JURAGAN DANU

Pagi itu Rahiang Sanjaya sudah berkemas hendak meninggalkan rumah peribadatan milik Pandita Purusara.

"Sancaka, kemana tujuanmu selanjutnya?" tanya Pandita Purusara sambil membantu Rahiang Sanjaya menaikkan bekal ke atas punggung si Jagur.

"Aku hendak menuju ke tebeh kulon.." jawab Rahiang Sanjaya pendek.

Pandita Purusara menarik nafas panjang.

"Sancaka..walaupun kau tidak berterus terang kepadaku, tapi aku bisa merasakan bahwa tugasmu tidaklah mudah" ujar Pandita Purusara.

Rahiang Sanjaya menatap Pandita Purusara.

"Pandita...aku mohon maaf tidak berterus terang kepadamu. Tapi percayalah aku tidak mempunyai tujuan yang jahat" ujar Rahiang Sanjaya pelan.

Pandita Purusara menepuk-nepuk bahu Rahiang Sanjaya.

"Sudahlah Sancaka, yang penting kau harus selalu berhati-hati dan waspada. Perjalanan menuju Dayeuh Sundasembawa tidaklah mudah, jangan pernah percaya pada siapapun" Pandita Purusara memberikan nasihat.

Rahiang Sanjaya terkejut mendengar ucapan Pandita Purusara.

"Pandita..dari mana kau mengetahui tujuanku?" tanya Rahiang Sanjaya.

Pandita Purusara hanya tersenyum simpul.

"Sancaka...tidak penting dari mana aku tahu. Hanya saja aku menyarankan dalam perjalananmu, hindarilah untuk singgah Kabuyutan Galunggung. Lebih baik kau singgah ke Kabuyutan Ciburuy di kaki Gunung Cikuray" ujarnya menasihati Rahiang Sanjaya.

"Temuilah Sang Resi Guru Pujastawa.."sambungnya.

===

Rahiang Sanjaya memacu si Jagur meninggalkan wilayah Denuh. Sesuai petunjuk Pandita Purusara, dirinya menghindari Kabuyutan Galunggung dan memilih untuk menyusuri perbukitan di jalur selatan.

Matahari sudah condong ke barat, saat Rahiang Sanjaya sampai disebuah bukit batu dengan lereng yang sangat curam dan terjal. Hanya beberapa pohon saja yang tumbuh dan semak belukar menutupi permukaan bukit.

"Ah...sudah hampir seharian aku berkuda. Lebih baik aku beristirahat" batin Rahiang Sanjaya sambil menarik tali kekang si Jagur lalu melompat turun.

Rahiang Sanjaya mengeluarkan tempat minum lalu menenggaknya. Tiba-tiba telinganya menangkap suara derap kuda di bawah bukit. Bergegas Rahiang Sanjaya menghampiri tepian lereng. Dilihatnya di bawah lereng seekor kuda berwarna coklat melesat dengan cepat, Rahiang Sanjaya tidak dapat melihat dengan jelas penunggangnya.

"Hmmmm....kemana tujuan orang itu?" batin Rahiang Sanjaya memandangi lekat ke arah kuda yang akhirnya lenyap ditelan lebatnya hutan.

Baru saja Rahiang Sanjaya akan berbalik, terdengar derap kuda lagi mendekati.

"Ada lagi yang datang..." gumam Rahiang Sanjaya.

Tak lama berselang dua ekor kuda dengan penunggangnya melesat ke arah yang sama dengan kuda yang pertama. Rahiang Sanjaya menghela nafas panjang lalu duduk di atas sebuah batu besar yang ada di bibir lereng. Diedarkan pandangannya jauh menerawang.

"Ayahanda...sepertinya perjalananku masih sangat jauh. Dewata Agung mohon berkat dan petunjukmu" batin Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya lalu bersila dan memejamkan matanya. Dirinya mulai bersemedi.

Sinar matahari yang hangat mulai menerpa punggung Rahiang Sanjaya yang masih duduk bersila di atas batu. Pakaiannya basah oleh embun, perlahan dibuka kedua matanya dan mengakhiri semedinya.

"Dewata Agung...terima kasih atas petunjukmu" gumamnya lalu berdiri.

Setelah mengisi perutnya dengan bekal yang diberikan oleh Pandita Purusara, Rahiang Sanjaya kembali memacu si Jagur.

"Lebih baik aku ikuti arah mereka..." batin Rahiang Sanjaya sambil menuruni bukit ke arah lenyapnya tiga orang berkuda kemarin sore.

Matahari di atas kepala saat Rahiang Sanjaya tiba di sebuah telaga kecil yang airnya sangat jernih. Ditariknya tali kekang si Jagur lalu melompat turun.

"Ah...indah sekali telaga ini..." gumam Rahiang Sanjaya.

Diambilnya tempat minuman miliknya lalu menghampiri tepi telaga, diisinya sampai penuh.

"Aihhh...ikannya besar-besar, benar-benar hari baik" Rahiang Sanjaya kegirangan. Diambilnya sebuah ranting pohon dan ujungnya diraut tajam menyerupai sebuah tombak.

Dengan lincah Rahiang Sanjaya menombaki beberapa ikan, lalu dinyalakan sebuah perapian. Wangi ikan bakar tercium ke sekitar telaga. Di bawah sebuah pohon besar, lima ekor ikan bakar berukuran pergelangan tangan tandas ke perut Rahiang Sanjaya. Tiba-tiba telinganya yang tajam menangkap gemersik halus di balik pepohonan.

"Ada pengintip rupanya..." desis Rahiang Sanjaya. Dengan tenang Rahiang Sanjaya menyandarkan tubuhnya ke batang pohon besar di belakangnya. Dipejamkan matanya, berpura-pura tidur. Setelah beberapa saat ditunggu, tidak terjadi apapun, hanya bunyi gemerisik itu tetap terdengar.

"Hmmm...sepertinya bukan suara langkah manusia, lebih baik aku periksa sumber suara tersebut" batin Sanjaya sambil bangkit dari duduknya. Pelan-pelan dengan kewaspadaan, mendekati sumber suara tersebut yang berasal dari balik sebuah pohon yang sangat besar.

"Dewata Agung.....!" suara Rahiang Sanjaya tercekat.

Ternyata suara gemerisik tersebut dari sesosok mayat laki-laki tergantung di bawah dahan pohon dan berayun ke arah semak-semak. Kaki kanan laki-laki tersebut terikat tali ke atas dahan, di dadanya menancap sebuah golok menembus sampai punggung, sisa-sisa darah yang mulai mengental sesekali jatuh ke tanah.

"Kejam sekali..." desis Rahiang Sanjaya.

Diedarkan pandangan ke sekitar tempat itu.

"Sepertinya belum lama mayat ini dibunuh" gumam Rahiang Sanjaya.

"Lebih baik segera meninggalkan tempat ini...aku tidak mau terlibat urusan yang tidak jelas" batinnya sambil bersiul memanggil si Jagur, kuda kesayangannya.

Dengan cepat, Rahiang Sanjaya memacu kudanya meninggalkan telaga kecil tersebut. Niatnya untuk membersihkan diri diurungkannya, Rahiang Sanjaya khawatir urusan mayat laki-laki yang tergantung tersebut akan menghambat langkahnya menuju Dayeuh Sundasembawa.

Menjelang petang, Rahiang Sanjaya keluar dari lebatnya hutan dan menemukan sebuah jalan yang cukup lebar. Sepertinya jalan tersebut biasa dilewati pedati ataupun kuda.

"Akhirnya....semoga ada kampung di sekitar sini...tapi ke arah kiri atau kanan?" batin Rahiang Sanjaya kebingungan sambil menarik tali kekang memperlambat laju si Jagur.

Saat sedang kebingungan menentukan langkah, dari arah kiri Rahiang Sanjaya terlihat sebuah pedati ditarik seekor kerbau berjalan lambat ke arahnya.

"Lebih baik aku bertanya ke pemilik pedati tersebut" gumam Rahiang Sanjaya sambil mengarahkan si Jagur menyambut ke arah datangnya pedati. Di atas pedati tampak seorang laki-laki tua berpakaian lusuh dengan caping bambu menutupi kepalanya. Sementara di bagian belakang pedati tersebut terdapat tumpukkan jerami dan rumput.

"Mamang...mohon berhenti sebentar, aku hendak bertanya" ujar Rahiang Sanjaya sambil menghentikan laju kudanya di samping pedati tersebut. Laki-laki tua itu menarik tali kekang kerbaunya menghentikan laju pedati. Diamatinya Rahiang Sanjaya dengan seksama.

"Anak muda...apa yang hendak kau tanyakan?" ujarnya bertanya.

"Mamang..aku hendak bertanya arah menuju kampung" jawab Rahiang Sanjaya.

Laki-laki tua itu sekali lagi mengamati Rahiang Sanjaya dengan tatapan curiga.

"Anak muda...di belakangku adalah kampung Kutamaneuh..tapi lebih baik kau tidak pergi ke sana" ujar laki-laki tua itu memperingatkan Rahiang Sanjaya.

"Kenapa aku tidak boleh ke sana?" Rahiang Sanjaya mengernyitkan dahinya.

Laki-laki tua itu menarik nafas panjang.

"Huaaacchhhimmm" tiba-tiba dari dalam gundukan jerami dan rumput tersebut terdengar suara bersin.

Laki-laki tua itu mendadak panik, dengan cepat dihelanya kerbau penarik pedatinya untuk berjalan lagi.

"Maaf anak muda, aku harus segera pergi" wajah laki-laki itu sangat ketakutan.

Rahiang Sanjaya terpaku bingung.

"Sepertinya tumpukan jerami dan rumput itu hanya untuk menutupi sesuatu..ada apa laki-laki itu sepertinya sangat ketakutan" batin Rahiang Sanjaya.

Setelah berfikir sejenak, akhirnya Rahiang Sanjaya memutuskan untuk meneruskan langkahnya menuju kampung Kutamaneuh.

Baca juga : Rahiang Sanjaya : Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #15 ===

Kedai yang terletak di sebuah persimpangan jalan menuju kampung Kutamaneuh cukup ramai oleh pengunjung. Beberapa pedagang yang berjualan dari kampung ke kampung terlihat duduk-duduk melepas rasa lapar dan dahaga. Mereka sesekali berbincang dengan suara yang keras lalu diakhiri dengan gelak tawa. Ki Digul sang pemilik kedai terlihat sibuk melayani pesanan pembeli, sementara Nyi Samarah mempersiapkan makanan yang dipesan.

Tiba-tiba keriuhan di kedai tersebut mendadak senyap, ketika tiga laki-laki yang menunggangi kuda berhenti di depan kedai. Ki Digul wajahnya mendadak pucat sambil melirik ke arah Nyi Samarah yang kelihatan panik. Para pengunjung saling berbisik sambil cepat-cepat menghabiskan makanan dan bergegas pergi setelah menyerahkan pembayaran ke Nyi Samarah.

Ketiga laki-laki tersebut sepertinya dipimpin oleh seseorang bertubuh tinggi besar dengan muka kasar brewok. Sementara kedua laki-laki lainnya berperawakan sedang.

"Ki Digul...apa kabarmu?" tanya laki-laki bertubuh besar sambil duduk di atas sebuah kursi di agian pojok kedai.

"Euh...euh..kabar kami baik...Juragan Danu" jawab Ki Digul sambil menjura ke arah laki-laki bernama Juragan Danu tersebut.

"Kedaimu juga kelihatan ramai sekali...tentu kau tidak lupa akan kewajibanmu" ujar Juragan Danu menyindir.

"Tentu..tentu, aku selalu menyetor upeti sesuai yang Juragan Danu minta" jawab Ki Digul parau.

"Bagus...sekarang kau siapkan makanan untuk kami bertiga. Aku sengaja datang ke sini untuk menikmati kelezatan masakan Nyi Samarah" ujar Juragan Danu.

"Ki Digul...apakah kau melihat Ki Sudrah dan anaknya melewati kedaimu?" tanya salah satu dari anak buah Juragan Danu.

Wajah Ki Digul pucat pasi, keringat dingin mulai terlihat di keningnya.

"Kenapa malah bengong? Jawab pertanyaanku!" bentak laki-laki tersebut.

"I..i..iya...aku melihatnya, tapi hanya Ki Sudrah saja dengan pedatinya..aku tidak melihat ada anaknya" jawab Ki Digul tergagap.

"Hmmm...sepertinya Ki Sudrah melarikan diri. Jadaka, Ganda..kita bereskan urusan ini secepatnya. Aku sudah tidak tahan lagi...hehehe.." ujar Juragan Danu memerintahkan kedua anak buahnyasambil terkekeh.

"Baik..Juragan Danu, apakah kami harus berangkat sekarang?" tanya Jadaka sambil berdiri diikuti oleh Ganda.

"Tidak perlu..kita makan saja dulu, Ki Sudrah dengan pedatinya tidak akan bisa lari jauh" ujar Juragan Danu.

Setelah menyantap makanan yang disajikan oleh Ki Digul dan Nyi Samarah, Juragan Danu dan kedua anak buahnya bergegas meninggalkan kedai tersebut. Di pintu masuk kedai, mereka berpapasan dengan Rahiang Sanjaya yang baru saja sampai di kedai tersebut.

Tanpa mempedulikan ketiganya, Rahiang Sanjaya duduk di salah satu kursi yang ada di kedai tersebut.

Ki Digul segera menghampirinya sambil menawarkannya makanan.

"Agan...sepertinya kau baru ke sini?" tanyanya ramah.

"Ah..iya Mamang, aku minta nasi dan angeun (sayur) saja" jawab Rahiang Sanjaya sengaja hanya memesan makanan yang sederhana karena benggolnya tidaklah banyak.

Setelah menyajikan makanan untuk Rahiang Sanjaya, Ki Digul menghampiri Nyi Samarah sambil berkata dengan suara yang pelan takut didengar orang lain.

"Nyi...kasihan sekali nasib Ki Sudrah dan anaknya" ujar Ki Digul.

"Iya..Juragan Danu dari dulu memang tidak pernah berubah sifat mata keranjangnya" Nyi Samarah menimpali.

"Aku khawatir Juragan Danu akan membunuh Ki Sudrah" sambungnya sambil tertunduk lesu.

Rahiang Sanjaya yang diam-diam menguping pembicaraan Ki Digul dan Nyi Samarah, segera menyelesaikan makanannya. Lalu dipanggilnya Ki Digul.

"Mamang...tolong ke sini sebentar" ujarnya.

Ki Digul bergegas menghampiri Rahiang Sanjaya lalu berdiri di sampingnya.

"Ya Agan..apakah mau menambah makanan lagi?" tanyanya ramah.

"Tidak Mamang...aku mencuri dengar pembicaraanmu, tolong jelaskan ada apa sebenarnya?" tanya Rahiang Sanjaya pelan.

Ki Digul tampak was-was mendengar pertanyaan tersebut. Ditariknya nafas dalam-dalam.

"Aduuuhhh...aku tidak berani" jawabnya memelas.

"Jangan takut..aku tidak akan membocorkan pembicaraan kita kepada siapapun" Rahiang Sanjaya meyakinkan Ki Digul.

Ki Digul memandang Nyi Samarah seolah meminta persetujuan.

"Juragan Danu adalah kepala kampung Kutamaneuh, orang yang paling kaya dan ditakuti" ujar Ki Digul pelan.

"Dia hendak memperistri putri Ki Sudrah, namun mereka menolaknya" sambungnya sambil celingukan takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.

Rahiang Sanjaya mengerutkan dahinya.

"Kenapa mereka menolaknya? Bukankah bagus bisa dinikahi orang kaya?" tanyanya penasaran.

Ki Digul kembali celingak-celinguk, keringat mengucur dari dahinya. Kelihatan sangat ketakutan.

"Juragan Danu..orangnya mata keranjang, setiap ada perempuan cantik pasti dipaksa untuk menjadi istrinya. Setelah bosan maka perempuan-perempuan itu akan diserahkan kepada begundal-begundalnya" ujar Ki Digul, walaupun suaranya pelan tapi jelas ada nada kebencian yang tertangkap.

"Bajingan..." desis Rahiang Sanjaya.

"Sekarang Ki Sudrah kemana?" tanya Rahiang Sanjaya.

"Aku tidak tahu..tapi tadi siang Ki Sudrah lewat di depan warung bersama pedatinya" jawab Ki Digul.

"Pedati....jangan-jangan....laki-laki tua tadi" gumam Rahiang Sanjaya.

"Apakah pedatinya menuju ke arah sana?" tanya Rahiang Sanjaya sambil menunjuk ke arah perginya perginya pedati yang ditemuinya tadi.

"Betul.." jawab Ki Digul pelan.

===

Ki Sudrah berkali-kali memecut kerbaunya agar berjalan lebih cepat, namun sepertinya percuma saja. Kerbaunya sudah sangat kelelahan, mulutnya sudah berbusa dan langkahnya tertatih.

"Celaka..." batin Ki Sudrah sambil melompat turun dari atas pedati.

"Anakku..cepat keluar" ujarnya pelan.

Tak lama dari tumpukkan jerami dan rumput, keluar perempuan yang masih sangat muda. Kulitnya berwarna sawo matang namun sangat bersih terawat. Tubuhnya walaupun tidak terlalu tinggi namun sangat padat berisi.

"Ayahanda, apa yang terjadi?" perempuan muda itu bertanya sambil mengangkat kainnya lalu melompat turun dari pedati.

"Daniya...sepertinya kita harus berjalan kaki. Kerbau kita sudah kehabisan tenaga" ujar Ki Sudrah kepada anaknya.

Belum kering bibir Ki Sudrah, di kejauhan terlihat tiga ekor kuda yang melaju kencang ke arah mereka.

"Dewata Agung...Dewata Agung.." bibir Ki Sudrah bergetar meliha kedatangannya.

Sementara wajah Daniya pucat pasi, badannya menggigil ketakutan.

Ketiga kuda itu berhenti tidak jauh dari tempat Ki Sudrah dan Daniya. Penunggangnya ternyata Juragan Danu bersama kedua anak buahnya. Ketiganya lalu melompat turun dan berjalan mendekati Ki Sudrah.

"Ha..ha..Ki Sudrah, calon ayah mertuaku...kenapa kalian melarikan diri?" ujar Juragan Danu tergelak.

"Ampun..juragan, kami tidak melarikan diri. Kami akan mengunjungi saudara di kampung sebelah" jawab Ki Sudrah gugup.

"Kau boleh pergi kemanapun kau mau...tapi anakmu harus ikut denganku.." ujar Juragan Danu dingin.

"Ampun..juragan, aku tidak ingin merepotkanmu...biarlah anakku ikut bersamaku" Ki Sudrah makin gugup.

"Ha..ha..Ki Sudrah, aku akan menjemput calon istriku itu..kau boleh melanjutkan perjalanan" ujar Juragan Danu sambil menunjuk ke arah Daniya.

Mendengar hal tersebut, Ki Sudrah menjatuhkan tubuhnya berlutut di hadapan Juragan Danu.

"Ampun..juragan, aku mohon jangan bawa anakku..aku mohon" ujar Ki Sudrah sambil beberapa kali bersujud.

Namun seolah tidak peduli, Juragan Danu melirik ke anak buahnya.

"Jadaka...Ganda...kalian tangkap perempuan calon istriku itu. Naikkan ke atas kuda milikku" perintahnya.

Mendengar perintah tuannya, Jadaka dan Ganda menghampiri Daniya yang menggigil ketakutan.

"Ayo geulis..kalian ikut dengan kami, Juragan Danu tentu akan memberikan kesenangan kepadamu" ujar Jadaka.

"Daniya cepat lari..lari" teriak Ki Sudrah sambil  berdiri dan berlari menghadang langkah Jadaka dan Ganda.

Namun seolah kaku, Daniya hanya bisa menangis.

"Tidak Ayah..tidak mungkin aku meninggalkanmu" ujar Daniya sambil menangis sesegukan.

Jadaka dan Ganda yang langkahnya dihalangi oleh Ki Sudrah, memalingkan wajahnya ke arah Juragan Danu seolah meminta pendapat.

"Beri pelajaran orang tua tidak tahu diri itu..jangan ragu" perintahnya.

Jadaka memegang bahu Ki Sudrah lalu mendorongnya ke belakang.

"Buuukkk...heukk..." tubuh tua itu terbanting ke tanah.

Daniya menjerit melihat ayahnya dianiaya seperti itu.

Ganda tidak mau tinggal diam, kaki kanannya melayang mengincar kepala Ki Sudrah yang masih terduduk kesakitan.

"Buuuukkkk.....akhhhh" kaki Ganda menghajar telinga kanan Ki Sudrah.

Tubuh Ki Sudrah terlempar sambil melolong kesakitan. Daniya menjerit sambil memburu ke arah Ki Sudrah.

"Ayaaaaahhhhh....!"

"Tolong hentikan...jangan siksa lagi ayah...aku mohon" Daniya menghiba sambil memeluk ayahnya yang terbaring lemah tidak berdaya.

"Ha...ha...ha...aku akan melepaskan ayahmu, asal kau ikut denganku kembali ke kampung" Juragan Danu terbahak.

Daniya memandang ayahnya dengan mata berurai air mata, seolah meminta persetujuan untuk menuruti permintaan Juragan Danu. Ki Sudrah menggenggam tangan putri kesayangannya.

"Tidak anakku...jangan pernah berfikir untuk merusak hidupmu. Aku rela mati..." ujar Ki Sudrah lirih.

"Sekarang kau segera berlari menyelamatkan diri...aku akan menghadang mereka" sambungnya sambil memaksakan untuk berdiri.

"Tua bangka...hebat juga nyalimu, tapi aku tidak akan segan-segan membunuhmu" hardik Jadaka sambil melayangan pukulan ke dada Ki Sudrah.

"Dukkkk..." tiba-tiba Jadaka terpental ke belakang, mukanya meringis kesakitan sambil memegangi tangannya.

Di depan Ki Digul berdiri sesosok perempuan cantik berpakaian warna kuning muda. Perempuan itu menggunakan baju seperti kebaya dengan potongan leher yang rendah sementara bawahannya menggunaan celana singset, sewarna dengan bajunya. Usianya sekitar menjelang empatpuluhan tahun tetapi badannya masih sangat kencang terawat.

Juragan Danu terbelalak melihat perempuan cantik tersebut, naluri mata keranjangnya meronta. Sementara Jadaka meradang karena dengan mudah dipermalukan oleh perempuan itu.

"Perempuan jalang...berani-beraninya kau ikut campur!!" hardiknya kasar.

Perempuan itu seolah tidak mendengar kata-kata Jadaka. Dia berpaling ke arah Ki Sudrah dan Daniya.

"Amang..kau mundurlah, lindungi putri cantikmu" ujarnya pelan, meminta Ki Digul menjauh.

"Terima kasih Nyai..terima kasih..." ujar Ki Sudrah sembari bergegas menghampiri Daniya.

Setelah Ki Sudrah dan Daniya menjauh, perempuan itu memalingkan wajahnya dan memandang nyalang ke arah Jadaka.

"Kalian ini memang tidak lebih dari anjing hutan...beraninya mengganggu orang tua dan perempuan" dengusnya dingin.

Juragan Danu bergegas maju dan mendorong Jadaka dan Ganda mundur.

"Kalian mundur dan awasi Ki Sudrah dan Daniya jangan sampai kabur...kucing manis ini biar aku bereskan" ujarnya kepada Jadaka dan Ganda.

Juragan Danu melangka menghampiri perempuan itu.

"Aih..aih..Nyai...aku suka sekali..perempuan kolot kalapa sepertimu...minyakmu pasti kental ..haha.. " ujarnya kurang ajar sambil bibirnya menyan-menyon menyebalkan.

Perempuan itu tersenyum aneh, matanya tajam menggidikkan.

"Tubuhmu tinggi dan tegap..tapi sayang...sepertinya burungmu hanya sebesar piit (burung pipit) mana bisa menyenangkan aku" ujarnya sambil matanya mengerling ke celana Juragan Danu.

Juragan Danu tergelak, merasa mendapat angin baik dari perempuan tersebut.

"Ha..ha..Nyai, kau harus merasakan dulu burungku..aku jamin kau akan ketagihan.." juragan Danu kembali tergelak.

Perempuan itu menyeringai, lalu dengan sebat menerjang ke arah Juragan Danu.

"Aku akan buktikan kalau burungmu tidak lebih besar daripada piit...hi..hi..." pekik perempuan itu terkikik. Tangan kanannya yang halus mengepal menyasar dagu Juragan Danu.

Juragan Danu melengak, tidak menyangka perempuan itu akan menyerangnya dengan cepat. Dengan cepat dia melompat mundur menhindari serangan namun perempuan itu rupanya tidak main-main. Kaki dan tangannya dengan gesit mengarah ke arah Juragan Danu.

Perkelahian sengit pun pecah. Juragan Danu yang sebelumnya menganggap enteng, harus berjibaku menghindari serangan perempuan itu. Berkali-kali dia harus menahan nafas karena dagu dan dadanya nyaris jadi sasaran tangan halus perempuan itu. Ternyata nama Juragan Danu bukan nama kosong, ilmu silatnya mampu menandingi kecepatan serangan perempuan itu.

Sementara itu, Rahiang Sanjaya yang berniat menyusul pedati Ki Sudrah akhirnya tiba di tempat tersebut. Dilihatnya pertempuran yang cukup sengit, namun dia tidak bisa melihatnya dengan jelas karena gerakan mereka yang sangat cepat. Di bagian lain dilihatnya seorang laki-laki tua yang dipegangi oleh seorang perempuan muda cantik sedang mengawasi perkelahian itu dengan cemas. Tidak jauh dari situ, dua orang laki-laki yang pernah ditemuinya di pintu kedai terlihat berjaga-jaga.

"Hmmm...sepertinya mereka adalah Ki Sudrah dan anaknya. Tapi siapa yang sedang berkelahi?" batin Rahiang Sanjaya sambil melompat turun dari punggung si Jagur.

Ki Sudrah yang melihat kedatangan Rahiang Sanjaya, bertambah cemas karena disangkanya yang datang adalah anak buahna Juragan Danu. Sementara Jadaka dan Ganda dengan tajam mengawasi Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya dengan tenang duduk di atas sebuah batu besar sambil mengawasi jalannya perkelahian tersebut. Perkelahian sudah berjalan lebih dari limabelas jurus belum ada tanda-tanda akan ada yang akan kalah. Jurus ketigapuluh, Juragan Danu melompat mundur ke belakang.

"Hi...hi..kenapa kau lari? Aku belum melihat burung piitmu" perempuan itu terkekeh melihat Juragan Danu mundur.

"Pwah Kenanga....???" desis Rahiang Sanjaya saat melihat perempuan itu. Digosok-gosoknya kedua matanya seolah tidak percaya dengan yang dilihatnya. (tentang Pwah Kenanga baca episode #2)

"Ha..ha...Nyai, lebih baik jangan terlalu membuang tenaga. Aku akan memperlihatkan burung galudra milikku di tempat tidur" ujar Juragan Danu terbahak.

"Jadaka, Ganda...cepat tangkap kucing manis ini. Aku sudah tidak tahan ingin mengajaknya ke tempat tidur" sambungnya memerintahkan Jadaka dan Ganda menangkap Pwah Kenanga.

Mata Pwah Kenanga sekilas melirik ke arah Rahiang Sanjaya yang sedang duduk di atas sebuah batu. Hatinya berdesir halus.

"Raden...tidak sangka aku akan bertemu denganmu di sini" batin Pwah Kenanga. Seulas senyum paling manis dilemparkan ke arah Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya melengak, dadanya bergetar, membuncah dengan rasa rindu.

"Tidak salah lagi...Pwah Kenanga..." desis Rahiang Sanjaya membalas senyum Pwah Kenanga.

Juragan Danu yang melihat Pwah Kenanga berbalas senyum dengan anak muda yang baru dilihatnya, hatinya muntab.

"Jadaka..Ganda..tunggu apa lagi? Tangkap perempuan itu" hardiknya kepada kedua anak buahnya.

Jadaka dan Ganda dengan sebat menerjang ke arah Pwah Kenanga.

Rahiang Sanjaya yang tidak tahan melihat Pwah Kenanga di serang begitu rupa, menerjang menghalangi.

"Nyimas..kau mundurlah, biar aku selesaikan mereka" teriaknya ke Pwah Kenanga.

Pwah Kenanga melompat mundur memberikan tempat kepada Rahiang Sanjaya.

"Hati-hati Raden..." ujarnya pelan sambil mengedipkan mata kirinya.

"Bukk...Bukkk..." serangan Jadaka dan Ganda menghantam dada Rahiang Sanjaya.

Jadaka dan Ganda terjajar ke belakang sambil menahan sakit, tangan mereka seolah menghantam batu karang. Sementara Rahiang Sanjaya seolah tidak merasakan apa-apa.

Juragan Danu melengak melihat kejadian tersebut, hatinya mulai menciut. Menghadapi Pwah Kenanga saja, dirinya sudah kesulitan apalagi dengan datangnya anak muda yang ilmunya jelas sangat tinggi.

"Keparat...kenapa urusan menjadi  ruwet seperti ini" batinnya.

"Jadaka, Ganda...jangan kasih hati, bunuh saja anak muda pengganggu itu" perintahnya kepada kedua anak buahnya.

Jadaka dan Ganda segera menghunus golok masing-masing.

"Anak muda...kau akan menyesal telah mencampuri urusan kami" bentak Ganda sengit.

"Ciiiiiaaatttt...ciaaatttt...." hampir berbarengan Ganda Dan Jadaka menerjang, goloknya menyambar ke arah Rahiang Sanjaya.

Dengan tenang Rahiang Sanjaya menggeser tubuhnya.

"Trang..trang..." terdengar suara benturan senjata tajam, entah kapan Rahiang Sanjaya mencabut keris panjangnya.

Tangan Jadaka dan Ganda terasa kesemutan, menandakan bahwa tenaga dalam Rahiang Sanjaya berada jauh di atas mereka berdua. Nyali keduanya mulai lumer, tapi rasa takut kepada Juragan Danu telah membuat mereka gelap mata.

"Keparat..rasakan ini" bentak Ganda diikuti oleh Jadaka menerjang kembali ke arah Rahiang Sanjaya.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan, Juragan Danu mulai mencari cara untuk melarikan diri. Pelan-pelan dirinya melangkah mendekati mundur, dengan sebat melompat ke atas punggung kudanya lalu memacunya secepat mungkin.

Pwah Kenanga yang melihat hal tersebut, tidak tinggal diam. Dia mencabut pisau kecil dari pinggangnya, sekali lempar, pisau itu meluncur deras mengejar punggung Juragan Danu.

"Seeeeetttttt....cleb...aaaaakhhh" Juragan Danu melolong setinggi langit lalu terjengkang dari punggung kudanya dengan pisau menancap di punggung tembus ke dadanya.

Sementara perkelahian antara Rahiang Sanjaya melawan Jadaka dan Ganda tidak berlangsung lama. 

"Trang...trang..." golok keduanya buntung dibabat oleh keris panjang milik Rahiang Sanjaya.

Jandaka dan Ganda saling pandang, nyalinya benar-benar terbang. Apalagi saat melihat Juragan Danu sudah terkapar dengan mata melotot. Bagaikan di komando keduanya berbalik lalu lari tunggang langgang ke arah hutan.

"Bajingan pengecut...!" dengus Pwah Kenanga, dua buah pisau kecil melesat dari tangannya mengejar punggung Jadaka dan Ganda.

"Seeeeetttttt....cleb...aaaaakhhh" keduanya bernasib sama dengan Juragan Danu.

Rahiang Sanjaya hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu menyarungkan kembali keris panjangnya.

Ki Sudrah dan Daniya bergegas memburu ke arah Rahiang Sanjaya lalu berlutut di hadapannya.

"Juragan..terima kasih atas pertolonganmu, kami berdua sangat berterima kasih" ujar Ki Sudrah lalu bersujud diikuti oleh Daniya.

Rahiang Sanjaya merasa kikuk mendapat perlakuan seperti itu, ditariknya bahu Ki Sudrah.

"Mamang..tidak perlu seperti ini, kalian berdirilah" ujarnya pelan.

Pwah Kenanga segera menghampiri mereka bertiga lalu berdiridi samping Rahiang Sanjaya.

"Nyai...kami juga menghaturkan terima kasih atas pertolonganmu" ujar Ki Sudrah lalu menjura ke arah Pwah Kenanga. Pwah Kenanga hanya tersenyum.

Mata Rahiang Sanjaya sekilas mengerling ke arah Daniya.

"Hmm..wajahnya sangat manis dan tubuhnya bahenol sekali, pantas saja Juragan Danu tergila-gila" batin Rahiang Sanjaya.

Mendapat kerlingan dari pemuda gagah dan tampan seperti Rahiang Sanjaya, Daniya tersipu malu lalu menundukkan wajahnya yang bersemu merah. Namun walaupun tersipu malu, Daniya seolah dengan sengaja membusungkan dadanya yang menggunung montok.

Pwah Kenanga yang melihat kejadian itu, dadanya bergetar cemburu. Dengan cepat tangannya mencubit pinggang Rahiang Sanjaya.

"Aduuuuhh..." Rahiang Sanjaya terlonjak, wajahnya memerah dadu tertangkap basah oleh Pwah Kenanga sedang melirik Daniya.

Dengan cepat Rahiang Sanjaya menguasai diri.

"Ki Sudrah...aku sudah mengetahui tentang ceritamu, sekarang Juragan Danu dan begundalnya sudah mati. Kau bisa kembali ke kampung Kutamaneuh" ujar Rahiang Sanjaya.

"Terima kasih Juragan...kami berdua tidak akan kembali ke Kutamaneuh. Kami akan pindah ke kampung sebelah...di sana ada kerabat kami" ujar Ki Sudrah pelan.

"Kalau Juragan mau..kita bersama-sama ke sana, supaya kami bisa menjamu kalian berdua" sambungnya lagi.

Daniya yang sebelumnya hanya diam akhirnya membuka suara.

"Betul Juragan...kalian berdua ikut kami saja" ujar Daniya, walaupun ucapannya ditunjukkan untuk Rahiang Sanjaya dan Pwah Kenanga, tetapi mata indahnya lekat memandang ke pemuda gagah itu.

Pwah Kenang merengut kesal, sementara Rahiang Sanjaya sesaat salah tingkah.

"Mamang..lebih baik kalian lanjutkan saja perjalanan, mumpung belum gelap" jawab Rahiang Sanjaya.

"Raden ikut saja dengan mereka...supaya perempuan cantik ini ada yang menjaga" ujar Pwah Kenanga sambil matanya mendelik kepada Rahiang Sanjaya.

"Tidak..tidak..aku tidak bisa ikut...aku harus segera ke tempat lain" ujar Rahiang Sanjaya.

Akhirnya Ki Sudrah dan Daniya melanjutkan perjalanannya meninggalkan Rahiang Sanjaya dan Pwah Kenanga. Keduanya berdiri dengan canggung, walaupun di dada mereka membuncah sejuta rasa.

"Kenapa Raden tidak ikut dengan mereka? Perempuan cantik bahenol itu akan senang jika ditemani oleh Raden" ujar Pwah Kenanga ketus penuh rasa cemburu.

"Tidak...Nyimas, aku harus segera menuju ke Kulon. Tidak bisa membuang-buang waktu lagi" jawab Rahiang Sanjaya kikuk.

"Oh...begitu, kalau begitu silakan Raden meneruskan perjalanan" Pwah Kenanga semakin ketus.

Rahiang Sanjaya semakin salah tingkah.

"Bukan..bukan..begitu Nyimas...aku..." Rahiang Sanjaya tergagap. Entah mengapa dirinya begitu gugup di hadapan Pwah Kenanga.

Pwah Kenanga seolah tidak mempedulikan Rahiang Sanjaya, dirinya membalikkan badan lalu melangkah menuju ke arah kampung Kutamaneuh meninggalkan Rahiang Sanjaya yang masih terpaku.

"Dewata Agung.....apa yang harus aku lakukan" batin Rahiang Sanjaya bimbang. Matanya lekat memandangi punggung Pwah Kenanga, pinggulnya yang membulat seolah bergoyang saat dirinya berjalan.

Rahiang Sanjaya panas dingin!

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #8