NYAI MALATI




Rahiang Sanjaya menekan rasa terkejutnya.

"Nyai..aku harap kita tidak perlu ada perselisihan dan lagipula aku sudah mohon maaf kepadamu, izinkan untuk meninggalkan tempat ini" ujar Rahiang Sanjaya sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Ditatapnya wajah itu lurus-lurus menghindari jatuhnya pandangan ke arah dada perempuan itu.

Perempuan itu mendengus dengan mata mendelik melihat Rahiang Sanjaya menatapnya dengan telek. Dengan sengaja dadanya dibusungkan membuat kedua tonjolan itu seolah mau tumpah dari balik baju jubahnya.

"Tidak semudah itu anak muda!!! Tidak akan kubiarkan manusia kesasar sepertimu memberitahukan tempat ini kepada manusia lain" lengking perempuan itu.

"Sudah puluhan manusia kesasar ke tempat ini yang aku bunuh...hihihi" sambungnya dengan tertawa mengikik memperlihatkan giginya yang masih rata dan bagus.

"Nyai...aku bersumpah tidak akan memberitahukan tempat ini kepada orang lain" ujar Rahiang Sanjaya jengah, walaupun berusaha tidak melihat tapi gundukan montok itu jelas menggoyahkan rasa kelelakiannya.

"Sumpah?..bersumpah katamu?..aku mengasingkan diri lebih dari  limapuluh tahun di tempat ini karena ada manusia yang mengingkari sumpah kepadaku. Bagaimana aku bisa mempercayai sumpah?" dengus perempuan itu.

"Anak muda...bukan aku tidak memandang Sanna, ayahmu, tapi kau harus mati" sambungnya sambil memasang kuda-kuda siap menyerang.

Rahiang Sanjaya melengak mendengar ucapan perempuan yang mengaku sudah limapuluh tahun mengasingkan diri di tempat ini.

"Limapuluh tahun?...lalu berapa usia perempuan ini sebenarnya? Aku harus pancing dia untuk bicara" batin Rahiang Sanjaya dengan pandangan lurus dan tajam ke wajah perempuan itu.

"Sebentar Nyai...dari tadi kau selalu menyebut Sanna sebagai ayahku, apa sebenarnya maksudmu? Ayahku bukan Sanna" Rahiang Sanjaya mencoba memancing perempuan itu.

"Hi...hi...hi...pintar juga ternyata kau anak muda, tapi jangan harap bisa mengorek apapun dariku!" perempuan itu terkekeh.

"Kau akan lebih terkejut kalau kuberitahu bahwa namamu adalah Rakean Jambri...hi..hi..hi.." sambungnya sambil tetap terkekeh.

Wajah Rahiang Sanjaya sesaat memucat.

"Nyai...kau telah salah orang, namaku adalah Sancaka. Lebih baik aku mohon pamit" Rahiang Sanjaya mencoba untuk mengakhiri percakapan tersebut lalu melangkah bermaksud menghampiri si Jagur.

Melihat Rahiang Sanjaya yang berniat untuk pergi, perempuan itu muntab. Diawali dengan bentakan keras, perempuan itu menerjang ke arah Rahiang Sanjaya dengan kedua tangan terkembang.

"Ciiiiiiaatttt....kau harus mati...!!!"

Rahiang Sanjaya mundur beberapa langkah untuk menghindari serangan tersebut namun rupanya perempuan itu tidak main-main. Dikejarnya Rahiang Sanjaya dengan pukulan dan tendangan yang mengandung tenaga dalam tinggi, siuran angin dingin menggidikkan seolah melingkupi Lengkob Karamat. Dalam sekejap tubuh perempuan itu terlihat seperti bayangan yang mengurung tubuh Rahiang Sanjaya.

"Perempuan ini tidak main-main, aku harus berhati-hati...tenaga dalamnya sangat tinggi dan mematikan" batin Rahiang Sanjaya sambil menghindari serangan-serangan perempuan itu.

Beberapa puluh jurus berjalan, Rahiang Sanjaya hanya berusaha untuk menghindar tidak mau balik menyerang. Namun ternyata perempuan itu benar-benar memiliki kesaktian yang tidak rendah, beberapa kali Rahiang Sanjaya terdesak dan terpaksa harus menjatuhkan badannya menghindari pukulan dan tendangan yang bisa meremukkan tulangnya.

"Aku tidak bisa bertahan terus seperti ini. Bisa patah tulang dan jebol dadaku" batin Rahiang Sanjaya.

Sesaat konsentrasinya pecah. Kaki perempuan itu yang berputar mengincar pinggangnya hampir tidak dapat dihindarinya , Rahiang Sanjaya tercekat karena tidak mungkin lagi untuk mundur ataupun melompat untuk menghindar, akhirnya dengan panik dilemparkan badannya ke arah sungai.

"Byurrrr" Rahiang Sanjaya terjerembab ke dalam sungai. Untungnya sungai tersebut hanya sedalam lutut sehingga Rahiang Sanjaya bisa segera berdiri dan keluar dengan tubuh yang basah kuyup.

Perempuan itu tertawa geli melihat Rahiang Sanjaya yang rancucut oleh air sungai.

"Hi..hi..hi..anak muda, kemampuanmu ternyata masih cetek...bagaimana mungkin bisa merebut kembali Galuh dari tangan Purbasora" ujar perempuan itu sambil tertawa terpingkal-pingkal menunjuk-nunjuk Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya menggeretakan giginya karena marah.

"Nyai..aku sudah bersikap baik kepadamu dan tidak mau ada silang sengketa, tapi sepertinya kau memaksa. Maafkan aku kalau harus menurunkan tangan keras kepadamu" geram Rahiang Sanjaya sambil memasang kuda-kuda.

"Halah..tai kucing, bicaramu kelewat tinggi anak muda! Baru dua puluh jurus saja kau sudah hampir mampus" perempuan itu mencibir.

Rahiang Sanjaya tidak memedulikan lagi cibiran perempuan itu, kejengkelannya sudah memuncak.

"Hiiiiyyyyyya......wusss!!!" Rahiang Sanjaya melompat sekitar tiga tombak ke udara lalu berbalik meluncur seperti elang menyambar dengan posisi kesepuluh jari mengembang mengarah ke leher perempuan.

"Jurus Golejra Ngapak...kau mau pamerkan dihadapanku" dengus perempuan itu sambil mendorongkan kedua tangannya menyongsong datangnya tangan Rahiang Sanjaya.

"Buukkk...dessss" kedua tangan mereka berbenturan.

"Eghhhhh" tangan Rahiang Sanjaya bagaikan menabrak tembok karet, tubuhnya terpental ke udara dan jatuh berdebum di tanah.

Sementara perempuan itu tangannya serasa di hantam beban ribuan kati, kakinya sebatas mata kaki amblas ke dalam tanah.

Rahiang Sanjaya bergegas bangkit sambil menahan sakit didadanya. Diatur nafas dan peredaran darahnya.

"Luar biasa..tenaga dalamnya sangat tinggi. Dia mengenali jurus Golejra Ngapak, aku harus lebih berhati-hati" batin Rahiang Sanjaya.

Perempuan itu mendelik ke arah Rahiang Sanjaya yang ternyata bisa bangkit lagi.

"Hmmm...lumayan juga kemampuan anak muda ini. Tidak percuma Sanna telah melatihnya selama bertahun-tahun. Hanya perlu sedikit pengalaman, anak muda ini akan siap bertarung melawan Purbasora" batin perempuan itu.

Rahiang Sanjaya yang sudah marah dan kesal tidak mau membuang waktu lagi.

"Nyai...maafkan kalau aku menurunkan tangan keras. Kau yang memaksaku!!!" pekik Rahiang Sanjaya sambil menyalurkan setengah tenaga dalam ke kedua tangannya. Tangannya sebatas siku mulai mengeluarkan asap tipis.

"Hi..hi..hi...ajian Ambar Jagad!!! Sudah lama aku tidak menghadapinya, ayo kerahkan seluruh tenaga dalammu" dengus perempuan itu sambil mengembangkan kedua tangannya.

Rahiang Sanjaya melengak.

"Sialan...dia mengenali semua jurus dan ajianku. Siapa dia sebenarnya?" rutuk Rahiang Sanjaya sambil melipatgandakan tenaga dalamnya.

Diawali dengan teriakan yang menggelegar, Rahiang Sanjaya mendorongkan kedua tangannya ke depan. Dua berkas cahaya berwarna putih membumbung ke arah perempuan itu.

"Hiyyyyyyaaaa......!!!"

Tidak mau kalah perempuan itu pun berteriak melengking sambil mendorong ke dua tangannya ke arah Rahiang Sanjaya. Gumpalan cahaya biru melesat memapaki cahaya putih yang keluar dari tangan Rahiang Sanjaya.

"Bummmmmm....!!!" dua cahaya dari pukulan yang sakti beradu ditengah menimbulkan suara dentuman yang dahsyat. Pohon-pohon kecil disekitarnya rebah dengan daun menguning seperti terbakar.

Bagai dihantam beban ribuan kati, tubuh Rahiang Sanjaya terlempar beberapa deupa dan menghantam pohon di belakangnya. Dadanya berdenyut sakit dan pinggang serasa remuk dihantam pohon. Dicobanya untuk berdiri.

Sementara perempuan itu terjajar beberapa langkah ke belakang, wajahnya pucat pasi dari sela-sela bibirnya meleleh darah segar.

"Hueekkkkssss..huekkkksss!!!" Rahiang Sanjaya menyemburkan darah segar dari mulutnya lalu ambruk tidak sadarkan diri.

===

Hari menjelang pagi, Rahiang Sanjaya masih tergolek tak sadarkan diri, sementara perempuan itu bersemedi tidak jauh darinya. Sinar matahari pagi yang muncul dari sela-sela dedaunan mengenai muka Rahiang Sanjaya. Pelan-pelan matanya mulai bergerak.

"Ahh..sakit sekali, dadaku sesak" batin Rahiang Sanjaya sambil mencoba menggerakan badannya.

"Anak muda...jangan memaksakan untuk bangun kalau tidak ingin badanmu lumpuh seumur hidup" terdengar suara perempuan dari arah samping tempatnya terbaring.

Rahiang Sanjaya memalingkan wajahnya mencari arah suara perempuan tersebut. Dilihatnya perempuan yang kemarin bertarung mati-matian dengannya sedang bersemedi, matanya terpejam.

"Ah..Nyai, kenapa kau tidak membunuhku saja sekalian" tanya Rahiang Sanjaya lirih sambil menahan sakit.

"Cerewet...kau diam saja...jangan bergerak dulu. Tunggu sampai aku selesai semedi" terdengar suara perempuan itu lagi, tapi hebatnya matanya tetap terpejam dan mulutnya tetap terkatup.

"Rupanya aku berhadapan dengan seorang yang berilmu sangat tinggi. Tapi siapa sebenarnya dia? Dia mengenali semua jurus dan ajianku...bahkan tahu kalau aku adalah putra Sang Senna" kepalanya pusing dan berat dibebani berbagai pertanyaan, akhirnya Rahiang Sanjaya kembali jatuh pingsan.

Tak lama setelah Rahiang Sanjaya pingsan untuk kedua kalinya, perempuan itu bangkit dari semedinya. Kemudian menghampiri Rahiang Sanjaya yang tergeletak tak berdaya. Lalu dengan entengnya perempuan itu memangku Rahiang Sanjaya, dengan sekali genjot tubuhnya melayang menuju ke hulu sungai yang ternyata hanya beberapa puluh deupa dari situ. Dengan masih memangku Rahiang Sanjaya dengan kedua tangannya, perempuan itu melompat ke atas sebuah batu yang terletak persis di atas mata air yang menjadi hulu sungai tersebut.

"Huuuppp...settt.." perempuan itu dengan enteng menyelinap turun ke balik batu besar yang teryata adalah pintu sebuah gua yang cukup besar dan sangat indah. Di dalamnya terdapat sebuah mata air yang sangat jernih ditampung dalam kolam kecil berbatu. Di ujung goa sebelah dalam tembus cahaya matahari sedangkan di dinding-dinding gua menempel beberapa buah pelita. Dilemparnya tubuh Rahiang Sanjaya ke atas sebuah bangku kayu yang menyerupai tempat tidur.

"Hampir saja aku membunuhnya...." batin perempuan itu sambil menuju ke perapian yang ada di pojok gua. Dinyalakannya beberapa batang kayu kering, ditempatkan sebuah belanga besar yang berisi air di atas perapian. Lalu diambilnya beberapa lembar daun tumbuh-tumbuhan dari dalam keranjang yang tergantung tidak jauh dari perapian, dimasukkannya daun-daun tersebut ke dalam belanga yang berisi air.

Setelah itu dihampirinya Rahiang Sanjaya yang masih tergolek tidak berdaya. Diamatinya lekat-lekat wajah Rahiang Sanjaya lalu duduk bersila disampingnya.

"Hmmm..anak muda yang gagah, wajahnya sangat mirip dengan Sanna" gumamnya sambil mengusap wajah Rahiang Sanjaya lalu turun mengusap dadanya yang bidang.

"Lebih baik anak muda ini aku sembuhkan dulu..." perempuan itu bergumam.

Dirobeknya pakaian Rahiang Sanjaya, mata perempuan itu mendadak sayu begitu melihat dada yang bidang ditumbuhi bulu-bulu halus. Lalu kedua tangannya ditempelkan di atas dada Rahiang Sanjaya. Matanya terpejam sementara bibirnya komat-kamit merapal mantera. Tak lama kemudian dari kedua telapak tangannya yang menempel di dada Rahiang Sanjaya keluar asap putih. Perempuan itu sedang menyalurkan hawa murni untuk membantu menormalkan peredaran darah Rahiang Sanjaya.

"Uhu..uhuk..." Rahiang Sanjaya terbatuk lalu menyembur darah kental kehitaman dari mulutnya. Matanya mulai terbuka namun badannya masih lemah tidak berdaya.

"Bagus akhirnya kau siuman. Sekarang kau tetap berbaring, aku akan siapkan ramuan agar tenagamu kembali pulih" ujar perempuan itu sambil mengelap darah yang menempel di dada Rahiang Sanjaya lalu bangkit dari silanya dan berjalan menghampiri perapian.

Diaduknya belanga di atas perapian yang berisi air mendidih dan daun-daunan tersebut. Sementara Rahiang Sanjaya yang sudah tersadar mencoba untuk bangun dari tidurnya. Tetapi badannya seolah kapas terkena air, tidak ada tenaga sama sekali jangankan untuk bangun menggerakkan jari saja tidak bisa.

"Kau jangan memaksakan diri anak muda...tenagamu belum pulih. Perlu waktu setidaknya tujuh hari untuk pulih" ujar perempuan itu kepada Rahiang Sanjaya sambil tetap mengaduk-aduk belanga yang berisi ramuan yang sudah mendidih tersebut lalu menuangkannya dari dalam belanga ke dalam sebuah cangkir tanah.

Rahiang Sanjaya melengak mendengar perlu waktu selama tujuh hari untuk pulih.

"Ah...makin lama waktu tertunda menuju Kabuyutan Denuh. Dewata Agung kenapa selalu saja ada halangan dalam perjalanan ini. Ayahanda...maafkan aku" batin Rahiang Sanjaya sambil memejamkan mata. Ingatannya melayang ke ayahnya, Sang Senna, hatinya merasa sangat bersalah karena belum berhasil merebut tahta Karatuan Galuh dari tangan pamannya sendiri yaitu Purbasora. Tak terasa air matanya mulai merembes dari sela matanya yang terpejam.

"Tak tahu malu!!!..anak seorang Ratu menangis di hadapan perempuan" tiba-tiba perempuan menghardik Rahiang Sanjaya. Tanpa disadari oleh Rahiang Sanjaya ternyata perempuan itu sudah berdiri di samping tempat tidurnya.

Rahiang Sanjaya membuka kedua matanya menatap ke arah perempuan itu. Dilihatnya perempuan itu membawa cangkir tanah berisi air ramuan yang masih mengepul panas.

"Sekarang buka mulutmu dan minum ramuan ini !!" bentak perempuan itu sambil duduk di samping Rahiang Sanjaya.

Mata Rahiang Sanjaya terbelalak, bagaimana mungkin ramuan yang masih mengepul panas itu harus diminumnya.

"Tapi Nyai..." ujar Rahiang Sanjaya lemah nyaris tak terdengar.

"Kau terlalu banyak bicara...!" hardik perempuan itu sambil tangan kirinya bergerak ke pipi Rahiang Sanjaya dan memaksanya duntuk membuka mulut. Lalu dengan entengnya mengucurkan cairan ramuan yang masih mengepul dari dalam cangkir ke dalam mulut Rahiang Sanjaya dengan tangan kanannya.

Rahiang Sanjaya menutup matanya ngeri namun,

"Nyessss"

Ajaib...air mendidih tersebut ternyata terasa bagaikan air dingin biasa, tidak terasa panas sama sekali oleh Rahiang Sanjaya. Setelah cangkir itu kosong, perempuan itu melepaskan tangan kirinya yang mencengkram pipi Rahiang Sajaya lalu berdiri dan menyimpan cangkir yang telah kosong di samping perapian. Diangkatnya belanga yang berisi ramuan dari atas perapian lalu diletakkan di samping perapian. Diambilnya belanga lain yang berisi air jernih lalu diletakkan di atas perapian.

Perempuan itu berdiri lalu berjalan menuju kolam kecil yang berada tidak jauh dari tempat tidur Rahiang Sanjaya. Rahiang Sanjaya yang masih terbaring hanya dapat mengawasi dengan sudut matanya.

"Perempuan aneh...tadi dia berusaha membunuhku, sekarang dia menolongku. Aku benar-benar tidak mengerti dengan dunia ini" batin Rahiang Sanjaya. Dadanya mulai terasa ringan mungkin khasiat ramuan tadi sudah mulai bekerja.

Perempuan itu ngahariring, entah menyanyikan tembang atau pantun lalu dengan seenaknya melepas pakaian dan celananya lalu masuk ke dalam kolam kecil tersebut tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh indahnya. Rahiang Sanjaya melengak jengah. 

Perempuan itu mandi di dalam kolam tanpa malu-malu di hadapan Rahiang Sanjaya. Tak lama perempuan itu keluar dari kolam dan membungkus tubuhnya dengan selembar kain tipis yang mencetak seluruh lekuk lalu dengan acuhnya berjalan melintasi tempat tidur Rahiang Sanjaya. Diambilnya pakaian yang tergantung di dinding gua. Rahiang Sanjaya panas dingin, aliran darahnya mendadak kacau tidak beraturan. Dipejamkan matanya kuat-kuat. 

Setelah mengenakan pakaian jubah berwarna kuning sebatas lutut dengan belahan dada rendah, sama dengan yang dikenakan sebelumnya hanya warnanya saja yang beda. Perempuan itu kembali ke sisi kolam kecil lalu mengisi sebuah belanga dengan air dan diletakkannya di samping tempat Rahiang Sanjaya.

Perempuan itu berlutut di depan perapian memunggungi Rahiang Sanjaya, lalu menata rambut putih berubannya dengan menggunakan hiasan dari kayu yang sangat indah. Mulutnya tak henti ngahariring.

Rahiang Sanjaya tetap memejamkan matanya, walaupun naluri laki-lakinya berkata lain. Semilir wangi bunga melati tercium oleh Rahiang Sanjaya, lalu dirasakan ada sebuah tangan yang mengusap dadanya. Rahiang Sanjaya merinding tapi tidak bisa berbuat apa-apa, badannya masih belum bisa digerakkan. Perlahan matanya dibuka, Rahiang Sanjaya seolah terhenti nafasnya. Aliran darahnya yang masih kacau karena melihat tubuh indah perempuan itu tiba-tiba terasa mengalir bolak-balik dengan sangat cepat.

Perempuan itu berdiri menunduk diatas wajahnya sambil mengusap dadanya dengan kain basah. Tepat di depan mata Rahiang Sanjaya, terpampang dua bulatan daging montok yang membulat seolah mau tumpah ke wajahnya. Rahiang Sanjaya membuang pandangannya ke samping namun lagi-lagi nafasnya tertahan.

Jubah perempuan itu yang hanya sebatas lutut terangkat ke atas paha karena badannya membungkuk membersihkan dada Rahiang Sanjaya. Paha kuning mulus itu hampir menempel di wajahnya.

"Huuuhhh.." Rahiang Sanjaya menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya.

Perempuan itu melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuh Rahiang Sanjaya. Sekujur badan Rahiang Sanjaya dilap dengan telaten menggunakan kain basah oleh perempuan itu. Seluruh bulu ditubuh Rahiang Sanjaya meremang selain karena geli juga karena jengah. Dipejamkan matanya kuat-kuat tapi yang terbayang hanyalah tubuh indah perempuan itu.

"Dasar bocah bangor...nyawa hampir putus tapi burungmu masih saja bangun" damprat perempuan itu.

"Kau jangan berfkir macam-macam, aliran darahmu masih belum lancar" sambungnya sambil mesem mesem.

Rahiang Sanjaya wajahnya merah padam karena malu, tidak berani membuka matanya. Setelah selesai perempuan itu mengambil satu stel pakaian laki-laki dari dalam buntelan yang ada di bawah tempat tidur. Dengan hati-hati dikenakan pakaian tersebut pada Rahiang Sanjaya. Entah milik siapa tapi ukurannya hampir pas di badan Rahiang Sanjaya.

"Sekarang kau tunggu sebentar, aku akan menyiapkan makanan" ujar perempuan itu sambil membereskan belanga air bekas membersihkan badan Rahiang Sanjaya.

Baca juga : Rahiang Sanjaya: Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #9

Sudah tiga hari Rahiang Sanjaya tinggal di gua bersama perempuan itu. Badannya sudah mulai bisa digerakkan walaupun masih belum bisa turun dari tempat tidur. Perempuan itu, yang sampai saat ini tidak pernah memberitahukan namanya kepada Rahiang Sanjaya, merawatnya dengan sangat baik.

"Anak muda...tubuhmu sudah hampir pulih, mungkin dalam waktu dua hari sudah bisa berdiri" ujar perempuan itu sambil menyodorkan cangkir tanah berisi ramuan obat kepada Rahiang Sanjaya lalu duduk disampingnya.

Rahiang Sanjaya menyambut cangkir tersebut dan dengan sekali teguk ramuan tersebut tandas ke dalam perutnya.

"Nyai...kau selalu memanggilku anak muda, padahal usia kita mungkin hampir sama. Panggil saja Sancaka" ujar Rahiang Sanjaya sambil meletakkan cangkir yang sudah kosong di samping tempat tidurnya.

"Hi..hi..hi..bocah tengil, umurmu tidak ada seperempat umurku" perempuan itu tersenyum sambil menarik tangan Rahiang Sanjaya membantunya untuk duduk.

"Sekarang kau membalik ke sana" sambungnya sambil menyuruh Rahiang Sanjaya agar membelakanginya.

Kedua telapak tangan perempuan itu ditempelkan di punggung Rahiang Sanjaya. Hawa hangat serasa mengaliri seluruh tubuh Rahiang Sanjaya.

"Kau sekarang sudah boleh duduk tapi jangan coba-coba untuk berdiri. Badanmu masih belum kuat" ujar perempuan itu sambil melepaskan kedua telapak tangannya dari punggung Rahiang Sanjaya.

"Nyai...kau sudah merawatku lebih dari tiga hari tapi aku tidak tahu namamu yang sebenarnya. Mohon beritahu aku supaya bisa berterima kasih padamu" ujar Rahiang Sanjaya sambil membalikkan badannya ke arah perempuan itu.

Perempuan itu menatap tajam ke arah Rahiang Sanjaya.

"Tidak ada gunanya kau tahu namaku..." perempuan itu menarik nafas panjang

"Hhhhh..tapi baiklah, kau bisa memanggilku Nyai Malati" sambung perempuan itu seolah berat harus memberitahu namanya.

"Terima kasih Nyai Malati...izinkan aku untuk bertanya lagi" ujar Rahiang Sanjaya.

Nyai Malati melengos lalu bangkit dari duduknya dan mengambl cangkir tanah bekas ramuan obat Rahiang Sanjaya. Disimpannya di tumpukkan belanga  kotor di samping perapian. Lalu kembali menghampiri tempat tidur dan duduk dengan seenaknya di depan Rahiang Sanjaya.

Walaupun selama tiga hari ini sudah terbiasa melihat tubuh terbuka Nyai Malati, namun tetap saja darah muda Rahiang Sanjaya bergejolak. Dipalingkan wajahnya ke samping sambil mengatur nafasnya.

"Bocah bangor...melihat tubuh nenek-nenek saja sudah ngos-ngosan" damprat Nyai Malati sambil mesem-mesem. Lalu dengan tenang merubah duduknya menjadi bersila sehingga hampir seluruh pahanya yang membulat montok terlihat dengan jelas walaupun dalam keremangan gua. Belum lagi belahan dadanya yang membusung seolah mau melompat dari jubahnya.

Setelah bisa menguasai dirinya, Rahiang Sanjaya lalu kembali menatap ke arah Nyai Malati.

"Nyai Malati siapa sebenarnya dirimu? Kau hampir saja membunuhku tapi kau juga merawatku dengan baik. Mohon jangan membuatku mati penasaran" ujar Rahiang Sanjaya.

Nyai Malati menarik nafas panjang.

"Rakean Jambri...sebenarnya aku tidak bermaksud membunuhmu. Aku hanya ingin mengetahui setinggi apa ilmu dan kesaktianmu. Karena nanti di masa depan..kau akan menghadapi banyak musuh yang kesaktiannya sulit diukur" ujar Nyai Malati lirih.

"Nyai Malati..ilmu dan kesaktianku memang masih cetek, belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dirimu" ujar Rahiang Sanjaya sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada.

"Satu hal lagi Nyai Malati...euhh..euhh..maaf Nyai, kenapa kau selalu memanggilku Rakean Jambri?" sambung Rahiang Sanjaya penasaran

"Hi..hi..hi..kau tidak akan bisa berdusta kepadaku bocah bangor. Wajah dan badanmu plek sama dengan ayahmu, Sanna. Tapi kelakuan bangormu pasti menurun dari kakekmu Rahyangtang Mandiminyak" jawab Nyai Malati terkekeh.

Rahiang Sanjaya melengak hampir tidak percaya, Nyai Malati mengenal semua silsilah keluarganya. Rahiang Sanjaya semakin penasaran.

"Nyai Malati...bagaimana bisa kau mengetahui semua tentang keluargaku? Apakah kau masih keluarga Karatuan?" Rahiang Sanjaya menatap penasaran.

"Aku bukan keluarga Karatuan...aku hanya rakyat jelata. Tapi aku bersahabat dengan nenekmu, Pwah Rababu" ujarnya pelan sambil matanya jauh menerawang.

Rahiang Sanjaya terperangah.

"Tidak mungkin Nyai...tidak mungkin...kau jangan berdusta" Rahiang Sanjaya tidak percaya.

"Buat apa aku berdusta?! Kau bertanya tapi tidak mau percaya" damprat Nyai Malati sambil menggebrak papan tempat tidur.

Rahiang Sanjaya terperanjat lalu dengan cepat memegang tangan Nyai Malati dan memohon maaf.

"Pun...pun..paralun Nyai Malati, aku bukan tidak percaya tapi tidak mungkin Nyai yang masih muda ini berteman dengan nenekku, Pwah Rababu" ujar Rahiang Sanjaya sambil membungkukkan badannya.

"Bocah bangor..lepaskan tanganku" hardik Nyai Malati sambil menepiskan tangan Rahiang Sanjaya.

"Pikiranmu memang bangor...yang kau lihat hanya dada dan tubuhku saja. Kau lihat rambutku yang sudah penuh uban ini" sambungnya sambil menunjuk rambutnya yang memang sudah memutih.

Wajah Rahiang Sanjaya memerah dadu, malu karena apa yang diucapkan Nyai Malati benar adanya. Matanya hanya melihat kemolekan tubuh dan montoknya dada Nyai Malati.

"Ah...aku benar-benar malu. Tapi tubuhnya memang masih seperti seorang gadis muda, ajian apa yang dikuasai Nyai Malati sehingga tubuhnya bisa tetap muda dan indah?" batin Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya segera menguasai dirinya lalu kembali bertanya.

"Pun pun paralun Nyai Malati...kenapa kau ada ditempat ini? Bukankan Nenek Pwah Rababu tinggal di Kabuyutan Galunggung?" Rahiang Sanjaya bertanya dengan menundukkan kepalanya. Setelah tahu bahwa Nyai Malati adalah teman dari Pwah Rababu (neneknya), Rahiang Sanjaya semakin ajrih tidak berani berbuat yang aneh-aneh.

Nyai Malati menghela nafas panjang.

"Sejak limapuluh tahun lalu aku meninggalkan Kabuyutan Galunggung dan memilih untuk menyepi di tempat ini" suara Nyai Malati mendadak parau seperti menahan beban yang sangat berat.

"Ah...sudahlah!!! Kau tidak perlu tahu. Yang penting sekarang adalah memulihkan kembali kondisi tubuhmu" sambungnya kesal seolah menyesal telah menceritkan tentang dirinya kepada Rahiang Sanjaya.

Melihat Nyai Malati yang sepertinya tidak mau menceritakan masa lalunya, Rahiang Sanjaya tidak mau memaksanya.

"Ku rasa besok sudah pulih dan aku bisa melanjutkan perjalanan" ujar Rahiang Sanjaya.

Nyai Malati mendelikkan matanya ke arah Rahiang Sanjaya.

"Dewata Agung sudah membimbingmu ke tempatku. Aku tidak tahu apa yang di kehendaki oleh Dewata Agung" gumam Nyai Malati seperti berbicara pada dirinya sendiri.

"Rakean Jambri..aku mendapat kabar tentang perselisihan antara ayahmu dengan pamanmu, Purbasora. Ah..malang sekali nasibmu Rababu, keturunanmu akhirnya akan saling membunuh" Nyai Malati seolah berbicara pada dirinya sendiri.

Rahiang Sanjaya menundukkan kepalanya, Nyai Malati kembali menarik nafas panjang.

"Dewata Agung...aku dengar kabar kalau Sanna dibuang ke lereng Gunung Merapi di wetan sana. Lalu tiba-tiba anaknya muncul di hadapanku...Dewata Agung apa maksud semua ini?" Nyai Malati kembali bergumam.

"Rakean Jambri..kau ceritakan kepadaku, kemana tujuanmu sebenarnya?" sambungnya bertanya kepada Rahiang Sanjaya.

"Pun pun Paralun Nyai Malati, tujuanku sebenarnya adalah hendak menemui Eyang Resi Guru di Denuh. Tapi sepertinya aku malah tersesat ke tempatmu" ujar Rahiang Sanjaya.

"Kau benar-benar bodoh..menemui Sang Jantaka (nama kecil Resi Guru) sama saja mengantarkan nyawamu" Nyai Malati melengak mendengar tujuan Rahiang Sanjaya.

"Rakean Jambri..tahukah kau bahwa Bimaraksa putra Jantaka bersama-sama Purbasora menyerang dan menjatuhkan ayahmu? Kau datang ke sana hanya akan membuatmu mati konyol" sambungnya gusar.

"Pun pun paralun Nyai Malati...aku tidak mau berprasangka yang tidak baik, lagipula ini adalah titah dari ayahandaku. Mana mungkin aku tidak menjalankannya" jawab Rahiang Sanjaya.

"Ah...ayah dan anak sama saja, tidak pernah melihat ke harimau dibalik bukit" keluh Nyai Malati.

"Rakean Jambri...aku sebenarnya sangat menyayangi Sanna dan Purbasora, aku membantu Pwah Rababu saat melahirkan keduanya. Mereka berdua sudah seperti anak-anakku sendiri" Nyai Malati menerawang.

"Sayangnya mereka harus bertikai...ah..Dewata Agung kenapa keturunan mereka yang harus menanggung derita perselisihan ini" kembali Nyai Malati mengeluh.

Rahiang Sanjaya tidak menjawab, denga takzim disimaknya semua ucapan Nya Malati.

"Dewata Agung...aku tidak tahu apakah ini salah atau benar, tapi aku tidak mungkin membiarkan anak Sanna mendekati marabahaya tanpa memberikan bantuan. Jika ini salah menurut Dewata Agung..aku bersedia menerima semua karma" Nyai Malati menengadahkan wajahnya ke langit-langit gua.

"Rakean Jambri, kau harus memperdalam ajian dan kesaktianmu di sini. Aku akan mengajarkan semua ilmu yang kumiliki. Aku tidak mau kau mati konyol" ujarnya kepada Rahiang Sanjaya.

Mendengar hal tersebut, Rahiang Sanjaya sangat senang. Segera dijatuhkan kepalanya bersujud di hadapan Nyai Malati.

"Terima kasih Nyai Malati...aku sangat berterima kasih" ujar Rahiang Sanjaya sambil tetap bersujud.

"Sudah..sudah..cepat bangun, aku tidak suka segala peradatan" hardik Nyai Malati.

"Kau harus belajar dan berlatih dengan sungguh-sungguh. Aku yakin dengan dasar yang kau miliki saat ini, kurang dari duapuluh empat purnama kau akan sanggup menguasainya" sambung Nyai Malati.

"Dua puluh empat purnama?? Apakah perlu selama itu" Rahiang Sanjaya tersentak kaget.

"Kenapa kaget? Ajian dan kesaktianku bukanlah sembarangan, tidak mudah untuk dipelajari" hardik Nyai Malati

"Pun pun paralun Nyai Malati, tidak ada maksudku seperti itu lagipula aku sudah merasakan betapa tingginya kesaktianmu. Tetapi aku tidak bisa tinggal di sini selama itu, banyak tugas yang harus aku selesaikan" Rahiang Sanjaya merangkapkan kedua tangannya.

"Terserah padamu anak bodoh...aku tidak akan memaksamu. Tapi jangan salahkan aku kalau kau sampai mati konyol" hardik Nyai Malati muntab.

Nyai Malati memandang dengan mata nyalang kepada Rahiang Sanjaya. Dia merasa bahwa Rahiang Sanjaya adalah orang yang tidak tahu terima kasih. Nyai Malati bangkit dari duduknya dan pergi keluar goa meninggalkan Rahiang Sanjaya yang masih tertunduk.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #16