DEWI SEKARASIH


Karatuan Saunggalah berdiri sekitar tahun 748M setelah Seuweukarma atau Rahyang Demunawan yang dinobatkan sebagai Ratu dengan gelar Rahiyangtang Kuku dan berkedudukan di Arile atau Kuningan. Rahyang Demunawan adalah putra dari Rahyangtang Semplakwaja atau adik dari Prabu Purbasora yang berhasil merebut tahta Karatuan Galuh dari Prabu Bratasenawa. Secara garis darah keturunan sebenarnya ketiga tokoh tersebut, yaitu Prabu Bratasenawa, Prabu Purbasora dan Rahyang Demunawan adalah saudara satu ibu, Pwah Rababu.

Prabu Pubasora dan Rahyang Demunawan adalah putra dari hasil pernikahan Pwah Rababu dengan Rahyangtang Semplakwaja. Sedangkan Prabu Bratasenawa adalah putra dari hasil hubungan gelap Pwah Rababu dengan Rahyangtang Mandiminyak. Sedangkan Rahyangtang Semplakwaja dan Rahyangtang Mandiminyak serta Rahyangtang Kidul adalah kakak beradik, putra dari Writekandayun, pendiri Karatuan Galuh. Jadi keruwetan silsilah ini jelas adalah karena ketidakmampuan menahan hawa nafsu seorang Rahyangtang Mandiminyak melihat kecantikan Pwah Rababu, kakak iparnya sendiri. Sedangkan bagi Rahiang Sanjaya, Prabu Demunawan adalah uwa-nya (kakak dari ayahnya).

Sejatinya sebelum menjadi bernama Karatuan Saunggalah, di wilayah tersebut sudah berdiri Karatuan Kuningan yang diperintah oleh Sang Pandawa alias Wiragati. Putri Sang Pandawa yang bernama Dewi Sangkari dinikahi oleh Rahyang Demunawan, putra dari Rahyangtang Semplakwaja. Di tahun 748M, Sang Pandawa memutuskan untuk turun tahta dan menjadi Resi Guru di Mandala Layuwatang, sebuah Mandala bekas pertapaan Rajaresi Dewaraja Sura Liman Sakti, Ratu Kendan II. Yang mana Karatuan Kendan ini adalah cikal bakal Karatuan Galuh. Jadi jika dilihat catatan sejarah baik tertulis maupun lisan, para penguasa di wilayah Karatuan Galuh adalah masih dalam satu garis keturunan. Dan karena pertalian darah inilah yang membuat Karatuan Saunggalah walaupun hanyalah Karatuan kecil tapi sangat dihormati oleh Karatuan Galuh.

Dari pernikahan Rahyang Demunawan dengan Dewi Sangkari melahirkan tiga orang putra dan putri. Yang pertama adalah Tambakwesi yang kelak mewarisi tahta karatuan, Tambakbaya seorang terpelajar yang kelak menjadi ahli menulis di atas daun lontar dan yang terakhir seorang putri bernama Dewi Sekarasih yang mempunyai sifat berbeda dengan kedua laki-lakinya. Tambakwesi adalah seorang pemuda tampan yang sangat tenang dan juga berwibawa, Tambakbaya adalah pemuda yang selain tampan juga sangat terpelajar dan sebagian besar waktunya dihabiskan untuk membaca dan mempelajari kitab-kitab agama dan kitab-kitab sastra. Sedangkan Sekar Asih adalah seorang putri berusia sekitar ujuhbelas tahun yang sangat cantik jelita dan periang. Kesukaan Dewi Sekarasih adalah mempelajari ilmu silat dan kesaktian, dia banyak berguru kepada ahli-ahli silat di Karatuan Saunggalah selain tentu belajar dari ayahnya, Prabu Demunawan. Dewi Sekarasih sangat menguasai ilmu silat, ilmu memanah, ilmu memainkan golok dan sangat lihai dalam berkuda.

Walaupun sudah belajar dan menguasai ilmu silat dan kesaktian yang cukup tinggi, Dewi Sekarasih tidak pernah puas. Hampir seluruh paguron silat terkenal di Karatuan Saunggaluh sudah didatanginya untuk mempelajari ilmu dan kesaktian. Hingga suatu hari, dia berpamitan kepada ayahnya, Prabu Demunawan untuk berangkat menuju Karatuan Galuh untuk mencari guru yang ilmu silat dan kesaktiannya lebih tinggi.

Pagi itu sangat cerah, matahari memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru dunia. Membagiakan berkat kehidupan bagi semua makhluk yang ada di muka bumi. Di sebuah paguron silat paling besar di Dayeuh Kuningan, paguron itu bernama "Maung Kanaka" yang didirikan oleh seorang jawara bernama Ki Kanaka, beberapa murid terlihat sedang berlatih silat. Ki Kanaka adalah seorang jawara yang banyak membantu Sang Pandawa membasmi rampok maupun pengacau saat pertama pembangunan Dayeuh Kuningan sehingga di beri penghargaan untuk membuat paguron silat. Banyak murid dari Paguron Silat "Maung Kanaka" yang menjadi prajurit ataupun perwira di pasukan perang Karatuan Galuh.

Dewi Sekarasih mengarahkan kudanya memasuki gerbang paguron, kedatangannya membuat orang-orang menghentikan latihannya dan membungkukkan badan ke arahnya. Tujuannya datang sepagi itu adalah untuk berpamitan kepada Kanaka yang merupakan salah satu guru silat yang paling dihormatinya. Semenjak kecil, dirinya sudah digembleng oleh Ki Kanaka dengan jurus-jurus silat dan kesaktian, sehingga dia merasa tidak enak hati jika meninggalkannya tanpa berpamitan. Sesampainya di depan rumah Ki Kanaka, Dewi Sekarasih melompat turun lalu berjalan memasuki rumah yang pintunya memang senantiasa terbuka.

"Euleuh...cucuku, ada gerangan rebun-rebun sudah datang kemari" sambut Kanaka dengan hangat. Persahabatannya dengan Sang Pandawa membuatnya sangat dekat dengan keluarga keraton, bahkan semua cucu Sang Pandawa sudah dianggapnya seperti cucunya sendiri.

"Ayo...duduk..duduk" sambungnya.

Dewi Sekarasih merangkapkan kedua tangannya di depan dada lalu menjura hormat kepada Kanaka sebelum duduk di kursi yang ditunjuk oleh Kanaka.

"Aki Guru...aku menghaturkan sembah hormat. Mohon maaf aku mengganggumu sepagi ini" ujar Dewi Sekarasih takjim. Walapun sifatnya sangat keras dan lebih banyak becandanya daripada serius, tetapi Dewi Sekarasih sangat menghormati guru-gurunya.

Setelah duduk berhadapan, Kanaka memandang Dewi Sekarasih dengan penuh kasih sayang. Rasa sayang Kanaka kepada Dewi Sekarasih memang melebihi sayangnya kepada anak ataupun cucunya sendiri. Selain Dewi Sekarasih ini mempunyai pembawaan yang ceria dan selalu bisa membuatnya tertawa tetapi juga karena bakatnya yang besar dalam bidang silat dan kesaktian.

"Cucuku...aku sudah mendengar dari kakekmu, Sang Pandawa mengenai tujuan dirimu, tetapi aku juga ingin langsung mendengarnya langsung dari mulutmu sendiri" ujar Kanaka pelan tapi penuh wibawa.

Dewi Sekarasih menatap Kanaka dengan kedua matanya yang selalu terlihat jenaka dan ceria, hidungnya yang bangir kembang kempis penuh dengan semangat.

"Aki Guru...tujuanku menemuimu adalah utuk berpamitan sekaligus untuk mohon do'a restumu. Hari ini aku akan berangkat ke Dayeuh Karang Kamulyan menemui uwaku, Prabu Purbasora" ujarnya ceria.

Kanaka menarik nafas panjang seolah berat sekali.

"Berapa orang yang berangkat menemanimu? Aku khawatir karena sekarang ini, Karatuan Galuh belum begitu aman semenjak Prabu Purbasora berkuasa" ujar Kanaka khawatir.

"Aku berangkat sendiri..." jawab Dewi Sekarasih dengan senyum terkembang.

"Sendiri?...tidak..tidak cucuku. Tidak baik kau berangkat sendiri" Kanaka cemas.

"Aki Guru...jangan khawatir, aku bisa menjaga diri. Lagipula siapa yang berani mengganggu murid kesayangan Ki Kanaka" Dewi Sekarasih meyakinkan sambil menepuk dada membanggakan dirinya sebagai murid kesayangan Ki Kanaka.

Ki Kanaka menggeleng-gelengkan kepalanya, dia sangat mengenal watak dan pembawaan Dewi Sekarasih yang keras dan sangat percaya diri. Percuma saja jika dia berkeras menentangnya karena semakin keras orang menentang keinginannya maka akan semakin kuat pula Dewi Sekarasih melawan.

"Cucuku...aku sangat mengenal watakmu, percuma saja melarangmu. Tapi sebentar kau tunggu di sini..." ujar Ki Kanaka lalu bangkit dari duduknya dan berlalu masuk ke dalam kamar tidurnya.

"Aki Guru...kau tidak usah memberiku bekal, aku membawa uang banyak. Tidak mungkin kelaparan" ujar Dewi Sekarasih tetap ceria. Ki Kanaka hanya tersenyum mendengar ucapan Dewi Sekarasih sambil meneruskan langkahnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tak lama Dewi Sekarasih menunggu, Ki Kanaka keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah kotak kayu berwarna hitam lalu meletakkanya di atas meja.

"Aki Guru...aku sudah bilang, aku membawa bekal yang sangat banyak. Tidak usah merepotkan diri" Dewi Sekarasih berkeras karena menyangka Ki Kanaka akan memberinya bekal uang ataupun harta.

Ki Kanaka tersenyum lalu membuka kotak kayu tersebut lalu mengeluarkan sebuah senjata seperti golok tetapi tipis dan panjang berwarna kuning.

"Cucuku...aku tidak mungkin memberimu uang ataupun harta, karena ayahmu jauh lebih kaya daripada aku...hehe..." ujarnya terkekeh.

"Bawalah senjata ini bersamamu dan kalau kau ada waktu cobalah kau berlatih dengan kitab ini" sambungnya sambil menyerahkan senjata tersebut dan sebuah kitab yang sudah berwarna kekuningan karena usia.

Dewi Sekarasih melengak, seumur hidupnya baru pertama kali melihat senjata seperti itu. Diterimanya senjata bersama kitab yang disodorkan Ki Kanaka.

"Aki Guru...senjata apa ini namanya? Aku belum pernah melihatnya" tanyanya penasaran.

Ki Kanaka menarik nafas panjang lalu menghempaskan tubuhnya di atas kursi.

"Senjata itu bernama pedang dan berasal dari negeri di seberang sagara...seseorang memberikannya kepadaku. Namun aku tidak mengerti cara menggunakannya, aku harap suatu saat kau bisa memecahkan petunjuk yang ada di kitab itu" ujar Ki Kanaka lirih. 

Ingatannya melayang ke duapuluh tahun yang lalu, saat dirinya menyelamatkan seorang pengawal kapal dagang yang berlayar dari negeri China. Kapal dagang tersebut dirampas oleh perampok-perampok pelabuhan dan semua penumpangnya dibunuh dan dilempar ke sungai, syukurlah Ki Kanaka dapat menyelamatkan salah satu dari mereka yang terdampar di tepian sungai dalam keadaan luka parah. Pengawal itulah yang memberinya pedang bersama kitab itu, sayang karena tidak menguasai tulisannya, Ki Kanaka tidak bisa mempelajarinya.

Dewi Sekarasih mencabut pedang yang berwarna kuning tersebut, semburat sinar kekuningan terlihat menyelimuti pedang tersebut.

"Luar biasa....senjata pusaka" gumamnya. Lalu dimasukan lagi pedang tersebut ke dalam sarungnya. Diraihnya kitab yang kelihatannya sudah sangat tua, dibukanya halaman perhalaman. Terlihat gambar orang sedang memainkan pedang beserta keterangan menggunakan tulisan aneh yang bahkan dirinya yang sudah belajar banyak mengenai berbagai kitabpun tidak dapat membacanya.

"Aki Guru...kitab ini memakai tulisan apa? Aku tidak bisa membacanya" Dewi Sekarasih penasaran.

"Kitab itu berisi tentang ilmu memainkan pedang tersebut, namun aku tidak bisa menguasainya secara penuh karena hanya bisa belajar dari gambarnya saja. Tulisan yang dipakai sepertinya tulisan China" Ki Kanaka menjelaskan.

"Aduuuhhh...Aki Guru saja tidak bisa mempelajarinya...untuk apa kau berikan kepadaku" ujar Dewi Sekarasih sambil merengut manja.

"Ha...ha...cucuku, jangan dulu berputus asa. Usiamu masih sangat muda, bawalah pedang dan kitab ini...siapa tahu satu saat ada guru yang bisa mengajarimu" Ki Kanaka terkekeh melihat Dewi Sekarasih yang merengut. Dia sangat terhibur kalau melihat Dewi Sekarasih merengut seperti iu.

Setelah memberi petuah dan gambaran perjalanan yang akan ditempuh oleh Dewi Sekarasih, akhirnya Ki Kanaka harus melepas kepergian murid yang paling disayanginya.

"Ingat cucuku...bijaklah dalam bertindak, aku menyerap kabar, saudara sepupumu juga sudah turun gunung. Dia adalah Rakean Jambri, putra dari Prabu Bratasenawa yang masih terhitung pamanmu" ujar Ki Kanaka lirih. Entah kenapa perasaanya terasa tidak enak, dia khawatir dengan turun gunungnya keturunan-keturunan Keraton Galuh akan menimbulkan pertumpahan darah.

Baca juga : Rahiang Sanjaya : Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #8
===
Matahari menampakkan sinarnya yang berwarna keemasan, menghangatkan dan melepaskan pagi dari pelukan dinginnya malam. Suara kokok ayam hutan yang pendek-pendek seakan menjadi penyemangat bagi burung-burung yang semalaman menahan basahnya embun yang menetes dari daun-daun.

Rahiang Sanjaya perlahan membuka matanya lalu melepaskan tangan Pwah Kenanga yang memeluk dadanya. Dipandanginya wajah cantik perempuan setengah baya yang....entahlah....apakah ini perasaan cinta atau hanyalah nafsu semata. Diraih pakaiannya yang tercecer di lantai saung huma, perlahan-lahan dikenakan pakaiannya lalu berjalan menuju pintu saung huma. Dirinya bermaksud untuk mencari ayam hutan ataupun hewan liar lainnya yang bisa disajikan untuk makanan mereka pagi ini.

Hidung Pwah Kenanga kembang-kempis mencium bau daging yang dibakar, matanya membuka bibirnya yang merah menyunggingkan senyum mengingat kejadian semalam. Dirinya seakan tidak peduli tubuhnya masih terbaring polos tidak selembar benangpun menutupinya.

"Ah...Raden, kau benar-benar luar biasa..." gumamnya sambil bangkit lalu meraih pakaiannya yang terserak.

Pwah Kenanga berjalan mendekati pintu saung huma, dilihatnya Rahiang Sanjaya sedang memanggang dua ekor ayam hutan di atas api unggun tidak jauh dari saung huma, empat buah butir kelapa hijau tergeletak tidak jauh. Pwah Kenanga duduk di pintu saung huma, kedua tangannya memeluk kedua lututnya. Senyumnya selalu mengembang, rambutnya yang hitam legam meriap liar. Sama sekali tidak mengurangi kecantikkannya. Matanya yang membulat indah menatap sendu ke arah Rahiang Sanjaya.

Menyadari kehadiran Pwah Kenanga di depan pintu saung huma, Rahiang Sanjaya mengangkat kepalanya lalu balik menatapnya.

"Ah...Nyimas, kau sudah terbangun rupanya" ujarnya mesra.

Pwah Kenanga hanya memandangi dengan pandangan yang mendalam dengan rasa sayang dan cinta, tidak segera membalas ucapan Rahiang Sanjaya. Rahiang Sanjaya menjadi kikuk dipandangi seperti itu.

"Nyimas...kenapa kau memandangiku seperti it? Aku jadi malu" ujarnya jengah.

"Raden...aku sedang berbahagia..ijinkan aku menatapmu sepuasku" suara Pwah Kenanga terdengar manja, seperti seorang gadis remaja kepada kekasih hatinya.

"Kau ini....sudahlah cepat kemari, ayam panggangnya sudah matang. Lebih baik kita isi perut dulu...sejak semalam kita belum makan" Rahiang Sanjaya tersipu.

Pwah Kenanga bangkit dari duduknya lalu perlahan menuruni tangga saung huma dan menghampiri Rahaing Sanjaya. Dipeluknya Rahiang Sanjaya yang sedang berjongkok dari belakang, kedua tangannya melingkari pinggang. Dadanya yang menonjol menempel ketat ke punggung Rahiang Sanjaya.

"Raden...aku masih kangen" desahnya di telinga kanan Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya tersenyum lalu membalikkan wajahnya.

"Nyimas..aku masih di sini, kenapa sudah kangen saja?" ujar Rahiang Sanjaya menempelkan hidungnya ke pipi Pwah Kenanga.

"Sekarang kau lepaskan dulu pelukanmu...kita makan saja. Kita masih perlu banyak tenaga" sambungnya menggoda Pwah Kenanga.

"Tenaga buat apa?...Dasar nakal" jawab Pwah Kenanga lalu melepaskan pelukannya.

Seolah tidak mau berjauhan keduanya  menyantap ayam hutan panggang dengan duduk sambil berdempetan. Perut yang lapar membuat tidak perlu waktu lama untuk menandaskan kedua ekor ayam hutan panggang tersebut. Setelah menenggak air kelapa hijau yang segar, keduanya berpindah tempat duduk ke dalam saung huma.

Rahiang Sanjaya menyandarkan tubuhnya ke dinding saung huma yang terbuat dari papan-papan kayu yang disusun rapi. Pemilik saung huma tersebut sepertinya sengaja membuatnya sangat kokoh dan kuat. Pwah Kenanga membelakanginya menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Rahiang Sanjaya. Mereka berpelukan seolah tidak lagi terpisahkan.

"Nyimas...bagaimana ceritanya kau bisa sampai ke wilayah sini?" tanya Rahiang Sanjaya sambil mencium rambut Pwah Kenanga.

Pwah Kenanga tidak segera menjawab, didekapnya kedua tangan Rahiang Sanjaya yang melingkari tubuhnya. Tingkahnya seperti gadis remaja yang sedang dimabuk asmara, sekan tidak menyadari bahwa usia mereka terpaut jauh.

"Aku bertemu dengan Kakang Darja di tengah perjalanan dan dia menceritakan pertemuannya denganmu" ujar Pwah Kenanga. (Mengenai Darja, baca episode #10)

"Lalu kami berpisah, Kakang Darja melanjutkan perjalanan menuju Kabuyutan Sawal sedangkan aku berangkat menuju kaki Bukit Paratag menemui ayah dan kedua keponakanku" sambungnya.

"Oh....untunglah kau bisa bertemu dengan kakakmu. Tapi aku masih belum mengerti mengapa kita bisa bertemu disini?" ujar Rahiang Sanjaya sambil menempelkan pipinya ke pipi Pwah Kenanga.

Pwah Kenanga tersenyum lalu menggeser pipinya dan mengecup pendek bibir Rahiang Sanjaya.

"Sepertinya Raden tidak senang bertemu denganku? Apakah sudah ada yang menggantikan tempatku?" tanyanya sambil matanya mengerling tajam.

"Bukan..bukan...seperti itu, aku sangat senang bertemu denganmu. Buktinya semalam..hehe" Rahiang Sanjaya menggoda Pwah Kenanga sambil memperat pelukannya sehingga tangannya menempel ketat di dada yang membusung.

"Apa sih Raden...aku tidak ingat apa-apa semalam" Pwah Kenanga merona malu.

"Aku mendengar cerita tentang Raden dari ayahku dan mengenai rencanamu menuju Kabuyutan Denuh. Aku bermaksud menyusulmu tapi menurut kabar kau sedang menuju Dayeuh Sundasembawa" sambung Pwah Kenanga.

"Aku senang mendengarnya...kau tentu menyusulku karena kangen" Rahiang Sanjaya terus menggoda Pwah Kenanga.

"Raden..kau sekarang pandai sekali berbicara dengan perempuan, aku curiga jangan-jangan selama perjalananmu kau sudah banyak memacari perempuan. Aku menyusulmu karena khawatir dengan keselamatanmu, Kabuyutan Denuh bukan tempat yang aman untukmu" ujar Pwah Kenanga menyampaikan kecemburuannya sekaligus kekhwatirannya.

Rahiang Sanjaya tersenyum sesaat pikirannya melayang kepada Nyai Malati (baca episode #12).

"Kenapa diam saja" suara Pwah Kenanga membuyarkan lamunan Rahiang Sanjaya.

"Euh...tidak..tidak Nyimas, aku jadi pandai karena guruku sangat pintar. Kau yang mengajariku semuanya" Rahiang Sanjaya mencoba menutupi dengan merayu Pwah Kenanga. Rahiang Sanjaya tidak berani membahas lebih jauh mengenai Kabuyutan Denuh, khawatir akan membuka luka lama hubungan Pwah Kenanga dengan Apatih Bimareksa.

"Raden..tidak usah gugup seperti itu, aku tidak berhak melarangmu berhubungan dengan perempuan manapun. Kau jangan merasa terhalang olehku" Pwah Kenanga lirih penuh kesedihan.

Sesaat suasana menjadi kikuk dan sendu. Rahiang Sanjaya segera mengalihkan topik pembicaraan.

"Nyimas..selama perjalananmu dari wetan, apakah kau pernah mendengar tentang jawara pedang yang bernama Saksena?"

"Mengapa kau menanyakan tentang dia? Aku memang pernah beberapa kali mendengar tentang jawara pedang bernama Saksena" tanya Pwah Kenanga keheranan.

Rahiang Sanjaya menghela nafas panjang.

"Aku sudah diselamatkan dua kali oleh jawara itu, tapi aku belum sempat mengucapkan terima kasihku kepadanya"

"Benarkah...?" Pwah Kenanga terkejut mendengar bahwa Rahiang Sanjaya sudah dua kali diselamatkan oleh Saksena.

"Betul Nyimas...yang pertama saat aku hampir di bunuh oleh dua orang jawara wahangan Cisenggong dan yang kedua saat aku hampir dibawa oleh dua orang perwira Karatuan Galuh" jawab Rahiang Sanjaya.

Pwah Kenanga semakin erat mendekap kedua tangan Rahiang Sanjaya.

"Tidak seorangpun yang mengetahui asal-usul Saksena, menurut kabar jurus silatnya sangat aneh dan mematikan. Banyak jawara bertabiat buruk yang mati ditangannya...hanya sayang dari kabar yang aku dengar, dia sangat kejam dan mata keranjang" ujar Pwah Kenanga menerangkan mengenai Saksena yang didengarnya.

"Aku pernah menyaksikan sendiri...jurus-jurusnya sangat aneh dan memang sedikit kejam. Tapi soal mata keranjang...hmm..aku tidak yakin, menurutku dia orang yang baik walaupun sedikit aneh" ujar Rahiang Sanjaya.

"Kalian kaum laki-laki sama saja...saling membela, seolah-olah tidak apa-apa mempermainkan banyak wanita" ujar Pwah Kenanga parau, air mata mulai mengambang di kedua matanya.

Rahiang Sanjaya terkejut mendengar perubahan suara Pwah Kenanga, dipeluknya perempuan itu semakin kuat. Dia tahu bahwa pembicaraan ini telah membuka ingatan Pwah Kenanga kepada kisah cintanya bersama Apatih Bimareksa yang hancur berantakan.

Pwah Kenanga menghela nafas panjang, tempaan hidup yang pahit membuatnya lebih tabah dan kuat. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan yang saat ini direguknya bersama Rahiang Sanjaya. Dia sadar tidak mungkin selamanya bisa memiliki Rahiang Sanjaya, walaupun sesaat dia ingin menikmatinya.

===