AWAL CINTA SEPASANG PEDANG PUSAKA

Matahari pagi menyebarkan cahaya di seluruh permukaan bumi. Menerpa permukaan sungai Cisanggarung memantulkan cahaya keemasan yang sangat indah. Perahu nelayan dan kapal-kapal pedagang hilir mudik. Beberapa diantaranya saling bertukar sapa. Sungai Cisanggarung atau di Karatuan Indraprahasta disebut dengan nama Setu Gangga atau Sungai Gangganadi memang menjadi urat nadi perekonomian dua karatuan yaitu Karatuan Saunggalah dan Karatuan Indraprahasta.

Sebenarnya kedua karatuan ini baik Karatuan Kuningan (sebelum berubah menjadi Karatuan Saunggalah) maupun Karatuan Indraprahasta adalah korban permainan politik tingkat tinggi dari seorang tokoh besar Karatuan Galuh yaitu Batara Dahyang Guru Semplakwaja, putra sulung Prabu Writekandayun yang bernasib buruk dan gagal meneruskan tahta. Dengan cerdik Batara Dahyang Guru Semplakwaja yang diberi kekuasaan terbatas di Kabuyutan Galunggung merancang sebuah agenda politik yang sangat luar biasa. Bisa dikatakan Batara Dahyang Guru Semplakwaja adalah seorang politikus yang sangat hebat di jamannya.

Betapa Batara Dahyang Guru Semplakwaja hatinya terluka sebanyak dua kali dalam perjalanan hidupnya oleh Rahyangtang Mandiminyak, adik bungsunya. Yang pertama adalah harus kehilangan tahta Karatuan Galuh yang menjadi haknya karena dirinya adalah putra pertama dari Prabu Writekandayun. Namun apa daya karena putra pertama dan kedua Prabu Writekandayun mempunyai kekurangan fisik yaitu Rahyangtang Semplakwaja giginya semplak/patah (pohang) dan putra keduanya Jantaka (Rahyangtang Kidul) mempunyai penyakit burut maka tahta Karatuan Galuh diberikan kepada putra nomor tiganya yaitu Rahyangtang Mandiminyak (dengan gelar Prabu Suraghana). Dan luka hati yang kedua adalah istri tercintanya yang bernama Pwah Rababu melakukan hubungan gelap dengan Rahyangtang Mandiminyak sampai melahirkan putra yang bernama Sang Senna, kelak meneruskan tahta Karatuan Galuh bergelar Prabu Bratasenawa

Dengan penuh ketabahan Batara Dahyang Guru Semplakwaja menerima dan menjalankan takdirnya. Bagi dirinya tahta dan wanita adalah sebuah takdir. Dirinya ditakdirkan menjadi seorang Resi Guru dan istrinya ditakdirkan untuk berselingkuh di belakangnya. Namun satu hal yang masih mengganjal di hatinya adalah nasib putra-putranya yaitu Purbasora dan Demunawan. Dirinya menganggap kedua putranya berhak menjadi Ratu Galuh. Hal ini mengganggu ketenangan tidurnya setiap malam.

Oleh sebab itu Batara Dahyang Guru Semplakwaja merancang sebuah skenario politik yang sangat jenius. Dirinya membuat sebuah aliansi politik dan aliansi keluarga dengan karatuan-karatuan politik di sekitar Karatuan Galuh. Dirinya sadar bahwa sebuah aliansi politik hanya bisa benar-benar dapat dipercaya jika mengikatnya dengan tali kekeluargaan. Oleh karena itu dirinya menjodohkan putra sulungnya, Purbasora dengan Citra Kirana, putri sulung Resi Padmahariwangsa, penguasa Karatuan Indraprahasta. Sedangkan putra keduanya, Demunawan dijodohkan dengan Dewi Sangkari, putri sulung penguasa Karatuan Kuningan, Sang Pandawa.

Dari pernikahan kedua putranya, Batara Dahyang Guru Semplakwaja berhasil menjadikan Demunawan menjadi Ratu di Karatuan Kuningan dan merubah nama karatuan menjadi Karatuan Saunggalah. Sedangkan Purbasora walaupun menikahi putri sulung dari penguasa Karatuan Indraprahasta, Batara Dahyang Guru Semplakwaja melarangnya untuk menjadi ratu di sana. Batara Dahyang Guru Semplakwaja mempunyai rencana yang lebih besar yaitu menjadikan Purbasora sebagai Ratu di Karatuan Galuh. Batara Dahyang Guru Semplakwaja berambisi bahwa tahta Karatuan Galuh harus kembali ke tangan anaknya karena tahta itu adalah haknya sebelum diserahkan kepada Rahyangtang Mandiminyak. Apalagi Prabu Bratasenawa yang sekarang berkuasa adalah hasil hubungan gelap antara istrinya dengan Prabu Mandiminyak.

Setelah pernikahan kedua putranya, Batara Dahyang Guru Semplakwaja merasa bahwa mimpinya untuk menjadikan Purbasora sebagai Ratu di Karatuan Galuh semakin dekat. Angkatan perang Karatuan Indraprahasta dan Karatuan Kuningan dianggap mampu untuk menaklukan angkatan perang Karatuan Galuh. Agenda politiknya disempurnakan dengan merekrut keponakannya yang bernama Bimaraksa (putra Rahyangtang Kidul) untuk membantu Purbasora dan menjanjikan posisi Apatih, posisi tertinggi kedua setelah Ratu. Sempurnalah strategi politik yang dirancang oleh Batara Dahyang Guru Semplakwaja, dari luar mendapat dukungan dari Karatuan Kuningan dan Karatuan Indraprahasta dan dari dalam mendapat dukungan dari Bimaraksa.

Dan agenda politik tersebut berjalan sukses, angkatan perang Karatuan Indraprahasta dan Karatuan Kuningan berhasil menggempur angkatan perang Karatuan Galuh dari luar keraton. Sedangkan Bimaraksa yang masih bersepupu dengan Prabu Bratasenawa menggempur dari dalam keraton. Hanya dalam satu malam tahta karatuan berpindah dari Prabu Bratasenawa kepada kakak sepupu sekaligus kakak tirinya Prabu Purbasora.

Oleh karena aliansi politik itu lah yang membuat Karatuan Indraprahasta dan Karatuan Saunggalah bisa bekerjasama dengan baik. Tingkat ekonomi perlahan meningkat, hal ini terbukti dari ramainya lalu lintas perdagangan di sungai Cisanggarung/Gangganadi. Hanya saja politik karatuan adalah permainan tingkat tinggi yang mempunyai resiko yang sangat mengerikan. Jika masanya tiba maka salah satu dari karatuan ini akan hancur lebur rata dengan tanah...sirna ing jagat.

Kembali kepada perahu yang disewa oleh Yuchi Saksena menuju ke Dermaga Muara yang berada di Karatuan Indraprahasta. Perahu melaju cepat di bawah gelimang cahaya keemasan matahari. Yuchi Saksena yang baru saja terbangun, lekat memandang wajah Dewi Sekarasih yang tergolek di lantai perahu, dahinya berkerut mencoba mengingat sesuatu.

"Siapa perempuan ini...rasanya aku pernah melihat wajahnya" batin Yuchi Saksena lalu bangkit dari duduknya lalu mendekati Dewi Sekarasih. Digoyangkan tubuh tersebut pelan-pelan.

"Bangun..bangun...sudah siang" ujarnya pelan sambil menggoyahkan tangan Dewi Sekarasih.

Dewi Sekarasih menggeliatkan tubuhnya lalu membuka matanya. Kedua bola matanya berputar jenaka memandang kepada Yuchi Saksena yang berlutut disampingnya. Sesaat Yuchi Saksena tercekat lalu membuang mukanya. Hatinya berdebar kencang.

"Kau Kucing Merah??...Ahh...kenapa aku ada di perahu ini?" pekik Dewi Sekarasih lalu bangun dari tidurnya. Dipandanginya wajah Yuchi Saksena dari jarak dekat. Yuchi Saksena jengah lalu mundur dua langkah menjauhi Dewi Sekarasih. Baru saja Yuchi Saksena akan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan, namun sudah dipotong oleh Dewi Sekarasih.

"Jangan-jangan kau telah menculik aku!" tuding Dewi Sekarasih tanpa tedeng aling-aling sambil menunjuk ke arah Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena melengak tidak menyangka akan dituding seperti itu.

"Apa maksudmu tikus kecil...jangan sembarangan kau menuduh!" sergah Yuchi Saksena berang apalagi setelah ingat bahwa gadis tersebut adalah yang membuntutinya semalam.

"Jangan-jangan kau sudah melakukan...ah.." Dewi Sekarasih sambil memeriksa pakaian dan celana yang dikenakannya.

"Kau...kau...menuduh aku...dasar tikus kecil tidak tahu diri. Seharusnya kubiarkan kau tenggelam...menolongmu hanya membuat masalah bagiku" Yuchi Saksena muntab.

Dewi Sekarasih memonyongkan mulutnya cemberut, pipinya yang putih berwarna kemerahan terkena semburan cahaya matahari. Sayot dan Wagi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan gadis bangor ini.

"Hei..Neng, harusnya kamu itu berterima kasih karena sudah ditolong oleh Agan ini. Kalau tidak..mungkin Eneng sudah dimakan buaya" ujar Sayot menengahi.

Baca juga : Rahiang Sanjaya : Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #2

"Atau setidaknya menjadi mangsa buaya darat...hehe..." timpal Wagi menimpali.

Mata Dewi Sekarasih mengerling tajam ke arah Wagi.

"Sudah kuduga...kalian ini memang komplotan buaya buntung" sergahnya galak. Wagi langsung mengkerut, melihat hardikkan gadis cantik tapi galak ini.

"Tuanmu ini dari semalam sudah mengintipiku...jadi kalau aku tiba-tiba ada di atas perahu ini. Pasti kalian berkomplot untuk menculik aku" semburnya sambil menatap ke arah Yuchi Saksena. Kata-katanya tajam dan keras tetapi sorot matanya jenaka, sama sekali tidak ada sorot kebencian atau kemarahan.

"Mengintipmu?...bukankah kau yang mengikutiku? Jangan memutar balikkan!" sergah Yuchi Saksena rasa kesalnya sudah diubun-ubun.

Dewi Sekarasih mengangkat alisnya lalu memandang Yuchi Saksena dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah menjadi sedih.

"Ah..nasibku sangat malang...bagaimana aku akan mendapatkan suami. Aku sudah tidak suci lagi" keluhnya lalu menundukkan kepalanya.

"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apapun kepadamu..." Yuchi Saksena panik.

"Bagaimana urusan menjadi kapiran seperti ini? Sayot cari pemberhentian...kita turunkan saja gadis aneh ini!" sambungnya.

"Baik Gan...kalau tidak salah sekitar setengah hari kita akan sampai di sebuah kampung" jawab Sayot.

Dewi Sekarasih menjatuhkan pinggulnya di pinggir perahu sambil memeluk lututnya.

"Bagaimana aku kembali kepada orangtuaku...mereka pasti akan membunuhku" tangis Dewi Sekarasih pecah.

"Kucing merah...kau harus bertanggungjawab..huu..huuu...kau harus menikahiku..huu..huu.." Dewi Sekarasih menangis sesenggukan sambil menutup wajahnya dengan kedua matanya.

"Apa??...Menikahimu??...Gadis sinting!!" sembur Yuchi Saksena, kedua matanya terbelalak.

Sementara Sayot dan Wagi saling berpandangan, seolah tidak percaya mendengar ucapan gadis ini.

"Iyaaa kau harus menikahiku....aku tidak mungkin kembali ke orangtuaku dengan keadaan seperti ini. Mereka akan membunuhku...ah..malangnya nasibku" keluh Dewi Sekarasih sambil tetap menutupi wajahnya.

Yuchi Saksena menarik nafas panjang. Lalu duduk diatas palang tengah perahu.

"Dengarkan aku gadis sinting...aku dan teman-temanku tidak melakukan apapun kepadamu. Kami justru ingin bertanya, kenapa kau bisa hanyut di sungai?" Yuchi Saksena pelan, mencoba membujuk Dewi Sekarasih yang masih menangis.

Dewi Sekarasih menurunkan kedua telapak tangan dari wajahnya. Dengan air mata terurai dipandanginya wajah Yuchi Saksena.

"Semua ini gara-gara kau, Kucing Merah!!!" semburnya tetap galak.

"Gara-gara aku? Bukankah aku yag menolongmu?...kalau aku tidak mengangkatmu dari sungai, kau akan mati...Ah.." Yuchi Saksena menepuk jidatnya sendiri.

"Ya...gara-gara kau mencuri ikat rambutku..maka aku mencarimu sampai akhirnya terpeleset ke sungai....sialnya aku malah jatuh ke tanganmu!" suara Dewi Sekarasih tetap tinggi.

"Aiisshh...." keluh Yuchi Saksena sambil merogoh bagian dalam bajunya lalu mengeluarkan secarik kain berwarna biru.

"Ini kau ambillah...setelah itu kau pergi..." sambungnya sambil menyodorkan kain biru tersebut ke arah Dewi Sekarasih.

"Ish..ish...mana bisa begitu? Kau sudah menodai kehormatanku lalu menyuruhku pergi? Dasar laki-laki mesum..tidak bertanggungjawab!" rutuk Dewi Sekarasih tidak mau menerima kain biru yang disodorkan oleh Dewi Sekarasih.

"Dengar Tikus Kecil, aku tidak melakukan apapun kepadamu. Aku berani bersumpah atas nama Dewata Agung" ujar Yuchi Saksena.

Bola mata Dewi Sekarasih mengerling tajam ke arah mantel milik Yuchi Saksena yang terserak di lantai perahu. Malam sebelumnya mantel itu digunakan oleh Yuchi Saksena menyelimuti badan Dewi Sekarasih yang basah kuyup.

"Siapa yang percaya sumpahmu!" rutuk Dewi Sekarasih.

"Mantel itu milik siapa?" sambungnya menunjuk mantel yang terserak.

Yuchi Saksena mengambil mantel tersebut lalu dikenakannya.

"Mantel milikku...semalam kau kedinginan karena seluruh badanmu basah. Lalu aku menyelimutimu dengan mantel ini" jawab Yuchi Saksena.

"Jelas....kau telah..menelanja...ah...lebih baik aku mati" keluh Dewi Sekarasih sambil menghunus pedang dari pinggangnya.

"Tunggu...jangan konyol...aku tidak melakukan apapun kepadamu. Mereka berdua dan Dewata Agung menjadi saksinya" Yuchi Saksena melengak melihat Dewi Sekarasih menghunus pedangnya.

"Siapa yang percaya dengan kesaksian buaya jelek seperti mereka!" hardik Dewi Sekarasih. Wajah Sayot dan Wagi berkerut masam disebut buaya jelek oleh Dewi Sekarasih.

Yuchi Saksena kehabisan akal menghadapi gadis bangor seperti Dewi Sekarasih. Tuduhan sebagai laki-laki mesum manalah bisa diterimanya. Belum lagi jika gadis itu benar-benar bunuh diri. Selama ini Yuchi Saksena sudah cukup banyak membunuh para jawara bertabiat jelek tetapi belum pernah sekalipun dia menyakiti seorang perempuan. Yuchi Saksena adalah pemuja keindahan perempuan, mana mungkin sekarang harus menyakitinya.

"Huuuuhhhh....baiklah, lalu apa maumu?" Yuchi Saksena.

Mata Dewi Sekarasih berbinar mendengar pertanyaan Yuchi Saksena. Tujuannya untuk menjadi murid Yuchi Saksena hampir terwujud. Namun wajahnya tetap seolah-olah sedang murung dan putus asa.

"Aku sendiri tidak yakin apa mauku....ah...lebih baik aku mati" keluhnya sambil mengangkat pedangnya ke lehernya sendiri.

Secepat kilat Yuchi Saksena berkelebat memukul sendi tangan Dewi Sekarasih.

"Buuukkk...."

Pedangnya terlepas dan sekejap sudah berpindah tangan ke kanan Yuchi Saksena. Diam-diam Dewi Sekarasih leletkan lidah melihat kehebatan Yuchi Saksena, walaupun melakukan gerakan cepat menyerangnya namun perahu itu tidak goyang sedikitpun. Hal ini menunjukkan betapa tingginya ilmu meringankan tubuh Yuchi Saksena. Dewi Sekarasih semakin mengagumi jawara muda ini.

"Aduuuhhhh....." keluh Dewi Sekarasih sambil mengusap-usap sikunya.

"Aku bilang jangan konyol.....!!" bentak Yuchi Saksena kesal.

"Apa pedulimu?...jangan-jangan setelah kau melakukan hal bejat itu, sekarang kau jatuh cinta kepadaku?" sergah Dewi Sekarasih menantang.

"Hal bejat apa?...jatuh cinta?....Dewata Agung bagaimana cara menjelaskannya kepada bocah tengil ini" Yuchi Saksena benar-benar putus asa menghadapi gadis jelita ini.

Diam-diam Dewi Sekarasih ingin tertawa melihat Yuchi Saksena yang uring-uringan. Namun sekuat tenaga ditahannya. Sayot dan Wagi berpandangan lalu saling menggelengkan kepala.

"Aku tidak pernah melakukan hal-hal bejat kepadamu bahkan aku menolongmu supaya tidak mati tenggelam...sekarang lebih kau tinggalkan perahu ini. Aku bisa habis kesabaran menghadapimu" ujar Yuchi Saksena pelan.

"Mana mungkin aku pergi setelah kau....ah...kau jahat!" maki Dewi Sekarasih cemberut, namu jusru menambah kecantikan wajahnya. Yuchi Saksena menarik nafas panjang, andai saja bertemu dalam keadaan normal, mungkin dirinya sudah jatuh cinta kepada gadis bangor ini.

"Lalu apa maumu?" ujar Yuchi Saksena sambil mengusap wajahnya.

"Kau harus ikut denganku...menemui kedua orangtuaku" ujar Dewi Sekarasih berbinar-binar.

"Menemui orangtuamu?...apa urusanku?" Yuchi Saksena mengerutkan dahinya.

"Sudah kubilang...kau harus melamar dan menikahiku" jawab Dewi Sekarasih.

"Gila....mana bisa begitu? Aku tidak melakukan apapun!" hardik Yuchi Saksena.

"Kalau kau tidak melakukan apapun....jelaskan sendiri kepada orangtuaku!...Kalau tidak...mana ada laki-laki yang menikahi gadis kotor sepertiku" sergah Dewi Sekarasih.

"Kotor?...ah...sudahlah.." Yuchi Saksena mengurungkan niatnya membantah Dewi Sekarasih.

"Baiklah...kelak aku akan menemui orangtuamu dan menjelaskan kalau aku tidak melakukan apapun kepadamu..." Yuchi Saksena menyerah.

"Bagusss.....sekarang kalian putar balik, perahu ini!" perintah Dewi Sekarasih kepada Sayot dan Wagi yang sedang mendayung perahu.

"Eh...eh..sebentar...apa maksudmu putar balik?" Yuchi Saksena terkejut.

"Orangtuaku berada di Dayeuh Kuningan...jadi kita harus putar balik" jawab Dewi Sekarasih.

"Gilaaa...aku bilang...kelak akan menemui orangtuamu tapi bukan sekarang...." sergah Yuchi Saksena.

"Aaaahhhh....aku tahu akal bulusmu....kau akan melarikan diri dan lari dari tanggungjawab betul kan?" Dewi Sekarasih memicingankan mata kirinya meledek Yuchi Saksena.

"Aku adalah laki-laki yang tidak pernah mengingkari janji...nyawa taruhanku!. Aku pasti menemui orangtuamu...sekarang kau turun dari perahu dan setelah urusanku selesai.. aku akan datang ke rumahmu" ujar Yuchi Saksena.

"Aku tidak percaya kepadamu...aku akan mengikutimu sampai urusanmu selesai dan bersama-sama pulang ke rumah orangtuaku" ujar Dewi Sekarasih dengan mata yang berbinar-binar. Seolah hilang tak berbekas tangis adan sedihnya.

Yuchi Saksena mengeluh sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

"Sudahlah...siapa namamu tikus kecil?"

 Sayot dan Wagi saling berpandang lalu tersenyum geli. Matahari mulai meninggi.

===

Perahu melaju cepat di permukaan sungai Cisanggarung selama hampir tiga minggu, akhirnya menjelang siang, perahu sewaan Yuchi Saksena tiba di pelabuhan Muara Indraprahasta. Setelah membayar biaya sewa ditambah dengan uang tanda terima kasih, Yuchi Saksena diikuti Dewi Sekarasih bergegas berjalan menuju ke pasar untuk membeli kuda. Kedatangan seorang gadis jelita di tengah-tengah suasana dermaga yang ramai jelas menarik perhatian. Beberapa anak buah kapal dan juga pedagang bersiul-siul sambil mengeluarkan kata-kata yang menggoda.

"Kakang..tunggu...jangan terlalu cepat jalanmu" rengek Dewi Sekarasih manja sambil setengah berlari mengejar Yuchi Saksena.

"Kau menyusahkanku saja...tikus kecil" keluh Yuchi Saksena.

"Kau jangan terus-terusan memanggilku tikus kecil...aku sudah berpuluh kali bilang kepadamu, panggil aku Sekarasih" ujar Dewi Sekarasih rengut sambil bergelayut di lengan Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena melepaskan pegangan tangan Sekarasih lalu berhenti sambil menarik nafas panjang.

"Aku akan mencari kuda untuk kita berdua...lebih baik sekarang kau tunggu aku di ujung dermaga ini" ujar Yuchi Saksena sambil menunjuk ke arah timur.

Sekarasih diam membatu, tidak begerak. Bibirnya merengut cemberut, matanya yang jernih membelalak.

"Kau janji tidak akan kabur?" tanyanya.

Yuchi Saksena menghela nafas.

"Untuk apa aku lari, kau sudah sejauh ini mengikutiku...akupun bertanggungjawab atas keselamatanmu" ujar Yuchi Saksena.

"Betulkah Kakang?...janji kau tidak akan meninggalkanku?" Dewi Sekarasih sumringah, senyumnya mengembang.

Sifat dan karakter Dewi Sekarasih yang selalu ceria dan jenaka selama dalam perjalanan perahu, telah membuat Yuchi Saksena luluh. Diam-diam dia menyukai gadis jelita ini. Dipandanginya wajah Dewi Sekarasih dalam-dalam.

"Aku berjanji..." Yuchi Saksena tersenyum tipis.

Yuchi Saksena berbelok ke selatan menuju ke pasar untuk membeli kuda sedangan Dewi Sekarasih melangkah ringan ke arah timur. Di sisi timur Dermaga Indraprahasta terdapat sebuah jalan yang cukup besar, di kiri dan kanannya terdapat hutan yang rimbun oleh pepohonan. Dengan girang Dewi Sekarasih menunggu di pinggir hutan yang teduh. Dewi Sekarasih memang memiliki karakter yang riang. Dengan bersenandung dirinya memasuki hutan sambil sesekali tertawa lepas. Pandangannya tidak lepas memandangi burung-burung yang berkicau di atas pohon.

Tiba-tiba Dewi Sekarasih dikejutkan oleh suara orang tertawa. Saking senangnya karena akhirnya bisa bersama dengan Yuchi Saksena membuatnya jadi lengah. Tanpa sepengetahuannya sejak tadi, ada dua orang laki-laki yang memperhatikannya. Dua orang laki-laki berambut panjang yang disanggul kini menghadangnya dengan tertawa-tawa. Karena hatinya sedang bahagia, Dewi Saksena pun menyapanya dengan riang.

"Selamat pagi...sampurasun" ujarnya riang.

Dua orang laki-laki itu saling pandang lalu tertawa lepas. Seorang diantara mereka yang bertubuh tinggi besar maju selangkah.

"Aiisshhh...selamat pagi...rampes. Rupanya hari ini kami berdua sedang diberkahi Dewata bisa bertemu dengan gadis secantik bidadari sepertimu. Siapakah namamu Neng Geulis??" ujarnya dengan mata berkilat.

Temannya yang bertubuh tinggi namun kurus, mengangguk-anggukan kepalanya. Kedua matanya memandangi dari ujung kepala sampai kaki Dewi Sekarasih, seperti mau menelanjangi seluruh tubuhnya.

"Betul sekali Kakang...sudah lama kita tidak bermain-main dengan gadis cantik. Rupanya dewata sedang berbaik hati kepada kita..ha..ha" timpalnya sambil tergelak.

Mendengar ucapan dan juga melihat sorot mata kedua laki-laki tersebut yag kurang ajar, senyum di bibir Dewi Sekarasih lenyap. Kedua pipinya memerah, sorot kedua matanya yang bening berubah menjadi nyalang. Dirinya memang paling tidak suka jika ada laki-laki yang bersikap kurang ajar kepadanya.

"Issshhh...apa maksud kalian? Lebih baik kalian minggir aku mau pergi!" hardiknya kesal.

"Eitttss...tunggu dulu cantik, aku akan pergi setelah kita bertiga selesai bersenang-senang" ujar laki-laki bertubuh tingi besar sambil membentangkan kedua tangannya menghalangi langkah Dewi Sekarasih.

"Ha..ha..betul sekali Neng Geulis, di sekitar sini ada sebuah saung kosong. Kita bisa bersenang-senang di sana.." timpal laki-laki bertubuh tinggi kurus sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.

Dewi Sekarasih tambah muntab, tangan kanannya meraba gagang pedang yang tergantung di pinggangnya. Namun setelah dipertimbangkan, dirinya urung mencabut pedangnya.

"Laki-laki busuk...." desisnya.

Dewi Sekarasih berkelebat kedua tangannya memainkan jurus "Maung Ngamuk" dari rangkaian jurus silat "Maung Kanaka". Kedua laki-laki itu melengak, tidak menyangka Dewi Sekarasih akan menyerangnya sedemikian cepat. Kedua laki-laki tersebut memapasi tangan Dewi Sekarasih.

"Buuukkk....buuukkk..." keduanya terjengkang ke belakang hampir jatuh terduduk.

Dewi Sekarasih tertawa geli melihat kemampuan silat dua laki-laki yang hanyalah mengandalkan tenaga kasar.

Dua orang laki-laki itu kaget bukan main. Tidak disangkanya gadis semuda Dewi Sekarasih bisa melakukan serangan secepat dan sedahsyat itu.

"Haha..ternyata galak juga...bagus..bagus...tentu kau akan lebih liar di atas tempat tidur" seringai laki-laki bertubuh tinggi kurus sambil menekan rasa kagetnya.

"Kakang...tunggu apalagi? Kita telanjangi gadis ini...rupanya dia senang bermain kasar" sambungnya sambil menghunus golok diikuti oleh laki-laki bertubuh tinggi besar.

Kedua laki-laki itu memainkan golok di tangannya. Dari permainannya jelas menunjukkan keduanya cukup lihai bermain golok. Namun permainan golok itu tidak menyurutkan nyali Dewi Sekarasih, tidak selembar rambut pun.

"Ha..ha..dasar kalian manusia tidak ahu diuntung! Aku sudah berbaik hati membiarkan kalian hidup...rupanya pukulanku tidak membuat kalian jera" ujar Dewi Sekarasih dengan nada suara mengejek mereka.

Tangan kanan Dewi Sekarasih berkelebat cepat.

"Sreeettt...."

Sinar kuning keemasan menyilaukan mata, pedang kuningan sudah berada di tangannya.

"Bagus...rupanya kau mempunyai senjata mainan" dengus laki-laki bertubuh tinggi besar.

Keduanya dengan cepat menerjang ke arah Dewi Sekarasih. Di lain kejap tubuh Dewi Sekarasih sudah terkurung oleh cahaya keperakan dari golok kedua laki-laki tersebut. Rupanya kedua laki-laki tersebut tidak hanya omong kosong. Permainan golok mereka sangat cepat dan kuat. Sayangnya hari ini kedua laki-laki ini ketemu batunya. Yang dihadapi mereka adalah seorang gadis jelita yang sedari kecil sudah digembleng ilmu silat dan kesaktian. Betapapun kedua golok itu bergerak cepat menyerang ke seluruh bagian tubuhnya, Dewi Sekarasih bergerak jauh lebih cepat lagi gerakannya. Tubuhnya berkelebatan di antara deru sambaran golok diselimuti gulungan sinar kuning dari pedangnya.

Tidak percuma Dewi Sekarasih belajar ilmu silat dan kesaktian sedari kecil. Walaupun jurus-jurus yang dimainkannya sebenarnya adalah untuk senjata golok tetapi karena yang dipakainya adalah pedang pusaka maka hasilnya tidak kurang mengerikan bagi kedua lawannya. Dengan sinar kuning yang menyilaukan, pedangnya membabat cepat memapaki kedua golok yang mengarah ke leher dan dadanya.

"Trang...trang....!"

Kedua laki-laki tersebut berteriak kesakitan sambil melompat mundur. Kedua golok mereka terpotong ditengah. Tangan mereka terasa pedih akibat benturan tenaga yang luar biasa. Keduanya saling berpandangan lalu saling mengangguk memberi kode. Mereka berbalik dan lari tunggang langgang meninggalkan tempat tersebut.

"Pengecut..." dengus Dewi Sekarasih sambil menyarungkan kembali pedangnya.

"Hmm...memalukan, mana bisa pedang pusaka dimainkan dengan jurus sembarangan" terdengar suara yang sangat dikenalnya.

Dewi Sekarasih segera memalingkan wajahnya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tampak Yuchi Saksena duduk di atas punggung kuda berwarna hitam sambil menyunggingkan senyum dingin. Seekor kuda berwarna putih terlihat merumput  tidak jauh dari kuda hitam yang ditunggangi Yuchi Saksena. Dewi Sekarasih yang masih kesal oleh kedua laki-laki sebelumnya, menumpahkan kekesalannya kepada Yuchi Saksena.

"Memang ilmu pedangku masih jelek tapi kalau untuk memapas rambut gondrongmu itu...aku masih bisa" hardik Dewi Sekarasih, tangannya bergerak ke pinggang dan sejurus kemudian melesat menerjang Yuchi Saksena.

"Isshhh...lumayan juga" gumam Yuchi Saksena sambil dengan cepat membuang badannya dari atas punggung kuda. Bersalto beberapa kali lalu mendarat dengan indah di atas tanah dengan pedang yang berkilauan hijau sudah terhunus di tangannya.

"Baiklah tikus kecil...lampiaskan amarahmu. Kau kerahkan semua ilmu silatmu" ujar Yuchi Saksena menantang.

Dewi Sekarasih menarik nafas panjang lalu menyarungkan kembali pedangnya. Dia menyadari bahwa ilmu silat dan kesaktian miliknya bukanlah tandingan Yuchi Saksena.

"Sudahlah Kakang...aku lapar, lagipula mana tega aku melukai calon suamiku sendiri" ujar Dewi Sekarasih sambil mengedeipkan mata kirinya, menggoda Yuchi Saksena yang mendelik dengan wajah merona merah mendengar ucapannya.

"Dasar tikus kecil...ayolah kita cari kedai makan" ujar Yuchi Saksena sambil melompat ke atas punggung kuda.

"Nah kau tunggangilah kuda putih itu dan ikuti aku" sambungnya sambil memacu kudanya ke arah timur.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Kstaria Pajajaran #5