...tidak tahu malu" dengus Yuchi Saksena sambil membersihkan darah dari pedangnya dengan mengusap-usapkan ke baju milik Gani yang sudah terbujur kaku.

Sementara Nay Suci bergegas menghampiri Yuchi Saksena lalu berlutut di hadapannya. Kai Darmaseta yang tubuhnya masih tergolek lemah akibat pengaruh racun hanya mengawasi dari jauh dengan sorot mata penuh terima kasih kepada Yuchi Saksena.

"Rakean...terima kasih kau telah menolong kami" ujar Nay Suci.

Yuchi Saksena yang merasa rikuh dihormat seperti itu, begegas menarik dengan lembut bahu Nay Suci.

"Ambu..jangan seperti ini...bangunlah" ujarnya pelan.

"Bagaimana keadaan suamimu?" sambungnya sambil memandang ke arah Kai Darmaseta.

"Sudah lebih baik...berkat serbuk yang Rakean berikan" jawab Nay Suci sambil berdiri.

"Hmmm...sebentar aku periksa" Yuchi Saksena berjalan mendekati Kai Darmaseta lalu berlutut sambil memegang pergelangan tangannya.

Selain menguasai ilmu silat dan kesaktian yang sangat tinggi, Yuchi Saksena juga menguasai ilmu pengobatan China yang diturunkan dari kakeknya, Yuchi Jian

"Hmmm...racunnya sudah tidak bereaksi tapi harus dikeluarkan dari tubuh" desisnya. Lalu dibantunya Kai Darmaseta untuk duduk dan bersila.

"Mamang kau atur nafas dan jalan darahmu...aku akan membantu mengeluarkan racun dari tubuhmu" ujarnya sambil menempelkan telapak tangan kanannya di pinggang Kai Darmaseta yang terluka.

Nay Suci berlutut di samping Kai Darmaseta dengan wajah cemas. Sementara Dewi Sekarasih perlahan-lahan mendekati ke arah mereka dan berlutut di belakang Yuchi Saksena. Sekilas Nay Suci memandangnya sambil melemparkan senyum. Dewi Sekarasih membalasnya dengan anggukan.

Hawa panas mulai menjalar dari luka dipinggangnya, Kai Darmaseta memejamkan matanya mengatur nafas dan peredaran darahnya. Rasa panas makin santer terasa ke sekujur tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, peluhnya bercucuran. Asap tipis berwarna hitam mengepul dari bekas luka yang ditutupi oleh telapak tangan Yuchi Saksena. Bau busuk tercium. Perlahan punggung telapak tangan Yuchi Saksena berangsur menghitam, Kai Darmaseta menggigit bawah bibirnya menahan rasa panas yang membuncah.

"Ahhhh....." Yuchi Saksena mengeluh sambil menarik telapak tangan kanannya yang dari pergelangan tangan sampai ujung jarinya berubah menjadi hitam. Bau busuk tercium dari tangannya.

Nay Suci dan Dewi Sekarasih menahan rasa ingin muntah mencium bau busuk tersebut. Kai Darmaseta terkulai lemah namun wajahnya tidak lagi pucat, sudah mulai segar kemerahan.

Yuchi Saksena berdiri dari duduk silanya lalu berjalan ke arah pinggir hutan yang berada tidak jauh dari halaman kedai tersebut. Di depan sebuah pohon besar, dikibaskan telapak tangan kanannya. Cairan kental seperti darah hitam terpercik dari telapak tangannya ke batang pohon besar tersebut dan melumurinya. Telapak tangan Yuchi Saksena kembali berwarna normal. Rupanya racun di dalam darah Kai Darmaseta disedotnya dengan menggunakan telapak tangannya. Ilmu pengobatan yang luar biasa karena salah-salah racunnya bisa berbalik menyerang aliran darah Yuchi Saksena. Dewi Sekarasih yang melihat hal tersebut bergidik, dirinya tidak menyangka Senapati Dumadi akan menggunakan racun sejahat itu.

Yuchi Saksena berjalan menghampiri Kai Darmaseta yang dipapah oleh Nay Suci. Kai Darmaseta merasa tubuhnya lebih segar tidak ada lagi rasa sakit ataupun ngilu, hanya saja tubuhnya yang masih lemah. Melihat Yuchi Saksena yang berjalan ke arah mereka, Kai Darmaseta dan Nay Suci bergegas menjura sambil mengucapkan terima kasih.

"Mamang...jangan sungkan seperti itu, sudah kewajibanku untu menolong. Aku akan membantu siapapun yang dicurangi seperti kalian" ujar Yuchi Saksena tersenyum tipis.

"Ambu...ambillah ini, minumkan setiap hari supaya lukanya cepat kering" sambungnya sambil menyodorkan bungkusan kecil.

"Terima kasih Rakean...kau telah banyak membantu kami" Nay Suci sambil menyambut bungkusan kecil yang disodorkan oleh Yuchi Saksena.

"Rakean...sudikah kau memberitahu namamu kepada kami? Agar kelak kami bisa membalas budi baikmu" Kai Darmaseta dengan suara yang pelan.

"Namaku Saksena dan aku tidak mengharapkan balas budi dari kalian" jawab Yuchi Saksena.

"Ah...Saksena, nama yang gagah. Kalau suatu waktu kau mampir ke Sundapura, datanglah ke tempat kami" ujar Nay Suci.

"Carilah nama Kai Darmaseta dan Nay Suci, mereka di seluruh Sundapura pasti akan mengantarkanmu ke tempat kami" sambung Kai Darmaseta.

Nay Suci melirik ke arah Dewi Sekarasih yang berdiri mematung di belakang Yuchi Saksena.

"Eneng geulis...siapa namamu? Jangan lupa ajak kekasihmu ke Sundapura, Ambu akan menjamu kalian berdua" ujarnya sambil tersenyum.

Hati Dewi Sekarasih berdesir hangat mendengar Nay Suci menyebutnya kekasih Yuchi Saksena. Hatinya berbunga-bunga bahagia.

"Eh..eh..iya Ambu..." jawabnya tergagap dengan wajah yang merah padam.

Yuchi Saksena mengerling tapi tidak membantah ucapan Nay Suci, diam-diam hatinya juga berdesir senang.

"Ah...kalian pasangan yang cocok, gadis cantik dan pemuda yang gagah perkasa" Nay Suci tersenyum.

Dewi Sekarasih menngerlingkan matanya kepada Yuchi Saksena.

"Bagaimana kalau kalian berdua sekarang ikut ke Sundapura bersama kami? Prabu Tarusbawa tentu akan senang bertemu kalian" ujar Kai Darmaseta kepada Yuchi Saksena.

"Tidak..tidak..Mamang, aku ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan di daerah wetan" jawab Yuchi Saksena.

"Lebih baik Mamang dan Ambu segera meninggalkan tempat ini, aku yakin Senapati itu akan kembali dan membawa pasukan yang lebih banyak" sambungnya mengingatkan.

Akhirnya mereka berpisah di depan kedai tersebut, Kai Darmaseta dan Nay Suci melanjutkan perjalanan ke arah kulon untuk kembali ke Sundapura sedangkan Yuchi Saksena dan Dewi Sekarasih melanjutkan perjalanan ke arah wetan menuju ke Pamalang.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #5