LEMBAH KEMATIAN


Matahari masih malu-malu muncul di ufuk timur berwarna jingga menyinari bumi Sumedang Larang.

"Enin apa yang terjadi? Aku mendengar suara orang yang berlarian" Permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru yang sejak dua hari yang lalu jatuh sakit bertanya dengan suara parau kepada Emban tua yang baru saja masuk kamar mengantarkan makanan untuknya..

Permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru adalah putri salah satu raja bawahan Pajajaran yaitu Pangeran Sunan Arya Pada yang konon masih mempunyai garis keturunan dari Prabu Surya Kancana. (Mungkin) hal ini juga lah yang membuat Prabu Surya Kancana memutuskan untuk mengamanatkan estafet kekuasaan Kerajaan Pajajaran kepada Kerajaan Sumedang Larang.

Permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru dibesarkan di sebuah kerajaan kecil di selatan Kerajaan Sumedang Larang bersama kedua saudara laki-lakinya yaitu Raden Keling Sokawayana (Pangeran Bangsit) dan Pangeran Rajakusumah. Sejak kecil sudah diurus oleh Enin (emban) dan Aki Lodaya (suaminya Enin) dan sampai Permasiuri Nyi Mas Gedeng Waru menikah, kedua orang kepercayaan itu selalu mendampingi.

Enin tidak segera menjawab pertanyaan Permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru tapi malahan menyimpan nampan berisi makanan dan minuman di atas meja lalu menutup pintu kamar.

"Gusti Nyi Mas, lebih baik makan dulu. Jangan terlalu banyak pikiran, sayangi dirimu sendiri" tidak menghiraukan pertanyaan Permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru.

Permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru menghela nafas panjang lalu mencoba bangun dari tempat tidurnya di bantu oleh Enin. Dengan penuh kasih sayang seperti layaknya seorang ibu pada anaknya, begitulah Enin memperlakukan Nyi Mas Gedeng Waru begitu pula sebaliknya sudah seperti pada ibunya sendiri.

Dipapahnya Permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru untuk duduk di atas kursi lalu dengan sedikit memaksa, Enin menyuapinya.

"Sudah..sudah..Enin, aku sudah kenyang" ujar Permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku masih penasaran, apa yang sebenarnya terjadi? Enin jangan menutup-nutupi" sambungnya mendesak Enin untuk menceritakan kejadian yang terjadi di Keraton Sumedang Larang.

Enin menarik nafas panjang lalu membuangnya seolah ingin melepaskan beban yang sangat berat.

"Gusti Nyi Mas, sebenarnya Enin sudah diwanti-wanti oleh Gusti Prabu untuk tidak menceritakan hal ini" ujar Enin dengan suara yang parau.

"Enin, lekas ceritakan semuanya, Sejak tadi malam perasaaanku sudah tidak enak" Permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru mendesak.

"Baiklah Gusti Nyi Mas......" Enin kembali menghela nafas panjang.

"Tadi malam salah satu telik sandi kerajaan yang bertugas di Talaga melaporkan ada iring-iringan prajurit Kesultanan Cirebon yang sedang menuju kemari" sambung Enin.

"Sudah aku duga hal ini akan terjadi..tapi tidak dinyana akan secepat ini" gumam Permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru.

"Aku khawatir sesuatu yang sangat buruk akan menimpa kita semua...." sambungnya tapi ucapannya terputus, tatapan matanya kosong seperti menerawang ke masa depan.

"Gusti Nyi Mas...eling..eling...jangan berfikir yang tidak baik" Enin merasa ketakutan melihat junjungannya seperti itu lalu mengguncangkan tangan Nyi Mas Gedeng Waru.

"Enin..aku ingin bertemu dengan anak-anakku" ujar Permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru dengan mata berkaca-kaca.
===

Sementara itu di ruang balariung tertutup di Keraton Kerajaan Sumedang Larang suasana terasa mencekam. Prabu Geusan Ulun dengan wajah pucat beberapa kali mengusap wajahnya yang mulai basah oleh keringat dingin. Kabar mengenai sejumlah besar prajurit Kesultanan Cirebon yang mulai bergerak ke arah Kerajaan Sumedang Larang benar-benar mengejutkan.

Sementara itu di hadapannya duduk bersila enam orang petinggi Kerajaan Sumedang Larang, di bagian depan adalah empat orang patih kepercayaannya yaitu Patih Batara Sang Hyang Hawu, Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa, Patih Batara Pancar Buana dan Patih Batara Dipati Wiradijaya. Di baris kedua dibelakang ke empat patih tersebut duduk dua orang senapati pemimpin pasukan pengawal keraton dan pemimpin pasukan perang yaitu Sakuntala dan Jantaka.

"Kakang Patih Batara Sang Hyang Hawu....aku sudah mendengar tentang prajurit Kesultanan Cirebon. Apa yang sebenarnya terjadi?" Prabu Geusan Ulun meminta penjelasan kepada Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Setelah menghela nafas panjang Patih Batara Sang Hyang Hawu mulai menjelaskan apa yang terjadi.

"Ampun Gusti Prabu..menurut laporan telik sandi, ada sekitar seribu prajurit di bawah pimpinan Senapati Anggawirya sedang bergerak menuju kemari dan sebagian lagi bersiaga di perbatasan Maja"

Prabu Geusan Ulun melengak mendengar penjelasan dari Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Kenapa jadinya seperti ini Kakang Patih? Apa tujuan mereka mengirim pasukan kemari? Apakah Kakang Sultan Panembahan sudah tahu mengenai Harisbaya?"  bertubu-tubi Prabu Geusan Ulun bertanya.

"Ampun Gusti Prabu, sepertinya Kesultanan Cirebon memang sudah mengetahuinya" jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu pendek, dari nada suaranya jelas tidak senang dengan kepanikan yang ditunjukkan oleh Prabu Geusan Ulun.

Bagi Patih Batara Sang Hyang Hawu peristiwa ini sudah lama ditunggunya dan dianggap sebagai pembalasan atas keruntuhan Kerajaan Pajajaran oleh Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon.

"Kenapa urusan menjadi gawat seperti? Kakang Patih bukannya sudah mengatur semuanya supaya tidak diketahui oleh Kakang Sultan Panembahan" Prabu Geusan Ulun meradang seolah menyalahkan Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Mendengar Prabu Geusan Ulun yang seolah menyalahkan dirinya, Patih Batara Sang Hyang Hawu sedikit terpancing emosinya.

"Gusti Prabu jangan khawatir dan jangan mengotori tangan, urusan prajurit dari Kesultanan Cirebon biar hamba berempat yang menyelesaikan" ujarnya dingin.

"Rayi Kondang Hapa, Rayi Pancar Buana dan Rayi Dipati Wiradijaya...kalian segera siapkan prajurit dan perbekalan di alun-alun. Masing-masing pimpin seratus prajurit, hari ini juga kita berangkat menyambut prajurit Kesultanan Cirebon" sambungnya tegas memerintah ketiga patih lainnya.

"Kakang Patih apa rencanamu untuk menghadang laju prajurit Kesultanan Cirebon?" Pengeran Geusan Ulun bertanya.

"Ampun Gusti Prabu...hamba sendiri bersama ketiga patih yang lain akan memimpin pertempuran ini dan menghadang mereka di perbatasan" jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Jantaka akan memimpin lima ratus prajurit untuk bertahan di perbatasan Kuta Maya dan Sakuntala akan memimpin dua ratus prajurit untuk menjaga keraton dan keluarga kerajaan" sambungnya menjelaskan.

Setelah mendapat perintah dari Patih Batara Sang Hyang Hawu, ketiga patih dan dua senapati bergegas meninggalkan balariung untuk menjalankan tugasnya masing-masing.

Sekarang yang masih ada di ruang balariung hanya Prabu Geusan Ulun dan Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Kakang Patih...aku tidak menyangka masalahnya akan menjadi sebesar ini" ujar Prabu Geusan Ulun seperti menyesali apa yang sudah danakan terjadi.

"Gusti Prabu..tidak baik seorang raja menyesali keputusan yang sudah diambil. Hamba berjanji akan mengusir semua prajurit Kesultanan Cirebon dari tanah Sumedang Larang" jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu membesarkan hati Prabu Geusan Ulun.

Prabu Geusan Ulun bangkit dari duduknya lalu mengusap wajahnya sambil menarik nafas panjang.

"Kakang Patih...lebih dari seribu prajurit Kesultanan Cirebo menyerang kita, sanggupkah prajurit kita menghadapiny?" Prabu Geusan Ulun masih merasa khawatir.

"Gusti Prabu...hamba bersumpah akan mempertaruhkan nyawa hamba untuk tanah Sumedang Larang" jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu bergetar.

"Jiwa dan raga hamba sudah menyatu dengan tanah Sumedang Larang" sambungnya.

"Aku percaya pada kemampuan dan kesetiaanmu Kakang Patih, semoga kita bisa mengalahkan mereka" Prabu Geusan Ulun merasa lebih tenang.

Patih Batara Sang Hyang Hawu lalu bangkit dari duduknya lalu menjura kepada Prabu Geusan Ulun.

"Gusti Prabu..mohon ikuti hamba ke alun-alun, ada sesuatu yang hendak hamba tunjukkan" ujarnya meminta Prabu Geusan Ulun agar mengikutinya.

==

Prabu Geusan Ulun didampingi oleh Patih Batara Sang Hyang Hawu berjalan menuju alun-alun Kuta Maya. Terlihat kesibukan ratusan prajurit terpilih yang akan diberangkatkan menghadang pasukan Kesultanan Cirebon. Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa, Patih Batara Pancar Buana dan Patih Dipati Wiradijaya bergegas menghampiri mereka berdua.

"Ampun Gusti Prabu..Kakang Patih, pasukan sudah siap untuk diberangkatkan" ujar Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa sambil merangkapkan kedua tangannya.

"Terima kasih Kakang Kondang Hapa...semoga kalian bisa kembali dengan membawa kemenangan" ujar Prabu Geusan Ulun.

"Kalian silakan kembali ke pasukan..aku ada yang perlu dibicarakan dengan Gusti Prabu" Patih Batara Sang Hyang Hawu kepada ketiga patih lainnya lalu memberi tanda agar Prabu Geusan Ulun meneruskan langkahnya.

"Hendak menuju kemana Kakang Patih?" Prabu Geusan Ulun bertanya dengan suara yang pelan sambil meneruskan langkahnya melintasi alun-alun.

Patih Batara Sang Hyang Hawu hanya tersenyum lalu menghentikan langkahnya di pojok utara alun-alun Kuta Maya yang cukup rimbun dengan pepohonan hanjuang diikuti oleh Prabu Geusan Ulun yang masih tidak mengerti maksud dan tujuannya.

"Gusti Prabu...lihat pohon hanjuang ini" ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu kepada Prabu Geusan Ulun sambil menunjuk sebuah pohon hanjuang yang tumbuh subur di pojok alun-alun.

"Hamba akan menitipkan sebagian jiwa hamba di pohon hanjuang ini dan juga tanah yang ditumbuhinya. Jika hamba gugur di medan pertempuran maka pohon hanjuang ini akan kering dan mati" sambungnya sambil mengusap batang pohon hanjuang tersebut.

"Baiklah Kakang Patih...aku akan memperhatikan pohon hanjuang ini sebagai pertanda kemenangan pasukan kita" Patih Geusan Ulun menganggukkan kepalanya.

Patih Batara Sang Hyang Hawu berlutut lalu memegang pohon hanjuang tersebut dengan kedua tangannya, matanya terpejam dan bibirnya komat-kamit membaca mantra. Dari telapak tangan yang memegang erat pohon hanjuang tersebut mengepul asap tipis.

Beberapa saat kemudian Patih Batara Sang Hyang Hawu bangkit dari berlututnya lalu berbalik menghadap Prabu Geusan Ulun dan kembali berlutut.

"Gusti Prabu...cunduk waktu nu rahayu, ninggang mangsa nu sampurna, nitih wanci nu mustari pikeun bajuang ngabelaan lemah cai" ujarnya sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

"Kakang Patih..bral geura miang tandang makalangan pikeun nanjeurkeun kahormatan Karajaan Sumedang Larang" Prabu Geusan Ulun suaranya terdengar bergetar.

===

Sementara itu pasukan Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh Senapati Anggawirya didampingi oleh Setyaka bergerak sejak pagi memasuki wilayah Talaga menuju ke perbatasan Sumedang Larang.

Senapati Anggawirya yang berkuda di depan pasukan memberi kode kepada Setyaka yang berkuda tidak jauh dari dirinya untuk mendekat.

"Setyaka..kau bawa pasukan berkudamu untuk membuka jalan dan mengamati pergerakan musuh di depan dan amankan wilayah di perbatasan Sumedang Larang" perintah Senapati Anggawirya kepada Setyaka.

"Baik Kanjeng Senapati..hamba segera laksanakan" ujar Setyaka lalu memberi tanda kepada sekitar seratus prajurit berkuda yang dipimpinnya agar segera bergerak mendahului pasukan utama.

Setyaka diikuti oleh seratus prajurit berkuda melesat mendahului pasukan utama bermaksud untuk membuka jalan dan mengamankan perbatasan Sumedang Larang yang akan dijadikan markas pasukan utama Kesultanan Cirebon.

Menjelang tengah hari, Setyaka dan pasukannya memasuki wilayah berbukit yang menjadi perbatasan antara Sumedang Larang dengan Talaga. Setyaka bersama pasukannya beristirahat di sebuah tegalan yang cukup luas.

"Tegalan ini sepertinya cukup luas untuk menampung seribu orang prajurit" batin Setyaka sambil memberi tanda kepada pasukannya agar berhenti.

"Kita akan menunggu pasukan Kanjeng Senapati Anggawirya di sini" teriak Setyaka sambil melompat turun dari punggung kudanya.

"Badik..Arahan..cepat kalian kemari" Setyaka memanggil dua orang kepercayaannya agar mendekat.

Badik dan Arahan bergegas menghampiri Setyaka.

"Badik..kau bawa lima orang prajurit ke atas bukit itu untuk mengawasi jika ada pasukan Sumedang Larang yang datang ataupun pasukan Kanjeng Senapati Anggawirya" perintahnya kepada Badik sambil menunjuk sebuah bukit di timur tegalan tersebut.

"Arahan..kau bawa lima orang prajurit dan kembali ke pasukan utama. Sampaikan kepada Kanjeng Senapati Anggawirya bahwa di sepanjang perjalanan masih belum ada pergerakan pasukan Sumedang Larang dan arahkan mereka kemari" sambungnya kepada Arahan agar menjemput pasukan yang dipimpin oleh Senapati Anggawirya.

"Baik Kakang Setyaka..kami segera jalankan perintahmu" jawab Arahan diikuti oeh Badik lalu berbalik mengatur prajurit yang akan dibawa oleh mereka berdua.

Sepeninggal Badik yang membawa dua puluh lima prajurit menuju ke atas bukit dan Arahan  bersama lima orang prajurit yang kembali untuk mengarahkan pasukan Senapati Anggawirya, Setyaka memerintahkan sebagian prajurit yang tersisa untuk membabat dan merapikan tegalan tersebut untuk dijadikan markas.

"Sepertinya pasukan Sumedang Larang tidak punya nyali untuk berperang bahkan perbatasannya pun dibiarkan terbuka. Ayahanda..aku berjanji akan membalaskan kematianmu dengan tanganku sendiri" batin Setyaka sambil mengepalkan tangannya. Dendam atas terbunuhnya Ki Demang Ranggajati membuat Setyaka sangat menantikan pertempuran ini sebagai ajang balas dendam.

Namun dendam dan amarah telah membuat Setyaka lengah dan berlaku sembrono. Menempatkan prajurit di tegalan yang berada di bawah sebuah bukit di wilayah musuh adalah sebuah kesalahan fatal yang harus ditebus mahal.

Tanpa sepengetahuan Setyaka dan pasukannya, dari puncak bukit empat pasang mata mengamati pergerakan pasukan Kesultanan Cirebon. Mereka adalah Patih Batara Sang Hyang Hawu, Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa, Patih Batara Pancar Buana dan Patih Batara Dipati Wiradijaya yang ternyata sudah terlebih dahulu sampai ke tempat tersebut. Dan juga ratusan pasang mata pasukan Kerajaan Sumedang Larang yang sudah mengepung tegalan tersebut jauh sebelum pasukan Setyaka tiba.

"Kakang Patih...perhitunganmu tepat, pasukan Kesultanan Cirebon masuk perangkap kita" bertanya Patih Batara Dipati Wiradijaya kepada Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Selanjutnya apa yang harus kita lakukan Kakang Patih? Apakah kita hancurkan sekarang" Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa yang sepertinya sudah gatal untuk bertempur.

"Sabar Rayi Kondang Hapa, kita tunggu utusan yang kembali ke pasukan utama cukup jauh jaraknya supaya mereka tidak tahu apa yang terjadi di sini" ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu dengan tenang. Tak lama kemudian terdengar derap suara kuda menuju ke arah mereka.

"Rayi Pancar Buana dan Rayi Dipati Wiradijaya...kalian bereskan mereka. Dan ingat jangan sampai mengundang kecurigaan teman-teman mereka di bawah" perintah Patih Batara Sang Hyang Hawu kepada kedua patih untuk segera menghadang Badik bersama lima orang prajurit yang sedang menuju ke arah mereka.

Patih Batara Pancar Buana dan Patih Batara Dipati Wiradijaya mengangguk lalu hampir bersamaan melesat menuruni bukit menyambut kedatangan Badik dan teman-temannya.

"Rayi Kondang Hapa...kau segera turun, atur pasukan kita agar menutup jalan yang tadi mereka lalui. Aku tidak ingin seorangpun yang lolos...tunggu aba-aba dariku untuk menyerang....dan bunuh mereka semua" perintah Patih Batara Sang Hyang Hawu kepada Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

"Baik Kakang Patih..." jawab Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa singkat lalu tubuhnya berkelebat dan melayang di antara pohon-pohon menuju ke kaki bukit.

Sementara itu Setyaka yang tidak menyadari kecerobohannya terlihat mengawasi prajurit-prajurit yang sedang membereskan tegalan tersebut.

"Hua..ha..ha...ternyata kalian lebih cocok mengurus ladang daripada berperang!!!" tiba-tba terdengar suara tawa yang menggelegar seolah memecahkan gendang telinga mereka. Jelas suara tawa itu dibarengi oleh tenaga dalam yang sangat tinggi.

Setyaka terkejut bukan kepalang, diaturnya nafas untuk mengendalikan pendengarannya yang mulai sakit sementara prajurit-prajurit lainnya menutup telinga masing-masing dengan kedua tangannya.

"Celaka...siapa yang datang?" batin Setyaka panik karena tidak menyangka akan datang musuh secara tiba-tiba tanpa diketahuinya.

"Siapa kau?....tunjukkan wajahmu, jangan bersembunyi seperti pengecut!!!" teriak Setyaka sambil mengedarkan pandangannya mencari asal suara tersebut. Baru saja bibir Setyaka terkatup tiba-tiba dari atas pohon yang cukup tinggi  melayang turun empat bayangan hitam lalu mendarat di hadapan Setyaka.

Ternyata yang muncul adalah Patih Batara Sang Hyang Hawu diikuti oleh Patih Batara Dipati Wiradijaya dan Patih Batara Pancar Buana yang terlihat menenteng sesuatu yang dibungkus dedaunan dan mengucurkan darah.

Setyaka melengak wajahnya pucat pasi melihat kemunculan tiga orang yang diketahuinya sebagai petinggi-petinggi Kerajaan Sumedang Larang.

"Ah...hanya bocah ingusan yang mereka kirim, tak pantas kita hadapi" ujar Patih Batara Dipati Wiradijaya melecehkan.

Setyaka yang nyalinya mulai lumer tidak mau kalah gertak.

"Rupanya aku tidak perlu jauh-jauh ke Kuta Maya untuk menangkap gerombolan pencuri istri orang...akan kucincang tubuh kalian di sini untuk makanan anjing liar!!!" bentaknya tidak kalah garang. Sudut matanya mencoba melihat benda bercucuran darah yang dijinjing oleh Patih Batara Pancar Buana.

Batara Panca Buana menangkap gerakan mata Setyaka ke arah benda yang dijinjingnya.

"Ha..ha..tinggi sekali ucapanmu anak muda...sebelum kau mencincang kami, lebih baik kalian urus dulu ini" ujar Patih Batara Pancar Buana sambil melemparkan benda yang dijinjingnya ke arah Setyaka.

Setyaka melompat ke samping menghindari benda yang dilemparkan oleh Patih Batara Pancar Buana.

"Seeetttt..blug!!!" benda tersebut jatuh ke tanah dan bungkusannya berantakan.

"Bajingan...kalian kejam sekali" bentak Setyaka setelah melihat bungkusan tersebut ternyata berisi kepala Badik.

"Pasukan kepung mereka...!!!" Setyaka memerintahkan agar pasukannya mengepung Patih Batara Sang Hyang Hawu, Patih Batara Dipati Wiradijaya dan Patih Batara Pancar Buana.

Patih Batara Sang Hyang Hawu terkekeh melihat Setyaka dan pasukannya mengepung mereka.

"Kalian ini hebat sekali...walaupun nyali kalian sudah terbang tapi mulut kalian masih besar..haha.." ujarnya lalu bersiul memberi kode dan seketika dari lebatnya ilalang di sekitar tegalan muncul ratusan prajurit Kerajaan Sumedang Larang yang dipimpin oleh Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa mengepung mereka.

Seketika nyali dan mental seluruh pasukan Kesultanan Sumedang ambruk termasuk Setyaka.

"Aku memberi kalian pilihan dua cara untuk mati....yaitu kalian bunuh diri sekarang juga atau kami yang akan memenggal kepala kalian semua" ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu dingin sambil menghunus golok panjangnya.

Setyaka sudah tidak ada piliha lain selain mengadu jiwa.

"Ah...kenapa aku seceroboh dan sebodoh ini" batin Setyaka merutuki kecerobohannya.

**Bagaimana nasib Setyaka dan seperti apa akhir dari kisah cinta terlarang ini? 
   Tunggu di episode terakhir #15 ya.....

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #9