NYAI PENUNGGU LENGKOB KARAMAT




Abiyasa menarik nafas panjang sambil mengusap wajahnya.

"Gusti Rakean...hamba adalah pandita dari Kabuyutan Galunggung, murid dari Batara Dangiang Guru" ujarnya pelan.

Rahiang Sanjaya melengak kaget mendengar bahwa Abiyasa berasal dari Kabuyutan Galunggung.

"Eyang Rahyang Semplakwaja" desis Rahiang Sanjaya.

Sekarang giliran Abiyasa yang kaget mendengar Rahiang Sanjaya menyebutkan nama asli dari Batara Dangiang Guru. Karena sebagai Resi yang sangat dihormati di Karatuan Galuh dan dipercaya untuk memimpin Kabuyutan Galunggung, tidak sembarangan orang mengetahui nama asli Batara Dangiang Guru.

"Gusti Rakean...siapa sebenarnya dirimu?" Abiyasa menatap Rahiang Sanjaya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Rahiang Sanjaya tersenyum lalu membimbing Abiyasa agar duduk bersila dan tidak lagi berlutut dihadapannya.

"Pandita...tentang siapa aku sebenarnya tidaklah penting. Yang aku ingin bicarakan adalah mengenai putra dan cucumu, Darja dan Sura serta Ruda" ujar Rahiang Sanjaya.

Abiyasa merasa was-was, khawatir Rahiang Sanjaya akan menurunkan tangan keras kepada anak dan cucunya.

"Pun Paralun Gusti Rakean...hamba mohon kebaikan untuk mengampuni mereka. Biarlah hamba yang akan mendidik mereka" Abiyasa dengan suara memelas sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

"Pandita...aku percaya sebenarnya mereka adalah orang-orang baik" jawab Rahiang Sanjaya sambil memegang tangan Abiyasa.

"Oleh karena itu..aku akan memberikan pilihan untuk mereka supaya bisa hidup lebih baik" sambungnya.

"Ah...terima kasih Gusti Rakean...mohon sampaikan apa saja yang harus mereka lakukan" Abiyasa kegirangan mendengar Rahiang Sanjaya tidak akan menurunkan tangan keras kepada Darja dan kedua anaknya.

Abiyasa memberi kode kepada Darja, Sura serta Ruda untuk mendekat dan bergabung. Dengan tertatih-tatih dipapah oleh Sura dan Ruda, Darja duduk di belakang Abiyasa diikuti oleh Sura dan Ruda.

"Kalian segera beri hormat dan mohon ampun kepada Gusti Rakean. Terutama kau Darja, kelakuanmu sangat mempermalukan aku" hardik Abiyasa kepada Darja dan kedua cucunya.

Darja, Sura dan Ruda merangkapkan kedua tangannya di atas kepala lalu menjura ke arah Rahiang Sanjaya. Sementara keempat anak buah Darja bergegas bergabung dan duduk dibelakang Darja dan kedua anaknya.

"Ah...kalian terlalu berlebihan menghormatiku. Aku hanyalah orang biasa" Rahiang Sanjaya merasa kikuk dengan penghormatan yang dirasanya terlalu berlebihan.

Rahiang Sanjaya menatap tajam ke arah Darja.

"Kang Darja..aku sudah mendengar ceritamu dari Pandita" ujar Rahiang Sanjaya. Darja menundukkan kepalanya tidak berani menatap.

"Aku masih tidak mengerti kenapa kekecewaanmu kepada Patih Bimaraksa dilampiaskan kepada rakyat yang tidak berdosa. Tapi...sudahlah karena semua sudah terjadi. Sekarang apa rencanamu?" sambungnya bertanya kepada Darja.

Darja menghela nafas panjang.

"Pun paralun..Gusti Rakean, dosa hamba sudah setinggi langit sedalam sagara...tidak akan mungkin termaafkan. Oleh sebab itu hamba akan menyelesaikan semuanya dengan menemui Bimaraksa" jawab Darja yang rupanya belum bisa membuang kekecewaannya.

"Konyol" desis Abiyasa kesal dengan keras kepalanya Darja.

Rahiang Sanjaya tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kang Darja...berapa orang yang kau andalkan untuk menemui Patih Bimaraksa. Aku khawatir kau akan tewas sebelum mencapai alun-alun Karaton" ujar Rahiang Sanjaya.

"Ada tujuhbelas orang Gusti Rakean...hamba tidak peduli jika harus mati daripada menanggung dendam seumur hidup" geram Darja.

Rahiang Sanjaya menarik nafas panjang lalu melirik ke arah Abiyasa.

"Pandita..ternyata anakmu sudah bertekad bulat untuk menyelesaikan masalahnya dengan Patih Bimaraksa...aku tidak bisa berkata apa-apa lagi" ujar Rahiang Sanjaya.

"Anak bodoh..punya ilmu secuil mau jual lagak di Karatuan. Hanya cari mati.." hardik Abiyasa dengan gusar.

"Ayahanda maafkan..aku tidak ada pilihan lain" suara Darja bergetar.

"Kau bisa ikut denganku ke Kabuyutan Galunggung dan menjadi murid Batara Dangiang Guru atau kau kembali ke Kabuyutan Denuh dan melanjutkan belajarmu kepada Resi Guru" ujar Abiyasa.

"Hanya orang mati yang tidak punya pilihan, orang hidup akan selalu mempunyai pilihan untuk memperbaiki diri" sambungnya gusar.

Darja menundukkan kepalanya tidak lagi menjawab. Dalam hatinya dia membenarkan semua perkataan ayahnya tetapi tanggungjawab kepada enambelas anak buahnya yang menyebabkan dia tidak bisa menjalankannya.

Rahiang Sanjaya terlihat berfikir sejenak dan mempertimbangkan sesuatu.

"Pandita...Kang Darja...aku punya saran untuk kalian pertimbangkan" ujar Rahiang Sanjaya menatap Abiyasa dan Darja bergantian.

"Gusti Rakean silakan sampaikan saranmu...hamba akan mendengarkannya" ujar Abiyasa.

"Aku memahami kenapa Kang Darja bersikeras untuk menyelesaikan masalahnya dengan Patih Bimaraksa...tapi aku menyarankan agar bisa memilih waktu dan saat yang tepat" ujar Rahiang Sanjaya.

"Maksud Gusti Rakean?" Abiyasa bertanya penasaran.

"Begini Pandita...aku menyarankan agar Kang Darja untuk sementara pergi ke Kabuyutan Sawal sambil menunggu saat tepat kembali ke Karang Kamulyan" ujar Rahiang Sanjaya.

"Kabuyutan Sawal...mengapa harus ke sana Gusti Rakean?" tanya Darja tidak mengerti maksud Rahiang Sanjaya.

"Aku tidak bisa menjelaskan sekarang...Kang Darja akan tahu sendiri jawabannya setelah sampai di sana" Rahiang Sanjaya sambil tersenyum.

"Darja...lebih baik kau ikuti perintah Gusti Rakean. Aku tidak mau kau mati konyol" ujar Abiyasa sambil melotot kepada Darja saking kesalnya.

Darja mengusap-usap brewoknya sambil memandang ke belakang seolah meminta persetujan keempat anak buahnya.

"Bagaimana Kang Darja...apakah kau setuju dengan saranku?" Rahiang Sanjaya bertanya.

"Pun paralun Gusti Rakean...hamba tidak tahu apa yang harus dikerjakan di Kabuyutan Sawal dan harus bertemu siapa di sana?" Darja masih kebingungan.

"Jangan khawatir...di sana Kang Darja bisa menemui Mamang Surawisesa. Dia yang akan menjelaskan semuanya" jawab Rahiang Sanjaya.

Abiyasa dan Darja melengak kaget seperti mendengar petir disiang bolong.

"Senapati Surawisesa?!!" gumam Abiyasa dan Darja hampir bersamaan. Mereka tidak menyangka kalau diminta untuk menemui seorang Senapati kepercayaan Prabu Bratasenawa.

"Bukankah Surawisesa sudah tewas di medan peperangan saat Prabu Bratasenawa di gulingkan oleh Prabu Purbasora???" Darja bertanya seperti tidak percaya mendengarnya.

"Aku tidak tahu apakah Mamang Surawisesa ini adalah orang yang sama dengan Senapati Surawisesa yang kalian maksud. Tetapi yang penting adalah Kang Darja sementara waktu bisa minta petunjuk kepadanya" ujar Rahiang Sanjaya tidak mau membenarkan semua perkiraan Abiyasa dan Darja.

"Darja...kau harus mendengar kata-kata Gusti Rakean demi kebaikanmu sendiri" Abiyasa mendesak Darja agar mengikuti saran dari Rahiang Sanjaya.

"Pun paralun Gusti Rakean...hamba akan menuruti semua perintahmu. Tapi apa yang harus saya sampaikan kepada Surawisesa itu?" tanya Darja yang akhirnya menyetujui saran Rahiang Sanjaya.

"Kang Darja sampaikan saja kalau mendapat saran dari aku, Sancaka, untuk menemui dan minta perlindungan dari Mamang Surawisesa" ujar Rahiang Sanjaya lega.

"Pandita selanjutnya mengenai kedua cucumu, Sura dan Ruda" sambungnya.

"Gusti Rakean...izinkan Sura dan Ruda ikut dengan hamba ke Kabuyutan Sawal" Darja memotong.

"Tidak Darja..tidak kuizinkan kau membawa kedua anakmu. Aku sudah gagal mendidikmu, biarkan Sura dan Ruda kudidik menjadi manusia baik-baik" Abiyasa gusar.

"Pandita...Kang Darja..aku mempunyai saran yang lebih baik untuk Sura dan Ruda" ujar Rahiang Sanjaya.

"Pun paralun Gusti Rakean...sampaikan saja saranmu pasti akan hamba jalankan. Asal jangan kau turuti kemauan anak durhaka ini untuk membawa mereka" Abiyasa muntab kepada Darja.

"Kang Darja...dikampung di selatan bukit ini, ada dua anak gadis yang ibunya kalian gadabah kehormatannya lalu kalian bunuh" ujar Rahiang Sanjaya.

"Dewata Agung...Darja kelakuanmu benar-benar seperti binatang. Aku malu telah gagal mendidikmu" Abiyasa geram sambil menutup kedua mukanya. Darja tertunduk menyesal dan merasa berdosa.

Baca juga : Rahiang Sanjaya : Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #

"Aku mau minta tolong kepada Pandita agar sudi menikahkan Sura dan Ruda dengan kedua anak gadis tersebut" Rahiang Sanjaya melanjutkan ucapannya.

"Sura dan Ruda harus membimbing dan menjaga mereka sebagai penebus kesalahan ayahnya" sambungnya.

"Pun paralun Gusti Rakean, aku tidak yakin mereka akan menerimanya jika tahu kalau Sura dan Ruda adalah putra dari Darja" Abiyasa masih kebingungan.

Rahiang Sanjaya menghela nafas panjang.

"Pandita...aku pikir tidak perlu memberitahu mereka tentang hal itu. Keburukan kalau disampaikan hanya akan menimbulkan keburukan baru" ujar Rahiang Sanjaya.

"Satu hal lagi Pandita..aku mohon agar kau sudi tinggal di kampung itu dan membimbing rakyat supaya hidup lebih baik" sambungnya.

Abiyasa sejenak berfikir.

"Ada betulnya juga yang disampaikan anak muda ini. Usiaku sudah tidak muda lagi lebih baik aku menetap bersama kedua cucuku dan membimbing mereka dan warga kampung" batin Abiyasa.

"Baiklah Gusti Rakean, aku akan menuruti petunjukmu" akhirnya Abiyasa menyetujui usul Rahiang Sanjaya.

"Ah...bagus Pandita. Nanti kau temui Darma dan Wira sedangkan putri mereka adalah Jayanti dan Andini. Mereka adalah gadis-gadis yang cantik, kedua cucumu pasti akan senang memperistri mereka" ujar Rahiang Sanjaya sambil melirik Sura dan Ruda yang bersemu kemerahan karena malu.

"Sampaikan saja kau bersama kedua cucumu diselamatkan dari gerombolan Darja oleh aku, Sancaka, dan diminta untuk menemui mereka" sambungnya.

"Gusti Rakean diusia yang masih sangat muda bisa bertindak bijaksana...luar biasa..luar biasa. Hamba yang bangkotan ini harus banyak belajar" ujar Abiyasa sambil bersujud diikuti oleh yang lain.

"Sudah Pandita..tidak perlu seperti ini" Rahiang Sanjaya mengangkat bahu Abiyasa.

"Gusti Rakean...hamba mohon pamit untuk segera bersiap-siap dan berangkat menuju Kabuyutan Sawal" ujar Darja gembira setelah mendengar keputusan yang dianggapnya sangat bijaksana dari Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya hanya manggut sambil tersenyum. Darja lalu mohon pamit kepada ayah dan kedua anaknya, Pandita Abiyasa dan Sura serta Ruda.

"Ayahanda, aku mohon pamit dan restumu, semoga jika ada umur panjang kita bisa bertemu lagi. Sura, Ruda...kalian harus menuruti semua perintah kakekmu dan jadilah orang baik-baik jangan pernah tergoda untuk menjadi abdi kaum menak" ujar Darja tercekat menahan kesedihan. Sura dan Ruda menghambur memeluk Darja sambil menangis.

"Baiklah Dirja...jangan pernah melakukan kejahatan lagi. Sesampainya di Kabuyutan Sawal, sampaikan salam baktiku kepada Senapati Surawisesa" ujar Abiyasa, air matanya mulai menggenang.

"Dan kalau Dewata mempertemukanmu dengan adikmu, Kenanga, suruh dia untuk mengunjungiku di kampung itu" sambungnya. Air mata Abiyasa tak tertahan lagi.

Mendengar nama Kenanga, Rahiang Sanjaya melengak kaget. Pikirannya langsung melayang kepada Pwah Kenanga, seorang perempuan cantik luar biasa berusia matang yang selama lebih dari seminggu telah mendekapnya dalam kenikmatan gelora api asmara (tentang Pwah Kenanga, baca : Rahiang Sanjaya #3).

"Kang Darja mempunyai adik?" Rahiang Sanjaya keceplosan bertanya saking penasarannya.

"Betul Gusti Rakean...Darja mempunyai seorang adik perempuan bernama Pwah Kenanga" jawab Abiyasa.

"Pwah Kenanga" desis Rahiang Sanjaya. Wajahnya yang berubah sesaat tertangkap oleh mata Abiyasa.

"Oohh...lalu dimana dia sekarang?" Rahiang Sanjaya makin tidak bisa menyembunyikan kepenasarannya.

"Kenapa Gusti Rakean sepertinya sangat kaget mendengar nama anak perempuan hamba?" Abiyasa balik bertanya.

"Ah..eng..tidak Pandita..tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja. Tapi tidak tidak memaksa  kalau Pandita tidak berkenan menceritakan" Rahiang Sanjaya gugup.

Abiyasa mengerutkan dahinya sementara Darja memandang Rahiang Sanjaya dengan pandangan menyelidik.

"Pwah Kenanga adalah adik Darja, mereka sangat dekat. Waktu Darja memutuskan untuk meninggalkan Kabuyutan Galunggung menuju ke Kabuyutan Denuh untuk berguru, Pwah Kenanga memaksa untuk ikut bersama Darja" Abiyasa mulai bercerita dengan mata menerawang.

Abiyasa menarik nafas panjang.

"Selama bertahun-tahun tinggal dan berguru di Kabuyutan Denuh, akhirnya Pwah Kenanga dilamar oleh Bimaraksa. Karena memandang Bimaraksa adalah putra Resi Guru maka Darja dan hamba menyetujuinya" Abiyasa kembali menarik nafas panjang.

"Tapi bajingan itu..menyia-nyiakan adikku setelah mendapat jabatan di Keraton" dengan geram Darja memotong cerita Abiyasa.

Rahiang Sanjaya melengak tidak menyangka cerita Pwah Kenanga ternyata sangat tragis.

"Sekarang entah dimana dia berada, sudah lebih dari dua belas purnama aku tidak pernah bertemu dengannya" suara Abiyasa tercekat menahan tangis.

"Pantas saja Darja sangat membenci Patih Bimaraksa" batin Rahiang Sanjaya.

====

Rahiang Sanjaya memacu si Jagur, kudanya, meninggalkan bukit Paratag menuju kulon ke arah Kabuyutan Denuh.

"Sudah dua hari tertunda, aku tidak boleh membuang waktu lagi harus segera sampai ke Kabuyutan Denuh" batin Rahiang Sanjaya.

Menjelang malam Rahiang Sanjaya memutuskan beristirahat di hutan. Rahiang Sanjaya berusaha tidak melewati daerah-daerah perkampungan untuk menghindari masalah yang bisa menghambat perjalanannya. Keesokan harinya sebelum matahari terbit, Rahiang Sanjaya kembali melanjutkan perjalanannya. Menjelang petang Rahiang Sanjaya tiba di atas sebuah bukit yang cukup tinggi.

"Ah...masih berapa lama lagi sampai Kabuyutan Denuh?" batin Rahiang Sanjaya sambil menarik tali kekang Si Jagur lalu melompat turun.

"Jangan-jangan aku salah arah" Rahiang Sanjaya mengedarkan pandangannya ke seluruh perbukitan.

Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada sebuah lembah yang cukup dalam, telinganya yang tajam mendengar suara gemercik air.

"Rupanya ada sungai di bawah sana..lebih baik aku turun untuk membersihkan diri" batinnya sambil mencium bajunya yang sudah dua hari tidak digantinya.

Dituntunnya si Jagur menuruni lembah dengan hati-hati melewati semak belukar yang sangat rimbun di sepanjang lereng menuju lembah. Berkali-kali kaki Rahiang Sanjaya terantuk akar-akar pohon dan semak belukar. Semakin lama suara gemercik air itu semakin jelas. Sesampainya di dasar lembah, mata Rahiang Sanjaya terbelalak tidak percaya apa yang ada dihadapan matanya.

"Indah sekali..." gumamnya melihat sungai kecil yang mengalir dari dasar bukit dengan air yang sangat jernih. Di sampingnya terdapat sebuah tegalan yang tertata rapi. Sepertinya tempat itu dirawat dengan sangat baik.

Ditepuknya punggung si Jagur.

"Hush..hush..kita beristirahat disini" ujarnya. Seolah mengerti maksud tuannya, si Jagur berlalu ke sungai untuk minum.

Rahiang Sanjaya melangkah mendekati sebuah pohon Huni yang berbuah sangat lebat.

"Hmmm..lebat sekali buahnya, lumayan sedikit menyegarkan" batin Rahiang Sanjaya sambil menjulurkan tangannya hendak memetik buah Huni di dahan yang cukup redah.

"Mipit kudu amit ngala kudu menta (memetik harus pamit mengambil harus minta)...itulah sejatinya manusia dalam menjalani kehidupan. Semua ada aturan dan tata krama" tiba-tiba terdengar suara perempuan yang sangat halus ditelinga Rahiang Sanjaya.

Rahiang Sanjaya kaget bukan kepalang, dipalingkannya mukanya ke belakang tetapi tidak nampak seorangpun di belakangnya. Diputar pandangannya sambil diam-diam dikerahkan tenaga dalam ke tangan kanannya.

"Ah..manusia memang tidak tahu aturan, bukannya minta maaf sudah mengambil yang bukan miliknya tetapi malah berniat membuat celaka" suara perempuan itu terdengar lagi di telinganya.

Rahiang Sanjaya melengak.

"Bukan orang sembarangan...dia bisa tahu kalau aku bersiap-siap untuk mengerahkan tenaga dalam" batinnya sambil menarik seluruh tenaga dalamnya. Lalu merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

"Pun pun paralun...Nyai yang menempati dan merawat tempat ini, aku mohon izin untuk sejenak beristirahat dan menikmati buah-buahan yang ada" ujar Rahiang Sanjaya dengan sopan.

"Tapi kalau Nyai tidak mengizinkan..aku tidak memaksa dan akan pergi" sambungnya sambil mengedarkan pandangannya mencari asal suara perempuan tersebut.

"Hi..hi..hi..anak baik..anak baik. Tapi sayangnya kuda jelekmu itu sudah minum air sungai dan rumput-rumputan milikku tanpa izin" suara perempuan itu yang sebelumnya terdengar halus seperti bisikkan sekarang berubah menjadi lengkingan yang menggetarkan gendang telinga.

Rahiang Sanjaya segera mengatur tenaga dalam dan peredaran darahnya.

"Luar biasa...suaranya seperti terdengar dari segala penjuru dan menyerang titik peredaran darah. Aku tidak bisa menebak di mana dia sebenarnya" batin Rahiang Sanjaya.

"Aku yang bodoh ini mohon maaf atas kelancangannya. Mohon Nyai berkenan menunjukkan diri agar aku bisa berlutut dihadapanmu" Rahiang Sanjaya mengisi suaranya dengan setengah tenaga dalam. Suaranya terdengar berat dan menggetarkan, pohon-pohon kecil bergoyang kencang seolah dilanda angin puting beliung.

"Hi..hi..hi..anak sombong, kau mau pamer kesaktian di hadapanku" suara perempuan itu terdengar lagi. Sepertinya sangat marah karena merasa diserang balik oleh suara Rahiang Sanjaya.

"Ah...malang sekali nasibku. satu saat disebut anak baik...saat lain disebut anak sombong. Aku merasa sedih" jawab Rahiang Sanjaya sambil mesem-mesem. Dicobanya memancing amarah perempuan tersebut supaya mau menampakkan diri.

"Anak tengil..kenapa kau senyum-senyum sendiri?" suara perempuan itu terdengar mulai kesal.

Rahiang Sanjaya yang sudah berhasil mengetahui asal suara perempuan tersenyum semakin lebar.

"Bagaimana aku bisa tidak tersenyum Nyai...aku sedang bersedih karena sekarang aku disebut anak tengil" ujar Rahiang Sanjaya.

"Tapi sepertinya Nyai lebih bersedih rupanya..berbicara saja harus dari atas pohon. Atau Nyai ini mungkin masih keturunan burung Dadali" sambungnya sambil memandang ke atas sebuah pohon beringin yang sangat lebat tidak jauh dari seberang sungai kecil tersebut.

"Bajingan tengik...kau mempermainkanku. Jangan harap bisa keluar dari Lengkob Karamat ini" suara perempuan itu dibarengi dengan melesatnya sesosok tubuh ke arah Rahiang Sanjaya. Terdengar siuran angin yang sangat keras.

Rahiang Sanjaya sadar bahwa perempuan itu sedang melancarkan sebuah pukulan tangan kosong bertenaga dalam tinggi.

"Aku tidak tahu apakah dia orang baik atau orang jahat, lebih baik tidak perlu membuat bentrokkan" batin Rahiang Sanjaya sambil melentingkan tubuhnya ke atas lalu bersalto ke belakang menghindari pukulan perempuan tersebut.

"Bummm.." pukulan tangan kosong perempuan itu menghantam tanah meninggalkan lobang yang cukup dalam.

"Luar biasa..tenaga dalamnya sangat tinggi" batin Rahiang Sanjaya.

Sementara peremuan itu setelah melepaskan pukulan tangan kosongnya berdiri tidak jauh dari Rahiang Sanjaya. Perempuan tersebut mengenakan celana pangsi berwarna biru dengan atasan seperti jubah pandita berwarna kecoklatan tetapi dengan potongan dada yang sangat rendah menyembulkan gundukan montok putih kemerahan. Wajahnya cukup cantik dengan rambut tergerai dan hiasan di atas rambutnya seperti gadis-gadis menak keraton. Namun yang membuat Rahiang Sanjaya melengak adalah rambut perempuan itu sudah putih beruban.

"Aneh..tubuh dan wajahnya masih seperti seorang gadis muda tetapi rambutnya sudah uban semua. Siapa sebenarnya perempuan ini?" batin Rahiang Sanjaya.

Perempuan itu memandang Rahiang Sanjaya dengan pandangan bengis menggidikkan.

"Anak muda...kau sudah berani mencuri di tempatku. Lebih baik sebutkan namamu sebelum aku potong lehermu untuk makanan ajag" ujar perempuan tersebut dingin.

"Ah..Nyai, aku tidak bermaksud untuk mencuri karena kupikir tempat ini tidak ada pemiliknya. Tapi aku tetap mohon maaf kepadamu..semoga Nyai berkenan memaafkan, nama hamba Sancaka, kalau Nyai berkenan menyebutkan nama juga" ujar Rahiang Sanjaya sambil berlutut lalu merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

"Aku tidak suka segala peradatan..lekas berdiri. Kau tidak layak tahu namaku dan kau tetap harus dihukum karena kuda milikmu telah mencuri rumput yang aku tanam" ujar perempuan itu sambil menunjuk ke arah si Jagur yang sedang asyik merumput.

Rahiang Sanjaya bergegas berdiri sambil tersenyum, matanya tidak sengaja sempat melirik gundukkan montok di dada perempuan itu.

"Anak mesum...kau tidak pernah diajar peradatan rupanya" damprat perempuan itu yang melihat kerlingan mata Rahiang Sanjaya ke arah dadanya.

Mendapat dampratan dari perempuan itu, wajah Rahiang Sanjaya langsung memerah malu karena memang dia tidak bermaksud untuk berlaku kurang ajar.

"Maaf..maafkan Nyai, aku tidak bermaksud kurang ajar kepadamu" ujar Rahiang Sanjaya sambil menundukkan kepalanya

"Aku juga mohon maaf karena kuda milikku sudah mencuri rumput yang telah kau rawat dengan baik. Sekarang juga aku pamit untuk meninggalkan tempat ini" sambungnya.

"Kau boleh pergi tapi kuda milikmu harus kau tinggalkan sebagai ganti atas rumput yang sudah dimakannya" ujar perempuan itu dengan dingin.

Rahiang Sanjaya terkejut tidak menyangka perempuan itu meminta si Jagur.

"Nyai..aku sudah mohon maaf kepadamu dan kupikir itu sudah cukup. Aku tidak mungkin menyerahkan kuda milikku kepadamu" ujar Rahiang Sanjaya sambil tetap menunduk.

"Permintaan maafmu tidak bisa mengembalikan rumput yang sudah dimakan, kecuali kau mau ngabedel perut kuda milikmu..hi..hi.." perempuan itu berkeras sambil tertawa mengikik.

"Sekarang kesalahanmu bertambah lagi anak muda dan kesalahanmu ini harus kau bayar dengan kepalamu"  sambungnya dengan suara yang berubah menjadi sangat dingin.

Rahiang Sanjaya mulai kesal kepada perempuan itu karena tidak mungkin ngadedel perut si Jagur untuk mengembalikan rumput yang sudah dimakannya.

"Perempuan ini memang sengaja mencari perkara. Bicaranya ngelantur...kadang memuji kadang marah...tidak jelas" batin Rahiang Sanjaya.

"Apa lagi kesalahan yang telah aku perbuat Nyai?" ujar Rahiang Sanjaya mulai gusar.

Perempuan itu mulai mondar-mandir di hadapan Rahiang Sanjaya dengan mengusap-usapkan kedua tangannya. Rahiang Sanjaya tetap menundukkan kepalanya sambil waspada karena khawatir jika tiba-tiba perempuan itu menyerangnya.

"Kau telah menghinaku anak muda...apakah kau jijik melihat wajahku sehingga tidak mau menatapku?" bentak perempuan itu yang sepertinya benar-benar marah.

Rahiang Sanjaya melengak. Dia menundukkan wajah bukan karena tidak mau melihat wajah perempuan itu tetapi karena tubuhnya lebih tinggi dari perempuan itu. Jika dia memandangi wajah perempuan itu maka otomatis matanya akan melihat gundukkan montok itu. Rahiang Sanjaya tidak mau disebut sebagai anak muda mesum lagi.

"Pun pun paralun Nyai...aku tidak bermaksud seperti itu..hanya saja aku tidak mau disebut sebagai orang mesum" jawab Rahiang Sanjaya.

"Hi..hi..hi..bagus..peradatanmu bagus anak muda. Tidak percuma Sanna mempunyai anak sepertimu" ujar perempuan itu tergelak.

Sementara Rahiang Sanjaya bagai disambar petir di siang bolong mendengar perempuan itu menyebut nama "Sanna", nama kecil ayahnya sebelum menjadi  Ratu Galuh.

"Siapa perempuan ini dan kenapa dia bisa mengenali aku sebagai putra Sang Senna?" batin Rahiang Sanjaya.

Baca juga : Rahiang Sanjaya : Perjalanan Merebut Tahta Karatuan Galuh #1