PELAMPIASAN DENDAM PATIH BATARA SANG HYANG HAWU




Menjelang petang iring-iringan sekitar seribu prajurit Kesultanan Cirebon dibawah komando Senapati Anggawirya yang dipandu oleh Arahan hampir tiba di tegalan tempat Setyaka membuat markas.

Senapati Anggawirya yang berkuda paling depan bersama Arahan tiba-tiba hatinya merasa tidak enak. Hidungnya yang tajam samar-samar mencium bau anyir darah yang terbawa angin.

"Setyaka...dimana lokasi yang kalian maksud, apakah masih jauh?" Senapati Anggawirya bertanya kepada Arahan.

"Kanjeng Senapati..sebentar lagi kita akan sampai" jawab Arahan sambil menunjuk arah tegalan yang dituju.

"Maksudmu di balik bukit ini, Arahan?" Senapati Anggawirya bertanya untuk meyakinkan.

"Betul Kanjeng Senapati" Arahan menjawab pendek.

"Ah...semoga Setyaka tidak salah memilih tempat" batin Senapati Anggawirya.

Senapati Anggawirya tiba-tiba mengangkat tangannya memberi tanda agar pasukan berhenti, matanya liar menyelidik ke arah rimbunnya hutan yang berada di samping kiri dan kanan mereka.

Telinga Senapati Anggawirya yang tajam menangkap suara gerakan yang sangat halus.

"Hmmm...rupanya ada yang mengawasi" batinnya cemas.

"Arahan...perintahkan semua pasukan berhenti dan waspada. Ada yang menyambut kedatangan kita" perintah Senapati Anggawirya kepada Arahan.

"Tapi Kanjeng Senapati...sebentar lagi kita akan sampai ke tegalan yang disiapkan oleh Setyaka. Lebih baik kita meneruskan perjalanan sambil tetap waspada" jawab Arahan mencoba memberi masukan kepada Senapati Anggawirya.

"Jangan bodoh Arahan...aku merasa kedatangan kita sudah diketahui musuh. Masuk ke tegalan menjelang gelap seperti ini hanya akan membuat kita jadi santapan empuk musuh" sanggah Senapati Anggawirya yang tetap waspada mengawasi keadaan sekitar.

"Kanjeng Senapati..bagaimana dengan Kakang Setyaka?" Arahan mengkhawatirkan keadaan Setyaka.

"Entahlah.. perasaanku mendadak tidak enak sepertinya kalian sudah berlaku ceroboh dan masuk perangkap musuh" Senapati Anggawirya yang sudah sangat berpengalaman dalam berbagai peperangan bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

"Arahan lebih baik kita beristirahat dan bermalam disini, lebatnya pepohonan akan melindungi pasukan kita dari serangan terbuka. Minta semua Patih Jero agar mengatur pasukannya dan tetap waspada" ujar Senapati Anggawirya sambil melompat turun dari punggung kudanya.

Sementara itu di balik lebatnya pepohonan di atas sebuah pohon beringin yang besar dan sangat rimbun, dua pasang mata mengawasi dengan seksama ke arah pasukan Kesultanan Cirebon yang sedang mengatur tempat dan penjagaan untuk beristirahat.

"Hmm...lumayan juga Senapati Anggawirya itu" ujar salah seorang dari mereka yang ternyata adalah Patih Batara Pancar Buana kepada Patih Batara Sang Hyang Hawu yang berada tidak jauh darinya.

"Dia adalah Senapati yang memimpin pasukan Kesultanan Cirebon membantu pasukan Kesultanan Banten menyerang Kerajaan Pajajaran" geram Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Kali ini...aku sendiri yang akan memenggal kepala dan meminum darahnya" sambungnya dengan suara bergetar.

"Selanjutnya apa yang kita lakukan Kakang Patih? Sepertinya kita tidak bisa menyerang mereka di tempat seperti ini" Patih Batara Pancar Buana bertanya.

"Betul Rayi...prajurit kita kalah pengalaman dan juga jumlah. Lebih baik kita tunggu sampai besok hari" jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Aku akan kembali ke tempat Rayi Kondang Hapa dan Rayi Dipati Wiradijaya untuk mengatur strategi besok pagi. Kau tetap awasi mereka, jika ada yang mencurigakan segera beri tanda" sambungnya kepada Patih Batara Pancar Buana.

===
Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #14

Matahari masih malu-malu muncul di ufuk timur, pasukan Kesultanan Cirebon sudah bersiap dalam barisan menunggu perintah dari Senapati Anggawirya.

Sementara itu Senapati Anggawirya terlihat sedang berdiskusi serius dengan Arahan dan dua oran Patih Jero yaitu Patih Jero Prana dan Path Jero Ramidin.

"Aku sangat khawatir dengan nasib Setyaka dan pasukannya" ujar Senapati Anggawirya sambil menghela nafas panjang.

"Betul Kanjeng Senapati, seharusnya Kakang Setyaka mencari tahu kenapa pasukan kita tidak kunjung tiba ke tegalan" Arahan menimpali sambil mengusap wajahnya yang terlihat pucat.

"Sudah terjadi sesuatu yang tidak harapkan kepada Setyaka dan pasukannya...aku yakin" ujar Patih Jero Prana sambil mengusap-ngusap janggut panjangnya.

"Aku juga mempunyai pikiran yang sama denganmu Kakang Patih" gumam Senapati Anggawirya.

"Sekarang apa langkah kita selanjutnya Rayi Senapati?" Patih Jero Ramidin yang sejak tadi diam saja.

"Hmmm...kita lanjutkan perjalanan dengan kewaspadaan penuh dan tetap dalam satu kelompok. Jangan sampai pasukan kita terpisah-pisah untuk menyulitkan musuh menyerang kita" Senapati Anggawirya memutuskan. Sebagai Senapati yang sangat berpengalaman bertempur melawan pasukan Pajajaran, dia terlihat sangat berhati-hati dalam bertindak.

Setelah mendapat perintah dari Senapati Anggawirya, pasukan Kesultanan Cirebon mulai bergerak melanjutkan perjalanannya menuju Kerajaan Sumedang Larang.

"Kanjeng Senapati, itu tegalan yang kita tuju!" Arahan dengan menunjuk ke arah kanan ke sebuah tegalan yang sangat luas.

"Tapi kemana Kakang Setyaka dan pasukannya?" sambungnya pelan.

Senapati Anggawirya segera menarik kekang kudanya dan memberi tanda agar pasukan menghentikan langkahnya.

"Arahan...apakah kau yakin?" tanya Senapati Anggawirya kepada Arahan.

"Kanjeng Senapati..hamba sangat yakin, lihat itu ilalang yang kami babat kemarin" ujar Arahan sambil menunjuk tumpukan ilalang yang terlihat masih baru.

Patih Jero Ramidin dan Patih Jero Prana mengedarkan pandangannya ke seluruh wilayah tersebut.

"Celaka...celaka...mengapa Setyaka seceroboh ini" seru Patih Jero Ramidin.

"Lihat Rayi Senapati...posisi tegalan berada persis di bawah bukit, itu sama saja dengan minta dibantai musuh" sambungnya sambil menunjuk ke arah bukit di sebelah kiri mereka.

Sementara itu Patih Jero Prana segera melompat dari punggung kudanya lalu berjalan menghampiri tegalan tersebut. Di ujung tegalan Patih Jero Prana berjongkok dan mengusap rumput dengan ujung jarinya lalu diciumnya.

"Darah...amis darah" desisnya sambil bergegas kembali ke rombongan dan melompat kembali ke atas punggung kudanya.

"Bagaimana Kakang Patih Jero Prana?" Senapati Anggawirya bertanya.

"Rayi Senapati...di atas rumput itu sudah tumpah darah pasukan kita. Aku yakin Setyaka dan pasukannya telah terbunuh" ujar Patih Jero Prana pelan.

Baru saja Patih Jero Prana menyelesaikan ucapannya tiba-tiba terdengar suara yang sangat menggelegar.

"Serang...habisi mereka!!!" diikuti oleh ratusan tombak yang meluncur deras ke arah mereka dari arah bukit di sebelah kiri pasukan Kesultanan Cirebon.

Senapati Anggawirya melengak kaget menerima serangan yang tiba-tiba tersebut. Pasukan Kesultanan Cirebon segera membuat formasi bertahan untuk melindungi diri dari serangan tombak terbang tersebut.

"Kakang Patih Jero...segera atur pasukan, terpaksa kita harus bertahan di tegalan itu" teriak Senapati Anggawirya sambil mencabut goloknya untuk menangkis sebuah tombak yang meluncur deras ke dadanya.

Beberapa puluh prajurit Kesultanan Cirebon terkapar terkena serangan tombak tersebut.

"Tarik yang terluka ke arah tegalan dan buat formasi menyerang. Musuh kita bersembunyi di bukit itu" teriak Patih Jero Prana sambil mengacungkan goloknya ke arah bukit.

"Arahan..bawa pasukanmu ke bukit itu dan bunuh mereka semua!!!" perintah Senapati Anggawirya gusar mendapat serangan tak terduga tersebut.

Arahan memberi kode kepada pasukan berkuda yang berada paling depan untuk mengikutinya. Dipimpin oleh Arahan, sekitar seratus prajurit berkuda melesat ke arah bukit.

Baru saja pasukan Arahan lenyap di balik lebatnya pepohonan, tiba-tiba dari ujung paling belakang iring-iringan pasukan Kesultanan Cirebon terdengar kegaduhan. Jerit kematian dan teriakan-teriakan memaki terdengar.

"Kakang Patih apa yang terjadi?" Senapati Anggawirya bertanya kepada Patih Jero Ramidin. Patih Jero Ramidin segera memacu kudanya menuju ke ujung belakang iring-iringan pasukan mereka tanpa sempat menjawab pertanyaan Senapati Anggawirya.

Patih Jero Ramidin terkejut bukan kepalang melihat puluhan prajuritnya bergeletakan bergelimang darah.

"Ada apa ini?" teriaknya gusar melihat pasukannya yang tercerai berai sambil melompat turun dari atas kudanya.

Ditariknya salah satu prajurit yang berada di baris belakang yang terlihat pucat dan ketakutan.

"Kau jelaskan apa yang terjadi?" bentaknya.

"Ampun Kanjeng Patih...hamba tidak tahu siapa yang menyerang. Hanya..." jawabnya terputus-putus.

"Hanya apa..jawab..hanya apa?" Patih Jero Ramidin tidak sabar mencengkram leher prajurit tersebut.

"Hanya....terlihat bayangan goloknynya saja menyambar....lalu menghilang...seperti malaikat maut" jawabnya ketakutan.

"Sialan..mana ada ada malaikat maut bawa golok. Dasar pengecut!" dengusnya sambil mendorong prajurit itu sampai terjatuh.

"Semuanya segera bergerak maju dalam posisi siaga ikuti pasukan di depan kalian" teriak Patih Jero Ramidin memerintahkan pasukan agar tetap bergerak maju.

"Kenapa urusan menjadi kapiran seperti ini? Terjebak seperti ini hanya akan menjadi santapan bagi mereka" batin Patih Jero Ramidin sambil berjaga-jaga mengantisipasi serangan susulan.

==

Pasukan berkuda yang dipimpin Arahan melaju dengan kecepatan penuh mulai mendaki bukit. Terlihat oleh Arahan di depan beberapa orang berloncatan dari atas pohon lalu berlarian ke bagian atas bukit.

"Bajingan pengecut...aku tidak akan melepaskan kalian" batin Arahan sambil terus memacu kudanya.

Medan yang terus mendaki menyulitkan kuda-kuda mereka yang mulai kelelahan. Arahan yang sudah diamuk amarah dan dendam akhirnya melompat dari atas kudanya dan memberi kode agar semua pasukannya turun dari kuda.

"Kita berjalan kaki saja, sepertinya mereka bersembunyi di puncak bukit" teriak Arahan kepada pasukannya.

Baru saja mereka berjalan mendaki sekitar 100 deupa tiba-tiba terdengar erangan orang kesakitan.

"Tahan...aku mendengar suara" ujar Arahan meminta pasukannya menghentikan langkah.

"Lihat...lihat...!!" salah seorang dari prajuirit berteriak sambil menunjuk-nunjuk arah rumpun ilalang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

Arahan dan pasukannya mengalihkan pandangan mengikuti arah telunjuk prajurit tersebut dan...semua melengak ngeri dan membuang muka. Di atas rumpun ilalang tersebut tergantung manusia dengan posisi kaki ke atas dan kepala ke bawah diikat di dahan pohon yang cukup tinggi. Luka besar di lehernya mengucurkan darah segar ke atas rumpun ilalang, terdengar erangan dan suara ngorok seperti kerbau yang digorok.

"Kakang Setyaka...biadab...kejam sekali" batin Arahan yang mengenali orang yang tergantung tersebut adalah Setyaka. Hatinya mulai goyah dan perasaannya mulai tidak enak, rasanya seperti diawasi oleh ratusan pasang mata.

"Formasi bertahan dan awasi sekitar...jangan sampai lengah. Kita segera turun bergabung dengan pasukan utama" Arahan memberikan perintah kepada pasukannya dengan suara yang bergetar.

===

"Rayi Senapati...sepertinya musuh kita bersembunyi di atas bukit itu. Lebih baik kita serang dan hancurkan mereka sekarang" ujar Patih Jero Prana kepada Senapati Anggawirya.

"Jangan gegabah Kakang Patih...aku merasa mereka tidak hanya ada di bukit itu saja. Mereka menyebar untuk memancing kita agar terpecah" jawab Senapati Anggawirya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tegalan.

"Arahan dan pasukannya belum kembali, aku khawatir dengan nasib mereka" sambungnya dengan wajah yang cemas.

"Rayi Senapati seharusnya tidak menyuruh Arahan dan pasukannya mengejar ke bukit, sama saja bunuh diri" Patih Jero Radimin menimpali seperti menyalahkan keputusan Senapati Anggawirya.

Tiba-tiba dari arah bukit terdengar derap dan ringkik suara kuda mengarah ke arah tegalan.

"Ah...Arahan sepertinya sudah kembali" pekik Patih Jero Prana kegirangan.

Namun pekik kegirangan itu berubah karena yang menunggangi kuda-kuda tersebut semuanya berpakaian prajurit Kerajaan Sumedang Larang. Senapati Anggawirya segera memberi aba-aba agar seluruh pasukan bersiap.

"Posisi siap menyerang...!!!" teriak Senapati Anggawirya sambil melompat ke atas kudanya diikuti oleh kedua Patih Jero.

Pasukan berkuda berjumlah sekitar limapuluh orang yang mengenakan pakaian prajurit Sumedang Larang tersebut tiba-tiba berhenti sekitar seratus deupa dari pasukan Kesultanan Cirebon dan mengambil posisi siap tempur. Salah seorang dari mereka memacu kudanya menghampiri Senapati Anggawirya yang berada paling depan dari pasukan Kesultanan Cirebon.

Ternyata orang tersebut adalah Patih Batara Pancar Buana yang dengan tenang meghentikan kudanya tepat di depan Senapati Anggawirya.

"Ha..ha..ha...aku tidak menyangka Kesultanan Cirebon akan secepat ini membalas kunjungan kami. Kalau saja kalian memberi kabar pasti akan kami sambut dengan meriah" ujar Patih Batara Pancar Buana meledek.

"Patih Batara Pancar Buana, aku bersama dengan pasukanku bukan bermaksud untuk berkunjung. Aku hendak mengambil kembali Ratu Harisbaya yang dengan keji sudah kalian culik" Senapati Anggawirya yang mengenali Patih Batara Pancar Buana mencoba tetap tenang.

"Rupanya kau masih ingat namaku....Senapati Runggawura" Patih Batara Pancar Buana sengaja merubah nama nama Senapati Anggawirya untuk meledeknya.

"Namaku Senapati Anggawirya!" Senapati Anggawirya meradang.

"Ha..ha..ha..tidak penting siapa namamu Senapati! Aku tidak tahu dan tidak mau tahu dengan Ratu yang hilang" ujar Patih Batara Pancar Buana.

"Jangan bersilat lidah bajingan...cepat serahkan kembali Ratu Harisbaya atau kami akan hancurkan Kerajaan Sumedang Larang!!!" bentak Patih Jero Prana tidak sabaran melihat Senapati Anggawirya direndahkan seperti itu.

"Bicara kalian setinggi langit tapi mengurus seorang perempuan saja tidak mampu...hehe" Patih Batara Pancar Buana terkekeh.

"Rayi Senapati...tunggu apa lagi habisi mereka segera!" geram Patih Jero Radimin berbisik kepada Senapati Anggawirya.

"Sabar Kakang Patih...aku harus memastikan nasib Setyaka dan Arahan" balas Senapati Anggawirya.

"Patih Batara Pancar Buana...kami dari Kesultanan Cirebon tidak pernah bermaksud untuk bermusuhan dengan Kerajaan Sumedang Larang, apalagi Kanjeng Sultan masih ada hubungan kerabat dengan Prabu Geusan Ulun" Senapati Anggawirya masih mengusahakan jalan perdamaian. 

"Oleh karena itu untuk menghindari pertumpahan darah yang tidak perlu..kami minta agar Prabu Geusan Ulun sendiri mengantarkan Ratu Harisbaya dan memohon ampun kepada Kanjeng Sultan" sambungnya.

"Ah...aku suka sekali dengan omong kosongmu Senapati, tapi lebih baik aku kasih tahu dua hal kepadamu" Patih Batara Pancar Buana tersenyum simpul.

"Yang pertama...kami Kerajaan Sumedang Larang tidak ada urusan dengan hilangnya ratu kalian dan yang kedua...lebih baik kalian kembali ke Kesultanan Cirebon dan sampaikan oleh-oleh dari kami" sambung Patih Batara Pancar Buana lalu memberi tanda kepada salah satu prajurit Sumedang Larang agar mendekat.

Prajurit tersebut menyerahkan dua bungkusan dari dedaunan lalu kembali mundur bergabung dengan pasukannya.

"Sampaikan ini kepada Sultan mu.." teriak Patih Batara Pancar Buana sambil melemparkan kedua bungkusan tersebut ke arah Senapati Anggawirya dan Patih Jero Prana.

Dengan sigap keduanya menyambut bungkusan tersebut.

"Bangsat...biadab!!" Patih Jero Prana melepaskan bungkusan yang diterimanya setelah dilihat bahwa yang dibungkus adalah kepala Setyaka.

"Kalian akan membayar semua penghinaan dan kekejaman yang kalian lakukan!!!" suara Senapati Anggawirya menggelegar sambil membuang bungkusan yang ternyata berisi kepala Arahan.

"Hua..ha..ha...tidak akan kuizinkan seorangpun meninggalkan tegalan ini kecuali mau menyerahkan kepalanya" teriak Patih Batara Pancar Buana sambil menghunus goloknya lalu memacu kudanya ke arah Senapati Anggawirya diikuti oleh sekitar limapuluh parajurit berkudanya.

Senapati Anggawirya segera memerintahkan Patih Jero Prana agar menyambut serangan tersebut.

"Kakang Patih Jero Prana..pimpin pasukan dan hancurkan mereka! Kakang Patih Jero Radimin segera ke posisi belakang atur pasukan jangan sampai mereka membokong kita" perintahnya sambil menarik kekang kudanya menyambut Patih Batara Pancar Buana.

Belum kering bibir Senapati Anggawirya tiba-tiba ratusan prajurit Sumedang Larang yang dipimpin oleh Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa dan Patih Batara Dipati Wiradijaya muncul dari lebatnya hutan dan ilalang di sebelah kiri dan kanan pasukan  Kesultanan Cirebon.

Perang besarpun pecah...sekitar delapan ratus prajurit Kesultanan Cirebon diserang oleh tiga ratus prajurit Kerajaan Sumedang Larang dari tiga arah mata angin. Walaupun mereka menang jumlah namun di serang secara tiba-tiba dari ketiga arah membuat mereka cukup kerepotan. Belum lagi ketiga patih Sumedang Larang yang bertempur dengan mengerahkan seluruh kesaktiannya membuat korban banyak berjatuhan ditangan mereka.

"Kakang Patih Jero Radimin...kau hadang di serangan dari sebelah kiri!! Aku akan mengahadang di sebelah kanan!" teriak Senapati Anggawirya memberi perintah.

Tiba-tiba di bagian belakang pasukan Kesultanan Cirebon terjadi kekacauan, pasukan tercerai berai.

"Bangsat apalagi ini?" rutuk Senapati Anggawirya memacu kudanya menuju ke pasukan paling belakang.

"Patih Batara Sang Hyang Hawu..!" desisnya.

===

Sementara itu di bagian depan Patih Batara Pancar Buana mengamuk, goloknya yang sudah bermandikan darah berputar-putar mengincar nyawa pasukan Kesultanan Cirebon. Patih Jero Prana segera memacu kudanya ke arah Patih Batara Pancar Buana dan melemparkan tombak yang diambilnya dari salah satu prajurit yang gugur.


"Wussss....!!" tombak itu meluncur deras ke arah punggung Patih Batara Pancar Buana.

"Pembokong...tak tahu malu" teriak Patih Batara Pancar Buana sambil melompat ke atas menghindar. Patih Batara Pancar Buana bersalto di udara lalu mendarat di atas tanah sambil tersenyum menghina ke arah Patih Jero Prana.

"Luar biasa..dia masih bisa menghindar" desis Patih Jero Prana sambil melompat turun dari atas kudanya.

"Hmmm...kau punya nyali juga untuk berhadapan satu lawan satu!" ujar Patih Batara Pancar Buana melihat Patih Jero Prana melompat ke arahnya.

"Jangan banyak bicara...penculik hina!!! Aku akan memenggal kepalamu!!!" pekik Patih Jero Prana sambil mengayunkan goloknya ke arah leher Patih Batara Pancar Buana.

Pertarungan antara kedua patih Kerajaan Sumedang Larang dan Kesultanan Cirebon pun pecah. Berpuluh jurus mereka saling serang namun semakin lama terlihat bahwa Patih Jero Prana mulai keteteran. Setiap golok mereka beradu, Patih Jero Prana terlihat meringis menahan sakit.

"Sialan..tenaga dalamnya sangat tinggi" batin Patih Jero Prana sambil berkelit menghindari serangan golok Patih Batara Pancar Buana.

Patih Batara Pancar Buana tidak mau berlama-lama rupanya, dialirkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanan dan golok yang dipegangnya perlahan-lahan mulai mengeluarkan asap tipis. Goloknya berubah warna menjadi merah membara, menggidikkan!

Melihat golok Patih Batara Pancar Buana yang berubah menjadi merah membara, Patih Jero Prana tidak kalah cepat segera mengerahkan ajian "kokod weusi", kedua tangannya dari sebatas siku mulai menghitam dan mengeluarkan asap tipis. 

Dengan buas Patih Batara Pancar Buana menerjang Patih Jero Prana, goloknya berputar yang terlihat hanya bayangannya.

"Trang..trang..." beberapa kali sabetan golok Patih Batara Pancar Buana ditangkis oleh tangan Patih Jero Prana yang telah berubah menjadi sekeras besi.

Bahkan beberapa kali tangan Patih Jero Prana hampir menghantam dada dan pinggang Patih Batara Pancar Buana.

"Buukk..egh" Patih Batara Pancar Buana terjajar ke belakang, bahunya kena hantam tangan Patih Jero Prana.

Terasa ngilu dan panas.

"Ha...ha..ha...sebatas itu saja kah kesaktian Patih Sumedang Larang?? Ah...bikin malu Pajajaran saja" sengak Patih Jero Prana sambil mengusap-ngusap tangannya yang berwarna kehitaman dan mengeluarkan asap tipis.

Patih Batara Pancar Buana mengatur nafas dan mengalirkan tenaga dalam ke bagian yang terkena pukulan.

"Hmmm..boleh juga..tapi jangan senang dulu, aku belum mengeluarkan semua kesaktianku" Patih Batara Pancar Buana sambil tersenyum sinis.

Patih Batara Pancar Buana merenggangkan kedua kakinya, tangan kanannya mengepal sementara tangan kirinya diangkat di depan dadanya seperti orang menyembah. Sekujur tubuhnya diselimuti oleh asap tipis.

"Ah..celaka, apakah ini ajian "tapak pandita" yang terkenal itu?" batin Patih Jero Prana mengenali ilmu yang akan dikeluarkan oleh Patih Batara Pancar Buana.

Patih Jero Prana segera menggandakan tenaga dalamnya, kedua tangannya bertambah kelam dengan asap yang semakin tebal. Bersiap menyambut serangan ajian "Tapak Pandita" dari Patih Batara Pancar Buana.

Dengan teriakan yang melengking setinggi langit, Patih Batara Pancar Buana menghantamkan tangan kanannya ke depan. Seberkas cahaya merah berkelebat menuju ke arah Patih Jero Prana. 

Patih Jero Prana tidak tinggal diam, dengan seluruh tenaga dalamnya menghantam menyambut sinar merah yang menggebu ke arahnya. Kedua tenaga pukulan itu bertemu ditengah-tengah dan menimbulkan dentuman yang luar biasa keras. Hempasan pertemuan kedua pukulan tersebut menghantam prajurit-prajurit yang sedang bertempur di sekitarnya. Beberapa prajurit dari Kesultanan Cirebon dan Kerajaan Sumedang Larang terhempas dengan tubuh gosong.

Sementara itu Patih Jero Prana terpental beberapa deupa dengan dada yang berdenyut sakit. Dicobanya untuk bangkit tapi..

"Huokkss..huokss..." darah segar menyembur dari mulutnya lalu ambruk tidak berkutik.

Patih Batara Pancar Buana mengatur aliran darahnya yang kacau akibat benturan dengan ajian "Kokod Weusi" milik Patih Jero Prana. Kedua kakinya amblas sebatas mata kaki. Untung tenaga dalamnya jauh di atas Patih Jero Prana sehingga dia bisa selamat.

Prajurit Kerajaan Sumedang Larang yang melihat tumbangnya salah satu perwira dari pihak Kesultanan Cirebon, terbakar semangatnya dan mulai mendesak musuhnya.

===

"Tidak bisa dibiarkan, bisa habis seluruh prajuritku" batin Senapati Anggawirya melihat pasukannya diobrak-abrik oleh Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang cukup tinggi, Senapati Anggawirya melentingkan tubuhnya dari atas punggung kudanya. Melayang dengan enteng melewati barisan prajurit yang menghalanginya dan langsung menyerang Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Hiyaaa...." lengkingnya sambil membabatkan goloknya ke arah leher Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Angin yang menderu menyertai sabetan golok Senapati Anggawirya ternyata telah terasa oleh Patih Batara Sang Hyang Hawu. Dengan sebat Patih Batara Sang Hyang Hawu menarik tangan salah satu prajurit Kesultanan Cirebon yang ada di dekatnya. Sambil menjatuhkan diri diangkatnya tubuh prajurit tersebut memapaki golok Senapati Anggawirya.

"Crasss..." prajurit tersebut menjerit setinggi langit, perutnya robek besar mengeluarkan seluruh isi perutnya.

Patih Batara Sang Hyang Hawu berguling dengan cepat dan segera bangkit.

"Haladah...Senapati Kesultanan Cirebon ternyata bisanya hanya membokong seperti pengecut" seringainya denga nada merendahkan.

"Cuiiiihhhh....aku tidak perlu segala peradatan untuk membunuh penculik terkutuk seperti kalian!!!" Senapati Anggawirya meradang sambil membuang ludah.

"Ah...kalian terlalu gampang menyalahkan orang lain. Apakah kau sudah yakin dan ada bukti atas semua tuduhanmu?" Patih Batara Sang Hyang Hawu dengan tenang lalu menjilat darah yang mengucur dari ujung goloknya. Senapati Anggawirya diam-diam bergidik melihatnya. Kemudian Patih Batara Sang Hyang Hawu menyarungkan goloknya yang masih berlumuran darah.

"Patih Batara...aku tidak mau berpanjang-panjang cerita!!! Perang sudah pecah...tidak akan lagi ada perdamaian di antara Sumedang Larang dan Cirebon. Aku sendiri yang akan membunuhmu!!!" seru Senapati Anggawirya.

"Aih...Senapati Anggawirya yang sangat terkenal gagah perkasa dan tiada ampun dalam peperangan melawan Pajajaran ternyata suka menggertak dan menuduh tanpa alasan!!!" Patih Batara Sang Hyang Hawu terkekeh.

"Aku seorang Kandaga Lante Kerajaan Pajajaran, hari ini bersumpah akan memenggal kepalamu dan minum darahmu" sambungnya, diam-diam dialirkan tenaga dalam ke kedua tangannya.

"Tepat dugaanku...peristiwa penculikan Ratu Harisbaya hanyalah kedok. Tujuan mereka sebenarnya adalah melakukan balas dendam atas hancurnya Kerajaan Pajajaran" batin Senapati Anggawirya. 

Melihat Patih Batara Sang Hyang Hawu tidak menjawab, direntangkan kedua kakinya. Tangannya mengembang bagaikan sayap burung. Kesepuluh jarinya berubah warna menjadi hitam legam.

"Hmmm...Ajian Golejra Nyawang, sudah lama aku mendengar ilmu ini, rupanya kau berguru sampai jauh ke kidul...Senapati" seru Patih Batara Sang Hyang Hawu mengenali ajian yang akan dikeluarkan oleh Senapati Anggawirya sebagai ilmu yang berasal dari wilayah kidul.

Senapati Anggawirya melengak mendengar Patih Batara Sang Hyang Hawu mengenali ajian andalannya. Namun ditindih kuat-kuat rasa terkejutnya. 

Didahului dengan bentakan yang sangat keras, Senapati Anggawirya sebat melayang ke arah Patih Batara Sang Hyang Hawu. Kedua tangannya yang berwarna hitam legam berusaha mencengkram ke arah leher disertai dengan siuran angin yang dingin menggidikkan.

"Ajian mainan anak kemarin sore kau pertontonkan di hadapanku!!!" teriak Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil mendorongkan kedua tangannya ke depan. Selarik angin berhawa panas seketika menyebar.

Tubuh Senapati Anggawirya yang sedang melayang seolah tertahan tidak bisa meneruskan serangannya. Dilipatgandakan tenaga dalamnya untuk menerobos angin panas tersebut. 

"Celaka...ilmunya sangat tinggi dan jahat. Aku tidak bisa menerobosnya" batin Senapati Anggawirya. Dipaksanya denga seluruh tenaga dalamnya. Patih Batara Sang Hyang Hawu terlihat mulai terdorong mundur.

"Aku tidak boleh main-main lagi, Senapati ini lumayan juga" batin Patih Batara Sang Hyang Hawu. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya didorong kedua tangannya.

Sesaat beradunya kedua ilmu tingkat tinggi yang disertai oleh pengerahan tenaga dalam itu sepertinya seimbang. Namun dengan diawali suara bentakan yang sangat keras Patih Batara Sang Hyang Hawu melesat menghantam Senapati Anggawirya yang masih melayang di udara.

"Dhuar...." dentuman yang sangat keras terjadi. Hempasan energi yang sangat besar menghantam prajurit-prajurit yang berada di sekitar mereka.

Kedua tangan Senapati Anggawirya beradu dengan kedua tangan Patih Batara Sang Hyang Hawu. Senapati Anggawirya terlempar jauh lalu bangkit sambil memegangi dadanya, kedua tangannya terlihat merah terbakar. Sementara Patih Batara Sang Hyang Hawu terkekeh melihatnya.

"He..he...Senapati Anggawirya..Senapati Anggawirya, ternyata nama besarmu hanyalah pepesan kosong!!!" seru Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Senapati Anggawirya tidak menjawab, diatur nafas dan aliran darahnya yang kacau akibat benturan tenaga dalam dengan Patih Batara Sang Hyang Hawu. Sementara dilihatnya pasukan Kesultanan Cirebon mulai tercerai berai karena amukan Patih Batara Pancar Buana yang telah berhasil membunuh Path Jero Prana.

"Celaka..celaka...sepertinya pasukanku sudah kocar-kacir. Aku harus segera minta bantuan Kakang Patih Aryatedja" batin Senapati Anggawirya sambil menahan sakit.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #7