DERMAGA PASAR KAMPUNG PANYIMPANGAN



Dalam episode ini kita akan mengikuti perjalanan dua tokoh lain yaitu Dewi Sekarasih seorang putri Keraton Saunggalah yang masih terhitung sepupu Rahiang Sanjaya dan Yuchi Saksena seorang pendekar muda yang merupakan keturunan bangsawan Sunda dan bangsawan China.

Dewi Sekarasih duduk dengan anggun di atas kuda putih tunggangannya, pandangannya lurus ke depan. Pakaiannya singset berwarna putih dari kain halus gujarat, membungkus ketat mencetak bentuk tubuhnya yang padat berisi. Rambutnya hitam licin laksana sutera China sebagian diikat ke atas dengan ikat rambut bertahtakan permata, sebagian terurai di punggung. Kedua matanya yang indah dihiasi alis bagaikan semut beriring. Hidungnya bangir dengan cuping tipis kemerahan. Bibirnya merah merona menjanjikan kehangatan. Celananya berwarna coklat dari kain yang cukup tebal membungkus sepasang kaki dan pahanya yang membulat padat sementara alas kakinya terbuat dari kulit hewan yang tebal. Sebuah pedang yang terbuat dari kuningan menggantung indah di pinggang kecilnya. Gendewa dan anak panah tergantung di samping badan kuda putihnya.

Sepanjang jalan dari Paguron Silat "Maung Kanaka" menuju ke perbatasan Dayeuh Kuningan, semua mata memandang kagum dan hormat. Para pedagang maupun rakyat yang kebetulan berpapasan dengannya menjura hormat. Kecantikan Dewi Sekarasih memang sudah terkenal seantero Saunggaluh tetapi tidak seorangpun berani berlaku kurang ajar. Selain cantik, Dewi Sekarasih hatinya juga terkenal tegas dan keras, tidak segan-segan menurunkan tangan keras kepada siapapun yang berani berlaku tidak sopan kepadanya. Namun hatinya akan berubah menjadi seputih dan selembut salju jika berhadapan dengan siapapun yang berlaku baik dan sopan kepadanya. Dia mempunyai prinsip, siapa berlaku sopan maka dia akan berlaku lebih sopan akan tetapi siapa berlaku jahat maka dia tidak akan segan-segan berbuat lebih jahat.

Dewi Sekarasih memacu kuda putihnya meninggalkan Dayeuh Kuningan. Ini adalah perjalanan pertamanya menuju ke Karang Kamulyan, Karatuan Galuh, tanpa didampingi oleh pengawalan maupun saudara laki-lakinya. Satu hal yang tidak disadarinya bahwa perjalanan tanpa pengawalan dan panji-panji karatuan ini akan menyeretnya ke dalam petualangan yang penuh marabahaya.

Menjelang petang, Dewi Sekarasih tiba di Kampung Panyimpangan di tepian sungai Cisanggarung. Kampung Panyimpangan sangat ramai karena banyak perahu pedagang-pedagang yang sengaja singgah untuk sekedar menambah bekal makanan atau bahkan menjajakan barang dagangannya. Kampung Panyimpangan malah sudah hampir mirip dengan sebuah dayeuh kecil saking ramenya. 

"Lebih baik aku singgah di Mamang Warman untuk sekedar menumpang istirahat" batinnya sambil mengarahkan kudanya ke arah rumah kepala kampung yang masih terhitung kerabat ibunya. Dirinya sudah beberapa kali mengunjungi tempat tersebut bersama kakak pertamanya, Rakean Tambakwesi.

Sepanjang jalan dari gerbang Kampung Panyimpangan, kedatangannya menarik perhatian penduduk kampung. Sebagian warga yang merupakan penduduk asli Karatuan Saunggalah telah banyak yang mengenalnya sehingga mereka menjura penuh hormat ke arah Dewi Sekarasih. Tetapi bagi pendatang terutama para pedagang dan pengawal-pengawal perahu yang hanya sekedar singgah tentulah tidak semua mengenalnya, dengan sorot mata kagum bahkan sebagian dengan kurang ajar bersiul-siul ke arah Dewi Sekarasih. Dewi Sekarasih mencoba tidak terlalu menanggapinya.

Di halaman sebuah rumah yang cukup besar, Dewi Sekarasih menghentikan laju kudanya. Dengan enteng melompat turun dan mengikatkan tali kekang kudanya di sebuah pancang bambu yang terpasang di depan rumah.

Seorang penjaga berperawakan tinggi besar tergopoh-gopoh menghampirinya.

"Aiiihh..sampurasun Gusti Putri, selamat datang" ujarnya sambil menjura takjim.

"Rampes Kang Cene...sepi sekali, kemana Mamang Warman?" Dewi Sekarasih membalas salam penjaga yang sudah sangat dikenalnya tesebut sekaligus menanyakan keberadaan pamannya.

"Juragan Warman sedang berkeliling kampung karena hari ini kebetulan hari pasar, banyak perahu dan kapal pedagang yang datang" jawab Cene sambil celingukan.

"Ampun Gusti Putri...saya tidak melihat pengawal yang datang?" sambungnya merasa heran karena Dewi Sekarasih datang seorang diri.

"Mereka masih di belakang..." ujar Dewi Sekarasih sekenanya sambil melangkah ringan ke pendopo rumah.

"Bibi...Bibi Ningrum...sampurasun...aku datang..." teriaknya memanggil istri dari Warman.

Seorang perempuan setengah baya tergopoh-gopoh keluar dari dalam rumah.

"Rampes...ambuing...ambuing...anaking geulis, kenapa datang tidak mengabari dulu?" ujar Ningrum sambil menyambut Dewi Sekarasih sambil mengangkat kedua tangannya ke atas kepala.

Dewi Sekarasih cepat-cepat menarik tangan Ningrum.

"Bibi Ningrum...tidak usah segala peradatan, aku ini keponakanmu" ujarnya sambil memeluk Ningrum. Warman suaminya Ningrum memang masih terhitung adik Dewi Sangkari (ibunya Dewi Sekarasih) dari salah satu selir.

"Mana kakakmu tidak ikut kah? Pengawalmu juga mana?" tanya Ningrum sambil celingukan mencari Rakean Tambakwesi dan pengawal yang biasa menemani Dewi Sekarasih.

"Nanti aku ceritakan...sekarang aku mau mandi terus makan. Aku lapar sekali..." ujar Dewi Sekarasih sambil bergelayut manja ditangan bibinya itu.

"Ya..sudah, sekarang kau mandi yang bersih...Bibi akan menyiapkan makanan kesukaanmu" ujar Ningrum.

"Anak perempuan koq berpakaian seperti jawara..." sambungnya sambil tangannya mencubit gemas pipi keponakannya itu.

Tak lama berselang, Warman bersama lima orang pengawalnya yang dipercaya untuk menjaga keamanan kampung tersebut kembali ke rumah. Cene segera melaporkan kedatangan Dewi Sekarasih kepada Warman. Warman terlihat gembira sekaligus heran karena tidak melihat satu orangpun pengawal dari Karatuan Saunggalih.

"Kalian berlima..tidak usah kembali ke pasar dermaga. Malam ini tugas kalian berjaga-jaga di sekitar rumah. Jangan sampai kecolongan" ujarnya tegas. Hal ini biasa dia lakukan saat kedatangan kerabat keraton ke rumahnya.

"Cene...kau juga jangan pulang dulu, bantu berjaga-jaga" sambungnya kepada Cene.

"Baik juragan..." jawab mereka hampir bersamaan.

Malam itu Juragan Warman, Bibi Ningrum dan Dewi Sekarasih bercengkrama di ruang tengah rumah besar tersebut.

"Kamu ini...berani-beraninya melakukan perjalanan seorang diri" ujar Juragan Warman sambil meneguk minuman jahe hangat kesukaannya.

"Aku tidak habis pikir..kenapa Kakang Prabu memberimu izin" sambungnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Iya..anak perawan cantik berjalan sendiri , pasti akan mengundang banyak bahaya. Lagipula pamali anak perawan berpakaian seperti laki-laki" imbuh Bibi Ningrum khawatir.

"Mamang dan Bibi jangan khawatir...aku bisa menjaga diri. Lagipula siapa yang berani menggangguku" ucap Dewi Sekarasih sambi cengengesan.

"Sekarasih...kau harus tahu, tidak semua orang mengenalimu sebagai putri Kakang Prabu Demunawan. Jadi lebih baik aku menemani perjalananmu ke Karang Kamulyan" ujar Juragan Warman.

"Aku setuju Kakang...lebih baik kau temani, aku sangat khawatir anak perawan cantik jalan sendiri...aduh...aduh..kalau terjadi apa-apa bagaimana.." timpal Bibi Ningrum.

Mendengar hal tersebut Dewi Sekarasih tekejut karena sejak awal dirinya memang hendak berjalan sendiri saja.

"Eh..eh..tidak, tidak boleh...aku bisa menjaga diri sendiri" sanggahnya.

Juragan Warman dan Bibi Ningrum menghela nafas panjang, keduanya hapal betul dengan sifat keras keponakan perempuannya ini.

"Huuuhhh...baiklah aku tidak bisa memaksamu...Kakang Prabu pasti sudah mempertimbangkannya dengan baik saat mengijinkanmu pergi" ujar Juragan Warman.

Baca juga : Rahiang Sanjaya: Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #5
===

Petang itu, sebuah perahu melaju tenang mengikuti arus sungai Cisanggarung yang mengalir ke arah utara. Sungai ini melintasi dua buah karatuan kecil yaitu Karatuan Saunggalah di bagian tengah dan Karatuan Indraprahasta di bagian utara  pulau Jawa.

Di atas perahu tampak tiga orang penumpang,  dua orang tukang perahu yang sedang mendayung untuk mempercepat laju dan seorang laki-laki berbadan tegap berdiri tegak di bagian depan perahu. Laki-laki itu kelihatan dari perawakannya pastilah usianya tidak jauh dari duapuluh satu tahun, menggunakan pakaian singset berwarna merah gelap yang dibungkus dengan sebuah jubah dengan warna yang hampir sama. Kepalanya ditutup sebuah caping bambu, wajahnya mendongak mengawasi laju perahu. Wajahnya tampan, kedua matanya yang agak sipit terlihat muram dan dipinggangnya tergantung sebuah pedang. Anak muda itu adalah Yuchi Saksena.

Semenjak turun gunung dua puluh purnama lalu, Yuchi Saksena berhasil mengegerkan karena sepak terjangnya di wilayah Karatuan Galuh. Bahkan beritanya sudah sampai ke Keraton Karatuan Galuh, Apatih Bimaraksa sangat penasaran dengan jawara muda yang dikabarkan telah membunuh dua orang perwiranya. Oleh karena itu, Apatih Bimaraksa diam-diam menyebarkan sayembara kepada seluruh jawara dan paguron silat di Karatuan Galuh, barangsiapa yang bisa menangkap dan membunuh Yuchi Saksena akan mendapat hadiah duapuluh lima keping emas.

Namun jangankan untuk menangkap apalagi membunuhnya, menemukan keberadaan jawara muda ini sangatlah sulit. Dia akan datang dan pergi sesuka hatinya. Dan sekarang ternyata Yuchi Saksena sedang melanjutkan perjalanan ke utara pulau Jawa menjauh meninggalkan daerah kekuasaan Karatuan Galuh.

Sudah dua hari, Yuchi Saksena melakukan perjalanan dengan perahu, dimulai dari hulu sungai yang berada di kaki Gunung Ciremai.

"Kita sudah mendekati dermaga pasar Kampung Panyimpangan, lebih baik kita beristirahat untuk memeriksa perahu dan juga menambah perbekalan" kata tukang perahu yang berusia lebih tua bernama Sayot kepada Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena menghela nafas panjang seolah tidak terlalu senang dengan rencana tersebut.

"Lebih baik kita meneruskan perjalanan...aku harus secepatnya tiba di Muara Indraprahasta" ujarnya pelan.

"Tidak bisa, perbekalan kita sudah mulai menipis lagipula setelah ini kita tidak akan menemui dermaga pasar lagi" Sayot berkeras.

Yuchi Saksena kembali menghela nafas panjang, seolah malas untuk berdebat.

"Baiklah...belilah bekal sebanyak-banyaknya, aku tidak mau lagi perjalanan ini terhenti" ujarnya dingin. Tangan kanannya masuk ke dalam jubah mengambil serangkum uang perak lalu menyerahkannya kepada tukang perahu tua itu.

Wajah Sayot mendadak sumringah menerima gemerincing uang perak, yang nilainya jauh lebih besar dari biaya sewa yang disepakati. Sayot tersenyum lebar sambil melirik tukang perahu yang lebih muda bernama Wagi.

Setibanya di dermaga pasar Kampung Panyimpangan, kedua tukang perahu itu melompat ke tepian lalu mengikat perahu di tiang kayu.

"Agan...kami pergi dulu mencari bahan perbekalan, besok pagi kita akan meneruskan perjalanan" seru Sayot sambil berlalu diikuti oleh Wagi, Keduanya terlihat sumringah membayangkan akan berfoya-foya dengan gadis-gadis muda di kedai arak yang tersebar di sekitar dermaga tersebut.

Yuchi Saksena hanya mendengus lalu merebahkan tubuhnya di dalam perahu.

Sayot dan Wagi memasuki kedai arak paling besar di dermaga tersebut, langkah mereka pasti dengan dada membusung. Seumur hidup mereka, baru kali ini memegang uang perak dalam jumlah banyak. Keduanya mengambil tempat duduk di meja paling pojok. Penjaga-penjaga kedai mendelik melihat keduanya yang berpakaian lusuh dan kotor. Seorang pelayan perempuan berusia muda bernama Sumi mendekatinya. Melihat pakaian keduanya yang lusuh dan sedikit bau, Sumi itu bertanya dengan ketus.

"Kalian mau pesan apa? Kalau sekedar mau makan lebih baik kalian cari warung makan di luar sana"

Sayot tersenyum dengan jumawa, tangannya dengan nakal menjawil dagu pelayan itu.

"Ish...Eneng Geulis, kenapa galak? Kami berdua tentu saja tidak hanya sekedar makan, tolong sajikan semua makanan paling enak dan tuak paling harum" ujarnya pongah.

Sumi membuang muka tidak senang.

"Makanan dan tuak di sini harganya mahal, kalian belum tentu mampu membayarnya" Sumi tetap ketus.

Wagi yang sejak tadi diam saja, mulai tersinggung.

"Sayot...kasih uangnya, biar perempuan jalang ini tahu sopan santun" dengusnya kesal.

Sumi mendelik ke arah Wagi, tidak terima disebut perempuan jalang.

Sayot merogoh saku celananya lalu mengeluarkan dua keping uang perak dan melemparkannya ke atas meja.

"Criinnngg..."

"Bagaimana cukup kah?" tanyanya pongah.

Sumi terperangah melihat kepingan uang perak tersebut, lalu disambarnya kepingan uang perak dari atas meja sambil tersenyum genit.

"Cukup agan...cukup..aku akan menghidangkan makanan dan tuak paling enak untuk agan berdua" matanya mengerling liar ke arah Sayot.

Sayot tertawa lebar.

"Ha..ha...bagus, cepatlah kau sajikan. Jangan lupa ajak satu temanmu lagi untuk menemani kami minum tuak" ujar Sayot sambil menepuk pinggul Sumi.

"Auuuww..." Sumi menjerit nakal sambil berjalan melenggak-lenggokkan pinggulnya yang bulat.

Tak lama kemudian bermacam makanan di hidangkan di atas meja termasuk empat kendi tuak yang beraroma sangat harum. Sumi dan satu temannya yang bernama Mina terlihat menempel manja ke Sayot dan Wagi. Namun tanpa Sayot dan Wagi sadari, dentingan uang perak yang dilemparkan Sayot telah memancing berpuluh pasang mata tamu kedai mengawasi mereka. Dimasa itu hanya saudagar ataupun pejabat-pejabat keraton saja yang bisa mempunyai kepingan uang perak.

Gelak tawa Sayot dan Wagi yang ditingkahi oleh jeritan-jeritan manja dari Sumi dan Mina terdengar ke seluruh kedai. Dua orang laki-laki tinggi besar berpakaian hitam-hitam terlihat mendekati meja mereka. Keduanya adalah Umbara dan Karta, kakak beradik yang terkenal sebagai jawara dermaga yang sering memeras para awak perahu atau kapal yang singgah.

"Braaakkkk....." Umbara menggebrak meja yang dipakai oleh Sayot dan Wagi.

Sayot yang sedang tenggelam dalam dekapan dada montok Sumi tersentak kaget, begitu pula Wagi yang sedang menciumi leher Mina terlonjak hampir jatuh dari tempat duduknya.

Umbara menarik sebuah kursi lalu duduk di hadapan Sayot dan Wagi, sementara Sumi dan Mina beringsut menjauh. Sumi dan Mina sudah hapal dengan kelakuan kakak beradik ini. Sementara Karta berdiri di samping meja lalu dengan seenaknya mengambil kendi arak yang masih penuh lalu menenggaknya. Sayot dan Wagi menggigil ketakutan, walaupun bagaimana mereka berdua hanyalah seorang tukang perahu biasa.

"Kalian berdua habis merampok darimana?" tanya Umbara sambil melotot ke arah Sayot.

"Ti..tidak..bukan...kami bukan perampok" jawab Sayot gelagapan.

"Hmmm...atau kalian habis mencuri? Kapal mana yang kalian satroni?" Umbara mengalihkan padangannya pada Wagi.

Wagi hanya ternganga, tidak mampu menjawab sepatah katapun.

"Plakkk..." sebuah tamparan keras dari Karta menghantam pipi Wagi.

"Kau jangan diam saja..goblok" bentaknya.

Wagi bukannya menjawab, malah semakin ketakutan. Tubuhnya menggigil bahkan tanpa terasa celananya basah. Sayot yang berusia lebih tua dan lebih bisa menguasai diri mencoba menjelaskan.

"Ampun...ampun...kami berdua bukan perampok ataupun pencuri, kami hanya tukang perahu" jelasnya menghiba.

"Tidak mungkin...mana ada tukang perahu bisa mempunyai keping perak!!!" bentak Umbara.

Para pengunjung kedai hanya sesaat melirik ke arah meja Sayot dan Wagi lalu kembali menikmati makanan dan tuak yang terhidang. Buat mereka kejadian seperti itu adalah hal yang biasa, jadi lebih baik pura-pura tidak tahu dan pura-pura tidak mendengar.

"Kalian jangan main-main dengan kami, sekarang keluarkan semua uang perak kalian atau...kepala kalian kami tebas" gertak Umbara sambil mencengkram leher Sayot.

Entah kapan masuknya ke dalam kedai, tiba-tiba Yuchi Saksena muncul dan menduduki kursi di samping Wagi yang ketakutan. Dengan tenang, seolah tidak mempedulikan Umbara dan Karta, diambilnya kendi berisi tuak lalu ditenggaknya sampai habis. Umbara dan Karta mendelik melihat kehadiran Yuchi Saksena yang santai dan seolah-olah tidak ada yang terjadi. Sementara Sayot dan Wagi merasa disambung nyawa melihat kehadiran Yuchi Saksena.

"Aku mendapat keping perak tersebut dari juragan ini, dia yang menyewa perahu kami" ujarnya sambil mencoba melepaskan cengkraman Umbara.

"Kalian berdua segera kembali ke perahu, tunggu aku di sana" ujar Yuchi Saksena kepada Sayot dan Wagi. Keduanya bergegas berdiri dan bersiap meninggalkan kedai tersebut.

"Tidak ada seorangpun yang ku ijinkan pergi" bentak Karta mendorong Wagi kembali duduk.

"Hmmm...rupanya ada saudagar muda dari negeri seberang mampir kemari" ujar Umbara sambil tersenyum. Dia menyangka Yuchi Saksena adalah seorang saudagar melihat tampangnya yang keren dan pakaiannya yang walaupun sederhana tetapi menggunakan kain berkualitas tinggi dan sangat mahal harganya.

"Aku bukan saudagar..hanya pengelana yang kebetulan lewat" ujar Yuchi Saksena singkat tanpa menoleh.

"Aku tidak peduli...kau saudagar ataupun bukan! Yang pasti setiap ada perahu atau kapal yang singgah di tempat ini...harus membayar upeti kepada kami!!" bentak Karta sambil menendang kursi kosong yang ada di depannya.

"Membayar upeti? Apakah kalian syahbandar dermaga ini?" Yuchi Saksena mengangkat wajahnya lalu menatap dingin ke arah Karta.

"Jangan banyak bacot anak muda...kau serahkan seluruh harta milikmu atau aku tebas batang lehermu" sergah Karta sambil menghunus golok besarnya.

Yuchi Saksena menghela nafas panjang.

"Baiklah...kalian sepertinya susah sekali hidupnya hingga harus minta-minta seperti ini, aku akan memberimu satu keping perak" ujarnya sambil merogoh ke dalam jubahnya dan mengeluarkan sekeping uang perak. Disodorkannya uang perak tersebut kepada Umbara.

Melihat hal tersebut, alih-alih berterima kasih, Umbara muntab. Dengan kasar ditepisnya tangan Yuchi Saksena yang menyodorkan kepingan uang perak.

"Bangsat...kau anggap aku ini pengemis?" bentaknya.

Yuchi Saksena menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku tidak mau lagi melayani kalian berdua...kalau mau makan atau minum, silakan saja. Aku akan membayari semuanya" ujarnya lalu berteriak kepada pelayan.

"Pelayan...tolong siapkan lagi makanan dan tuak terbaik yang kalian punya"

Umbara dan Karta yang dianggap sepi oleh Yuchi Saksena semakin muntab. Dengan sebat, Karta mengayunkan goloknya ke arah leher Yuchi Saksena. Pelayan dan pemilik kedai serta pengunjung yang diam-diam menonton kejadian tersebut menjerit tertahan sambil memejamkan mata, membayangkan golok itu akan menebas leher Yuchi Saksena.

"Kau memang cari mati...hiyyaaa..." bentak Karta.

Yuchi Saksena dengan tenang menggeser lehernya mundur lalu tangan secepat kilat memukul lengan Karta yang lewat di depan mukanya.

"Buukkkk...."

Walau pukulan itu tidak terlalu keras tapi cukup membuat Karta terhuyung terbawa tenaganya sendiri dan hampir terjerembab kalau tidak segera menguasai diri. Sayot dan Wagi bergegas mengambil kesempatan untuk pergi meninggalkan tempat tersebut. Sementara Yuchi Saksena berdiri dari tempat duduknya dengan tenang.

"Bajingan...kau mencari masalah dengan kami...tidak akan kubiarkan kau hidup!!" dengus Umbara sambil menghunus goloknya. Kedua kakak beradik itu dengan golok terhunus di tangan mengepung Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena menatap dingin ke arah Umbara.

"Kalian ini..gembel-gembel busuk tidak tahu diri, aku sudah memberi kalian kemurahan hati tapi kalian menyia-nyiakannya. Jangan salahkan aku ini akan menjadi malam terakhir kalian" dengusnya.

Umbara muntab. Tangan kanannya yang menggenggam golok berkelebat cepat menyasar leher Yuchi Saksena. Jawara muda ini tentulah bukan tandingan para berandal pasar seperti Umbara dan Karta. Tubuhnya berkelebat cepat dan di detik berikutnya kaki kirinya melakukan gerakan memutar yang sangat indah nan cepat dan....

"Buuukkkk....." kaki kiri Yuchi Saksena yang dibungkus alas dari kulit hewan yang tebal tersebut menghantam muka Umbara.

Umbara terhuyung ke belakang sambil mengaduh kesakitan. Tangan kirinya memegangi mukanya yang bercucuran darah yang keluar dari hidungnya. Karta meradang, dilemparkannya meja dan kursi menjauh sehingga antara dirinya dengan Yuchi Saksena tidak terhalang. Pengunjung kedai yang lain bergegas meninggalkan tempat tersebut, sementara pemilik kedai diam-diam menyuruh Sumi untuk pergi ke rumah Kepala Kampung, melaporkan kejadian tersebut.

"Aku tidak akan mengampunimu bangsat...ciiiiaaaatttt...." pekik Karta sambil menerjang.

Yuchi Saksena adalah seorang jawara yang tidak mau banyak kata, tubuhnya berkelebat dengan cepat. Tangan kanannya mengembang dan masuk menghajar siku Karta dengan pukulan tangan miring.

"Buuuukkkk...." 

Karta melolong setinggi langit, goloknya terlempar dan sikunya tergantung patah. Yuchi Saksena rupanya sudah tidak mau memberi hati, kaki kirinya memutar dan singgah di rahang Karta.

"Buuuuukk...."

Karta terlempar ke atas meja-meja kedai dan membuat kedai itu berantakan, darah bercucuran dari mulutnya...seluruh gigi bagian depannya tanggal.

"Wussss....."

Siuran angin datang dari arah belakang Yuchi Saksena, rupanya Umbara membokong dari arah belakang dengan goloknya. Yuchi Saksena dengan indah melakukan split sehingga tubuhnya seperti duduk di atas lantai kedai, golok Umbara melintas di atas kepalanya. Lalu dengan cepat berdiri dan berbalik...kelima jari tangannya mengembang dan mendorong ke arah Umbara. Serangkum angin berhawa panas membumbung ke arah Umbara.

"Bussshhh....buuukk"

Umbara terlempar menghantam tiang kedai, pakaiannya di bagian dada hangus terbakar membentuk lima jari tembus ke dadanya. Darah segar menyembur dari mulutnya..lalu jatuh tidak berkutik.

Menyaksikan hal tersebut Karta leleh nyali dan keberaniannya. Yuchi Saksena memutar badannya menghadap Karta lalu berkata dengan dingin.

"Aku membiarkanmu hidup untuk mengurus mayat temanmu...sekarang kau segera tinggalkan tempat ini"

Tidak menunggu dua kali, Karta dengan cepat berjalan menghampiri tubuh Umbara yang terbujur kaku lalu membawanya pergi meninggalkan kedai tersebut.

Sepeninggal Karta, Yuchi Saksena memutar pandangannya. Pemilik kedai dan pelayan-pelayannya yang terdiri dari perempuan-perempuan muda, menggigil ketakutan.

"Siapa pemilik kedai ini?" tanya Yuchi Saksena pelan.

"Sa..saya...tidak ada hubungannya dengan berandal-berandal tadi" ujar laki-laki pemilik kedai yang ditaksir umurnya sekitar empatpuluhan tahun itu ketakutan.

"Hmmm...." Yuchi Saksena bergumam sambil tangan kanannya merogoh ke dalam jubahnya. Disodorkannya sekeping uang emas kepada pemilik warung tersebut.

"Aku yakin uang ini cukup mengganti kerugianmu"

Pemilik kedai terbelalak matanya melihat kepingan uang emas tersebut, pelayan-pelayan muda itu saling berbisik.

"Juragan...uang itu terlalu banyak" pemilik kedai itu rupanya orang yang jujur. Memang dengan keping uang emas tersebut, jangankan mengganti kerusakan kedainya...membuat lima buah kedai lagipun masih bersisa.

"Sudahlah...ambil saja. Sekarang kau siapkan makanan dan tuak, aku lapar sekali" ujar Yuchi Saksena.

"Terima kasih juragan..." ujar pemilik kedai tersebut lalu tergopoh-gopoh membereskan meja dan kursi yang terguling berantakan.

"Silakan duduk dulu Juragan..." sambungnya lalu memberi kode kepada para pelayannya untuk menyajikan makanan dan tuak.

===

Sumi setengah berlari meninggalkan kedai menuju rumah Juragan Warman untuk melaporkan keributan di kedai tempatnya bekerja. Dengan nafas tersengal-sengal Sumi tiba di halaman rumah yang diterangi obor berukuran sedang disetiap sudutnya. Cene yang sedang berjaga menghampirinya.

"Sumi...ada apa malam-malam kemari" tanya Cene mengenali Sumi. Di pasar dermaga Kampung Panyimpangan laki-laki mana yang tidak mengenali Sumi. Seorang pelayan kedai paling cantik dan paling bohay. Tubuhnya padat dengan dada dan pinggul membusung.

"Haahh...huuuuhhhh...Kang Cene...." Sumi mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

"Ada keributan di kedai...Umbara dan Karta memeras tamu kami" sambungnya dengan wajah yang memerah, kecapaian.

"Aahhh...itu sudah biasa..biarkan saja" ujar Cene enteng, matanya melotot nakal ke arah Sumi, nafasnya yang terengah-engah membuat buah dada bagian atas yang terbuka kelihatan naik turun. Cene meneguk ludahnya sendiri.

"Tapi Kang...tamu itu sepertinya bukan orang sembarangan. Kami khawatir akan berbuntut panjang.." ujar Sumi.

"Hmmm...apakah dia pejabat karatuan ataukah saudagar besar" tanya Cene matanya masih jelalatan seolah menelanjangi Sumi.

Mendengar suara-suara di luar rumah, Juragan Warman yang sedang bercengkrama dengan istri dan juga Dewi Sekarasih bergegas bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar. Sementara lima orang pengawal yang tersebar di sekitar rumah Juragan Warman, bergegas menghampiri ke pekarangan.

"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Juragan Warman kepada Cene dan Sumi.

Melihat kedatangan Juragan Warman, senyum Sumi mengembang lalu tergopoh-gopoh menghampirinya. Sikapnya manja dan genit, maklum Juragan Warman adalah pelanggan istimewanya. Sementara Juragan Warman tetap menjaga wibawanya sambil memberi kode kepada Sumi agar bersikap biasa. Sumi yang menangkap kode tersebut segera merubah sikapnya apalagi dilihatnya di belakang Juragan Warman berjalan istrinya dan seorang perempuan muda yang sangat cantik.

"Ampun..Juragan, hamba mau melaporkan keributan di kedai. Umbara dan Karta memeras seorang saudagar" Sumi menyangka bahwa Yuchi Saksena adalah seorang saudagar.

"Berandal itu lagi...kenapa selalu mencari masalah dengan saudagar-saudagar, kalau sampai saudagar itu kapok datang ke dermaga, kita sendiri yang rugi" dengus Juragan Warman.

"Juragan...biar kami yang membereskan" Cene menawarkan diri. Selain untuk mendapatkan pujian dari Juragan Warman, dia juga berharap bisa kembali ke kedai bersama Sumi.

Juragan Warman mendelik ke arah Cene.

"Karena malam ini ada keponakanku dari Keraton...kalian harus berjaga di sini. Biar aku yang menyelesaikan masalah ini. Aku tidak yakin kalian bisa mengatasi Umbara dan Karta" ujar Juragan Warman tenang.

"Mamang...aku ikut" ujar Dewi Sekarasih, perempuan muda ini memang pada dasarnya adalah seorang pemberani yang banyak ingin tahu. Apalagi mendengar ada perkelahian, dirinya sangat penasaran ingin melihat jurus-jurus silat yang dimainkan jawara-jawara di luar keraton.

Juragan Warman memalingkan wajahnya ke belakang.

"Sekarasih..lebih baik kau tunggu di rumah bersama bibimu, ini urusan laki-laki...berbahaya untuk dirimu"

Dewi Sekarasih merengut kesal mendengar jawaban Juragan Warman. Dirinya tidak suka jika dilarang-larang karena urusan perbedaan perempuan dan laki-laki.

"Mamang...kemampuanku tidak kalah dengan laki-laki, aku bisa menjaga diri" sergahnya.

Juragan Warman hanya menghela nafas panjang.

"Ambu...bujuk Sekarasih agar masuk ke dalam rumah, aku tidak mau disalahkan Kakang Prabu" ujarnya kepada Ningrum istrinya.

Ningrum segera memegang tangan Dewi Sekarasih dengan lembut.

"Sudahlah anaking...malam sudah larut, lebih baik kau beristirahat. Biarlah urusan sepele ini diselesaikan oleh Mamang"

Dewi Sekarasih mendelik marah ke arah Juragan Warman, tapi tidak berani membantahnya karena walau bagaimanapun Juragan Warman adlah pamannya sendiri. Dengan kesal dia berbalik masuk ke dalam rumah diikuti oleh Ningrum.

Sementara itu Juragan Warman bersama Sumi ditemani oleh Cene bergegas kembali ke kedai di pasar dermaga. Tak lama berselang, setelah berpamitan kepada Ningrum untuk tidur di kamarnya, diam-diam Dewi Sekarasih menyelinap keluar melalui jendela. Setelah mengendap-ngendap menghindari para penjaga, Dewi Sekarasih berlari menuju ke arah pasar dermaga.

Juragan Warman memasuki kedai diikuti oleh Sumi dan Cene. Dilihatnya keadaan sudah seperti biasa, beberapa pelanggan terlihat sedang menikmati makanan dan tuak. Pemilik kedai yang melihat kedatangan Juragan Warman bergegas menghampirinya dan membawanya agar duduk di bagian dalam. Sekilas Juragan Warman melirik kepada seorang tamu kedai yang mengenakan caping.

"Orang aneh...malam-malam begini menggunakan caping" batin Juragan Warman sambil mengikuti pemilik kedai.

"Sumi...kau keluarkan makanan dan tuak buat Juragan Warman" ujar pemilik kedai lalu duduk di hadapan Juragan Warman dan menceritakan kejadian yang terjadi.

Juragan Warman mengangguk-anggukan kepalanya mendengar cerita pemilik kedai, sesekali melirik ke arah tamu bercaping yang tak lain adalah Yuchi Saksena. Setelah selesai mendengar cerita dari pemilik kedai, Juragan Warman menghampiri meja Yuchi Saksena.

"Ehh...ehm...bolehkah aku duduk bersamamu" Juragan Warman berdehem dan minta izin kepada Yuchi Saksena yang sedang asyik menyantap makanan.

Yuchi Saksena mengangkat kepalanya memandang kepada Juragan Warman lalu mengangguk mempersilakan.

"Anak muda...maaf aku mengganggu waktu makanmu" Juragan Warman membuka percakapan.

"Hmmm..." Yuchi Saksena hanya bergumam lalu mengakhiri makannya.

"Aku sudah mendengar tentang kejadian tadi...sebagai penguasa pasar dermaga ini, aku mohon maaf kepadamu" ujar Juragan Warman ramah. Dia menebak bahwa anak muda ini pastilah orang kaya raya setelah mendengar bahwa pemilik kedai diberi kepingan emas. Jadi Juragan Warman merasa harus menjaga hubungan baik.

"Sudahlah...tidak perlu segala peradatan. Aku sudah selesai makan...mohon pamit" jawab Yuchi Saksena dengan dingin lalu bangkit dari duduknya dan berlalu keluar dari kedai.

Juragan Warman merutuk kesal.

"Sombong sekali...."

Tapi baru saja Yuchi Saksena melangkahkan kakinya keluar kedai, terlihat dua bayangan hitam berkelebat menghadangnya. Seorang laki-laki tua bertubuh gemuk memegang tongkat yang tebuat dari batang pohon kelapa dan Karta yang giginya sudah tanggal semua, menghadang dengan gagah. Laki-laki tua itu bernama Ki Samun, guru silatnya Karta dan Umara. Agaknya kehadiran Ki Samun sudah membangkitkan kembali nyali Karta yang sebelumnya sudah dihajar habis-habisan oleh Yuchi Saksena.

Ki Samun tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sambil menuding ke arah Yuchi Saksena.

"Ha..ha..cecunguk ini rupanya yang sudah berani membunuh murid kesayanganku. Aku akan mengiris-iris tubuhmu"

Yuchi Saksena hanya mendengus lalu berbelok menghindari hadangan Ki Samun dan Karta.

"Bajingan...rupanya kau tidak tahu tingginya gunung dan dalamnya sagara...berani jual lagak di hadapanku" bentak Ki Samin meradang merasa dipandang rendah oleh Yuchi Saksena.

"Makan ini...hiyyyyaaa....." Ki Samin sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Tongkat kayunya berputar bagaikan baling-baling menyerbu ke arah Yuchi Sanjaya.

Melihat serangan itu, Yuchi Sanjaya sudah bisa menebak bahwa serangan itu tidaklah main-main. Sekali genjot tubuhnya melenting ke udara lalu dengan indah mendarat di tanah yang lebih luas.

Melihat serangannya di hindari dengan mudah, Ki Samin makin muntab. Diawali teriakan yang membahana, tubuhnya bergerak cepat berubah menjadi bayangan mengurung Yuchi Saksena. Perkelahian seru pun terjadi. 

Namun sayang perkelahian itu tidak berlangsung lama, beberapa jurus berjalan, Ki Samin sudah terdesak hebat oleh Yuchi Saksena yang bertangan kosong.

"Wuusss....."

Insting Yuchi Saksena yang tajam mendengar ada siuran angin yang mengarah dari belakangnya. Ternyata sebuah golok yang dilemparkan oleh Karta meluncur deras mengincar punggungnya.

"Pengecut..." dengus Yuchi Saksena sambil menarik serangannya yang sedikit lagi akan menjatuhkan Ki Samin, tubuhnya mencelat bagai terbang sambil menghunus pedangnya. Wangi cendana santer tercium mememenuhi tempat itu. Yuchi Saksena bersalto dua kali lalu meluncur deras bagaikan garuda menyambar ke arah Karta.

"Aaahhhhh......" jeritan Karta terputus, lalu ambruk dengan leher yang hampir tanggal.

Juragan Warman dan beberapa orang yang menyaksikan perkelahian tersebut melengak lalu bergidik ngeri.

"Kejam sekali..." desis Juragan Warman.

Melihat kematian Karta, Ki Samin makin kalap. Dikeluarkannya lima buah pisau kecil dari balik pinggangnya lalu dilemparkannya ke arah Yuchi Saksena. Kelima pisau itu meluncur dengan deras mengarah kelima titik lemah tubuh manusia. Lemparan itu jelas bukan main-main karena sekali saja salah langkah makan salah satu pisau itu akan menghunjam tubuh.

Yuchi Saksena memutar pedangnya menjadi tembok pertahanan di depan tubuhnya.

"Trang...trang...trang..trang...trang..."

Terdengar lima kali benturan, pisau-pisau itu berjatuhan dengan dengan kondisi patah menjadi dua.

"Orang tua...aku memberimu kesempatan hidup...sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran"

Ki Samin bimbang...meneruskan pertarungan jelas bukan pilihan yang bijak, ilmu silatnya jelas bukanlah apa-apa dihadapan anak muda itu. Akhirnya sambil menahan malu, Ki Samin berkelebat pergi sambil berteriak.

"Anak muda...tunggu pembalasanku, aku akan menagih nyawa kedua muridku"

Yuchi Saksena menarik nafas panjang lalu menyarungkan kembali pedangnya.

"Aku minta bantuanmu untuk mengurus mayat orang ini" ujarnya kepada pemilik kedai.

Yuchi Saksena berlalu meninggalkan halaman kedai tersebut, namun tanpa disadarinya ada sepasang mata indah yang mengawasinya dari balik kegelapan dan diam-diam mengikutinya.


Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #7