Maret 2020 di Sangatta, Kutai Timur


"Ok Bun, jaga anak-anak supaya tidak keluar rumah. Kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan dan kalau ada apa-apa cepat kabarin Ayah" pesan Dewa kepada istrinya. Setelah saling mengingatkan untuk menjaga diri masing-masing Dewa menutup smartphone-nya. 

Dewa lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa, pandangannya kosong menerawang. Sudah setahun lebih, Dewa bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi tambang, di Sangatta Kalimantan Timur, terpisah jauh dengan istri dan anak-anaknya di Jakarta. Sebagai salah seorang top management, Dewa mendapat fasilitas dan gaji yang sangat memuaskan sehingga bisa bekerja dengan tenang. Namun merebaknya virus Corona diawal bulan Maret telah mengganggu fikirannya.

Keselamatan anak-istri, orangtua dan adik-adiknya telah membuat Dewa susah konsentrasi dalam bekerja. Belum lagi beberapa malam ini, Dewa bermimpi bertemu dengan seseorang yang sampai saat ini masih sangat berarti dalam hidupnya.

"Ada apa Pak Dewa, sepertinya ada yang dipikirkan?" tiba-tiba terdengar suara Jono, pengurus rumah dinas yang ditempati oleh Dewa.

"Ah..Jono ni, ngagetin aja" ujar Dewa sambil membetulkan posisi duduknya.

"He..he..maaf Pak Dewa, saya tidak bermaksud mengagetkan" ujar Jono sambil meletakkan secangkir kopi, yang memang biasa dipesan oleh Dewa setiap malam, di atas meja.

"Eh..Jon, gimana keadaan anak dan istrimu di Jawa?" Dewa menahan Jono yang akan kembali ke dapur.

"Alhamdulillah Pak Dewa, keluarga saya semua baik-baik saja. Keluarga Pak Dewa sendiri gimana?" jawab Jono sambil duduk di kursi kosong yang berada di hadapan Dewa.

"Aku baru saja menelepon anak-anak dan istriku, ayah dan dan adik-adikku, semuanya baik-baik saja. Hanya......" Dewa tidak meneruskan ucapannya.

"Kenapa Pak Dewa? Sepertinya ada yang mengganggu pikiran Pak Dewa" Jono bertanya, penasaran mendengar ucapan Dewa yang sepertinya mengambang.

Dewa menarik nafas panjang lalu diambilnya sebatang rokok dari atas meja. Jono menggelengkan kepalanya lalu bangkit dari tempat duduknya.

"Saya ke dalam dulu ya pak..." pamit Jono kepada Dewa yang masih memutar-mutar batang rokoknya.

"Eh..Jon mau kemana?" tanya Dewa.

"Saya ngopi di dalam aja deh Pak Dewa..." jawab Jono.

"Jangan..jangan di dalam, sekarang bawa kopi  kamu kemari. Temani aku ngobrol" ujar Dewa meminta Jono menemaninya.

"Saya ambil kopi dulu ya pak" ujar Jono sambil berlalu.

Dewa mengangguk lalu menyalakan rokok yang sedari tadi dipegangnya. Dihisapnya dalam-dalam lalu dihembuskan pelan-pelan dengan pandangan menerawang ke atas langit-langit.

"Ah...bagaimana keadaannya sekarang? Mudah-mudahan dia baik-baik saja" batin Dewa.

Tak lama kemudian Jono masuk kembali ke ruangan sambil membawa secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek kesukaannya.

"Ada apa Pak Dewa..aku perhatikan beberapa hari ini sepertinya ada yang dipikirkan" tanya Jono sambil duduk.

"Ah...sotoy kamu Jon, namanya orang hidup..pastilah banyak yang dipikirkan" ujar Dewa sambil mengambil cangkir kopi lalu menyeruputnya dengan nikmat. Sejak hari pertama masuk ke rumah dinas tersebut, Dewa memang sudah jatuh hati dengan kopi buatan Jono. Takarannya pas, tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit.

"He..he..hanya nebak-nebak saja Pak Dewa, maafkan kalau tebakan aku salah" Jono terkekeh.

"Virus Corona ini membuat aku sangat khawatir, aku jadi tidak berani pulang ke Jakarta. Takut malah menulari keluargaku" keluh Dewa, kembali menyedot rokoknya dalam-dalam.

"Podo..aku juga ora wedi balik, kita hanya bisa berdo'a dan sabar. Semoga wabah Corona ini cepat berlalu" ujar Jono lalu menyeruput kopinya.

Sesaat suasana menjadi hening, Dewa dan Jono larut dalam lamunannya masing-masing.

"Eh..Jon, kamu pernah tiba-tiba mimpiin mantan istri pertamamu ga?" tanya Dewa tiba-tiba.

Jono mengerutkan dahinya, tidak menyangka Dewa akan bertanya seperti itu. Jono memang sudah pernah cerita kalau dulu pernah punya istri dan bercerai sebelum menikah lagi dengan istrinya yang sekarang.

"He..he..Pak Dewa ini ada-ada aja pertanyaannya. Ya..sekali-kali sih pernah juga, wong namanya juga mantan istri" jawab Jono terkekeh.

"Kalau menanyakan kabar atau mencari tahu tentang keadaan mantan istri, pernah ga?" tanya Dewa.

"Ya..kadang-kadang, ben kita sudah bercerai tapi masih tetapa ada rasa sayang. Tapi ngomong-ngomong, koq Pak Dewa nanya soal itu?" Jono balik bertanya.

"Jangan-jangan Pak Dewa lagi kangen mantan istri ya?" sambungnya sambil tersenyum.

"Hush...aku ini tidak pernah punya mantan istri, istriku ya satu yang sekarang ini" tepis Dewa sambil tersenyum.

"Atau...jangan-jangan Pak Dewa lagi kangen ama mantan pacar ya?" tebak Jono.

Dewa menghela nafas panjang lalu memadamkan sisa puntung rokoknya di atas asbak.

"Entahlah Jon...apakah dia mantan pacar atau bukan, yang pasti aku sangat menyayanginya" keluh Dewa sambil mengambil sebatang rokok lagi dari atas meja. Dinyalakannya lalu dihisapnya dalam-dalam.

"Ooohh...koq bisa begitu, TTM asyik-asyik gitu ya pak?" tanya Jono penasaran.

"He..he..ojo berfikiran aneh-aneh, aku tidak pernah menyentuhnya selain tangan dan sepuluh jarinya" jawab Dewa

"Aku mengenalnya sekitar duapuluh tahun yang lalu..." sambung Dewa kembali menerawang.

===

Januari 2000 di Bandung, Jawa Barat

Dewa bergegas turun dari angkutan kota, Senin ini adalah hari pertama masuk kerja. Hanya beberapa bulan setelah menyelesaikan pendidikan S-1 nya di sebuah perguruan tinggi swasta, akhirnya Dewa mendapatkan pekerjaan pertamanya. Sebuah perusahaan di bagian barat kota Bandung, menerimanya sebagai staff produksi.

Dewa diantar oleh salah satu staff HRD ke ruangan Divisi Produksi dan diserahkan kepada Kepala Divisi Produksi, Pak Robi.

"Pak Dewa, mari saya kenalkan dengan rekan-rekan kerja di Divisi Produksi" ujar Pak Robi ramah.

Setelah berkenalan dan sedikit berbasa-basi dengan semua staff Divisi Produksi, Pak Robi mengajak Dewa untuk dikenalkan kepada Kepala Divisi lain yang berhubungan. Bu Sherma kepala Divisi Marketing, Bu Seli kepala Divisi Sales, Pak Gusep kepala Divisi Quality dan yang paling istimewa buat Dewa adalah Bu Tari, Kepala Divisi Purchasing. Sikap Bu Tari yang acuh tidak acuh, entah mengapa terlihat sangat menarik dimata Dewa.

"Nah..mulai besok, Pak Dewa akan magang di masing-masing Divisi selama satu hari. Untuk belajar mengenai prosedur kerja mereka dan hubungannya dengan Divisi Produksi" ujar Pak Robi setelah mereka berdua kembali ke ruangan Divisi Produksi.

"Baik Pak Robi" jawab Dewa singkat.

"Saya dan seluruh tim berharap, Pak Dewa bisa betah di sini dan memberikan kontribusi yang maksimal bagi perusahaan" ujar Pak Robi.

"Pak Anwar...tolong bantu Pak Dewa kasih pelatihan mengenai prosedur kerja di Divisi Produksi" Pak Robi memanggil salah serorang staffnya.

Pak Anwar segera menghampiri meja Pak Robi.

"Baik Pak Robi. Pak Dewa silakan ikut dengan saya" ujar Pak Anwar.
>>

Hari Rabu adalah jadwal Dewa mengikuti training di Divisi Purchasing. Jam 8 teng...Dewa langsung berjalan menuju Divisi Purchasing.

"Selamat pagi Bu Tari, saya Dewa dari Divisi Produksi yang mau training di Divisi Purchasing" ujar Dewa sambil membungkukkan badannya di depan meja Bu Tari.

Bu Tari yang sedang asyik memandangi layar komputer mengangkat wajahnya lalu mengernyitkan alisnya yang hitam bagai semut beriringan.

"Pagi...oh..iya, kamu silakan duduk dan tunggu ya" kata Bu Tari sambil menunjuk kursi kosong di depan mejanya.

"Baik BuTar" ujar Dewa sok asyik menyingkat namanya sambil menarik kursi dan mendudukinya.

Dewa melemparkan senyum ke arah Bu Tari yang (apesnya) sudah kembali memandangi layar komputernya. Senyum yang dibuat semanis mungkin dan sudah dilatih sejak semalam...ternyata ambyar tidak mengenai sasaran.

Waktu berlalu, Bu Tari tenggelam dalam kesibukannya memeriksa laporan anak buahnya bahkan sesekali terlibat diskusi. Seolah tidak menyadari Dewa yang sudah duduk didepannya sejam lebih.

"Anjritttt...aing dianggurin kayak gini" gerutu Dewa sambil mencoret-coret buku catatan miliknya.

Lalu diberanikannya bertanya kepada Bu Tari.

"Mohon maaf BuTar, kapan ya mulai trainingnya" Dewa sambil memandang Bu Tari dan mencoba mengeluarkan seluruh pesonanya.

Bu Tari melirik sekilas ke arah Dewa, seolah tidak peduli dengan mimik wajah Dewa yang belagak sok ganteng.

"Oh..iya, tunggu sebentar ya. Saya masih ada laporan yang harus di selesaikan" ujarnya sedingin es lalu tenggelam lagi dalam kesibukannya.

Dewa menarik nafas panjang, digeser kursi yang didudukinya agak menyamping. Hal itu sengaja dilakukannya agar bisa memandangi Bu Tari lebih jelas.

"Hmmm...cantik tapi dingin menyebalkan" batin Dewa sambil masam-mesem sendiri.

Dipandanginya wanita yang mungkin usianya beberapa tahun di atasnya. Rambut panjang di bawah bahu yang hitam agak bergelombang, wajahnya manis dengan bibir bawah yang sedikit tebal memerah, kulitnya kuning langsat dengan bulu-bulu halus di lengan. Tatapan Dewa turun ke dada yang sepertinya tidak terlalu besar, sebagian paha yang tertutup oleh rok sebatas lutut dan betis yang membulat ditumbuhi bulu-bulu halus.

"Aiihh...pasti nafsunya besar sekali, suaminya pasti bahagia" pikiran nakal Dewa melayang kemana-mana.

Bu Tari memalingkan mukanya ke arah Dewa yang gelagapan karena tertangkap basah sedang memandanginya dengan tatapan buaya muara. Dewa menundukan mukanya di atas buku catatannya sambil pura-pura menulis sesuatu.

"Aduh anj*ng...aing ka gep" rutuk Dewa dengan muka yang memerah.

Bu Tari mendelikkan matanya yang indah ke arah Dewa lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah meja salah satu anak buahnya.

"Hmmm..tubuhnya bagus juga, sepertinya belum punya anak" batin Dewa sambil mengamati pinggul Bu Tari.

Waktu terus berlalu, puluhan karyawan berlalu lalang dengan aktifitas kerjanya masing-masing, tidak seorangpun peduli dengan kehadiran Dewa.

"Anj*ng..sar*f...aing dikerjain, udah hampir waktu istirahat masih belum juga" keluh Dewa gondok. Namun Dewa tetaplah Dewa, seorang pensiunan playboy kelas kakap dikampusnya, walaupun hatinya kesal bukan kepalang namun masih sempat-sempatnya  melirik paha mulus Bu Ratna, anak buahnya Bu Tari yang sedang berdiri tepat di sampingnya. 

Bu Tari dan Bu Ratna terlibat percakapan mengenai pekerjaan tanpa mempedulikan Dewa di samping mereka yang mulai "keriting" dan "mengering". 

"Teeeeetttt....teeeeettt..teeetttt" bunyi bel pertanda waktu istirahat menyalak keras di telinga Dewa.

Dewa bangkit dari duduknya lalu membungkukkan badannya ke arah Bu Tari yang masih asyik berdiskusi dengan Bu Ratna.

"Mohon maaf BuTar, saya permisi istirahat dulu ya. Nanti saya ke sini lagi" ujar Dewa sopan.

Bu Tari hanya menganggukan kepalanya, seolah tidak peduli.

Dengan gontai Dewa berjalan ke arah mejanya lalu menghempaskan pantatnya di atas kursi.

"Huuuuh......gebl*g, seumur-umur baru kali ini aing dianggurin perempuan" dengus Dewa kesal.

"Gimana...trainingnya? Udah selesai belum?" tiba-tiba Pak Anwar sudah berdiri di belakangnya sambil memijit-mijit pundaknya. Beberapa hari ini memang Dewa dan Pak Anwar semakin akrab, mungkin karena perbedaan usia mereka yang tidak terlalu jauh.

"Halah..boro-boro Pak Anwar, masa setengah hari saya dibiarkan mengering di depan meja perempuan itu" keluh Dewa.

"Ha..ha..training di Divisi Purchasing ya?" tanya Pak Anwar terkekeh.

"Iya Pak Anwar, heran saya ada perempuan senyebelin itu" dengus Dewa masih kesal.

"Sudah..lupakan saja, kita cari makan siang dulu" ajak Pak Anwar.

>>

"Tari tuh orangnya memang rada-rada begitu...judes" ujar Pak Anwar sambil menyuapkan sendok berisi nasi ke dalam mulutnya.

"Bukan rada-rada judes lagi, emang judes pisan!" balas Dewa sambil asyik melahap nasi di hadapannya.

"Menurut Dewa, Tari bagaimana?" tanya Pak Anwar sambil tersenyum.

"Emm..maksudnya?" Dewa tidak mengerti maksud pertanyaan Pak Anwar.

"Maksudku..dia cantik ga?" Pak Anwar mesam-mesem.

"Ya...cantik sih cantik, cuman ngeselinnya itu..sayah mah kasian ama suaminya" jawab Dewa sembari memancing informasi mengenai status Bu Tari.

"Tari itu masih single" ujar Pak Anwar perlahan.

"Oh...kalo single, kenapa dianggurin aja ama Pak Anwar? Kan lumayan galak-galak gitu bisa buat jagain pintu rumah..hehe.." pancing Dewa lagi sambil terkekeh.

"Jagain pintu rumah...emangnya herder...hehehe.." Pak Anwar terkekeh.

"Sebenarnya aku juga naksir sih...cuman dia dingin banget, susah dideketin. Lagipula aku dengar dia sudah punya pacar..orang Jakarta katanya" sambung Pak Anwar.

"Halah...janur kuning belum melengkung, masih bisa dicegat di tikungan" Dewa menyemangati Pak Anwar.

"Dewa naksir ga ama Tari?" Pak Anwar balik bertanya dengan pandangan menyelidik.

"Walah..mana berani saya, status masih karyawan percobaan masak mau nalaktak macarin seorang kepala divisi" ujar Dewa.

Pak Anwar manggu-manggut mungkin senang karena tidak nambah saingan dalam merebut hati Bu Tari.

>>

"Siang BuTar...saya siap mengikuti training lagi" ujar Dewa sambil menundukkan badannya.

Bu Tari mengangkat wajahnya lalu memandang Dewa dengan seksama, alisnya yang bagai semut beriringan itu sedikit terangkat.

"Kamu panggil saya apa?" tanya Bu Tari, kedua matanya yang indah menatap ke arah Dewa.

Dewa menjadi salah tingkah takut ada kata-katanya yang membuat Bu Tari marah.

"Bu Tari..." jawab Dewa pelan.

"Bukan..bukan..tadi kamu tidak panggil saya begitu" ujar Bu Tari.

"Eh..eh..BuTar" Dewa makin khawatir.

"Kenapa kamu panggil saya BuTar?" tanya Bu Tari penasaran.

"Biar singkat aja.." jawab Dewa menunduk.

"Oh....begitu, saya pikir kamu panggil saya Budeg" Bu Tari tersenyum semanis gula sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Huuuuhhh..syukur dia ga marah, kalo sampe marah bisa berabe" batin Dewa lega.

"Sekarang kamu ambil...file-file di dalam lemari itu, kamu pelajari saja sendiri mengenai prosedur dan cara kerjanya. Saya masih ada meeting...jadi tidak bisa menjelaskan" ujar Bu Tari sambil menunjuk ke arah lemari file di sebelah kanannya.

Dewa melengak, setengah hari dia menunggu seperti kambing congek akhirnya hanya disuruh belajar dari dokumen-dokumen yang ada di file.

"Anjriittttt...kalau cuman disuruh baca, kenapa tidak dari tadi pagi saja!!!" rutuk Dewa sambil ngeloyor ke arah lemari file yang ditunjuk oleh Bu Tari.

"Nanti kamu baca dan pelajari di meja dekat Bu Ratna ya, kalo ada yang gak ngerti boleh tanya dia" ujar Bu Tari menjelaskan.

"Baik Bu.." jawab Dewa sambil menenteng beberapa file yang diambilnya dari lemari menuju ke arah meja yang ditunjukkan Bu Tari.

Dibaca-bacanya beberapa prosedur kerja yang tertulis di dalam file tersebut, tapi pikirannya tidak bisa konsentrasi karena masih gondok oleh perlakuan Bu Tari.

"Mau main-main ka aing ni cewek..." rutuk Dewa kesal setinggi langit.

Sementara itu diliriknya Bu Tari sedang menelepon sambil tertawa-tawa sesekali matanya melirik ke arah Dewa. Insting Dewa mengatakan bahwa Bu Tari pasti sedang membicarakannya.

Diam-diam Dewa mengawasi orang-orang yang ada di Divisi Purchasing, di meja sebelah kirinya, Bu Ratna terlihat sedang menerima telepon sambil sesekali saling melempar pandang dan tawa dengan Bu Tari.

"Anjriittt..gebleg...bener feeling aing, Bu Tari dan Bu Ratna lagi ngomoingin aing" Dewa ngedumel.

Rasa kesal Dewa memuncak ke ubun-ubun, dianggurin dari pagi, setelah itu hanya disuruh membaca-baca saja tanpa penjelasan dan sekarang digosipin lagi.

"Kudu turun gunung deui ieu mah..." batin Dewa sambil menghela nafas panjang. 

Jiwa petualangnya seolah diusik, perlakuan Bu Tari jelas tidak bisa diterima oleh Dewa. Sebagai mantan player kampus kelas wahid, dengan slogan one shoot one kill, Dewa merasa dilecehkan.

"BuTar...tunggu saja tanggal mainnya, satu saat kau akan jatuh ke dalam pelukanku" batin Dewa sambil menyunggingkan senyuman jahat dibibirnya.

===
Maret 2020 di Sangatta, Kutai Timur

"Itulah awal perkenalanku dengan BuTar, seorang perempuan cantik tapi judesnya minta ampun" ujar Dewa sambil tersenyum.

"Oohh...Bu Tari namanya" gumam Jono.

"Terus Pak Dewa bisa naklukin Bu Tari?" sambung Jono bertanya.

"Ternyata tidak segampang itu Jon, ini adalah perburuanku yang paling sulit dan panjang...lebih dari duapuluh tahun sampai hari ini pun aku belum berhasil naklukin dia" senyum Dewa berubah menjadi getir.

"Eaaallaah....lama banget pak. Keburu punya cucu..hehe.." Jono melongo mendengar penjelasan Dewa.

"Sejak saat itu, aku mendekati BuTar dengan berbagai cara. Pernah ku kirim SMS nyasar..pura-pura nyasar sebenarnya..hahaha..pake bahasa Inggris pula..haha.." Dewa tergelak mengingat kelakuan konyolnya di saat muda.

"Kalo anak sekarang disebut modus tuh Pak Dewa..hehe.." Jono ikut terkekeh.

"Sampai setahun kemudian, kami cukup dekat namun tiba-tiba BuTar ditarik tugasnya ke kantor pusat di Jakarta" Dewa melanjutkan ceritanya.

"Hmmm...jadi Pak Dewa terpisah dong" timpal Jono.

"Ya begitulah...padahal aku sudah siap-siap nembak dia...hahaha. Kita lost contact, sampai akhirnya aku memutuskan untuk berpacaran dan bertunangan dengan perempuan yang sekarang menjadi istriku. Tapi...." Dewa menghela nafas panjang.

"Tapi apa Pak Dewa...?" Jono semakin penasaran.

"Dua bulan menjelang hari pernikahanku, BuTar tiba-tiba meneleponku" Dewa menerawang.

"Kami janjian untuk bertemu di salah satu fast food masakan Jepang di pusat Kota Bandung. Kita berbincang banyak dan sepertinya BuTar memberi sinyal-sinyal positif" sambung Dewa.

"Entah apa yang ada dipikiranku saat itu padahal seharusnya aku berkonsentrasi dengan pernikaanku, aku kalut! Kami berkomunikasi semakin lancar dan hangat...aku tiba-tiba merasa sangat sayang kepadanya" sambungnya sambil menyedot rokoknya dalam-dalam.

Jono meneguk kopi lalu menyalakan rokok kreteknya sambil menunggu kelanjutan cerita Dewa.

"Tiga minggu kemudian, entah mendapat kabar dari siapa mengenai pertunanganku, tiba-tiba BuTar marah besar kepadaku. Dia tidak mau lagi bertemu ataupun berkomunikasi" Dewa menghela nafas panjang.

"Pak Dewa sih...udah mau nikah masih aja modusin cewek lain" Jono ngomel.

"Hehehe..aku memang bajingan. Tapi jujur sejak pertemuan itu aku benar-benar sayang pada BuTar, niat awalku untuk balas dendam hilang sirna" keluh Dewa.

"Sekarang beliau sudah menikah?" tanya Jono.

"Entahlah Jon, dua tahun lalu terakhir aku bertemu dengannya...dia masih sendiri" Dewa mengusap matanya yang mulai berair.

"Astagfirullah..Pak Dewa, kasihan sekali" Jono lirih.

"Pak Dewa masih sering bertemu BuTar ini?" sambungnya penasaran.

"Kami tidak pernah sengaja untuk bertemu tapi selalu ada momen yang mempertemukan kita berdua. Sepertinya semesta sudah mengatur.." lirih Dewa.

"Sekarang kondisi wabah Corona begini....aku sangat megkhawatirkan dia...aku kangen" mata Dewa berkaca-kaca.

"Mungkin Pak Dewa kena karma tuh.." ujar Jono sambil menyodorkan tissue kepada Dewa.

"Karma bagaimana Jon?" Dewa tersentak mendengar ucapan Jono.

"Ya..karma, tapi jangan marah ya, tadinya kan Pak Dewa cuman mau balas dendam karena merasa dilecehkan ama BuTar...tapi ujungnya jadi jatuh cinta beneran" jawab Jono ragu-ragu.

Sesaat Dewa tercenung.

"Apa bener begitu ya.." batin Dewa.

"Sudah Pak Dewa, jangan terlalu dipikirin. Lebih baik telpon saja supaya tahu keadaannya" Jono mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Aku tidak berani Jon, aku tidak mau mengganggu hidupnya lagi. Aku sudah bejanji...." keluh Dewa sambil mengusap mukanya.

"Lebih baik Pak Dewa, hubungi saja beliau. Tidak apa untuk sekedar bertanya kabar, tidak perlu menyiksa diri seperti ini" Jono iba melihat Dewa yang sepertinya sangat merasa bersalah pada perempuan yang di sebut BuTar itu.

"Lagi pula kita ini punya jatah empat istri...hehe.." Jono terkekeh smencoba menghangatkan lagi suasana yang mendadak syahdu.

"Entahlah Jon...apakah aku punya nyali atau tidak. Lagipula usia kami sudah tidak muda lagi. Aku hanya ingin menjaga dan memperhatikannya" keluh Dewa.

===

Suara bening Rio Febrian yang menyanyikan lagu berjudul "Aku Bertahan" mengalun lembut di kamar tidur Dewa.

Sedih...
Ku tahu kini perasaanmu kepadaku
Sedih...
Saat kau tak yakin kepadaku akan cintaku
Jalan berliku takkan membuatku menyerah akan cinta kita
Tatap mataku dan kau akan tahu semuanya yang kurasakan
Aku bertahan karna ku yakin cintaku kepadamu
Sesering kau coba tuk mematikan hatiku...

..........

Di dalam kamar, Dewa terlihat sedang duduk di depan jendela yang terbuka lebar. Hari itu Minggu, 29 Maret 2020, mata Dewa tertuju pada layar smartphone yang dipegangnya. Situs berita kompas.com memberitakan bahwa ada wacana dari Gubernur Jawa Barat untuk me-lockdown kota Bandung demi mengurangi penyebaran virus Corona.
"Ah...separah itu kah penyebaran Corona di kota Bandung? Semoga BuTar baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Yang Maha Esa" batin Dewa.
Ditutup layar smartphone-nya lalu bangkit dan berdiri di depan jendela, matanya menerawang jauh. Dikeluarkan rokok dan gas korek api dari saku celana pendeknya, dinyalakannya sebatang lalu dihisapnya dalam-dalam.
"Jon...minta kopi dong" teriak Dewa begitu dilihatnya Jono lewat di depan jendela kamarnya.
"Eh...Pak Dewa, siap segera dikirim ke kamar" ujar Jono sambil mengangkat tangannya memberi hormat ala-ala militer.

"Makasih..." ujar Dewa sambil tersenyum melihat kelakuan Jono yang kadang konyol tapi sangat menghibur. Walaupun di rumah besar itu hanya ada mereka berdua namun Jono selalu bisa membuat suasana rame dan menyenangkan.

Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu.

"Masuk Jon..." ujar Dewa.

Jono masuk membawa secangkir kopi dan sepiring lempok durian, makanan khas Kalimatan Timur.

"Wuih...kapan beli lempok durian?" tanya Dewa.

"Kemarin Bu Alin mampir bawa buat Pak Dewa katanya, tapi beliau berpesan tidak boleh makan banyak-banyak. Ingat kolesterol katanya" Jono menjelaskan pesan Bu Alin yang merupakan Direktur Keuangan di perusahaan tempat Dewa bekerja.

"Kemarin? Koq aku ga tahu kalo Bu Alin datang?" tanya Dewa keheranan karena memang hari sabtu kemarin, seharian tidak meninggalkan rumah.

"Pak Dewa lagi tidur siang...kata Bu Alin jangan dibangunin..kasihan katanya" jawab Jono.

"Bu Alin tuh baik banget ama Pak Dewa, dulu Pak Suroso yang pernah tinggal di rumah ini juga, tidak pernah dikirimin makanan" sambungnya.

"Oh...ya sudah, besok senin aku bilang terima kasih ke Bu Alin" Dewa kembali duduk di kursi yang menghadap ke jendela.

"Ok Pak Dewa..aku terusin beres-beres taman ya...kalo ada perlu apa-apa tinggal teriak saja..seperti biasa" ujar Jono sambil berlalu keluar kamar.

"Makasih Jon.." Dewa lalu mengambil sepotong kue lempok durian dari atas piring.

Sementara suara bening Rio Febrian sudah berganti dengan suara beratnya Luther Ingram yang merintih-rintih menyanyikan lagu (If Loving You Is Wrong) I Don't Want to Be Right.

If loving you is wrong I don't wanna be right
If being right means being without you
I'd rather live a wrongdoing life
Your mama and daddy say it's a shame
It's a downright disgrace
Long as I got you by my side
I don't care what your people say
Your friends tell you there's no future
In loving a married man
If I can't see you when I want to
I'll see you when I can
If loving you is wrong I don't wanna be right
If loving you is wrong I don't wanna be right
..........
Dewa kembali larut dalam lamunan..
"Sudah..jangan macam-macam, ingat anak dan istrimu" ujar BuTar sambil melepaskan tangan Dewa yang menggenggam erat jemarinya.
Dewa tersenyum sendiri mengingat ucapan BuTar di pertemuan terakhir mereka dua tahun yang lalu.
"Ah...BuTar, kau selalu saja mempesonaku. Walau seribu kali kau mengabaikanku, tidak akan pernah bisa menghentikan rasa sayangku" batin Dewa.

Dewa mengusap wajahnya mencoba membuang bayangan BuTar dari kepalanya. Diambilnya smartphone dari atas meja, dibukanya fitur kontak, ditekannya salah satu kontak bernama Deddy.

Terdengar dering nada tunggu di ujung telepon sana.

"Hollaaa...luuurrr, kamana wae atuh? Lawas tilawas...beda kalo udah jadi boss mah" terdengar suara tengil yang sudah sangat dikenalnya. Deddy adalah sahabat Dewa di perusahaan lamanya, mereka cukup dekat. Bahkan Deddy adalah satu-satunya bekas teman kerja di perusahaan lama yang mengetahui kedekatan Dewa dengan BuTar.

"Kumaha sehat? Aing baca di berita, Bandung Lockdown, bener ga?" tanya Dewa.

"Belum sih..baru pembatasan-pembatasan aja. Kalo dilockdown mah bisa-bisa koredas atuh..moal bisa dahar" jawab Deddy.

"Eh...maneh sekarang di Kalimantan ya?" sambung Deddy bertanya.

"Heueuh..geus dua tahun. Kapaksa ku kabutuhan, anak-anak makin gede" ujar Dewa

"Iya...gimana lagi, sudah tugas seorang bapak eta mah..hehe.." Deddy terkekeh.

"Kumaha Corona di Kalimantan, rame teu?" sambung Deddy bertanya.

"Ya...samalah kaya di Jawa...apalagi disini kan ada juga orang-orang asing, jadi tetep waspada" jawab Dewa.

"Tapi bentar..tumben maneh nelpon, biasanya kan cuman nga-WA aja. Aya naon nih?" tanya Deddy.

"Gini...hehe..tapi jangan ribut ya, aing rek nanyain kabar BuTar" ujar Dewa terkekeh.

"Moal jauh...aing udah nyangka, pasti nanyakeun BuTar..haha.." Deddy terbahak.

"Aing worry Ded, bisi aya nanaon...amit-amit kalo sampe ketularan Corona mah" ujar Dewa pelan.

"Halah..halah..cinta tidak berujung ya kayak gini...kenapa ga dikawinin aja sih?" tanya Deddy.

"Kawin..kawin..emang gampang" keluh Dewa.

"Gampang kalo mau mah" ujar Deddy,

"Aing terakhir ketemu BuTar di hari Jum'at, kelihatannya sih baik-baik aja" sambung Deddy menenangkan Dewa.

"Ya..syukurlah kalo baik-baik saja mah, aing khawatir pisan euy" Dewa lega.

"Maneh telpon atuh, biar bisa nanya langsung ama BuTar" ujar Deddy.

"Ga enak...takut ganggu hidupnya dia" Dewa tak yakin.

"Ya Tuhan...maneh udah hampir duapuluh tahun gangguin hidup BuTar, sekarang ngomong takut ganggu....dasar ucing garong.." omel Deddy.

"Dewa...Dewa...geus rek incuan kalakuan masih kayak ABG, punya nomer hape dia kan?" cerocos Deddy.

"Ga punya...udah lama kehapus di hape yang dulu" jawab Dewa.

"Ya udah...abis ini aing share nomor kontak BuTar ya..hehe.." Deddy kembali terkekeh.

===
April 2020 di Sangatta, Kutai Timur

Sudah seminggu lebih Dewa hanya memandangi kontak BuTar yang ada di kontak list smartphone-nya. Sejak Deddy mengirim nomor kontak itu, Dewa tidak pernah berhasil mengumpulkan keberanian untuk menghubungi BuTar.

Jum'at malam, udara di Sangatta terasa panas. Dewa yang baru saja sampai di rumah, menarik nafas panjang, diambilnya handuk yang menggantung di dekat jendela kamarnya. Kemudian berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa penat setelah hampir lima hari berada di dalam hutan mengawasi armada ekspedisi yang mengangkut batubara dari tambang ke pelabuhan.

Dewa keluar dari kamar mandi lalu mengeringkan badannya dan mengenakan pakaian santai yang biasa dikenakannya di rumah, celana pendek dan kaos oblong.

"Jon...Jon..minta kopi dong" teriak Dewa sambil membuka pintu dan  melongokkan kepalanya keluar kamar.

"Siapppp...segera diantar" terdengar suara Jono dari arah dapur.

Dewa menghampiri music player yang ada di atas meja kerjanya. Tak lama mengalun suara lembut Rick Price menyanyikan lagu "Heaven Knows"

She's always on my mind
From the time I wake up 'til I close my eyes
She's everywhere I go
She's all I know
And though she's so far away
It just keeps gettin' stronger, every day
And even now she's gone
I'm still holding on
So tell me where do I start
'Cause it's breakin' my heart
Don't want to let her go
------
Terdengar suara ketukan halus di pintu kamarnya.
"Masuk Jon...simpen di atas meja ya" ujar Dewa kepada Jono yang baru saja masuk mengantarkan kopi pesanannya.
"Pak Dewa mau dibuatin makan malam apa?" tanya Jono sambil meletakkan cangkir dengan sepiring biskuit kesukaan Dewa di atas meja.
"Ga usah Jon...aku sudah makan, tadi ditraktir Bu Alin. Oh...iya, di atas meja ruang tamu ada Nasi Bekepor, sengaja dibungkusin buat kamu" ujar Dewa.
"Waduh...Pak Dewa ini, memang paling baik deh. Matur suwun sanget yo.." ujar Jono senang.
"Sudah..kamu makan dulu sana, ga enak kalo keburu dingin" Dewa mengingatkan Jono.
"Siaappp...kalo ada apa-apa..seperti biasa Jono siap dipanggil 24 jam" Jono mengangkat tangannya menghormat ke arah Dewa.
"Heeleh...bisa aja kowe...tak pelintir lambemu" ujar Dewa sambil menggunakan bahasa Jawa asal-asalan.
Jono segera berlalu meninggalkan kamar Dewa. Sepeninggal Jono, Dewa mengambil smartphone miliknya dari atas meja lalu menghempaskan badannya di atas tempat tidur miliknya. Pikirannya menerawang jauh, sekilas wajah istri dan anak-anaknya berkelebat. Sudah sebulan lebih Dewa tidak bertemu mereka, niatnya untuk pulang di awal bulan April diurungkannya karena pindemi Corona belum kunjung reda. Dewa khawatir jika memaksakan pulang malah akan membahayakan kesehatan keluarganya. Karena jahanamnya virus ini adalah walaupun Dewa terlihat sehat belum tentu terbebas dari virus Corona. Dewa tidak mau menjadi carrier virus Corona.
Dewa melirik jam dinding yang tergantung.
"Ah..sudah jam 10 malam, anak-anak pasti sudah tidur. Besok saja aku video call mereka" batin Dewa.
Suara Rick Price berganti dengan suara merdunya Richard Marx menyanyikan lagu "Right Here Waiting For You"
Oceans apart day after day
And I slowly go insane
I hear your voice on the line
But it doesn't stop the pain
If I see you next to never
How can we say forever
Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
--------
Dewa tenggelam dalam lamunan, matanya menerawang menatap kosong langit-langit di atas tempat tidurnya.
"BuTar..bagaimana kabarmu? Ah...aku benar-benar cemas memikirkanmu" batin Dewa.
Dewa mengangkat smartphone yang dipegangnya, dicarinya fitur kontak. Dipandanginya kontak bernama "BuTar" lekat-lekat. Ibu jarinya sudah bersiap menekan tombol "call". Sesaat lagi ibu jarinya akan menyentuh layar, segera diurungkan niatnya.
Dewa menghela nafas panjang....
===

Minggu pagi, Dewa duduk di teras rumah yang menghadap ke arah taman. Secangkir kopi dan sepiring pisang goreng tersaji di atas meja. Tidak lupa sebungkus rokok Marlboro merah yang setia menemani hari-harinya.

Dewa baru saja selesai mengecek keadaan keluaganya di Jakarta melalui video call. Semakin berkembangnya virus Corona atau disebut juga Covid19 ini benar-benar membuat Dewa resah. Dibukanya fitur Spotify di smartphone-nya, tak lama suara berat Iwan Fals mengalun syahdu menyanyikan lagu "Ijinkan Aku Menyayangimu"

Andai kau ijinkan
Walau sekejap memandang
Kubuktikan kepadamu
Aku memiliki rasa
Cinta yang ku pendam
Tak sempat aku nyatakan
Karena kau tlah memilih
Menutup pintu hatimu
Ijinkan aku membuktikan
Inilah kesungguhan rasa
Ijinkan aku menyayangimu
.....
Dewa memejamkan matanya, meresapi setiap bait yang terucap.
"Pak Dewa..Pak Dewa..maaf ganggu" tiba-tiba suara Jono membuyarkan semua lamunan Dewa.
"Ya Jon...ada apa?" tanya Dewa sambil membetulkan posisi duduknya.
"Maaf lo Pak Dewa...aku ganggu. Pak Dewa siang nanti mau makan apa? Saya mau ke pasar" ujar Jono.
"Ya..ga apa-apa Jon, terserah kamu sajalah mau masak apa" jawab Dewa.
"Saya masak sayur sop kesukaan Pak Dewa, boleh?" tanya Jono meminta persetujuan Dewa.
"Boleh..boleh..sekalian aku titip beliin rokok dua bungkus ya.." ucap Dewa.
"Siap..saya berangkat sekarang ya" Jono berpamitan.
"Ya...hati-hati, jangan lupa pake masker" Dewa mengingatkan.
Jono mengacungkan jempolnya sambil berlalu menuju garasi.
>>
Minggu malam, Dewa berbaring di atas tempat tidurnya, pikirannya jauh melayang kemana-mana. Suara Letto mengalir lembut membawakan lagu "Ruang Rindu"
Di daun yang ikut
Mengalir lembut
Terbawa sungai ke
'Ujung mata
Dan aku mulai takut
Terbawa cinta
Menghirup rindu
Yang sesakkan dada ...
Jalanku hampa
Dan kusentuh dia
Terasa hangat
Oh didalam hati
......
Pelan-pelan Dewa meraih smartphone-nya dari atas meja di samping tempat tidurnya.
"Halah..gimana nanti saja lah...kemana ujungnya gua ikutin aja" batin Dewa. 

Dibukanya fitur SMS lalu diketiknya beberapa kata.
"Apa kabar? Jaga diri BuTar baik-baik"
Dicarinya kontak "BuTar" lalu ditekannya tombol "send".
"Huuuhhh...." Dewa menghembuskan nafas lega.
Sepuluh menit, duapuluh menit, tigapuluh menit...tidak ada balasan.
"Kebiasaan...selalu balas pesan seenak-enaknya dia" rutuk Dewa gelisah, sambil meletakkan kembali smartphone-nya di atas meja.
Dewa bangikt dari tempat tidurnya, mengambil sebungkus rokok beserta koreknya lalu ngeloyor ke luar kamar.
"Jon...Jon..udah tidur belum?" Dewa memanggil Jono.
"Belum bos..." terdengar suara Jono dari kamar belakang.
"Tolong bikinin kopi dong..." ujar Dewa.
"Siap...nanti saya antar ke kamar bos" jawab Jono.
"Antar ke teras aja Jon..simpen di atas meja teras" ucap Dewa sambil berlalu masuk ke dalam kamar tidurnya, mengambil smartphone miliknya lalu kembali ke luar menuju teras.
Dihempaskan pantatnya di atas kursi teras, dilihatnya smartphone-nya masih sepi-sepi aja. Tidak ada balasan yang diharapkan.
"Masak jam sembilan udah tidur..." keluh Dewa sambil menyalakan sebatang rokok.
Tak lama Jono datang membawa secangkir kopi lalu diletakkan di atas meja.
"Mau saya temenin ngobrol bos?" tanya Jono.
"Ga usah Jon...kamu istirahat saja gih, jaga kesehatan jangan banyak nonton tivi" jawab Dewa.
"Iya...Pak Dewa juga, jangan terlalu banyak pikiran. Yakinlah semua akan baik-baik saja" jawab Jono nyengir seolah mengerti isi pikiran Dewa.
"Ha..ha..bisa aja, makasih ya Jon" jawab Dewa.
Jono berlalu kembali masuk ke dalam rumah. Dewa menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Tuuuut..tuuuutt.." smartphone Dewa berbunyi. Dengan kecepatan yang luar biasa, Dewa menyambar smartphone-nya dari atas meja.
"Akhirnya..." desis Dewa.
BNPB
Jangan mudik untuk melindungi diri sendiri dan keluarga tersayang.
"Sialan..kirain BuTar" rutuk Dewa.
===
Mei 2020 di Sangatta, Kutai Timur
Wabah virus Corona mereda, Dewa memutuskan untuk pulang ke Jakarta setelah hampir tiga bulan tertahan di Sangatta. Bossnya, Ibu Alin, memberikan liburan yang cukup panjang kepadanya.

===
Juni 2020 di Sangatta, Kutai Timur
Setelah menghabiskan waktu liburan hampir selama satu bulan bersama keluarganya di Jakarta, pertengahan bulan Juni, Dewa kembali ke Sangatta. Jum'at sore sekitar pukul 16.00WITA Dewa mendarat di Bandara Pranoto, Samarinda.

Diluar Bandara, Jono sudah menyambutnya dengan sumringah.

"Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf saya suka banyak salah" sambut Jono sambil menyodorkan tangan bersalaman dengan Dewa.

"Sama-sama Jon, maafin aku juga ya, kamu kapan balik dari Jogja? Bagaimana keluarga baik semua?" Dewa balik bertanya.

"Alhamdulillah baik semua, aku balik minggu kemarin....Keluarga Pak Dewa juga baik-baik saja kan?" Jono dan Dewa berjalan berdampingan menuju ke tempat parkir.

"Keluargaku semua baik...syukurlah wabah Corona tidak kena ke keluarga kita" jawab Dewa.

Jono mengangkat koper milik Dewa dan memasukkannya ke cabin penumpang mobil Nissan Navara warna orange.

"Jon, nanti kita mampir di Rumah Makan Bakar Sadewo ya. Aku kangen banget sudah lama ga makan di sana" ujar Dewa sambil memasang safety belt.

"Siap bos..." jawab Jono. 
>>>
Sabtu pagi, Dewa baru selesai jogging di sekitar perumahan Pamma Regency. Keringat mengucur deras. Dihempaskan tubuhnya di kursi teras. Nafasnya masih tersengal-sengal.

"Huuhhh...dasar mesin tua, baru jogging segini aja udah ngos-ngosan" gumam Dewa sambil mengusap keringat di dahinya.

Tak lama, Jono yang baru selesai menyiram pepohonan di taman menghampirinya.

"Pak Dewa..mau dibuatkan es jeruk?" tanyanya.

"Ga usah Jon, aku ada beli air mineral di warung depan" kata Dewa sambil menunjuk minuman mineral di atas meja.

"Kalo kopi gimana?" Jono menawarkan lain.

"Nah...itu boleh, sekalian tolong ambilin rokok ama koreknya di kamar ya" ujar Dewa.

"Siap boss" Jono berlalu masuk ke dalam rumah.

Dewa mengeluarkan smartphone dari saku celana pendeknya. Dibukanya fitur "Contact" dicarinya nama "Deddy" lalu ditekan tombol "Call".

"Assalamualikum lurrrr" tak berapa lama terdengar suara tengil yang sangat dikenalnya.

"Waalaikumsalam...kumaha sehat?" jawab Dewa.

"Alhamdulillah...masih di Jakarta atau udah balik Kalimantan?" tanya Deddy.

"Udah di Kalimantan...baru aja kemaren nyampe. Eh...lurr, aing rek menta tulung...hehe.." Dewa terkekeh.

"Moal jauh...urusan BuTar ieu mah" Deddy menebak.

"Hehe..nyaho wae maneh mah. Gini lur...aing tanggal 4 Juli mau ke Bandung, tolong cariin rentalan mobil atuh" ujar Dewa.

"Tanggal 4 bulan depan?" tanya Deddy.

"Bener, tanggal 4 poe Sabtu" Dewa menegaskan.

"Arek kamana atuh?..Teu kudu rental-rentalan sagala, pake mobil aing we...mun perlu disupiran ku aing" Deddy menawarkan.

Dewa menghela nafas panjang.

"Masalah BuTar...aing geus mikir dibulak-balik, dibeuweung diutahkeun...kayanya semua harus dituntaskan, meh teu jadi ganjelan" ujar Dewa.

 "Wadidaw...baturan aing rek kawin deui!" pekik Deddy.

"Gandeng gobl*g tong jojorowokan, ntar istri maneh denger..hehe.." Dewa terkekeh.

"Tenang...aman, pamajikan lagi ke pasar" jawab Deddy.

===
Juli 2020 di Bandung, Jawa Barat

Tanggal 4 Juli, Dewa menggunakan pesawat Batik Air Flight jam 07.30WITA dari Bandara Pranoto dan landing jam 08.35WIB di Bandara Soekarno Hatta.

Jam 13.00WIB, Dewa check in di West Point Hotel. Dihempaskan tubuhnya ke atas kasur.

"Huuuuhhh...cape sekali" keluh Dewa.

Dikeluarkan smartphone dari saku celana panjangnya. Dipijit nomer Deddy, sahabatnya.

"Assalamualikum Ded..." Dewa mengucapkan salam

"Waalaikumsalam juragan...geus nyampe Bandung?" terdengar suara Deddy.

"Udah..aing geus nyampe hotel. Ntar sore ke sini ya" Dewa meminta Deddy datang ke hotelnya.

"Siap..di hotel mana?" tanya Deddy.

"Hotel West Point, jalan Pajajaran. Jam 4an ya" ujar Dewa.

"Siap juragan..." balas Deddy.


>>

4 Juli, 17.00 WIB di Coffe Shop 

"Jadi rencananya berapa hari di Bandung? Mau langsung dikawinin?" cerocos Deddy lalu menghisap rokoknya dalam-dalam.

"Rencana Senin pagi balik Kalimantan. Nu edan...maen kawin wae. Aing hayang panggih doang dengan BuTar" jawab Dewa.

"Terus mau gimana lagi? Kita bukan abege lagi luurrr...ambil keputusan, waktu kita tidak banyak, jangan lagi maen-maen. Ajakin kawin atau jangan pernah ganggu dia lagi" ujar Deddy.

Dewa menghela nafas panjang.

"Semua yang maneh omongin bener Ded, tapi masalahnya BuTar mau ga jadi istri kadua?" keluh Dewa.

Deddy memandang Dewa dalam-dalam.

"Pernah maneh tanya? Belum pernah kan? Selama duapuluh tahun, maneh ga pernah ngasih kepastian, ngambang-ngambang ga jelas...kayak tai" Deddy ngomel.

Dewa menghisap rokoknya dalam-dalam lalu dihembuskannya kuat-kuat.

"Bener juga..aing emang jiga tai" keluh Dewa.

>>

4 Juli, 19.30 WIB di Rumah BuTar

"Sayah kaget...tiba-tiba lihat kamu ada didepan pagar" ujar BuTar sambil meyimpan nampan berisi minuman di atas meja. Lalu BuTar duduk di depan Dewa.

"Sama...sayah juga kaget tiba-tiba bisa duduk di ruang tamu BuTar" jawab Dewa sekenanya sambil mencoba meredakan gemuruh di dadanya.

"Hampir dua tahun lebih ya kita ga ketemu" sambung Dewa.

"Itu si Pak Deddy ga disuruh masuk, kasian masa suruh nungguin di mobil" ujar BuTar sambil menunjuk keluar.

"Biarin aja...maunya begitu, mau sambil cari rokok" jawab Dewa sedikit kesal karena BuTar seolah tidak memperhatikan omongannya.

"Aa..Aa...sini sayang, bunda kenalin ama om Dewa" BuTar memanggil seseorang.

Tak lama kemudian, masuk seorang anak laki-laki sebaya dengan anak pertamanya Dewa dari ruangan dalam. Anak laki-laki itu menyodorkan tangan kanannya.

"Saya Angga om" katanya lalu salim mencium tangan Dewa.

"Jangan panggil om, panggil aja ayah" ujar Dewa sambil melirik ke arah BuTar.

Angga hanya tersenyum lalu kembali masuk ke ruangan dalam.

"Enak aja..panggil ayah, sejak kapan sayah kawin dengan kamu" ujar BuTar sambil matanya mendelik ke arah Dewa.

"Ya..Tuhan, mata itu masih tetap indah seperti duapuluh tahun lalu" batin Dewa mengeluh.

"Sudah besar ya..itu anak angkat BuTar yang dulu pernah cerita ke sayah?" tanya Dewa.

"Ya iyalah sudah gede..dikasih makan" jawab BuTar ketus, tapi justru inilah yang membuat Dewa jatuh hati.

Dewa panas dingin, bingung memulai dari mana.

"BuTar...maaf ya, sayah ganggu waktu istrahatnya" ujar Dewa bego. Selama duapuluh tahun memang Dewa selalu mendadak celeno di depan BuTar. Predikat pensiunan player kampusnya lumpuh total.

"Ga apa-apa, lagian kamu mah dari dulu juga emang senengnya ganggu" ketus BuTar.

Dewa menelan ludah, mati gaya, don't know what to do.

"Eh...kemarin waktu wabah Corona, semua baik-baik saja kan?" Dewa mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Alhamdulillah...semuanya aman. Kamu, istri dan anak-anak, baik-baik juga kan?" BuTar menohok ulu hati Dewa.

"Alhamdulillah keluargaku juga semua baik-baik aja" jawab Dewa kikuk.

"Eh...iya, cuman ada orang iseng kirim-kirim sms. Ga ada kerjaan..sok sok perhatian gitu" cibir BuTar.

Dhuarrrrr...muka Dewa merah serasa ditampar bolak-balik.

"Anjriiitttt....gebleg..." Dewa menelan ludah mengingat SMSnya yang tidak pernah dibalas BuTar. Dewa nyengir kuda.

"Orang tuh ya...kalo mau nanya kabar tuh mustinya dengan baik-baik. Kan udah kenal, kenapa ga telepon aja? Tolong bilangin ama orang itu...emang ga pernah berubah ya dari jaman dulu" cecar BuTar masih belum puas mempermalukan Dewa.

"Iya..iya...sayah minta maaf deh sama BuTar, sayah mah emang celeno" Dewa menyerah.

"Bukan celeno lagi...itu mah sudah masuk kategori cileupeung" ketus BuTar.

Dewa hanya cengangas-cengenges ga jelas, tidak tahu harus ngomong apa.

BuTar menatap Dewa dalam-dalam, mungkin kasihan juga melihat Dewa yang mukanya mulai ga jelas, merah padam kadang biru. Mengenaskan.

"Sekarang maksud kamu datang kesini apa? Tidak mungkin Bapak Dewa yang terhormat ini tiba-tiba jauh-jauh dari Kalimantan, berkenan datang ke rumah sayah" BuTar tegas, seperti dulu selalu to the point.

Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuh Dewa.

"Now or never" batin Dewa, menguatkan hati.

"Euh...euh...begini BuTar" ujar Dewa sambil merubah posisi duduknya menjadi tegak.

BuTar menatap mata Dewa dalam-dalam.

"Ya Tuhan...mata indah itu..." konsentrasi Dewa ambyar.

"Loh...koq malah bengong?" suara BuTar membuyarkan lamunan Dewa.

"Euh..BuTar kan tahu..perasaan sayah selama ini ke BuTar" Dewa terbata-bata.

BuTar mengerutkan dahinya, kedua alisnya yang bagaikan semut beriring itu terangkat dengan mimik aneh dan tidak mengenakan. Harga diri Dewa bagai dihempaskan ke lantai, remuk redam

"Loh, mana saya tahu perasaan kamu, kapan kamu ngomong ke sayah?..Tapi terusin aja deh omongan kamu, kasihan jauh-jauh dari Kalimantan" BuTar benar-benar melumat mental Dewa sehancur-hancurnya.

Direndahkan dan disudutkan sampai ke titik terendahnya membuat Dewa akhirnya nekat. Dikeluarkan sapu tangan dari saku celananya lalu diusapkan ke wajahnya yang bercucuran keringat.

"Euh...euh...jadi begini...saya mau melamar BuTar jadi istri saya" akhirnya Dewa nekat tanpa basa-basi menyampaikan maksudnya.

Dihelanya nafas lalu dihempaskannya...lega.

Sementara BuTar yang tidak menyangka akan ditembak sedemikian rupa oleh Dewa, ternganga tidak percaya. Kedua tangannya menutup mulut, matanya mendelik ke arah Dewa.

Suasana mendadak hening. Angin berbalik ke arah, kendali berpindah ke tangan Dewa.

BuTar menghela nafas panjang mencoba menenangkan diri.

"Ijinkan saya menyayangi dan menjaga BuTar selamanya" lirih suara Dewa sambil turun dari kursi dan berlutut di depan BuTar. Diraihnya kedua tangan Butar yang masih menutupi mulutnya, digenggamnya erat.

"Kamu gila...kamu gila Dewa..." bibir BuTar bergetar, kedua matanya mulai berair. Dilepaskannya genggaman tangan Dewa lalu bangkit dari duduknya dan beringsut masuk ke ruangan dalam. Meninggalkan Dewa yang masih berlutut.

Dewa bangkit dari berlututnya lalu meghempaskan pantatnya di atas kursi. Hatinya benar-benar lega, beban perasaan yang tertahan lebih dari duapuluh tahun akhirnya lepas.

"Ya Tuhan..aku ikhlas menerima apapun keputusan BuTar" batinnya sambil tersenyum puas. Diambilnya gelas yang berisi minuman dari atas meja, sekali teguk langsung tandas.

Lebih limabelas menit berlalu, BuTar tidak kembali ke ruang tamu. Dewa akhirnya memutuskan untuk pulang.

Dewa bangkit dari duduknya lalu mendekati pintu masuk ke ruang dalam.

"Punten...punten.." Dewa mencoba memanggil orang yang ada di dalam.

Tak lama terdengar suara langkah mendekat. Dewa mundur menjauhi pintu. BuTar muncul dengan mata yang sembab, pandangannya nyalang penuh kemarahan kepada Dewa.

"Sayah lebih baik pamit, BuTar tidak perlu menjawab lamaran saya sekarang" ujar Dewa.

BuTar berjalan mendekati Dewa. Matanya lurus menembus mata Dewa.

Dewa membeku tidak bergerak, otak dan badannya kaku.

"Kamu keterlaluan Dewa...kamu keterlaluan..." tangis BuTar pecah, kedua tangannya mengepal memukuli dada Dewa.

Dewa masih kaku tidak bergerak.

"Kenapa kamu lakukan ini Dewa? Kamu tega...kamu tegaaaa!" wajah BuTar menengadah begitu dekat.

Saat otak beku dan pikiran tidak berfungsi, maka setan yang akan mengambil alih kendali. Dewa nekat.

Direngkuhnya tubuh BuTar, bibirnya ditempelkan di bibir BuTar. Terasa dingin...sangat dingin.

Tiba-tiba BuTar mundur dan menjauh dari sergapan Dewa.

"Plak..." telapak tangan kanan BuTar melayang menghantam pipi Dewa.

"Dewa...kamu..kamu...lebih baik pulang..dan jangan pernah datang ke sini lagi!" air mata membanjiri pipi BuTar.

"BuTar...aku mohon maaf..aku khilaf" Dewa merasa sangat menyesal karena telah berlaku konyol.

BuTar berbalik meninggalkan Dewa yang masih berdiri mematung di ruang tamu.
>>

5 Juli, 09.30 WIB di kamar hotel.

Dewa membuka matanya, lalu meraih smartphone dari meja di sampingnya.

"Baru jam setengah sepuluh...masih banyak waktu" batin Dewa lalu membuka aplikasi Spotify

Tak lama terdengar suara bening Rio Febrian menyanyikan lagu "Bukan Untukku"

Tak kusesali cintaku untukmu
Meskipun dirimu tak nyata untukku
Sejak pertama kau mengisi hari-hariku
Aku t'lah meragu mengapa harus dirimu
Aku takkan bertahan bila tak teryakinkan
Sesungguhnya cintaku memang hanya untukmu
Sungguhku tak menahan bila jalan suratan
Menuliskan dirimu memang bukan untukku
Selamanya
U wo ho
------
Dewa melemparkan smartphone ke atas bantal di sampingnya. Dipejamkan matanya yang terasa pedih. Baru menjelang pagi, Dewa baru bisa memejamkan matanya, semalaman menyesali kekonyolan yang dilakukannya ke BuTar.
"Sialan..pasti gara-gara  kebanyakan minum....kepalaku jadi sakit begini" gumam Dewa meringis sambil memijit kepalanya yang berdenyut sakit.
#LawanCovid19
#StayHealthStaySafe