PANDITA ABIYASA



Setelah mendapat petunjuk letak dan arah bukit Paratag dari Darma dan Wira, Rahiang Sanjaya memutuskan untuk berangkat sendiri. Selain untuk menghemat waktu, Rahiang Sanjaya juga merasa enggan untuk kembali ke kampung itu. Hatinya tidak tega melihat kedua gadis putri Darma dan Wira yaitu Jayanti dan Andini.

Menjelang waktu pecat sawed, si Jagur yang ditunggangi Rahiang Sanjaya mulai memasuki kaki bukit yang menurut Darma dan Wira bernama bukit Paratag.

"Hmmm...hutannya masih sangat lebat, sangat cocok untuk dijadikan markas" batin Rahiang Sanjaya sambil menarik tali kekang si Jagur.

"Tapi di bukit sebelah mana markas mereka sebenarnya?" Rahiang Sanjaya mengedarkan pandangannya mengamati keadaan sekitar.

Matanya yang tajam sekilas melihat ada beberapa semak belukar dan ilalang yang kondisinya sedikit rebah seperti bekas dilewati orang. Rahiang Sanjaya melompat turun dari punggung si Jagur dan dituntunnya mengikuti arah semak belukar tersebut.

"Sepertinya mereka sangat berhati-hati supaya markasnya tidak diketahui orang lain" gumam Rahiang Sanjaya sambil menyibakkan batang ilalang yang menghalangi. Sesekali terdengar suara lengkingan burung elang yang sedang mencari mangsa.

Disusurinya jejak semak dan belukar yang rebah tersebut. Tak berapa lama ilalang dan semak belukar yang menghalangi jalan semakin berkurang bahkan terlihat jelas ada sebuah jalan setapak yang sepertinya sering dilalui orang bahkan kuda.

"Ah..ternyata semak belukar itu sengaja untuk menutupi jalan yang sebenarnya" Rahiang Sanjaya. Diikutinya jalan tersebut yang ternyata memutar kembali ke arah Rahiang Sanjaya pertama datang, hanya dipisahkan sekitar tiga deupa.

"Luar biasa...ternyata semak belukar itu adalah tipuan. Markas mereka sebenarnya mungkin sudah aku lewati" batin Rahiang Sanjaya sambil meningkatkan kewaspadaannya.

Sementara itu di atas pohon-pohon yang sangat tinggi dan lebat daunnya, dua pasang mata mengawasi gerak-gerik Rahiang Sanjaya. Sesekali mereka berkomunikasi dengan lengkingan-lengkingan yang mirip suara burung elang.

Rahiang Sanjaya melanjutkan perjalanan sambil tidak melepaskan kewaspadaan, instingnya yang tajam bisa merasakan bahwa dirinya sedang diawasi. Ditepuknya leher si Jagur.


"Jagur..lebih baik kau beristirahat dan cari makan sana" ujarnya kepada si Jagur seolah berbicara pada seorang manusia.

Rahiang Sanjaya berjongkok dan mengambil sebuah batu kecil. Sesaat dipejamkan matanya sambil mulutnya merapal mantra. Lalu dengan sebat batu tersebut dilemparkan ke atas sebuah pohon, tidak jauh dari tempatnya berdiri.

"Wuuuttt...." batu itu meluncur dengan deras bagaikan anak panah menembus rimbunnya dedaunan.

"Bukkk.." terdengar suara seperti menghantam sesuatu disusul oleh berdebamnya suara yang jatuh dari atas pohon.

Terdengar suara erang kesakitan. Rahiang Sanjaya bergegas menghampiri arah suara itu. Dilihatnya seorang laki-laki tergelatak sambil memegangi kaki kanannya yang sepertinya patah.

"Sampurasun Kisanak...ada apa? Kenapa dengan kakimu?" Rahiang Sanjaya bertanya seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi sambil menghampiri laki-laki itu.

"Bajingan..kau yang menyebabkan aku jatuh. Lihat....gara-gara lemparanmu kepalaku benjol dan kakiku patah" rutuk orang tersebut memaki Rahiang Sanjaya.

"Ah..maafkan aku Kisanak, aku tidak bermaksud melemparmu. Aku kira surili (monyet)..hehe" Rahiang Sanjaya terkekeh lalu berjongkok di samping laki-laki itu.

"Wussss...wusss" Rahiang Sanjaya merdengar suara yang sangat halus dibelakangnya. Dengan sebat membalikkan badan sambil jari tangannya menjepit sesuatu. Ternyata sebuah bambu yang diraut tajam berwarna hitam, sepertinya ada seseorang yang menyumpitnya. Dilemparkannya sumpit itu ke batang pohon di sampingnya. Pohon itu seketika menghitam. Rahiang Sanjaya bergidik.

"Sumpit beracun...luar biasa jahat" gumamnya.

Dihampirinya kembali lagi laki-laki yang tergeletak tadi, dipegang kaki kanannya kuat-kuat. Laki-laki itu melolong kesakitan.

"Aaahhhh....lepaskan bajingan!..sakit..sakit!!!"

Rahiang Sanjaya tidak melepaskan tangannya yang mencengkram kaki laki-laki itu. Tidak dipedulikan teriakan dan makiannya.

"Kau..yang bersembunyi di atas pohon, keluar sekarang!...atau aku..." Rahiang Sanjaya berteriak sambil mencengkram kaki laki-laki itu makin keras.

"Aahh...aah...ampun..ampun..lepaskan!!" laki-laki itu meraung setinggi langit.

"Lepaskan dia...!!!" tiba-tiba dari atas sebuah pohon melayang turun dengan enteng seorang laki-laki tua dengan janggut panjang yang memutih. Diikuti oleh satu laki-laki muda yang turun dari pohon di samping kanan Rahiang Sanjaya.

Melihat kedatangan dua orang tersebut, Rahiang Sanjaya tersenyum lalu melepaskan cengkeraman tangannya dari kaki laki-laki yang tergeletak tadi.

"Ah...rupanya Pandita yang datang" Rahiang Sanjaya merangkapkan kedua tangan di depan dada lalu menjura dengan hormat ke arah laki-laki tua itu.

Laki-laki tua itu tidak menghiraukan Rahiang Sanjaya, dengan tenang dihampirinya laki-laki yang tergeletak. Dari saku bajunya yang lebih mirip jubah dikeluarkan potongan anak pohon pisang yang masih segar dan mengucurkan getahnya. Dioleskannya getah anak pohon pisang tersebut ke kaki kanan yang patah. Matanya terpejam dan mulutnya terlihat merapal mantra.

Rahiang Sanjaya yang diacuhkan hanya garuk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Sementara laki-laki muda dengan tajam mengawasi ke arah Rahiang Sanjaya.

"Puaahh...puahhh..!!" mulut laki-laki tua itu meludahi kaki yang patah.

"Sura..kau coba berdiri" ujar laki-laki tua sambil menepuk-nepuk kaki kanan kanan laki-laki yang tergolek tidak berdaya.

Laki-laki yang ternyata bernama Sura itu mencoba untuk menggerakan kaki kanannya. Ajaib rasa sakitnya hilang lalu dicobanya untuk berdiri. Rahiang Sanjaya melengak kagum melihat Sura berdiri seolah-olah kakinya tidak pernah patah.

"Luar biasa kesaktian orang tua itu" batin Rahiang Sanjaya.

"Terima kasih Eyang..kakiku sudah kembali" Sura berseru gembira sambil berdiri.

"Anak muda...apa tujuanmu datang kemari dan membuat kekacauan" laki-laki tua itu berbalik kepada Rahiang Sanjaya sambil bertanya.

"Pandita..maafkan kalau aku mengganggu kalian. Tapi aku tidak bermaksud jahat" jawab Rahiang Sanjaya dengan tetap hormat.

"Dia berdusta...dia sudah melemparku hingga terjatuh dari pohon" Sura membantah jawaban Rahiang Sanjaya.

"Lihat..kepalaku sampai seperti ini" sambungnya sambil meringis memperlihatkan kepalanya yang benjol sebesar telor ayam.


"Betul...tadi aku lihat..." laki-laki muda yang satu menimpali.

"Diam Sura..kau juga Ruda!" laki-laki tua itu membentak. Sura dan Ruda langsung mengkeret.

"Anak muda..namaku Abiyasa dan seingatku tidak mempunyai silang sengketa denganmu. Perbuatanmu yang telah mematahkan kaki Sura...aku maafkan. Sekarang kau tinggalkan tempat ini" laki-laki tua yang bernama Abiyasa itu berkata dengan halus agar Rahiang Sanjaya meninggalkan tempat itu.

"Pandita...aku minta maaf atas kejadian ini...tapi sebelum aku pergi, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu" jawab Rahiang Sanjaya tetap menunjukkan rasa hormatnya dengan tetap memanggilnya pandita.

Abiyasa menghela nafas panjang sambil mengusap janggut putihnya.

"Baiklah..aku memberimu satu kesempatan untuk bertanya, setelah itu silakan pergi" ujarnya.

"Pandita...aku mendapat kabar kalau di bukit ini ada gerombolan yang suka merampok dan membunuh warga kampung...bahkan memperkosa wanita-wanitanya" ujar Rahiang Sanjaya.

"Apakah Pandita tahu..dimana markas mereka" sambungnya.

Abiyasa tercenung sejenak lalu melirik ke arah Sura dan kedua temannya.

"Anak muda...aku tidak tahu gerombolan yang kau maksud" jawabnya parau.

"Sesuai perjanjian...aku sudah menjawab pertanyaanmu, sekarang cepat tinggalkan tempat ini" sambungnya.

Rahiang Sanjaya tersenyum sambil merangkapkan kedua tangan di depan dadanya lalu membungkuk ke arah Abiyasa. Sementara Sura dan Ruda kelihatan wajahnya pucat dan gugup.

"Pandita....terima kasih atas jawabanmu" ujar Rahiang Sanjaya sambil berlalu.

Namun tiba-tiba Rahiang Sanjaya menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Sura dan Ruda.

"Kisanak...sepertinya kau mengetahui sesuatu, tolong sampaikan kepadaku" ujar Rahiang Sanjaya sambil tersenyum kepada Sura.

Sura yang tidak menyangka akan ditanya seperti itu oleh Rahiang Sanjaya, terlihat sangat gugup.

"A..aa..ku tidak tahu apa-apa" jawabnya sambil menggoyangkan tangannya.

Rahiang Sanjaya menangkap tangan kanan Sura.

"Kisanak...aku akan bertanya sekali lagi, kalau kau berdusta maka tanganmu akan ku buat remuk" Rahiang Sanjaya menekan tangan Sura dengan kuat.

"Aaaaahhh...ampun, aku benar-benar tidak tahu. Lepaskan aku keparat!!!" Sura melolong kesakitan.

"Anak muda...lepaskan cucuku, dia tidak tahu apa-apa" pekik Abiyasa yang tidak menyangka Rahiang Sanjaya akan berbuat seperti itu.

"Pandita..maafkan aku. Aku tidak bisa memaksamu karena aku sangat menghormati pemuka agama" ujar Rahiang Sanjaya tidak melepaskan cengkeramannya di tangan Sura.

"Tapi kalau cucumu ini tidak mau berkata jujur...aku akan hancurkan tangannya!!" sambung nya tegas.

Ruda yang berdiri tidak jauh dari Sura dan Rahiang Sanjaya tidak mau tinggal diam. Secara diam-diam menyerang Rahiang Sanjaya, kepalan tangan Ruda menyasar ke arah rahang. Namun sepertinya Rahiang Sanjaya sudah tidak mau lagi bermain-main, tangan kirinya mengembang mendorong ke arah Ruda. Selarik angin laksana puting beliung menebar ke arah Ruda . Tak ayal lagi Ruda terhempas menghantam batang pohon di belakangnya.

Abiyasa melengak melihat kehebatan Rahiang Sanjaya.

"Luar biasa..anak muda ini memang bukan sembarangan. Siapa dia sebenarnya?" batin Abiyasa.

Sura yang merasa kesakitan luar biasa akhirnya berteriak sambil menangis.

"Lepaskan aku...baik..aku akan ceritakan semuanya. Lepaskan tanganku" rengek Sura dengan mata berurai air mata menahan sakit.

"Sura..tutup mulutmu, jangan asal bicara!" Abiyasa menghardik Sura.

Rahiang Sanjaya mendengar ucapan Sura langsung tersenyum sambil melepaskan cengkeramannya. Semantara Ruda mencoba bangkit sambil menahan rasa sakit di punggung dan pinggangnya akibat menghantam batang pohon.

"Pandita...maafkan aku, sepertinya ada yang berkata tidak jujur di sini. Aku akan sangat berterima kasih jika Pandita berkenan menjelaskan yang sebenar-benarnya" ujar Rahiang Sanjaya sambil membungkukkan badannya ke arah Abiyasa.

Serasa ditampar bolak-balik, muka Abiyasa memerah menahan malu mendengar ucapan Rahiang Sanjaya. Ditariknya nafas dalam-dalam.

"Anak muda..aku..." Abiyasa tercekat.

"Ah...baiklah akan aku ceritakan semuanya" ujar Abiyasa sambil duduk di atas sebuah catang (potongan batang pohon). Sura dan Ruda dengan muka meringis kesakitan bergegas menghampiri Abiyasa dan duduk disampingnya.

Sementara Rahiang Sanjaya mematahkan beberapa batang pohon yang berdaun lebar dan dijadikan alas duduk. Rahiang Sanjaya bersila dengan takzim di hadapan Abiyasa dan kedua cucunya.

"Anak muda yang berbudi luhur, walaupun kesaktiannya setinggi langit tapi tetap menghormatiku sebagai orang yang lebih tua" batin Abiyasa mengagumi Abiyasa.

"Siapa namamu sebenarnya anak muda dan dari mana asalmu?" Abiyasa bertanya dengan lembut kepada Rahiang Sanjaya.

"Namaku Sancaka dan asalku dari wetan. Sekarang Pandita tolong ceritakan mengenai gerombolan tersebut" jawab Rahiang Sanjaya.

Setelah lagi-lagi menghela nafas panjang seolah ada beban yang sangat berat di dadanya.

"Baiklah Sancaka...maafkan aku yang tidak langsung berkata jujur kepadamu. Sebagai orang tua aku merasa malu" ujar Abiyasa lirih.

Rahiang Sanjaya hanya menganggukan kepala.

"Orang tua yang baik, tapi kenapa sepertinya dia sangat menderita" batin Rahiang Sanjaya.

"Sancaka, yang kamu maksud gerombolan itu adalah anakku, Darja dan teman-temannya" suara Abiyasa bergetar seolah menahan beban.

"Ah...ternyata...pantas saja..." batin Rahiang Sanjaya.

"Aku sudah mencoba untuk menyadarkannya tetapi kekecewaannya kepada Karatuan Galuh....." Abiyasa tidak meneruskan ucapannya.

"Pandita kenapa tidak kau teruskan?" Rahiang Sanjaya penasaran mendengar cerita Abiyasa.

"Darja mengabdi kepada  Gusti Bimaraksa sejak di Kabuyutan Denuh dan ikut menggulingkan Gusti Prabu Bratasenawa namun...." Abiyasa kembali menghela nafas panjang.

"...setelah Gusti Bimaraksa diangkat menjadi Patih oleh Gusti Prabu Purbasora dan tinggal di Keraton Karangkamulyan, Darja tidak mendapatkan penghargaan yang diharapkannya. Darja bahkan diperintahkan oleh Gusti Bimaraksa untuk kembali ke Kabuyutan 
Denuh" Abiyasa melanjutkan ceritanya, matanya mulai berkaca-kaca menahan kesedihan.

"Darja merasa kecewa dan memutuskan untuk tidak kembali ke Kabuyutan Denuh dan melampiaskan kekecewaannya dengan mengganggu rakyat yang tidak berdosa" Abiyasa tidak kuasa menahan tangisnya.

"Aku berdosa...berdosa...sebagai orangtuanya aku berdosa..." Abiyasa tak kuasa melanjutkan ceritanya. Sementara Sura dan Ruda berkaca-kaca.

"Ah...ternyata begitu ceritanya" ujar Rahiang Sanjaya.

"Pandita..aku dapat memahami perasaanmu...tetapi ulah Darja benar-benar sudah keterlaluan" sambungnya.

Abiyasa mengusap kepala Sura lalu berkata,

"Sancaka...aku sudah mencoba menyadarkannya tetapi Darja bergeming. Oleh karena itu aku bawa pergi cucuku Sura dan adiknya Ruda untuk meninggalkan Darja, ayah mereka"

Rahiang Sanjaya menatap Abiyasa dan kedua cucunya bergantian.

"Pandita..kau adalah orang tua yang baik. Aku yakin Dewata akan mengampunimu" ujar Rahiang Sanjaya.

"Tetapi aku tidak bisa membiarkan kejahatan Darja. Di kampung sekitar sini...Darja telah ngagadabah dan membunuh dua orang wanita yang telah bersuami" sambungnya.

Abiyasa mengusap wajahnya yang kelihata letih.

"Ah...Darja, langkahmu terlalu jauh...aku tidak bisa lagi melindungimu" gumam Abiyasa.

"Pandita...aku tahu ini berat untukmu dan kedua cucumu. Aku sudah berjanji kepada penduduk kampung untuk menghentikan kejahatan Darja" Rahiang Sanjaya merangkapkan kedua tangannya di depan dada.

"Sancaka...aku tidak bisa menghalangimu lagi" suara Abiyasa bergetar.

"Sura, Ruda lebih baik kalian segera berkemas. Sekarang juga kita tinggalkan tempat ini" sambungnya kepada kedua cucunya.

"Tapi Eyang bagaimana nasib ayah?" Ruda bertanya kepada kakeknya dengan suara bergetar.

"Cucuku...setiap orang harus bertanggungjawab atas perbuatan dan karmanya. Ayah kalian sudah menempuh jalan yang salah" Abiyasa menatap kedua cucunya dengan penuh kasih sayang.

"Sancaka..kalau kau hendak mencari Darja, berjalanlah ikuti jalan ke arah timur...." ucapan Abiyasa terpotong oleh suara tawa yang menggelegar seolah berasal dari segala penjuru hutan.

"Hua...ha..ha..ha.."

Rahiang Sanjaya segera bangkit dari duduknya, diedarkan pandangannya mencari arah suara tawa tersebut. Tiba-tiba dari arah belakang muncul lima orang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan brewok yang sangar menutupi wajahnya.

"Ayahanda..tidak kusangka kalian masih di sini" ujar salah satu dari mereka kepada Abiyasa.

Sura dan Ruda segera menghampiri kelima orang tersebut. Sementara Abiyasa berdiri di samping Rahiang Sanjaya.

"Hmmm..mungkin ini yang bernama Darja" batin Rahiang Sanjaya.

"Darja..aku ayahmu sangat malu mendengar langkahmu sudah terlalu jauh menyimpang" Abiyasa berkata sambil tetap berdiri di samping Rahiang Sanjaya.

"Merampok atau mencuri..aku masih bisa memaafkanmu. Tetapi ngagadabah dan membunuh perempuan adalah kejahatan yang tidak terampuni. Darja lekaslah kau bertobat dan ikut denganku ke petapaan untuk menebus semua dosa-dosamu" sambungnya dengan suara yang parau.

"Ayahanda...sudah aku sampaikan berkali-kali, kau tidak usah pedulikan aku. Aku akan terus merampok dan membunuh sampai keparat Bimaraksa datang menemuiku" Darja berkeras.

"Lebih baik Ayahanda segera pergi meninggalkan tempat ini, bawa Sura dan Ruda bersamamu. Aku minta didik mereka jadi orang baik dan jangan pernah mau mengabdi kepada siapapun" sambungnya dengan suaa bergetar.

"Ah..rupanya dia orang yang sangat baik, hanya saja kekecewaan telah membuatnya jadi seperti ini" batin Rahiang Sanjaya.

"Kisanak..maafkan aku menyela pembicaraan kalian. Tapi ucapan Pandita benar adanya..lebih baik Kisanak bertobat dan menghentikan kekacauan ini" Rahiang Sanjaya berkata sambil mengusap punggung Abiyasa.

Mendengar ucapan anak muda yang tidak dikenalnya, Darja mendelik.

"Siapa kau anak muda? Bicaramu halus tetapi tidak enak didengar" Darja muntab kepada Rahiang Sanjaya.

"Namaku Sancaka dan aku datang kemari untuk mencari gerombolan yang telah mengganggu penduduk kampung" jawab Rahiang Sanjaya.

"Hahaha...berani sekali bicaramu. Apakah kau utusan Karatuan Galuh untuk menangkapku?" Darja dengan sengit mengamati Rahiang Sanjaya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Melihat rupa dan dedegan (bentuk tubuh)...sepertinya anak muda ini bukan orang sembarangan" batin Darja.

"Aku bukan utusan Karatuan Galuh tapi aku adalah utusan penduduk kampung yang datang untuk meminta pertanggungjawaban dari kalian" Rahiang Sanjaya menjawab dengan tenang.

Mendengar jawaban Rahiang Sanjaya, Darja dan keempat temannya tertawa tergelak-gelak.

"Kalian dengar itu...anak muda bau kencur ini mau minta pertanggungjawaban...haha.." ujar Darja kepada keempat temannya sambil tidak henti tertawa.

"Hati-hati...Darja dan keempat kawannya mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Aku tidak bisa membantumu" Abiyasa berbisik kepada Rahiang Sanjaya.

"Aku mengerti.." jawab Rahiang Sanjaya singkat sambil melangkah mendekat ke arah Darja dan keempat temannya.

"Braja..Kunta..kalian beri pelajaran anak bau kencur ini biar tahu tingginya langit dan dalamnya lautan" perintah Darja kepada dua anak buahnya.

Braja dan Kunta beringsut maju ke depan mengurung Rahiang Sanjaya.

"Jangan khawatir Kakang...akan kubuat dia menangis minta ampun" sengak Braja.

Kunta tidak mau berlama-lama rupanya.

"Makan ini..." tanpa basa-basi Kunta menyerang Rahiang Sanjaya dengan tangan kosong diikuti oleh Braja.

Perkelahian tangan kosong pun pecah, Braja dan Kunta bergantian menyerang Rahiang Sanjaya dengan ganas. Beberapa kali pukulan dan tendangannya menyasar kepala dan dada Rahiang Sanjaya.

Beberapa jurus berlalu namun sepertinya Braja dan Kunta tidak dapat mendesak Rahiang Sanjaya. Di jurus ke delapan, Kunta menjerit setinggi langit ketika serangannya berhasil di hindari dan malahan siku Rahiang Sanjaya menggedor dadanya dengan keras.

"Bukkk"

"Hoek..hoek...euaaa" Kunta terjajar ke belakang dari mulutnya menyembur darah segar. Dadanya serasa ambrol lalu jatuh terduduk sambil mengatur nafas.

"Luar biasa anak muda ini...jurus-jurusnya sangat halus tapi mematikan. Siapa sebenarnya dia? ...jangan-jangan...." desis Adiyasa tidak henti mengagumi kehebatan Rahiang Sanjaya.

Melihat Kunta dihantam pukulan Rahiang Sanjaya, Braja menjadi lengah, tinjunya yang mengarah ke dada dengan mudah dihindari oleh Rahiang Sanjaya

"Buuukk...krak"

Lengan kanan Braja patah dihantam tinju Rahiang Sanjaya. Braja melolong kesakitan sambil melompat-lompat denga lengan kanan yang terkulai.

Darja melengak melihat dua anak buahnya dipecundangi hanya dengan beberapa jurus oleh Rahiang Sanjaya.

"Bantu mereka...aku sendiri yang akan menghajar anak muda ingusan ini" perintah Darja kepada dua anak buahnya agar menolong Kunta dan Braja.

"Anak muda...boleh juga kemampuanmu. Tapi jangan harap bisa lolos dari tanganku...kau harus membayar semua dengan nyawamu" sembur Darja sambil menghunus goloknya.

Mendengar kata-kata Darja, Rahiang Sanjaya hanya tersenyum lalu dipungutnya sebatang dahan pohon sebesar pergelangan tangan dewasa. Dipatahkannya ujungnya hingga menyerupai sebuah tongkat. 

Amarah Darja muntab melihat Rahiang Sanjaya hanya menggunakan batang pohon untuk menghadapinya.

"Anak sombong....!!" bentaknya sambil melompat ke arah Rahiang Sanjaya. Tubuhnya berkelebat dengan cepat dan hanya terlihat bayangan saja mengurung tubuh Rahiang Sanjaya.

"Trak..trak..."

Beberapa kali terdengar suara benturan tongkat Rahiang Sanjaya dengan golok Darja. Perkelahian berlagsung sudah lebih dari duapuluh jurus, pohon pohon kecil disekitarnya roboh terkena sabetan golok Darja.

Abiyasa dan semua yang menyaksikan perkelahian tersebut hanya bisa berdecak kagum.

Sampai akhirnya dijurus ketiga puluh, golok Darja yang berkelebat secepat kilat akan membabat dada ditahan oleh tongkat Rahiang Sanjaya. Darja mengerahkan setengah tenaga dalamnya untuk menekan tongkat yang hanya berjarak sejengkal dari dada Rahiang Sanjaya. Namun tongkat ditangan Rahiang Sanjaya yang dipakai melindungi dadanya dari golok Darja tidak bergeming. Darja melipat gandakan tenaga dalamnya, namun Rahiang Sanjaya seperti tidak terpengaruh.

"Celaka..tenaga dalam Sancaka jauh di atas Darja. Darja bisa mati" desis Abiyasa. Naluri seorang ayah tidak bisa ditahannya.

Abiyasa melompat dengan tangan mengembang menyerang ke arah Rahiang Sanjaya. Insting Rahiang Sanjaya memang luar biasa, menyadari ada serangan dari Abiyasa, dijejakkan kakinya lalu melentingkan tubuhnya satu tombak ke atas lalu melayang turun.

Namun sial bagi Abiyasa dan Darja karena Rahiang Sanjaya melompat ke atas, Darja menjadi terdorong ke depan oleh tenaga dalamnya sendiri. Disaat yang hampir bersamaan datang serangan dari Abiyasa.

"Buuukk..." pukulan Abiyasa menghantam bahu Darja. Untungnya Abiyasa sudah menarik semua tenaga dalamnya sehingga hanya pukulan biasa yang menghantam Darja.

"Ah...Pandita, tidak kusangka kau akan membokongku seperti itu" seru Rahiang Sanjaya.

"Maafkan aku Sancaka...aku tidak mungkin membiarkan Darja mati. Aku mohon lepaskan dia" Abiyasa menjatuh lututnya dan berlutut di hadapan Rahiang Sanjaya.

Sementara itu Darja yang merasa terhina karena hampir dikalahkan oleh Rahiang Sanjaya. Diam-diam melepaskan goloknya dan menyalurkan seluruh tenaga dalam ke kedua tangannya. Sepuluh jarinya berubah warna menjadi biru menggidikkan dan mengeluarkan bau tidak sedap.

"Darja...apa yang kau lakukan?!! Hentikan...!!!" teriak Abiyasa dan segera bangun dari berlututnya.

Namun Darja tidak peduli, dengan teriakan yang menggidikan, kedua tangannya didorongkan ke arah Rahiang Sanjaya. Dua cahaya biru melesat ke arah Rahiang Sanjaya. Menyadari bahwa lawannya tidak main-main dan ingin merenggut nyawanya, Rahiang Sanjaya mengerahkan tiga perempat tenaga dalamnya. Gelombang cahaya berwarna perak melesat dari tangan Rahiang Sanjaya.

Dua pukulan berisi tenaga dalam tingkat tinggi beradu. 

"Buuummmmm...!!!"

Terdengar suara dentuman, semak-semak kecil rebah dan bumi terasa bergetar.

Darja terpental sekitar tiga deupa. Kaki Rahiang Sanjaya melesak ke dalam tanah sedalam mata kaki.

"Darja..." pekik Abiyasa sambil memburu ke arah Darja.

"Ayah...ayah..." Sura dan Ruda tergopoh-gopoh menghampiri Darja yang sedang mencoba berdiri sambil memegangi dadanya.

"Darja...jangan kau paksakan. Biar aku bantu" Abiyasa membantu Darja untuk duduk.

Abiyasa menempelkan kedua tangannya di punggung Darja dan menyalurkan hawa murni untuk membantu menyembuhkan luka dalam. Sementara itu Rahiang Sanjaya segera duduk bersila dan memejamkan kedua matanya, mengatur nafas dan peredaran darahnya yang terganggu akibat benturan tenaga dalam dengan Darja.

Setelah Darja mulai membaik, Abiyasa melepaskan kedua tangannya dan bangkit berjalan menuju Rahiang Sanjaya yang masih bersila. Abiyasa berlutut sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala dan menjura sebanyak tiga kali kepada Rahiang Sanjaya.

"Pun paralun Gusti Rakean, maafkan mata hamba yang buta tidak bisa melihat gunung tinggi di depan mata" ujar Abiyasa.

Rahiang Sanjaya membuka kedua matanya yang terpejam.

"Pandita apa maksudmu?" Rahiang Sanjaya bertanya keheranan dengan sikap Abiyasa.

"Gusti Rakean...pun paralun hamba yang buta. Hanya keluarga Kerajaan Kalingga dari wetan yang menguasai ilmu Ambar Jagad. Kalau hamba tidak salah menebak...ah..hamba tidak berani menebak" ujar Abiyasa sambil menundukkan kepalanya.

"Sudi kiranya Gusti Rakean sendiri yang memberitahu hamba" sambungnya.

"Pandita...matamu awas dan pengetahuanmu luas, lebih baik kau yang terlebih dahulu menjelaskan siapa dirimu sebenarnya" ujar Rahiang Sanjaya yang sejak pertama bertemu sudah yakin bahwa Abiyasa bukanlah orang tua biasa.

*Siapa sebenarnya Pandita Abiyasa???

Baca juga : Rahiang Sanjaya : Perjalanan Merebut Karatuan Galuh #5