JAYANTI & ANDINI



"Mamang..dengarkan dulu penjelasanku" ujar Rahiang Sanjaya sambil menyimpan kembali batok yang telah kosong diseruputnya.

"Perjuangan kita merebut kembali tahta Karatuan Galuh tidaklah akan mudah. Kita perlu bantuan dari beberapa penguasa wilayah lain" sambung Rahiang Sanjaya menjelaskan sambil menatap Senapati Surawisesa dan Puspasari.

"Jadi maksud Gusti Rakean, hamba harus mendatangi penguasa Kabuyutan Sawal yaitu Rabuyut Sawal untuk minta bantuan" Senapati Surawisesa mencoba menegaskan ucapan Rahiang Sanjaya.

"Betul sekali Mamang, kita tidak mungkin mengalahkan Pamanda Purbasora tanpa pasukan yang kuat" beber Rahiang Sanjaya.

Senapati Surawisesa dan Puspasari saling pandang lalu menganggukan kepala tanda menyetujui ucapan Rahiang Sanjaya.

"Apakah mereka akan bersedia membantu? Hamba khawatir mereka adalah sekutunya Purbasora" Senapati Surawisesa masih ragu.

"Jangan khawatir, Rabuyut Sawal adalah sahabat dekat ayahanda" ujar Rahiang Sanjaya meyakinkan Senapati Surawisesa dan Puspasari.

"Di Kabuyutan Sawal, Mamang dan Ibi bisa membantu melatih prajurit supaya siap pada waktunya menggempur Karatuan Galuh" sambungnya.

"Baiklah Gusti Rakean kalau begitu hamba mengerti" kata Senapati Surawisesa.

"Lalu kapan Gusti Rakean akan datang ke Kabuyutan Sawal dan mulai menyerang Karatuan Galuh" timpal Puspasari yang sedari tadi hanya mendengarkan.

"Menurut hitungan waktu, dua puluh bulan purnama ke depan dimulai sejak sekarang aku akan datang ke Kabuyutan Sawal untuk mematangkan rencana menyerang Karatuan Galuh" jawab Rahiang Sanjaya.

Hari itu mereka memutuskan untuk beristirahat di dalam goa dan berdiskusi mematangkan rencana menyerang Purbasora di Karatuan Galuh. Pagi-pagi sekali Puspasari sudah bangun dan menyiapkan makan dan bekal untuk perjalanan Rahiang Sanjaya. Dengan berat hati akhirnya Senapati Surawisesa dan Puspasari harus melepas Rahiang Sanjaya berangkat menuju Denuh. 

"Gusti Rakean jika tidak ada aral melintang, dalam 2 hari akan sampai ke Denuh" ujar Senapati Surawisesa dengan parau.

"Gusti Rakean bisa menyusuri pantai ini sampai ke wilayah Jujulang dari sana belok ke kanan menuju perbukitan Katomas. Hamba khawatir kalau terus melalui jalur pantai akan tercium jejaknya oleh pasukan Karatuan Galuh" sambungnya menjelaskan secara detail arah menuju Denuh kepada Rahiang Sanjaya.

"Terima kasih atas petunjuk Mamang dan jangan terlalu khawatir. Kita akan segera bertemu lagi di Kabuyutan Sawal" ujar Rahiang Sanjaya sambil tersenyum. Dia bisa merasakan kekhawatiran dan kasih sayang Senapati Surawisesa dan Puspasari kepadanya.

Rahiang Sanjaya melompat ke atas punggung Si Jagur, kuda tunggangannya, lalu memacunya dengan cepat ke arah kulon setelah menganggukan kepala ke arah Senapati Surawisesa dan Puspasari.

Sementara itu Senapati Surawisesa dan Puspasari memutuskan baru akan berangkat ke Kabuyutan Sawal satu purnama ke depan.

==

Rahiang Sanjaya memacu kudanya dengan cepat menuju ke arah kulon, dia ingin segera sampai ke Denuh dan menemui salah satu kakak dari kakeknya (Prabu Suraghana Rahyangtang Mandiminyak) yaitu Rahyangtang Kidul yang bergelar Resi Guru Wanayasa di Kabataraan Hyang Buyut, Denuh.

Matahari mulai tenggelam saat Rahiang Sanjaya sampai di sebuah perkampungan yang terlihat mulai sepi. Hanya tampak beberapa petani laki-laki yang baru kembali dari ladang. Rahiang Sanjaya segera turun dari punggung si Jagur lalu menuntunnya melintasi kampung. 

Penduduk kampung yang melihat ada seorang pemuda asing melintasi kampung mulai dihinggapi rasa curiga dan khawatir. Sudah sejak lama kampung mereka disatroni oleh gerombolan perampok yang tidak hanya merampas harta benda mereka tetapi juga tidak segan membunuh penduduk kampung yang dianggap melawan. Bahkan lebih biadab lagi ada beberapa perempuan kampung yang digadabah (diperkosa) kehormatannya.

Rahiang Sanjaya bukannya tidak merasa kalau penduduk kampung mengawasinya dengan pandangan curiga.

"Hmmm..kenapa penduduk kampung melihatku seperti ketakutan?'' batin Rahiang Sanjaya sambil tetap berjalan menuntun si Jagur melintasi kampung.

"Sepertinya ada yang tidak beres...atau jangan-jangan..." Rahiang Sanjaya mulai cemas, khawatir pasukan Karatuan Galuh yang mengejar dirinya telah sampai di kampung tersebut.

Di ujung kampung dilihatnya ada seorang laki-laki tua bertelanjang dada sedang berdiri menghadap ke arahnya seolah menantang. Sebuah golok terhunus di tangan kanannya, matanya menyala memandang penuh kebencian kepada Rahiang Sanjaya.

"Bajingan...bagus rupanya kalian sekarang berani menampakkan diri dalam terang!!" tiba-tiba laki-laki tua tersebut berteriak kepada Rahiang Sanjaya sambil mengacungkan goloknya.

Rahiang Sanjaya melengak kaget karena merasa tidak ada urusan dengan laki-laki tua tersebut. 

"Ah..kepada siapa orang tua itu berteriak?" batin Rahiang Sanjaya menghentikan langkahnya sambil menoleh ke belakang khawatir ada orang lain yang diteriaki laki-laki tua tersebut. Tapi dilihatnya tidak ada seorangpun di belakangnya.

"Berarti orang tua itu berteriak dan marah kepadaku..tapi kenapa?" Rahiang Sanjaya mengerutkan dahinya.

"Jangan belagak pilon..aku akan mengadu nyawa denganmu" laki-laki tua itu kembali berteriak sambil memasang kuda-kuda siap menyerang Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya tetap tenang lalu dengan pelan ditepuknya leher si Jagur. Seolah mengerti maksud tuannya, si Jagur berjalan pelan ke pinggir jalan mencari tegalan untuknya makan rumput dan beristirahat. 

Melihat sikap Rahiang Sanjaya yang tenang dan seolah-olah tidak menganggap teriakan-teriakannya, orang tua itu muntab amarahnya.

"Mamang ini ada apa sebenarnya ini? Aku tidak pernah mengenalmu, kenapa sepertinya kau marah sekali?" ujar Rahiang Sanjaya heran.

"Bajingan tidak punya hati...jangan harap aku akan mengampunimu. Rasakan golokku ini" lengkingnya sambil menerjang ke arah Rahiang Sanjaya.

Gerakannya masih sangat lincah dan cepat, goloknya meluncur deras ke arah leher Rahiang Sanjaya.

"Luar biasa..orang tua ini lumayan juga ilmunya. Tapi kenapa serangannya sangat ganas seolah ingin langsung membunuhku?" batin Rahiang Sanjaya sambil menggeser tubuhnya mundur menghindari tebasan golok laki-laki tua itu.

Namun ternyata serangan tersebut hanya tipuan semata karena secara tiba-tiba arah golok yang tadinya mengincar leher tiba-tiba berubah arah mengejar perut Rahiang Sanjaya yang sudah mundur menghindar.

Rahiang Sanjaya terkejut tidak menyangka. Dengan sedikit panik dilemparkan badannya ke samping sambil berjumpalitan menghindari golok yang menyasar perutnya.

"Ha..ha..ha..ternyata hanya secuil itu saja kemampuanmu. Kau panggil teman-temanmu biar aku cincang sekalian" laki-laki tua itu tergelak melihat Rahiang Sanjaya yang pontang-panting berjumpalitan menghindari serangannya.

Rahiang Sanjaya segera bangkit sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor oleh debu.

"Mamang..sepertinya kau salah orang. Lebih baik kita bicara baik-baik" ujar Rahiang Sanjaya mencoba tetap tenang walaupun hatinya mulai kesal kepada laki-laki tua tersebut.

"Bicara baik-baik katamu? Bicara saja pada arwah istriku dan arwah penduduk kampung yang sudah gerombolan kalian bunuh!!!" dengus laki-laki tua itu sambil kembali memasang kuda-kuda siap menyerang.

"Gerombolan?...ah..aku mengerti duduk perkaranya" batin Rahiang Sanjaya.

"Mamang...harap kau tenangkan diri dulu. Aku tidak ada hubungan dengan gerombolan manapun. Aku hanya pengelana yang kebetulan lewat kampung ini" Rahiang Sanjaya mencoba menjelaskan sambil tetap waspada.

Laki-laki tua itu memicingkan matanya menyelidik ke arah Rahiang Sanjaya.

"Apakah mungkin benar yang dikatakan anak muda ini? Wajahnya bersih dan badannya tinggi tegap dan sepertinya bukan orang biasa" laki-laki tua itu membatin. Namun rasa marah dan dendamnya kembali menutup nalarnya.

"Anak muda jangan kau bersilat lidah..aku hanya minta nyawamu sebagai pengganti nyawa istriku" lengking laki-laki tua itu sambil kembali menyerang Rahiang Sanjaya.

Kini Rahiang Sanjaya lebih siap menghadapi serangan laki-laki tua itu. Perkelahianpun pecah, Rahiang Sanjaya lebih banyak menghindar karena tidak mau melukai laki-laki tua itu.

Amarah laki-laki tua tambah muntab menghadapi Rahiang Sanjaya yang terus menghindari serangannya tanpa membalasnya sekalipun.

"Bajingan...hadapi dan bertarunglah seperti ksatria" maki laki-laki tua itu dengan nafas ngos-ngosan, diatur nafasnya lalu dengan sebat kembali menerjang.

Rahiang Sanjaya tersenyum tipis melihat amarah laki-laki tua itu yang tidak sebanding dengan tenaganya.

"Lebih baik aku segera akhiri saja perkelahian ini. Kasihan Mamang itu sepertinya mulai kecapean..dia hanya mengandalkan tenaga kasar saja" batin Rahiang Sanjaya sambil melompat menghindari sabetan golok ke arah kakinya.

Rahiang Sanjaya mulai menyerang balik dan hanya beberapa jurus saja laki-laki tua itu mulai terdesak. Bahkan di jurus kelima, Rahiang Sanjaya berhasil ngagedig pergelangan tangan laki-laki tua itu yang sedang memegang golok.

"Desh.."
"Egh.." laki-laki tua itu mengeluh kesakitan sementara goloknya terlempar jauh.

Namun laki-laki tua itu sepertinya sudah kalap, tanpa mempedulikan rasa sakit di pergelangan tangannya, menggunakan tangan kosong dia menyerang Rahiang Sanjaya dengan membabibuta.

"Mamang..jangan keras kepala. Lebih baik kita bicara baik-baik" kata Rahiang Sanjaya mencoba mengingatkan.

"Aku tidak sudi bicara dengan pembunuh seperti kau..aku mengadu nyawa denganmu" jawab laki-laki tua itu meradang.

Laki-laki tua itu sepertinya memang sudah gelap mata dan tidak lagi mempedulikan keselamatan dirinya sendiri.

"Kasihan..sepertinya dia sangat marah. Aku tidak boleh melukainya" batin Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya tidak mau membuang waktu lagi, disambutnya serangan laki-laki tua dengan menggunakan tenaga kasar.

"Beugh.." tangan laki-laki tua itu beradu dengan tangan Rahiang Sanjaya.

Laki-laki tua itu mundur sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa ngilu. Namun Rahiang Sanjaya tidak mau membuang waktu, dua jari tangannya meluncur ke arah leher laki-laki tua itu.

"Desh.." laki-laki tua itu tidak sempat menghindar akibatnya dia berdiri kaku seperti patung

Tubuh lelaki tua itu berdiri mematung hanya bola matanya saja yang bergerak-gerak liar ke arah Rahiang Sanjaya. Tanpa mereka sadari perkelahian itu diawasi oleh banyak mata warga kampung, ada yang melihat langsung tapi sebagian besar memilih mengintip dari rumahnya masing-masing.

"Mamang...aku tidak berniat jahat kepadamu, besok pagi tutuganku akan hilang dan tubuhmu akan kembali normal" ucap Rahiang Sanjaya sambil berlalu menuju ke arah kudanya yang sedang asik merumput di tegalan tidak jauh dari tempat perkelahian itu.

Baru saja Rahiang Sanjaya melangkah tiba-tiba dari belakang terdengar suara halus seorang wanita.

"Akang..jangan pergi dulu"

Rahiang Sanjaya menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan, dilihatnya seorang perempuan muda berlinang air mata sedang berlutut di samping laki-laki tua yang tertegun kaku.

"Hmmm...siapa perempuan muda ini?" batin Rahiang Sanjaya lalu menghampirinya.

"Akang tolong maafkan ayahku..jangan dibiarkan seperti ini" perempuan muda yang ternyata adalah putri laki-laki tua itu memohon.

"Aku tidak menjahati ayahmu, dia yang terus menyerang tanpa jelas sebabnya" jawab Rahiang Sanjaya sambil menatap lekat-lekat kepada perempuan muda itu.

"Aku mohon Akang memaafkannya. Ayahku masih terguncang karena ibuku dibunuh oleh gerombolan perampok itu" jawab perempuan itu, air matanya semakin deras.

"Baiklah aku akan melepaskan tutugan di tubuh ayahmu. Tapi kau harus bisa jaga supaya dia tidak menyerangku" jawab Rahiang Sanjaya iba.

"Terima kasih Akang...terima kasih" perempuan bersujud ke arah Rahiang Sanjaya saking senangnya mendengar ayahnya akan dibebaskan.

Rahiang Sanjaya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Setelah beberapa saat perempuan itu mengangkat kepalanya dan menatap kesal ke arah Rahiang Sanjaya.

"Akang..kenapa ayahku tidak segera dibebaskan" suaranya terdengar meninggi.

Rahiang Sanjaya tersenyum tipis.

"Bagaimana aku membebaskan ayahmu kalau kau menghalangi seperti itu" jawab Rahiang Sanjaya geli melihat keluguan perempuan muda itu.

"Ah..iya..maafkan aku" jawab wanita itu tergopoh-gopoh berdiri menjauh dari tubuh ayahnya yang berdiri mematung.

"Hmmm...manis juga" batin Rahiang Sanjaya sambil matanya mengerling melihat gundukan montok bersih kecoklatan berbulu halus di dada perempuan muda itu.

Mendapat senyuman dari pemuda gagah dan tampan membuat perempuan muda itu tersipu-sipu malu, pipinya memerah ranum.

Rahiang Sanjaya menghampiri laki-laki tua tersebut.

"Mamang..aku akan membebaskanmu tapi tolong jangan menyerangku lagi" ujar Rahiang Sanjaya.

Baca juga : Rahiang Sanjaya : Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #5

Laki-laki tua itu hanya mengedipkan matanya yang sekarang kelihatan sudah lebih teduh tidak liar seperti sebelumnya.

"Desh.." dua jari Rahiang Sanjaya bergerak cepat melepaskan tutugan di tubuh laki-laki tua itu.

Setelah tubuhnya bisa bergerak lagi, laki-laki tua itu menjatuhkan badannya berlutut di hadapan Rahiang Sanjaya diikuti oleh anak perempuannya.

"Aku mohon maaf telah berbuat lancang kepadamu" suaranya terdengar bergetar.

"Ah...sudahlah lupakan saja. Lain kali Mamang harus lebih teliti supaya tidak sembarangan" ketus Rahiang Sanjaya masih ada rasa kesal kepada laki-laki tua itu.

Rahiang Sanjaya membalikkan tubuhnya da berniat untuk pergi meninggalkan kampung itu.

"Akang...hari menjelang malam, lebih baik beristirahat dan makan dulu di rumah kami" terdengar suara perempuan muda itu meminta Rahiang Sanjaya untuk singgah di rumahnya.

"Benar...ijinkan kami menjamu sebagai permintaan maaf" sambung laki-laki tua itu menimpali ucapan anaknya.

Rahiang Sanjaya berpikir sejenak.

"Hmmm...mungkin lebih baik aku menuruti permintaan mereka daripada kedinginan tidur di hutan" batin Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya membalikkan badan, dilihatnya kedua orang itu masih bersimpuh di tanah.

"Baiklah..aku menerima undangan kalian" ujar Rahiang Sanjaya.

"Terima kasih Rakean...namaku Darma" ujar laki-laki itu memperkenalkan diri sambil berdiri.

"Dan ini putriku..namanya Jayanti" sambungnya menunjuk putrinya yang tersenyum malu-malu.

"Baiklah...namaku Sancaka, dan tidak perlu memanggilku Rakean, aku hanya orang biasa" jawab Rahiang Sanjaya.

"Mari Rakean...eh...Sancaka...hari sudah mulai gelap lebih baik segera kembali ke rumah" ujar Darma sambil berjalan mendahului Rahiang Sanjaya.

"Jayanti..kau segera masak yang banyak untuk tamu kita" sambung Darma kepada anaknya.

Ternyata rumah Darma tidak jauh hanya berjarak sekitar 200 deupa dari jalanan yang dilalui Rahiang Sanjaya. Rumah tersebut terlihat lebih bagus daripada rumah-rumah lain yang ada di kampung itu.

Darma mempersilakan Rahiang Sanjaya masuk diikuti oleh Jayanti yang langsung menghidangkan teh dan bergegas kembali ke dapur sambil ujung matanya mengerling ke arah pemuda tampan nan gagah tersebut.

"Jayanti, kau minta bantuan Andini untuk memasak sekalian panggil ayahnya kemari" ujar Darma kepada Jayanti.

Jayanti hanya mengangguk lalu segera berlalu ke luar rumah.

Darma yang duduk sila ngajemprak dengan Rahiang Sanjaya mulai membuka percakapan.

"Sancaka, sebenarnya dari mana asalmu dan hendak menuju ke mana?" Darma bertanya sambil menuangkan teh dalam kendi ke dalam batok kelapa lalu menyodorkannya ke Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya hanya tersenyum lalu menyambut batok kelapa berisi teh yang disodorkan oleh Darma. Diseruputnya teh yang masih terasa hangat tersebut.

"Hmmm...tehnya nikmat sekali" gumam Rahiang Sanjaya.

"Eh..Mamang, tadi aku dengar kau menyebut-nyebut gerombolan yang membunuh istrimu. Bisa kau ceritakan tentang mereka?" sambung Rahiang Sanjaya mencoba mengalihkan pembicaraan.

Mendengar pertanyaan tersebut, Darma menarik nafas panjang. Tapi baru saja dia akan bercerita,

"Sampurasun...." terdengar suara laki-laki mengucapkan salam, kemudian dari balik pintu muncul seorang laki-laki sedikit lebih muda dari Darma namun berbadan lebih pendek.

"Rampes...Wira kau cepatlah masuk, aku ada tamu dari jauh" Darma menjawab salam.

Laki-laki yang dipanggil Wira bergegas masuk ke dalam rumah dan duduk bersila di hadapan Darma dan Rahiang Sanjaya. Dianggukan kepalanya dengan sopan ke arah Rahiang Sanjaya.

"Sancaka...perkenalkan ini adalah Wira, tetanggaku sekaligus juga adik iparku" ujar Darma memperkenalkan laki-laki tersebut kepada Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya tersenyum ke arah Wira.

"Eh..iya Mamang, kau belum menjawab pertanyaanku mengenai gerombolan yang kau sebut-sebut" Rahiang Sanjaya mengingatkan Darma.

Darma menghela nafas panjang lalu mulai bercerita dengan suara yang pelan.

"Sejak satu tahun yang lalu datang sekelompok orang ke bukit Paratag dan tinggal di sana. Mungkin tujuannya adalah untuk membuka babakan baru cuma sayangnya beberapa anak mudanya mempunyai perangai yang tidak baik" ujar Darma.

"Tidak baik gimana?" Rahiang Sanjaya penasaran.

"Mereka sering merampas apa saja yang kami miliki dan  tidak segan-segan melukai atau membunuh jika permintaannya kami tolak" lirih Darma.

"Lebih dari itu..mereka sering mengganggu istri dan anak perempuan kami" Wira menimpali dengan suara bergetar.

"Istri kami berdua dibunuh karena menolak melayani nafsu binatang mereka" sambungnya.

"Ah..kejam sekali mereka" ujar Rahiang Sanjaya sambil menarik nafas panjang.

"Kapan mereka biasanya mendatangi kampung ini? Lalu kenapa kalian tidak melawan" sambungnya bertanya kepada Darma dan Wira.

"Mereka datang tidak tentu waktu...terkadang menjelang tengah malam bahkan tidak segan-segan mereka mendatangi kampung disiang bolong saat kami para laki-laki sedang di ladang" ujar Darma.

"Sudah seringkali kami melawan tetapi mereka sangat kuat dan sepertinya sangat terlatih...akibatnya banyak laki-laki di kampung ini yang tewas di tangan mereka. Akhirnya sebagian besar dari kami memilih untuk diam dan membiarkan mereka bertindak sesukanya" Wira menambahkan.

"Kecuali aku...aku tidak mau diam lagi!!!" sergah Darma keras.

"Tidak akan ku biarkan mereka menyentuh putriku...seperti mereka ngagadabah...istriku. Lebih baik aku mati" sambung Darma dengan suara bergetar.

Rahiang Sanjaya tercenung mendengar cerita Darma dan Wira.

"Kasihan sekali kedua orang tua ini..setelah istri-istrinya mati, sekarang mereka harus menjaga putri-putrinya dengan taruhan nyawa. Siapa sebenarnya gerombolan itu?" batin Rahiang Sanjaya.

"Eh...Mamang, apakah kalian tahu mereka asalnya dari mana? Maksudku sebelum mereka mendiami bukit Paratag" tanya Rahiang Sanjaya setelah cukup lama termenung.

Sesaat Darma dan Wira saling pandang seolah ragu untuk mengatakan sesuatu.

"Sancaka...aku tidak yakin tapi pemimpin mereka yang bernama Darja pernah berkata, kalau mereka adalah prajurit Karatuan Galuh" Darma dengan suara pelan seolah takut ada orang lain yang mendengar.

Rahiang Sanjaya melengak mendengar kalau gerombolan itu adalah prajurit-prajurit dari Karatuan Galuh.

"Siapa Darja ini? Apakah mereka bekas prajuritnya ayahanda dulu?" batin Rahiang Sanjaya resah.

Baru saja Rahiang Sanjaya akan bertanya lagi, dari arah dapur Jayanti diikuti seorang perumpuan sebayanya masuk sambil membawa nampan penuh berisi makanan.

"Ayah...ceritanya dilanjutkan nanti saja. Lebih baik makan dulu..Akang Sancaka pasti sudah lapar" ujar Jayanti sambil mengerling ke arah Rahiang Sanjaya.

"Betul juga Jayanti...kasihan terlalu lama diajak ngobrol. Ayo Sancaka..kita makan dulu sama-sama" ujar Darma.

"Oh..iya Sancaka..ini adalah putrinya Wira. Namanya Andini" sambungnya sambil menunjuk perempuan muda di samping Jayanti.

Dengan lahap mereka menyantap makanan yang disediakan oleh Jayanti dan Andini. Kedua gadis remaja itu beberapa kali mencuri pandang kepada Rahiang Sanjaya sambil melemparkan senyum-senyum yang menggoda. Darma dan Wira bukan tidak melihat kelakuan putri-putrinya tetapi dalam hati kecil keduanya diam-diam mengharapkan Rahiang Sanjaya berkenan menjadi menantunya.

"Makanannya enak sekali...aku berterima kasih atas kebaikan kalian" ujar Rahiang Sanjaya sambil memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.

"Aku bisa masak untukmu setiap hari" Jayanti menjawab sambil mengedipkan matanya kepada Rahiang Sanjaya.

"Aku juga mau masak untukmu" lirih suara Andini tidak mau kalah dengan Jayanti.

Digoda seperti itu Rahiang Sanjaya menjadi salah tingkah sementara itu Darma dan Wira cuma mesem melihat tingkah putri-putrinya.

"Mamang...besok pagi, tolong tunjukkan jalan menuju bukit Paratag itu" ujar Rahiang Sanjaya mengalihkan pembicaraan sambil mengusap perutnya yang penuh terisi.

"Jangan Sancaka..kau jangan cari masalah dengan mereka" cegah Wira mendengar permintaan Rahiang Sanjaya.

"Betul Sancaka...aku tahu ilmu dan kesaktianmu sangat tinggi tapi aku khawatir karena jumlah mereka cukup banyak" ujar Darma mengamini perkataan Wira.

"Lebih baik....." Darma tidak menyelesaikan ucapannya malah memandang Jayanti dan Andini dengan mata berkaca-kaca.

Melihat Darma tidak menyelesaikan ucapannya, Rahiang Sanjaya merasa penasaran

"Lebih baik apa?" tanya Rahiang Sanjaya.

Darma menghela nafas panjang lalu mengusap air mata yang menggenang di sudut mata keriputnya.

"Lebih baik...ah...maafkan kalau aku lancang. Lebih baik kau bawa kedua putri-putri kami dari sini dan kalau kau mau..nikahilah keduanya" suara Darma parau.

"Aku takut tidak bisa menjaganya dari gangguan bajingan-bajingan itu" sambungnya sambil menutup mukanya lalu terisak menangis.

Mendengar perkataan ayahnya, Jayanti tidak kuasa menahan tangis. Dipeluknya Andini yang berada di sampingnya dan akhirnya tangis Andini pun pecah. Sementara mata Wira mulai berkaca-kaca.

Rahiang Sanjaya melengak mendengar permintaan Darma yang tidak mungkin dipenuhinya.

===

Keesokan harinya setelah Rahiang Sanjaya bersama Darma dan Wira menyantap makanan yang disediakan oleh Jayanti dan Andini, Darma kembali mengulang permintaannya semalam kepada Rahiang Sanjaya.

"Sancaka...apakah kau berkenan mengabulkan permintaanku semalam?" ujar Darma.

Rahiang Sanjaya tidak menyangka akan ditanya seperti itu lagi.

"Kasihan orang tua ini, demi keselamatan putrinya dia bersedia mengorbankan harga dirinya" batin Rahiang Sanjaya.

"Mamang...lebih baik hal itu kita bicarakan nanti saja. Sekarang bantu aku untuk menuju ke bukit Paratag" ujar Rahiang Sanjaya.

"Pemuda yang keras hati tapi aku tidak yakin dia bisa mengalahkan Darja" batin Darma.

Rahiang Sanjaya menghela nafas panjang melihat Darma yang hanya mematung dan sepertinya tidak mau menunjukkan letak bukit Paratag kepadanya.

"Kalau begitu..lebih baik aku cari sendiri letak bukit Paratag itu" gumam Rahiang Sanjaya gusar.

Melihat keteguhan hati Rahiang Sanjaya akhirnya Wira luluh.

"Akang Darma...kalau Sancaka memaksa..biar aku yang akan mengantarkanya ke bukit Paratag" ujar Wira kepada Darma.

"Tidak Wira...biar aku sendiri yang mengantarnya. Kau jaga Jayanti dan Andini, kalau aku tidak kembali....kalian secepatnya meninggalkan kampung ini" ujar Darma kepada Wira.

*Apakah betul Darja adalah prajurit Karatuan Galuh?
*Apakah Rahiang Sanjaya mau mengawini Jayanti dan Andini?
Tunggu jawabannya di episode mendatang ya....


Baca juga : Rahiang Sanjaya: Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #8