Pertemuannya kembali dengan Pwah Kenanga membuat keyakinan Rahiang Sanjaya untuk merebut tampuk kekuasaan Karatuan Galuh dari tangan Prabu Purbasora semakin kuat. Pwah Kenanga berhasil meyakinan Rahiang Sanjaya bahwa perjuangannya tidak sendiri, banyak tokoh silat dari paguron maupun jawara yang mendukungnya. Nama besar kakeknya, Prabu Mandiminyak dan juga ayahnya, Prabu Bratasenawa, masih mengakar di hati sebagian besar rakyat Galuh terutama yang tidak senang dengan cara Prabu Purbasora merebut kekuasan. 

Rahiang Sanjaya menugaskan Pwah Kenanga untuk menggalang kekuatan dari kalangan jawara dan paguron yang sewaktu-waktu bisa dikerahkan untuk menjatuhkan Prabu Purbasora. Bahkan Rahiang Sanjaya secara khusus meminta Pwah Kenanga agar bisa membuka komunikasi dengan pembesar-pembesar Karatuan yang bisa diajak kerjasama dan jika memungkinkan untuk menempatkan mata-mata di dalam keraton.

"Nyimas...kalau boleh aku meminta pertolonganmu?" ujar Rahiang Sanjaya lirih.

"Pertolongan apa Rakean? Sampaikan saja kepadaku" jawab Pwah Kenanga dengan tatapan mesra.

Sejenak Rahiang Sanjaya menhela nafas panjang seolah berat untuk menyampaikan permintaannya kepada Pwah Kenanga.

"Nyimas...aku tahu ini adalah permintaan yang tidak mudah. Nyimas boleh menolaknya jika sekiranya terlalu memberatkan dirimu" suaranya terdengar ragu-ragu.

"Rakean...cepat sampaikan apa permintaanmu" Pwah Kenanga mulai tidak sabar melihat Rahiang Sanjaya seolah ragu.

"Nyimas...dalam perjuanganku merebut kembali tahta Karatuan Galuh, tidak saja memerlukan bala tentara yang besar tapi juga pertarungan taktik tingkat tinggi" akhirnya Rahiang Sanjaya menyampaikan permintaannya.

"Oleh karena itu aku memohon Nyimas untuk membantuku dari dalam" sambungnya sambil meremas jari tangan Pwah Kenanga.

Pwah Kenanga melengak mendengar permintaan Rahiang Sanjaya yang sama sekali tidak disangka-sangka olehnya.

"Membantu dari dalam? Maksudnya bagaimana?" Pwah Kenanga masih belum mengerti dengan maksud Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya tersenyum lalu diciumnya jari-jari tangan Pwah Kenanga dengan mesra. Memang Rahiang Sanjaya mempunyai pesona sendiri terhadap perempuan-perempuan di sekitarnya. Dan dia memanfaatkan dengan baik pesonanya tersebut untuk melapangkan jalannya dalam merebut kembali tahta Karatuan Galuh.

"Nyimas..jika saatnya tiba, aku dan pasukanku menyerbu Dayeuh Karang Kamulyan tentu tidak akan mudah. Banyaknya pasukan keraton yang di sebar di gerbang dayeuh serta sekitarnya akan sangat menyulitkan untuk ditembus..bahkan bukan tidak mungkin akan memakan waktu lama dan korban yang tidak sedikit...." ujara Rahiang Sanjaya.

"Oleh karena itu...aku memohon bantuan Nyimas untuk merekrut jawara-jawara dari paguron-paguron yang masih setia kepada ayahku agar menyamar dan menyebar di dalam Dayeuh Karang Kamulyan sampai hari penyerangan tiba. Dan jika memungkinkan kita rekrut orang dalam keraton" sambungnya.

"Aihhh..kiranya aku yang kurang pintar..kepalaku sudah terlalu lama tidak dipakai" Pwah Kenanga menggerutu sambil menepuk kepalanya beberapa kali.

"Aku siap membantumu Rakean...." sambungnya sambil menyusupkan kepalanya di dada bidang Rahiang Sanjaya.

"Tapi......" Rahiang Sanjaya menarik nafas panjang.

"Tapi apa Rakean? Apakah kau tidak percaya kepadaku?" tanya Pwah Kenanga sambil mengangkat kepalanya memandang wajah Rahiang Sanjaya.

"Tentu aku percaya Nyimas...malahan aku sangat percaya kepadamu" ujar Rahiang Sanjaya sambil menatap lekat kedua mata Pwah Kenanga. 

"Tapi...kau harus berhati-hati jangan sampai dikenali orang-orang keraton terutama Apatih Bi...." belum ucapannya selesai, tangan Pwah Kenanga sudah berkelebat ke pinggang Rahiang Sanjaya.

"Auwhhhh....ha..ha.." Rahiang Sanjaya mengeluh kesakitan tapi bibirnya tertawa puas.

Sementara Pwah Kenanga cemberut dengan tangan yang masih menempel di pinggang Rahiang Sanjaya.

"Darimana Rakean tahu cerita diriku dengan bajingan pengecut itu? Ayahku atau Kang Darja?" Pwah Kenanga bertanya, kedua pipinya bersemu merah. Rahiang Sanjaya menghentikan tawanya lalu tersenyum-senyum menggoda. (cerita tentang hubungan Pwah Kenanga dengan Apatih Bimaraksa bisa dibaca di episode #11)

Pwah Kenanga malu bukan main karena Rahiang Sanjaya mengusik kembali cerita cintanya bersama Apatih Bimaraksa, kekasih lamanya. Rahiang Sanjaya yang diam-diam merasa menyesal telah menggodanya, segera menarik Pwah Kenanga ke dalam pelukannya.

"Maafkan aku Nyimas...aku hanya bercanda...sekali lagi maafkan" ujar Rahiang Sanjaya lembut sambil menciumi kepala Pwah Kenanga.

"Rakean..jangan pernah lagi membahas tentang bajingan itu...aku benci mendengar namanya" bergetar penuh kebencian suara Pwah Kenanga.

Akhirnya setelah mematangkan rencana, Rahiang Sanjaya berpisah dengan Pwah Kenanga dan menyerahkan satu kantung kecil kepingan emas kepadanya. Kepingan-kepingan emas itu akan digunakan oleh Pwah Kenanga sebagai biaya merekrut jawara-jawara dan paguron-paguron untuk mendukung perjuangan Rahiang Sanjaya merebut kembali tahta ayahnya yang direbut oleh Prabu Purbasora.

Baca juga : Rahiang Sanjaya: Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #5 ===

Berhari-hari Rahiang Sanjaya memacu kudanya menerobos lebatnya hutan dan bukit menuju Kabuyutan Ciburuy di kaki Gunung Cikuray. Sesuai petunjuk dari Pandita Purusara, dirinya bermaksud menemui Sang Resi Guru Pujastawa untuk memohon do'a dan berkat. Dirinya sadar bahwa perjuangannya merebut Tahta Karatuan Galuh tidaklah mudah, oleh karena itu perlu dukungan dari pemuka-pemuka agama di wilayah tersebut. Di masa itu, Kabuyutan mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam sistem pemerintahan. Tidak hanya sebagai pemberi masukan dari sudut agama tetapi juga mempunyai kekuatan pasukan yang tidak bisa dianggap enteng melalui para pendetanya yang rata-rata mempunyai ilmu beladiri yang cukup tinggi.

Menjelang petang dirinya keluar dari hutan dan bermaksud untuk menuju ke sebuah kampung yang dilihatnya dari atas bukit. Maksudnya selain mengisi perutnya yang selama ini hanya terisi buah-buahan dan sesekali daging binatang liar juga untuk menari informasi keberadaan Kabuyutan Ciburuy. Tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar suara bentakan-bentakan seperti orang yang berkelahi. Sekali lompat tubuhnya turun dari punggung si Jagur lalu berjalan mengendap-ngendap menuju arah suara tersebut. Rahiang Sanjaya menyembunyikan tubuhnya di balik lebatnya pepohonan. Sementara si Jagur dibiarkannya merumput disekitaran situ.

Dilihatnya seorang laki-laki berusia sekitar empatpuluhan tahun berpakaian khas jawara, hitam-hitam, sedang dikeroyok oleh empat orang laki-laki yang berusia lebih muda, sekitar duapuluh limaan tahun, berpakaian lusuh seperti petani.

"Hmmm...mengapa laki-laki tua itu dikeroyok?" batin Rahiang Sanjaya.

Laki-laki yang dikeroyok itu menggunakan senjata ruyung yang kelihatan sudah hitam licin dan mengkilat, gerakannya sangat cepat dan kuat menunjukkan bahwa ilmu silatnya bukanlah main-main. Sedangkan keempat laki-laki yang mengeroyoknya menggunakan golok, walaupun gerakannya tidak secepat lawannya namun sangat bertenaga dan berbahaya. Sepertinya pertarungan itu sudah berlangsung cukup lama, tubuh-tubuh laki-laki yang dikeroyok sudah banyak luka dan sebagian mengucurkan darah. Nafasnya sudah tersengal-sengal namun masih melawan penuh semangat.

"Kalau tidak segera ditolong...laki-laki tua itu sebentar lagi pasti mati diujung golok mereka" gumam Rahiang Sanjaya.

"Hiiiyyyyyyyaaaaa......"

Sekali genjot tubuh Rahiang Sanjaya menerjang ke tengah arena pertempuran, kedua tangannya bergerak cepat menghadang serangan keempat laki-laki pengeroyok itu. Keempatnya terpental sambil terhuyung-huyung , tangan mereka terasa mati rasa akibat benturan dengan tangan Rahiang Sanjaya.

"Terima kasih ...anak muda" ujar laki-laki tua itu yang merasa di tolong oleh Rahiang Sanjaya.

Sementara itu keempat pengeroyoknya sesaat tercengang, betapa tidak, dalam sekali gebrakan, Rahiang Sanjaya mampu membuat mereka terpental.

"Bajingan tengik....siapa kau berani ikut campur urusan kami?" bentak salah satu dari mereka yang bertubuh tinggi besar.

"Maafkan aku Kisanak, bukan aku bermaksud ikut campur tapi tidak sepantasnya kalian yang masih muda mengeroyok orang yang sudah tua" ujar Rahiang Sanjaya tenang.

"Haiiihhh....kau tahu apa tentang dia? Atau jangan-jangan kau adalah komplotannya?" damprat laki-laki muda yang bertubuh sedikit gemuk sambil melotot.

Rahiang Sanjaya menghela nafas panjang.

"Aku tidak mengenal laki-laki tua ini...hanya saja...." ucapan Rahiang Sanjaya terpotong oleh hardikkan laki-laki muda bertubuh tinggi besar.

"Kau tidak mengenal siapa dia tapi berani-beraninya ikut campur, dia adalah pencuri yang selalu mengambil harta benda penduduk warga"

Mendengar hal tersebut, Rahiang Sanjaya melengak tidak percaya. Dipalingkan wajahnya ke arah laki-laki tua tersebut...namun rupanya diam-diam tanpa sepengetahuan Rahiang Sanjaya dan keempat laki-laki muda pengeroyoknya, laki-laki tua itu mundur ke arah hutan lalu secepat kilat berkelebat meninggalkan tempat tesebut.

"Aissshh...aku terlalu gegabah" batin Rahiang Sanjaya.

"Bangsat...maling itu sudah kabur" gerutu laki-laki muda yang bertubuh tinggi besar.

"Betul rupanya...kau adalah komplotannya!!!" hardiknya kesal ke arah Rahiang Sanjaya.

"Maaf...aku sudah salah...maaf..." Rahiang Sanjaya tergagap sambil senyam-senyum tawar.

Namun keempat anak muda itu sudah tidak mau mendengar lagi penjelasan Rahiang Sanjaya, dengan serentak mereka menerjang dengan goloknya.

"Waduh...aku tidak mungkin melawan dan mencelakai mereka. Lebih baik aku tinggalkan tempat ini" batin Rahiang Sanjaya, kakinya menjejak tanah lalu dengan enteng tubuhnya melayang menghindari serangan golok yang membabi buta. Lalu dengan dengan sebat melompat ke punggung si Jagur dan memacunya meninggalkan tempat tersebut.

"Jangan lari pengecut....!!!" hardik salah seorang dari mereka melihat Rahiang Sanjaya kabur dengan kudanya.

===
Yuchi Saksena berjalan meninggalkan halaman kedai, menuju ke dermaga tempat perahu sewaannya bersandar. Setelah berjalan sekitar duaratus deupa di sebuah belokan jalan yang gelap, sudut matanya yang tajam melihat sebuah bayangan mengikutinya.

"Hmmmm...rupanya masih ada yang penasaran" batin Yuchi Saksena sambil tetap melangkah seolah tidak menyadari ada yang mengikutinya. Mendekati dermaga Yuchi Saksena mempercepat langkahnya lalu menyelinap dan menghilang di antara perahu-perahu yang ada di pinggir sungai.

"Kemana dia? Gerakannya cepat sekali" batin bayangan tersebut yang ternyata adalah Dewi Sekarasih yang diam-diam kabur dari rumah pamannya dan sekarang mengikuti lagkah Yuchi Saksena.

Dewi Sekarasih yang secara diam-diam melihat pertarungan Yuchi Saksena melawan Ki Samin dan muridnya, merasa kagum sekali. Apalagi melihat senjata yang digunakan oleh Yuchi Saksena adalah sebilah pedang, senjata yang sama dengan yang didapatkannya dari Ki Kanaka (baca episode #20). Dengan mengendap-endap Dewi Sekarasih memeriksa masing-masing perahu yang berjajar.

"Heuh...tikus kecil rupanya kau mau berbuat curang" terdengar suara Yuchi Saksena seperti berbisik di telinga Dewi Sekarasih.

Dewi Sekarasih terlonjak, diedarkan kedua pandangannya ke sekitar dermaga yang gelap hanya diterangi sinar bulan yang tidak penuh. Dadanya berdegup kencang, dirinya adalah seorang gadis yang gagah berani, tidak pernah takut akan apapun dan siapapun, namun mendengar suara yang terdengar seolah berbisik di telinganya, tak urung bulu kuduknya merinding.

"Di mana kau? Aku bukan pengecut..buat apa berbuat curang" hardik Dewi Sekarasih sengit

"Ha..ha..tikus kecil...buat apa kau mengikutiku kalau tidak bermaksud jahat" terdengar suara yang berbisik di telinganya, arahnya dari belakang. Dengan cepat Dewi Sekarasih membalikkan badannya. Akan tetapi tidak terlihat seorangpun manusia di dekatnya. Jelas itu adalah ilmu menyusupkan suara tingkat tinggi

"Aaah....jangan-jangan kau yang tikus, bersembunyi di bawah perahu!" ujar Dewi Sekarasih dengan cerdik, mencoba untuk memancing Yuchi Saksena keluar.

"Ha..ha..lebih baik tikus kecil seperti kau segera kembali ke rumah. Jangan sampai ketemu kucing garong...bisa-bisa kau diterkam...ha..ha..." gelak Yuchi Saksena, suaranya kembali berbisik dari arah belakang Dewi Sekarasih.

Lama-lama Dewi Sekarasih merasa kesal dipermainkan seperti itu. Dihunus pedangnya, terlihat cahaya kuning menyebar. Dengan cepat melompat ke atas perahu yang paling besar, dia yakin suara itu berasal dari sana. Di amatinya ke dalam perahu namun hanya terlihat beberapa awak orang perahu yang tertidur pulas. Dengan kesal dirinya melompat ke atas perahu di sampingnya, tidak ada yang mencurigakan.

"Ha..ha..benar dugaanku, kau tidak lebih dari seekor tikus kecil. Sukanya bermain di tempat gelap dan kotor" terdengar suara dan gelak tawa Yuchi Saksena dengan jelas, bukan lagi bisikan seperti sebelumnya. Dewi Sekarasih secepat kilat berbalik. Di bawah tidak jauh dari perahu paling besar, berdiri sosok tubuh tegak berpakaian warna merah dengan caping bambu lebar menutupi sebagian wajahnya.

Hati Dewi Sekarasih panas dipermainkan seperti itu, dijejakkan kakinya ke badan perahu lalu tubuhnya melayang ke hadapan Yuchi Saksena. Bibirnya cemberut, wajahnya yang putih terlihat memerah karena marah. Seumur hidup belum pernah ada yang berani mempermainkannya seperti itu.

"Buat apa tikus kecil kau mengikutiku?" suara Yuchi Saksena dingin, berbeda dengan sebelumnya yang tertawa-tawa mengejek Dewi Sekarasih.

"Siapa yang mengikutimu? Bukannya kau yang mengintip lalu berbisik-bisik di telingaku? Pasti kau mau berbuat yang tidak baik" hardik Dewi Sekarasih tidak mau kalah gertak. Matanya yang membulat indah itu memandang galak ke arah Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena melengak mendengar ucapan gadis itu yang berbalik menuduhnya mengintip dan bermaksud tidak baik.

"Apa? Aku mengintip dan mau berbuat jahat kepadamu"? Yuchi Saksena mengusap wajahnya seolah tidak percaya.

"Betul...kau pasti orang jahat. Kalau orang baik-baik buat apa mengintip? Belum lagi wajahmu ditutupi seperti itu?" lengking Dewi Sekarasih seolah tidak bersalah membalikkan keadaan.

Yuchi Saksena menghela nafas panjang menghadapi gadis cerdik seperti Dewi Sekarasih. Sejak dirinya turun gunung, belum pernah menemui perempuan secerdik dan seberani Dewi Sekarasih.

"Huuuuhhhh....yah sudahlah sesukamu. Buat apa aku melayani tikus kecil seperti dirimu!" Yuchi Saksena menyerah lalu berbalik dan meninggalka Dewi Sekarasih.

Melihat Yuchi Saksena meninggalkan dirinya, Dewi Sekarasih dengan ringan melompat dan menghalangi jalan dengan pedang kuning melintang di dadanya. Wajahnya yang cantik menunjukkan keberanian dan kepolosan.

"Eiittttss...tunggu dulu kucing merah! Jangan seenaknya pergi!" hardik Dewi Sekarasih menyebut "kucing merah" kepada Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat seorang gadis cantik jelita dengan tubuh yang padat berisi. Wajahnya yang polos namun cerdik telah berhasil membuatnya mati kutu.

"Apa lagi maumu? Aku tidak punya waktu" Yuchi Saksena kesal bukan main menghadapi kekonyolan gadis cantik ini.

"Kau harus minta maaf kepadaku...baru aku ijinkan pergi" jawab Dewi Sekarasih sambil memutar-mutar pedangnya. Matanya bergerak-gerak lincah.

"Minta maaf? Minta maaf untuk apa?" Yuchi Saksena terperangah mendengar jawaban gadis konyol itu.

"Karena kesalahanmu banyak..." Dewi Sekarasih menjawab tenang.

"Kalau aku tidak mau?" tanya Yuchi Saksena sengit, tidak sadar dirinya telah dipermainkan gadis itu.

"Kalau tidak mau...terpaksa aku akan menghukummu!" sergah Dewi Sekarasih, ujung pedangnya mengarah ke muka Yuchi Saksena.

"Menghukumku.?...ha..ha..tikus konyol!" Yuchi Saksena tergelak.

"Lebih baik kau cepat kembali ke indukmu...di luar rumah terlalu bahaya buat tikus konyol sepertimu..ha..ha" sambungnya.

Dewi Sekarasih memerah wajahnya, bibirnya mancung cemberut..hatinya sangat kesal karena dari tadi disebut si tikus konyol. 

"Mulutmu itu memang minta di gampar" hardik Dewi Sekarasih. Dengan cepat menerjang ke arah Yuchi Saksena. Mengetahui bahwa laki-laki yang dihadapinya adalah berilmu sangat tinggi, Dewi Sekarasih sengaja menggunakan jurus-jurus pamungkas dari gurunya, Ki Kanaka.

Tubuhnya bergerak cepat dengan pedang meyambar. Sebenarnya jurus yang digunakan oleh Dewi Sekarasih seharusnya menggunakan golok, namun karena yan dipegangnya adalah pedang maka hasilnya tidaklah maksimal. Dengan mudah Yuchi Saksena bergerak menghindari serangan-serangan Dewi Sekarasih. Sebenarnya jurus tersebut sangatlah ganas dan berbahaya, namun karena Dewi Sekarasih belum pengalaman dalam pertempuran sebenarnya, maka serangan-serangan tersebut menjadi tidak berarti di hadapan Yuchi Saksena. 

Dewi Sekarasih terus menggempur Yuchi Saksena dengan puluhan jurus yang dimilikinya, namun sayang lawan yang dihadapinya mempunyai kemampuan jauh di atasnya. Di jurus ketiga puluh, Dewi Sekarasih menghentikan serangannya.

"Kucing Merah...lawan aku!! Jangan hanya melompat-lompat menghindar" tudingnya dengan nafas tersengal-sengal. Wajahnya memerah, dadanya yang padat nampak naik turun mengatur nafas. Sinar rembulan yang separuh memberikan siluet yang indah pada tubuh Dewi Sekarasih. Yuchi Saksena yang memang pada dasarnya menyukai keindahan terutama gadis-gadis cantik seolah baru menyadari keindahan tubuh dan kecantikan Dewi Sekarasih. Kedua matanya memandangi dari atas kepala sampai ke ujung kaki seolah-olah sedang mengagumi sesuatu yang sangat indah.

"Bahaya...bahaya..." gumamnya sambil mengusap wajahnya.

"Dengan kemampuan silat sepertimu lebih baik kau segera pulang, terlalu bahaya berada di tempat seperti ini" sambungnya, matanya beberapa kali mengerling ke arah pinggul Dewi Sekarasih yang membulat padat.

Melihat mata Yuchi Saksena yang jelalatan, Dewi Sekarasih muntab. Dirinya memang paling tidak suka jika seorang laki-laki memandanginya seperti itu. Bukan sekali dua kali dia menghajar laki-laki seperti itu di dayeuh Kuningan.

"Dasar kucing mesum...jaga matamu, terima ini" Dewi Sekarasih menyarungkan pedangnya lalu memasang kuda-kuda siap menyerang dengan pukulan tangan kosong.

Yuchi Saksena yang memang pada dasarnya tidak mempunyai niat jelek kepada gadis ini hanya tersenyum.

"Sudahlah tikus kecil...tidak perlu bertarung lagi. Aku kasihan kepadamu kalau sampai terjadi sesuatu...apalagi...sepertinya kau belum pernah kawin..haha.." Yuchi Saksena terkekeh. 

"Hiyyyyaaaaaa...." Dewi Sekarasih mendorongkan kedua tangannya ke depan. Dirinya mengerahkan seluruh tenaga dalamnya menggunakan ajian "Guntur Bumi" warisan dari ayahnya, Prabu Demunawan.

"Wuuuussss..." serangkum angin berhawa panas membumbung ke arah Yuchi Saksena.

Sebenarnya ajian "Guntur Bumi" bukanlah kesaktian sembarangan, jika digunakan oleh orang yang tingkat tenaga dalamnya sempurna maka hasilnya akan sangat dahsyat. Jangankan manusia, batupun bisa hancur berantakan dihantam ajian ini. Tapi sayangnya tenaga dalam Dewi Sekarasih masih mentah.

"Belum sempurna...kalau sembrono, aku bisa membahayakan dirinya. Lebih baik aku tinggalkan saja" batin Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena menjejakkan kakinya ke tanah, tubuhnya seolah menghilang saking cepatnya. Pukulan tangan kosong Dewi Sekarasih menghantam angin. 

"Aisshhhh...kurang ajar!!"

Dewi Sekarasih memekik kaget. Ikat kepalanya yang dipakai untuk menggulung sebagian rambutnya lenyap di sambar oleh bayangan merah Yuchi Saksena yang lantas menghilang di kegelapan malam.

"Ahhhhh....bodoh...bodoh..." maki Dewi Sekarasih sambil kakinya menginjak-injak tanah saking kesalnya.

"Kenapa aku bermain-main...kenapa tidak langsung saja minta supaya aku jadi muridnya" gerutunya merutuki diri sendiri.

Melihat jurus pedang dan juga kesaktian Yuchi Saksena di kedai, sebenarnya Dewi Sekarasih mengikutinya berniat untuk minta diajari jurus pedang sekaligus siapa tahu bisa memecahkan misteri kitab kuno silat pedang pemberian Ki Kanaka. Tetapi karena sifat iseng dan konyolnya yang ingin menguji kemampuan Yuchi Saksena mengakibatkan dirinya kehilangan jejak.

Namun Dewi Sekarasih adalah seorang gadis yang cerdas dan juga cerdik. Akalnya banyak dan mempunyai kemampuan analisa yang baik. Karena Yuchi Saksena berada di dermaga maka dipastikan bahwa dia datang menggunakan perahu atau kapal. Sekarang tinggal menentukan apakah perahu atau kapalnya menuju ke hulu atau ke hilir. Setelah mempertimbangkan sejenak akhirnya dia putuskan untuk menunggu perahu atau kapal Yuchi Saksena di hilir dermaga.

"Hmmm...aku akan cegat di sebelah hilir, pasti tidak lama lagi perahunya akan mulai bergerak" batinnya sambil matanya jelalatan memilih perahu yang berjejer. Dihampirinya sebuah perahu pemancing berukuran kecil lalu didorongnya ke dalam sungai.

"Aku terpaksa mencuri perahu...kalau kembali aku akan bayar" batinnya.

Dewi Sekarasih melompat ke atas perahu lalu mendayungnya pelan mengikuti arus sungai. Gadis ini memang luar biasa keras hati, arus sungai yang cukup deras dan juga gelapnya malam, sama sekali tidak menggetarkan hatinya. Setelah beberapa ratus depa, diarahkannya ke pinggir sungai, dikeluarkan tali yang terbuat dari urat-urat pohon yang alot dan diikatkan ke sebuah pohon.

"Aku tunggu disini saja...pasti sebentar lagi perahunya akan muncul. Setelah membuat keributan dan membunuhi orang, pasti dia tidak akan berlama-lama di dermaga" batinnya.

Benar saja perhitungan gadis cantik jelita nan cerdas ini. Tak lama berselang lamat-lamat terihat kerlip pelita dari perahu yang melaju dari arah dermaga menuju ke arahnya.

"Hmmm...tidak salah perhitunganku" batinnya.

Dengan lincah Dewi Sekarasih melompat ke darat lalu dicarinya sisa potongan pohon yang cukup besar dan panjang lalu....entah apa yang ada dipikiran gadis jelita ini...pelan-pelan potongan kayu tersebut dimasukkan ke dalam sungai lalu di dorong ke arah datangnya perahu. Tubuhnya yang padat dan sintal tanpa ragu-ragu masuk ke dalam sungai berpegangan ke batang pohon tersebut. Semakin dekat perahu itu, Dewi Sekarasih menenggelamkan kepalanya sambil tangannya berpegangan kepada batang pohon.

"Too...too...blbbb..long...bbrbrbb....tooollloong..."

Dewi Sekarasih seperti orang yang tenggelam, kepalanya timbul tenggelam namun salah satu tangannya berpegangan erat ke dahan pohon.

Dan rupanya malam itu, Dewi Sekarasih sedang bernasib mujur. Perahu tersebut memang yang disewa oleh Yuchi Saksena menuju muara Indraprahasta. Yuchi Saksena memutuskan secepatnya meninggalkan dermaga pasar Panyimpangan untuk menghindari bentrokan yang tidak perlu. Kedua tukang perahu, Sayot dan Wargi pun setuju karena takut bentrokan yang disebabkan oleh mereka berdua akan berbuntut panjang.

Wagi yang mendayung di sebelah kiri perahu, pertama menyadari adanya orang yang disangkanya beneran tenggelam.

"Sayot...ada suara orang minta tolong" ujarnya kepada Sayot yang mendayung di sebelah kanan perahu sambil berdiri diikuti Sayot sambil mengambil pelita yang menempel di tiang perahu. Dibawanya pelita tersebut ke bagian depan perahu untuk memeriksa.

"Kuu...kuunti" suara Sayot tercekat matanya melotot melihat perempuan dengan rambut panjang meriap di atas permukaan air. Wagi tidak bergerak hanya ternganga tidak bersuara.

Yuchi Saksena yang mencoba melepaskan lelah di dalam perahu, segera bangkit dan berjalan menghampiri samping kiri perahu. Matanya yang sipit namun tajam lekat melihat perempuan yang sepertinya sudah kehabisan tenaga hanya mengandalkan pegangannya kepada sebatang pohon. Sekali genjot tubuhnya melayang menarik tangan perempuan tersebut lalu kaki kirinya berpijak kepada batang pohon tersebut sebagai tumpuan tubuhnya yang memangku perempuan kembali ke atas perahu.

Dibaringkan wajah perempuan yang sudah pucat pasi tersebut di atas perahu. Wagi dan Sayot terperangah melihat gerakan kilat yang dilakukan tuannya.

"Kalian kembali mendayung...supaya cepat sampai tujuan" ujar Yuchi Saksena kepada Wagi dan Sayot.

Yuchi Saksena berlutut di samping tubuh perempuan tersebut yang tak lain adalah Dewi Sekarasih. Disodorkan jari telunjuknya ke hidung Dewi Sekarasih untuk memeriksa nafasnya.

"Huuhh...syukurlah masih hidup" gumam Yuchi Saksena. Karena keadaan di atas perahu yang remang-remang, Yuchi Saksena tidak menyadari bahwa perempuan yang ditolongnya adalah Dewi Sekarasih. Pakaian Dewi Sekarasih yang basah membuatnya melekat mencetak lekuk-lekuk tubuhnya yang montok. Diam-diam Wagi dan Sayot mengerling sambil menelan ludah.

"Dasar mata keranjang...jangan coba berfikir yang aneh-aneh" damprat Yuchi Saksena kepada Sayot dan Wagi sambil mengambil kain kering dari buntelan miliknya. Dilapnya tubuh Dewi Sekarasih yang basah kuyup dari rambut sampai ujung kaki.

Tanpa sepengetahuan yang lain, Dewi Sekarasih beberapa kali menahan nafas sambil menggigit bibir bawahnya saat tangan Yuchi Saksena yang memegang kain menyentuh bagian-bagian sensitifnya.

"Agan...diganti saja pakaiannya...kasihan kedinginan...hehe" Sayot terkekeh cabul.

"Degggg...." jantung Dewi Sekarasih serasa mau copot mendengar ucapan Sayot.

"Aduhhh...bagaimana kalau mereka membuka pakaianku...kenapa aku ceroboh sekali. Bagaimana kalau orang-orang ini jahat semua...aduuuh...." batin Dewi Sekarasih mulai menyesali kenekatannya.

Mendengar ucapan Sayot, Yuchi Saksena hanya diam saja. Setelah tidak lagi kuyup, Yuchi Saksena mengambil jubah panjang miliknya dan ditutupkan di atas tubuh Dewi Sekarayu yang masih terbaring, pura-pura pingsan.

"Kalian tetap saja mendayung...besok pagi kalau sudah siuman, kita turunkan perempuan ini" ujar Yuchi Saksena kepada Sayot dan Wagi.

Setelah menyelimuti tubuh Dewi Sekarasih, Yuchi Saksena menjatuhkan pantatnya duduk di bagian belakang perahu. Disandarkan kepalanya ke tiang perahu sambil memejamkan matanya.

"Huuuhhh...banyak sekali kejadian hari ini. Semoga secepatnya aku bisa sampai di pelabuhan Pamalang" keluh Yuchi Saksena.

Diam-diam, Dewi Sekarasih membuka matanya setengah lalu di perhatikannya wajah Yuchi Saksena yang menyandar di tiang perahu. Sekarang dirinya bisa menatap wajah itu secara jelas tidak lagi tertutupi oleh caping bambu

"Aiiihhh...tampan sekali dan wajahnya bersih....ah..senang sekali kalau bisa menjadi muridnya" batin Dewi Sekarasih, dadanya berdebar keras.


Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #8