KEKECEWAAN KSATRIA PAJAJARAN




Melihat situasi yang sangat tidak menguntungkan, Senapati Anggawirya memerintahkan pasukannya agar menyerbu Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Serbu...jangan kasih ampun!!!" teriak Senapati Anggawirya sambil menarik salah satu prajurit Kesultanan Cirebon dan mendorongnya ke arah Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Mendengar komando Senapati Anggawirya, ratusan prajurit Kesultanan Cirebon mengurung dan menyerang Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Senapati bajingan..pengecut..jangan lari kau!!! rutuk Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil menangkis ratusan tombak dan pedang yang mencecar ke arahnya.

Diam-diam Senapati Anggawirya mundur dari arena pertempuran. Diaturnya nafas dan peredaran darah yang kacau karena benturan tenaga dalam dengan Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Pasukanku tidak akan mampu bertahan, aku harus segera meminta bantuan pasukan tambahan kepada Kakang Patih Aryatedja" batinnya.

Ditariknya seekor kuda dari salah satu prajurit Kesultanan Cirebon. Dengan sebat melompat dan memacu kudanya meninggalkan arena pertempuran menuju ke arah Kesultanan Cirebon.

Patih Batara Sang Hyang Hawu yang melihat dengan sudut matanya kalau Senapati Anggawirya melarikan diri semakin muntab amarahnya. Dilentingkan tubuhnya sekitar 2 tombak di atas pasukan Kesultanan Cirebon lalu melayang turun dan kembali melesat mengejar ke arah perginya Senapati Anggawirya.

Moral pasukan Kesultanan Cirebon seketika ambruk setelah ditinggalkan oleh dua orang petingginya.

===

Patih Jero Radimin sekuat tenaga membangkitkan moral pasukannya. Goloknya bagaikan kitiran membabat dan menebas prajurit Kerajaan Sumedang Larang. Puluhan prajurit sudah tumbang di ujung goloknya. Dipacu kudanya membelah pasukan Kerajaan Sumedang Larang. Aksinya membangkitkan kembali semangat Kesultanan Cirebon memancing Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa untuk menghentikannya.

Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa memacu kudanya mendekati Patih Jero Radimin. Dengan sekali sentak tubuhnya mencelat dari punggung kuda lalu bersalto dan mendarat dengan enteng menghadang kuda Patih Jero Radimin.

"Hmmm..boleh juga ternyata kemampuan seorang Patih Jero Kesultanan Cirebon" ujar Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa mencibir ke arah Patih Jero Radimin.

"Sayangnya kehebatanmu akan berakhir di ujung golokku" sambungnya sambil mengusap-ngusap mata goloknya yang sudah bersimbah darah.

Patih Jero Radimin melengak kaget melihat Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Dia sudah mendengar cerita tentang kehebatan keempat patih Kerajaan Sumedang Larang yang asalnya dari Kerajaan Pajajaran ini.

"Ah...bicaramu setinggi langit tapi melindungi kerajaan sendiri saja tidak mampu" balas Patih Jero Radimin tidak mau kalah.

Mendengar ucapan Patih Jero Radimin yang mengungkit kehancuran Kerajaan Pajajaran membuat Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa muntab amarahnya. Dilepaskan golok dari genggamannya, seluruh tenaga dalamnya di alirkan ke kedua tangannya. Kesepuluh jarinya berubah warna menjadi biru dan mengeluarkan bau anyir yang menggidikkan.

Kedua tangan Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa mengembang seperti sayap seekor burung. Dengan sekali sentak tubuhnya melayang dan meluncur ke arah Patih Jero Radimin yang masih duduk di atas punggung kudanya. Sekejap terkejut namun Patih Jero Radimin segera sadar bahwa serangan itu tidak main-main. 

Serangan Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa menghantam punggung kuda yang kosong karena Patih Jero Radimin sudah berguling turun. Kuda malang itu meringkik panjang sambil mengangkat kedua kaki depannya lalu ambruk dengan tubuh membiru dan mengeluarkan bau busuk.

"Ajian iblis.." batin Patih Jero Radimin meleleltan lidah melihat kedahsyatan pukulan Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

Tidak mau begitu saja melepaskan lawannya, Patih Batara Sang Hyang Kondang Hawu berbalik dengan mata nyalang. Patih Jero Radimin tidak mau kecolongan, dengan tenaga dalam penuh didorongkan kedua tangannya ke depan. Siuran angin dahsyat menggebu menuju ke arah Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

"Ajian anak kecil kau pamerkan dihadapanku...makan ini" teriak Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa sambil menerjang datangnya pukulan dengan kesepuluh jari mengembang.

Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa membentur angin pukulan Patih Jero Radimin. Hampir tidak percaya apa yang dilihatnya, Patih Jero Radimin berseru tertahan sambil mencoba membuang badannya menghindari sepuluh jari berwarna biru yang seolah akan membetot jantungnya.

"Luar biasa..pukulanku tidak berarti apa-apa" batinnya.

Namun sayang, gerakan menghindar Patih Jero Radimin terlambat. Kesepuluh jari Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa menghantam dadanya. Tubuhnya mencelat ke belakang menghantam barisan prajurit Kesultanan Cirebon. Dadanya pecah, seluruh tubuhnya berwarna biru dan mengeluarkan bau busuk yang menjijikan.

Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa mengangkat kedua tangannya, wajahnya mendongak ke langit. Seolah ingin melampiaskan amarahnya, Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa berteriak setinggi langit dengan suara bagaikan auman ratusan harimau. Medan pertempuran seolah bergetar.

Pasukan Kesultanan Cirebon hancur mentalnya, sebagian mencoba mengadu nyawa dan sebagian melarikan diri menyelamatkan nyawa masing-masing. Tetapi Patih Batara Wiradijaya dan Patih Batara Pancar Buana sudah kalap, amis darah membuat mereka menjadi sangat buas. Golok mereka berputar seolah malaikat pencabut nyawa mencari mangsa.

"Tidak seorangpun kuizinkan hidup" teriak Patih Batara Dipati Wiradijaya sambil membabatkan goloknya ke arah prajurit Kesultanan Cirebon yang sudah tunggang langgang menyelamatkan diri.

Menjelang petang pertempuran usai, tegalan sudah banjir darah. Ratusan mayat tergeletak saling menindih. Tidak seorangpun prajurit Kesultanan Cirebon yang tersisa sementara pasukan Kerajaan Sumedang  hanya tesisa sekitar tigapuluh orang. Mereka mengumpulkan kuda-kuda yang masih selamat.

Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa membersihkan goloknya yang bermandikan darah. Lau menghampiri Patih Batara Sang Pancar Buana dan Patih Batara Dipati Wiradijaya yang sedang duduk di atas sebuah batu besar di atas tegalan.

"Rayi..aku tidak melihat Kakang Batara Sang Hyang Hawu" ujarnya sambil menjatuhkan pantatnya di samping Batara Pancar Buana.

"Aku sekilas melihatnya mengejar Senapati dari Kesultanan Cirebon yang kabur" jawab Patih Batara Dipati Wiradijaya.

"Selanjutnya bagaimana Kakang? Prajurit kita hanya tersisa tiga puluh orang, tidak mungkin menyerbu pasukan Kesultanan Cirebon" Patih Batara Pancar Buana bertanya kepada Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa memejamkan matanya berfikir keras untuk mengambil keputusan.

"Aku masih mencemaskan keberadaan Kakang Batara Sang Hyang Hawu..." ujarnya sambil mengusap wajahnya.

"Rayi Batara Dipati Wiradijaya...besok pagi kau susul Kakang Batara Sang Hyang Hawu. Jika ada sesuatu yang tidak diinginkan segera kembali" perintah Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

"Aku dan Rayi Batara Pancar Buana akan menunggu di perbatasan Kuta Maya bersama pasukan Jantaka" sambungnya sambil berdiri.

"Sekarang bawa pasukan yang tersisa ke atas bukit, kita bermalam di sana" Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa bangkit dari duduknya dan berlalu.

===

Matahari masih malu-malu muncul dari timur saat Patih Batara Dipati Wiradijaya memacu kudanya ke arah Kesultanan Cirebon untuk mencari Patih Batara Sang Hyang Hawu. Sementara itu Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa dan Patih Batara Pancar Buana kembali ke arah Kuta Maya untuk bergabung dengan pasukan pimpinan Jantaka.

Hampir seharian Patih Batara Dipati Wiradijaya menyusuri jejak Patih Batara Sang Hyang Hawu namun hasilnya nihil. Akhirnya menjelang petang karena merasa sangat kelelahan diputuskannya untuk beristirahat sejenak sambil memberi waktu kudanya makan. Dijatuhkan pantatnya dan bersila di bawah sebuah pohon besar. Lalu bersemedi untuk memulihkan tenaga dalamnya yang banyak terkuras dalam pertempuran kemarin.

Lamat-lamat telinga Patih Batara Dipati Wiradijaya mendengar suara keramaian di kejauhan. Dibuka kedua matanya dan menghentikan semedinya lalu berdiri.

"Ah...suara dari mana? Seperti banyak sekali suara manusia" batinnya. Diedarkan pandangannya namun hanya terlihat hutan lebat yang mulai gelap.

Matanya berputar mencari pohon yang cukup tinggi. Sekali sentak tubuhnya melayang ke atas sebuah pohon. Namun tetap yang terlihat hanya lebatnya hutan.

"Terpaksa aku harus mencari asal suara itu...semoga bisa menemukan Kakang Batara Sang Hyang Hawu" gumamnya sambil melayang turun.

Setelah mengikat kudanya di salah satu pohon, Patih Batara Dipati Wiradijaya bergegas mengikuti arah suara tersebut dengan berjalan kaki. Hari yang gelap cukup menyulitkan penelusurannya. Setelah cukup lama berjalan dilihatnya dikejauhan gemerlap cahaya. Dipercepatnya langkah sambil tetap waspada, dikerahkan ajian meringankan tubuhnya menuju asal cahaya itu berasal.

"Dewata Agung..." Patih Batara Dipati Wiradijaya yang bersembunyi dibalik salah satu pohon besar tercekat. Sekitar sepuluh deupa dari tempatnya berdiri, terlihat ratusan tenda yang berisi ribuan prajurit Kesultanan Cirebon.

"Petaka besar akan menimpa Kerajaan Sumedang Larang..." gumamnya cemas.

Perlahan-lahan Patih Batara Dipati Wiradijaya mundur dan meninggalkan lokasi tersebut dan kembali ke tempatnya menyimpan kuda.

"Malam ini juga aku harus segera kembali ke Kuta Maya" batinnya. Hatinya sangat cemas membayangkan pasukan Kesultanan Cirebon yang berjumlah ribuan prajurit akan menyerang pasukan Kerajaan Sumedang Larang yang hanya tersisa sekitar tujuhratus prajurit. Rasa letih dan lelah yang dirasakannya seolah hilang.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #1 ===

Senapati Anggawirya berkuda dengan cepat meninggalkan arena pertempuran tujuannya adalah markas pasukan Kesultanan Cirebon di perbatasan Maja yang dipimpin oleh Patih Aryatedja. Namun instingnya merasakan ada yang mengejarnya.

"Ah...ternyata ada yang mengejarku. Lebih baik aku mengambil jalan melingkar melalui hutan untuk mengelabui mereka" batinnya sambil mengarahkan laju kudanya melebar dari arah tujuan sebenarnya.

Sementara Patih Batara Sang Hyang Hawu yang mengejar di belakangnya mulai kesulitan membuntuti Senapati Anggawirya karena hari yang mulai gelap. Bahkan di sebuah lembah yang pekat pepohonan dia kehilangan jejak Senapati Anggawirya.

"Bangsat..kemana larinya pengecut itu? Aku bersumpah tidak akan melepaskannya" geram Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil mengedarkan pandangannya menembus gelapnya malam.

Setelah dirasa aman dan tidak ada lagi yang membuntutinya, Senapati Anggawirya menghentikan laju kudanya lalu melompat turun. Dimiringkan suaranya begitu mendengar suara gemericik air.

"Ah..ada sungai di dekat sini, aku haus sekali" batinnya sambil berjalan mendekati asal suara air tersebut.

Ternyata betul dugaan Senapati Anggawirya, tidak jauh dia berjalan terdapat sebuah aliran sungai kecil namun airnya sangat jernih. Setelah melepas dahaga, Senapati Anggawirya memutuskan untuk beristirahat menghabiskan malam di tempat tersebut.

Fajar mulai menyingsing saat Senapati Anggawirya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya menuju markas pasukan Kesultanan Cirebon di perbatasan Maja. Hampir tengah hari tapi belum ada tanda-tanda mendekati tujuan. Hutan yang sangat rapat menyebabkannya sulit untuk bergerak cepat.

"Ternyata aku memutar terlalu jauh...mungkin perlu waktu setengah hari lagi untuk sampai ke tujuan" gumam Senapati Anggawirya sambil menepuk-nepuk leher kudanya yang kelihatan sudah sangat kecapaian.

"Walaupun lari ke lubang tikus...aku tidak akan melepaskanmu Senapati keparat" tiba-tiba terdengar suara yang sangat halus di telinganya.

Senapati Anggawirya kaget bukan kepalang. Belum reda kagetnya tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan hitam menghalangi jalannya.

"Patih Batara Sang Hyang Hawu..." desis Senapati Anggawirya begitu melihat sosok yang menghalanginya.

"Senapati Anggawirya yang tersohor gagah berani...ternyata hanyalah pecundang terkutuk" cibir Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil tersenyum sinis.

"Hari ini aku akan menagih darah saudara-saudaraku dari Kerajaan Pajajaran yang telah kau bunuh dengan keji" sambungnya.

"Tidak ada cara lain...aku harus mengadu nyawa" batin Senapati Anggawirya sambil melompat turun dari atas kudanya.

Tanpa banyak bicara Senapati Anggawirya menyalurkan seluruh tenaga dalam ke kedua tangannya. Diawali dengan bentakan keras..kedua tangannya mendorong kedepan. Angin deras membumbung menebarkan hawa panas. Patih Batara Sang Hyang Hawu melompat dua tombak ke atas bersalto lalu melayang turun dengan enteng.

"Ah...rupanya kau tidak mau main-main dulu Senapati...hehe!!" Patih Batara Sang Hyang Hawu terkekeh sambil menghunus goloknya.

"Jangan banyak bicara keparat" bentak Senapati Anggawirya yang sudah menghunus goloknya.

"Rasakan golokku..." Senapati Anggawirya menerjang membabibuta.

Goloknya menyasar ke leher sementara tangan kirinya melepaskan pukulan tangan kosong yang menebarkan angin bagaikan puting beliung menyasar ke perut Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Patih Batara Sang Hyang Hawu diam membatu tidak berusaha menghindar atau membalas serangan Senapati Anggawirya.

"Buuukk..."

"Bummmm..." 

Golok dan pukulan tangan kosong menghantam leher dan perut Patih Batara Sang Hyang Hawu. Senapati Anggawirya mencelat ke belakang seperti menghantam batu karang. Goloknya terpental dan dadanya serasa remuk.

"Celaka..dia ternyata menguasai ajian Batu Karang" batin Senapati Anggawirya sambil mencoba bangkit.

"Ha..ha..Senapati Anggawirya..sekarang saatnya aku memenggal kepala dan meminum darahmu" Patih Batara Sang Hyang Hawu tertawa menggidikan.

Dengan sebat menerjang dan membabatkan goloknya ke Senapati Anggawirya yang masih tertatih mencoba untuk berdiri. 

"Crassshhhh......"

"Aaaahhhhhhhh" suara Senapati Angawirya terputus.

===

Menjelang pagi suasana di Keraton Kerajaan Sumedang Larang mendadak rame. Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa, Patih Batara Pancar Buana dan Patih Batara Dipati Wiradijaya kembali dari medan pertempuran.

Prabu Geusan Ulun segera masuk ke dalam balariung diikuti oleh ketiga patihnya. Wajahnya kelihatan pucat dan lelah seperti kurang tidur. Tanpa sempat duduk Prabu Geusan Ulun langsung bertanya.

"Kakang Patih Kondang Hapa...apa yang terjadi? Kemana Kakang Patih Sang Hyang Hawu?" tanyanya bertubi-tubi.

"Ampun Gusti Prabu, hamba hendak melaporkan bahwa pasukan kita berhasil mengusir pasukan Kesultanan Cirebon" jawab Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

"Huuuuhhhh...syukurlah Kakang Patih Kondang Hapa" Prabu Geusan Ulun menghembuskan nafas lega.

"Tapi mana Kakang Patih Sang Hyang Hawu? Apakah dia gugur dipertempuran?" Prabu Geusan Ulun mendesak menanyakan keberadaan Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Ampun Gusti Prabu..." Patih Batara Dipati Wiradijaya menghentikan ucapannya sambil melirik ke arah Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

"Ceritakan saja apa adanya.." ujar Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa kepada Patih Dipati Wiradijaya.

Setelah menghela nafas panjang, Patih Batara Dipati Wiradijaya meneruskan ucapannya.

"Gusti Prabu..perkiraan hamba..Kakang Patih Batara Sang Hyang Hawu sudah gugur" ujarnya lirih.

"Perkiraan...apa maksudmu? Kenapa jasadnya tidak dibawa...kalau benar sudah gugur, aku ingin mengurus jasadnya dengan layak" Prabu Geusan Ulun terdengar sangat terpukul mendengar berita tersebut.

"Ampun Gusti Prabu...saat ini ada urusan yang lebih mendesak yang harus Gusti Prabu putuskan" Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa memotong.

"Apalagi Kakang Patih...berita buruk apalagi yang ingin kau laporkan?'' Prabu Geusan Ulun sambil berjalan mondar-mandir kalut.

"Di perbatasan Maja...ada sekitar seribu limaratus prajurit Kesultanan Cirebon yang dalam beberapa hari lagi akan tiba di Kuta Maya" jawab Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

"Seribu limaratus prajurit?" Prabu Geusan Ulun makin kalut, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

"Betul Gusti Prabu...sedangkan pasukan kita yang tersisa hanya sekitar tujuhratus prajurit" Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa menegaskan.

"Apa yang harus kita lakukan? Aku sudah tidak bisa lagi berfikir" ujar Prabu Geusan Ulun.

"Gusti Prabu...kita tidak bisa bertahan di Kuta Maya dengan jumlah pasukan yang ada. Menurut hemat hamba kita harus mengungsi ke wilayah yang lebih aman" Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa memberikan saran.

"Kemana Kakang Patih?..ah mengapa jadi begini rumit masalahnya" Prabu Geusan Ulun tubuhnya menjadi lemas tidak bertenaga lalu duduk di atas singgasananya.

"Gusti Prabu kita mengungsi dan bertahan di rumah peristirahatan Dayeuh Luhur. Letak wilayahnya berada di dataran tinggi sehingga sangat mudah mengawasi musuh yang datang" ujar Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

"Dayeuh Luhur...Dayeuh Luhur..." gumam Prabu Geusan Ulun sambil mengusap wajahnya.

Setelah berfikir beberapa saat akhirnya Prabu Geusan Ulun menyetujui usul untuk mengungsi dan bertahan di Dayeuh Luhur. Prabu Geusan Ulun melupakan satu wasiat penting yang disampaikan oleh Patih Batara Sang Hyang Hawu sebelum berangkat bertempur (baca : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #14). 

===

Patih Batara Sang Hyang Hawu memacu kuda hasil rampasan dari Senapati Anggawirya menuju ke tegalan arena pertempuran antara prajurit Kerajaan Sumedang Larang melawan prajurit Kesultanan Cirebon sebelumnya. Karena medan yang sulit oleh lebatnya pepohonan membuatnya terlambat dua hari. Dilihatnya tumpukan mayat yang mulai mengeluarkan bau busuk dan dikerubungi burung-burung pemakan bangkai.

"Ah...rupanya pertempuran telah usai" batin Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil menahan kekang kudanya. Diedarkan pandangan ke seluruh tegalan dan bukit, mencari tanda-tanda yang mungkin ditinggalkan.

"Hmmm...tidak ada tanda apapun. Lebih baik aku kembali ke Kuta Maya" sambil menepuk leher kudanya.

"Aneh...kenapa tidak ada prajurit yang berjaga di perbatasan Kuta Maya" Patih Batara Sang Hyang Hawu merasa aneh karena sepanjang perbatasan Kuta Maya menuju ke keraton tidak seorang prajurit pun yang kelihatan berjaga.

Dengan rasa penasaran dan kekhawatiran yang memuncak, Patih Batara Sang Hyang Hawu memacu kudanya dan langsung melompat turun di depan gerbang keraton yang benar-benar sepi. Dimasukinya keraton sambil berteriak memanggil-manggil nama ketiga patih lainnya. Namun hanya kesunyian yang di temui, keraton sudah kosong melompong.

Patih Batara Sang Hyang Hawu berlari keluar keraton, matanya liar mengawasi sekitar.

"Ada apa sebenarnya? Mengapa Gusti Prabu tidak ada di keraton?" batin Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Tiba-tiba telinganya yang tajam menangkap ada gerakan halus di belakangnya.

"Hmmm...ada pembokong rupanya" Patih Batara Sang Hyang Hawu mengalirkan tenaga dalam ke tangan kanannya. Lalu dengan cepat berbalik dan mengangkat tangannya bersiap melepaskan pukulan tangan kosong.

"Ampun Gusti Patih...ini hamba. Jangan pukul" ternyata dibelakangnya berdiri seorang laki-laki tua dengan janggut panjang yang memutih.

Patih Batara Sang Hyang Hawu segera menarik pukulannya setelah mengenali laki-laki tua tersebut.

"Aki Lodaya..apa yang terjadi?" Patih Batara bertanya kepada laki-laki tua tersebut yang ternyata adalah Aki Lodaya, orang kepercayaan Nyi Mas Gedeng Waru.

"Gusti Patih..semua penghuni keraton sudah mengungsi ke Dayeuh Luhur termasuk Gusti Prabu Geusan Ulun" jawab Aki Lodaya pelan.

"Mengungsi? Kenapa mengungsi? Rayi Kondang Hapa dimana?" Patih Batara Sang Hyang Hawu keheranan.

"Gusti Prabu mendapat kabar kalau Gusti Patih sudah gugur sehingga memutuskan untuk mengungsi dan bertahan di Dayeuh Luhur" lirih Aki Lodaya.

Patih Batara Sang Hyang Hawu melengak mendengar cerita dari Aki Lodaya. Amarahnya mulai naik.

"Siapa yang membawa kabar kematianku?" geram Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Hamba tidak tahu siapa pastinya yang membawa kabar tersebut. Hanya saja Gusti Patih Sang Hyang Kondang Hapa dan kedua Gusti Patih lainnya ikut ke Dayeuh Luhur" jawab Aki Lodaya.

"Keparat..." maki Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Aki Lodaya cepat ikuti aku.." sambungnya sambil bergegas menuju ke alun-alun.

Aki Lodaya mengikuti langkah Patih Batara Sang Hyang Hawu. Sampai di pojok alun-alun, amarah Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa meledak, melihat pohon hanjuang yang diwasiatkan kepada Prabu Geusan Ulun tumbuh dengan subur.

"Huuaaaaaa.....!!!" suaranya menggelegar menggetarkan alun-alun Kuta maya. Aki Lodaya hanya mendiamkan saja membiarkan Patih Batara Sang Hyang Hawu melampiaskan amarahnya.

Setelah beberapa saat bisa menenangkan diri, Patih Batara Sang Hyang Hawu mendekati Aki Lodaya.

"Aki Lodaya..temani aku menuju Dayeuh Luhur" ujarnya singkat.

"Baik Gusti Patih" Aki Lodaya mengerti yang dimaksud Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Lalu keduanya duduk bersila berdampingan dengan posisi semedi dan tidak berapa lama tiba-tiba tubuh keduanya menghilang dari pandangan.

===
Sementara di rumah peristirahatan Dayeuh Luhur, Prabu Geusan Ulun sedang membahas rencana pertahanan menghadapi kemungkinan serbuan prajurit Kesultanan Cirebon di salah satu ruangan.

"Braakkk...!!!"

Tiba-tiba pintu ruangan hancur berantakan diikuti oleh masuknya Patih Batara Sang Hyang Hawu dengan wajah yang merah padam oleh amarah diikuti oleh Aki Lodaya.

Prabu Geusan Ulun terkejut sekaligus senang melihat Patih andalannya ternyata masih hidup. Namun Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa, Patih Batara Pancar Buana dan Patih Batara Dipati Wiradijaya terlihat pucat pasi.

"Ah...Kakang Patih, ternyata kau masih hidup. Aku senang melihatmu" ujar Prabu Geusan Ulun sambil memburu ke arah Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Patih Batara Sang Hyang Hawu bergeming mendapat sambutan dari Prabu Geusan Ulun.

"Ampun Gusti Prabu..kenapa harus mengungsi seperti ini?" tanyanya dingin dengan mata berkilat menakutkan.

"Kakang Patih..aku menerima kabar kalau Kakang Patih telah gugur. Aku kehilangan orang kepercayaanku sehingga diputuskan untuk mengungsi ke Dayeuh Luhur" jawab Prabu Geusan Ulun.

Patih Batara Sang Hyang Hawu tambah muntab amarahnya.

"Apakah Gusti Prabu sudah melupakan wasiat hamba mengenai pohon hanjuang?" tanyanya bergetar.

Prabu Geusan Ulun melengak karena melupakan wasiat dari Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Maafkan Kakang Patih...aku kalut dan lupa" jawab Prabu Geusan Ulun parau.

Patih Batara Sang Hyang Hapa memandang tajam kepada Prabu Geusan Ulun dengan pandangan yang menggidikkan.

"Gusti Prabu, siapa yang memberi kabar tentang kematian hamba?" suara Patih Batara Sang Hyang Hawu bergetar menahan amarah.


"Aku mendapat kabar dari Kakang Patih Dipati Wiradijaya" jawab Prabu Geusan Ulun.

Patih Batara Sang Hyang Hawu berbalik ke arah Patih Dipati Wiradijaya.

"Ampun Kakang Patih...maafkan aku, aku sudah mencari Kakang Patih sampai ke perbatasan Maja tapi..." Patih Dipati Wiradijaya terbata-bata menjelaskan dengan suara bergetar ketakutan.

Patih Batara Sang Hyang Hawu mendekati Patih Batara Dipati Wiradijaya dengan sorot mata nyalang namun dihalangi oleh Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa dan Patih Batara Pancar Buana.

"Kakang Patih...sabar..sabar jangan terbawa emosi. Maafkan Rayi Dipati Wiradijaya...ini hanya kesalahpahaman" Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa mencoba menenangkan.

"Betul Kakang Patih...aku yakin tidak ada maksud jahat" Patih Batara Pancar Buana menimpali.

Patih Batara Sang Hyang Hawu menghentikan langkahnya, dipandanginya Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa dan Patih Batara Pancar Buana dengan sorot mata penuh kemarahan.

Tiba-tiba Patih Batara Sang Hyang Hawu bergerak secepat kilat mencengkram leher Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa dengan tangan kanannya sedang tangan kirinya mencengkram leher Patih Batara Pancar Buana yang berdiri dihadapannya.

"Grrrruaaaaaahh"

Patih Batara Sang Hyang Hawu menggeram dengan suara yang sangat keras menggetarkan seluruh rumah peristirahatan tersebut seolah mau runtuh. Sekali ayun Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa dan Patih Batara Pancar Buana dilemparkan ke atas membobol atap. Tubuh Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa dan Patih Batara Pancar Buana melayang jauh ke bawah bukit.

Semua yang berada di ruangan tercekat dan tidak berani bersuara, tidak menyangka Patih Batara Sang Hyang Hawu akan semurka itu. Amukan amarah Patih Batara Sang Hyang Hawu ternyata belum reda, dihampirinya Patih Batara Dipati Wiradijaya yang menggigil ketakutan.

"Ampuni aku..Kakang Patih..." Patih Batara Dipati Wiradijaya memelas.

"Hueekk..aakhh.." belum sempat menyelesaikan ucapannya Patih Batara Dipati Wiradijaya sudah terlebih dulu ambruk dengan pisau kecil menembus dadanya.

Prabu Geusan Ulun melengak kaget melihat semua yang terjadi begitu cepat. Sementara itu Ki Lodaya yang berdiri di pojok ruangan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Diusap-usap janggut panjangnya yang sudah memutih.

"Gusti Prabu..hamba dan ketiga adik hamba sudah berbakti dengan seluruh jiwa dan raga kami demi kejayaan Kerajaan Sumedang Larang. Tapi ternyata Gusti Prabu tidak pernah benar-benar percaya kepada hamba" Patih Batara Sang Hyang Hawu berlutut di hadapan Prabu Geusan Ulun.

"Ti mimiti denget ieu..ngaing baris ngecagkeun kaluuhan jeung kawajiban salaku Patih ka salira jeung ka Karajaan Sumedang Larang. Ti mimiti denget ieu..ngaing jeung sakabeh katurunan rek sumpah cadu mungkuk haram dempak lamun kudu ngawula ka menak. Kusabab geningan hade gawe teu kapake"

(Dari mulai saat ini..saya akan melepaskan jabatan dan kewajiban sebagai Patih kepada anda dan Kerajaan Sumedang Larang. Dari mulai saat ini...saya dan seluruh keturunan bersumpah tidak akan pernah mau mengabdi lagi kepada pejabat. Karena ternyata sudah bekerja bagus tapi tidak dihargai).

~TAMAT~