PEMUDA ASING BERSENJATA PEDANG



Matahari menunjukkan cahaya emasnya dari ufuk timur, Rahiang Sanjaya sudah memacu si Jagur menelusuri jalan setapak yang membelah hutan perbukitan yang cukup lebat menuju ke arah kulon. Sesuai petunjuk Pandita Purusara.

"Seharusnya jaraknya tidak terlalu jauh..." batin Rahiang Sanjaya.  Matahari mulai tinggi tapi Rahiang Sanjaya tidak menemukan Gerbang Ketulusan yang disebutkan oleh Padita Purusara.

"Huuuhh...aneh, jalan setapak ini putus begitu saja" gumam Rahiang Sanjaya keheranan melihat jalan setapak yang dilaluinya tiba-tiba putus didepan deretan pohon-pohon besar yang sangat rapat.

Rahiang Sanjaya melompat turun dari punggung si Jagur lalu mengamati letak posisi matahari.

"Hmmm....sebenarnya arahnya sudah benar, aku menuju ke kulon seperti petunjuk Pandita Purusara" keluhnya kesal.

"Dewata Agung...ujian apalagi ini?" Rahiang Sanjaya menyenderkan badannya ke sebuah pohon yang sangat besar.

Tiba-tiba Rahiang Sanjaya menepuk dahinya sendiri.

"Bodoh..bodohnya aku, kenapa aku tidak lihat dari atas pohon saja" batin Rahiang Sanjaya merutuki kebodohannya.

Lalu ditepuk-tepuknya leher si Jagur yang sepertinya mulai kelelahan.

"Kau cari makan saja dulu..aku akan mencari jalan dari atas pohon" ujarnya pada si Jagur yang seolah mengerti ucapan tuannya.

Sekali genjot, tubuh Rahiang Sanjaya mencelat ke atas dahan sebuah pohon yang cukup tinggi lalu kembali melayang ke dahan pohon lain yang paling tinggi.

Diedarkannya pandangan ke seluruh lokasi hutan tersebut. Di sebelah kulon terlihat sebuah lembah tidak jauh dari pohon yang diinjaknya. Di tengah-tengah lembah tersebut terlihat mengalir sebuah sungai yang sangat indah dengan batu-batu besar dan airnya yang sangat jernih mengalir jauh menuruni lereng. Di kejauhan, di kulon sungai itu terlihat ada sebuah talaga yang cukup besar dengan beberapa bangunan menyerupai rumah yang cukup megah berdiri di sekitar talaga.

"Ah...itu rupanya yang di sebut Kabuyutan Denuh" batin Rahiang Sanjaya sambil menatap tajam ke arah talaga.

"Seharusnya sebelum matahari terbenam, aku sudah bisa sampai ke Kabuyutan Denuh" gumam Rahiang Sanjaya lalu melayang turun.

Rahiang Sanjaya bersuit beberapa kali memanggil kuda kesayangannya, si Jagur.

Dengan susah payah Rahiang Sanjaya menerobos lebatnya hutan tersebut untuk menuju lembah yang dilihatnya dari atas pohon. Lebatnya dedaunan dan akar pohon berukuran raksasa serta kontur tanah yang menurun membuat Rahiang Sanjaya kesulitan berjalan dengan cepat apalagi dengan membawa si Jagur.

Matahari mulai condong ke barat, saat Rahiang Sanjaya sampai di tepi sungai yang cukup lebar. Arusnya cukup deras mengaliri sungai yang berbatu tersebut. Daun-daun belukar yang condong menutupi hampir sebagian badan sungai. Tidak akan mudah untuk menyeberanginya.

"Tolong...tolong..." tiba-tiba telinga Rahiang Sanjaya menangkap suara rintihan yang minta tolong. Dimiringkan kepalanya mencari arah suara tersebut.

"Siapa yang minta tolong di tempat seperti ini? Suaranya dari arah hilir sungai...jangan-jangan ririwa atau dedemit" batin Rahiang Sanjaya.

Ditepuknya leher si Jagur, seolah mengerti maksud tuannya, kuda gagah berbulu hitam itu berlalu meninggalkan Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya bergegas mengikuti arah laju sungai tersebut, suara orang minta tolong itu semakin jelas. Tak lama kemudian terlihat seorang laki-laki tua tergolek di atas batu besar di tengah-tengah sungai dengan badan berlumuran darah.

"Dewata Agung..apa yang terjadi kepada laki-laki tua itu?" batin Rahiang Sanjaya.

Disibakkannya daun-daun yang menutupi pinggir sungai. Dengan sebat Rahiang Sanjaya melesat melompat ke atas batu besar tersebut. Laki-laki tersebut tampak kaget melihat tiba-tiba ada bayangan yang mendatanginya. Tak lama kekagetannya berubah menjadi kegembiraan begitu melihat Rahiang Sanjaya yang datang.

"Dewata Agung..akhirnya ada orang yang menolongku" gumam laki-laki tua tersebut.

Rahiang Sanjaya mengusap muka melihat kondisi orang tua tersebut, bajunya robek dibeberapa bagian dan beberapa luka yang masih mengucurkan darah.

Rahiang Sanjaya lalu berjongkok dan memegang lengan laki-laki tersebut.

"Aliran darahnya mulai melemah...aku harus segera menolongnya" batin Rahiang Sanjaya.

"Mamang...apa yang terjadi padamu?" tanya Rahiang Sanjaya pelan.

"Anak muda...aku terbawa..." ucapan laki-laki tua itu terputus.

"Ah..kasihan sekali" gumam Rahiang Sanjaya melihat laki-laki tua tersebut jatuh pingsan. Sekali angkat tubuh tua itu sudah tersampir di bahunya lalu melompat kembali ke tepian sungai.

Dibawanya tubuh laki-laki tua tersebut ke tanah yang terbuka lalu diletakkan dengan sangat hati-hati.

"Aku harus mencari daun antanan untuk mengobati luka-lukanya" gumam Rahiang Sanjaya sambil berlalu mencari pohon antanan diantara semak-semak di tepian sungai. Setelah mendapat duan antanan yang dicarinya, Rahiang Sanjaya kembali menghampiri laki-laki tua yang masih tergolek tidak sadarkan diri.

Rahiang Sanjaya berlutut di samping laki-laki tua tersebut lalu mulai ngabeuweung daun antanan yang dambilnya dari tepian sungai. Setelah dirasa cukup lembut, daun antanan yang sudah dibeuweung tersebut ditempelkan di atas luka-luka yang ada di tubuh laki-laki tua tersebut.

"Euhh..euuhhh..." terdengar laki-laki tua itu melenguh lalu membuka matanya.

"Terima kasih anak muda...kau sudah menyelamatkan nyawaku" ujar laki-laki tua itu pelan, nyaris tak terdengar.

"Jangan banyak bergerak dulu..Mamang masih sangat lemah. Aku akan mencari makanan untukmu" ujar Rahiang Sanjaya.

Laki-laki tua itu mengangguk lemah lalu memejamkan matanya kembali. Rahiang Sanjaya berlalu masuk ke dalam hutan bertujuan untuk mencari buah-buahan yang bisa di makan.

Tak lama berselang Rahiang Sanjaya kembali membawa bungkusan daun jati yang dianyam berisi buah cecendetan, namnam dan manggis. Diletakkannya buah-buahan tersebut di samping laki-laki tua yang masih terbaring lemah.

"Mamang...kau makan dulu buah-buahan ini untuk mengisi perut dan mengembalikan tenagamu" ujarnya pelan sambil membantu laki-laki tua itu untuk duduk.

"Terima kasih anak muda...kau sangat baik sekali" laki-laki itu berkata dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Lalu dengan lahap menyantap buah-buahan yang dibawa oleh Rahiang Sanjaya. Sepertinya laki-laki tua itu benar-benar lapar, tidak lama buah-buahan itu tandas berpindah kedalam perutnya.

"Ah...entah bagaimana aku membalas semua kebaikanmu anak muda" laki-laki itu terlihat lebih segar. Mukanya yang pucat sudah kembali kelihatan memerah.

"Sudahlah Mamang...jangan sungkan, aku hanya kebetulan lewat" ujar Rahiang Sanjaya sambil duduk di hadapan laki-laki tua tersebut.

"Tapi sebenarnya apa yang terjadi?" sambungnya.

"Huuuuhhhh...namaku Ki Lahuta, kemarin yang lalu aku bermaksud memancing ikan di hulu sungai namun tiba-tiba jatuh terpeleset dan tidak sadarkan diri" laki-laki tua itu menghela nafas sebelum aakhirnya memerkenalkan nama dan menceritakan kejadian yang menimpanya.

"Ohhhh..." Rahiang Sanjaya mengangguk-anggukan kepalanya.

"Ki Lahuta....nama yang aneh" batin Rahiang Sanjaya.

"Kau sendiri siapa anak muda? Berkeliaran sendiri di tengah hutan seperti ini?" Ki Lahuta bertanya sambil mengusap betisnya yang luka.

"Namaku Sancaka..maksud dan tujuanku hendak menuju ke Kabuyutan Denuh" jawab Rahiang Sanjaya.

Baca juga : Rahiang Sanjaya : Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #13

Ki Lahuta mengangguk-anggukan kepalanya sambil mengusap-usap tenggorokannya. Rahiang Sanjaya melengak lalu tergelak.

"Ha..ha..ha..maafkan aku, tentu kau kehausan. Sebentar aku mencari buah kelapa" ujar Rahiang Sanjaya lalu bangkit dari duduknya dan berlalu kembali masuk ke hutan.

Ki Lahuta hanya tersenyum sambil mengawasi punggung Rahiang Sanjaya yang masuk kembali ke dalam hutan.

"Anak baik...anak baik..." gumam Ki Lahuta.

Tak lama Rahiang Sanjaya datang sambil menuntun si Jagur yang dipunggungnya terlihat satu manggar kelapa yang masih muda. Sementara tangan kanan Rahiang Sanjaya membawa daun sirih yang cukup banyak.

Diturunkannya satu manggar kelapa tersebut lalu diletakkannya di tanah bersama dengan daun sirih. Setelah itu kembali mengambil buntelan dari punggung si Jagur dan mengeluarkan satu pasang pakaian bersih miliknya.

"Ki Lahuta, gantilah pakaianmu sembari menunggu aku mengupas kelapa dan menyiapkan ramuan daun sirih untuk lukamu" ujar Rahiang Sanjaya sembari menyodorkan pakaian bersih miliknya kepada Ki Lahuta.

"Sancaka..itu pakaian milikmu, kaupun tentu memerlukannya?" Ki Lahuta menolak pemberian pakaian dari Rahiang Sanjaya.

"Tidak usah sungkan...aku ada beberapa pasang pakaian. Lagipula pakaianmu sudah robek dan tidak pantas lagi" Rahiang Sanjaya mendesak.

Akhirnya Ki Lahuta menerima pakaian yang disodorkan Rahiang Sanjaya, walaupun ukurannya terlalu besar tapi masih lebih baik daripada pakaian sebelumnya yang sudah compang-camping. Sementara Rahiang Sanjaya menghunus golok panjangnya lalu mengupas bagian atas beberapa buah kelapa muda tersebut. Salah satu buah kelapa di belahnya menjadi dua lalu dimasukkan daun sirih dan daun antanan ke dalamnya. Lalu ditumbuknya dengan menggunakan batu bulat yang banyak berserakan.

"Nah...kau minumlah air kelapa muda itu, biar tenggorokanmu tidak kering lagi" ujar Rahiang Sanjaya sambil menunjuk salah satu buah kelapa muda yang sudah dikupasnya.

Ki Lahuta bergegas menenggak air kelapa muda yang segar dan manis itu.

"Huuuuaaahhh...segar sekali, kau memang baik sekali" ujar Ki Lahuta senang.

Rahiang Sanjaya hanya tersenyum lalu menyodorkan potongan buah kelapa berisi ramuan daun sirih dan daun antanan.

"Ki Lahuta...ini obati lagi lukamu supaya cepat kering. Memang akan sedikit perih tapi kau harus kuat" ujar Rahiang Sanjaya.

"Terima kasih Sancaka..." Ki Lahuta menyambut ramuan yang disodorkan oleh Rahiang Sanjaya.

"Sancaka, lebih baik kau segera melanjutkan perjalanan. Aku sudah bisa mengurus diriku sendiri" sambung Ki Lahuta sambil menempelkan ramuan yang dibuat Rahiang Sanjaya di atas luka-lukanya.

"Hari sudah mulai petang...aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri di sini. Biar aku lanjutkan perjalananku besok pagi saja" ujar Rahiang Sanjaya sambil berdiri lalu berlalu ke arah hutan kembali.

"Tunggu Sancaka...hendak kemana dirimu?" tanya Ki Lahuta.

"Aku hendak mencari kayu bakar..supaya nanti malam tidak terlalu dingin" jawab Rahiang Sanjaya.

"Aku melihat ada bekas saung huma di sebelah sana...tidak jauh dari sini" ujar Ki Lahuta sambil menunjuk ke arah hulu sungai.

"Lebih baik kita bermalam di sana" sambungnya.

"Hmmm...boleh juga. Lebih baik kita berangkat sekarang" ujar Rahiang Sanjaya sambil membereskan buntelannya kembali ke atas punggung si Jagur. Setelah itu dihampirinya Ki Lahuta dan dibantunya untuk berdiri.

"Ki Lahuta..kau naik kuda milikku saja. Badanmu masih masih belum kuat" Rahiang Sanjaya memapah Ki Lahuta mendekati si Jagur lalu membantunya naik.

Ki Lahuta mengangguk lemah. Rahiang Sanjaya menuntun si Jagur yang ditunggangi Ki Lahuta menuju ke arah hulu sungai. Tak lama kemudian mereka sampai di bekas perhumaan yang sepertinya sudah tidak digunakan lagi. Tak jauh dari situ ada sebuah saung tanpa dinding terbuat dari batang-batang pohon beratapkan rumbia, kelihatannya masih kokoh dan kuat. 

Dibantunya Ki Lahuta turun dari punggung si Jagur lalu dipapahnya menaiki tangga saung tersebut dan mendudukannya di lantai saung yang terbuat dari pohon bambu.

"Sancaka...seingatku di belakang sana ada pohon talas. Kau bisa ambil untuk makan malam kita" ujar Ki Lahuta menunjuk ke rumpun belukar di belakang saung.

Malam semakin larut, suara binatang malam sesekali terdengar ditingkahi oleh lolongan ajag (anjing hutan). Rahiang Sanjaya sudah tertidur pulas di salah satu pojok saung. Ki Lahuta yang terbaring tidak jauh dari tempat tidurnya Rahiang Sanjaya, pelan-pelan membuka matanya. Perlahan bangun dan mengendap-endap turun dari saung tersebut.

Suasana malam yang gelap hanya disinari oleh bara bekas perapian membuat siapapun akan sulit untuk berjalan meninggalkan saung tersebut. Tapi tidak dengan Ki Lahuta! 
Ki Lahuta dengan tenang berjalan meninggalkan saung tersebut. Tidak nampak rasa sakit yang diakibatkan luka maupun fisiknya yang lemah. Setelah berjarak beberapa deupa dari saung, Ki Lahuta membalikkan badannya menatap Rahiang Sanjaya yang masih tertidur pulas.

"Kau anak muda yang baik...semoga Dewata Agung akan selalu melindungimu" gumam Ki Lahuta. Setelah itu Ki Lahuta menggenjot tubuhnya lalu melesat meninggalkan tempat tersebut.

===

Matahari mulai menampakkan sinarnya menerobos sela-sela atap rumbia yang bolong di beberapa tempat. Rahiang Sanjaya membuka matanya lalu menggosok-gosok kedua matanya.

"Ah..aku kesiangan.." gumam Rahiang Sanjaya lalu bangkit dari tidurnya. Matanya mencari-cari Ki Lahuta yang malam sebelumnya berbaring tidak jauh dari tempat Rahiang Sanjaya.

"Kemana Ki Lahuta?" batin Rahiang Sanjaya lalu turun dari saung tersebut.

Digerakkan seluruh tubuhnya untuk mengusir pegal yang terasa. Kemudian Rahiang Sanjaya berlalu ke arah tepi sungai berniat untuk membersihkan diri.

"Hihik..hihik..wueherrr" tiba-tiba terdengar suara ringkikan kuda.

Rahiang Sanjaya bergegas keluar dari dalam sungai dan mengenakan kembali seluruh pakaiannya. Rahiang Sanjaya sangat mengenal suara ringkikan kuda tersebut adalah suara si Jagur, kuda kesayangannya. Dengan cepat Rahiang Sanjaya berlari kembali ke arah saung. Sesampainya di saung Rahiang Sanjaya kaget bukan kepalang.

Di tegalan bekas huma, terlihat dua orang laki-laki sedang menarik paksa si Jagur.

"Kisanak apa yang kalian lakukan dengan kuda milikku" teriak Rahiang Sanjaya.

Hampir berbarengan kedua laki-laki tersebut menoleh ke arah Rahiang Sanjaya, sambil tetap memegang tali kekang si Jagur.

"Apa maksudmu anak muda? Kuda ini adalah milik kami berdua!" jawab salah satu dari mereka yang berbadan tinggi besar dan berkepala licin botak.

Rahiang Sanjaya melengak tidak percaya, bagaimana mungkin si Jagur kuda kesayangannya bisa diakui milik mereka berdua. Ditariknya nafas dalam-dalam mencoba mengendalikan emosinya.

"Milik kalian berdua? Mungkin kalian salah lihat, karena jelas-jela kuda itu milikku" ujar Rahiang Sanjaya.

"Ha...ha...ha..semua yang masuk ke wilayah ini adalah milik kami, tidak ada yang bisa membantah kami" ujar laki-laki yang lebih pendek namun berbadan gempal sambil tertawa terbahak-bahak.

Rahiang Sanjaya mengernyitkan dahinya.

"Mana ada aturan seperti itu, kalian jangan mengada-ada" ujar Rahiang Sanjaya mulai kesal dengan tingkah kedua laki-laki tersebut.

"Ha..ha..ha..itu adalah aturan kami berdua, Ki Bolenang dan Ki Bedegul sebagai penguasa Wahangan Cisenggong" hardik laki-laki bertubuh tinggi dengan kepala botak licin sambil menepuk dadanya sendiri.

Rahiang Sanjaya hampir tertawa mendengar nama kedua laki-laki tersebut yang sangat cocok dengan bentuk tubuh mereka masing-masing. Namun ditahannya karena tidak mau menambah sengketa dengan kedua orang tersebut.

"Aih..rupanya Kisanak berdua adalah penunggu Wahangan Cisenggong ini. Maafkan aku yang tidak tahu peradatan" ujar Rahiang Sanjaya sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada.

"Kami adalah penguasa bukan penunggu..kau pikir kami berdua ini bebegig wahangan" rutuk Ki Bogel tidak senang disebut sebagai "Penunggu Wahangan Cisenggong" oleh Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya tersenyum kecil melihat Ki Bogel yang mulai gusar.

"Ah..sebenarnya aku sangat senang sekali bisa bertemu dengan penguasa wahangan yang gagah perkasa seperti kalian berdua, tapi aku harus bergegas meninggalkan tempat ini" Rahiang Sanjaya memutuskan untuk tidak berlama-lama.

"Oleh karena itu aku mohon kalian melepaskan kuda milikku, tidak perlu ada sengketa di antara kita" sambungnya tenang.

"Hmm...lagakmu setinggi langit anak muda, jangan harap aku akan membiarkanmu hidup" gertak Ki Bolenang gusar karena Rahiang Sanjaya telah mengancam mereka dengan sangat halus.

"Kakang tunggu apa lagi, kita patahkan tulang bocah ingusan ini. Kita harus secepatnya mengantar kuda pesanan Ki Punduh ini" ujar Ki Bedegul sambil melepaskan tali kekang si Jagur yang dipegangnya.

"Hmmm...betul juga, Ki Punduh pasti senang mendapat kuda segagah ini" jawab Ki Bolenang sambil menghunus golok dari pinggangnya.

"Ciiiiaaatttttt.....makan golokku" lengking Ki Bolenang sambil menerjang ke arah Rahiang Sanjaya. Goloknya membabat dengan buas ke arah kepala Rahiang Sanjaya, walaupun badannya tinggi besar namun gerakaannya sangat ringan dan lincah.

Rahiang Sanjaya menghunus goloknya lalu menyambut serangan Ki Bolenang. Golok yang mengarah kepala tersebut dipapasnya.

"Trang..." kedua senjata tajam tersebut beradu keras mengeluarkan percikan api.

Ki Bolenang terjajar ke belakang sambil meringis menahan sakit di pergelangan tangannya, sementara itu Rahiang Sanjaya seolah tidak merasakan apapun.

"Ki Bolenang, lebih baik kita tidak usah lanjutkan perkelahian ini. Aku harus segera pergi" ujar Rahiang Sanjaya.

Ki Bedegul bergegas menghampiri Ki Bolenang yang masih mengurut pergelangan tangannya yang terasa kebas.

"Kakang apa yang terjadi?" bisiknya kepada Ki Bolenang.

"Ayi...tenaga dalamnya sangat tinggi, mungkin lima kali lipat di atas kita. Kita harus menggunakan kecepatan untuk mengalahkannya" jawab Ki Bolenang pelan.

Ki Bedegul mengangguk lalu dikeluarkan dua pisau kecil dari pinggangnya.

"Jangan banyak bicara anak muda.." hardik Ki Bedegul.

Ki Bolenang dan Ki Bedegul saling berpandangan dan memberi kode, keduanya memasang kuda-kuda siap menyerang Rahiang Sanjaya.

"Hiyyyaa....ciiiiiiaaaatttt" serempak keduanya berteriak dan menerjang ke arah Rahiang Sanjaya. Gerakan mereka sangat cepat mengurung Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya melentingkan badannya ke udara mencoba melepaskan diri dari kurungan mereka berdua. Namun sepertinya Ki Bolenang dan Ki Bedegul bukanlah nama kosong. Jurus-jurus silatnya sangat cepat dan mereka cukup pintar dengan menghindari bentrokan dengan golok Rahiang Sanjaya.

Walaupun kesaktian dan tenaga dalam Rahiang Sanjaya cukup tinggi namun keteteran juga menghadapi kecepatan Ki Bolenang dan Ki Bedegul. Beberapa kali Rahiang Sanjaya harus tergopoh-gopoh menghindari sabetan golok dan pisau mereka. Beberapa puluh jurus berlalu, Rahiang Sanjaya makin terdesak bahkan di jurus ke tigapuluh Rahiang Sanjaya panik membuang badannya ke kiri untuk menghindari sabetan pisau Ki Bedegul yang menyasar perut bagian kanannya. Karena fokus menghindari sabetan pisau, Rahiang Sanjaya tidak menyadari sebuah tendangan keras Ki Bolenang menantinya.

"Buuukkk...aaaahhh" Rahiang Sanjaya menjerit keras ketika kaki kanan Ki Bolenang menghajar pinggulnya. Rahiang Sanjaya terpelanting namun secepat kilat segera berdiri sambil menahan sakit.

"Luar biasa...gerakannya sangat cepat, aku tidak akan bisa menghadapinya. Terpaksa harus menggunakan pukulan tangan kosong" batin Rahiang Sanjaya.

Namun belum sempat Rahiang Sanjaya menyalurkan tenaga dalamnya, Ki Bolenang dan Ki Bedegul sudah kembali menyerangnya dengan ganas.

"Sialan...sepertinya mereka sengaja tidak memberikan kesempatan untuk menggunakan tangan kosong" rutuk Rahiang Sanjaya sambil melompat menghindari serangan mereka berdua.

Namun lagi-lagi kecepatan gerakan silat Ki Bolenang dan Ki Bedegul memang berada di atas Rahiang Sanjaya. Hanya beberapa jurus berjalan siku Ki Bedegul menggedor dada Rahiang Sanjaya.

"Buukkk..Eughhh" Rahiang Sanjaya mengeluh menahan sakit di dada, tubuhnya terjajar ke belakang dan goloknya terlepas. Petaka sepertinya benar-benar akan menimpa Rahiang Sanjaya, golok Ki Bolenang mengejarnya. Rahiang Sanjaya sudah mati langkah, tidak mungkin lagi menghindari golok yang akan merobek isi perutnya.

"Dewata Agung..." keluh Rahiang Sanjaya sambil memejamkan matanya.

Sesaat lagi golok Ki Bolenang akan menjebol perut Rahiang Sanjaya.

"Traaaanggg..ughhhh" sebuah batu kecil menghantam golok Ki Bolenang.

Saking kerasnya hantaman batu kecil itu, golok Ki Bolenang sampai terpental lepas dari genggaman. Selamatlah Rahiang Sanjaya dari petaka yang bisa merenggut nyawanya tersebut. Sementara Ki Bolenang memekik tertahan sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang terasa ngilu.

Melihat hal tersebut, Ki Bedegul melengak.

"Bajingan tengik...ada pembokong" seru Ki Bedegul sambil memburu ke arah Ki Bolenang.

Sementara Rahiang Sanjaya menyadari ada yang menyelamatkan nyawanya, bergegas mundur sambil mengatur pernapasan. Dadanya masih terasa nyeri akibat gedoran siku Ki Bedegul.

"Pembokong tidak tahu malu...tunjukkan batang hidungmu jangan bersembunyi" teriak Ki Bedegul gusar sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru.

"Hahaha...sungguh aneh, mengeroyok dianggap benar sedangkan membokong dianggap tidak tahu malu. Aku sungguh tidak mengerti!!!" terdengar suara yang lembut namun menindih dada dan mengacaukan peredaran darah.

"Luar biasa...suaranya datang dari semua arah dan mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi" batin Rahiang Sanjaya sambil mengerahkan tenaga dalamnya melawan tindihan suara tersebut.

Sementara Ki Bolenang dan Ki Bedegul merangkapkan kedua tangan di depan dadanya, kaki-kaki mereka melesak sebatas mata kaki. Rupanya tenaga dalam keduanya tidak mampu mengatasi kehebatan suara tersebut.

Tak lama dari atas sebuah pohon beringin yang rimbun melayang turun sebuah bayangan berwarna merah lalu mendarat tidak jauh dari posisi mereka bertiga.

Ketiganya melengak begitu melihat sosok tersebut yang ternyata adalah seorang pemuda sebaya Rahiang Sanjaya menggunakan pakaian warna merah gelap dengan sebuah senjata berbentuk seperti golok namun lebih ramping dan panjang menggantung di pinggangnya. Sebagian wajahnya tertutup oleh dudukuy bambu (caping bambu) yang diikat ke dagunya. Rambutnya panjang berkibar.

Rahiang Sanjaya segera menjura ke arah pemuda tersebut.

"Terima kasih Kisanak...kau telah menyelamatkan nyawaku" ujarnya dengan takzim.

Pemuda itu hanya melirik sekilas ke arah Rahiang Sanjaya. Wajahnya dipalingkan ke arah Ki Bolenang dan Ki Bedegul yang masih berdiri nanar.

"Aihh...kalian ini benar-benar tidak tahu malu, berkelahi beraninya main keroyokan" ujar pemuda tersebut.

"Seperti itu kah ajaran dari Sang Resi Guru Rahiyangtang Kidul? Sungguh memalukan" sambungnya sambil menyunggingkan senyum tipis.

Ki Bolenang dan Ki Bedegul melengak, sesaat keduanya berpandangan.

"Jaga mulutmu anak muda...tidak pantas kau berbicara seperti itu" bentak Ki Bolenang muntab.

"Kau harus minta maaf atas ucapanmu itu atau kurobek mulut kotormu" sambung Ki Bedegul dengan tatapan mata yang nyalang.

Sementara itu mendengar ucapan pemuda asing tersebut, Rahiyang Sanjaya mengerutkan dahinya.

"Apa maksud ucapan pemuda asing itu" batin Rahiang Sanjaya.

"Kenapa aku harus minta maaf? Aku tidak mempunyai salah kepada kalian" jawab pemuda asing itu dengan tenang lalu menghampiri golok Ki Bolenang yang tadi terjatuh akibat hantaman batu kecil. Di tendangnya golok tersebut ke arah Ki Bolenang...luar biasa...golok itu mencelat dengan posisi gagangnya menghadap ke arah Ki Bolenang.

"Taaahhh..kau ambil lagi golok jagal kambingmu" ujarnya enteng.

Ki Bolenang dengan sigap menangkap gagang golok tersebut.

"Luar biasa..siapa anak muda ini? Ilmunya sungguh tidak terukur" batin Ki Bolenang.

"Anak muda..aku memberimu kesempatan untuk berlutut dan memohon ampun. Cepattt!!!" bentak Ki Bedegul.

Pemuda asing itu tersenyum sinis.

"Seharusnya aku yang memberi kesempatan kepada kalian berdua" dengus pemuda asing itu.

"Cepat tinggalkan tempat ini sebelum aku berubah pikiran" sambungnya.

Direndahkan sedemikian rupa, amarah Ki Bolenang muntab.

"Serang dia bersamaan" bisiknya pada Ki Bedegul.

Pemuda asing itu tertawa.

"Ha...ha...ha..bisikanmu kurang mesra aki-aki dugul" cibirnya kepada Ki Bolenang.

Pemuda asing itu menghunus senjatanya.

"Wusssss..." selarik wangi cendana menyebar di tempat tersebut.

Ki Bolenang dan Ki Bedegul melengak melihat senjata yang dikeluarkan pemuda itu. Sebuah senjata seperti golok namun lebih ramping dan tajam di semua sisinya.

"Siapa pemuda asing ini, tidak banyak yang mempunyai senjata seperti itu. Warangka yang digunakannya pun tidak ada di tanah Galuh" batin Ki Bolenang.

Sementara itu Rahiang Sanjaya melongo takjub, ingatannya melayang pada kisah yang diceritakan oleh Sang Senna, ayahnya, mengenai senjata yang disebut pedang dan banyak dibawa oleh pendatang-pendatang dari tanah seberang yang seringkali mengunjungi pelabuhan di Sunda.

"Pedang....senjata itu biasa digunakan oleh pendatang-pendatang dari tanah Cina, siapa pemuda ini sebenarnya" batinnya.

Dengan menutupi rasa terkejutnya, Ki Bolenang dan Ki Bedegul secara bersamaan menerjang ke arah pemuda asing itu.

"Hiyyyyaaaa......Ciiiiiatttt" tubuh mereka berkelebat cepat mengurung pemuda asing tersebut.

Pemuda asing itu mendengus lalu menerjang menyambut serangan Ki Bolenang dan Ki Bedegul. Gerakannya tidak kalah cepat dan enteng, jurus-jurusnya aneh dan sangat asing. Sekejap saja tubuh mereka bertiga berubah menjadi bayangan-bayangan.

Rahiang Sanjaya leletkan lidahnya.

"Gerakannya sangat cepat dan sangat aneh, sepertinya bukan ilmu silat dari tanah Galuh" batin Rahiang Sanjaya.

Jika sebelumnya mereka bisa mengalahkan Rahiang Sanjaya dengan mengandalkan jurus silat berkecepatan tinggi namun sekarang Ki Bolenang dan Ki Bedegul benar-benar kena batunya. Gerakan pemuda asing itu jauh lebih cepat dan berbahaya.

Dijurus ke tigabelas, golok panjang Ki Bolenang terpental jauh diikuti oleh terbantingnya tubuh tinggi besar Ki Bolenang.

"Traaaannggg....Bluuuuggg...Heeeekkk" Ki Bolenang terkapar sambil memegangi dada yang kena pukulan tangan kiri pemuda asing itu, dari ujung bibirnya mengalir darah kental.

Ki Bedegul melompat menjauh.

"Luar biasa...baru pertama kali aku menghadapi jurus silat seperti itu" batinnya.

Pemuda asing itu menyarungkan kembali pedangnya.

"Lebih baik kau bawa temanmu pergi dari sini...kalau tidak segera mendapat pertolongan, jantungnya akan lepas" ujarnya dingin pada Ki Bedegul.

Rahiang Sanjaya mengusap wajahnya seakan tidak percaya, Ki Bolenang dan Ki Bedegul dikalahkan pemuda itu di bawah duapuluh jurus.

Ki Bedegul mengangkat tubuh Ki Bolenang lalu didukungnya dengan enteng.

"Anak muda...satu saat aku akan membalas penghinaan ini" ujarnya lalu melesat pergi sambil membawa tubuh Ki Bolenang.

Pemuda asing itu hanya tersenyum tipis lalu melayang kembali ke arah pohon beringin dimana sebelumnya dia datang.

"Siapa namamu Kisanak? Aku belum sempat mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu" pekik Rahiang Sanjaya.

Namun pemuda asing itu sudah menghilang.

Rahiang Sanjaya menghela nafas panjang.

"Aneh sungguh aneh...banyak kejadian yang tidak aku dimengerti. Kejadian Ki Lahuta, Ki Bolenang dan Ki Bedegul ini, semua pasti berhubungan" batinnya.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Kstaria Pajajaran #1