DENDAM KESUMAT SANG PENDEKAR PEDANG

"Nyimas...tunggu...!"

Rahiang Sanjaya menggelengkan kepalanya melihat Pwah Kenanga yang berjalan tanpa mempedulikannya. Dia bersuit memanggil kuda kesayangannya, si Jagur. Tak lama berselang si Jagur berderap keluar dari dalam hutan dan menghampiri Rahiang Sanjaya. Sekali lompat, tubuhnya sudah bertengger di atas punggung si Jagur.

Dipandanginya Pwah Kenanga yang semakin menjauh. Sekali tepuk kuda tersebut melesat ke arah Pwah Kenanga. Rahiang Sanjaya memiringkan tubuhnya namun tetap menjaga keseimbangan.

"Huuuuuupppp....." disambarnya tubuh Pwah Kenanga lalu di dudukkannya di atas punggung si Jagur berdempetan dengan dirinya. Dipeluknya erat tubuh Pwah Kenanga dari belakang.

Pwah Kenanga yang tidak menyangka Rahiang Sanjaya akan berbuat seperti itu, menjerit kaget.

"Awwhhhh....apa yang kau lakukan Raden? Lepaskan...lepaskan!!" teriak Pwah Kenanga manja sambil mencoba melepaskan tangan Rahiang Sanjaya yang memeluk erat pinggangnya dari belakang.

Namun Rahiang Sanjaya tidak mau melepaskannya dan Pwah Kenanga pun sepertinya hanya berpura-pura saja meronta ingin melepaskan dirinya. Terbukti setelah itu tangan Pwah Kenanga meraih tali kekang si Jagur lalu membelokkan arah larinya ke dalam hutan. Rahiang Sanjaya seolah terbius oleh wangi dan hangatnya tubuh Pwah Kenanga, pelukannya semakin kuat, matanya terpejam bibirnya tersenyum. Sementara Pwah Kenanga terus memacu si Jagur semakin masuk ke dalam hutan.

Matahari sudah condong ke barat, suasana di dalam hutan sudah mulai gelap saat si Jagur yang ditunggangi oleh Rahiang Sanjaya dan Pwah Kenanga tiba di sebuah bekas perhumaan. Pwah Kenanga menarik tali kekang si Jagur.

"Raden, lepaskan dulu pelukanmu...hari sudah gelap, tidak mungkin kita berkuda lagi" suara Pwah Kenanga lirih sambil mengusap-usap tangan Rahiang Sanjaya yang menempel erat diperutnya.

"Hmmmm...aku tidak mau melepaskanmu Nyimas.." bisik Rahiang Sanjaya di telinga kanan Pwah Kenanga. 

Seluruh tubuh Pwah Kenanga berdesir, bulu-bulu disekujur tubuhnya seolah berdiri. Disandarkan tubuhnya ke dada Rahiang Sanjaya, dipalingkan wajahnya hingga bibir mereka hampir menempel.

"Raden...kasihan kudamu, lebih baik kita beristirahat di saung huma" desah Pwah Kenanga hampir tidak bisa mengendalikan diri.

Rahiang Sanjaya dengan segan melepaskan pelukannya lalu membantu Pwah Kenanga turun dari punggung si Jagur. Lalu menyusul melompat turun.

"Raden...di sana ada saung huma, semoga kita bisa menumpang istirahat" ujar Pwah Kenanga sambil meraih tangan Rahiang Sanjaya lalu digenggamnya erat, seolah tidak mau dilepaskan lagi. Bagai kerbau dicocok hidungnya, Rahiang Sanjaya mengikuti Pwah Kenanga berjalan mendekati saung huma yang gelap.

"Raden...sepertinya tidak ada orang di dalam saung" ujar Pwah Kenanga sambil mengamati saung huma yang cukup tinggi.

"Huuuuhhh....." Rahiang Sanjaya menghembuskan nafas lega.

"Kenapa Raden? Sepertinya kau senang sekali" Pwah Kenanga bertanya begitu mendengar Rahiang Sanjaya bernafas lega, matanya mengerling manja.

"Euhhh..euh..tidak apa-apa Nyimas...tidak apa-apa" jawab Rahiang Sanjaya gugup.

Pwah Kenanga tersenyum lalu menarik tangan Rahiang Sanjaya agar mengikutinya menaiki tangga huma lalu masuk ke dalam huma.

"Raden...nyalakan api dulu, di sini gelap sekali" terdengar suara manja Pwah Kenanga dari dalam gubuk.

"Tidak usah Nyimas, khawatir nanti mengundang binatang buas" terdengar suara Rahiang Sanjaya menjawab, suaranya parau.

"Tapi Raden, aku tidak bisa melihatmu...gelap sekali" rengek Pwah Kenanga.

"Aku disini Nyimas....." 

"Aww..tanganmu nakal Raden....ah..uh..geli" terdengar  Pwah Kenanga merengek manja.

"Radeeennnn......" suara Pwah Kenanga mendesah.


Saung huma itu berderak, suara deru nafas saling bersahutan

===

TIGA TAHUN SEBELUMNYA
Sebuah pagi yang sangat indah di puncak Bukit Panyandaan. Matahari dengan cahaya yang semburat keemasan menghidupkan kembali kehidupan di muka bumi. Memunculkan kembali keindahan daun dan pepohonan yang sebelumnya lenyap ditelan kegelapan malam. Sebuah pondok kayu terlihat kokoh berdiri di samping sebuah telaga kecil berbatu. Di depan pondok kayu tersebut terdapat sebuah tanah lapang yang cukup luas, beberapa kayu pancang yang biasa dipakai untuk berlatih silat tertancap di sekitarnya.

Seorang laki-laki yang kalau dilihat usianya tidak lebih dari dua puluh tahun berpakaian merah gelap berdiri tegak ditengah tanah lapang, wajahnya menghadap ke arah timur, bercengkrama dengan hangatnya cahaya matahari. Rambut panjangnya meriap liar, kulitnya kuning bersih dengan wajah yang tampan. Sepasang matanya yang agak sipit bersinar penuh daya kehidupan, alisnya yang tebal semakin menegaskan ketampanan wajahnya.

Perlahan sepasang mata yang sebelumnya berbinar berubah menjadi redup dan dingin. Sudah sepuluh tahun lebih laki-laki muda itu mendiami puncak Bukit Panyandaan bersama kakeknya, semenjak mereka mengasingkan diri setelah tragedi yang menimpa keluarganya.

Sepuluh tahun lalu, seorang anak laki-laki bernama Yuchi Saksena putera tunggal dari Yuchi Meiyang dan Jaka Saksena, seorang syahbandar di Pelabuhan Kalapa. Sejak kecil Yuchi Saksena sudah dilatih ilmu pedang oleh kakeknya, Yuchi Jian. Yuchi Jian sendiri adalah seorang perantauan dari kota Chang'an dan pedagang kain sutera yang sangat kaya dan dermawan di Pelabuhan Kalapa.

Akan tetapi malapetaka mendatangi keluarga Yuchi Saksena ketika larut malam itu empat orang pendekar dari wetan menyatroni tempat kediaman mereka yang mewah dan besar. Sebenarnya maksud kedatangan delapan pendekar tersebut adalah untuk mencari Jaka Saksena. Mereka mempunyai silang sengketa saat Jaka Saksena memutuskan untuk menyita salah satu kapal yang datang dari Pelabuhan Pamalang. Jaka Saksena memutuskan untuk menahan kapal tersebut karena ternyata kapal  itu adalah hasil rampasan dari pedagang-pedagang China dan India. Empat pendekar itu adalah utusan dari Arya Jumadi, seorang pedagang yang licik dan bengis dari Pelabuhan Pamalang. Arya Jumadi merasa tidak senang karena kapalnya disita oleh Syahbandar Pelabuhan Kalapa. 

Kegaduhan yang terjadi di kamar kedua orangtuanya, membuat Yuchi Saksena dan Yuchi Jian bergegas mendatanginya. Namun kedatangan mereka terlambat, kedua orangtuanya sudah tergeletak bermandikan darah. Yuchi Saksena tegak seolah kaku dan gagu, kedua matanya melotot tidak percaya, mulutnya seolah terkunci. Sementara Yuchi Jian secepat kilat melesat ke luar kamar mencoba mengejar pembunuh anak dan menantunya. Namun sayang keempat pendekar pembunuh Jaka Saksena dan Yuchi Meiyang sudah lenyap ditelan gelapnya malam.

Kejadian itu membuat Yuchi Saksena dan kakeknya, Yuchi Jian, sangat terpukul. Setelah selesai melakukan upacara pemakaman, Yuchi Jian dan Yuchi Saksena memutuskan untuk menjual seluruh harta benda milik mereka dan pergi dari Pelabuhan Kalapa yang berada di bawah kekuasaan Karatuan Sunda menuju ke tebeh wetan. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menetap di Bukit Panyandaan, sebuah daerah perbukitan yang berada di bawah kekuasaan Karatuan Galuh. Di bukit Panyandaan inilah mereka mengasingkan diri, selama sepuluh tahun lebih Yuchi Saksena mendalami kitab ilmu pedang "Menembus Langit Membelah Rembulan" milik kakeknya, Yuchi Jian.

Kitab ilmu pedang "Menembus Langit Membelah Rembulan" adalah sebuah kitab ilmu pedang kuno dari negeri China yang berisi seratus jurus ilmu pedang tingkat tinggi dan delapan tingkatan tenaga dalam. Yuchi Jian sendiri sudah berlatih lebih dari limapuluh tahun namun hanya mampu menguasai delapanpuluh jurus dan tingkat lima tenaga dalam.

"Saksena...sudah saatnya kau kembali berlatih" terdengar suara berat Yuchi Jian membuyarkan lamunan Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena memalingkan wajahnya lalu berbalik ke arah Yuchi Jian.

"Ah...Züfü, kau mengagetkan"

Yuchi Jian menepuk-nepuk pundak cucu kesayangannya.

"Saksena..kau jangan terlalu larut dalam kesedihan. Kedua orangtuamu sudah tenang di alam sana. Yang terpenting kau harus segera bisa menuntaskan ilmu pedangmu"

"Züfü...aku sudah tidak sabar untuk mencari pembunuh ayah dan ibu" suara Saksena terdengar parau.

"Bersabarlah...kau sudah menguasai seratus jurus ilmu pedang, hanya perlu menyelesaikan dua tingkatan tenaga dalam lagi. Aku yakin tiga purnama ke depan, kau akan mampu menyempurnakannya" ujar Yuchi Jian. 

Yuchi Saksena berjalan diikuti oleh Yuchi Jian menuju tanah lapang di depan pondok tempat mereka tinggal.

"Saksena mainkan jurus kesembilanpuluh sembilan, selesaikan dalam duapuluh tarikan nafas" ujar Yuchi Jian.

Yuchi Saksena menghunus pedangnya lalu berkonsentrasi. Gerakannya sangat cepat dan tajam, deru angin menyertai setiap sabetan pedangnya. Tubuhnya melayang di udara seolah kapas lalu menukik tajam seperti rajawali menyambar mangsanya.

Yuchi Jian mengawasinya dengan seksama. Kepalanya mengangguk-angguk sambil berdecak kagum.

"Luar biasa..luar biasa..hanya dalam waktu sepuluh tahun, Saksena bisa menguasai kitab pedang Menembus Langit Merobek Rembulan" 

Yuchi Saksena menyelesaikan jurus kesembilanpuluh sembilan hanya dalam delapanbelas tarikan nafas. Lebih baik daripada yang diharapkan oleh Yuchi Jian.

"Bagus...Saksena...bagus" teriak Yuchi Jian bangga.

"Kau tunggu sebentar.." sambungnya sambil berlalu masuk ke dalam pondok. Tak lama kemudian kembali keluar membawa sebuah kotak besi yang hampir karatan.

"Saksena...kemarilah" ujar Yuchi Jian memanggil Yuchi Saksena.

Yuchi Saksena menghampiri Yuchi Jian yang sedang membuka kotak besi tersebut. Yuchi Jian mengeluarkan sebuah pedang dengan sarung kayu lalu diserahkannya kepada Yuchi Saksena. Wangi cendana tercium tajam.

"Saksena...gunakan pedang ini, mainkan jurus keseratus dengan tenaga dalam tingkat enam. Kau tidak boleh menyentuh tanah dalam limapuluh tarikan nafas" ujarnya.

"Baik Züfü" Yuchi Saksena menjawab singkat lalu kembali ke tengah lapangan.

Dicabutnya pedang tersebut dari sarungnya, wangi cendana makin santer tercium. Setelah sejenak berkonsentrasi, Yuchi Saksena mulai memainkan jurus keseratus dengan tenaga dalam tingkat enam dari kitab pedang "Menembus Langit Membelah Rembulan".

Tubuhnya melenting ke udara, sabetan dan tebasannya jauh lebih bertenaga dan cepat. Tubuhnya seperti seperti terbang, saking cepatnya membuat tubuhnya seperti bayangan. Pohon-pohon kecil di sekitarnya rebah seolah kena angin topan setiap pedangnya membabat.

Yuchi Jian kembali berdecak kagum.

"Bahkan dengan tenaga dalam yang belum sempurna, kekuatannya sudah sedemikian mengerikan"

Ditarikan nafas kelimapuluh, Yuchi Saksena bersalto tiga kali di udara lalu dengan indah mendarat di hadapan Yuchi Jian.

"Sempurna...Saksena..sempurna...aku bangga..." seru Yuchi Jian sambil memeluk cucu kesayangannya.

"Mulai malam ini kau harus bersemedi, menyerap kekuatan bumi dan langit untuk menyempurnakan kekuatan spiritualmu. Hanya dengan kekuatan spiritual yang sempurna kau bisa menguasai tenaga dalam tingkat tujuh dan delapan" sambung Yuchi Jian

===

Tiga purnama berlalu, pagi itu sinar matahari mulai menghangatkan puncak bukit Panyandaan. Menghidupkan kembali daun-daun yang hampir luluh oleh embun pagi. Tanah yang basah oleh keringat malam mulai mengering.

Yuchi Saksena berdiri tegap di tengah tanah lapang. Badannya terlihat lebih kurus dari tiga purnama sebelumnya.

"Saksena..tunjukkan, jurus keseratus dengan tenaga dalam tingkat delapan" teriak Yuchi Jian.

Yuchi Saksena menghunus pedangnya, wangi cendana menyeruak tajam. Setelah konsentrasi, tenaga dalamnya dialirkan ke tangan kanannya yang memegang pedang. Luar biasa...pedang tersebut mengeluarkan sinar terang berwarna hjau.

Tubuhnya melenting ke udara, sabetannya pedangnya mengeluarkan sinar seperti cemeti berwarna hijau. Pohon-pohon kecil yang terkena sabetan sinar tersebut bertumbangan dalam keadaan kering. Rerumputan di sekitar tanah lapang tersebut mulai terbakar. Yuchi Saksena layaknya seorang penari yang sedang memainkan tariannya di udara. Nyaris tujuhpuluh tarikan nafas dirinya melayang dan meliuk di udara, diakhiri dengan salto tiga kali, Yuchi Saksena mendarat dengan indah.

Yuchi Jian melengak nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Dewata Agung...luar biasa...seumur hidup aku baru melihat puncak dari kehebatan kitab pedang Menembus Langit Merobek Rembulan"

"Saksena...luar biasa..luar biasa. Gin-kang milikmu (ilmu meringankan tubuh) sudah sempurna" pekik Yuchi Jian, air matanya meleleh karena haru.

"Züfü...aku berhasil..aku berhasil" ujar Yuchi Saksena sambil berlari memeluk Yuchi Jian.

Sesaat mereka berpelukan, kemudian Yuchi Jian merenggangkan pelukannya sambil memegang kedua bahu Yuchi Saksena.

"Saksena...sekarang saatnya kau tunjukkan tenaga dalam level ke delapan tanpa menggunakan pedang" ujarnya.

Yuchi Saksena mengangguk lalu berjalan menjauhi Yuchi Jian lalu mulai memasang kuda-kuda.

"Saksena...ingatlah, inti dari puncak tenaga dalam ini bukanlah untuk menyerang tetapi untuk bertahan. Sekarang aku akan menyerangmu dengan pukulan tenaga dalam tingkat 5" ujar Yuchi Jian sambil memasang kuda-kuda.

"Baik Zúfú...." jawab Yuchi Saksena.

Kedua tangan Yuchi Jian bergetar, asap tipis mengepul. Diawali dengan bentakan yang sangat keras, Yuchi Jian mendorongkan kedua tangannya ke depan.

"Hiiiiiyyyyyaaaaaa...." serangkum cahaya berwarna hijau meluncur cepat ke arah Yuchi Saksena.

Sementara Yuchi Saksena dengan kedua tangan terkembang seolah sedang membentangkan dinding menahan cahaya hijau yang datang ke arahnya.

Yuchi Jian melipatgandakan tenaga dalamnya untuk membongkar dinding pertahanan Yuchi Saksena. Namun walaupun seluruh tenaga dalamnya di kerahkan, cahaya hijau pukulannya seolah tertahan bahkan tenaga dalamnya seolah terserap habis. Keringat dingin mulai mengucur deras dari dahinya.

"Hiyaaaaaa...." Yuchi Saksena berteriak keras lalu mendorongkan kedua tangannya ke arah sebuah batu besar yang berada di samping kirinya.

Cahaya hijau yang merupakan pukulan tenaga dalam Yuchi Jian, yang sebelumnya tertahan oleh dinding pertahanannya dibelokkan arahnya dan menghantam batu besar tersebut.

"Buuuuummmmmm......" ledakan besar terjadi, batu besar tersebut hancur menjadi butiran halus.

Yuchi Jian bagaikan ditarik oleh pukulannya sendiri, tubuhnya terjerembab membentur tanah. Dengan susah payah bangkit dan mengatur pernapasannya. Sementara Yuchi Saksena menarik kedua tangannya ke depan dada lalu berlutut dengan mata berkaca-kaca.

"Ayah...Ibu...aku akan segera membalaskan kematianmu" suaranya parau nyaris tak terdengar, bersujud di atas tanah dan menangis sejadi-jadinya.

===
Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #1