SANG RESI GURU RAHYANGTANG KIDUL


Sepeninggal Ki Bolenang dan Ki Bedegul beserta pemuda misterius itu, Rahiang Sanjaya memutuskan meneruskan perjalanan menuju ke Kabuyutan Denuh.

Dengan susah payah, Rahiang Sanjaya akhirnya berhasil menyeberangi sungai Cisenggong. Di seberang sungai Cisenggong ternyata terdapat jalan yang cukup besar, sepertinya biasa dlewati pedati pengangkut padi ataupun rumput. Sepanjang jalan terdapat beberapa perhumaan yang siap dipanen. Beberapa kali Rahiang Sanjaya berpapasan dengan petani yang sedang menggarap huma dan perkebunan.

"Sepertinya wilayah ini cukup makmur, banyak perhumaan yang tumbuh subur" batin Rahiang Sanjaya.

Menjelang siang, Rahiang Sanjaya sampai di sebuah gerbang yang dijaga oleh dua anak muda berpakaian seperti pandita. Rahiang Sanjaya segera melompat turun dari atas punggung si Jagur. Lalu berjalan kaki sambil menuntun si Jagur menghampiri mereka.

"Pun pun paralun...pandita muda, bolehkah aku bertanya?" Rahiang Sanjaya merangkapkan kedua tangannya di depan dada lalu membungkuk hormat.

Kedua pandita tersebut membalas penghormatan dari Rahiang Sanjaya.

"Silakan Kisanak...dengan senang hati kami akan menjawab" salah satu pandita muda tersebut menjawab.

"Aku hendak menuju Kabuyutan Denuh, sudikah kiranya menunjukkan Pandita menunjukkan jalan?" Rahiang Sanjaya bertanya dengan sopan.

Kedua pandita muda itu tersenyum.

"Disinilah letak Kabuyutan Denuh, silakan Kisanak melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kuda tidak boleh masuk" jawab salah satu dari mereka.

Rahiang Sanjaya membungkukkan badannya sebagai tanda terima kasih lalu menepuk-nepuk leher si Jagur, kudanya.

Rahiang Sanjaya menyusuri jalan yang cukup bagus karena sudah dilapisi oleh batu-batuan halus. Di sebelah kirinya terlihat sebuah talaga yang sangat jernih sementara di sebelah kanan terdapat beberapa bangunan yang sangat kokoh. Beberapa orang pandita berusia sangat muda sesekali berpapasan dengan Rahiang Sanjaya.

"Indah sekali tempat ini..." batin Rahiang Sanjaya.

Tak lama Rahiang Sanjaya terlihat sebuah bangunan yang sangat besar berbeda dengan bangunan lain yang rata-rata berukuran hampir sama, di depannya terlihat ada tiga orang Pandita sedang berbincang.

"Hmmm...sepertinya itu adalah tempat kediaman Aki Resi Guru" gumam Rahiang Sanjaya sambil mempercepat langkahnya.

Begitu sampai di dekat  ketiga Padita tersebut, Rahiang Sanjaya melengak kaget.

"Ki Lahuta, Ki Bolenang, Ki Bedegul...kalian ada di sini?" desisnya.

Ketiga Pandita tersebut tersenyum lalu merangkapkan kedua tangannya di depan dada lalu membungkuk hormat ke arah Rahiang Sanjaya. Rahiang Sanjaya segera membalas hormat dari ketiga Pandita tersebut.

"Ah..anak muda, akhirnya kau sampai juga di tempat ini. Silakan ikuti kami" ujar Ki Lahuta sambil tersenyum ramah.

"Tapi...kalian kenapa ada di tempat ini?" Rahiang Sanjaya masih kebingungan.

"Anak muda...nanti saja penjelasannya. Sang Resi Guru sudah menungumu" ujar Ki Bolenang sambil tersenyum ramah. Berbeda sekali dengan saat pertama bertemu yang bersikap sangat bengis dan garang.

Akhirnya Rahiang Sanjaya mengikuti ketiga Pandita tersebut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Rahiang Sanjaya di bawa ke sebuah ruangan yang cukup luas dan sangat bersih. Wangi dupa tercium sangat kuat namun menenangkan.

Ki Lahuta mempersilakan Rahiang Sanjaya untuk duduk. Ketiganya pun duduk tidak jauh dari tempat Rahiang Sanjaya.

"Pandita..aku...." namun ucapan Rahiang Sanjaya terpotong.

"Sssttt....." Ki Lahuta memberi tanda agar Rahiang Sanjaya diam.

Akhirnya Rahiang Sanjaya duduk sambil menundukkan kepalanya. Cukup lama menunggu sampai akhirnya masuk seorang laki-laki tua berpakaian resi dengan janggut panjang dan wajahnya sangat tenang dan berwibawa. Pandita tua itu lalu duduk bersila di hadapan Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya segera menjatuhkan badannya bersujud di hadapannya.

"Pun pun paralun, Aki Resi Guru Rahyangtang Kidul...hamba menghaturkan sembah bakti" ujar Rahiang Sanjaya sambil tetap bersujud.

"Anak muda...aku terima sembah baktimu. Sekarang cepat angkat badanmu, tidak baik terlalu lama bersujud seperti itu" suaranya sangat lembut dan tenang.

Rahiang Sanjaya bangun dari sujudnya, tapi kepalanya tetap menunduk tidak berani menatap ke arah Sang Resi Guru. Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul mengamati dengan seksama sosok Rahiang Sanjaya.

"Anak muda...aku sudah mendengar cerita mengenai dirimu yang ingin beguru di Kabuyutan Denuh" ujarnya lembut.

"Pun pun paralun Aki Resi Guru...benar sekali, hamba memang ingin sekali berguru kepadamu" jawab Rahiang Sanjaya takzim.

"Heu..heu..aku senang medengarnya, sekarang ceritakan mengenai dirimu anak muda. Aku ingin tahu dari mana asal dan keturunanmu" ujar Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul sambil terkekeh.

"Pun pun paralun..Aki Resi Guru...namaku Rakean Jambri, putra dari Sang Senna yang dilengserkan oleh paman Prabu Purbasora" jawab Rahiang Sanjaya dengan suara yang bergetar.

Mendengar penjelasan Rahiang Sanjaya, Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul mengusap wajahnya yang sekilas terlihat berubah pucat. Sementara ketiga Pandita lainnya saling berpandangan.

"Dewata Agung...ampuni hamba...." gumam Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul cemas.

Setelah sesaat menguasai dirinya kembali.

"Ambuing...ambuing...lamun kitu mah hidep teh kaasup incu ngaing keneh (kalau begitu kamu masih termasuk cucu saya)" ujarnya.

Rahiang Sanjaya merangkapkan kedua tangannya lalu diangkatnya di atas kepala.

Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul memejamkan kedua matanya.

"Dewata Agung...akhirnya pertumpahan darah di antara anak cucu Ramanda Maharaja Suradarma Jayaprakosa akan kembali terjadi" batinnya sedih membayangkan apa yang akan terjadi di kemudian hari.

"Cucuku...aku tidak mungkin menjadikanmu murid di Kabuyutan Denuh" jawabnya lirih.

Rahiang Sanjaya terhenyak mendengar ucapan Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul.

"Pun pun paralun kenapa Aki Resi Guru menolakku?" tanyanya sedih.

Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul menghela nafas penjang.

"Cucuku...aku tidak mau terlibat dalam perseteruan antara ayahmu, Sang Senna putra dari adikku sendiri, Sang Jalantara (Rahyangtang Mandiminyak) dengan Purbasora putra dari Sang Jatmika (Rahyangtang Semplakwaja), kakakku sendiri" ujarnya.

"Sepertinya ayahmu, Sang Senna, ingin mengadu domba antara aku dengan kakakku, Sang Jatmika. Lagipula di tempat ini kau tidak akan aman, kau akan dikejar-kejar oleh Pasukan Karatuan Galuh" sambungnya.

Rahiang Sanjaya terdiam mendengar ucapan Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul.

"Cucuku...aku sarankan, kau segeralah berangkat ke kulon. Temuilah Sang Tohaan Sri Maharaja Tarusbawa. Di sana kau akan lebih aman" ujar Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul  dengan suara bergetar.

Hati Rahiang Sanjaya sangat sedih mendengar penolakkan Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul. Namun Rahiang Sanjaya dapat mengerti alasan dan penjelasan yang di sampaikan oleh Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul.

"Baiklah Aki Resi Guru...hamba menerima semua saranmu" ujar Rahiang Sanjaya lirih.

Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul menarik nafas panjang.

"Cucuku...sebelum kau pergi, aku ada satu permintaan kepadamu" ujar Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul.

"Aki Resi Guru...sampaikan saja permintaanmu, aku akan berusaha memenuhinya" jawab Rahiang Sanjaya lemas.

"Aku minta dirimu berjanji, di masa yang akan datang, kau tidak akan pernah menyerang Kabuyutan Denuh ini. Aku tidak ingin lagi terlibat dalam urusan duniawi dan kekuasaan. Dan jika kau melanggar janji ini, kau akan mati dalam keadaan menderita" ujar Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul.

Rahiang Sanjaya menjatuhkan badannya bersujud kepada Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul.

"Pun pun paralun...Aki Resi Guru, hamba berjanji tidak akan pernah memerangi Kabuyutan Denuh. Jika melanggar janji ini maka hamba akan mati dalam keadaan menderita" janji Rahiang Sanjaya.

Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul, tersenyum senang mendengar janji yang di ucapkan oleh Rahiang Sanjaya.

"Aiihhh...cucuku, aku berterima kasih sekali atas janjimu. Sekarang bangunlah" ujarnya sambil mengusap kepala Rahiang Sanjaya..

"Sekarang kau beristirahatlah dahulu, besok pagi berangkatlah menuju kulon, aku merestuimu" sambungnya.


===

"Sialan kau...Ki Liman! Kau mau mencelakakan aku rupanya" batin Ki Punduh Prapta. Ki Punduh Prapta terbaring lemah di atas tempat tidur di kamarnya, badannya masih terasa sangat lemas setelah beradu tenaga dalam dengan Rahiang Sanjaya.

Tak lama masuk seorang perempuan muda cantik yang tak lain adalah Sukasih, istri mudanya. Sukasih membawa nampan berisi makanan dan minuman lalu menyimpan nampan tersebut di atas meja di samping tempat tidur Ki Punduh Prapta.

"Kakang Punduh...kau makan dulu, supaya lebih cepat sembuh" ujar Sukasih sambil membantu Ki Punduh Prapta bangun dan duduk di atas tempat tidurnya.

"Kau memang istriku yang paling baik..." ujar Ki Punduh Prapta sambil menjawil dagu Sukasih.

"Aihhh...Kakang Punduh genit" rengek Sukasih manja.

Dengan penuh kasih sayang, Sukasih menyuapi Ki Punduh Prapta. Sukasih memang sangat menghormati dan menyayangi Ki Punduh Prapta, walaupun usia mereka terpaut sangat jauh.

"Kakang Punduh..harus cepat sembuh. Setiap malam aku kedinginan..." manja Sukasih sambil menyodorkan suapan terakhir ke mulut Ki Punduh Prapta.

Saat Ki Punduh Prapta dan Sukasih sedang bercengkrama, terdengar suara langkah seseorang mendekati kamar.

"Kakang Punduh...Ki Liman datang dan ingin bertemu denganmu. Dia menunggu di ruang depan" ujar seorang wanita sambil masuk ke dalam kamar. Wanita itu berusia tidak jauh dengan Ki Punduh Prapta, namun kecantikaanya jauh di atas Sukasih. Bentuk badannya masih terawat dengan baik.

"Ah...Nyai Yunarti, mau apa dia kemari" dengus Ki Punduh Prapta merasa terganggu. Ternyata perempuan setengah baya itu adalah Nyai Yunarti, istri pertama Ki Punduh Prapta.

"Entahlah Kakang Punduh...aku tidak sempat tanya" jawab Nyai Yunarti.

"Baiklah..kalian berdua bantu aku berdiri" ujar Ki Punduh Prapta.

Di ruangan depan, Ki Liman duduk bersila menunggu Ki Punduh Prapta. Tangan kanannya yang patah di gandong dengan kain ke atas lehernya. Tak lama Ki Punduh Prapta masuk dari ruangan dalam sambil di papah oleh Nyai Yunarti dan Sukasih. Lalu duduk di hadapan Ki Liman. Ki Punduh Prapta memberi tanda agar kedua istrinya segera kembali ke ruangan dalam.

"Bagaimana keadaanmu Kakang Punduh?" tanya Ki Liman.

"Semua ini karena kebodohanmu Ki Liman!" maki Ki Punduh Prapta kesal.

"Maafkan aku Kakang Punduh, akupun tidak menyangka kesaktian anak muda itu sangat tinggi" ujar Ki Liman.

Ki Punduh Prapta menghela nafas panjang.

"Bagaimana tanganmu?" suara Ki Punduh Prapta melunak sambil menunjuk tangan Ki Liman.

"Tanganku patah...mungkin perlu satu tahun untuk kembali pulih" keluh Ki Liman.

"Baguslah...ada baiknya juga, supaya tanganmu tidak geragasan ke perempuan-perempuan muda" umpat Ki Punduh Prapta.

Ki Liman nyengir kuda mendengar umpatan Ki Punduh Prapta.

"Sekarang jelaskan apa maksudmu datang kemari? Mengganggu istirahatku saja" tanya Ki Punduh Prapta.

"Begini Kakang Punduh, tadi pagi dua orang Perwira Prajurit Karatuan Galuh datang ke rumahku. Aku sudah memberitahu tentang pemuda asing tersebut kepada mereka" ujar Ki Liman.

Mata Ki Punduh Prapta membesar mendengar ucapan Ki Liman.

"Teruskan..teruskan ceritamu" Ki Punduh Prapta tidak sabar.

"Mereka akan menyergap pemuda itu dan minta bantuan kita" sambung Ki Liman.

"Aku tidak mau...aku tidak mau..." mendadak suara Ki Punduh Prapta berubah cemas.

"Kenapa Kakang Punduh? Ini kesempatan kita untuk mendapatkan kekayaan sekaligus membalas dendam kepada pemuda asing itu" sergah Ki Liman.

"Kau jangan bodoh Ki Liman, siapa yang berani cari mati ke Kabuyutan Denuh?" jawab Ki Punduh Prapta.

Mendengar jawaban Ki Punduh Prapta, Ki Liman tergelak.

"Ha...ha..ha.." 

Ki Punduh Prapta mendelik tidak senang mendengar gelak tawa Ki Liman yang seolah mentertawakannya.

"Maaf..maaf..Kakang Punduh, aku bukan mentertawakanmu" ujar Ki Liman, jeri melihat Ki Punduh Prapta yang sepertinya marah.

"Perwira Prajurit Karatuan Galuh akan menyergap pemuda itu di rumah peribadatan milik Pandita Purusara, bukan menyerang ke Kabuyutan Denuh" jelasnya.

Ki Punduh Prapta manggut-manggut.

"Tapi aku tidak yakin...pemuda itu akan kembali ke sana" ujar Ki Punduh Prapta.

"Sebenarnya aku juga tidak yakin, tapi tidak ada salahnya mencoba" jawab Ki Liman.

===
Sementara itu di Kabuyutan Denuh, pagi-pagi sekali Rahiang Sanjaya sudah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke Kulon sesuai petunjuk Sang Resi Guru Rahyangtang Kidul. Sambil mengusap-usap leher si Jagur, Rahiang Sanjaya melepaskan pandangannya ke angkasa.

"Huuuuhh...Jagur, rupanya perjalanan kita masih jauh. Aku tidak pernah menginjak tanah Sunda dan tidak ada seorangpun yang aku kenal" keluh Rahiang Sanjaya menghela nafas panjang. Tidak menyangka perjalanannya akan sedemikian panjang.

"Ayahanda..aku mohon restumu. Aku berjanji tidak akan pernah berputus asa untuk menjalankan amanatmu" batinnya sambil membayangkan wajah ayahnya, Sang Senna.

Rahiang Sanjaya memacu kudanya kembali ke arah kampung Dacarana.

"Aku harus menemui Pandita Purusara dan memastikan keadaannya baik-baik saja. Aku khawatir penduduk kampung akan mengganggunya lagi" batin Rahiang Sanjaya.

Menjelang petang, Rahiang Sanjaya tiba di rumah peribadatan yang dijaga oleh Pandita Purusara. Rahiang Sanjaya melompat turun dari punggung si Jagur, kuda kesayangannya. Ditepuk-tepuknya leher si Jagur.

"Kau cari makan sana...sepertinya kita akan bermalam di sini" ujarnya pada si Jagur yang seolah mengerti maksud ucapan Rahiang Sanjaya.

Keadaan rumah peribadatan tersebut sangatlah sepi, hanya wangi dupa yang santer tercium.

"Semoga Pandita Purusara ada di dalam" batin Rahiang Sanjaya sambil melangkah menaiki tangga rumah.

"Sampurasun...sampurasun..." Rahiang Sanjaya memberi salam sambil mengetuk pintu.

Namun tidak ada jawaban. Rahiang Sanjaya beberapa kali berteriak dan mengetuk pintu, namun tetap tidak ada jawaban. Perlahan-lahan didorongnya pintu rumah peribadatan tersebut. Ternyata pintunya tidak terkunci, pelan-pelan Rahiang Sanjaya melangkahkan kakinya memasuki rumah peribadatan tersebut.

Rahiang Sanjaya melengak kaget, keadaan di dalam sangatlah berantakan. Beberapa benda peralatan ibadat terserak berantakan.

"Ah...sepertinya terjadi sesuatu yang tidak baik kepada Pandita Purusara" batin Rahiang Sanjaya cemas.

Rahiang Sanjaya bergegas keluar dari rumah peribadatan tersebut. Diedarkan pandangan ke seluruh penjuru tempat tersebut. Hatinya mendadak tidak enak.

"Ah...aku berlaku ceroboh, rupanya tempat ini telah dikepung" Rahiang Sanjaya menyesali kecerobohannya.

"Kisanak...siapapun kalian, cepatlah keluar. Tidak perlu bersembunyi lagi" teriak Rahiang Sanjaya.

Tak lama kemudian dari pohon-pohon di sekitar rumah tesebut berlompatan sekitar empat orang laki-laki. Rahiang Sanjaya mengenali dua orang diantaranya, yaitu Ki Punduh Prapta dan Sapta. Sedangkan dua orang lainnya mengenakan pakaian petinggi keprajuritan Karatuan Galuh.

"Ah...ada prajurit Karatuan Galuh, sepertinya mereka bukan prajurit rendahan" keluh Rahiang Sanjaya.

"Ha...ha...anak muda, sekarang kau tidak akan lolos lagi" gelak Ki Punduh Prapta pongah. Kehadiran perwira Karatuan Galuhtelah meningkatkan kepercayaan dirinya.

Rahiang Sanjaya hanya mendengus mendengar ucapan Ki Punduh Prapta. Dirinya lebih waspada kepada kedua Perwira tersebut.

Kedua Perwira tersebut merangkapkan kedua tangannya di depan dada lalu menjura ke arah Rahiang Sanjaya.

"Salam hormat Gusti Rakean, namaku Purwaka dan teman hamba ini bernama Maruta. Kami berdua adalah Perwira dari Karatuan Galuh" ujarnya pelan namun berwibawa.

Melihat kedua perwira tersebut menjura ke arah Rahiang Sanjaya, Ki Punduh Prapta dan Sapta melengak sambil berpandangan.

"Siapa sebenarnya anak muda itu?" batin Ki Punduh Prapta.

Rahiang Sanjaya membalas penghormatan dari Purwaka dan Maruta.

"Aih...sepertinya Gusti Perwira salah orang. Aku bukanlah seorang Rakean, aku hanyalah orang biasa" jawab Rahiang Sanjaya mencoba menghindar.

Purwaka dan Maruta tersenyum dingin.

"Kami berdua diutus oleh Gusti Apatih Bimaraksa, untuk menjemput Gusti Rakean" ujar Maruta.

"Aku tidak mengenal Gusti Apatih Bimaraksa. Kalian pasti salah mengenali orang" Rahiang Sanjaya berkelit.

Purwaka dan Maruta kelihatan mulai kesal.

"Gusti Rakean Jambri, apa salahnya jika seorang paman ingin bertemu dengan keponakannya. Kami berharap Gusti Rakean tidak mempersulit tugas kami" ujar Purwaka mulai meninggi.

Mata Ki Punduh Prapta mendelik mendengar ucapan Purwaka.

"Rakean Jambri? Keponakan Apatih Bimarakasa? Apakah anak muda ini putra Gusti Prabu Bratasenawa?" batin Ki Punduh Prapta.

"Mohon maaf Gusti Perwira...sepertinya kau salah orang. Aku mohon pamit" ujar Rahiang Sanjaya sambil berbalik bermaksud meninggalkan tempat tersebut.

"Keras kepala...!!!" rutuk Maruta sambil mendorongkan tangan kanannya ke arah Rahiang Sanjaya. Serangkum angin berhawa panas membumbung ke arah Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya yang merasakan ada pukulan yang menuju ke arahnya dengan sebat melentingkan tubuhnya ke udara lalu bersalto dan mendarat dengan ringan.

"Gusti Rakean...jika kau menolak, kami tidak akan segan-segan menurunkan tangan keras kepadamu!" seru Purwaka.

Rahiang Sanjaya hanya mendengus.

"Kurang ajar...kau memang keras kepala" seru Maruta sambil menerjang ke arah Rahiang Sanjaya. Diikuti oleh Purwaka. Tubuh keduanya berubah menjadi bayangan mengurung Rahiang Sanjaya.

Perkelahian pun pecah. Kedua perwira tersebut ternyata bukan nama kosong. Serangan-serangannya berhasil merepotkan Rahiang Sanjaya. Namun Rahiang Sanjaya tidak mau bernasib konyol seperti saat dikalahkan Ki Bolenang dan Ki Bedegul. Dikerahkan seluruh kemampuan silatnya dibarengai dengan setengah tenaga dalamnya. Beberapa kali tangannya beradu dengan tangan Purwaka dan Maruta. Bahkan di jurus keduapuluh satu, jotosan tangan Rahiang Sanjaya menghajar telak dada Purwaka. 

"Deugghhh...Ukhhh" Purwaka terjajar ke belakang sambil memegangi dadanya.

Maruta segera melompat ke belakang dan menghampiri Purwaka.

"Purwaka...kau tidak apa-apa?" tanya Maruta.

"Tidak apa-apa, hanya dadaku sedikit sesak" jawab Purwaka.

"Kita tidak bisa terus-terusan mengandalkan jurus-jurus silat, bisa mati kehabisan tenaga" jawab Maruta.

"Betul...kita serang bersama-sama dengan pukulan jarak jauh" ujar Purwaka.

Purwaka dan Maruta memasang kuda-kuda, seluruh tenaga dalamnya dialirkan ke kedua tangannya masing-masing. Kedua tangan sebatas siku milik Purwaka berubah menjadi hitam menggidikkan sementara kedua tangan Maruta mengeluarkan asap tipis berwarna merah.

Rahiang Sanjaya leletkan lidah lalu memasang kuda-kuda, tigaperempat tenaga dalam dialirkan ke kedua tangannya.

Diawali dengan bentakan yang membahana, Purwaka dan Maruta mendorongkan tangannya kedepan. Dua rangkum cahaya sebesar kepala berwarna hitam dan merah, membumbung ke arah Rahiang Sanjaya.

"Hiiiiiyyyyyyaaa......Hiyaaaaaaaa"

Rahiang Sanjaya tidak tinggal diam, kedua tangannya didorongkan. Selarik cahaya berwarna putih memapasi cahaya hitam dan merah.

"Buuuuuummmmm...." sebuah ledakan terdengar dahsyat meninggalkan lubang yang cukup besar di atas tanah.

Purwaka dan Maruta terjajar ke belakang sambil memegangi dadanya. Sementara kedua kaki Rahiang Sanjaya amblas sebatas mata kaki.

Tiba-tiba....

"Cleeppp...cleeeepppp..." dua buah anak sumpit melesat mengenai leher dan pundak Rahiang Sanjaya yang sedang mengatur nafas setelah bentrokan tenaga dalam tingkat tinggi dengan Purwaka dan Maruta.

Rahiang Sanjaya secepat kilat mencabut anak sumpit dari leher dan pundaknya. Matanya nyalang ke arah Ki Punduh Prapta dan Sapta yang telah membokongnya.

"Hiiiiiiyyyyyyaaaaaa...." Rahiang Sanjaya meraung setinggi langit sambi mendorongkan ke dua tangannya ke arah Ki Punduh Prapta dan Sapta. Selarik cahaya putih menghantam mereka.

Tubuh Ki Punduh Prapta dan Sapta terlempar hingga dua deupa. Keduanya mati dengan tubuh berasap mengeluarkan bau hangus. Purwaka dan Maruta bergidik ngeri.

"Kalian.....curang..." keluh Rahiang Sanjaya lalu ambruk tidak sadarkan diri.