PANDITA PURUSARA PENJAGA GERBANG KEJUJURAN


Setelah berhari-hari menerobos pekatnya hutan setelah keluar dari Langkob Karamat, Rahiang Sanjaya akhirnya menemukan sebuah jalan setapak yang sepertinya cukup sering dilalui oleh orang.

"Huuuhhh...akhirnya bisa keluar hutan juga" gumam Rahiang Sanjaya sambil menarik kekang Si Jagur.

Rahiang Sanjaya dengan sebat turun dari punggung si Jagur.

"Kita beristirahat dulu sekalian kau cari makan" ujarnya sambil menepuk leher si Jagur.

Diedarkannya pandangan ke sekitar lalu berjongkok mengamati jalan setapak yang ada di depannya.

"Hmmm...jejak ini masih baru, sepertinya di sekitar sini ada perkampungan" batinnya. 

Rahiang Sanjaya kembali berdiri lalu berjalan mendekati sebuah pohon manggis yang buahnya sangat lebat dan sebagian sudah memerah matang, tidak jauh dari jalan setapak tersebut.

"Lebih baik mengisi perut dulu" sekali lompat tubuhnya melayang ke atas pohon manggis tesebut.

Sambil menikmati buah manggis yang terasa sangat manis, Rahiang Sanjaya mengamati ke atas lereng bukit yang berada di atas jalan setapak tersebut.

"Ada huma dan juga saung ranggon...pasti ada orang di sana. Lebih baik aku ke sana untuk bertanya mengenai Kabuyutan Denuh" gumamnya.

Dengan enteng Rahiang Sanjaya melompat di antara pohon-pohon tinggi menuju ke atas lereng yang terdapat huma dan saung ranggon. Semakin dekat terlihat bahwa ada asap putih mengepul dari atas saung ranggon. Setelah sampai di pinggir huma, Rahiang Sanjaya melompat turun lalu berjalan mendekati saung ranggon.

"Sampurasun...sampurasun baraya!!" ujarnya keras memberikan salam.

Dari dalam saung ranggon terdengar suara derak lantai bambu yang diinjak lalu pintunya, yang terbuat dari kayu, terbuka. Sesosok laki-laki setengah baya bertubuh tegap muncul dari muka pintu.

"Rampes...!" laki-laki itu menjawab sambil memandang curiga ke arah Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya merangkapkan kedua tangannya di depan dada lalu membungkuk dengan hormat.

"Mamang..mohon maaf telah mengganggu. Aku ada hal yang hendak ditanyakan" ujar Rahiang Sanjaya.

Laki-laki itu lalu menuruni tangga saung ranggon dan berdiri tidak jauh dari Rahiang Sanjaya.

"Euh...hendak bertanya apa Kisanak?" ujarnya masih dengan pandangan menyelidik.

Rahiang Sanjaya tersenyum lalu menjawab dengan tetap hormat.

"Begini Mamang...aku hendak menuju Kabuyutan Denuh tapi sudah beberapa hari ini aku malah berputar-putar di sekitar sini. Apakah bisa menunjukkan jalan menuju ke sana?"

"Kabuyutan Denuh..." desis laki-laki itu.

"Kisanak..sebutkan nama dan asal serta keperluanmu pergi ke Kabuyutan Denuh! Aku tidak mau memberikan informasi kepada sembarangan orang" tanyanya seolah tidak mempedulikan pertanyaan dari Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya juga ikut waspada melihat gerak-gerik laki-laki itu yang sangat berhati-hati kepadanya.

"Aku harus berhati-hati denga laki-laki ini, pandangan dan gerakannya sangat mencurigakan" batin Rahiang Sanjaya.

"Namaku Sancaka dari wilayah wetan...aku hendak berguru ke Kabuyutan Denuh" ujarnya menutupi tujuan sebenarnya.

"Tidak sembarangan orang bisa berguru di Kabuyutan Denuh...lebih baik kau kembali saja ke tempat asalmu" laki-laki itu seolah mematahkan semangat Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya tersenyum.

"Aku juga mendengar demikian..sangat sulit untuk berguru di Kabuyutan Denuh tapi kalau aku belum mencobanya sendiri...aku akan penasaran seumur hidup" ujarnya tenang.

Laki-laki itu mengusap wajahnya.

"Kisanak...tekad dan kemauanmu sangat kuat, aku senang mendengarnya" ujar laki-laki itu.

"Kabuyutan Denuh tidak jauh dari sini, kau ikuti jalan setapak nanti di depan sana ada perkampungan yang bernama Dacarana. Disana kau bisa bertanya lagi kepada punduh kampung, Ki Punduh Prapta" sambungnya sambil menunjuk ke arah jalan setapak di bawah lereng.

Rahiang Sanjaya membungkukkan badannya ke arah laki-laki itu.

"Mamang...aku mengucapkan banya terima kasih atas petunjukmu. Bolehkah aku tahu namamu?" ujar Rahiang Sanjaya.

Laki-laki itu wajahnya berubah dingin.

"Kau bisa memanggilku..Ki Liman" ujarnya pendek.

"Baiklah Ki Liman, aku mohon pamit untuk segera menuju Kampung Dacarana" Rahiang Sanjaya sambil membalikkan badannya berjalan menuruni lereng.

Sementara laki-laki yang bernama Ki Liman itu tersenyum penuh arti lalu kembali menaiki tangga dan masuk ke dalam saung ranggon.

Baca juga : Rahiang Sanjaya : Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #11
===

Malam itu langit sangat cerah, bintang-bintang di bantu cahaya bulan walaupun tidak bulat sudah cukup menerangi jalan. Menjelang waktu sareureuh budak saat Rahiang Sanjaya sampai di depan mulut sebuah perkampungan.

"Mungkin ini Kampung Dacarana yang disebutkan laki-laki di huma tadi" gumam Rahiang Sanjaya sambil menarik kekang si Jagur lalu melompat turun.

Sesaat Rahiang Sanjaya mengamati kampung tersebut.

"Kampungnya cukup besar, mungkin ini kampung terakhir sebelum menuju ke Kabuyutan Denuh" batin Rahiang Sanjaya menebak-nebak.

"Sampurasun Kisanak..." tiba-tiba terdengar suara dari belakang Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya melengak lalu berbalik ke arah datangnya suara, dilihatnya seorang laki-laki berpakaian pandita sedang berdiri dengan tangan kanannya didepan dada sambil memegang ganitri.

"Luar biasa..aku sampai tidak menyadari kehadirannya" batin Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya merangkapkan kedua tangannya di depa dada lalu membungkuk hormat.

"Rampes Pandita...hampir saja jantungku lepas karena terkejut" ujar Rahiang Sanjaya sambil tersenyum.

Pandita itu hanya tersenyum tipis lalu membungkukkan badannya membalas penghormatan Rahiang Sanjaya.

"Kisanak, sepertinya kau bukan penduduk kampung. Siapa gerangan dirimu?" Pandita itu bertanya dengan suara yang sangat halus namun sangat berwibawa.

"Pun pun paralun pandita...aku memang pendatang dari jauh dan baru saja sampai di kampung ini" jawab Rahiang Sanjaya.

"Aih...begitu rupanya, hendak bertemu kerabat atau mungkin saudara di kampung ini?"  Pandita itu kembali bertanya menyelidik.

"Euh...tidak Pandita, aku tidak punya kerabat ataupun saudara di kampung ini" jawab Rahiang Sanjaya.

Pandita itu mengerutkan kedua dahinya.

"Hmmmm...hari sudah malam, lebih baik Kisanak beristirahat di tepatku. Tidak baik berlama-lama di tempat seperti ini" ujar Pandita itu mengajak Rahiang Sanjaya ke rumahnya.

"Pun pun paralun Pandita, aku sangat berterima kasih atas tawaran baikmu. Tapi....." ujar Rahiang Sanjaya seolah ragu meneruskan ucapannya.

"Sudahlah Kisanak, tidak baik malam-malam tinggal di luar rumah, banyak ririwa dan bebegig" ujar Pandita itu.

Rahiang Sanjaya sejenak ragu karena tujuan utamanya datang ke kampung itu adalah menemui Punduh Prapta sesuai petunjuk laki-laki di huma tadi sore.

Melihat Rahiang Sanjaya yang sepertinya ragu, Pandita itu kembali mendesak Rahiang Sanjaya.

"Bagaimana Kisanak? Aku tidak bisa berlama-lama"

Setelah berfikir sesaat Rahiang Sanjaya akhirnya menyetujui ajakan Pandita tersebut.

"Baiklah Pandita...aku tidak mungkin menolak kebaikanmu" Rahiang Sanjaya merangkapkan kedua tangannya lalu membungkuk ke arah Pandita.

Pandita tersenyum lalu berjalan menjauhi desa.

"Ikuti aku.." ujarnya pendek.

Rahiang Sanjaya terkejut karena Pandita tersebut ternyata tidak masuk ke dalam kampung tetapi malah kembali ke arah datangnya Rahiang Sanjaya.

"Aku pikir dia penduduk kampung...tetapi rupanya bukan" batin Rahiang Sanjaya mengikuti Pandita itu sambil menuntun si Jagur, kuda kesayangannya.

Setelah berjalan sekitar limapuluh deupa menjauhi mulut kampung, Pandita itu berbelok ke arah kiri memasuki jalan menanjak ke arah lereng. Rahiang Sanjaya mengikutinya sambil matanya liar mengawasi.

"Aneh..jalannya seperti biasa saja, tapi aku tidak bisa menyusulnya" batin Rahiang Sanjaya sambil memepercepat langkahnya. Namun karena harus menuntun si Jagur, langkahnya agak terhambat selain jalannya yang lumayan mendaki juga karena gelap oleh rimbunnya pepohonan di kiri kanan jalan. Cahaya bulan dan bintang pun tidak mampu menembusnya.

Pandita itu menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Rahiang Sanjaya yang berada cukup jauh di bawahnya.

"Kisanak, lebih baik kau tinggalkan kudamu di sini. Sekalian biarkan kudamu beristirahat, jangan khawatir akan hilang" ujar Pandita itu kepada Rahiang Sanjaya.

"Hmmm...baiklah Pandita" jawab Rahiang Sanjaya sambil menepuk-nepuk leher si Jagur. Seolah mengerti si Jagur masuk ke dalam hutan meninggalkan Rahiang Sanjaya.

Sepeninggal si Jagur, Pandita dan Rahiang Sanjaya meneruskan perjalannya mendaki jalan tersebut. Tak lama terlihat sebuah tegalan yang cukup luas di lereng bukit tersebut. Di tenga-tengah tegalan berdiri sebuah bangunan kayu yang cukup besar dan kokoh.

Pandita tersebut berjalan menuju bangunan tersebut lalu menyalakan dua buah pelita yang menempel di tiang-tiang penyangga. Seketika keadaan menjadi terang benderang.

"Hmmm...rupanya bangunan ini adalah rumah peribadatan Dewata Agung" batin Rahiang Sanjaya yang melihat beberapa tempat persembahan di depan bangunan tersebut serta sisa bau dupa yang masih tercium.

"Kisanak, ayo masuk" ujar Pandita tersebut sambil menaiki tangga dan membuka pintu.

"Baik Pandita" jawab Rahiang Sanjaya mengikuti langkah Pandita.

===

Sementara itu sepeninggal Rahiang Sanjaya, tampak Ki Liman keluar menuruni tangga Saung Ranggonnya. Lalu bersuit beberapa kali. Tak lama terdengar derap kuda mendatanginya. Sebuah kuda berwarna putih dan cukup tegap menghampiri Ki Liman. Sekali lompat tubuhnya sudah mendarat di atas punggung kuda putih tersebut. Diraihnya tali kekang lalu memacu kudanya menyusuri lereng meninggalkan huma dan saung ranggonnya ke arah yang sama dengan perginya Rahiang Sanjaya. Ki Liman terus menyusuri lereng bukit.

Ki Liman sepertinya sangat mengenal wilayah itu. Dia menggunakan jalan pintas untuk mendahului Rahiang Sanjaya menuju kampung Dacarana. Ki Liman memacu kudanya menuju ujung kampung lalu menarik kekang kudanya di depan sebuah rumah kayu yang berukuran paling besar dan paling bagus di kampung Dacarana. Di halaman rumah tampak beberapa orang lelaki muda sedang berlatih ilmu silat.

Ki Liman denga sebat melompat turun dari punggung kudanya dan bergegas menuju pintu masuk rumah.

"Kakang Punduh...aku membawa kabar gembira" ujar Ki Liman sambil mendorong pintu.

Sementara di dalam rumah terlihat seorang laki-laki setengah baya berpakaian hitam dengan ikat kepala hitam sedang duduk bercengkrama dengan seorang perempuan muda cantik yang sebagian pakaiannya terbuka lebar memperlihatkan sebagian pangkal pahanya kepada Ki Liman.

"Kabar gembira apa yang kau bawa, Ki Liman?" tanya laki-laki itu sambil menggeser duduknya.

"Hahaha..Kakang Punduh Prapta, aku membawa kabar yang akan membuat kita menjadi kaya raya" ujar Ki Liman sambil matanya mengerling liar ke paha perempuan itu lalu duduk di hadapan laki-laki tersebut yang ternyata adalah Ki Punduh Prapta pemimpin di kampung Dacarana.

"Sukasih, kau masuk dulu" ujar Ki Punduh Prapta pada perempuan muda bernama Sukasih tersebut

"Hmmm....coba kau ceritakan dengan lebih jelas" ujar Punduh Prapta.

Sebelum menjawab Ki Liman mengambil cangkir yang berisi lahang di hadapan Punduh Prapta lalu menenggaknya sampai tuntas.

"Ki Liman..sembarangan sekali kau menyambar minumanku" hardik Punduh Prapta kesal melhat kelakuan Ki Liman yang seenaknya menghabskan minuman miliknya.

"Hehe..maafkan aku Kakang Punduh,aku terlalu senang" ujar Ki Liman sambil nyengir kuda sambil menyimpan kembali cangkir yang telah kosong.

"Kakang Punduh Prapta, masih ingat dengan kedatangan prajurit Karatuan Galuh beberapa waktu yang lalu?" sambungnya.

Punduh Prapta mengernyitkan dahinya sambil mengusap-usap dagunya yang brewokan kasar.

"Hmmm...teruskan ceritamu Ki Liman" ujarnya penasaran.

"Prajurit itu datang untuk mencari seorang pemuda yang akan menuju Kabuyutan Denuh" ujar Ki Liman bersemangat.

"Dan barangsiapa yang bisa menemukan pemuda tersebut dan membawanya ke Karatuan Galuh, maka akan diberi hadiah jabatan dan harta yang banyak" sambungnya dengan wajah sumringah.

"Lalu..?" Ki Punduh Prapta makin penasaran.

"Pemuda yang dicari oleh prajurit Karatuan Galuh datang sendiri ke saung huma" pekik Ki Liman.

"Kau yakin pemuda itu yang dicari oleh prajurit dari Karatuan Galuh?" sambar Punduh Prapta tidak sabar.

"Aku sangat yakin, ciri-cirinya sangat cocok. Pemuda berbadan tegap dan berwajah tampan serta berasal dari wilayah wetan" jawab Ki Liman mantap.

"Dimana pemuda itu sekarang?!" seru Punduh Prapta girang.

"Jangan kahawatir Kakang Punduh Prapta, sebentar lagi pemuda itu akan datang mencarimu" jawab Ki Liman lalu menceritakan pertemuannya dengan Rahiang Sanjaya.

Punduh Prapta menganguk-ngangguk senang mendengar cerita Ki Liman.

"Hahaha...bagus, bagus Ki Liman, otakmu memang cerdas dan licik" ujar Punduh Prapta.

"Sekarang kau boleh makan dan minum sepuasmu, aku akan mempersiapkan diri" sambungnya, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruangan dalam.

Tak lama berselang Sukasih masuk membawa berbagai makanan dalam nampan.

"Aih...kau memang paling baik, kau sangat mengerti kalau aku memang sedang lapar" ujar Ki Liman sambil tangan kanannya liar meremas buah dada montok Sukasih.

Sukasih menggelinjang tidak senang.

"Ki Liman, jaga tanganmu! Aku akan mengadukanmu kepada Kakang Punduh" sergah Sukasih sambil melotot kepada Ki Liman.

Bukannya berhenti, Ki Liman malah makin menjadi, ditariknya tangan Sukasih dan dipaksa duduk di pangkuannya.

"Aduh...Sukasih, janganlah kau terlalu galak seperti itu. Kalau Kakang punduh sudah bosan denganmu, pasti akan menyerahkan dirimu kepadaku" ujar Ki Liman sambil berusaha mencium tengkuk Sukasih.

"Ki Liman jangan lancang, berani-beraninya kau mengganggu istri mudaku" tiba-tiba terdengar suara meggelegar diikuiti oleh masuknya Punduh Prapta dari ruangan dalam.

Ki Liman kaget lalu dilepaskannya tangan Sukasih.

"Ma...maaf Kakang Punduh, aku tidak tahan melihat kecantikannya" ujar Ki Liman sambil nyengir kuda sambil sempat-sempatnya meremas pinggul montok Sukasih.


"Kau segera masuk..jangan lama-lama di sini" perintah Punduh Prapta kepada Sukasih.

Sukasih segera berlalu sambil mendelikkan matanya ke arah Ki Liman.

"Ki Liman jangan kau ganggu lagi istri mudaku kalau kau masih ingin hidup!" hardik Punduh Prapta kepada Ki Liman.

"Baik Kakang Punduh...tapi..hehe..kalau kau sudah bosan, jangan lupa kau wariskan Sukasih kepadaku" ujar Ki Liman cengengesan.

"Ah..sudahlah, sekarang yang lebih penting adalah menangkap anak muda itu" ujar Ki Punduh Prapta sambil mengusap gagang golok yang terikat di pinggangnya.

"Tenang saja Kakang Punduh, tidak perlu mengotori tanganmu untuk menangkap bocah ingusan seperti itu" Ki Liman terdengar merendahkan Rahiang Sanjaya.

"Ki Liman, bacotmu memang selalu enak didengar tapi kenyataannya sering mengecewakan" sindir Ki Punduh Prapta sambil berjalan keluar rumah sementara Ki Liman meneruskan menyantap makanan yang sudah disajikan Sukasih.

"Anak-anak...sudahi dulu latihan kalian dan bersiap-siap menyambut tamu yang akan datang" ujar Ki Punduh Prapta kepada lima anak muda yang sedang berlatih silat di halaman rumahnya.

"Sapta, kau pergi ke ujung kampung, jika ada pendatang yang tidak dikenal segera bawa kemari" sambungnya kepada salah satu anak muda yang bernama Sapta.

"Baik Ki Punduh, aku segera pergi" ujar Sapta sambil berlalu menuju ke ujung kampung.

Ki Punduh Prapta kembali masuk ke dalam rumah dan berbincang dengan Ki Liman mengenai rencana menyergap Rahiang Sanjaya.

Malam semakin larut tetapi tamu yang diharapka tidak kunjung datang. Ki Punduh Prapta mulai tidak sabaran.

"Ki Liman...mana pemuda yang kau maksud? Seharusnya sekarang sudah sampai di sini" Ki Punduh Prapta dengan mata mendelik.

"Sabar Kakang Punduh...sebentar lagi sampai" ujar Ki Liman yang diam-diam mulai khawatir karena menurut perhitungan seharusnya Rahiang Sanjaya sudah sampai di kampung Dacarana.

Baru saja Ki Punduh Prapta akan menghardik Ki Liman lagi, tiba-tba di luar rumah terdengar suara orang berlari.

"Ki Punduh...Ki Punduh..." terdengar suara Sapta memanggil Ki Punduh Prapta.

Ki Punduh Prapta segera menghambur dari duduknya menuju ke pintu keluar diikuti oleh Ki Liman. Di lihatnya Sapta dengan terengah-engah datang dari arah ujung kampung.

"Ada kabar apa Sapta? Cepat kau ceritakan!!!" Ki Punduh Sapta tidak sabar.

"Ki Punduh..tadi..aku lihat ada pendatang menunggang kuda akan masuk ke dalam kampung...tapi..tapi..." Sapta mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

"Tapi apa? Cepat kau ceritakan!!!" hardik Ki Liman ikut tidak sabaran.

"Tapi...tapi pendatang itu dihalangi oleh Pandita Purusara dan dibawa ke rumah peribadatan di lereng bukit" ujar Sapta.

Mendengar laporan Sapta, wajah Ki Punduh Prapta merah padam, tangannya mengepal.

"Pandita Purusara...kau selalu saja mengganggu urusanku. Kali ini aku tidak akan tinggal diam" sergah Ki Punduh Prapta.

"Sapta, panggil keempat kawanmu! Malam ini juga akan aku hancurkan rumah peribadatan itu" sambungnya dengan mata nyalang ke arah bukit.

===

Sementara itu Rahiang Sanjaya yang berada di rumah peribadatan Dewata Agung terlihat sedang menyantap talas rebus yang disajikan oleh Pandita Purusara.

"Pandita, enak sekali talasnya..pulen. Aku tidak bisa berhenti makan" ujar Rahiang Sanjaya kepada Pandita Purusara yang duduk bersila di hadapannya.

"Nikmati saja sepuasmu tapi ingat janganlah berlebihan, tidak baik untuk perutmu" Pandita Purusara sambil tersenyum.

"Kisanak...bolehkah aku bertanya?" Pandita Purusara bertanya dengan hati-hati.

"Tentu saja Pandita..aku akan jawab pertanyaanmu" jawab Rahiang Sanjaya sambil menandaskan sepotong talas yang tersisa di atas nampan tanah.

"Ah...aku kenyang sekali" ujarnya sambil mengusap-usap perutnya yang hampir dua hari ini hanya diisi buah-buahan hutan.

Pandita Purusara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.

"Kisanak, siapa namamu dan apa tujuanmu sebenarnya datang ke kampung Dacarana?" tanya Pandita purusara lembut.

"Baiklah Pandita, namaku Sancaka dan tujuanku sebenarnya adalah hendak menemui Eyang Resi Guru di Kabuyutan Denuh. Aku datang ke kampung Dacarana hendak menemui Ki Punduh Prapta dan memintanya menunjukkan jalan ke Kabuyutan Denuh" jawab Rahiang Sanjaya tenang.

"Kabuyutan Denuh? Ki Punduh Prapta" desis Pandita Purusara.

"Siapa yang menyuruhmu menemui Ki Punduh Sapta" Pandita Purusara kembali bertanya.

"Tadi sore aku bertemu seorang penunggu huma yang bernama Ki Liman, dia yang menyarankan agar menemui Ki Punduh Prapta" ujar Rahiang Sanjaya.

"Hmmm....apa sebenarnya maksud Ki Liman meminta anak muda ini menemui Ki Punduh Prapta?" batin Pandita Purusara.

Sesaat Pandita Purusara memejamkan mata dan mengerutkan dahinya.

"Sancaka, sebenarnya untuk bisa masuk ke Kabuyutan Denuh seharusnya tidak perlu menemui Ki Punduh Prapta" ujar Pandita Purusara.

"Tempat ini adalah gerbang pertama menuju ke Kabuyutan Denuh" sambungnya sambil membetulkan duduknya.

Mendengar hal tersebut, Rahiang Sanjaya melengak tidak menyangka bahwa perjalanannya sudah hampir sampai ke Kabuyutan Denuh.

"Dewata Agung...akhirnya...akhirnya..." gumam Rahiang Sanjaya kegirangan.

"Jangan senang dulu, tempat ini baru gerbang pertama atau sering di sebut juga Gerbang Kejujuran" ujar Pandita Purusara.

"Setelah melalui Gerbang Kejujuran, masih ada Gerbang Ketulusan dan Gerbang Keberanian. Kau harus bisa melewati semuanya" sambungnya sambil mengusa-usap janggut panjangnya.

"Benar cerita orang...tidak mudah untuk menuju Kabuyutan Denuh" gumam Rahiang Sanjaya.

"Pun pun paralun...Pandita Purusara, apakah aku diizinkan menuju ke Gerbang Ketulusan?" Rahiang Sanjaya bertanya.

Pandita Purusara tersenyum lalu mengambil cangkir berisi air putih lalu meneguknya dengan pelan. Disimpannya kembali cangkir kosong tersebut.

"Sancaka, kau adalah orang yang jujur dan apa adanya, walaupun kau tidak menyebutkan nama aslimu tapi aku bisa memahaminya. Aku sudah mengujimu sejak pertama kita bertemu di jalan kampung" ujar Pandita Purusara.

Rahiang Sanjaya kaget dan malu, menyadari bahwa Pandita Purusara mengetahui bahwa nama aslinya bukanlah Sancaka.

"Tentu saja aku mengizinkanmu menuju ke Gerbang Ketulusan, akan tetapi sepertinya akan ada ujian lain untukmu" sambungnya sambil memiringkan kepalanya seperti sedang mencoba mendengarkan sesuatu.

Belum kering bibir Pandita Purusara tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar dari luar rumah peribadatan tersebut.

"Pandita Purusara...cepat keluar!!! Aku mau bicara denganmu!!!"

Mendengar suara teriakan tersebut, Pandita Purusara mengusap wajahnya lalu bangkit dari duduknya dengan tenang dan berjalan menuju pintu keluar. Rahiang Sanjaya segera mengikutinya dari belakang.

Diluar berdiri Ki Punduh Prapta dan Ki Liman bersama lima orang muda yang merupakan murid silatnya. Pandita Purusara diikuti oleh Rahiang Sanjaya menuruni tangga rumah peribadatan dengan tenang lalu berjalan mendekati ketujuh orang tersebut.

Pandita Purusara merangkapkan kedua tangan di depan dadanya.

"Aih...Ki Punduh Prapta, ada apa gerangan malam-malam datang kemari?" tanyanya dengan suara yang halus dan pelan.

Ki Punduh Prapta sepertinya memang sudah muntab amarahnya.

"Pandita...kenapa kau selalu ikut campur urusanku?!" hardiknya keras.

"Apa maksudmu Ki Punduh Prapta? Urusan apa yang sudah aku campuri?" Pandita Purusara tetap tenang.

"Jangan belagak pilon Pandita!!!...Apa maksudmu menghalangi tamu yang hendak datang ke rumahku?!" Ki Punduh Prapta tambah muntab.

"Ah...maksudmu pasti anak muda yang bernama Sancaka ini? Betul dia memang bermaksud datang kepadamu untuk bertanya jalan menuju Kabuyutan Denuh. Karena kami tidak sengaja bertemu maka aku pikir dia tidak perlu lagi bertanya kepadamu" Pandita Purusara menjelaskan dengan tenang.

"Jadi sebenarnya aku sudah membantumu Ki Punduh Prapta" sambungnya.

Mendengar penjelasan Pandita Purusara, Ki Punduh Prapta amarahnya bukannya surut malahan semakin muntab. Dipalingkan wajahnya pada Rahiang Sanjaya yang hanya diam saja memperhatikan.

"Anak muda....sekarang juga kau ikut aku ke kampung!!!" bentaknya pada Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya melengak mendengar ucapan Ki Punduh Prapta yang tidak ada tata kramanya. Namun demi menghargai Pandita Purusara, dia tetap bersikap tenang. Dirangkap kedua tangannya di depan dada lalu memungkuk hormat ke arah Ki Punduh Prapta dan teman-temannya.

"Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian semua terutama Ki Liman yang sudah menunjukkan arah ke Kabuyutan Denuh" ujar Rahiang Sanjaya sopan.

Ki Liman yang sedari tadi diam, menyambar ucapan Rahiang Sanjaya.

"Anak muda seharusnya kau mendatangi dulu rumah Ki Punduh Prapta sesuai perintahku!" hardik Ki Liman.

"Baiklah Ki Liman...aku minta maaf, kepadamu juga Ki Punduh Prapta, aku minta maaf" Rahiang Sanjaya kembali membungkukkan badannya ke arah mereka.

"Sepertinya kesalahpahaman ini sudah selesai Ki Punduh Prapta" Pandita Purusara mencoba mengakhiri.

"Tidak semudah itu...kau harus tetap ikut dengan kami!" sergah Ki Punduh Prapta sambil menunjuk kepada Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya tersenyum.

"Sepertinya Ki Punduh Prapta sangat menginginan kedatanganku, baiklah aku berjanji, setelah kembali dari Kabuyutan Denuh, aku pasti mengunjungimu" ujar Rahiang Sanjaya.

"Tidak bisa..kau harus ikut sekarang!!" bentak Ki Punduh Prapta bengis.

"Sapta bawa teman-temanmu menangkap anak muda itu" sambungnya memerintahkan Sapta agar menangkap Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya melengak melihat Sapta dan keempat temannya bergerak mengurung dirinya dan Pandita Purusara.

"Apa sebenarnya mau mereka? Kenapa ngotot sekali ingin membawaku ke kampungnya? Pasti ada maksud tidak baik" batin Rahiang Sanjaya. Diliriknya Pandita Purusara,

"Pandita Purusara, apa maksud mereka sebenarnya?" bisiknya.

"Aku juga tidak mengerti, lebih baik kau berhati-hati. Dan ku mohon jangan menurunkan tangan terlalu keras kepada mereka" jawab Pandita Parasura sambil melangkah mundur menjauhi Rahiang Sanjaya.

Ki Punduh Prapta yang sepertinya sudah sangat gregetan berteriak memerintahkan Sapta dan keempat temannya menangkap Rahiang Sanjaya.

"Tunggu apa lagi..cepat tangkap!!!"

Sapta dan keempat temannya bergerak berbarengan seperti hendak menangkap seekor kambing ke arah Rahiang Sanjaya.

"Hiyaaa.."
"Ciaaattt.."

Namun jelas kelimanya bukanlah lawan sebanding bagi Rahiang Sanjaya. Sekali genjot tubuhnya melenting ke udara dan bergerak dengan sangat cepat bak bayangan.

"Bakkk..Bukkk...Baakkk...Bukkkk...Buukkk.."

Sapta dan keempat kawannya terkapar dengan wajah meringis dan tangan memegangi dada. Sementara Rahiang Sanjaya merangkapkan kedua tangannya ke arah Ki Punduh Prapta.

"Ki Punduh Prapta..aku mohon sebaiknya tidak baik menggunakan kekerasan. Tidak baik saling menyakiti di rumah peribadatan" ujar Rahiang Sanjaya.

"Bocah ingusan mau jual laga di hadapanku. Ki Liman tangkap dia..hidup atau mati!!!" Ki Punduh Prapta memerintahkan Ki Liman.

Ki Liman segera menghunus golok besarnya lalu dengan sebat menerjang ke arah Rahiang Sanjaya.

"Hmmm..boleh juga" batin Rahiang Sanjaya sambil berkelit menghindari sabetan golok yang menyasar pinggangnya.

"Bajingan..hadapi aku seperti seorang laki-laki" rutuk Ki Liman yang muntab.

Rahiang Sanjaya hanya cengar-cengir.

"Rasakan ini..bocah ingusan" gertak Ki Liman sambil menyabetkan golok besarnya lagi ke arah kepala Rahiang Sanjaya.

Rahiyang Sanjaya tidak bergerak sedikitpun. Pandita Purusara meringis membayangkan golok itu akan membelah kepala Rahiang Sanjaya. Sementara Ki Punduh Prapta dan Sapta bersama keempat temannya tersenyum girang.

Namun sesaat lagi golok besar itu akan membelah kepala Rahiang Sanjaya, terdengar jeritan kesakitan. Golok besar itu mencelat jauh di telan kegelapan malam. Sementara Ki Liman melolong kesakitan sambil memegang siku kanannya yang terkulai patah.

Pandita Purusara dan semua yang menyaksikan perkelahian itu melengak. Entah kapan Rahiang Sanjaya bergerak menghindari serangan Ki Liman dan memukul patah sambungan sikunya. 

Ki Punduh Prapta tambah muntab, dihunusnya golok panjang miliknya lalu menerjang Rahiang Sanjaya dengan membabi buta. Rahiang Sanjaya dengan tenang menghindari serangan-serangan tersebut. Bahkan tidak perlu menunggu lama, sebuah tendangan kaki kanan Rahiang Sanjaya menghantam pergelangan tangan Ki Punduh Prapta yang memegang golok. Goloknya lepas terlempar jauh hampir menghantam Ki Liman yang untungnya masih sempat menghindar.

"Bajingan tengik!!! Kau minta mampus rupanya" dengus Ki Punduh Prapta. Dipentangkan kedua kakinya, lalu kedua tangannya naik sebatas dada. Asap putih menyelimuti sebatas telapak tangan dan sikunya.

"Hmmm...dia mau menggunakan pukulan jarak jauh rupanya. Aku tidak boleh mencelakakannya" batin Rahiang Sanjaya sambil mengerahkan seperempat tenaga dalam ke kedua tangannya.

"Hiyyyyyaaaaaaaa....!!!" diawali oleh lengkingan suara yang sangat keras, Ki Punduh Prapta mendorong kedua tangannya. Dua larik cahaya berwarna kemerahan membumbung ke arah Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya tidak kalah gesit mendorongkan kedua tangannya menyambut pukulan Ki Punduh Prapta.

"Buuuuummmmm...." bentrokkan kedua pukulan tersebut menimbulkan dentuman yang luar biasa keras.

Ki Punduh Prapta terpental ke belakang, sementara Rahiang Sanjaya tidak bergeser sejengkalpun. Tenaga dalam Rahiang Sanjaya yang telah meningkat empat kali lipat memang bukanlah tandingan seorang punduh kampung seperti Ki Punduh Prapta.

Ki Punduh Prapta tidak kuasa lagi berdiri, dadanya berdenyut sakit sementara dari ujung bibirnya mengalir darah kental.

"Lebih baik kalian segera meninggalkan tempat ini, sebelum celaka" Pandita Purusara memperingatka Ki Punduh Prapta dan kawan-kawannya untuk pergi.

Nyali Ki Liman seketika meleleh, rasa sakit di sikunya yang terkulai patah menambah jerinya kepada Rahiang Sanjaya.

"Sapta dan kalian, bantu Kakang Punduh Prapta kembali ke kampung" perintahnya kepada Sapta dan keempat kawannya.


Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #16