SAKSENA, PENDEKAR PEDANG BERDARAH DINGIN


Pandita Purusara mencoba melepaskan ikatan dikaki dan tangannya. Sejak semalam dirinya ditangkap dan dilemparkan dalam kondisi tidak berdaya ke dalam leuit (gudang padi) milik Ki Punduh Prapta yang terletak di bagian belakang rumah. Dirinya tidak habis pikir mengapa dirinya diperlakukan sedemikian rupa tanpa alasan oleh Ki Punduh Prapta, Ki Liman dan dua perwira dari Karatuan Galuh.

"Dewata Agung...mengapa mereka berlaku demikian kejam, apa salahku kepada Karatuan Galuh" keluh Pandita Purusara.

Sementara itu karena kondisi tangannya yang masih belum pulih, Ki Liman ditemani oleh dua orang murid silatnya ditugaskan oleh Ki Punduh Prapta untuk menjaga Pandita Purusara. Sementara Ki Punduh Prapta bersama dua orang Perwira Karatuan Galuh berangkat ke rumah peribadatan milik Pandita Purusara untuk menyergap Rahiang Sanjaya.

"Pandita Purusara, kau jangan coba-coba untuk melarikan diri...aku tidak akan segan-segan membunuhmu" teriak Ki Liman sambil berdiri tegak di depan leuit. Tangan kanannya yang patah masih digandong.

"Damiri, Juhana...kalian berdua jaga baik-baik Pandita tua ini, jangan sampai lolos. Aku akan masuk dulu ke dalam rumah...aku lapar" perintahnya kepada Damiri dan Juhana.

"Baik Ki Liman..." jawab Damiri, sementara Juhana hanya menganggukan kepalanya.

Ki Liman bergegas masuk ke dalam rumah.

"Hmmm...kesempatan, mumpung Ki Punduh Prapta tidak ada di rumah" batin Ki Liman, bibirnya menyunggingkan senyuman jahat.

Perlahan didorongnya pintu rumah Ki Punduh Prapta, dilihatnya tidak ada seorangpun di ruangan depan.

"Sukasih...Sukasih..." teriak Ki Liman memanggil Nyi Sukasih, istri muda Ki Punduh Prapta.

"Sukasih tidak ada di rumah" terdengar suara perempuan menjawab dari ruangan dalam.

Ki Liman kemudian masuk ke ruangan dalam, dilihatnya Nyai Yunarti sedang menyisir rambutnya yang lebat. Beberapa lembar uban yang mulai muncul tidak mengurangi keindahan rambutnya. Tubuhnya hanya dibungkus selembar kain sebatas lutut.

"Aiihh...Nyai Yunarti rupanya" Ki Liman cengengesan lalu mendekati Nyai Yunarti.

"Ada apa Ki Liman mencari Sukasih?" tanya Nyai Yunarti tanpa menoleh ke arah Ki Liman.

"Pergi kemana Sukasih?" tanya Ki Liman, seolah-olah tidak mendengarkan pertanyaan Nyai Yunarti.

"Kemarin malam, Kakang Punduh menyuruh Sukasih mengantarkan anak-anak ke rumah kakeknya di kampung Kapolan"  jawab Nyai Yunarti.

Mendengar jawaban Nyai Yunarti, wajah Ki Liman berubah kecewa.

"Sialan...rupanya punduh tua itu ketakutan, aku akan mengganggu Sukasih" rutuk Ki Liman.

Mata Ki Liman berkilat aneh memandang lekat ke arah Nyai Yunarti yang sedang menggulung rambutnya. 

"Hmmm...tidak dapat yang muda, yang tua pun tidak apa-apa" batin Ki Liman.

"Nyai Yunarti, sudah berapa lama kau tidak pernah disentuh Ki Punduh?" tanya Ki Liman sambil semakin mendekati Nyai Yunarti.

Nyai Yunarti tersentak mendengar pertanyaan Ki Liman.

"Apa maksudmu Ki Liman?" tatapannya tajam ke arah Ki Liman yang sekarang berdiri tidak jauh dari dirinya.

"He..he..semenjak ada Sukasih, tentu Nyai Yunarti jarang di sentuh Ki Punduh. Aku bersedia untuk menggantikannya" ujar Ki Liman cengengesan.

Wajah Nyai Yunarti merah padam, marah mendengar ucapan Ki Liman.

"Ki Liman...jaga ucapanmu, aku akan mengadukanmu kepada Kakang Punduh" hardik Nyai Yunarti.

"Tidak usah malu-malu Nyai, aku tahu kau kesepian. Tubuhmu tentu sudah lama merindukan kenikmatan...hehe.." Ki Liman terkekeh.

"Kau...." ucapan Nyai Yunarti terpotong. Tangan kiri Ki Liman bergerak cepat menotok leher Nyai Yunarti.

Nyai Yunarti berdiri kaku, matanya nyalang memancarkan kebencian. Dengan menggunakan tangan krinya, tubuh Nyai Yunarti dibopong oleh Ki Liman dibawa ke dalam kamar tidur. Direbahkannya tubuh kaku Nyai Yunarti di atas tempat tidur. Sekali sentak, kain yang menutupi tubuh Nyai Yunarti terlepas.

Ki Liman nyalang memandang tubuh polos Nyai Yunarti. Walapun sudah tidak muda lagi, namun tubuhnya masih terpelihara. Kedua buah dadanya yang besar nampak sedikit kendur namun masih menjanjikan kehangatan. Nafas Ki Liman memburu didesak oleh nafsu birahi.

Nyai Yunarti memejamkan matanya, air mata mulai membasahi kedua pipinya. Tidak menyangka bahwa hari ini dia akan mendapat bencana seperti ini.

"Kakang Punduh...maafkan aku.." batinnya putus asa.

Terasa tangan kasar Ki Liman mulai meraba tubuhnya. Nyai Yunarti bergetar saat buah dada kanannya diremas oleh Ki Liman.

"Dewata Agung...lebih baik aku mati daripada dihinakan seperti ini" airmatanya semakin deras membasahi pipi.

"Hehe..luar biasa Nyai, buah dadamu masih berisi...bodoh sekali memang punduh tua itu menelantarkanmu" desis Ki Liman yang diamuk birahi sambil memindahkan tangannya meremas buah dada sebelah kiri.

Nyai Yunarti menggigit bibirnya kuat-kuat. Walaupun memang dia merindukan sentuhan laki-laki, tapi hanya Ki Punduh Prapta suaminya, yang diharapkan oleh Nyai Yunarti. Bukan bajingan seperti Ki Liman.

Tangan Ki Liman mulai turun dari buah dadanya ke arah perut...Nyai Yunarti memejamkan matanya bibirnya digigit semakin kuat, mencoba melawan gejolak yang entah dari mana asalnya. Sesaat lagi tangan Ki Liman akan menyentuh bagian paling sensitif Nyai Yunarti.

"Bruuuukkkkk......!!" tiba-tiba atap kamar ambrol diikuti oleh sebuah bayangan berwarna merah yang melayang turun. Wangi cendana memenuhi ruangan kamar tersebut.

Ki Liman tersentak lalu mundur menjauhi tempat tidur. Persis di bawah atap yang jebol, seorang laki-laki berbaju merah berdiri tegak, kepalanya ditutupi caping bambu sehingga menutupi sebagian mukanya.

"Keparat...siapa kau? Berani-beraninya menggangu urusanku!!!" hardik Ki Liman muntab.

"Bajingan sepertimu adalah urusanku!" sergah laki-laki berbaju merah itu dingin.

Tangan kanan laki-laki berbaju merah itu menjentik ke arah Nyai Yunarti yang masih terbaring polos di atas tempat tidur. Selarik angin dingin menghantam leher Nyai Yunarti, membebaskan totokan ditubuhnya.

"Nyai...kau segera tutupi tubuhmu" ujar laki-laki berbaju merah itu pelan.

"Keparat...kau cari mati rupanya" dengus Ki Liman, dengan cepat tangan kirinya menerjang ke arah laki-laki berbaju merah itu.

Laki-laki berbaju merah itu entah kapan bergeraknya, tiba-tiba sudah berada di samping Ki Liman lalu dengan cepat menarik tangan kanan Ki Liman yang patah dan dibawanya melayang naik melalui atap yang jebol.

Ki Liman meraung setinggi langit, tangan kanannya serasa tanggal. Sesampainya di atas atap, laki-laki berbaju merah itu melemparkan Ki Liman ke bagian belakang rumah.

"Arrhhhhhh....." raungan Ki Liman terdengar mengerikan.

"Bluggggg....heeuuuukkk" tubuh Ki Liman jatuh dengan keras di hadapan Damiri dan Juhana yang sedang berjaga-jaga di depan leuit tempat menyekap Pandita Purusara.

Damiri dan Juhana terkejut bukan main, mata mereka terpaku ke atap rumah. Seorang laki-laki berbaju merah berdiri tegak, wajahnya tertutupi oleh caping bambu. Wangi cendana santer tercium.

"Arrggggh...arggghhh..." Ki Liman meraung kesakitan.

"Ki Liman...apa yang terjadi?" tanya Damiri.

Belum sempat Ki Liman menjawab pertanyaan Damiri, laki-laki berbaju merah itu melayang turun lalu berdiri tidak jauh dari Damiri dan Juhana.

"Siapa kau? Berani-beraninya menggangu kami!!!" hardik Juhana sambil menghunus goloknya.

Laki-laki berbaju merah itu mendengus dingin.

"Aku tidak suka banyak mulut, kalian tinggal memilih mati ditanganku atau mati bunuh diri" suara laki-laki berbaju merah itu terdengar menggidikkan.

"Mulutmu setinggi langit..orang asing" sergah Damiri sambil mencabut goloknya.

Namun rupanya laki-laki berbaju merah itu tidak main-main, sekali sentak tubuhnya melayang ke arah Damiri dan Juhana.

"Crasss...crassss....arkhhh...arkhhh...."

Terdengar lolongan yang mengenaskan dari Damiri dan Juhana. Keduanya ambruk dengan leher yang hampir putus. Laki-laki berbaju merah itu kemudian dengan tenang menghampiri Ki Liman yang masih tergolek tidak berdaya. Tangan kanannya memegang sebuah pedang yang berlumuran darah.

Mata Ki Liman melotot tidak percaya dengan yang dilihatnya. Tubuhnya menggigil ketakutan. Mulutnya menganga tidak bisa mengeluarkan suara.

"Manusia bejat sepertimu..pantas mati dan tubuhmu dijadikan makanan ajag" dengus laki-laki berbaju merah itu semakin mendekati Ki Liman.

"Tunggu anak muda...jangan bunuh dia" terdengar suara Nyai Yunarti.

Laki-laki berbaju merah itu meghentikan langkahnya lalu berpaling ke arah suara Nyai Yunarti yan berdiri di depan pintu dan sudah berpakaian lengkap.

"Jangan kau bunuh bajingan itu...aku mohon" ujar Nyai Yunarti sambil berjalan menghampiri Ki Liman.

Laki-laki muda itu mengernyitkan dahinya, tidak mengerti.

"Ada apa dengan perempuan itu? Tadi dia hampir di gadabah kehormatannya dan sekarang...?" batin laki-laki berbaju merah itu.

Langkah Nyai Yunarti terhenti di depan Ki Liman.

"Terima kasih Nyai...terima kasih...kau sudah menyelamatkanku" ujar Ki Liman girang.

Nyai Yunarti tersenyum dingin, lalu berlutut di samping tubuh Ki Liman, matanya nyalang memandang Ki Liman. Tangan kanannya merogoh sesuatu dari dalam bajunya.

"Kau pantas mati...bajingan!" dengus Nyai Yunarti.

"Jlebbbb..jleeebbb....aaaakhh...." 

Nyai Yunarti dua kali menikam dada Ki Liman dengan sebuah pisau kecil yang disembunyikan di balik bajunya.

Ki Liman tergeletak dengan mata melotot dan pisau kecil tertancap di dadanya.

Nyai Yunarti bangkit dari berlututnya lalu berbalik ke arah laki-laki berbaju merah yang masih berdiri mengawasinya.

"Anak muda, aku mengucapkan banyak terima kasih atas pertolonganmu" ujarnya sambil merangkapkan kedua tangan di depan dadanya lalu membungkuk.

"Jangan terlalu sungkan..., lebih baik Nyai minta pertolongan warga kampung untuk mengurus mayat-mayat mereka" ujar laki-laki berbaju merah itu, sambil berbalik bermaksud meninggalkan tempat tersebut.

"Anak muda...tunggu dulu!" seru Nyai Yunarti.

"Apa lagi?!" dengus laki-laki berbaju merah itu tidak sabaran.

"Didalam leuit ada seorang pandita yang disekap..lebih baik kau menolong dia" ujar Nyai Yunarti agak ketakutan melihat laki-laki berbaju merah yang sepertinya cukup berangasan tersebut.

Laki-laki berbaju merah menghela nafas panjang.

"Ada-ada saja..." gerutunya kesal sambil mendorongkan tangan kirinya ke arah pintu leuit. Serangkum angin membumbung menghantam pintu leuit.

"Braaakkkk" pintu leuit tersebut hancur berantakan.

Sekali genjot tubuhnya melayang masuk ke dalam leuit lalu dalam sekejap sudah kembali keluar membawa tubuh Pandita Purusara dan menjatuhkannya begitu saja di hadapan Nyai Yunarti.

"Bluuuggg..." tubu Pandita Purusara meringis kesakitan karena punggungnya menghantam tanah keras.

"Nyai...kau buka saja sendiri tali ikatan pandita itu, aku masih ada urusan" ujar laki-laki berbaju merah itu kepada Nyai Yunarti, lalu secepat kilat berkelebat pergi.

Baca juga : Rahiang Sanjaya : Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #8
===

Melihat Rahiang Sanjaya yang ambruk tidak sadarkan diri, Purwaka dan Maruta bergegas menghampirinya.

"Purwaka, racun apa yang digunakan oleh Ki Punduh? Kuharap jangan sampai membunuhnya" tanya Maruta sambil berlutut di samping tubuh Rahiang Sanjaya.

"Sepertinya hanya racun buah jarak...tidak terlalu bahaya. Lebih baik kita ikat dulu tubuhnya" jawab Purwaka.

Belum kering bibir Purwaka tiba-tiba terdengar siuran angin yang cukup keras dibarengi dengan berkelebatnya sebuah bayangan berwarna merah menyambar tubuh Rahiang Sanjaya dan membawanya masuk ke dalam rumah peribadatan. Wangi cendana santer tercium dari bekas lewatnya bayangan merah tersebut.

Purwaka dan Maruta melengak kaget, karena tubuh Rahiang Sanjaya hilang dari hadapan mereka. Mereka sejenak berpandangan lalu keduanya bersiaga, mata mereka tajam mengawasi ke arah rumah peribadatan.

"Hati-hati Purwaka...hatiku mendadak tidak enak" bisik Maruta.

"Keluar kau...tunjukkan batang hidungmu, jangan bersembunyi seperti tikus" teriak Purwaka sambil tetap waspada.

Terdengar langkah dari dalam rumah peribadatan itu, tak lama kemudian muncul seorang laki-laki berbaju merah dengan caping bambu di kepalanya. Laki-laki berbaju merah itu dengan tenang menuruni tangga dan berjalan ke arah Purwaka dan Maruta.

"Aiihhh...rupanya kalian petinggi Karatuan Galuh, aku merasa terhormat" ujar laki-laki berbaju merah itu sambil membungkukkan badannya ke arah Purwaka dan Maruta.

"Bagus kalau kau memandang kami sebagai Perwira Karatuan Galuh, sekarang serahkan kembali orang yang kau ambil tadi. Aku berjanji tidak akan memperpanjang masalah di antara kita" ujar Purwaka jumawa, dikiranya laki-laki berbaju merah itu benar-benar menghargainya.

Laki-laki berbaju merah itu menghela nafas panjang, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman sinis.

"Ha..ha..aku setuju..aku setuju..kita tidak usah perpanjang masalah ini. Sekarang silakan kalian pergi dari tempat ini" ujar laki-laki berbaju merah itu sambil terbahak namun nadanya bicaranya tetap dingin.

Purwaka dan Maruta melengak mendengar ucapan laki-laki berbaju merah tersebut. Amarah keduanya muntab.

"Kisanak...berani sekali kau ikut campur urusan Karatuan Galuh, rupanya kau memang cari mati.!" dengus Maruta hilang kesabaran.

"Maruta..tidak usah buang waktu lagi, kita serang manusia aneh ini" bisik Purwaka sambil menghunus goloknya.

Melihat Purwaka dan Maruta menghunus goloknya masing-masing, laki-laki berbaju merah tersebut tersenyum sinis.

"Sudah kuduga...kalian pasti akan main keroyokan lagi..hehe" ujarnya mengejek.

Purwaka dan Maruta sudah tidak mau lagi berlama-lama. Diawali teriakan yang keras keduanya menerjang ke arah laki-laki berbaju merah tersebut.

"Hiiiiiyyyyaa...ciaaaatttt..." golok keduanya menyasar ke arah leher dan pinggang.

Laki-laki berbaju merah itu dengan tenang mencabut pedang dari pinggangnya, wangi cendana makin santer tercium. Laki-laki berbaju merah itu menerjang menyambut serangan Purwaka dan Maruta.

Perkelahian pecah, Purwaka dan Maruta mengerahkan segala kemampuan silatnya. Tubuh mereka bertiga berubah menjadi bayangan.

"Trang..trang.." beberapa kali suara golok dan pedang beradu, terkadang mengeluarkan percikan api.

Sudah duapuluh jurus berlalu, namun sepertinya Purwaka dan Maruta tidak bisa menjatuhkan laki-laki berbaju merah tersebut.

Sementara itu Pandita Prapta yang baru tiba ke rumah peribadatan miliknya setelah dilepaskan tali ikatannya oleh Nyai Yunarti melengak kaget.

"Dewata Agung...apa yang terjadi?" desis Pandita Purusara melihat mayat Ki Punduh Prapta dan Sapta yang hangus terbakar. 

"Mengapa manusia tidak pernah takut untuk membunuh dan menyakiti" gumamnya sambil memperhatikan pertarungan antara Purwaka dan Maruta melawan laki-laki berbaju merah.

Dijurus ketigapuluh.

"Trang...trang" terdengar suara benturan pedang dengan golok.

Purwaka dan Maruta melompat ke belakang sambil memegangi goloknya yang sudah buntung di babat pedang laki-laki berbaju merah.

"Aku sudah memperingatkan kalian untuk minggat...tapi kalian memilih untuk mati..hehe.." laki-laki berbaju merah itu terkekeh sambil menyarungkan kembali pedangnya.

"Serang menggunakan pukulan jarak jauh" bisik Maruta.

Purwaka dan Maruta menyalurkan tenaga dalamnya, kedua tangan mereka sebatas siku berubah menjadi menjadi hitam dan mengeluarkan asap tipis.

"Hiyyyyaaaaaa....." keduanya berbarengan mendorongkan kedua tangannya ke depan.

"Wuuuusss....." dua larik cahaya membumbung menebarkan hawa panas ke arah pemuda berbaju merah.

"Cari mati..."dengus pemuda berbaju merah, ditahannya cahaya pukulan tersebut dengan kedua tangan mengembang.

Cahaya panas yang berasal dari pukulan Purwaka dan Maruta seolah tertahan di udara, tidak mampu menembus ke arah pemuda berbaju merah tersebut.

Purwaka dan Maruta melipatkgandakan tenaga dalamnya namun tetap tidak mampu menembus, keringat mulai mengucur dari dahi keduanya. Sementara pemuda berbaju merah dengan tangan tetap mengembang masih sempat mengejek keduanya.

"Kerahkan seluruh tenaga dalam kalian...hehe" ujarnya terkekeh.

Dari sudut bibir Purwaka dan Maruta mulai keluar darah kental tanda terluka dalam. Seluruh tenaga dalam mereka seolah terhisap oleh pemuda berbaju merah tersebut.

"Hiyyyaaa...." pemuda berbaju merah mendorongkan tangannya ke arah Purwaka dan Maruta.

Cahaya pukulan Purwaka dan Maruta berbalik kembali ke arah mereka sendiri dengan kekuatan tiga kali lipat lebih besar.

"Buuuummmmm....." Purwaka dan Maruta terpental ke belakang oleh pukulan mereka sendiri.

Pandita Purusara yang menyaksikan hal tersebut, leletkan lidahnya.

"Ilmu apa sebenarnya digunakan anak muda itu? Seumur hidup baru aku melihatnya" batin Pandita Purusara.

Sementara Purwaka dan Maruta mencoba untuk bangkit sambil memegangi dadanya yang terasa sakit sekali. Darah segar meleleh dari mulut mereka.

Pemuda berbaju merah menghunus pedangnya, wangi cendana santer tercium.

"Hentikan anak muda...jangan diteruskan. Jangan tambah lagi kematian" Pandita Purusara mencoba mencegah langkah pemuda berbaju merah.

"Aku sudah memberi mereka kesempatan untuk pergi, tapi memilih mati. Sekarang aku akan memenuhi keinginan mereka" dengus pemuda berbaju merah lalu dengan sekali genjot tubuhnya melayang ke arah Purwaka dan Maruta.

"Hiyyyaa...."

"Craaassh...crasshh..." Purwaka dan Maruta terjengkang dengan leher hampir putus.

"Dewata Agung....." pekik Pandita Purusara.

Pemuda berbaju merah dengan tenang membersihkan pedangnya yang berlumur darah dengan mengusapkannya ke baju milik Maruta yang sudah tidak bernyawa. 

"Pandita...di dalam rumah peribadatan ada orang yang terkena racun. Kau obatilah dia" ujarnya kepada Pandita Purusara.

"Anak muda...siapa namamu sebenarnya?" tanya Pandita Purusara.

"Namaku Saksena" jawabnya lalu dengan enteng berekelebat menghilang diantara rimbunnya hutan.

"Saksena...nama yang bagus" gumam Pandita Purusara.
===

Pandita Purusara merawat Rahiang Sanjaya yang terkena racun dari sumpit yang dilontarkan oleh Ki Punduh Prapta dan Sapta. Di hari kedua, Rahiang Sanjaya mulai siuman.

"Euh...euh...dimana aku berada?" gumam Rahiang Sanjaya sambil membuka matanya. Seluruh badannya terasa sakit.

Melihat Rahiang Sanjaya yang mulai siuman, Pandita Purusara bergegas menghampirinya sambil membawa batok berisi ramuan.

"Sancaka...kau sudah siuman, sekarang minum ramuan ini. Supaya badanmu lebih segar" ujar Pandita Purusara pelan.

"Pandita Purusara...kau kah itu?" tanya Rahiang Sanjaya sambil mengingat-ingat kejadian yang terjadi sebelumnya.

"Kemana perwira Karatuan Galuh?" sambungnya.

"Tenang Sancaka...kau sudah aman, kedua perwira itu sudah mati" jawab Pandita Purusara sambil membantu Rahiang Sanjaya untuk duduk.

"Ah...terima kasih Pandita, kau sudah menyelamatkan aku" Rahiang Sanjaya lirih.

"Bukan aku yang menyelamatkanmu..tapi seorang pendekar aneh berbaju merah" jawab Pandita Purusara.

"Pendekar berbaju merah?" Rahiang Sanjaya mencoba mengingat-ingat kejadian di tepi sungai Cisenggong (baca di episode #15).

"Apakah dia memakai caping bambu?" sambungnya penasaran.

"Betul Sancaka, apakah kau mengenalnya?" Pandita Purusara balik bertanya.

"Ah...aku tidak tahu namanya, tapi sebelumnya dia sudah pernah menyelamatkanku juga" ujar Rahiang Sanjaya.

Pandita Purusara manggut-manggut mendengar cerita Rahiang Sanjaya.

"Pendekar itu mengaku bernama Saksena" ujar Pandita Purusara.

"Ilmu silat dan kesaktiannya tidak terukur dan sangat asing...sayang dia sangat kejam" sambungnya lirih.

"Saksena...suatu saat aku berharap bisa bertemu untuk mengucapkan terima kasih" batin Rahiang Sanjaya.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #8