AJIAN SADAJIWA

Sepeninggal Nyai Malati, Rahiang Sanjaya menghela nafas panjang. Dirinya menyesal karena telah membuat Nyai Malati marah.

"Ah..rupanya Nyai Malati marah besar. Tapi aku tidak mungkin tinggal selama itu di tempat ini" batin Rahiang Sanjaya.

Dibaringkan kembali badannya sambil menerawang memikirkan rencana perjalanannya. Tak terasa akhirnya Rahiang Sanjaya tertidur dengan pulas. Malam menjelang larut, Rahiang Sanjaya masih pulas tertidur sementara Nyai Malati tidak terlihat kembali ke dalam gua.

Matahari sudah tinggi ketika Rahiang Sanjaya terbangun lalu mengusap-ngusap matanya yang silau karena sinar matahari yang mulai masuk dari lubang di ujung gua. Perutnya terasa sangat lapar karena dia tertidur dari sore hingga pagi.

"Kemana Nyai Malati? Kenapa dia tidak membangunkanku?" batin Rahiang Sanjaya sambil bangun dari tidurnya.

Diedarkannya pandangan ke seluruh bagian gua tersebut namun tidak terlihat keberadaan Nyai Malati.

"Sepertinya Nyai Malati benar-benar marah kepadaku" gumamnya.

"Nyai Malati...Nyai Malati...aku mohon maaf atas kebodohanku!" teriaknya sambil mencoba untuk turun dari tempat tidur. Dipaksakannya untuk berdiri dengan susah payah lalu dengan tertatih-tatih berjalan menuju ke arah mulut gua.

Sementara itu di luar gua tersebut, di atas batu besar terlihat Nyai Malati sedang bersemedi. Pakaiannya yang basah oleh embun menunjukkan bahwa dia semalaman bersemedi di tempat itu. Sinar matahari mulai menerpa tubuhnya.

Nyai Malati membuka kedua matanya lalu mengakhiri semedinya.

"Ambuing..ambuing..ternyata sudah semalaman aku bersemedi. Kasihan...bocah bangor itu pasti kelaparan" batinnya sambil berdiri.

Baru saja Nyi Malati berdiri dan bersiap untuk turun dari atas batu, dilihatnya Rahiang Sanjaya sedang tertatih-tatih berjalan keluar dari mulut gua.

"Bocah edan...!" serunya sambil melayang turun ke arah Rahiang Sanjaya lalu memapahnya kembali ke dalam gua.

"Dasar bocah bangor...kau cari mati rupanya" hardik Nyai Malati. Dibimbingnya Rahiang Sanjaya kembali ke tempat tidurnya.

"Aku sudah memberitahumu berkali-kali agar jangan turun dari tempat tidurmu" sambungnya dengan nada suara yang sangat khawatir.

"Pun pun paralun Nyai Malati...aku mencarimu...aku khawatir kau marah kepadaku" jawab Rahiang Sanjaya sambil pelan.

Setelah mendudukkan Rahiang Sanjaya di atas tempat tidur, Nyai Malati segera berlalu menuju ke perapian dan menyalakan kayu bakar. Dia tidak berkata apapun, hanya jelas raut wajahnya sangat khawatir.

Nyai Malati menyiapkan makanan lalu membawanya ke tempat tidur Rahiang Sanjaya.

"Lebih baik kau makan dulu...pasti kau kelaparan dari semalam" ujar Nyai Malati.

"Terima kasih Nyai, semakin aku merepotkanmu" jawab Rahiang Sanjaya.

"Tidak perlu segala sungkan kepadaku...sekarang kau makan yang banyak dan kembali beristirahat. Aku akan siapkan makanan untuk siang dan nanti malam" Nyai Malati kembali ke arah perapian.

"Kenapa Nyai Malati tidak sekalian ikut makan?" Rahiang Sanjaya bertanya.

"Kau jangan pikirkan aku..yang penting kau segera pulih" ujar Nyai Malati.

"Setelah ini kau kembali tidur dan jangan memaksakan untuk bergerak. Malam ini aku akan bersemedi memohon petunjuk Dewata Agung" sambungnya.

Baca juga : Rahiang Sanjaya : Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #2

===

Malam itu hujan turun deras sekali sesekali petir menyambar, udara terasa dingin menusuk tulang. Setelah menyantap makan malam yang disediakan Nyai Malati semenjak pagi tadi, Rahiang Sanjaya tertidur pulas.

Sementara itu di atas batu besar yang berada persis di depan mulut gua, Nyai Malati duduk dengan khidmat bersemedi. Hujan besar yang mengguyur tubuhnya seolah tidak dihiraukannya. Beberapa kali petir menyambar pepohonan yang berada tidak jauh dari tempatnya bersemedi namun tidak menggoyahkannya.

Menjelang tengah malam, hujan mulai mereda hanya tinggal menyisakan gerimis. Nyai Malati masih tetap dalam semedinya. Tiba-tiba entah dari mana datangnya sekumpulan asap muncul dihadapan Nyai Malati. Asap tersebut lama-kelamaan mewujud menjadi seorang laki-laki tua menggunakan pakaian seperti seorang resi. Wajahnya yang bersih dengan janggut panjang memamancarkan ketenangan menunjukkan kalau laki-laki tersebut bukanlah orang sembarangan. Kakinya seolah melayang di atas batu lalu duduk bersila di hadapan Nyai Malati dan ajaibnya tetap mengambang tidak menyentuh batu. Tubuh serta pakaiannya tetap kering seolah air hujan tidak mau menyentuhnya.

Perlahan Nyai Malati membuka kedua matanya lalu merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

"Pun pun paralun Ayahanda Resi, aku mohon ampun sudah mengganggu tapa bratamu" ujar Nyai Malati.

Laki-laki tua yang dipanggil Ayahanda Resi oleh Nyai Malati mengangguk-anggukan kepala sambil tersenyum.

"Anaking..apa kabarmu? Sudah lama sekali kau tidak pernah mengujungiku" ujar Sang Resi dengan suara yang sangat halus.

"Pun pun paralun Ayahanda Resi, maafkan kelalaian anakmu ini. Aku hanya tidak ingin mengganggu tapa bratamu" jawab Nyai Malati, matanya mulai berkaca-kaca.

"Ah...sudahlah anaking, tidak perlu bersedih-sedih yang penting kau dalam keadaan yang baik dan bisa menjaga diri" ujar Sang Resi.

"Kau memintaku datang tentu bukan karena kau rindu kepada ayahmu saja, ada apa gerangan anaking?" sambungnya dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang kepada Nyai Malati.

"Ayahanda Resi pasti sudah lebih tahu apa yang terjadi, aku ingin minta petunjukmu apa yang harus dilakukan" ujar Nyai Malati sambil menundukkan kepala.

Sang Resi menarik nafas panjang lalu memejamkan matanya beberapa saat sambil mengusap-usap janggut panjangnya.

"Anaking...semua yang terjadi atas kehendak Dewata Agung, semua manusia harus menerima dan menjalani karmanya sendiri. Sama halnya dengan Sanna dan Purbasora" ujar Sang Resi setelah beberapa saat.

"Mengenai Rakean Jambri putra dari Sanna...semua keputusan ada didirimu. Aku tidak bisa memutuskan apapun. Kau harus pertimbangkan dengan sangat matang dan bijaksana" sambungnya lembut.

"Ayahanda Resi..Dewata Agung sudah membawa bocah itu ke tempat ini, aku yakin semua itu tidak kebetulan. Aku mendapat petunjuk dari Dewata Agung bahwa bocah ini akan menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana" ujar Nyai Malati.

"Aku harus membantunya tapi sayangnya bocah itu tidak mau menerima nasihat dariku. Mohon Ayahanda sudi memberi petunjuk" sambungnya.

"Anaking...anaking..." Sang Resi menghela nafas panjang lalu mengusap rambut Nyai Malati dengan penuh rasa kasih sayang.

"Kau tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu Rakean Jambri, aku akan merestui apapun keputusanmu" Sang Resi menatap Nyai Malati dengan mata berkaca-kaca.

"Sekali lagi...kau harus putuskan dengan matang dan bijaksana. Jika keputusanmu sudah bulat, laksanakan dengan sepenuh hati dan jangan sesali yang terjadi dikemudian hari. Aku akan menunggumu di pertapaan" sambung Sang Resi.

"Ayahanda Resi...keputusanku sudah bulat. Usiaku sudah renta, tidak pantas rasanya aku mempertahankan ajian Sadajiwa" ujar Nyai Malati lirih.

Sang Resi menghela nafas panjang.

"Sejak awal aku tidak pernah merestuimu untuk mempelajari ajian Sadajiwa. Ajian itu hanya akan membuat hidupmu tersiksa dalam dendam dan sakit hati, kalau kau sekarang akan melepaskannya tentu aku sangat senang. Hidup harus ada awal dan akhir, begitulah Sang Hyang Widi sudah gariskan" ujar Sang Resi.

"Anaking...aku harus segera kembali ke pertapaan, ingat pesanku baik-baik, putuskan sesuai hati nuranimu" ujar Sang Resi sambil bangkit dari duduknya lalu mengusap kepala Nyai Malati dengan penuh kasih sayang.

"Setelah semuanya selesai, kau harus cepat kembali ke pertapaan. Aku menunggumu" sambungnya lirih.

Perlahan-lahan tubuh Sang Resi mulai menipis bagaikan asap lalu ilang lebih tanpa karana. Nyai Malati merangkapkan kedua tangannya di atas kepala, beberapa saat kemudian mengakhiri semedinya. Nyai Malati berdiri di atas batu besar tersebut, wajahnya menengadah langit lalu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Gerimis masih membasahi bumi.

"Dewata Agung...aku mohon restu dan ampunmu, hari ini aku memutuskan akan melepaskan ajian Sadajiwa milikku. Pwah Rababu...maafkan aku harus melakukan ini kepada cucumu" lengking Nyai Malati keras, suaranya terdengar ke seluruh penjuru Langkob Karamat.

===

Matahari bersinar cerah setelah malam sebelumnya diguyur hujan yang sangat deras. Hidung Rahiang Sanjaya bergerak-gerak mencium bau daging yang di bakar. Perlahan-lahan matanya membuka.

"Aih...wangi sekali" gumamnya.

"Kau sudah bangun rupanya" terdengar suara Nyai Malati.

Rahiang Sanjaya bangkit dari tidurnya lalu duduk bersila, dilihatnya Nyai Malati sedang membolak-balik daging di atas perapian.

"Nyai Malati...daging apa yang kau bakar? Baunya wangi sekali" ujar Rahiang Sanjaya sambil meleletkan lidahnya.

"Aku baru saja menangkap seekor uncal yang lewat di depan gua. Sekarang kau lekas bersihkan diri supaya badanmu lebih segar" Nyai Malati sambil tetap membolak-balik daging bakar tersebut.

Rahiang Sanjaya sejenak tertegun. Dia sangat jengah dan malu kalau sudah tiba saatnya membersihkan diri.

"Kenapa kau diam saja? Ayo cepat...waktu kita tidak banyak!" hardik Nyai Malati melihat Rahiang Sanjaya yang hanya duduk terdiam.

"A..aku sudah siap Nyai" ujar Rahiang Sanjaya yang menyangka akan dimandikan lagi oleh Nyai Malati.

"Dasar bocah bangor...pasti kau berharap akan aku usap-usap lagi ya? Sekarang kau harus mandi sendiri di kolam itu" dengus Nyai Malati kepada Rahiang Sanjaya sambil menunjuk kolam yang tidak jauh dari perapian.

Rahiang Sanjaya melengak malu, wajahnya merah bagai kepiting rebus. Perlahan-lahan bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan mendekati ke kolam tersebut. Di pinggir kolam Rahiang Sanjaya hanya terdiam seperti orang linglung. Nyai Malati yang mengawasi Rahiang Sanjaya dengan sudut matanya, mesem-mesem.

"Tunggu apa lagi? Kau lekaslah mandi!" ujar Nyai Malati.

"I..iya Nyai..." Rahiang Sanjaya tergagap lalu dengan ragu-ragu dilepaskan pakaian dan celananya.

Setelah membersihkan diri, Rahiang Sanjaya dan Nyai Malati menyantap daging bakar tersebut dengan lahap. Bahkan Rahiang Sanjaya beberapa kali menambah porsi makannya. Badannya memang terasa lebih segar sehingga nafsu makannya pun sudah kembali normal.

Setelah selesai makan, Nyai Malati dan Rahiang Sanjaya berbincang di depan mulut gua sambil duduk di atas batu kecil yang banyak terserak. Sinar matahari menghangatkan tubuh mereka.

"Bocah bangor...bagaimana keputusanmu untuk mempelajari ilmu kesaktian milikku?" tanya Nyai Malati.

"Pun pun paralun Nyai Malati...aku sangat ingin sekali bahkan aku sangat berterima kasih sekali atas kemuraham hatimu, tapi aku tidak mungkin mempelajarinya selama duapuluh empat purnama. Aku harus segera melanjutkan perjalanan" jawab Rahiang Sanjaya sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada.

Nyai Malati menghela nafas.

"Aku mengerti kesulitanmu tapi kau tidak akan selamat dengan ilmu kesaktian dan tenaga dalam yang kau miliki sekarang. Kau hanya akan mati konyol" ujar Nyai Malati.

Rahiang Sanjaya tidak menjawab, pandangannya dilemparkan kepada mata air yang jernih tidak jauh dari tempat mereka berdua duduk.

"Aku sudah memutuskan untuk menurunkan tenaga dalamku kepadamu. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membantumu dalam waktu satu malam" sambungnya.

"Pun pun paralun Nyai Malati...kita baru saja bertemu tetapi kau begitu baik kepadaku. Aku menghaturkan beribu terima kasih" Rahiang Sanjaya kembali merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

Nyai Malati menatap Rahiang Sanjaya lekat-lekat. Dipandangi seperti itu, Rahiang Sanjaya menjadi jengah dan kikuk.

"Dewata Agung...kenapa kau lakukan ini kepadaku? Kenapa aku tiba-tiba merasa sangat menyayangi bocah ini? Maafkan aku Pwah Rababu" batin Nyai Malati.

"Bocah bangor....bersiaplah, nanti malam aku akan menurunkan tenaga dalam yang kumiliki" ujar Nyai Malati.

"Pun pun paralun Nyai Malati...aku tidak bisa menerimanya, besok pagi aku akan melanjutkan perjalanan. Mohon kau dapat mengampuni" Rahiang Sanjaya memutuskan untuk menolak kebaikan Nyai Malati dan memilih untuk meneruskan perjalanan.

"Bocah bangor...jangan khawatir, cukup satu malam untuk kau bisa menguasai semua tenaga dalamku. Kau tidak harus belajar ajian milikku, cukup tenaga dalam saja. Ajian Ambar Jagad mu akan meningkat empat kali lipat, itu sudah lebih dari cukup" ujar Nyai Malati sambil tersenyum.

"Haahhh.. satu malam? Bukankah menurutmu perlu waktu duapuluh empat purnama? Rahiang Sanjaya terkejut.

"Memang betul untuk menguasai seluruh ajian dan kesaktianku, sedikitnya kau perlu waktu duapuluh empat purnama. Tetapi setelah aku pertimbangkan, ajian dan kesaktianmu sudah cukup hanya perlu dilipatgandakan tenaga dalamnya saat kau gunakan. Oleh karena itu aku hanya akan menurunkan tenaga dalam saja" Nyai Malati terkekeh lalu bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat aneh.

Rahiang Sanjaya hanya ternganga tidak percaya mendengar ucapan Nyai Malati.

"Bagaimana mungkin meningkatkan tenaga dalam hanya satu malam?" batin Rahiang Sanjaya.

===

Malam mulai larut dan gerimis mulai membasahi sekitar Langkob Karamat. Di dalam gua, Rahiang Sanjaya sedang bersemedi di atas tempat tidur untuk memulihkan kembali tenaga dalamnya.

Tiba-tiba wangi bunga melati menabrak hidung Rahiang Sanjaya. Rahiang Sanjaya tidak menghiraukannya dan tetap meneruskan semedinya. Namun wangi bunga melati itu semakin bertambah kuat, Rahiang Sanjaya merasakan ada aliran hawa aneh yang masuk ke dalam aliran darahnya. Konsentrasi semedinya terpecah. Sementara itu wangi bunga melati semakin santar, aneh...Rahiang Sanjaya merasa sangat terangsang. Gairah laki-laki mudanya seakan menggelegak tiba-tiba.

Rahiang Sanjaya mengakhiri semedinya dan membuka kedua matanya. Suasana di dalam gua sangat temaram hanya diterangi oleh dua buah pelita yang menempel di sisi kiri dan kanan gua. Wangi bunga melati semakin mendesak hidung, Rahiang Sanjaya melemparkan pandangan mencari arah sumber wewangian tersebut. Terdengar suara gemerisik di belakangnya, Rahiang Sanjaya segera memalingkan wajahnya....

Nafas Rahiang Sanjaya seolah terhenti, kedua matanya terbelalak lalu cepat-cepat dipalingkan pandangannya ke arah lain. Terdengar suara Nyai Malati yang tertawa lembut.

"Apakah kau tidak suka dengan yang kau lihat bocah bangor?"

Rahiang Sanjaya menahan nafas sambil tetap memalingkan wajahnya, tidak berani menatap ke arah Nyai Malati. Sewaktu Rahiang Sanjaya memalingkan wajahnya ke belakang dan melihat Nyai Malati bukan saja nafasnya yang serasa terhenti, dadanya pun berdebar dan darahnya seolah mengalir sepuluh kali lebih cepat.

Bagaimana tidak!

Dibelakangnya, Nyai Malati berdiri dengan mengenakan pakaian panjang yang sangat tipis sehingga seluruh potongan tubuhnya yang polos terlihat dengan jelas. Senyum Nyai Malati sangat aneh dirasakan oleh Rahiang Sanjaya.

Nyai Malati berjalan mendekati Rahiang Sanjaya yang masih duduk membelakanginya. Kedua tangannya mengusap tengkuk dan pundak Rahiang Sanjaya. Rahiang Sanjaya menggigil, panas dingin.

"Nya..Nyai Malati...aku.." Rahiang Sanjaya tergagap.

"Kenapa bocah bangor? Bukankah ini yang kau inginkan" rintih Nyai Malati di telinga Rahiang Sanjaya, hembusan nafasnya terasa hangat. Sekelebat tangan Nyai Malati menjentik memadamkan pelita yang ada di dinding gua.

Nyai Malati menempelkan bibirnya di atas tengkuk Rahiang Sanajaya lalu menjalar dan menindih bibir.

"Nyai Malati.." desis Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya gelap mata, laksana seekor ular besar yang membelit mangsa, ditariknya tubuh Nyai Malati ke atas tempat tidur. Tubuh keduanya bergulingan di atas tempat tidur. Desah nafas dan rintihan Nyai Malati seolah membakar Rahiang Sanjaya. Satu persatu pakaian mereka terlempar ke lantai gua.

Gerimis yang turun sudah berubah menjadi hujan yang sangat lebat sesekali petir terdengar menyambar. Sementara di dalam gua, hawa terasa sangat panas. Desahan Rahiang Sanjaya bersahutan dengan rintihan Nyai Malati. Rahiang Sanjaya seolah tidak ada lelah dan puasnya. Berkali-kali pendakian dituntaskan namun gairahnya seolah tidak pernah terpuaskan. Satu hal yang tidak disadari Rahiang Sanjaya, tubuhnya dan tubuh Nyai Malati yang sedang bergumul terlihat seperti diselimuti asap tipis. Sampai akhirnya menjelang pagi, Rahiang Sanjaya untuk kesekian kalinya menggelepar di atas tubuh Nyai Malati. Badannya terguling ke samping Nyai Malati lalu tertidur dengan lelap, bibirnya tersenyum penuh kepuasan.

Nyai Malati pelan-pelan menyingkirkan tangan dan kaki Rahiang Sanjaya yang masih memeluknya. Lalu bangun dan duduk di samping Rahiang Sanjaya yang masih tertidur pulas.

"Maafkan aku bocah bangor...aku terpaksa melakukan ini" gumamnya lalu turun dari tempat tidur.

Dipungutnya pakaian yang berserakan di lantai gua. Ditutupinya tubuh polos Rahiang Sanjaya yang masih tertidur pulas dengan kain tipis yang sebelumnya dipakai oleh Nyai Malati. Setelah itu Nyai Malati berjalan ke arah kolam kecil lalu masuk ke dalamnya. Keajaiban terjadi, sesaat seluruh tubuh Nyai Malati masuk ke dalam kolam, air kolam tiba-tiba bergolak seperti mendidih, asap tebal mengepul. Nyai Malati mengerang kesakitan, suaranya sangat memilukan seperti menahan sakit yang teramat sangat.

Setelah cukup lama berendam Nyai Malati keluar dari dalam kolam. Keanehan terlihat di tubuh Nyai Malati. Kulit wajahnya yang sebelumnya kencang sekarang terlihat keriput. Buah kembarnya terlihat menggantung peot tidak lagi membusung ranum. Nyai Malati berubah wujud dari sebelumnya seorang gadis bertubuh montok menggiurkan menjadi seorang nenek tua yang renta.

Nyai Malati mengambil pakaian yang tergantung di dinding gua. Pakaiannya berbeda dengan pakaian sebelumnya yang selalu terbuka memperlihatkan buah kembarnya yang ranum. Sekarang pakainnya adalah sebuah jubah warna kuning yang tertutup rapat menjuntai menutupi kakinya.

Dipandanginya wajah Rahiang Sanjaya yang masih tertidur.

"Rakean Jambri...sekarang tenaga dalammu sudah meningkat empat kali lipat. Aku tidak peduli harus melepas ajian Sadajiwa dan menjadi tua peot seperti ini" gumamnya sambil memandang Rahiang Sanjaya penuh kasih sayang.

Ternyata untuk menurunkan seluruh tenaga dalamnya kepada Rahiang Sanjaya, Nyai Malati harus melanggar pantangan ajian Sadajiwa yang selama ini membuatnya tetap muda. Pantangan itu adalah Nyai Malati harus bisa menjaga mahkotanya, kalau pantangan itu dilanggar maka seluruh tubuhnya akan kembali ke usia sebenarnya. Pergumulan yang semalam dilakukan oleh Nyai Malati dan Rahiang Sanjaya ternyata dilakukan untuk mentransfer seluruh tenaga Nyai Malati kepada Rahiang Sanjaya.

"Semoga kau bisa menjadi Ratu yang adil dan bijaksana" ujarnya lirih lalu dikecupnya kening Rahiang Sanjaya.

Setelah puas memandang Rahiang Sanjaya, Nyai Malati berjalan menuju mulut gua. Walaupun tubuhnya sudah berubah menjadi renta namun gerakannya masih tetap lincah.

"Ayahanda Resi..aku pulang" desisnya lalu perlahan-lahan tubuhnya menghilang.

===

Beberapa saat setelah Nyai Malati pergi, Rahiang Sanjaya terbangun dari tidurnya. Dia melonjak duduk sambil menutupi tubuh polosnya.

"Dewata Agung...apa yang sudah kulakukan?" desisnya sambil bergegas memakai pakaiannya.

"Ah..terkutuklah aku. Malu sekali aku jika bertemu Nyai Malati" batinnya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian gua. Tapi tidak dilihatnya Nyai Malati.

"Lebih baik aku mandi dan segera mohon pamit kepada Nyai Malati" gumamya sambil menghampiri kolam kecil. Sekali lagi diedarkan pandangannya mencari-cari Nyai Malati namun tidak ditemuinya.

Rahiang Sanjaya berendam cukup lama di dalam kolam, rasa lelah dan penatnya mendadak hilang. Rahiang Sanjaya bahkan merasa badannya jauh lebih enteng dibandingkan dengan sebelumnya.

Setelah selesai mandi dan berpakaian, Rahiang Sanjaya berjalan menuju mulut gua.

"Nyai..Nyai Malati...dimana kau?" teriak Rahiang Sanjaya. Namun tidak ada jawaban hanya sesekali terdengar suara burung dadali dan makhluk-makhluk hutan lainnya.

Rahiang Sanjaya lalu melompat ke atas batu besar yang berada tidak jauh dari mulut gua.

"Dewata Agung...apa yang terjadi?!" pekik Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya merasa tubuhnya sangat ringan, biasanya untuk melompat setinggi itu, dia harus mengerahkan seperempat tenaga dalamnya. Namun sekarang hanya dengan sepersepuluhnya saja dia bahkan mungkin bisa melompat lebih tinggi. Dengan rasa penasaran didorongkan tangannya ke salah satu pohon besar, selarik angin berhawa panas membumbung.

"Wussss.....Buuuum...Krakkkk" pohon besar itu tumbang hanya dengan sekali pukul.

Rahiang Sanjaya melengak, dia tidak menyangka tenaga dalamnya seolah meningkat empat kali lipat.

"Dewata Agung...Dewata Agung" pekik Rahiang Sanjaya.

"Apakah Nyai Malati menurunkan tenaga dalamnya melalui...ah..aku harus berterima kasih kepadanya" batin Rahiang Sanjaya.

"Tapi dimana dia sekarang?" Rahiang Sanjaya mengedarkan pandangannya ke seluruh area Langkob Karamat.

"Nyai Malati...Nyai Malati...dimana kau? Aku ingin mengucapkan terima kasih!!!" suara Rahiang Sanjaya bergema di seluruh Langkob Karamat.

Namun berkali-kali Raiang Sanjaya berteriak memanggil Nyai Malati namun tetap tidak jawaban.

Rahiang Sanjaya lalu duduk bersila di atas batu dan mengatur tenaga dalamnya yang meningkat secara drastis dalam satu malam.

"Luar biasa...Nyai Malati memang bukan orang sembarangan. Aku sangat beruntung bertemu dengannya" batin Rahiang Sanjaya.

Matahari sudah di atas kepala saat Rahiang Sanjaya memutuskan untuk pergi meninggalkan Langkob Karamat dan meneruskan perjalanan menuju Kabuyutan Denuh.

"Sepertinya Nyai Malati sudah pergi dan tidak mau menemuiku lagi, lebih baik aku meneruskan perjalanan. Semoga aku bisa bertemu lagi dengannya" gumam Rahiang Sanjaya.

Setelah membereskan keadaan gua yang berantakan, Rahiang Sanjaya bersiul memanggil kuda kesayangannya, si Jagur.


Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #5